jump to navigation

PENTING..!!Untuk Pengantin dan Calon Pengantin..!!.Agar “Malam Pertama” Indah dan Berkesan. 1 November 2011

Posted by jihadsabili in munakahat, tips.
add a comment


PENTING..!!Untuk Pengantin dan Calon Pengantin..!!.Agar “Malam Pertama” Indah dan Berkesan.

 

(LENGKAP) KUMPULAN TANYA JAWAB “MALAM PERTAMA” PENGANTIN : Bagaimana tips ‘malam pertama’ agar mempesona?, Apa bacaan doa sebelum hubungan intim?,Bagaimana mengetahui seseorang masih perjaka?,Apakah ketika ‘malam pertama’ mesti berdarah?, Apakah ketika ‘malam pertama’ mesti berdarah?, Apakah ketika ‘malam pertama’ mesti berdarah?, Kapan waktu berhubungan intim yang paling tepat?, Apa yang dimaksud dengan foreplay (mula’abah)?,Bagaimana mengetahui bahwa istri sudah ‘siap’?,Apa yang seharusnya dilakukan setelah selesai berhubungan intim?,Apakah harus mandi jika sudah selesai berhubungan intim?,Bagaimana cara ‘mandi wajib’?,Apa ciri-ciri ereksi yang normal?,Apa itu mani encer?,Apa itu mani encer?,Apa itu mani encer?,Apakah hubungan intim ketika hamil membahayakan janin?,Apakah hubungan intim ketika hamil membahayakan janin?,Posisi hubungan intim seperti apa yang aman ketika hamil?

 

 

Tanya Jawab Seputar Malam Pengantin.

 

Oleh : dr.Abu Hana El-Firdan & dr.Ummu Hana El-Firdan

 

http://www.kaahil.wordpress.com

 

Bagi pengantin baru, bulan madu (honeymoon) dan ‘malam pertama’ merupakan saat terindah sekaligus menegangkan. Dikatakan terindah karena akan menjadi pengalaman pertama pasangan tersebut dalam berhubungan intim dan disebut menegangkan karena kurangnya pemahaman mengenai etika berhubungan intim yang syar’i serta pengetahuan organ-organ seks yang berperan dalam aktifitas tersebut.

Malam pertama bukanlah sekedar pelampiasan nafsu birahi semata, tapi lebih menunjukkan ungkapan rasa cinta kedua mempelai yang telah diperbolehkan oleh agama dan norma yang ada. Berikut ini kami nukilkan beberapa tanya jawab seputar permasalahan ‘malam pertama’ yang semoga menambah wawasan pengetahuan, terkhusus untuk anda yang hendak menjalani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam ini.

Bagaimana tips ‘malam pertama’ agar mempesona?

Rencanakanlah dengan matang agar malam pertama anda begitu indah dan tidak akan terlupakan selamanya. Bacalah buku-buku seputar etika malam pertama yang sesuai syariat atau tanyakan kepada orang yang sudah berpenalaman. Jangan malu untuk menyarankan istri anda untuk membaca buku atau bertanya sana sini, toh ini juga untuk kebaikan berdua. (Salah satu buku karya ulama ialahAdab Az-Zifaf oleh Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullahu yang sudah banyak diterjemahkan)

• Jagalah kesehatan dan siapkan stamina sejak 3 hari sebelum malam pertama. Minumlah vitamin dan istirahat yang cukup agar kondisi hubungan intim nantinya fit dan menyenangkan.

• Persiapkan tempat tidur dan berikan minyak wangi atau aromaterapi, agar suasana bertambah indah dan harum.

• Mandilah terlebih dahulu dan berwudhu sangat dianjurkan, agar tubuh anda lebih bersih dan suci dari hadats.

• Meketakkan tangan di kepala istri dan mendoakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Jika salah seorang di antara kalian menikah atau membeli budak hendaknya ia mengucapkan,

ALLOOHUMMA INOIY AS’ALUKA KHOIROHAA WA KHOIRO MAA JABALTAHAA ‘ALAIHI WA A’UUDZU BIKA MIN SYARRIHAA WA SYARRI MAA JABALTAHAA ‘ALAIH

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan sesuatu yang Engkau ciptakan dia padanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan sesuatu yang Engkau ciptakan dia padanya).

Dan jika ia membeli unta maka hendaknya ia memegang punuknya dan mengucapkan seperti itu!” Abu Dawud berkata: Abu Sa’id menambahkan: kemudian hendaknya ia memegang ubuh-ubunnya (tempat tumbuhnya rambut bagian depan -red) dan berdoa agar mendapatkan berkah pada wanita dan budak. (HR. Al-Imam Abu Daud no. 1845 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albany rahimahullahu)

• Disunnahkan bagi kedua mempelai melakukan shalat dua rakaat bersama, karena hal tersebut dinukil dari kaum salaf.

“… Maka jika istrimu datang menghampirimu (untuk bersetubuh), perintahkanlah ia shalat dua rakaat di belakangmu.” Dalam riwayat lain dari Ibnu Mas’ud ditambahkan, katakanlah, “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku pada keluargaku (anak istriku) dan berikan keberkahan kepada mereka dalam diriku. Ya Allah, persatukanlah kami selama persatuan itu mengandung kebaikan dan pisahkanlah kami jika perpisahan itu menuju kebaikan.” (HR. Abu Bakar bin Syaibah, juga diriwayatkan oleh Al-Imam Abdul Razzaq dalam kitab Mushannafnya, 6/191, 10/460-461) sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Al-Imam Ath-Thabrani (3/21/2) dengan dua sanad yang keduanya shahih)

• Siapkan minuman hangat seperti susu atau madu. Cobalah rileks, mulailah mengajak bicara istri dengan obrolan ringan.

• Haram bagi suami menyetubuhi istrinya di saat ia sedang haid atau menyetubuhi duburnya (analseks).

• Haram bagi suami istri menyebarkan tentang masalah ranjang/rahasia hubungan badan keduanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah orang lelaki yang berhubungan intim dengan istrinya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.” (HR. Al-Imam Muslim no. 2597)

Apa bacaan doa sebelum hubungan intim?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sekiranya salah seorang di antara kalian ingin mendatangi istrinya, maka panjatkanlah doa:

BISMILLAAHI ALLOOHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA WAJAANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA

(Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa (anak) yang akan Engkau rizkikan kepada kami),

apabila di antara keduanya ditakdirkan mendapatkan anak dari hasil persetubuhan itu, maka anak tersebut tidak akan dicelakakan setan selamanya.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 6847)

Bagaimana mengetahui seseorang masih perjaka?

Hanya kejujuran anda yang dapat menjelaskannya, secara fisik sangat sulit karena tidak ada perubahan khusus pada organ kelamin maupun tubuh lainnya yang berubah setelah tidak perjaka lagi. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa permukaan kulit penisnya menjadi lebih hitam dibanding kulit tubuh lainnya, suka gelian jika digelitik atau pada bagian lututnya apabila diketuk akan berbunyi keras sekali adalah mitos yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Apakah ketika ‘malam pertama’ mesti berdarah?

Tidak. Selaput dara biasanya akan robek saat seorang wanita melakukan hubungan intim akibat penis yang masuk secara sempurna ke dalam vagina sehingga pendarahan ringan.

Terkadang selaput dara juga bisa rusak oleh sebab lain (misal karena terbentur, jatuh, kecelakaan yang mengenai daerah tersebut). Pada beberapa kejadian, selaput dara malah belum rusak walaupun sudah berkali-kali melakukan hubungan intim.

Faedah oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary:

Tidak diperbolehkan bagi pihak keluarga suami untuk bertanya kepadanya tentang keadaan istrinya, apakah ia mendapatinya perawan ataukah janda, demikian sebaliknya, tidak diperkenankan bagi pihak keluarga istri, untuk meminta kepada sang suami agar memperlihatkan bukti berupa “darah keperawanan” yang menunjukkan si istri telah hilang keperawanannya karena telah berhubungan intim. Semua ini bertolak belakang dengan norma, apalagi syariat. Yang benar, hendaknya menjauhi perkara ini demi menjaga aib kaum muslimin secara umum. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah 19/605)

Apalagi mitos malam pertama yang lain?

Sebaiknya malam pertama dilalui dengan alamiah dan berjalan apa adanya. Terlalu banyak keinginan, tuntutan atau manipulasi terkadang menyebabkan beban stres tersendiri. Banyak sekali mitos yang beredar di antaranya:

• Wajib minum obat kuat. Faktanya, terkadang pengantin baru belum memiliki kesiapan fisik dan psikologis, rasa malu dan sungkan bisa menyebabkan malam pertama dilalui dengan salah tingkah.

• Keberhasilan malam pertama diukur dengan robeknya selaput dara. Faktanya justru robeknya selaput dara di malam pertama bisa jadi disebabkan karena kesiapan psikologis si istri untuk berhubungan badan belum sempurna. Pengalaman buruk di malam pertama juga tidak menjadi jaminan kegagalan pada malam-malam selanjutnya.

• Selalu sakit. Faktanya jika si wanita telah siap dan rileks maka keluhan sakit itu tidak selamanya terjadi. Pemanasan (foreplay) yang cukup dan tidak tergesa-gesa sangat dibutuhkan agar vagina wanita lebih siap menerima penetrasi. Fakta lain menyebutkan bahwa tidak sedikit pasangan yang kecewa di malam pertama akibat ketidakpahaman tentang cara berhubungan intim yang sehat dan benar.

Berapa lama waktu hubungan intim yang normal?

Sebuah survey menyebutkan bahwa jangka waktu 1-2 menit dianggap terlalu pendek, 3-7 menit dianggap sudah memadai, sedangkan lama berhubungan intim yang 10-30 menit dianggap terlalu panjang. Rata-rata sebagian besar responden mengharapkan durasi berhubungan badan berkisar antara 7-13 menit.

Walaupun demikian, sesungguhnya tidak ada batasan pasti berapa lama waktu berhubungan badan yang paling baik, selama kedua pasangan merasa puas maka itulah lama waktu yang paling tepat bagi keduanya.

Kapan waktu berhubungan intim yang paling tepat?

Sebenarnya kapan saja hubungan intim itu dapat dilakukan. Beberapa orang menyarankan agar melakukannya pada sepertiga malam (pukul 10 ke atas), atau pada tiga waktu yang nyaman yaitu, sebelum shalat subuh, tengah hari, dan sesudah shalat isya’.

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu milik, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah shalat isya’. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain)….” (QS. An-Nuur: 58)

Faedah oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary:

Memang ayat di atas tidak sharih (jelas pendalilannya) yang menerangkan tentang waktu berhubungan intim yang paling baik, namun demikian ada riwayat dari As-Su’ddi yang menukilkan bahwa beberapa orang dari kalangan sahabat menyukai untuk mendatangi istri-istrinya pada waktu-waktu tersebut dalam ayat, agar dengan itu mereka dapat mandi kemudian keluar untuk menunaikan shalat. (Tafsir Al-Qur’anul Adhim karya Al-Imam Ibnu Katsir)

Apa yang dimaksud dengan foreplay (mula’abah)?

Foreplay adalah kegiatan “pemanasan” sebelum melakukan aktifitas inti berhubungan intim. Tahap ini merupakan bagian yang sangat penting karena biasanya istri sering dilanda keraguan apakah suaminya hanya menginginkan tubuhnya saja atau mencintai dirinya apa adanya. Berikut hal-hal yang harus anda ketahui dan perhatikan:

• Pemanasan diawali dengan pendekatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“… Tidakkah kamu pilih gadis, hingga kamu bisa bercumbu dengannya dan dia bisa bercumbu denganmu atau kamu dapat bergurau dengannya dan dia dapat bergurau denganmu?” (HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 5908)

• Sikap saling diam adalah kurang tepat. Sebaiknya lakukanlah komunikasi yang menyenangkan.

• Pria janganlah mementingkan dirinya sendiri, yang penting dia puas sedangkan istrinya suka atau tidak, siap atau belum siap untuk berhubungan intim dia tidak peduli. Tergesa-gesa dalam pemanasan bahkan kadang tanpa pemanasan menyebabkan wanita tidak dapat rileks dan menjadikan kegiatan berhubungan badan menjadi terasa menyakitkan.

Faedah oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary:

Ada hal penting yang harus diperhatikan pasangan suami istri. Bagi suami hendaknya mempersiapkan diri dengan selalu tampil tampan dan menyenangkan bagi istrinya. Allah shallallahu ‘alaihi wassalam berfirman:

“… Dan para wanita memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf…” (QS. Al-Baqarah: 228)

Adalah sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Aku selalu tampil tampan di depan istriku, seperti halnya ia selalu tampil cantik di depanku.”

Bagi suami, jangan sampai tidak berhubungan intim dengan istrinya. Adalah sebagian salaf mengatakan, “Ada tiga hal yang harus selalu dijaga oleh seseorang. Pertama, jangan sampai tidak pernah berjalan kaki. Kedua, jangan sampai meninggalkan makan. Dan ketiga, jangan sampai tidak berhubungan intim dengan istri.”

