jump to navigation

Beberapa Kesalahan Dalam Berwudhu 25 Januari 2011

Posted by jihadsabili in shalat, thoharoh.
add a comment

Wudhu memiliki kedudukan yang penting dalam agama kita. Tidak sahnya wudhu seseorang dapat menyebabkan sholat yang ia kerjakan menjadi tidak sah, sedangkan sholat adalah salah satu rukun Islam yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk memperhatikan bagaimana dia berwudhu. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak diterima sholat yang dilakukan tanpa wudhu dan tidak diterima shodaqoh yang berasal dari harta yang didapat secara tidak halal.” (HR. Muslim)

Kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh kaum muslimin pada tata cara berwudhu diantaranya:

1. Melafazhkan niat. Kebiasaan salah yang sering dilakukan kaum muslimin ini bukan hanya dalam masalah wudhu saja, bahkan dalam berbagai macam ibadah. Rosululloh tidak pernah melafazhkan niat ketika berwudhu sedangkan orang yang mengamalkan perkara ibadah yang tidak pernah ada contohnya dari Rosululloh maka amalan itu tertolak (Lihat hadits Arba’in Nawawiyah no. 5) dan bahkan akan mendatangkan murka Alloh. Patokan dalam tata cara ibadah adalah mengikuti Rosululloh, bukan akal pikiran atau perasaaan kita sendiri yang akan menjadi hakim mana yang baik dan mana yang buruk. Andaikan itu adalah hal yang baik, mengapa Rosululloh tidak mengajarkannya atau tidak melakukannya? Apa mereka merasa lebih pintar, lebih sholih, lebih bertaqwa, lebih berilmu daripada Rosululloh? Apakah mereka merasa bahwa Rosululloh bodoh terhadap hal-hal yang baik sampai mereka berkarya sendiri? Maka siapakah yang kalian ikuti dalam ibadah ini wahai para pelafazh niat…???

2. Membaca doa-doa khusus dalam setiap gerakan wudhu seperti doa membasuh muka, do’a membasuh kepala dan lain-lain. Tidak ada riwayat shohih yang menjelaskan tentang hal tersebut.

3. Tidak membaca “bismillah” padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sempurna wudhu’ sesorang yang tidak membaca basmallah.” (HR. Ahmad)

4. Hanya berkumur tanpa istinsyaq (memasukkan air ke hidung) padahal keduanya termasuk dalam membasuh wajah. Adapun yang sesuai sunnah adalah menyatukan antara berkumur-kumur dangan beristinsyaq dengan satu kali cidukan berdasarkan hadits Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu tentang tata cara berwudhu. (HR. Bukhari, Muslim)

5. Tidak membasuh kedua tangan sampai siku, hal ini sering kita lihat pada orang yang berwudhu cepat bagaikan kilat sehingga tidak memperhatikan bahwa sikunya tidak terbasuh. Padahal Alloh Ta’ala berfirman, “Dan basuhlah kedua tanganmu hingga kedua siku.” (Al Maaidah: 6)

6. Memisah antara membasuh kepala dengan membasuh telinga padahal yang benar adalah membasuh kepala dan telinga dalam satu kali ciduk. Dan ini hanya dilakukan satu kali, bukan tiga kali seperti pada bagian lain, hal ini berdasarkan hadits dari Utsman bin Affan rodhiyallohu ‘anhu tentang tata cara berwudhu. (HR. Bukhari, Muslim)

7. Tidak memperhatikan kebagusan wudhunya sehingga terkadang ada anggota wudhunya yang seharusnya terbasuh tetapi belum terkena air. Rosululloh pernah melihat seorang yang sedang sholat sedangkan pada punggung telapak kakinya ada bagian seluas uang dirham yang belum terkena air, kemudian beliau memerintahkannya untuk mengulang wudhu dan sholatnya.

8. Was-was ketika berwudhu. Sering kita melihat ketika seseorang berwudhu hingga sampai ke tangannya, dia teringat bahwa lafazh niatnya belum mantap sehingga dia mengulang wudhunya dari awal bahkan kejadian ini terus berulang dalam wudhunya tersebut hingga iqomah dikumandangkan, hal seperti ini adalah was-was dari syaithon yang tidak berdasar. Wallahul musta’an.

Demikianlah sedikit paparan mengenai sekelumit kesalahan dalam berwudhu yang banyak kita jumpai pada kaum Muslimin khususnya di negeri kita ini, semoga bermanfaat dan menjadikan kita lebih memperhatikannya lagi. Wallohu a’lam bish showab.

***

Penulis: Abu Fatah Amrullah Al Bakasy

Barang-Barang Najis 28 Desember 2010

Posted by jihadsabili in thoharoh.
add a comment

Barang-Barang Najis

Barang-barang yang ada disekitar kita, tidak semuanya suci. Namun, ada beberapa di antaranya yang dihukumi najis dalam syari’at. Barang ini perlu diketahui kenajisannya agar tidak salah dalam menggunakannya, dan bisa mengenal cara membersihkannya. Najis bisa mempengaruhi sahnya shalat seseorang. Jika ia bernajis, maka harus dihilangkan najis yang melekat di baju atau badan. Jika najis keluar dari dubur harus beristinja’ darinya.

Para ahli ilmu telah mengadakan tahqiq (pemeriksaan) terhadap barang-barang yang ada disekitar kita, ternyata barang-barang najis lebih dari satu, di antaranya:

  • Tinja (Tahi) Manusia

Kotoran yang keluar dari tubuh seorang manusia melalui duburnya. Kotoran ini harus dibersihkan dengan cara istinja’ (cebok). Jika mengenai sandal atau sepatu, maka dibersihkan.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذَا وَطَئَ أَحَدُكُمْ بِنَعْلِهِ الأَذَى فَإِنَّ التُّرَابَ لَهُ طَهُوْرٌ

“Jika salah seorang di antara kalian menginjakkan sandal pada kotoran (tahi), maka sesungguhnya tanah merupakan pembersih baginya” [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (381). Dishahihkan Syaikh Al-Albaniy dalam Shahih As-Sunan (no. 385)]

  • Kencing Manusia

Kencing manusia atau hewan yang tidak halal dimakan termasuk barang-barang najis yang harus dibersihkan oleh seseorang.

Anas -radhiyallahu ‘anhu– berkata,

َأنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَامَ إِلَيْهِ بَعْضُ الْقَوْمِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : دَعُوْهُ وَلاَ تُزْرِمُوْهُ قَالَ فَلَمَّا فَرَغَ دَعَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَصَبَّهُ عَلَيْهِ

“Ada seorang Arab Badui pernah kencing di masjid, maka sebagian orangpun bangkit dan menuju kepadanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Biarkan (ia kencing), janganlah kalian memotongnya”.

Anas berkata, “Tatkala orang itu selesai kencing, maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- meminta seember air, lalu menuangkannya pada kencing tersebut. [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih-nya (6025) dan Muslim dalam Shahih-nya (284)]

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan najisnya tinja dan kencing manusia, yaitu hadits-hadits yang memerintahkan untuk istinja’ (cebok) dari keduanya.

Syaikh Muhammad Al-Hisniy Asy-Syafi’iy-rahimahullah- berkata dalam Kifayah Al-Akhyar (1/98), “Adapun najisnya tinja, maka hujjahnya -disambping adanya ijma’- adalah sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Bassam-rahimahullah- berkata dalam Taudhih Al-Ahkam min Bulugh Al-Maram (1/112), “Kencing merupakan najis. Wajib membersihkan tempat yang terkena kencing, baik di badan, pakaian, tanah, atau yang lainnya”.