Bagi seorang istri, hendaknya mengetahui dan menjauh dari sebab-sebab yang membuat suaminya lari darinya dan tidak ada keinginan untuk berhubungan badan dengannya, adapun sebab-sebab tersebut antara lain:

1. Adanya bau yang tidak sedap dari vagina.

2. Bau mulut yang busuk.

3. Mengonsumsi makanan yang menimbulkan bau seperti bawang merah, dll. 4. Kuku yang kotor akibat tidak dirawat.

5. Terlalu banyaknya bulu atau rambut di sekujur tubuh.

6. Mengenakan pakaian yang terlalu tebal dan menutupi tubuh di depan suami, tidak halus dan cenderung tipis. 7. Tidak ada perhatian untuk merawat rambut dan menyisirnya. 8. Bagian pusar yang tidak menarik akibat adanya kotoran yang tidak dibersihkan. 9. Terlalu lebatnya bulu kemaluan.

10. Bau keringat yang tidak sedap.

11. Gigi tidak bersih, akibat banyaknya sisa makanan yang menempel.

12. Adanya kebiasaan dari dapur langsung menuju tempat tidur, untuk menemani suaminya tanpa bersih-bersih terlebih dahulu. (lihat Maadza taf’al lailatal banna hal. 27-28)

Bagaimana mengetahui bahwa istri sudah ‘siap’?

Banyaknya keluar madzi merupakan tanda bahwa istri sudah mulai siap. Ingat, pastikan vagina sudah benar-benar basah. Jika vagina belum basah berarti istri belum terangsang gairahnya dan bisa menyakitkan istri saat melakukan penetrasi. Rasa perih dan tidak nyaman akibat vagina yang masih kering ini bisa membunuh gairah istri yang sedang menuju puncak.

Apa yang seharusnya dilakukan setelah selesai berhubungan intim?

Usahakan agar istri mencapai puncak kenikmatan (orgasme) terlebih dahulu. Wanita lebih lama mencapai orgasme ketimbang pria. Tapi jika pria bisa orgasme satu kali, wanita bisa orgasme berkali-kali. Wanita masih ingin merasakan cinta dari suaminya setelah melewati masa orgasme menuju tahap resolusi, tahap setelah merasakan kenikmatan.

Belaian lembut kepada istri sudah cukup memberikan perasaan tenang dan kasih sayang. Dengan demikian suami akan memberikan kesan tidak hanya membutuhkan istrinya di saat berhubungan intim saja, sehingga istri akan bergairah lagi mengulang malam pertama yang begitu berkesan, tanpa kecanggungan, kekakuan ataupun bentuk-bentuk keraguan dan ketakutan lainnya.

Disunnahkan bagi kedua suami istri untuk mencuci kemaluannya dan berwudhu dulu sebelum tidur sesudah melakukan hubungan intim, karena Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam jika beliau hendak makan atau tidur sedangkan ia junub, maka beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat.” (Muttafaq ‘alaih)

Bagaimana jika ingin ‘nambah’ lagi?

Jika sang suami ingin berhubungan intim kembali, dianjurkan berwudhu terlebih dahulu, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Apabila salah seorang kamu telah bersetubuh dengan istrinya, lalu ingin mengulanginya kembali maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Al-Imam Muslim no. 466)

Apakah harus mandi jika sudah selesai berhubungan intim?

Mandi setelah berhubungan intim (mandi junub) hukumnya wajib, sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala:

“…dan jika kamu junub maka mandilah..” (QS. Al-Maa’idah: 6)

Dan diperbolehkan bagi suami istri untuk mandi bersama, sebagaimana hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dari satu ember yang terbuat dari tembikar yang disebut Al-Faraq.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 242)

Pada saat mandi, suami istri bisa saling menciduk air secara bergantian dan menyirami tubuh pasangannya dan membersihkannya. Atau suami istri bisa juga berada dalam satu wadah seperti bak mandi (bathtub) untuk menambah kecintaan.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mandi bersamaku dari satu bejana. Kami menyiduk air dari bejana tersebut secara bersama-sama.” (HR. Al-Imam An-Nasa’i no. 408)

Bagaimana cara ‘mandi wajib’?

1. Mencuci kedua telapak tangan sebanyak 3 kali.

2. Mencuci kemaluan dan sekitarnya dengan tangan kiri.

3. Berwudhu seperti wudhu untuk shalat.

4. Menuangkan air ke kepala 3 kali dan menyela-nyelanya bila perlu. 5. Menuangkan air ke seluruh tubuh.

Apa ciri-ciri ereksi yang normal?

Ereksi adalah keadaan dimana penis membesar lalu mengeras akibat adanya rangsangan seksual. Ciri ereksi yang normal adalah jika penis dipegang atau ditekan terasa keras, tidak bisa ditekuk dan jika digerakkan akan bergetar lalu kembali pada posisi awal.

Pria biasanya mengalami ereksi ketika akan buang air kecil, ketika waktu bangun di malam hari atau pagi hari (shubuh). Sampai sekarang belum diketahui secara pasti penyebab hal tersebut. Ereksi pada pagi hari kemungkinan karena peningkatan hormon testoteron. Beberapa pria muda normalnya mengalami ereksi setiap pagi, namun ada juga yang mengalaminya 2 hari sekali.

Apa itu mani encer?

Mani encer sebenarnya hanya mitos, karena kesuburan pria tidak bisa diukur dari kekentalan mani. Pria juga sebaiknya tidak menafsirkan sendiri air maninya encer atau kental namun harus diperiksakan ke klinik kesuburan untuk dianalisis. Kesuburan pria tergantung dari jumlah, bentuk dan gerakan spermanya.

Posisi hubungan intim seperti apa yang harus dihindari jika ingin cepat hamil?

Posisi hubungan intim yang harus dihindari bila ingin cepat hamil ialah posisi wanita di atas, posisi duduk atau berdiri karena sebagian sperma keluar dan hanya tersisa sedikit sperma yang berjalan ke arah sel telur.

Apakah bergesekan kelamin saja bisa menyebabkan hamil, sementara air mani sebagian tertumpah di depan vagina?

Peluangnya tetap ada walaupun kecil sekali, karena bisa jadi sebagian air mani ada yang masuk ke dalam vagina. Sebagaimana kita ketahui vagina tidak sepenuhnya tertutup oleh selaput dara. Secara logika, jika ada yang bisa mengalir keluar maka mungkin saja ada yang bisa mengalir masuk.

Apakah hubungan intim ketika hamil membahayakan janin?

Tidak berbahaya, mitos yang mengatakan bahwa hubungan intim ketika hamil dapat menimbulkan infeksi atau akan melukai bayi dalam kandungan merupakan anggapan tidak benar.

Hubungan intim tidak berbahaya untuk bayi karena adanya lendir serviks yang membantu melawan kuman yang akan masuk ke dalam pintu rahim, dan secara alamiah Allah Subhanallahu wa Ta’ala menciptakan suatu perlindungan yang aman pada bayi dalam kandungan, sehingga bayi terlindungi.

Janin pun dilindungi oleh banyak barrier seperti kantong amnion (kantong yang menampung cairan amnion dan janin), dinding yang tebal, lapisan mukus tebal yang mampu melawan infeksi. Oleh karenanya penis pasangan tidak akan menyentuh bayi. Subhanallah!

Pada saat umur kehamilan berapa paling aman dan tepat melakukan hubungan intim?

Paling aman adalah setelah umur kehamilan trisemester pertama (tiga bulan) hingga usia tujuh bulan. Pada waktu ini, ibu hamil sudah rileks dan kondisinya sudah jauh lebih nyaman.

Pada trisemester pertama kehamilan sebaiknya menunda hubungan intim terlebih dahulu. Pasalnya, ari-ari belum terbentuk sempurna sehingga dapat mengakibatkan keguguran bila terjadi kontraksi dahsyat. Jika kehamilannya termasuk kehamilan beresiko tinggi atau merasakan gejala yang tidak biasa setelah atau ketika berhubungan intim, misalnya rasa nyeri, kram, mules-mules atau keluar jendalan darah sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.

Posisi hubungan intim seperti apa yang aman ketika hamil?

Boleh posisi apa saja asalkan dengan syarat tidak memberi tekanan langsung ke perut istri, dan perlu diperhatikan bahwa selama hubungan intim tersebut dilakukan pada vagina maka dibolehkan secara syariat. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepada para wanita Anshar, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad no. 23587 dan Al-Imam At-Tirmidzi no. 2905,

“Lubang yang satu.” (Maksudnya adalah vagina saja)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda sebagaimana dari Al-Imam Ahmad no. 2569,

“Mengarahkan dari depan dan belakang, jauhilah dubur (lubang pantat) dan haid.”

Maksudnya adalah setubuhilah istrimu dari arah depan atau belakang dan jauhilah dubur serta jauhilah hubungan intim ketika istri sedang haid walaupun pada kemaluan. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Datangilah ia (istri) pada setiap keadaan, jika itu (dilakukan) pada kemaluan.” (HR. Al-Imam Ahmad no. 2289)

Bagi sebagian wanita, kehamilan justru meningkatkan dorongan seksual tetapi bagi sebagian lain tidak berpengaruh. Di luar dari faktor tersebut, sebenarnya hubungan intim saat hamil bisa lebih nikmat. Cairan vagina lebih meningkat dan perubahan pada area genital membuat beberapa orang justru lebih bisa merasakan orgasme.

Baarakallahu fiikum..!

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: Konsultasi Kehamilan Secara Medis dan Islam oleh dr. Abu Hana El-Firdan & dr. Ummu Hana El-Firdan, penerbit: Toobagus Life dan Kaahil Media, cet. 1 Shafar 1432 H.

Iklan

Siti Muthi’ah, Wanita Pertama yang Masuk Surga 3 Oktober 2011

Posted by jihadsabili in keluarga, munakahat, muslimah, nasehat.
add a comment

Suatu ketika, Siti fatimah bertanya kepada Rosulullah. Siapakah Perempuan yang kelak pertama kali masuk surga? Rosulullah menjawab:” Dia adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah”.

Siti Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rosulullah sendiri? Maka timbullah einginann fatimah untuk mengetahui siapakan gerangan permpuan itu? Dan apakah yang telah di perbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?

Setelah minta izin kepada suaminya, Ali Bin Abi Thalib, Siti Fatimah berngkat mencari rumah kediaman Muti’ah. Putranya yang masih kecil yang bernama Hasan diajak ikut serta.

Ketika tiba di rumah Muti’ah, Siti Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam, “Assalamu’alaikum…!”

“Wa’alaikumussalaam! Siapa di luar?” terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.

“Saya Fatimah, Putri Rosulullah,” sahut Fatimah kembali.

“Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rosululah, sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.

“Sendirian, Fatimah?” tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, Yaitu Muti’ah seraya membukakan pintu.

“Aku ditemani Hasan,” jawab Fatimah.

“Aduh maaf ya,” kata Muti’ah, suaranya terdengar menyesal. Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki.”

“Tapi Hasan kan masih kecil?” jelas Fatimah.

“Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja Anda datang lagi, ya? saya akan minta izin dulu kepada auami saya,” kata Mutiah dengan menyesal.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala , Fatimah pamit dan kembali pulang.

Besoknya, Fatimah dating lagi ke rumah Muti’ah, kali ini a ditemani oleh Hasan dan Husain. Beritga mereka mendatangi rumah Muti’ah. Setelah memberi salam dan dijawab gembira, masih dari dalam rumah Muti’ah bertanya:

“Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin.” “Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, dan Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga, “ dengan perasaan menyesal, Muti’ah kai ini juga menolak.

Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Muti’ah. Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu dirumahnya.

Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum dan sangat segar, membuat orang betah tinggal di rumah.

Fatimah sangat kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu, sehngga Hasan dan Husain yang biasanya tak begitu betah betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.

“Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya,” kata Mutiah sambil mondar mandir dari dapur ke ruang tamu.

Mendekati tengah hari , maskan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, yang juga ditaruh di atas nampan.

“Suamimu bekerja dimana?” Tanya Fatimah

“Di ladang,” jawab Muti’ah.

“Pengembala?” Tanya Fatimah lagi.

“Bukan. Bercocok tanam.”

“Tapi, mengapa kau bawakan cambuk?”

“Oh, itu?” sahut Mutiah denga tersenyu.” Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah maskan saya cocok atau tidak? Kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya.”

“Apakah itu kehendak suamimu?” Tanya Fatimah keheranan.

“Oh, bukan! Suami saya adalah seorang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami.”

Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.

“Pantas kalau Muti’ah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga,” kata Fatimah dalam hati, di tengah perjalannya pulang, “Dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus. Prilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambing perbudadakan wanita oleh kaum lelaki, Tapi merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan prilaku yang sama.”

tak hanya itu, saat itu masih ada benda kipas dan kain kecil.

“Buat apa benda ini Muthi’ah?” Siti Muthi’ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Ia-pun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas”

sungguh mulia Siti Muthi’ah, wanita yang taat kepada suaminya. maka tidaklah salah jika dia wanita pertama yang masuk surga.

Mampukah rumah tangga yang sakinah diawali dengan pacaran? 26 Juli 2011

Posted by jihadsabili in jodoh, munakahat.
add a comment

Pernah ditanyakan oleh seorang ustadz kepada kami,”Yaa ikhwan, mau tidak ente nanti menikah dengan seorang wanita yang bekas dipacari orang 6 tahun?” Kami jawab,”Na’udzubillah, sisa apanya ustadz! Tidak mau yaa ustadz!” Beliau kembali menjawab,”Makanya, ente jangan pacaran! Sebuah rumah tangga yang sakinah mawaddah warrohmah tidak bisa dijembatani dengan kemaksiyatan kepada Allah Ta’ala.” Masih terngiang nasihat-nasihat beliau dengan jelas, memang tidak mungkin sebuah pernikahan yang mengharapkan ridha dan barokah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala didapatkan jika diawali dengan bermaksiyat kepada-Nya, bagaimana bisa mendapatkan keindahan hidup berumah tangga jika diawali dengan menentang perintah Allah Ta’ala, padahal sudah teramat jelas larangan-larangan itu termaktub dalam Al-Qur’an Al-Kariim, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al Israa’ : 32) “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya…” (QS An-Nuur : 30) “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya…”(QS An-Nuur : 31) Wahai adik-adikku generasi muda Islam, bukankah telah banyak nasihat dan contoh yang engkau dapatkan tentang kebiasaan pacaran ini, betapa pintu syaithan terbuka luas, seluas-luasnya bagi dua remaja muda-mudi yang sedang berpacaran? Kalau mereka melontarkan beberapa syubhat yang berhubungan dengan pacaran ini maka tidak lain itu hanya alas an yang muncul karena dorongan syahwat mereka belaka, bukan karena petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu bagaimana mungkin engkau akan menukar petunjuk Allah dengan syahwatmu? Kadang ketika penulis menasihati beberapa anak-anak muda untuk bertaqwa kepada Allah Ta’ala dan menghentikan pacaran mereka membantah dengan perkataan-perkataan yang membuat penulis sedih dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala, wahai adik-adiku! Aku mencintaimu karena Allah maka terimalah nasihatku ini… Perkataan syubhat yang sering mereka bantahkah! Syubhat Pertama : Ada yang berkata,”Ga sebegitunya seh! Yang penting kan kita tidak zina beneran!…” Wahai adiku remaja muslim, bukankah perkataanmu di atas telah menunjukkan kesombonganmu, bahwa engkau yakin tidak akan terjerumus kepada zina? Padahal engkau telah membuka pintu syaithan untuk menjerumuskanmu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ““Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu) Memang pacaran telah melenakan banyak generasi muda Islam (bahkan ada yang sudah tidak muda lagi masih pacaran – na’udzubillahi min dzaalik), karena menurut pandangan seorang muslim awam pacaran itu memang manis dan mempesonakan, kadang lebih berbahaya daripada narkoba! Seringkali anak-anak muda melupakan dampah buruknya pacaran dan hanya memikirkan manisnya saja, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita terhadap hal yang mempesonakan ini.. sebuah kesenangan yang menipu! Tidak ada ujungnya kecuali kerusakan dan penyesalan! Berbagai bentuk perzinaan anggota tubuh yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.” Maka pacaran ini sudah termasuk bagian dari zina, mulai dari saling pandang mata, melempar senyuman, bergandengan tangan, kata-kata merayu dan memanja, sekaligus hati yang berfantasi dan berangan-angan agar lebih dari itu, maka potensi zina lebih diperbesar prosentasenya dengan kehadiran syaithan yang tidak akan pernah absen dari kegiatan seperti ini, dan akhirnya pun berujung dengan benar-benar terjadinya zina. Mas..mbak..kakak..ading..aa’..teteh..uni..uda semua hal diatas adalah diawali dari kebiasaan meremehkan hukum-hukum yang telah diterapkan oleh Allah Ta’ala, juga kebiasaan meninggalkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan bagi setiap individu muslim, dan yang terakhir adalah kebiasaan suka melupakan kehadiran pihak ketiga dalam pacaran, yaitu syaithan! Bahkan perbuatan zina bisa dimulai dari hanya sekedar SMS atau chatting di melalui HP atau Internet, semakin terbuka lebar peluang syaithan untuk menjerumuskan manusia melalui CMBR (canda mesra dan bujuk rayu), kemudian ujung-ujungnya ITDA (isak tangis dan derai air mata), sudah merupakan hal yang umum dan telah banyak kita melihat anak-anak muda menggunakan HPnya untuk sekadar “cekikikan” dan bersayang-sayang-an dengan laki-laki atau perempuan yang bukan mahromnya. Sehingga HP kembali menjadi tertuduh no. 1 sebagai sarana penghantar kehendak syaithan ini. Maka kami menghimbau kepada orang tua agar memberikan batasan pada penggunaan HP anak-anak remaja, mereka masih rentan akan godaan syaithan, apalagi pada remaja yang masih awam terhadap ilmu agama yang syar’i. Syubhat Kedua : Ada yang berkata,”Kalau tidak pacaran bagaimana nanti mengenal calon istri / suami, nanti kan jadi rusak rumah tangga kalau menikah tanpa saling mengenal pribadi masing-masing!” Betapa banyak rumah tangga yang hancur karena diawali dengan pacaran, kehidupan rumah tangga mereka hambar, tidak lagi mereka merasakan indahnya malam pertama dan madunya pernikahan, penulis ingat kembali perkataan seorang ustadz,”Bagaimana tidak hambar malam pertama pernikahan mereka, lha wong sudah hapal dari ujung rambut sampai ke ujung kaki!”, akhirnya banyak pengalaman pacaran ini di ulangi oleh masing-masing pasangan (suami atau istri) dengan berselingkuh (pacaran lagi) dengan yang lain walaupun sudah memiliki suami atau istri. Justru rumah tangga yang dimulai dengan berpacaran sering terjadi pertengkaran di dalamnya, karena ketika terjadi pertengkaran kecil masing-masing pihak saling membuka aib masa lalu mereka, tidak ada saling mengalah dan sering terjadi saling menyalahkan, apalagi pernikahan yang terjadi karena “kecelakaan”, bagaimana mungkin bisa membangun sebuah rumah yang kokoh di pinggir tebing tanah yang mudah longsor? Bagaimana mungkin suatu rumah tangga yang baik disusun dari sebuah perzinahan? Karena sudah sering pacaran dan berganti-ganti pacar sebelumnya, walaupun sudah berumah tangga, sering masih terjadi kontak dengan mantan pacar masing-masing, HP dan telepon sering menjadi penghubung CLBK (cinta lama bersemi kembali), kalau sudah begini maka bagaimana mungkin bisa menyusun suatu bahtera rumah tangga yang sakinah. Virus pacaran memang sering membuat orang ketagihan, bayang-bayang keindahan berdua saat pacaran akan selalu membayangi kehidupan rumah tangga mereka, tidak ketinggalan syaithan berperan serta dalam keadaan ini dan mengipasi syahwat masing-masing pihak yang berselingkuh agar semakin menggelora, hasilnya bisa kita lihat di lingkungan sekitar kita. Dan hukum yang sering terjadi pada laki-laki dan wanita yang gemar pacaran adalah : “rumput halaman tetangga lebih hijau!”. Justru karena telah terlalu mengenal satu sama lain sebelum menikah melalui pacaran sering membuat istri banyak melawan suaminya, banyak istri yang durhaka kepada suami karena merasa derajat mereka sama di dalam rumah tangga, tidak ada lagi ketentuan bahwa seorang laki-laki adalah pemimpin dalam rumah tangganya. Alasan bahwa tidak mengenal pasangan sebelum menikah akan membuat pernikahan hancur adalah sebuah kedustaan yang besar! Sebaliknya, bunga-bunga keindahan rumah tangga yang diawali tanpa adanya pacaran semakin mekar dan bersemi mengisi hari-hari mereka, mulai dari malam pertama pernikahan mereka hingga tahun-tahun berlalu masih terasa seperti pertemuan yang pertama. Sebagian besar mereka yang menikah tanpa pacaran adalah seorang muslim yang shalih, yang memahami tentang hukum-hukum agamanya, dan tidaklah bisa memperlakukan wanita dengan baik sesuai dengan kehormatan yang diberikan Allah kepada mereka kecuali seorang lelaki yang shalih! Karena seorang suami yang shalih jika dia menemukan sesuatu yang tidak disukainya dalam diri istrinya maka dia tidak mencelanya dan memukulnya kecuali yang menjadi hak baginya, seorang suami yang shalih akan mendidik istrinya dengan lembut sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahasan tentang hal ini telah banyak dibahas. Maka ketahuilah wahai para wanita, mana yang akan engkau pilih, mendapatkan seorang calon suami yang gemar pacaran (sudah pasti mereka ini sering gonta-ganti pacar), atau mendapatkan seorang suami yang shalih yang mampu mengantarkanmu menuju surge Allah (insya Allah) dalam naungan ilmu agama yang syar’i? Pilihannya ada pada dirimu! Syubhat Ketiga : Ada yang berkata,”Bagaimana kita bisa mengetahui sifat dan kejujuran calon suami / istri jika tidak pacaran?” Ini adalah syubhat yang menggelikan, justru akan kami balik pernyataan di atas dengan pertanyaan, “Bagaimana mungkin engkau menemukan kejujuran dalam pacaran? Bagaimana mungkin engkau menemukan kejujuran dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Adalah sebuah hal yang menggelikan jika seorang wanita menuntut kejujuran kepada seorang laki-laki yang gemar bermaksiat kepada Allah Ta’ala, karena mereka telah kotor dan hatinya terkontaminasi penyakit zina, mereka ini gemar mengumbar pandangan dan nafsu, suka melanggar perintah Allah Ta’ala : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS An-Nuur : 30) Bagaimana mungkin seorang laki-laki yang gemar mengotori dirinya (gemar pacaran) akan mampu menjadi pemimpin rumah tangga yang baik? Dan apakah mereka ini mampu mendidik anak-anak mereka menjadi muslim yang shalih? Wahai saudaraku, telah cukup kemunkaran terjadi di muka bumi ini gara-gara bentuk pergaulan yang mengikuti kaum kafirin ini, sudah saatnya engkau kembali kepada jalan Rabb-mu, kepada Al-Qur’an dan sunnah yang shahih, gemar menghadiri dauroh agama dan ta’lim, bukan malah ke mall-mall dan tempat-tempat “mojok” yang banyak syaithannya. Sebenarnya masih banyak syubhat-syubhat lain yang dilontarkan oleh mereka yang gemar berpacaran ini, seribu satu macam alasan akan selalu ada dan datang dari hati yang kosong dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga syahwat yang menggantikan untuk berbicara, namun percayalah wahai saudaraku kaum muslimin, akan senantiasa ada para penyeru-penyeru kebaikan yang hadir dengan mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai dengan pemahaman para pendahulu kita para salafush shalih, mereka tampil membawa pelita ilmu untuk mengarungi negeri ujian yang penuh cobaan ini, yaitu Dunia! Dan selalu sadarilah wahai saudaraku bahwa Allah Ta’ala berfirman : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (QS AL-Hadiid : 20). Pernah ditanyakan oleh seorang ustadz kepada kami,”Yaa ikhwan, mau tidak ente nanti menikah dengan seorang wanita yang bekas dipacari orang 6 tahun?” Kami jawab,”Na’udzubillah, sisa apanya ustadz! Tidak mau yaa ustadz!” Beliau kembali menjawab,”Makanya, ente jangan pacaran! Sebuah rumah tangga yang sakinah mawaddah warrohmah tidak bisa dijembatani dengan kemaksiyatan kepada Allah Ta’ala.” Masih terngiang nasihat-nasihat beliau dengan jelas, memang tidak mungkin sebuah pernikahan yang mengharapkan ridha dan barokah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala didapatkan jika diawali dengan bermaksiyat kepada-Nya, bagaimana bisa mendapatkan keindahan hidup berumah tangga jika diawali dengan menentang perintah Allah Ta’ala, padahal sudah teramat jelas larangan-larangan itu termaktub dalam Al-Qur’an Al-Kariim, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al Israa’ : 32) “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya…” (QS An-Nuur : 30) “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya…”(QS An-Nuur : 31) Wahai adik-adikku generasi muda Islam, bukankah telah banyak nasihat dan contoh yang engkau dapatkan tentang kebiasaan pacaran ini, betapa pintu syaithan terbuka luas, seluas-luasnya bagi dua remaja muda-mudi yang sedang berpacaran? Kalau mereka melontarkan beberapa syubhat yang berhubungan dengan pacaran ini maka tidak lain itu hanya alas an yang muncul karena dorongan syahwat mereka belaka, bukan karena petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu bagaimana mungkin engkau akan menukar petunjuk Allah dengan syahwatmu? Kadang ketika penulis menasihati beberapa anak-anak muda untuk bertaqwa kepada Allah Ta’ala dan menghentikan pacaran mereka membantah dengan perkataan-perkataan yang membuat penulis sedih dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala, wahai adik-adiku! Aku mencintaimu karena Allah maka terimalah nasihatku ini… Perkataan syubhat yang sering mereka bantahkah! Syubhat Pertama : Ada yang berkata,”Ga sebegitunya seh! Yang penting kan kita tidak zina beneran!…” Wahai adiku remaja muslim, bukankah perkataanmu di atas telah menunjukkan kesombonganmu, bahwa engkau yakin tidak akan terjerumus kepada zina? Padahal engkau telah membuka pintu syaithan untuk menjerumuskanmu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ““Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu) Memang pacaran telah melenakan banyak generasi muda Islam (bahkan ada yang sudah tidak muda lagi masih pacaran – na’udzubillahi min dzaalik), karena menurut pandangan seorang muslim awam pacaran itu memang manis dan mempesonakan, kadang lebih berbahaya daripada narkoba! Seringkali anak-anak muda melupakan dampah buruknya pacaran dan hanya memikirkan manisnya saja, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita terhadap hal yang mempesonakan ini.. sebuah kesenangan yang menipu! Tidak ada ujungnya kecuali kerusakan dan penyesalan! Berbagai bentuk perzinaan anggota tubuh yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.” Maka pacaran ini sudah termasuk bagian dari zina, mulai dari saling pandang mata, melempar senyuman, bergandengan tangan, kata-kata merayu dan memanja, sekaligus hati yang berfantasi dan berangan-angan agar lebih dari itu, maka potensi zina lebih diperbesar prosentasenya dengan kehadiran syaithan yang tidak akan pernah absen dari kegiatan seperti ini, dan akhirnya pun berujung dengan benar-benar terjadinya zina. Mas..mbak..kakak..ading..aa’..teteh..uni..uda semua hal diatas adalah diawali dari kebiasaan meremehkan hukum-hukum yang telah diterapkan oleh Allah Ta’ala, juga kebiasaan meninggalkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan bagi setiap individu muslim, dan yang terakhir adalah kebiasaan suka melupakan kehadiran pihak ketiga dalam pacaran, yaitu syaithan! Bahkan perbuatan zina bisa dimulai dari hanya sekedar SMS atau chatting di melalui HP atau Internet, semakin terbuka lebar peluang syaithan untuk menjerumuskan manusia melalui CMBR (canda mesra dan bujuk rayu), kemudian ujung-ujungnya ITDA (isak tangis dan derai air mata), sudah merupakan hal yang umum dan telah banyak kita melihat anak-anak muda menggunakan HPnya untuk sekadar “cekikikan” dan bersayang-sayang-an dengan laki-laki atau perempuan yang bukan mahromnya. Sehingga HP kembali menjadi tertuduh no. 1 sebagai sarana penghantar kehendak syaithan ini. Maka kami menghimbau kepada orang tua agar memberikan batasan pada penggunaan HP anak-anak remaja, mereka masih rentan akan godaan syaithan, apalagi pada remaja yang masih awam terhadap ilmu agama yang syar’i. Syubhat Kedua : Ada yang berkata,”Kalau tidak pacaran bagaimana nanti mengenal calon istri / suami, nanti kan jadi rusak rumah tangga kalau menikah tanpa saling mengenal pribadi masing-masing!” Betapa banyak rumah tangga yang hancur karena diawali dengan pacaran, kehidupan rumah tangga mereka hambar, tidak lagi mereka merasakan indahnya malam pertama dan madunya pernikahan, penulis ingat kembali perkataan seorang ustadz,”Bagaimana tidak hambar malam pertama pernikahan mereka, lha wong sudah hapal dari ujung rambut sampai ke ujung kaki!”, akhirnya banyak pengalaman pacaran ini di ulangi oleh masing-masing pasangan (suami atau istri) dengan berselingkuh (pacaran lagi) dengan yang lain walaupun sudah memiliki suami atau istri. Justru rumah tangga yang dimulai dengan berpacaran sering terjadi pertengkaran di dalamnya, karena ketika terjadi pertengkaran kecil masing-masing pihak saling membuka aib masa lalu mereka, tidak ada saling mengalah dan sering terjadi saling menyalahkan, apalagi pernikahan yang terjadi karena “kecelakaan”, bagaimana mungkin bisa membangun sebuah rumah yang kokoh di pinggir tebing tanah yang mudah longsor? Bagaimana mungkin suatu rumah tangga yang baik disusun dari sebuah perzinahan? Karena sudah sering pacaran dan berganti-ganti pacar sebelumnya, walaupun sudah berumah tangga, sering masih terjadi kontak dengan mantan pacar masing-masing, HP dan telepon sering menjadi penghubung CLBK (cinta lama bersemi kembali), kalau sudah begini maka bagaimana mungkin bisa menyusun suatu bahtera rumah tangga yang sakinah. Virus pacaran memang sering membuat orang ketagihan, bayang-bayang keindahan berdua saat pacaran akan selalu membayangi kehidupan rumah tangga mereka, tidak ketinggalan syaithan berperan serta dalam keadaan ini dan mengipasi syahwat masing-masing pihak yang berselingkuh agar semakin menggelora, hasilnya bisa kita lihat di lingkungan sekitar kita. Dan hukum yang sering terjadi pada laki-laki dan wanita yang gemar pacaran adalah : “rumput halaman tetangga lebih hijau!”. Justru karena telah terlalu mengenal satu sama lain sebelum menikah melalui pacaran sering membuat istri banyak melawan suaminya, banyak istri yang durhaka kepada suami karena merasa derajat mereka sama di dalam rumah tangga, tidak ada lagi ketentuan bahwa seorang laki-laki adalah pemimpin dalam rumah tangganya. Alasan bahwa tidak mengenal pasangan sebelum menikah akan membuat pernikahan hancur adalah sebuah kedustaan yang besar! Sebaliknya, bunga-bunga keindahan rumah tangga yang diawali tanpa adanya pacaran semakin mekar dan bersemi mengisi hari-hari mereka, mulai dari malam pertama pernikahan mereka hingga tahun-tahun berlalu masih terasa seperti pertemuan yang pertama. Sebagian besar mereka yang menikah tanpa pacaran adalah seorang muslim yang shalih, yang memahami tentang hukum-hukum agamanya, dan tidaklah bisa memperlakukan wanita dengan baik sesuai dengan kehormatan yang diberikan Allah kepada mereka kecuali seorang lelaki yang shalih! Karena seorang suami yang shalih jika dia menemukan sesuatu yang tidak disukainya dalam diri istrinya maka dia tidak mencelanya dan memukulnya kecuali yang menjadi hak baginya, seorang suami yang shalih akan mendidik istrinya dengan lembut sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahasan tentang hal ini telah banyak dibahas. Maka ketahuilah wahai para wanita, mana yang akan engkau pilih, mendapatkan seorang calon suami yang gemar pacaran (sudah pasti mereka ini sering gonta-ganti pacar), atau mendapatkan seorang suami yang shalih yang mampu mengantarkanmu menuju surge Allah (insya Allah) dalam naungan ilmu agama yang syar’i? Pilihannya ada pada dirimu! Syubhat Ketiga : Ada yang berkata,”Bagaimana kita bisa mengetahui sifat dan kejujuran calon suami / istri jika tidak pacaran?” Ini adalah syubhat yang menggelikan, justru akan kami balik pernyataan di atas dengan pertanyaan, “Bagaimana mungkin engkau menemukan kejujuran dalam pacaran? Bagaimana mungkin engkau menemukan kejujuran dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Adalah sebuah hal yang menggelikan jika seorang wanita menuntut kejujuran kepada seorang laki-laki yang gemar bermaksiat kepada Allah Ta’ala, karena mereka telah kotor dan hatinya terkontaminasi penyakit zina, mereka ini gemar mengumbar pandangan dan nafsu, suka melanggar perintah Allah Ta’ala : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS An-Nuur : 30) Bagaimana mungkin seorang laki-laki yang gemar mengotori dirinya (gemar pacaran) akan mampu menjadi pemimpin rumah tangga yang baik? Dan apakah mereka ini mampu mendidik anak-anak mereka menjadi muslim yang shalih? Wahai saudaraku, telah cukup kemunkaran terjadi di muka bumi ini gara-gara bentuk pergaulan yang mengikuti kaum kafirin ini, sudah saatnya engkau kembali kepada jalan Rabb-mu, kepada Al-Qur’an dan sunnah yang shahih, gemar menghadiri dauroh agama dan ta’lim, bukan malah ke mall-mall dan tempat-tempat “mojok” yang banyak syaithannya. Sebenarnya masih banyak syubhat-syubhat lain yang dilontarkan oleh mereka yang gemar berpacaran ini, seribu satu macam alasan akan selalu ada dan datang dari hati yang kosong dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga syahwat yang menggantikan untuk berbicara, namun percayalah wahai saudaraku kaum muslimin, akan senantiasa ada para penyeru-penyeru kebaikan yang hadir dengan mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai dengan pemahaman para pendahulu kita para salafush shalih, mereka tampil membawa pelita ilmu untuk mengarungi negeri ujian yang penuh cobaan ini, yaitu Dunia! Dan selalu sadarilah wahai saudaraku bahwa Allah Ta’ala berfirman : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (QS AL-Hadiid : 20). Wallahu a’lam bish showab Oleh Andi Abu Hudzaifah Najwa Wallahu a’lam bish showab Oleh Andi Abu Hudzaifah Najwa