  • Madzi, dan Wadi

Madzi adalah cairan yang keluar dari manusia ketika syahwatnya memuncak. Lebih jelasnya, An-Nawawi berkata, “Cairan yang halus lagi kental, keluar ketika bersyahwat”. [Lihat Al-Minhaj (3/204)]

Sedangkan wadi adalah cairan najis yang keluar dari kemaluan seseorang ketika ia buang air, karena mengalami sakit, atau lelah, tanpa disertai oleh syahwat.

Adapun keluarnya madzi ini menyebabkan seseorang harus bersuci, karena madzi adalah najis seperti halnya dengan kencing yang keluar dari kemaluan manusia.

Ali bin Abi Tahlib -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata,

كُنْتُ رَجُلًا مَذّاَءً فَكُنْتُ أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلُ النَّبِيًّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ . فَأَمَرْتُ المِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ: يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ

“Dulu aku adalah seorang laki-laki yang banyak madzinya, aku malu bertanya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- karena keberadaan putrinya. Kemudian aku memerintahkan Al-Miqdadbin Al-Aswad (untuk bertanya), maka ia pun bertanya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Dia mencuci kemaluannya dan berwudhu”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih-nya (132), Muslim dalam Shahih-nya (693), dan An-Nasa`iy dalam Sunan-nya (157)]

Ibnu Abbas-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Mani, wadiy, dan madzi; adapun mani, maka ia adalah sesuatu yang (mangharuskan) mandi karenanya. Adapun wadiy dan madzi, maka ia berkata, “Cucilah kemaluanmu, dan wudhu seperti wudhu untuk shalat”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (190) dan Al-Baihaqiy dalam Sunan-nya (1/115)]

An-Nawawiy-rahimahullah- berkata dalam Al-Minhaj (2/204), “Dalam hadits ini terdapat beberapa faedah: (di antaranya) madzi tidak mangharuskan mandi, dan (hanya) mengharuskan wudhu, dan bahwa madzi adalah najis, oleh karena ini Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mewajibkan mencuci kemaluan”.

Ibnu Qudamah-rahimahullah- berkata, “Sungguh kami telah sebutkan bahwa madzi membatalkan wudhu’. Madzi keluar dalam keadaan kental, keluar perlahan-lahan ketika timbul syahwat pada ujung dzakar”. [Al-Mughni (1/232)]

  • Darah Haidh

Darah haidh merupakan barang najis yang harus dibersihkan dari badan atau pakaian kita yang terkena, utamanya ketika hendak melakukan ibadah di saat darah haidh terputus, atau saat ingin berhubungan dengan suami.

Asma’ bintu Abu Bakr berkata, “Seorang wanita pernah datang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, seseorang di antara kami bajunya terkena darah haidh, apa yang harus kami lakukan”. Beliau menjawab,

تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ تَنْضِحُهُ ثُمَّ تُصَلِّيْ فِيْهِ

“Keriklah, lalu gosok bersama air, kemudian siramlah; lalu shalatlah dengan menggunakan pakaian itu”. [HR. Al-Bukhariy (227) dan Muslim (291)]

Adanya perintah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk mencuci pakaian yang terkena darah haidh menunjukkan najisnya darah haidh, dan perkara ini telah disepakati para ulama.

Syaikh Husain bin Audah Al-’Awayisyah-hafizhahullah- berkata dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (1/28), “An-Nawawiy sungguh telah menukil ijma’ tentang najisnya darah haidh dalam Syarah Shahih Muslim (3/200)”.

  • Kotoran (Tahi) Binatang yang Tidak Dimakan Dagingnya

Binatang yang tidak dimakan dagingnya, seperti; anjing, kucing, babi, monyet, dan lain-lain, maka kotoran (tahi) dan kencingnya merupakan najis.

Abdullah berkata, “Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- ingin buang air, lalu berkata, “Berikan aku tiga buah batu”. Kemudian aku dapatkan dua buah batu dan kotoran (tahi) himar, maka beliau mengambil dua buah batu tersebut dan membuang kotoran (tahi) seraya bersabda,

هِيَ رِجْسٌ

“Dia (kotoran) ini najis”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih-nya(155), dan Ibnu Khuzimah dalam Shahih-nya (70)]

  • Anjing, Liurnya, dan Sisa Minumannya.

Di antara barang-barang najis adalah anjing, liurnyan dan sisa minumannya. Kenajisannya telah dijelaskan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam sabdanya,

طُهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُوْلَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

“Cara menyucikan bejana salah seorang di antara kalian yang dijilat anjing, dicuci sebanyak tujuh kali, awalnya dengan tanah”. [HR. Muslim dalam Shahih-nya (279)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذَا شَرِبَ الْكَلْبُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُغْسِلْهُ سَبْعًا

“Jika Seekor anjing minum pada bejana salah seorang di antara kalian, maka hendaknya ia mencucinya sebanyak tujuh kali”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih-nya (172), dan Muslim dalam Shahih-nya (279)]

  • Bangkai

Bangkai adalah hewan yang mati secara tidak wajar, tanpa melalui penyembelihan yang syar’iy, seperti; dicekik, dipukul, disetrum, dijepit, atau ditabrak. Bangkai merupakan najis, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذَا دُبْغَ اْلإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ

“Apabila kulit bangkai disamak, maka ia sungguh telah suci”. [HR. Muslim dalam Shahih-nya (366) dan Abu Dawud dalam Sunan-nya (4105)]

Ini menunjukkan tentang najisnya bangkai, termasuk kulitnya, kecuali kulitnya telah disamak, maka kulit tersebut suci, dan boleh dimanfaatkan. Adapun jika belum disamak, maka kulit tersebut tetap najis.

Namun ada suatu perkara yang perlu diingat, bahwa ada beberapa bangkai yang tidak najis.

  • Bangkai ikan dan belalang

Dalam sebuah hadits, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَّمَانِ. أَمَّاالْمَيْتَتَانِ فَالْحُوْتُ وَالْجَرَادُ. وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

“Telah dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai tersebut, maka ia adalah ikan dan belalang. Adapun dua darah, maka ia adalah hati dan limpa”. [HR. Ahmad dalam Musnad-nya (2/97) dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3314). Lihat Shahih Al-Jami’ (210)]

  • Bangkai hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir

Bangkai hewan ini juga bukan merupakan najis yang harus disucikan, walaupun ada sedikit darahnya, seperti nyamuk, lalat, semut, laba-laba, kalajengking, dan lain-lain.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ وَلْيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِيْ أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَ فِيْ الآخَرِ شِفَاءً

“Jika lalat jatuh pada minuman salah seorang di antara kalian, maka hendaknya ia menenggelamkan lalat itu seluruhnya, lalu ia membuangnya, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap yang lainnya ada penawarnya”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih-nya (3320)]

  • Daging Keledai Kampung

Keledai ada dua macam, yaitu keledai liar, dan keledai kampung (peliharaan). jenis pertama, halal. Adapun jenis yang kedua, maka haram dan najis.

Anas-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah didatangi oleh seseorang seraya berkata, “Keledai-keledai telah dimakan”. Kemudian beliau didatangi lagi oleh seseorang seraya berkata, “Keledai-keledai telah dihabiskan”. Maka beliau pun memerintahkan seorang, lalu orang itu berteriak di tengah manusia,

إِنَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُوْمِ الْحِمَرِ الأَهْلِيَّةِ , فَإِنَّهَا رِجْسٌ

“Sesungguhnya Allah, dan Rasul-Nya telah melarang kalian dari daging keledai kampung (peliharaan), karena sesungguhnya ia itu najis”. Lalu belanga-belanga pun ditumpahkan, padahal sungguh belanga-belanga itu penuh dengan daging”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih-nya (5528), dan Muslim dalam Shahih-nya (194)]

Asy-Syaukaniy -rahimahullah- berkata, “Sungguh Penulis telah membawakan dua hadits ini untuk berdalil tentang najisnya daging hewan yang tidak boleh dimakan. Karena, pertama: adanya perintah untuk memecahkan bejana (belanga). Kedua: perintah untuk mencuci (bejana). Ketiga: adanya sabda beliau, “…karena ia (daging keledai kampung) itu kotoran atau najis” yang menunjukkan najisnya. Tapi ini nash khusus tentang keledai kampung, dan analogi bagi yang lainnya di antara hewan-hewan yang tidak boleh dimakan, karena adanya alasan sama, yaitu tidak bolehnya dimakan”. [Lihat Nail Al-Authar (1/121), cet. Dar Al-Kitab Al-Arabiy, 1420 H]

Inilah sebagian barang-barang najis yang harus dijauhi dan dibersihkan oleh seseorang dari pakaian, bejana dan airnya, agar termasuk orang-orang yang suka bersuci. Insya Allah, akan dilanjutkan dalam edisi fiqih selanjutnya .

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 23 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Singkirkan Najis dari Kehidupanmu 28 Desember 2010

Posted by jihadsabili in thoharoh.
1 comment so far

Singkirkan Najis dari Kehidupanmu

Dimana-mana anda akan menemukan najis; pada pakaian, kemaluan, dubur, bejana, air, minyak, makanan, dan lainnya. Pokoknya, dimana-mana ada najis. Oleh karena itu, “singkirkanlah najis dari kehidupanmu”. Namun menyingkirkan najis jangan asal-asalan, tapi harus didasari dengan ilmu dari Al-Qur’an, dan Sunnah sebagaimana yang akan kami jelaskan berikut:

  • Membersihkan Darah Haidh

Haidh adalah fitrah yang harus dialami oleh para wanita. Haidh adalah najis yang harus dibersihkan dari diri seorang wanita, terlebih lagi jika ia ingin sholat, atau berhubungan dengan suami. Cara membersihkannya gampang. Nah, dengarkan saja A’isyah -radhiyallahu ‘anha- berkata,

كَانَتْ إِحْدَانَا تَحِيْضُ ثُمَّ تَقْتَرِصُ الدَّمَ مِنْ ثَوْبِهَا عِنْدَ طُهْرِهَا فَتَغْسِلُهُ وَتَنْضَحُ عَلَى سَائِرِهِ ثُمَّ تُصَلِّيْ فِيْهِ

“Dulu seorang (wanita) diantara kami haidh, lalu ia mengerik darah (dengan kuku) dari pakaiannya ketika ia telah suci, lalu mencucinya, dan menyirami seluruhnya. Kemudian ia sholat dengan (memakai) pakaian itu”. [HR. Al-Bukhoriy (302), dan Ibnu Majah (630)]

Demi menambah kebersihan pakaian yang terkena haidh, dianjurkan ketika mencuci pakaian agar menggunakan air, dicampur dengan daun bidara, atau semisalnya, seperti sabun, dan Molto.

Ummu Qois bintu Mihshon-radhiyallahu ‘anha- berkata, “Aku bertanya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang darah haidh yang ada pada pakaian. Beliau bersabda,

حُكِّيْهِ بِضِلْعٍ وَاغْسِلِيْهِ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Gosoklah (keriklah) dengan tulang, dan cucilah dengan air, dan daun bidara”. [HR. Abu Dawud (363), An-Nasa’iy (292), dan Ibnu Majah (628). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (300)]

  • Membereskan Kencing Bayi

Bayi adalah buah hati dan kesenangan setiap orang, terutama orang tuanya. Namun di lain sisi, bayi terkadang bikin repot ketika ia kencing. Sementara kita gendong, eh malah ia mengencingi kita.

Namun seorang muslim tak perlu gusar, dan pusing. Karena masalah seperti ini sudah diberikan solusinya oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dengan semudah mungkin. Simak penuturan Sahabat Abus Samhi-radhiyallahu ‘anhu- saat ia berkata, “Aku adalah pelayan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- . Maka didatangkanlah Al-Hasan, dan Al-Husain, lalu ia pun kencing pada dada beliau. Mereka ingin mencucinya. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

رُشَّهُ فَإِنَّهُ يُغْسَلُ بَوْلُ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلَامِ

“Siramlah! Karena kencing bayi wanita dicuci, dan kencing bayi laki-laki di sirami”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (376), An-Nasa’iy dalam As-Sunan (304), dan Ibnu Majah dalam As-Sunan (526). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (502)]

Jadi, kencing bayi laki-laki, cukup disirami, dan kencing bayi wanita, dicuci baik-baik. Perbedaan seperti ini dibangun berdasarkan hikmah, dan ilmu yang ada di sisi Allah. Bayi disini, maksudnya yang belum makan, selain susu. Adapun jika sudah makan selain susu juga, maka kencingnya sama dengan orang dewasa, harus dicuci.

  • Menyucikan Pakaian dan Badan dari Madziy

Sebagian orang terkadang sering tertimpa madzi pada pakaian, dan badannya. Seorang yang terkena najis, maka ia cuci madzi yang ada pada pakaian, atau badannya, dan berwudhu’. Madzi adalah cairan yang keluar dari manusia ketika syahwatnya memuncak. Lebih jelasnya, An-Nawawi berkata,“Cairan yang halus lagi kental, keluar ketika bersyahwat”.[Lihat Al-Minhaj (3/204)]

Sedangkan wadi adalah cairan najis yang keluar dari kemaluan seseorang ketika ia buang air, karena mengalami sakit, atau lelah, tanpa disertai oleh syahwat. Adapun keluarnya madzi ini menyebabkan seseorang harus bersuci, karena madzi adalah najis seperti halnya dengan kencing yang keluar dari kemaluan manusia. Sahl bin Hunaif -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

“Aku mendapatkan kesusahan karena madzi. Karenanya, aku sering mandi. Lalu aku bertanya kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Maka beliau bersabda,”Cukuplah bagimu berwudhu’”.Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, Bagaimana jika madzi menyentuh pakaianku?”. Beliau bersabda,

إِنَّمَا يَكْفِيْكَ كَفٌّ مِنْ مَاءٍ تَنْضَحُ بِهِ مِنْ ثَوْبِكَ حَيْثُ تَرَى أَنَّهُ أَصَابَ

“Cukuplah bagimu seciduk air yang engkau siramkan pada pakaianmu dimana engkau pandang madzi itu mengenainya”. [HR. Abu Dawud (215), At-Tirmidziy (115), dan Ibnu Majah (506). Di-hasan-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (210)]

Ali bin Abi Tahlib-radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata,

كُنْتُ رَجُلًا مَذّاَءً فَكُنْتُ أَسْتَحْيِيْ أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ . فَأَمَرْتُ المِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ: يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ

“Dulu aku adalah seorang laki-laki yang banyak madzinya, aku malu bertanya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- karena keberadaan putrinya. Kemudian aku memerintahkan Al-Miqdadbin Al-Aswad (untuk bertanya), maka ia pun bertanya kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Dia mencuci kemaluannya dan berwudhu”. [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih-nya (132), Muslim dalam Shahih-nya (693), dan An-Nasa`iy dalam Sunan-nya (157)]

Ibnu Abbas-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Mani, wadiy, dan madzi; adapun mani, maka ia adalah sesuatu yang (mangharuskan) mandi karenanya. Adapun wadiy dan madzi, maka ia berkata, “Cucilah kemaluanmu, dan wudhu seperti wudhu untuk shalat”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (984), Ath-Thohawiy dalam Syarhul Ma’ani (250) dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (no.771)]

An-Nawawiy-rahimahullah- berkata dalam Al-Minhaj (2/204), “Dalam hadits ini terdapat beberapa faedah: (di antaranya) madzi tidak mangharuskan mandi, dan (hanya) mengharuskan wudhu, dan bahwa madzi adalah najis, oleh karena ini Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mewajibkan mencuci kemaluan”.