Inilah Lelaki Idamanmu… 23 Juli 2011

Posted by jihadsabili in jodoh, munakahat.
add a comment

Inilah Lelaki Idamanmu…

Ada seorang akhwat yang mengatakan ingin mendapatkan suami yang punya penghasilan yang mapan, gagah, bermata teduh, tegap, tampan, senyumnya menawan, berhidung mancung dan… stop! Ukht, anti mau cari calon suami apa mau audisi bintang sinetron? Seorang pendamping yang ideal tidak bisa dinilai dari segi fisik atau materi saja, walau memang lelaki yang “ganteng” mampu menyejukkan pandangan mata, namun apa artinya kalau mata sejuk namun hati jadi biru lebam, walaupun suami yang kaya raya mampu membelikan segala yang engkau inginkan, tapi mampukah dia membelikan surga buatmu?

 

Jawabannya adalah “Tidak”! wahai saudariku, bukankah engkau menginginkan kebahagiaan yang tiada akhirnya, bukankah kasih sayang dan kelembutan yang selama ini menjadi impianmu, lelaki ideal memang susah dicari, namun bukan hanya “bentuk ideal” yang mampu membuatmu bahagia dan mengantarkanmu menuju rumah tangga yang sakinah, lelaki ideal memang sebuah harapan, namun kadang sebuah harapan yang terpenuhi tak mampu menghadirkan indahnya bahtera rumah tangga.

 

Sosok ideal seperti gambaran di atas memang telah menjadi patokan dan syarat di sebagian besar akhwat (kalau mau jujur), selain alasan agar sejuk dilihat dan tidak membosankan pandangan, alasan lain adalah agar tidak memalukan di hadapan umahat yang lain kelak! Duhai kasihan saudaraku para ikhwan yang tidak masuk kriteria ini, dan juga penulis mungkin tidak bisa memenuhi syarat-syarat ini, namun sebuah realita dan kenyataan yang ada di lapangan tetap sebuah fakta.

 

Kenyataan yang terjadi bahwa para ikhwan juga bukan pelanggan tempat-tempat fitness, seorang ikhwan pernah menyampaikan, “yaa akhi mau olah raga yang paling murah lari pagi dan jalan kaki banyak fitnah pandangan mata, kalau malam memang sepi tapi takut dikira maling atau teroris, atau malah kena paru-paru basah!” Ishbir ya akhi, tidak sampai sebegitunya juga kok, meski artikel ini penulis tujukan buat akhwat yang mau cari suami, buat ikhwan yang sedang mau cari belahan hidup juga bisa dipakai sebagai introspeksi apakah sudah memiliki kriteria berikut ini…

 

PERTAMA : Dia adalah seorang laki-laki yang taat beragama, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “…Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu.” (Al Baqarah : 221)

 

Diharapkan sekali menjadi syarat nomor wahid untuk calon suami idaman (selain sudah muslim tentunya) adalah seorang laki-laki yang taat dan memiliki rasa takut yang tinggi kepada Allah Ta’ala, karena seorang calon suami seperti ini telah memenuhi syarat menjadi calon pemimpin rumah tangga, dengan ilmu agama yang ia miliki dan bekal keimanan-nya, sangat diharapkan calon suami seperti ini mampu mendidik anak dan istrinya kelak menjadi seorang yang shalih dan shalihah, menjadi hamba-hamba Allah Ta’ala yang taat pula, sehingga keharmonisan dan tersusunnya suatu rumah tangga yang sakinah bisa (insya Allah) diwujudkan.

 

KEDUA : Dia adalah orang yang hafal atau mengerti sebagian dari Al-Qur’an : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menikahkan seseorang dengan (mahar) beberapa ayat Al-Qur’an yang ia hafal. [HR. Al-Bukhari (5029), dan Muslim (1425)]

 

Seorang calon suami yang banyak memiliki hafalan Al-Qur’an merupakan calon pasangan yang ideal bagi seorang wanita yang shalihah, seorang calon pemimpin rumah tangga yang ideal tentunya harus saggup mengajarkan Al-Qur’an kepada keluarganya kelak, menjaga hafalan dan bacaan Al-Qur’an anak dan istrinya, apalagi jika sang calon suami juga memahami tafsir ayat dari hafalan Al-Qur’annya, sehingga bisa menerapkan Al-Qur’an dalam kehidupan rumah tangga kesehariannya.

 

KETIGA : Dia adalah seorang laki-laki yang mampu memberikan ba-ah (nafkah) dengan kedua macamnya, yaitu kemampuan untuk berjima’, dan kemampuan untuk memberikan pembiayaan nikah juga biaya hidup.