Adapun madzi yang mengenai pakaian, maka cukup dicuci pada bagian yang terkena oleh madzi, wallahu a’lam bish showaab…

  • Pembersih Ujung Pakaian Wanita Sholehah

Pakaian wanita sholehah adalah pakaian yang yang menutupi seluruh tubuh wanita mulai dari kepala sampai menyentuh tanah. Inilah jilbab syar’iy yang dikenal dan dipakai di zaman Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- oleh para wanita sholehah. Demikian pula dipakai oleh wanita-wanita sholehah generasi setelahnya sampai zaman kita ini. Tak heran jika seorang sahabat wanita pernah bertanya cara mengatasi ujung pakaian yang terseret, dan menyentuh tanah yang bernajis. Silakan toleh Ummu Salamah, istri Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata,

“Sesungguhnya aku adalah wanita yang panjang ujung pakaiannya, terkadang berjalan di tempat yang kotor (bernajis)”. Dia (Ummu Salamah) berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

يُطَهِّرُهُ مَا بَعْدَهُ

“Ujung pakaianmu itu akan dibersihkan oleh tanah yang setelahnya”. [HR. Abu Dawud (383), At-Tirmidziy (143),dan Ibnu Majah (531).Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Jilbab Al-Mar’ah (hal.81)]

Tanah bernajis yang mengenai pakaian, itu akan dibersihkan oleh tanah suci yang setelahnya. Jadi, wanita sholehah cukup membiarkan pakaiannya terseret di tanah suci, maka otomatis ujung pakaiannya akan bersih dari najis, dan boleh dipakai sholat. Jadi, tak perlu angkat pakaian sehingga kaki yang merupakan aurat bagi wanita akan nampak !!

  • Sandal Bernajis Cukup Gesekkan ke Tanah

Sandal yang kita pakai kemana-mana juga tak perlu merisaukan kita karena terkena najis. Jika seorang ingin sholat sambil bersandal, maka hendaknya ia sebelum sholat membalik, dan memperhatikan sandalnya. Jika ada najisnya, maka ia gesekkan sandalnya ke tanah yang suci, lalu ia sholat dengan sandal itu. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِيْ نَعْلَيْهِ قَذِرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيْهِمَا

“Jika seorang diantara kalian datang ke masjid, maka hendaknya ia memperhatikan (sandalnya). Jika ia melihat padanya ada najis, maka hendaknya ia gesekkan sandalnya, dan sholat dengan memakainya”. [Abu Dawud (650). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Tamamul Minnah (hal.55)]

  • Mengatasi Jilatan Anjing pada Bejana

Anjing adalah binatang yang biasa berkeliaran di sekitar kita. Di sebagian tempat, anjing berkeliaran bebas sehingga terkadang ia menjilat pakaian, badan, atau bejana. Bejana secara khusus, jika terjilat anjing, maka dicuci 7 kali. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam sabdanya,

طُهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُوْلَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

“Cara menyucikan bejana salah seorang di antara kalian yang dijilat anjing, dicuci sebanyak tujuh kali, awalnya dengan tanah”. [HR. Muslim dalam Shahih-nya (279)]

Adapun selain bejana yang biasa kita pakai makan dan minum, seperti badan, pakaian, sepatu, maka jika benda-benda ini terjilat anjing, maka tak perlu dicuci tujuh kali, tapi cukup dicuci dengan air, tanpa harus disertai dengan tanah.

  • Menyucikan Kulit Bangkai

Kulit adalah benda berharga yang tak boleh disia-siakan, tapi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Jangan seperti sebagian orang yang membuangnya tanpa nilai. Disinilah keindahan syari’at kita ketika menuntun kita untuk hidup ekonomis, sehingga jika seorang muslim menemukan hewan yang halal dimakan dalam kondisi mati tergeletak (bangkai), maka dia dianjurkan menyamak kulit hewan itu, bukan dibuang. Bagaimana lagi hewan yang halal, dan sudah disembelih (bukan bangkai), maka tentunya tidak layak kulitnya dibuang.

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ

“Jika kulit hewan (berupa bangkai) disamak, maka sungguh ia telah suci”. [HR.Muslim (366)]

Seorang ulama Syafi’iyyah, Syaikh Muhammad Al-Hisniy Asy-Syafi’iy-rahimahullah- berkata dalam kitabnya Kifayah Al-Akhyar (1/26), “Kemudian jika kulit sudah disamak, maka kulit bagian luar suci secara pasti; demikian pula bagian dalamnya menurut pendapat yang masyhur belakangan. Maka boleh sholat di atasnya, dan sholat dengan memakai kulit itu. Boleh juga digunakan dalam hal-hal yang kering, dan basah; boleh menjualnya, menghibahkannya, dan mewasiatkannya”.

Kulit bangkai bisa tersucikan oleh samak, jika kulit itu berasal dari hewan yang pada asalnya bisa dimakan, seperti sapi, kambing, biri-biri, kijang, dan lainnya. Adapun yang haram dimakan, seperti babi, kucing, anjing, dan lainnya, maka kulitnya tak tersucikan dengan samak.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin-rahimahullah- berkata, “Pendapat yang terkuat adalah setiap hewan yang mati, sedang ia pada asalnya bisa dimakan, maka kulitnya jadi suci dengan samak. Ini adalah salah satu dari dua pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-“.[Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zaad Al-Mustaqni’ (1/75), cet. Mu’assasah Aasam]

  • Problema Tikus Mati dalam Minyak, dan Solusinya

Tikus termasuk hewan yang biasa melakukan kerusakan, baik di kota maupun di desa. Dia adalah hewan yang membawa kotoran, dan penyakit bagi manusia. Olehnya, Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan kita untuk membunuh tikus. Di antara kerusakan yang ditimbulkannya, ia masuk ke dapur sehingga terkadang ia jatuh ke minyak, lalu mati di dalamnya. Ketika mati, jelas ia adalah bangkai yang najis. Solusinya? Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah ditanya tentang tikus yang jatuh pada minyak, maka beliau menjawab,

أَلْقُوْهَا وَمَا حَوْلَهَا وَكُلُوْهُ

Buanglah tikus itu, dan sesuatu yang ada di sekitarnya, serta konsumsilah”. [HR. Al-Bukhoriy (5218)]

Al-Hafizh Abul Fadhl Ibnu Hajar Al-Asqolaniy-rahimahullah- berkata, “Ibnul Arobiy berpegang dengan sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , “dan sesuatu yang ada di sekitarnya ” bahwa minyak tersebut adalah beku. Ibnul Arobiy berkata, “Sebab andai ia bukan beku, maka tak ada istilah “sekitarnya”, karena andai minyak itu diciduk dari arah mana pun dengan cara apapun, maka ia akan digantikan (tempatnya) oleh yang lain saat itu juga. Maka ia (pengganti) itu akan termasuk sekitar tikus. akhirnya butuh untuk membuang minyak itu seluruhnya”. Demikian yang dikatakan oleh Ibnul Arobiy”.[Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (9/669)]