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan motivasi kepada para pemuda untuk menikah ketika mereka mampu memenuhi ba-ah, dan beliau juga berkata kepada Fathimah binti Qais : “Adapun Mu’awiyah adalah seorang laki-laki yang fakir.” [HR. Muslim (1480), An-Nasa-i (3245), dan Abu Dawud (2284)]

 

Walaupun kaya raya bukan merupakan syarat, namun tetap diharapkan seorang ikhwan memiliki pekerjaan yang mampu dia gunakan untuk biaya pernikahannya dan untuk menghidupi anak-istrinya, walaupun tiap tahun menjadi “kontraktor” (tukang kontrak rumah-red), sudah dianggap mampu untuk memulai kehidupan rumah tangga, selain mampu memberikan kebutuhan biologis pada istrinya (bukan laki-laki yang impoten), sangat diharapkan untuk sebuah rumah tangga tidak dimulai dengan kehidupan menumpang orang tua (Pondok Mertua Indah).

 

KEEMPAT : Dia adalah seorang laki-laki yang lemah lembut kepada wanita : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang Abu Jahm : “Adapun Abu Jahm adalah seorang laki-laki yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya (suka memukul), maka nikahilah Usamah.” [HR. Muslim (1480), An-Nasa-i (3245), dan Abu Dawud (2284)]

 

Hendaklah ada pada diri seorang calon suami sifat lembut dan romantis, karena akan semakin menambah mekarnya bunga-bunga cinta dalam rumah tangga, sehingga seorang wanita bisa benar-benar merasakan ketentraman dalam hidup berumah tangga, seorang calon suami hendaknya seseorang yang mampu tampil bijak dan mampu menahan amarah ketika melihat suatu hal yang tidak mengenakkan hatinya pada istrinya. Seorang calon suami idaman adalah laki-laki yang mampu tampil sebagai pengayom dalam rumah tangganya, juga seorang laki-laki yang pandai menumbuhkan suasana tentram dalam rumah, tidak suka teriak-teriak dan tukang marah, seorang laki-laki yang santun tutur kata dan penuh kasing saying kepada istrinya kelak.

 

KELIMA : Istrinya senang melihatnya, sehingga di antara keduanya tidak ada kerenggangan dan si wanita tidak ingkar ketika hidup bersamanya. Dalam hal ini memang seorang laki-laki mampu menjaga penampilan dan badannya, sebagaimana seorang ikhwan mengharapkan calon istri yang semampai, begitu juga seorang akhwat ingin mendapatkan seorang calon suami yang memiliki postur ideal (tidak mesti harus tampan seperti bintang sinetron), maksudnya, hendaknya seorang ikhwan tidak membiasakan diri punya perut yang gemuk sehingga tidak enak dipandang, kemudian hendaknya ikhwan menjaga bau tubuhnya agar selalu tampil menyenangkan saat di hadapan istri, potongan rambut juga jangan acak-acakan seenaknya, mengenakan pakaian taqwa dengan baik dan rapi, maka akan menampilkan sosok berwibawa dan sejuk dilihat.

 

Perkara wajah (tampang) dalam hal ini relatif, tergantung dari pihak calon istri ketika nazhar (melihat calon istri / suami), namun kami nasihatkan kepada ukhti fillah agar tidak hanya melihat ketampanan fisik kemudian melupakan akhlak calon suami, dan ada sebuah tips kecil bagi akhwat yang kurang berkenan ketika nazhar “bahwa cinta bisa mudah tumbuh ketika calon suami memiliki akhlak yang mulia”

 

KEENAM : Dia adalah seorang laki-laki yang tidak mandul. Hal ini karena adanya riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan keturunan kecuali jika ada beberapa faktor pendukung untuk menikah dengannya.

 

Buah pernikahan adalah dengan hadirnya anak-anak yang bisa menyejukkan pandangan dalam rumah tangga, sangat diharapkan akan muncul benih-benih yang shalih dan shalihah dalam sebuah pernikahan seorang muslim dengan muslimah, namun jika ada kondisi lain yang tidak memungkinkan menjadi pengecualian bagi seorang muslimah yang berbesar hati untuk menikah dengan seorang lelaki yang mandul namun memiliki akhlak yang mulia, namun hendaknya hal ini disampaikan pada saat proses khitbah agar diketahui kekurangan masing-masing pihak dan tidak ada unsur penipuan dalam pernikahan.

 

KETUJUH : Berasal dari lingkungan yang mulia, Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari hadits Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia seperti barang tambang emas dan perak. Yang terbaik dari mereka pada masa jahiliyah adalah yang terbaik pula pada masa Islam apabila mereka berilmu.”

 

Lingkungan kadang berpengaruh besar terhadap akhlak seseorang, maka pilihlah calon suami yang memiliki pergaulan yang syar’i, bukan laki-laki yang suka nongkrong di pinggir jalan atau laki-laki yang gemar berpesta serta suka bergaul dengan sembarang orang, namun carilah seorang calon suami yang gemar menghadiri ta’lim-ta’lim yang mengajarkan Islam yang syar’i dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga dari pergaulan yang mulia ini diharapkan mampu muncul sosok yang bersih dan jauh dari bisikan-bisian maksiyat.

 

Demikianlah wahai ukhti fillah, termasuk beberapa kriteria seorang lelaki idaman, dan penulis telah banyak bertemu dengan ikhwan-ikhwan yang memenuhi semua criteria di atas, jadi bagi ukhti fillah yang sudah siap menikah tidak susah untuk mendapatkan calon pendamping idaman, banyak ikhwan yang berakhlak mulia siap untuk mendampingimu, (afwan penulis tidak membuka kontak jodoh), namun rumah tangga yang sakinah tidak bisa dibeli dengan harta yang berlimpah atau dengan wajah bak bintang film laga, bisa jadi mereka yang bercelana “cingkrang” walau tidak kebanjiran, atau mereka yang berjenggot tipis walau tidak berhidung mancung seperti orang arab (maklum ras asia), atau juga mereka yang berbaju gamis dan suka menundukkan pandangan saat berjalan di tempat umum (walau kadang sering tidak sengaja nabrak rambu-rambu jalan) adalah calon suami yang engkau cari… Mau?

 

Oleh Andi Abu Hudzaifah Najwa

 

Tipe Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar 23 Juli 2011

Posted by jihadsabili in jodoh, munakahat.
add a comment

Dalam melamar, seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan beberapa sifat yang ada pada wanita yang akan dilamar, diantaranya:

  1. Wanita itu disunahkan seorang yang penuh cinta kasih. Maksudnya ia harus selalu menjaga kecintaan terhadap suaminya, sementara sang suami pun memiliki kecenderungan dan rasa cinta kepadanya.

    Selain itu, ia juga harus berusaha menjaga keridhaan suaminya, mengerjakan apa yang disukai suaminya, menjadikan suaminya merasa tentram hidup dengannya, senang berbincang dan berbagi kasih sayang dengannya. Dan hal itu jelas sejalan dengan firman Allah Ta’ala,

    Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kalian rasa kasih dan saying. (ar-Ruum:21).

  2. Disunahkan pula agar wanita yang dilamar itu seorang yang banyak memberikan keturunan, karena ketenangan, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga akan terwujud dengan lahirnya anak-anak yang menjadi harapan setiap pasangan suami-istri.

    Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman,
    Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’. (al-Furqan:74).

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    Menikahlah dengan wanita-wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat kelak. Demikian hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Nasa’I, al-Hakim, dan ia mengatakan, Hadits tersebut sanadnya shahih.

  3. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu seorang yang masih gadis dan masih muda. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahihain dan juga kiab-kitab lainnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepadanya,

    Apakah kamu menikahi seorang gadis atau janda? dia menjawab,”Seorang janda.”Lalu beliau bersabda, Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis yang kamu dapat bercumbu dengannya dan ia pun dapat mencumbuimu?.

    Karena seorang gadis akan mengantarkan pada tujian pernikahan. Selain itu seorang gadis juga akan lebih menyenangkan dan membahagiakan, lebih menarik untuk dinikmati akan berperilaku lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih menarik untuk dipandang, lebih lembut untuk disentuh dan lebih mudah bagi suaminya untuk membentuk dan membimbing akhlaknya.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda,

    Hendaklah kalian menikahi wanita-wanita muda, karena mereka mempunyai mulut yang lebih segar, mempunyai rahim yang lebih subur dan mempunyai cumbuan yang lebih menghangatkan.

    Demikian hadits yang diriwayatkan asy-Syirazi, dari Basyrah bin Ashim dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam kitab Shahih al_Jami’ ash_Shaghir, al-Albani mengatakan, “Hadits ini shahih.”

  4. Dianjurkan untuk tidak menikahi wanita yang masih termasuk keluarga dekat, karena Imam Syafi’I pernah mengatakan, “Jika seseorang menikahi wanita dari kalangan keluarganya sendiri, maka kemungkinan besar anaknnya mempunyai daya piker yang lemah.”
  5. Disunahkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita yang mempunyai silsilah keturunan yang jelas dan terhormat, karena hal itu akan berpengaruh pada dirinya dan juga anak keturunannnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscahya kamu beruntung. (HR. Bukhari, Muslim dan juga yang lainnya).

  6. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya.

    Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta’ala,

    “Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka”. (an-Nisa:34).

    Sedangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    “Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim, Nasa’I dan Ibnu Majah).

  7. Selain itu, hendaklah wanita yang akan dinikahi adalah seorang yang cantik, karena kecantikan akan menjadi dambaan setiap insan dan selalu diinginkan oleh setiap orang yang akan menikah, dan kecantikan itu pula yang akan membantu menjaga kesucian dan kehormatan. Dan hal itu telah disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits tentang hal-hal yang disukai dari kaum wanita.

    Kecantikan itu bersifat relatif. Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang kecantikan ini sesuai dengan selera dan keinginannya. Sebagian orang ada yang melihat bahwa kecantikan itu terletak pada wanita yang pendek, sementara sebagian yang lain memandang ada pada wanita yang tinggi.

    Sedangkan sebagian lainnya memandang kecantikan terletak pada warna kulit, baik coklat, putih, kuning dan sebagainya. Sebagian lain memandang bahwa kecantikan itu terletak pada keindahan suara dan kelembutan ucapannya.

Demikianlah, yang jelas disunahkan bagi setiap orang untuk menikahi wanita yang ia anggap cantik sehingga ia tidak tertarik dan tergoda pada wanita lain, sehingga tercapailah tujuan pernikahan, yaitu kesucian dan kehormatan bagi tiap-tiap pasangan.

 

——–
Sumber: Fikih Keluarga, Syaikh Hasan Ayyub, Cetekan Pertama, Mei 2001, Pustaka Al-kautsar

20 Cara Membahagiakan Suami Anda 22 Juli 2011

Posted by jihadsabili in keluarga, munakahat, tips.
add a comment

20 Cara Membahagiakan Suami Anda

Tidak lengkap rasanya jika ada 20 cara membahagiakan istri Anda, tidak ada 20 cara membahagiakan suami Anda. Berikut masih dalam buku yang sama, “Nasihat Indah Untuk Suami Istri”, karya Syekh Umar Bakri Muhammad, bagaimana para istri memikat suami mereka. Semoga bermanfaat!

1.Anda adalah sekuntum mawar yang sedang bersinar di rumah Anda. Buatlah disaat suami Anda  masuk ke rumah, dia merasa bahwa kecantikan dan keharuman mawar tersebut, tidak bukan dan tidak lain hanyalah untuknya seorang.

2.Bagaimana caranya agar suami Anda itu bisa merasa damai dan nyaman, baik dengan perbuatan ataupun dengan kata-kata ? Hal itulah yang secara terus menerus Anda selalu usahakan untuk suami Anda. Untuk kesempurnaannya, lakukan itu dengan sepenuh jiwa.

3.Sopan dan penuh perhatianlah Anda ketika berbincang-bincang  dan berdiskusi, jauhkanlah perdebatan dan sikap keras kepala untuk mengemukakan pendapat Anda.

4.Pahami  kebenaran dan keindahan prinsip-prinsip Islam di balik kelebihan sang suami terhadap Anda selaku istri, yang memang terkait dengan kodrat seorang wanita, dan janganlah hal ini dianggap sebagai sesuatu yang dzolim (penindasan).

5.Lembutkanlah suara Anda ketika berbicara dengan sang suami dan pastikan suara Anda tidak meninggi pada saat dia bersama Anda.

6.Pastikan Anda bangun pada malam hari untuk melakukan sholat malam secara rutin, hal ini akan membawa kecerahan dan kebahagiaan pada perkawinan Anda, sungguh mengingat Allah SWT akan membawa ketenangan pada hati Anda.

7.Bersikaplah diam ketika suami Anda sedang marah dan jangan tidur kecuali dia mengijinkannya.

8.Berdirilah dekat suami Anda ketika dia sedang memakai baju dan sepatunya.

9.Buatlah suami Anda merasa bahwa Anda menginginkan sang suami untuk mengenakan baju yang Anda pilih buat dia, pilihlah pakaian itu oleh Anda sendiri.

10.Anda harus sensitif dan memahami kebutuhan suami Anda, untuk menjadikan pernikahan Anda menjadi yang terbaik tanpa menghabiskan waktu Anda.

11.Ketika ada perselisihan pendapat, hendaknya Anda tidak menunggu agar sang suami meminta ma’af kepada Anda (jangan jadikan hal ini sebagai prioritas utama harapan Anda) kecuali kalau suami Anda secara sadar mengakuinya.