Sebagian ulama menyamakan antara minyak yang beku dengan yang cair, wallahu a’lam. [Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’ (1/379-370)]

  • Ketika Kencing Menodai Kesucian Tanah

Allah -Ta’ala- telah memberikan keistimewaan bagi ummat Islam dengan memberikan kelonggaran bagi mereka untuk beribadah dimanapun, baik di atas tanah, maupun di atas lantai. Karenanya, tanah atau lantai tersebut harus dijaga dengan baik dari najis. Jika terkena najis, maka cukup disiram dengan air atau dihilangkan najisnya. Anas bin Malik-radhiyallahu ‘anhu– berkata,

َأنَّ أَعْرَابِيًّا بَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَامَ إِلَيْهِ بَعْضُ الْقَوْمِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : دَعُوْهُ وَلاَ تُزْرِمُوْهُ قَالَ فَلَمَّا فَرَغَ دَعَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَصَبَّهُ عَلَيْهِ

“Ada seorang Arab Badui pernah kencing di masjid, maka sebagian orangpun bangkit dan menuju kepadanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Biarkan (ia kencing), janganlah kalian memotongnya”.

Anas berkata, “Tatkala orang itu selesai kencing, maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- meminta seember air, lalu menuangkannya pada kencing tersebut. [HR. Al-Bukhariy dalam Shahih-nya (6025) dan Muslim dalam Shahih-nya (284)]

  • Istinja’ dari Kotoran Perut

Tinja dan kencing adalah najis yang harus disingkirkan dari pakaian, badan, dan kehidupan kita sehingga kita bisa beribadah, dan mu’amalah dengan baik.

Sarana terbaik membersihkan tinja adalah air. Anas bin Malik-radhiyallahu ‘anhu– berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلَاءَ فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلَامٌ نَحْوِيْ إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً فَيَسْتَنْجِيْ بِالْمَاءِ

“Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah memasuki tempat pembuangan air. Maka aku pun dan seorang bocah sebaya denganku datang membawa seember air dan tombak kecil, lalu beliau pun ber-istinja’ (cebok) dengan air”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (152), dan Muslim (271)]

Jika suatu saat kita tak menemukan air, maka kita boleh menggunakan tiga buah batu, atau tissue ketika ber-istinja’.Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذِا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْغَائِطِ فَلْيَذْهَبْ مَعَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ يَسْتَطِيْبُ بِهِنَّ فَإِنَّهَا تُجْزِىءُ عَنْهُ

“Jika seorang diantara kalian pergi buang air, maka hendaknya ia membawa tiga batu yang dipakai untuk istinja’, karena (tiga) batu tersebut mencukupi baginya (untuk cebok)”. [HR. Abu Dawud (40), dan An-Nasa’iy (44)]

Namun disana ada benda-benda yang tak boleh digunakan cebok, sebab telah ada larangan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dari menggunakannya.Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَا تَسْتَنْجُوْا بِالرَّوْثِ وَلَا باِلْعِظَامِ فَإِنَّهُ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنَ الْجِنِّ

“Jangan cebok dengan menggunakan tahi binatang, dan tulang-belulang, karena itu adalah makanan saudara-saudara kalian dari kalangan jin”. [HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (18), dan An-Nasa’iy dalam As-Sunan Al-Kubro (39). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (350)]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 47 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Ternyata bukan Najis (Bag II) 28 Desember 2010

Posted by jihadsabili in thoharoh.
add a comment

Ternyata bukan Najis (Bag II)

Kesalahpahaman tentang ini najis, dan itu bukan najis banyak kita jumpai di masyarakat. Misalnya, sebagian orang ketika kakinya terluka karena jatuh atau tertusuk paku, maka serta-merta tak mau sholat, karena alasan bahwa ia harus bersihkan dulu darahnya yang ia yakini sebagai najis, padahal bukan najis!! Darah (selain darah haidh, dan nifas), seperti luka yang keluar dari tubuh kita, tidaklah membatalkan wudhu’, dan bukan pula najis.

Selain itu , ada orang yang tak mau bersentuhan dengan orang yang junub (orang yang habis mimpi basah atau habis jimak), dengan dalih orang junub itu najis. Benarkah?? Ikuti pembahasan manis berikut ini:

  • Darah selain Haidh, dan Nifas

Darah yang keluar dari tubuh seseorang bukanlah najis, selain darah haidh, dan nifas. Dahulu kaum muslimin di zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam– sering melakukan jihad fi sabilillah, dan terluka oleh sabetan pedang, tusukan panah, dan tombak. Namun mereka tetap sholat dengan memakai pakaian mereka yang berlumuran darah. Ini juga menunjukkan bahwa darah yang keluar tersebut tidaklah membatalkan wudhu’ dan shalat kita.

Jabir bin Abdillah Al-Anshoriy-radhiyallahu ‘anhu– berkata,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -يَعْنِيْ فِيْ غَزْوَةِ ذَاتِ الرِّقَاعِ- فَأَصَابَ رَجُلٌ امْرَأَةَ رَجُلٍ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ فَحَلَفَ: أَنْ لاَ أَنْتَهِيَ حَتَّى أُهْرِيْقَ دَمًا فِيْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ, فَخَرَجَ يَتْبَعُ أَثَرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَنَزَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْزِلاً فَقَالَ: مَنْ رَجُلٌ يَكْلَؤُنَا؟ فَانْتَدَبَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَرَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ, فَقَالَ: كُوْنَا بِفَمِ الشِّعْبِ. قال: فَلَمَّا خَرَجَ الرَّجُلاَنِ إِلَى فَمِ الشِّعْبِ اضْطَجَعَ الْمُهَاجِرِيُّ وَقَامَ اْلأَنْصَارِيُّ يُصَلِّيْ وَأَتَى الرَّجُلُ فَلَمَّا رَأَى شَخْصَهُ عَرَفَ أَنَّهُ رَبِيْئَةٌ لِلْقَوْمِ فَرَمَاهُ بِسَهْمٍ فَوَضَعَهُ فِيْهِ فَنَزَعَهُ حَتَّى رَمَاهُ بِثَلاَثَةِ أَسْهُمٍ ثُمَّ رَكَعَ وَسَجَدَ ثُمَّ انْتَبَهَ صَاحِبُهُ, فَلَمَّا عَرَفَ أَنَّهُمْ قَدْ نَذَرُوْا بِهِ هَرَبَ, فَلَمَّا رَأَى الْمُهَاجِرِيُّ مَا بِاْلأَنْصَارِيِّ مِنَ الدَّمِ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ أَلاَ أَنْبَهْتَنِيْ أَوَّلَ مَا رَمَى, قال: كُنْتُ فِيْ سُوْرَةٍ أَقْرَؤُهَا فَلَمْ أُحِبَّ أَنْ أَقْطَعَهَا .