12.Rawatlah penampilan dan pakaian suami Anda, biarpun kelihatannya suami Anda malas untuk merawat dan memakainya, tapi yakinlah bahwa dia akan menyukainya sebagaimana teman-temannya juga akan menyukainya.

13.Hendaknya Anda tidak selalu mengandalkan suami Anda untuk berkeinginan melakukan hubungan badan,  sekali-kali Anda mulailah lebih dulu, tentu pada saat  yang tepat.

14.Di malam hari, jadilah seperti pengantin baru buat suami Anda, janganlah Anda beranjak tidur lebih dulu dari sang suami, kecuali kalau dirasa sangat perlu.

15.Janganlah menunggu atau mengharapkan balasan dari semua perbuatan dan kebiasaan baik Anda,  banyak suami karena kesibukan kerjanya, gampang melupakan untuk melakukan hal tersebut,  atau secara tidak sengaja lupa untuk menyampaikan penghargaan yang semestinya kepada Anda.

16.Hendaknya berbuat sesuai dengan keadaan dan kemampuan keuangan yang ada, dan jangan meminta sesuatu yang berlebihan dan mahal.

17.Ketika suami Anda baru pulang dari perjalanan yang lama ataupun bepergian dari tempat yang jauh, sambutlah dia dengan wajah yang ceria dan tunjukkanlah bahwa Anda sangat merindukan kedatangannya.

18.Ingatlah selalu bahwa keberadaan sang suami adalah salah satu sarana mendekatkan diri Anda kepada Allah SWT.

19.Pastikan Anda untuk selalu memperbaharui dan merubah bentuk penampilan Anda, sebagai tanda dan ungkapan  kasih Anda menyambut suami tercinta.

20.Ketika sang suami meminta sesuatu untuk melakukan hal-hal tertentu, maka pastikan Anda melakukannya dengan sigap dan sepenuh hati,  jangan sampai Anda merasa enggan dan lamban.

Source: Almuhajirun


BERBAGAI PERBUATAN MUNKAR DAN BID’AH DI DALAM ACARA PERNIKAHAN. 22 Juli 2011

Posted by jihadsabili in adaB, munakahat, musik.
add a comment

BERBAGAI PERBUATAN MUNKAR DAN BID’AH DI DALAM ACARA PERNIKAHAN.

Oleh : Musni Japrie al-Pasery

Hampir setiap orang pernah diundang untuk hadir dalam acara pernikahan, dan didalam acara pernikahan tersebut berbagai prosesi ritual keagamaan kita saksikan dilakukan oleh pasangan pria dan wanita sesuai dengan yang diarahkan oleh penghulu atau imam P3NTR yang bertugas. Sepertinya seluruh rangkaian prosesi pernikahan tersebut dilakoni sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan oleh agama,baik dalam Kitabbullah maupun Sunnah Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi ternyata apabila dievaluasi secara seksama dengan menggunakan tolok ukur syari’at maka ternyata di dalam penyelenggaraan dari persiapan sampai di dalam acara intinya ditemui beberapa kemunkaran dan bid’ah. Kenapa di dalamnya dikatakan ada prosesi yang dikatagorikan sebagai bid’ah. Itu tidak lain disebabkan oleh adanya penambahan hal-hal yang bersifat baru .
Karena pernikahan merupakan bagian dari ibadah, maka hal-hal yang diada-adakan dalam
prosesi pernikahan tersebut lebih tepat dinamai bid’ah.
Begitu pula mungkin timbul pertanyaan ,mengapa di dalam penyelenggaraan pernikahan terdapat perkara-perkara yang munkar? , padahal pernikahan sendiri adalah bagian dari penyelamatan kemaksiatan yang yang dianjurkan oleh agama, karena nikah adalah sebagai upaya menyelamatkan sebagian dari agama.
Tidak dapat diingkari , bahwa sebenarnya dalam penyelenggaraan pernikahan dijumpai adanya beberapa kemunkaran yang kurang atau tidak disadari oleh penyelenggaranya atau oleh mereka-mereka yang datang menghadiri pernikahan tersebut. Sebagai contoh bercampur baurnya undangan pria dan wanita tanpa batas penghalang dalamsatu tempat merupakan sebuah kemunkaran, disediakannya hiburan berupa musik dan nyanyian serta tari-tarian juga merupakan kemunkaran.
Kenapa hal-hal semacamitu disebut sebuah kemunkaran ?. Hal ini karena syari’at islam menginkari itu semua dan melarangnya. Sehingga dengan demikian kemungkaran tiada lain adalah melakukan sesuatu perbuatan yang tidak diperb olehkan untuk dilaksanakan, kalau dilakukan berarti melanggar rambu-rambu syqai’at yang sudah ditetapkan baik dalamAl-Qur’an maupun dalam Sunnah Rasullullah shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan yang berkaitan dengan bid’ah, Al – Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali menyebutkan bahwa : Yang dimaksudkan dengan bid’ah adalah yang tidak memiliki dasar hukum dalam ajaran syari’at yang mengindikasikan keabsahannya. Maka setiap orang yang membuat-buat sesuatu lalu menisbatkannya kepada ajaran agama namun tidak tidak memiliki landasan dari ajaran agama yang bisa dijadikan sandaran berarti itu adalah kesesatan.
Ajaran islam tidak ada hubungannya dengan bid’ah semacam itu. Tidak ada bedanya antara perkara yang berkaitan dengan keyakinan, amalan, ataupun ucapan, lahir maupun bathin.

Didalam kita melakukan amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah yang disebut sebagai ibadah haruslah memenuhi persyaratan yaitu mengikhlaskan amalan untuk Allah semata yang tidak ada sekutu baginya, sedangkan persyaratan yang kedua adalah harus mencontoh kepada Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam . Wajibnya kita mengikuti apa yang dicontohkan atau yang diperintahkan oleh Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah didasarkan kepada hadits riwayat Muslim ,bahwa beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

” Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak didasari oleh agama kami, maka amalannya tertolak”

Mengenai tercelanya bid’ah itu banyak dikemukakan dalam beberapa hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dan peringatan Nabi terhadapnya.
Hadits dari Jabir bin Abdullah diriwayatkan oleh Muslim bahwa Rasullulah shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Amma ba’du, Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk ibadah adalah yang dibuat-buat, dan setiap bid’ad itu adalah sesat.”

Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i disebutkan :
” Setiap yang dibuat-buat adalah bid’ah, setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya adalah neraka ”

Karena Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan tentang tercelanya bid’ah, maka wajib bagi kita dalam melakukan setiap bentuk amal shaleh apa saja menjauhkan diri dari perkara-perkara bid’ah, kerjakan apa yang dicontohkan dan diperintahkan saja, jangan menambah-nambah sendiri, meskipun itu baik menurut pikiran dan hawa nafsu kita. Termasuk dalam hal dalam penyelenggaraan pernikahan yang juga termasuk sebagai ibadah.

Sebenarnya Islam telah memberikan petunjuk yang sangat jelas tentang pernikahan tersebut dalam hukum fiqih , dimana rujukan mengenai tata cara dan aturannya sangatlah simple dan tidak rumit serta bertele-tele. Namun karena diantara umat islam ini ada yang suka usil dengan menambah-nambahkan hal-hal yang baru berdasarkan kehendak hawa nafsu dan pikirannya
yang dianggapnya baik, maka dimasukkanlah kedalamnya detail acara pernikahan yang bersumber dari tradisi dan budaya lokal serta mengimport dari budaya non muslim.

Karena kejahilan sebagian umat islam akan agamanya, terutama pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pengadministrasian pernikahan yang membiarkan dan sengaja melestariskan berbagai penyimpangan dari aturan syarf’i , maka jadilah kebiasaan acara pernikahan tersebut melembaga ditengah-tengah masyarakat, dan jadi panutan yang tidak boleh dilewatkan. Meskipun itu sebenarnya jelas-jelas menyalahi Sunnah Rasullulah shalalahu ‘alaihi wa sallam,hal itu disebabkan tidak ada satupun nahs yang shahih untuk dapat dijadikan hujjah, maka sungguh nama yang patut diberikan kepada begitu banyak bagian dari prosesi pernikahan tersebut tiada lain adalah bid’ah.

Pada uraian berikut ini satu-persatu diketengahkan hal-hal yang berkaitan dengan prosesi pernikahan yang termasuk bid’ah.

Menentukan Waktu Pernikahan

Seorang teman bercerita tentang pengalamannya sewaktu melamarkan bakal calon salah seorang putranya di suatu daerah di Jawa Timur yang dikenal kental dengan warna ke Islaman nya. Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk menentukan waktu penyelenggaraan pernikahan, karena sepertinya wajib untuk memilih tanggal, hari, dan bulan yang baik menurut hitungan kalender Jawa. Keluarga pihak yang dilamar menolak dilakukannya pernikahan dalam bulan Syafar karena bulan tersebut diyakini mengandung berbagai keburukan.

Memilih tanggal, hari dan bulan yang baik untuk melakukan pernikahan, sepertinya kita dapati pada semua daerah di negeri ini, karena sebagian umat islam yang masih jahil akan agamanya memiliki keyakinan bahwa pada bulan-bulan tertentu dalam kalender Hijriah dihindari untuk melakukan pernikahan disebabkan akan ditemui berbagai hambatan, selain itu dikemudian hari akan muncul hal-hal yang tidak diinginkan dalam rumah tangga yang melakukan pernikahan.

Sebenarnya merupakan bagian dari keimanan seseorang bahwa segala kebaikan maupun keburukan yang menimpanya datangnya berasal dari Allah. Allah lah sebagai penentu dan tidak ada yang lainnya. Begitu juga dengan waktu sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan daya untuk memberikan kebaikan atau keburukan kepada manusia, karena waktu atau masa juga termasuk mahluk yang ciptaan Allah.

Termasuk satu hal yang dilarang di dalam islam meyakini bahwa memilih waktu yang tidak tepat untuk menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan akan mendatangkan kemudharatan bagi penyelenggaranya. Seluruh tanggal, hari dan bulan sama baiknya di mata islam. Hanya orang jahil saja yang menyatakan tanggal, hari dan bulan tertentu mengandung kebaikan dan keburukan di dalamnya.

Mereka yang menyatakan waktu baik berupa tanggal, hari maupun bulan dapat mendatangkan kemudharatan merupakan penghujatan dan pencelaan terhadap waktu atau masa tersebut.
Sebagai hamba Allah kita dilarang untuk menghina atau mencela waktu atau masa, mereka-mereka yang mencela atau melakukan penghinaan terhadap waktu atau masa berarti telah menyakiti Allah. Hal ini dinyatakan dalam shahih Bukhari dan Muslim dimana Rasullulah shallalahu ‘alaihi dalam sebuah hadits qudsi telah bersabda :

” Allah Ta’ala berfirman: ” Anak Adam menyakiti Aku, ia mencela masa, padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa. Akulah yang membolak balikkan malam dan siang ”

Sedangkan dalam riwayat lain disebutkan :

“janganlah kalian mencela masa, maka sungguh Allah itu adalah pemilik dan pengatur masa

Dari penjelasan yang dikemukan diatas dapat disimpulkan bahwa semua waktu,baik tanggal, hari dan bulan adalah baik, tidak ada bedanya satu sama lainnya. Pernikahan boleh dilakukan
kapan saja dan tidak terikat oleh waktu. Apabila terjadi atau ditemukan kemudharatan maka itu datangnya dari Allah Azza’ Jawalla sebagaimana juga kebaikan, bukan ditentukan oleh waktu pelaksanaan pernikahan.

Merias Pengantin.

Sudah menjadi suatu kelaziman dimana pun, suku apapun, bangsa apapun dan agamapun , dalam acara pernikahan, pasangan pengantin pria dan wanita dirias agar nampak semakin cantik dengan menggunakan pakaian kebesaran trasional yang mencirikan khas kedaerahan dan ada pula yang menggunakan gaun modern ala barat.
Pengantian yang dirias untuk pernikahan menurut Abu MalikKamal bin as- Sayyid Salim dalam buku beliau Shahih Fiqih Sunnah pada Kitab Nikah disebutkan sebagai suatu kemunkaran
yang paling parah yang telah menjadi kebiasaan yang tidak diingkari. Apalagi kadang-kadang tukang rias pengantinnya adalah waria yang diharamkan hukumnya menjamah tubuh wanita yang diriasnya. Sedangkan untuk pria yang dirias oleh tukang rias wanita hukumnya juga haram.

Bahkan kadang-kadang tukang rias membuang bulu alis dan bulu bulu halus yang tumbuh disekitar wajah calon pengantin wanita, padahal syaikh Bin Baz , dalam fatwa-fatwa terkini menyebutkan bahwa itu tidak boleh dilakukan karena Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang mencukur dan dicukurkan bulu alisnya ( HR. Bukhari dan Muslim ). Makna mencukur disini ialah menghilangkan atau mencabutnya.
.Selain dari itu disebutkan pula oleh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim dalam buku tersebut diatas ,haram hukumnya dan tidak boleh dilakukan, pengantin wanita menampakkan perhiasannya ( tabarruj ) pada hari pernikahan jika dilihat oleh selain sesama kaum wanita dan para mahrammnya. Pengantin wanita boleh berhias sekehendaknya, dengan syarat tidak memperlihatkannya kepada laki-laki asing bukan mahrammnya, sedangkan diacara pernikahan undangan yang hadir selain kaumwanita juga terdapat undangan laki-laki yang tentunya tidak termasuk mahram pengantin wanita. Sedangkan umumnya pengantin dipersandingkan didepan undangan yang terdapat pula didalamnya kaum lelaki.