“Kami pernah keluar bersama Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yakni waktu Perang Dzatur Riqo. Maka ada seorang sahabat yang membunuh istri seorang musyrikin. Kemudian sang suami bersumpah, “Aku tak akan berhenti (melawan) sampai aku menumpahkan darah sebagian sahabat-sahabat Muhammad”. Maka ia pun keluar mengikuti jejak Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- (waktu itu) berhenti pada suatu tempat seraya bersabda, “Siapakah yang mau menjaga kita?. Maka bangkitlah seorang laki-laki dari kalangan Muhajirin, dan seorang dari kalangan Anshor. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Tetaplah kalian di mulut (gerbang) lembah. Tatkala dua orang itu keluar ke mulut lembah, maka berbaringlah laki-laki muhajirin itu, sedang laki-laki Anshor berdiri melaksanakan sholat. Kemudian datanglah orang musyrik tersebut. Tatkala ia melihat sosok tubuhnya sang Anshor, maka si musyrik tahu bahwa sang Anshor adalah penjaga pasukan. Kemudian si musyrik pun membidiknya dengan panah, dan mengenai sasaran dengan tepat. Sang Anshor mencabut anak panah itu sampai ia dibidik dengan 3 anak panah, lalu bersujud. Kemudian temannya (sang Muhajirin) tersadar. Tatkala si musyrik tahu bahwa mereka telah mencium keberadaannya, maka ia pun lari. Ketika sang Muhajirin melihat darah pada tubuh sahabat Anshor, maka ia berkata, “Subhanallah, Kenapa engkau tidak mengingatkan aku awal kali ia memanah?” Sang Anshor menjawab, “Aku sedang berada dalam sebuah surat yang sedang kubaca. Maka aku tak senang jika aku memutuskannya”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (198). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1/1/606)]

Al-Allamah Abu Ath-Thoyyib Syamsul Haq Al-Azhim Abadiy-rahimahullah- berkata dalam Aunul Ma’bud (1/231-232), “Hadits ini menunjukkan dengan jelas tentang dua perkara. Pertama, keluarnya darah dari selain dua lubang (dubur & kemaluan) tidaklah membatalkan wudhu’, baik ia mengalir atau tidak. Itu adalah pendapat kebanyakan ulama’, sedang itulah yang benar…Kedua, darah luka adalah suci, dimaafkan bagi orang yang terluka. Ini adalah madzhab Malikiyyah, sedang inilah pendapat yang benar. Hadits-hadits telah datang secara mutawatir bahwa para mujahidin fi sabilillah mereka dahulu berjihad, dan merasakan sakitnya luka-luka lebih dari yang tergambar. Tak seorang yang bisa mengingkari adanya aliran darah dari luka-luka mereka, dan terlumurinya pakaian mereka. Sekalipun demikian, mereka tetap sholat dalam kondisi begini, dan tidak ternukil (suatu hadits) dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau memerintahkan mereka untuk melepas baju mereka yang berlumuran darah dalam kondisi sholat. Sungguh Sa’d -radhiyallahu ‘anhu- telah terkena musibah pada waktu perang Khondaq. Kemudian dibuatkan kemah baginya dalam masjid. Jadi, ia berada dalam masjid, sedang darahnya mengalir dalam masjid. Senantiasa darahnya mengalir sampai ia meninggal”.

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa darah luka bukan najis, atsar tentang kondisi Umar bin Al-Khoththob -radhiyallahu ‘anhu– saat menjelang wafat.

Al-Miswar bin Makhromahradhiyallahu ‘anhu– berkata,

دَخَلْتُ أَنَا وَابْنُ عَبَّاسٍ عَلىَ عُمَرَ حِيْنَ طُعِنَ, فَقُلْنَا: الصَّلاَةَ, فَقَالَ: إِنَّهُ لاَ حَظَّ لأَحَدٍ فِي اْلإِسْلاَمِ أَضَاعَ الصَّلاَةَ فَصَلَّى وَجُرْحُهُ يَثْعَبُ دَمًا

“Aku pernah masuk masuk bersama Ibnu Abbas menemui Umar ketika beliau ditikam. Maka kami berkata, “Waktu sholat telah tiba”. Umar berkata, “Sesungguhnya tak ada bagian dalam Islam untuk orang yang menyia-nyiakan sholat”. Maka beliau sholat, sedang lukanya mengucurkan darah”. [HR. Abdur Rozzaq dalam Al-Mushonnaf (579), Ad-Daruquthniy dalam As-Sunan (1), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (37067) dengan sanad yang shohih]

Sudah dimaklumi bahwa luka yang mengalir pasti akan melumuri pakaian, dan mustahil Umar –radhiyallahu ‘anhu– melakukan sesuatu yang tidak boleh menurut syari’at, lalu para sahabat mendiamkan hal itu, tanpa ada pengingkaran. Ini tiada lain, kecuali karena sucinya darah yang keluar pada luka. [Lihat Aunul Ma’bud (1/232)]

Qotadahbin Di’amah As-Sadusiy-rahimahullah- berkata,

إِذَا رَعَفَ اْلاِنْسَانُ فَلَمْ يَقْلَعْ فَإِنَّهُ يَسُدُّ مِنْخَرَهُ وَيُصَلِّيْ وَإِنْ خَافَ أَنْ يَدْخُلَ جَوْفَه فَلْيُصَلِّ وَإِنْ سَالَ فَإِنَّ عُمَرَ قَدْ صَلَّى وَجُرْحُهُ يَثْعَبُ دَمًا

“Jika seorang mimisan, lalu belum berhenti, maka ia menutup hidungnya, dan sholat. Jika ia khawatir kalau darahnya masuk ke dalam rongga tubuhnya, maka hendaknya ia (tetap) sholat, walaupun darahnya mengalir, karena Umar sungguh telah sholat, sedang ia mengucurkan darah”. [HR. Abdur Rozzaq dalam Al-Mushonnaf (574)]

  • Muntah Manusia

Muntah yang kita keluarkan juga bukan najis, karena tak ada dalil yang menjelaskan bahwa ia adalah najis. Sedangkan hukum asalnya sesuatu adalah suci.

Ahli Fiqih Negeri Syam, Syaikh Al-Albaniy-rahimahullah- berkata dalam kitabnya Tamamul Minnah (hal.53) saat membantah Sayyid Sabiq, “Penulis (Sayyid Sabiq) tidak menyebutkan dalil tentang hal itu (yakni, najisnya muntah), kecuali ucapannya yang berbunyi, “disepakati kenajisannya”. Ini adalah pengakuan yang terbatalkan. Sungguh Ibnu Hazm telah menyelisihi dalam hal itu ketika beliau menyatakan sucinya muntah seorang muslim. Silakan rujuk Al-Muhalla (1/183). Ini adalah madzhab Al-Imam Asy-Syaukaniy dalam Ad-Duror Al-Bahiyyah, dan Siddiq Hasan Khan dalam syarahnya terhadap terhadap kitab ini (1/18-20) ketika keduanya tidak menyebutkan muntah manusia dalam golongan najis secara muthlaq. Inilah pendapat yang benar”.

Jadi, muntah manusia bukanlah najis yang membatalkan sholat atau wudhu’ kita, sebab tak ada dalil yang jelas menunjukkan kenajisannya. Andai ada, maka akan dinukil oleh para ulama’.

  • Keringat Orang Junub, atau Wanita Haidh

Orang yang junub dan wanita haidh bukanlah orang yang najis sehingga harus menjauh atau dijauhi sebagaimana keyakinan orang-orang Yahudi. Adapun dalam agama kita, maka Allah dan Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah menjelaskan bahwa mereka suci badannya, sekalipun memang mereka diwajibkan mandi junub saat hendak sholat.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيَهُ فِيْ بَعْضِ طَرِيْقِ الْمَدِيْنَةِ وَهُوَ جُنُبٌ فَانْخَنَسْتُ مِنْهُ, فَذَهَبَ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ: أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟ قَالَ: كُنْتُ جُنُبًا, فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ وَأَنَا عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ, فَقَالَ : سُبْحَانَ اللهِ إِنَّ الْمُسْلِمَ لاَ يَنْجُسُ

“Bahwa Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah menemuinya pada sebagian jalan-jalan kota Madinah, sedang ia (Abu Hurairah) junub. Maka aku mundur dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Abu Hurairah pergi mandi, lalu ia datang. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Dimana engkau tadi, wahai Abu Hurairah?” Ujar Abu Hurairah, “Aku tadi junub, maka aku benci kalau aku menemani Anda duduk, sedang aku tidak suci”. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Subhanallah, sesungguhnya seorang muslim tidak najis”. [HR. Al-Bukhoriy (283), dan Muslim (372)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Al-Bukhoriy berdalil dengan hadits ini tentang sucinya keringat orang yang junub, karena badannya tidak najis disebabkan oleh junub”. [Lihat Al-Fath (1/391)]

Para ulama’ telah menjelaskan bahwa keringat, dan ludah orang yang junub, haidh, dan nifas adalah suci. Al-Imam Ibnu Abdil Barr-rahimahullah- berkata dalam Al-Istidzkar (1/299), “Adapun ludah, dan keringat, maka ia jelas permasalahannya dari semua ulama’ (bahwa ia suci), baik dari segi penukilan, dan amaliah”.

Bahkan dalam permasalahan ini sebagian ulama’ telah menukil adanya ijma’ dari seluruh ulama’ kaum muslimin. Al-Imam Al-Ainiy-rahimahullah- berkata, “Diantara konsekuensi kesucian seorang manusia adalah kesucian keringatnya. Tapi tidak khusus keringat seorang muslim. Kondisi yang ada bahwa keringat seorang kafir juga suci”. [Lihat Umdah Al-Qori (3/237)]

Al-Imam Al-Ainiy-rahimahullah- berkata, “Semua ahlul ilmi (ulama’) sepakat bahwa keringat orang junub adalah suci. Hal itu (kesucian keringat) telah nyata dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan A’isyah bahwa mereka menyatakan hal itu (suci)”.[Lihat Umdah Al-Qori (3/240)]

Muhaddits Negeri India, Al-Imam Al-Mubarokfuri y -rahimahullah- berkata, “Mereka sepakat tentang kesucian keringat orang junub, dan keringat wanita haidh. Dalam hadits ini terdapat dalil tentang bolehnya menangguhkan mandi bagi orang yang junub, dan menyelesaikan hajatnya”.[Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (1/325)]

Inilah pernyataan para ahlul ilmi bahwa keringat orang-orang junub, haidh, dan nifas, bukanlah najis, karena badan mereka suci. Maka sesuatu yang keluar dari badan mereka berupa keringat atau ludah juga suci berdasarkan ijma’. Inilah yang harus kita yakini demi menyelisihi orang-orang Yahudi !!

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 73 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Ternyata bukan Najis !!! 28 Desember 2010

Posted by jihadsabili in thoharoh.
add a comment

Ternyata bukan Najis !!!

Ada beberapa perkara yang dianggap oleh sebagian orang bahwa ia adalah najis. Eh, ternyata bukan najis sehingga ada diantara mereka yang menyangka kalau mani atau muntah itu adalah najis. Lebih parah lagi, jika menyangka ludah atau keringat seseorang itu adalah najis.

Sebagian orang pernah bertanya kepada kami tentang sholat dengan pakaian yang terkena lumpur atau olie, maka kami katakan bahwa hal itu bukan najis. Ini penting kita ketahui, sebab sebagian kaum muslimin ada yang tak mau sholat dengan pakaiannya yang kotor karena lumpur saat ia sedang di sawah dengan dalih lumpur itu najis !! Padahal ternyata bukan najis !!! Perlu diketahui bahwa tidak semua yang kotor pasti najis. Jadi, lumpur, olie, tahi ayam, dan lainnya bukan najis, kecuali yang telah kami jelaskan dalam buletin mungil ini, edisi ke-23 (“Barang-barang Najis”).

Diantara perkara-perkara yang dianggap najis sebagian orang, bahkan kebanyakan orang, padahal ia bukan najis:

  • Cairan Mani

Mani adalah asal penciptaan bani Adam yang suci. Karenanya seorang yang mengalami mimpi basah, maka ia tak wajib mencuci bajunya, karena mani itu bukan najis. Cukup baginya untuk mencuci bagian yang terkena mani saat maninya basah. Tapi tidak wajib mencucinya. Boleh ia membiarkannya kering. Jika mani kering, maka seorang mengoreknya dengan kuku, atau kayu, dan lainnya yang bisa menghilangkan bekasnya.

‘Alqomah dan Al-Aswad berkata, ” Ada seorang (yaitu, Hammam bin Al-Harits, -pent.) pernah singgah pada A’isyah. Di pagi hari, ia mencuci pakaiannya. Maka A’isyah pun berkata,

إِنَّمَاكَانَ يُجْزِئُكَ إِنْ رَأَيْتَهُ أَنْ تَغْسِلَ مَكَانَهُ فَإِنْ لَمْ تَرَ نَضَحْتَ حَوْلَهُ، وَلَقَدْ رَأَيْتُنِيْ أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُوْلِ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرْكًا فَيُصَلِّيْ فِيْهِ

“Sesungguhnya cukup bagimu untuk mencuci tempatnya (yang terkena mani). Jika kamu tak melihat mani, maka perciki sekitarnya. Sungguh aku menyaksikan diriku telah mengorek-ngorek mani (dengan kuku, dan lainnya) dari pakaian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu beliau sholat dengan pakaian itu”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (288)]

A’isyah -radhiyallahu ‘anha– berkata,

كُنْتُ أَفْرُكُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُوْلِ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَابِسًا وَأَغْسِلُهُ إِذَا كَانَ رَطْبًا

“Dahulu aku mengerik mani dari pakaian Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, jika maninya kering; aku mencucinya (yang terkena mani, pent.), jika mani itu basah”. [HR. Ad-Daruquthniy dalam Sunan-nya (3), Ath-Thohawiy dalam Syarh Al-Ma’ani (266), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Irwa’ Al-Gholil (180)]

Abdullah Ibnu Abbas-radhiyallahu ‘anhu- pernah ditanya tentang mani yang mengenai pakaian, kemudian beliau menjawab,

إِنَّمَا هُوَ بِمَنْزِلَةِ الْبُصَاقِ أَوِ الْمُخَاطِ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْكَ أَنْ تَمْسَحَهُ بِخِرْقَةٍ أَوْ إِذْخِرٍ

“Mani itu sama kedudukannya dengan ludah atau dahak. Cukup bagimu untuk mengusapnya dengan secarik kain atau idzkhir (sejenis rumput yang harum)”. [HR. Asy-Syafi’iy dalam Musnad-nya (1593), dan Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (2977 & 2978). Syaikh Al-Albaniy berkata tentang hadits ini secara mauquf dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah (2/361), “Ini adalah sanad yang shohih sesuai ketentuan dua Syaikh (Al-Bukhoriy & Muslim)”]

Al-Imam Muhammad bin Isma’il Ash-Shon’aniy-rahimahullah- berkata dalam Subul As-Salam (1/55), ” Para ulama’ Syafi’iyyah berkata, “Mani adalah suci”. Mereka berdalil dengan hadits-hadits ini. Mereka berkata, “Hadits-hadits mencuci mani dipahami dengan makna mandub (sunnah). Mencuci mani bukan dalil tentang najisnya mani, karena terkadang (seseorang mencuci mani, -pent.) untuk membersihkan, dan menghilangkan nodanya, dan sejenisnya”. Usai ucapannya.