Kebanyakan dari kita kaum muslimin tidak menyadari hal ini, malah memerintahkan pengantin wanita dirias biar nampak semakin cantik dan diberi pakaian yang indah-indah dengan sengaja menampakkan auratnya, padahal sebenarnya islam melarang untuk itu. Banyak diantara kita tidak mengerti bahwa syariat islam telah dilanggar, hanya untuk kepentingan penampilan saja. Hal sedemikian dilakukan karena pakaian dan perhiasan. ketidak tahuan dan kejahilan kita akan segala bentuk larangan dalam syari’at islam yang berkaitan dengan

Ketahuilah islam telah menetapkan pakaian untuk wanita haruslah menutup seluruh auratnya, sedangkan aurat untuk kaum wanita adalah seluruh bagian tubuhnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Begitu juga tentunya bagi pengantin wanita wajib mengenakan pakaian yang menutup auratnya.Sementara ini dalam penampilan untuk pernikahan, pengantin wanitanya mengenakan pakaian yang meniru-niru ( tasyabbuh ) kaum non muslim agar disebut modern, padahal Rasullulah telah member petunjuk bagaimana cara penampilan dan berpakaian bagi seorang wanita.

Muhammad bin ‘Ali Adh Dhabi’i dalam bukunya Bahaya Mengekor Muslim dibawah judul Larangan meniru kaum Yahudi dan kaum lain, menyebutkan bahwa Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata bahwa Abu Dawud rahimahullah telah meriwayatkan sebuah hadits hasan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhum, ia berkata bahwa Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

” Barang siapa meniru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka”
Dikatakan lebih lanjut bahwa hadits diatas menetapkan haramnya meniru mereka dan secara dhahir menunjukkan bahwa perbuatan itu merupakan perbuatan kufur sebagaimana yang tersebut pada firman Allah dalam surah Al Maidah ayat 51 :

” Barang siapa diantara kamu berteman dengan mereka,maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka ”

Dari beberapa hujjah yang dikemukan tersebut maka wajib hukumnya bagi pengantin wanita untuk tidak dirias dan tidak mengenakan pakaian pengantin yang menunjukkan auratnya. Apa yang sekarang diperbuat oleh sebagian umat muslim dalam menyelenggarakan hajat pernikahan, pengantin wanitanya dirias dan diberi pakaian yang menampakkan auratnya . Hal sedemikian sudah menjadi trend di tengah-tengah masyarakat kita.

Bercampur Baurnya Undangan Laki-Laki dan Perempuan .

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa selama ini dalam setiap undangan pernikahan yang diundang tidak saja terbatas pada kaum laki-laki atau pada kaum perempuan saja, tetapi umumnya kaum laki-laki dan kaum perempuan diundang secara bersama-sama dan hadir pada waktu dan tempat yang sama. Dimana kebanyakan mereka yang hadir antara satu dengan yang lainnya tidak memiliki hubungan sebagai mahram. Sedangkan percampuran atau berbaurnya antara kaum wanita dan laki-laki yang bukan mahram dalam satu tempat dilarang dalam islam.

Dalam fatwanya, syaikh Ibnu Baz di dalam fatawal Mar’ah yang dikutip dalam buku fatwa-fatwa terkini menyebutkan bahwa terjadinya percampurbauran ( ikhtilath ) antara laki-laki dan perempuan adalah sangat tercela.
Sebelum priode tahun tujuh puluhan di negeri ini, acara yang pernikahan yang dilakukan oleh keluarga muslimin , undangan bagi kaum laki-laki dibedakan waktunya dengan undangan yang diperuntukkan bagi kaum wanita. Kaum laki-laki biasanya diundang khusus untuk menghadiri acara akad nikah , yang diselenggarakan pada malam hari, dimana pada kesempatan itu hanya pengantin pria saja yang tampil dan tidak ada persandingan dengan mempelai wanita. Tetapi kadang-kadang ada juga acara akad nikah yang dilakukan pada pagi hari dengan undangan khusus untuk kaum lelaki. Sedangkan bagi kaum wanita diundang untuk menghadiri acara bersandingnya mempelai, dan b iasanya ini dilakukan pada siang hari. Apa yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu tersebut dengan memisahkan undangan dan acara untuk kaum laki-laki dan kaum wanita secara sendiri-sendiri adalah sebagai upaya untuk mensiasati agar tidak terjadinya percampur bauran antara kaum laki-laki dan kaum perempuan dalam satu tempat dan dalam waktu yang sama.
Tradisi yang seperti itu tidak lagi mendapatkan perhatian , karena acara pernikahan yang meniru-niru kaum non muslim dengan menyelenggarakan resepsi di gedung atau dihotel dengan mengundang kaum laki-laki dan perempuan secara berpasangan, dianggap sebagai hal lumrah .

Menabur Beras Kuning dan Ucapan Shalawat.

Di hari pernikahan, pada saat calon pengantin pria tiba dirumah calon pengantin wanita , didepan pintu masuk, calon pengantin pria oleh seseorang yang dituakan atau bahkan kadang-kadang oleh penghulu disambut dengan menaburkan beras kuning diiringi ucapan shalawat kepada Nabi Besar Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam, yang kemudian disambut juga dengan ucapan yang sama oleh orang-orang yang hadir dengan suara yang keras..

Prosesi penyambutan seperti itu termasuk bagian dari bid’ah, karena tidak ada satupun nahs baik yang maudhu’, dha’if apalagi yang shahih yang mencontohkan hal seperti itu pernah dilakukan atau diperintahkan oleh Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam ataupun pernah dikerjakan oleh para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Dalam buku Parasit Aqidah oleh A.D.El.Marzdedeq disebutkan bahwa prosesi menaburkan beras kuning pada acara perkawinan merupakan bagian ritual dari pemujaan kepada Dewa Sri atau dewi padi dari zaman aninisme kemudian dipengaruhi oleh kepercayaan hindu dan budha.
Karenanya melakonkan tabur beras kuning pada penyambutan calon pengantin pria merupakan prosesi yang bertentangan dengan ajaran islam. Pemujaan kepada dwi sri atau dewinya padi adalah syirik.

Lebih menjadi kacau lagi penaburan beras kuning tersebut diiringi dengan lantunan ucapan shalawat kepada Nabi Allah dengan suara keras. Ucapan shalawat tersebut tidak pada tempatnya karena bertentangan dengan Sunnah Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Shalawat kepada Rasul sudah ditentukan tempatnya yaitu pada saat tahiyat dalam sholat dan ketika disebutkan nama Nabi ataupun Rasullullah.
Menaburkan beras kuning yang kadang-kadang dicampur dengan uang recehan dari logam merupakan perbuatan sia-sia dan penghamburan untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Allah melarang penghamburan harta untuk ha-hal yang tidak ada manfaatnya,karena termasuk mubazir.

Di dalam prosesi penaburan beras kuning adalah perbuatan munkar karena didalamnya memuat pekerjaan pemujaan kepada dewi padi, dan ini termasuk syirik, kemudian pengucapan shalawat yang tidak pada tempatnya yang disuruhkan oleh Rasullulah shallalahu ‘slaihi was sallam, dan pekerjaan yang mubazir, menghambur-hamburkan beras yang bernilai tinggi.

Mengingat penaburan beras kuning bukan ajaran islam, tetapi merupakan tradisi yang diwarisi secara turun temurun, bahkan mengandung pemujaan kepada dewi padi menurut ajaran aninisme, hindu dan budha, maka wajib bagi umat islam untuk meninggalkannya. Jangan hanya berdalih untuk melestarikan tradisi, adat istiadat dan budaya tetapi aqidah menjadi korban. Ujung-ujungnya kemaksiatan dan dosa yang diperoleh.

Calon Pengantin Duduk Bersanding .

Bagian dari prosesi ritual pernikahan yang sudah tidak asing lagi dimata kita yang dilakukan oleh kebanyakan umat islam di negeri ini, adalah disandingkannya calon pengantin di depan penghulu atau imam P3NTR yang bertugas mengadministrasikan pernikahan dan juga diminta untuk mewakili wali/orang tua pengantin untuk menikahkah putrinya.

Didudukkannya calon pengantin, yaitu calon pengantin laki-laki disamping calon pengantin wanita menyalahi syari’at, karena laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya haram duduk saling berdekatan, meskipun kemudian akan menjadi pasangan suami isteri. Tetapi sebelum akad nikah dilakukan mereka berdua tidak dibenarkan duduk berdampingan.

Dalam buku Shahih Fiqih Sunnah seperti disebutkan diatas juga dikemukakan larangan mendudukkan pengantin laki-laki dan wanita berdampingan, dan ini dikatakan sebagai kesalahan besar. Ini diharamkan karena beberapa alasan, diantaranya, karena laki-laki dapat leluasa menemui wanita. Nabi bersabda, ” jangan kalian menemui wanita “.
Alasan lainnya, karena kaum laki-laki dan kaum wanita dapat leluasa berpandangan satu sama lain. Apalagi kedua jenis manusia itu berada dalam puncak perhiasannya. Keharaman duduk bersanding pengantin ini ditetapkan keharamannya oleh Dewan Ulama Besar Arab Saudi.
Syaikh Ibnu Utsaimin dalam fatwa beliau yang dimuat dalam buku Fatwa-Fatwa Kotemporer, ketika ditanya mengenai apa hukumnya tentang yang dilakukan oleh sebagian orang disaat pesta pernikahan dimana mereka menyandingkan kedua mempelai di depan kaum wanita dan mendudukkannya di kursi pengantin , pengantin pri itu haram hukumnya dan tidak boleh dilakukan , karena disandingkannya kedua mempelai pada acara tersebut menimbulkan fitnah ( maksiat ) danmembangkitkan gairah syahwat , bahkan bisa berbahaya terhadap mempelai wanita, karena bias saja mempelai pria melihat perempuan yang ada dihadapnnya yang lebih cantik daripada mempelai wanita (isterinya ) dan lebih bagus posturnya,hingga ia kurang tertarik kepada isteri yang ada disampingnya. Dimana ia mengira sebelumnya bahwa isterinya yang paling cantik dan lebih bagus. Maka wajib hukumnya menghindari perbuatan seperti itu ( menyandingkan kedua mempelai didepan undangan ).Semua kebiasaan buruk seperti itu bukanlah kebiasaan kaum muslimin,melainkan kebiasaan dan adat yang diada-adakan yang dibawa oleh musuh-musuh islam kepada kaummuslimin dan mereka pun mengikuti dan menirukannya.
Tidak berbeda apa yang dijelaskan oleh Syaikh bin Baz dalam buku yang sama, menjawab pertanyaan sekitar duduk bersandingnya pengantian didepan undangan. Beliau menyebutkan : diantara perkara munkar yang dilakukan banyak orang pada zaman sekarang ini adalah meletakkan tempat duduk (kursi pengantin) bagi kedua mempelai dihadapan para tamu undangan.
Beliau juga berkata : Saya nasihatkan kepada seluruh kaum muslimin agar selalu takut dan bertakwa kepadacAllah, berpegang teguh kepqada syariat islam dalam segala sesuatu danmenghindarkan segala yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sert6a menjauhkan diri dari segala sebab keburukan dan kehancuran dalam melaksanakan pesta pernikahan dan masalah –masalah lainnya denganh mengharap ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala dann agar terhindar dari sergalasesuatub yang dapat mengundang mkurkab dan siksaan-Nya.

Permintaan Calon Pengantin wanita Kepada Wali Mohon Untuk Dinikahkan .

Dewasa ini ada kebiasaan baru dalam prosesi pernikahan, yaitu setelah calon pengantin duduk bersanding didepan penghulu ( imam P3NTR ) , sebelum akad nikah atau ijab qabul dilakukan, penghulu memerintahkan kepada calon pengantin wanita untuk menyampaikan permintaan kepada orang tua/ ayah atau yang menjadi walinya untuk mohon dinikahkan kepada calon pengantin laki-laki.
Untuk hal itu penghulu membimbing pihak calon pengantin wanita untuk mengikuti apa yang diucapkannya. Ucapan sang penghulu yang harus ditirukan oleh calon pengantin wanita antara lain berbunyi : ” Ayah aku mohon agar aku dinikahkan dengan seorang laki-laki bernama si fulan bin fulan dengan mas kawin berupa …..”
Permohonan untuk dapat dinikahkan yang diajukan oleh calon pengantin wanita tersebut kepada ayahnya yang sekaligus sebagai walinya, pada masa-masa dahulu tidak pernah dilakukan. Karena hal tersebut memang tidak disyari’atkan dalam Islam. Namun karena ada salah seorang penghulu berinisiatip untuk menciptakan/membuat hal yang baru dan menganggapnya sebagai suatu kebaikan menurut perkiraan dan hawa nafsunya belaka, maka prosesi permohonan calon pengantin wanita untuk minta dinikahkah nampaknya kemudian dijadikan sebagai suatu kebiasaan, yang b erkembang dan diikuti penghulu-penghulu lainnya

Sehingga berkembanglah hal baru yang diada-adakan dalam prosesi pernikahan. Mengingat pernikahan termasuk salah satu ibadah, maka jadilah yang baru diada-adakan tersebut sebagai
bid’ah yang tertolak.