Jadi, mani adalah sesuatu yang suci, bukan najis sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang. Andaikan mani kita anggap najis, berarti asal kejadian dan penciptaan kita dari sesuatu yang najis. Padahal tidaklah demikian sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Bahkan kita tercipta dari mani yang suci !!

  • Minuman Khomer

Khomer alias minuman keras, walaupun haram diminum, dan digunakan berobat, maka dzatnya tidaklah najis menurut pendapat yang terkuat di kalangan ulama’, karena tak ada dalil yang menyatakan najisnya secara jelas.

Sebagian ulama’ yang berpendapat najisnya berdalil dengan ayat ini:

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, (mengundi nasib dengan) panah, adalah termasuk najis dari perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (QS.Al-Maa’idah :90).

Kata Ar-Rijsu (najis) disini bukanlah najis hissiyyah (pada dzatnya), tapi itu adalah najis hukmiyyah (maknawi). Jika khomer dianggap najis, maka judi, berhala, anak panah pun harus dianggap najis. Padahal tidaklah demikian tentunya.

Syaikh Husain bin ‘Audah Al-’Awayisyah berkata, “Demikian pula pengharaman tidaklah mengharuskan najisnya (sesuatu yang haram itu). Jika tidak, maka kita harus pula menyatakan najisnya ibu, putri, saudari, dan bibi, dan lainnya. Karena, Allah -Ta’ala- berfirman,

“Diharamkan atas kamu ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan…” (QS. An-Nisaa’: 23).

Makanan yang dicuri, haram dimakan, tapi tidak dikatakan bahwa ia najis”. [Lihat Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (1/48)]

Al-Imam Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata, “Tak ada dalil yang cocok dipegangi tentang najisnya minuman keras (khomer)”.[Lihat As-Sail Al-Jarror (1/137), cet. Dar Ibni Katsir]

Jadi, sekalipun khomer haram ditenggak dan diminum, namun tak ada dalil yang menjelaskan bahwa ia adalah barang-barang najis . Sedang mengeluarkan sesuatu dari kesucian harus menggunakan dalil yang jelas, wallahu a’lam.

  • Kotoran Hewan yang Bisa Dimakan

Banyak di sekitar kita hewan yang berseliweran, sebangsa ayam, itik, kambing, sapi, kerbau, dan lainnya diantara hewan-hewan yang halal dimakan. Hewan-hewan ini jika mengeluarkan tahi dan kencing, maka tahi dan kencingnya tidaklah najis.

Anas bin Malikradhiyallahu ‘anhu– berkata, ” Ada beberapa orang dari Uroinah datang kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Tapi mereka tidak cocok dengan (cuaca) kota Madinah. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada mereka,

إِنْ شِئْتُمْ أَنْ تَخْرُجُوْا إِلَى إِبِلِ الصَّدَقَةِ فَتَشْرَبُوْا مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا

“Jika kalian mau (pergi), maka keluarlah menuju onta shodaqoh (hasil zakat). Kemudian kalian minum susu, dan kencingnya”.

Mereka pun melakukannya, lalu mereka semua jadi sehat”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (233), dan Muslim dalam Shohih-nya (1671)]

Muhaddits Negeri Yaman, Al-Imam Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata, “Maka penghalalan untuk berobat dengannya (air kencing onta, dan lainnya) merupakan dalil tentang kesuciannya. Jadi, kencing onta, dan sebangsanya adalah suci”.[Lihat Nailul Author (1/99)]

Andaikan kencing onta atau hewan yang halal dimakan adalah najis, maka Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– tak akan memerintahkan orang-orang Uroinah meminum kencingnya, karena tak mungkin beliau akan memerintahkan mereka berobat dengan sesuatu yang najis. Karenanya, Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu– berkata tentang khomer,

إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَكُمْ فِيْمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

“Allah tidaklah menjadikan kesembuhan kalian dalam sesuatu yang Allah haramkan atas kalian”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Asyribah (10/98)-Fathul Bari]

  • Bangkai Hewan yang Tak Memiliki Darah

Para ulama kaum muslimin telah menggolongkan hewan menjadi dua macam. Pertama, hewan yang memiliki darah yang mengalir, seperti sapi, kambing, kucing, rusa, anjing, dan lainnya. Kedua, hewan yang tak memiliki darah yang mengalir, seperti nyamuk, kalajengking, laba-laba, semut, lalat, serangga-serangga kecil, dan lainnya.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لْيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِيْ إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَاْلأُخْرَى شِفَاءً

“Jika lalat jatuh pada minuman seorang diantara kalian, maka hendaknya ia menenggelamkannya, kemudian ia mencabutnya (membuangnya), karena pada salah satu diantara dua sayapnya terdapat penyakit, dan pada sayapnya yang lain terdapat obatnya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3320 & 5782), Abu Dawud dalam Sunan-nya (3844), An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (4262), dan Ibnu Majah (3505)]

Abul Fadhl Ibnu Hajar Al-Asqolaniy-rahimahullah- berkata, “Hadits ini dijadikan dalil bahwa air yang sedikit tidak najis karena jatuhnya hewan yang tak memiliki darah yang mengalir dalam air”. [Lihat Fathul Bari (10/251)]

Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy-rahimahullah- berkata, “Segala sesuatu yang tak memiliki darah yang mengalir, seperti yang disebutkan oleh Al-Khiroqiy berupa hewan darat atau hewan laut, diantaranya: lintah, ulat, kepiting, dan sejenisnya. Semua ini tidaklah najis karena mati, dan tidak menajisi air, jika ia mati di dalamnya menurut pendapat mayoritas ulama’”. [Lihat Al-Mughniy (1/68)]

Semakna dengan ini, ucapan Ibnu Dhuwayyan dalam Manar As-Sabil (1/40), “Ini umum pada semua (air) yang panas, dan dingin, serta minyak diantara cairan yang lalat akan mati jika dicelupkan ke dalamnya. Andai lalat itu menajisi air, maka itu (yakni perintah menenggelamkannya) adalah perintah untuk merusak air. Jadi, lalat tidaklah najis karena mati, dan tidak menajisi air, jika ia mati di dalamnya”.

Sebagai kesimpulan pembahasan ini, kami nukilkan ucapan Al-Allamah Syamsul Haq Al-Azhim Abadi-rahimahullah- ketika beliau mengomentari hadits lalat tersebut, “Hadits ini merupakan dalil yang jelas tentang bolehnya membunuh lalat demi mencegah bahayanya, dan bahwa ia dibuang, tidak dimakan; bahwa lalat jika mati di air, maka ia tak menajisi air, karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan untuk menenggelamkannya. Sudah dimaklumi bahwa lalat itu mati karena (menenggelamkan)nya, utamanya jika makanan panas. Andai lalat itu menajisi air, maka hal itu (perintah menenggelamkannya) merupakan perintah untuk merusak makanan. Padahal Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- hanyalah memerintahkan untuk memperbaikinya. Kemudian hukum ini (yakni, sucinya lalat) berpindah (sama) pada semua hewan yang tak memiliki darah yang mengalir, seperti lebah, kumbang, laba-laba, dan semisalnya”. [Lihat Aunul Ma’budSyarh Sunan Abi Dawud (10/231)]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 69 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)