Orang tua dalam hal ini adalah si ayah telah memiliki hak perwalian yang melekat didirinya dan sah menurut hukum islam. Sehingga si orang tua sebagai wali meskipun tidak diminta oleh sang anak berhak untuk menikahkan putrinya, baik dengan cara langsung melakukan akad nikah dengan laki-laki bakal suami putrinya, atau dibolehkan juga menguasakan atau mewakilkannya kepada penghulu yang lazin juga disebut sebagai imam P3NTR.

Pemberian Kuasa Kepada Penghulu.

Syari’at membolehkan adanya pemberian kuasa oleh orang tua kepada penghulu untuk bertindak selaku wakil menikahkan atau melakukan ijab qabul nikah putrinya.
Namun di dalam pemberian kuasa atau penunjukan penghulu sebagai wakil dalam melakukan ijab qabul pernikahan disisipi dengan perbuatan yang tidak pernah dicontohkan atau dikerjakan baik oleh Rasullullah shallalahu ‘alaihi wa sallam , maupun oleh para sahabat beliau, para tabi’in ( muridnya sahabat) dan para tabi’ut tabi’in ( muridnya tabi’in ). Tambahan sisipan itu ialah dilembagakannya pengucapan pemberian kuasa oleh si orang tua kepada penghulu.
Pengucapan dilakukan secara terbuka dengan suara yang keras didepan penghulu, serta disaksikan dan didengar oleh undangan yang hadir.
Pemberian kuasa kepada penghulu sebenarnya telah dilakukan oleh siorang tua pada saat yang bersangkutan mendatangi penghulu untuk melaporkan rencana pernikahan dan meminta penghulu datang menikahkan .
Sebagaimana prosesi permohonan calon pengantin wanita kepada ayahnya yang pengucapannya dituntun oleh penghulu, maka begitu juga pemberian kuasa si ayah calon pengantin wanita kepada penghulu pengucapannya dipandu oleh penghulu. Dimana penghulu memerintahkan kepada si ayah agar mengikuti kata-kata yang diucapkan penghulu.
Ucapan tersebut kurang lebihnya sebagai berikut : ” Bapak penghulu, saya nama……..bin….,.
dengan ini mewakilkan kepada bapak penghulu untuk menikahkan putri saya bernama ……
binti……. dengan laki-laki bernama ……. bin ……dengan mas kawan/ mahar …………”

Setelah selesai pengucapan pemberian kuasa tersebut maka sipenghulu mengucapkan kata-kata yang kurang lebihnya sebagai berikut :
” Insya Allah, saya selaku penghulu di kampung ini akan menikahkan putri bapak bernama …….
bin….. dengan laki-laki yang bernama …….bin…….., dengan mas kawin/mahar ………. Saya berterimakasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk menikahkan putri bapak.”

Pengucapan permohonan untuk minta dinikahkan yang diucapkan oleh calon pengantin wanita kepada ayahnya atau walinya , maupun penunjukan/penguasaan penghulu bertindak sebagai wakil dalampernikahan yang diucapkan secara terbuka dan suara keras seperti yang digambarkan itu merupakan perbuatan bid’ah, karena pada acara pernikahan beberapa kurun waktu yang lampau tidak pernah ada tradisi seperti acara pernikahan dikurun waktu seperti sekarang ini. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa hal itu adalah benar-benar suatu yang diada-adakan dan ditambah-tambahi saja oleh si penghulu dimasa sekarang. Seandainya itu adalah bagian dari prosesi pernikahan yang ada dalam ketentuan syari’at sebuah pernikahan, maka sejak dulu hal semacam ini telah dilakukan. Dan tentunya mereka- mereka yang menikah pada kurun waktu terdahulu telah melakoninya.

Pengucapan Dua Kalimat Syahadat dan Istigfar, Sebelum Ijab Qabul.

Pengucapan dua Kalimat Syahadat , secara syar’i telah ditentukan waktu dan tempatnya, sebagaimana yang dikerjakan dan dicontohkan oleh Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Pengucapan Dua Kalimat Syahadat wajib dilakukan pada saat seseorang masuk kedalam islam agama. Selain itu pengucapan Syahadat diwajibkan juga pada saat azan, meskipun azannya sendiri kedudukan hukumnya adalah sunah, membaca Dua Kalimat syahadat juga diperintahkan pada saat duduk Tahiyat dalam sholat. Pada setiap khutbah juga ditetapkan sbagai tempat untuk dibacanya Dua Kalimant Syahadat dan juga beberapa tempat dan waktu lainnya.
Tetapi tidak ada satupun dalil yang menyebutkan diperintahkannya kepada calon pengantian laki-laki yang akan dinikahkan terlebih dahulu mengucapkan Dua Kalimat Syahadat dengan dibimbing oleh penghulu, layaknya seperti seseorang yang masuk islam.

Istigfar adalah kalimat yang diperintahkan kepada kita untuk membacanya, Rasullulah sendiri setiap harinya tidak kurang dari 70 kali mengucapkan istigfar. Istigfar merupakan kalimat dalam zikir yang kita ucapkan setelah menyelesaikan sholat. Pada dzikir pagi dan sore kita juga diajarkan oleh Rasullulah shallalahu ‘alaih wa sallam membaca istigfar.
Istigfar teristimewa diucapkan setelah melakukan perbuatan dosa, sebagai wujud dari permintaan ampun dan taubat .

Meskipun kalimat istigfar mempunyai nilai keutamaan dan keistimewaan, bukan berarti istigfar harus diucapkan mengiringi ucapan Dua Kalimat Syahadat pada saat menjelang dilakukannya ijab qabul. Sebagaimana Dua Kalimat Syahadat, begitu juga dengan pengucapan istigfar tidak dalil yang dapat dijadikan pegangan sebagai ucapan pendahulun dari ijab qabul.

Bertempo/Terlambat Menyambut Jawaban Penghulu Pada Saat Ijab Qabul.

Kita sering menemukan pada acara pernikahan, penghulu harus mengulangi beberapa kali prosesi ijab qabul nikah, hal itu dilakukan karena para saksi menganggap pernikahan belum dapat disahkan, dengan dalih calon pengantin pria terlambat menyambut ucapan penghulu, sehingga ada jeda beberapa detik diantara ucapan penghulu yang terakhir dengan jawaban calon pengantin pria. Sehingga antara ijab dan qabul terputus atau tidak b ersambungnya antara ijab dan qabul. Atau juga dikarenakan si calon pengantin pria dalam mengucapkan kalimat menerima nikahnya pengantin wanita ( qabul ) terputus-putus, tidak bersambung dalam satu tarikan nafas.

Mengenai hal ini Ustadz A.Qadir Hasan yang termaktub dalam bukunya Kata Berjawab Solusi Untuk Berbagai Permasahan syari’ah , menjelaskan : biasanya ketika akad nihak , penghulu yang menikahka berkata: “ Aku nikahkan engkau dengan si Fulanah binti Fulan dengan maharnya sekian “. Dan menurut saya cara yang diatur atur ulama selesai penghulu menyebutkan kata-katanya itu , langsung sipengantian pria menyambung dengan ucapan umpamanya : Saya menerima nikahnya si Fulanah binti Fulan dengan maharnya sekian. Jawaban pengantin pria tersebut apabila terlambat saja, disuruh mengulangnya . Terkadang sampai 3 kali . Terkadang perlu juga ditunda, kalau belum beres menyambungnya.
Semua macam aturan ini sama sekali tidak terdapat dalam agama kita . Itu adalah buatan manusia semata –mata. Oleh karena itu tidak ada halangan pengantin pria terlambat bertempo dalammenyambut ijak penghulu dengan tidak terbatas. Kapan saja pengantin pria menjawab ijab penghulu itu, serta siperempuanj suka, maka sahlah nikahnya.

Kehadiran saksi sebanyak dua orang dalam penyelenggaraan pernikahan merupakan syarat yang diwajibkan dalam islam. Sah tidaknya suatu pernikahan k ditentukan oleh kehadiran saksi, selain tentunya memenuhi syarat-syarat lainnya. Demikian disebutkan dalam buku Shahih Fiqih Sunnah oleh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim.
Kehadiran kedua saksi tersebut dimaksudkan untuk menyaksikan bahwa benar-benar telah terjadi pernikahan antara seseorang pria dengan seseorang wanita .
Dengan demikian bukan berarti tugas kedua saksi tersebut untuk mendengarkan secara seksama apakah kalimat yang diucapkan oleh penghulu ( ijab) tidak terlambat dijawab/disambut oleh pengantin pria dalam menerima nikahnya ( qabul ) . Sehingga untuk menghindari jangan sampai akad nikahnya dikatakan tidak sah atau ditolak oleh saksi maka sipengantin pria terpaksa cepat-cepat sdan terburu-buru untuk mengucapkan kalimat qabul. Disini Nampak sepertinya para saksi sangat berperanan dalam memutuskan sah tidaknya sebuah pelaksanaan akd nikah ( ijab dan qabul ).
Ketentuan sedemkian sebenarnya tidak dituntut oleh syar’i, karena tidak ada satu dalilpun yang mengaturnya. Di daerah yang berbeda ketentuan seperti itu tidak pernah diketemukan. Sehingga dengan demikian sangat jelaslah bahwa ketentuan tersebut adalah hal-hal baru yang dibuat-buat oleh mereka yang jahil terhadap agama..

Pernyataan ShighotTa’liq Thalaq Setelah Akad Nikah.

Setelah prosesi akad nikah dinyatakan sah oleh saksi, penghulu memerintahkan kepada pengantin pria untuk membacakan pernyataan ta’liq thalaq, yang di dalamnya memuat janji pengantin pria untuk menggauli isterinya secara ma’ruf, serta kebolehan sang isteri menuntut cerai kepada suami , sebagai akibat suami melalaikan kewajibannya, yang antara lain meninggalkan isteri selama 3 bulan berturut-turut, tidak memenuhi kebutuhan nafkah kepada isteri, termasuk didalamnya nafkah bathin .

Pernyataan yang harus dibacakan didepan penghulu dan didepan pengantin wanita oleh pengantin pria, selalu kita dapati di dalam setiap prosesi pernikahan, namun sebenarnya tidak berdasarkan kepada perintah syar’i. Meskipun isi pernyataan tersebut benar dan sah.
Tidak ada satupun riwayat bahwa Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam, dan para sahabat, pewrnah melakukan hal seperti itu. Sehingga tidak ada contohnya.
Rasullulah shallalhu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabat beliau adalah ikutan umat islam, dan kita berkewajiban mencontoh serta mengerjakan apa yang beliau-beliau dahalu lakukan, dan meninggalkan/ menjauhi apa-apa yang tidak dikerjakan oleh para beliau-beliau terdahulu .Inilah yang dinamakan it’tiba. Dengan it’tiba kita akan menjadi orang-orang yang termasuk dalam golongan yang selamat.

Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdatul Ulama ke -3 di Surabaya pada tanggal 12 Rabiul Tsani 1347 H 28 September 1928 M , sebagaimana termaktub dalam buku Masalah Keagamaan Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdatul Ulama Kesatu/1926 s/d ketigapuluh /2000 jilid 1 yang disusun oleh KH.A.Aziz Masyhuri Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahidil Islamiyah, menyebutkan bahwa perintah penghulu/naib untuk mengucapkan ta’liq thalaq itu hukumnya kurang baik karena ta’liq thalaq itu sendiri hukumnya makruh. Walaupun demikian , ta’liq thalaq itu sah , artinya bila dilanggar dapat jatuh talaqnya. ( Keterangan terdapat vdalam kitab I’anatut Thalibin Jus IV )

Nahdatu Ulama organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menyebut dirinya sebagai ahlussunnah wal jamaah, dan jadi banyak panutan orang, yang membenarkan adanya bid’ah hasanah, melalui Muktamar Ulama sebagaimana dikutipkan diatas, secara tegas menyatakan makruhnya ta’liq thalaq ,sehingga hal semacam itu seharusnya ditinggalkan.Bukannya dijadikan tradisi dan melembaga di dalam pernikahan, sehingga sebagian orang yang jahil menggapnya suatu keharusan dan bila ditinggalkan pernikahannya menjadi tidak afdol .

Penyerahan Maskawin atau Mahar.

Sejatinya maskawin atau mahar sudah diserahkan oleh pihak keluarga pria jauh-jauh hari sebelum pernikahan, tetapi dalam acara pernikahan kembali diseremonialkan dan diskenariokan oleh keluarga dan penghulu, dimana mas kawin atau mahar yang diserahkan dibuat berupa paket Al-Qur’an dan perlengkapan sholat .

Penghulu memerintahkan kedua pasangan pengantin untuk duduk saling berhadapan, dan kepada pengantin pria yang ditangannya memegang paket mahar diminta untuk meniru ucapan penghulu yang kurang lebihnya berbunyi : ” Isteriku tercinta, terimalah mahar/maskawin dari aku berupa Al-QAur’an dan seperangkat perlengkapan sholat”. yang diikuti dengan penyerahan mahar tersebut kepada pengantin wanita. Setelah pengantin wanita menerima mahar dari tangan pengantin pria, penghulu memberikan giliran perintah kepada penganti wanita agar menirukan ucapannya, yang kurang lebihnya berbunyi sebagai berikut :
” Suamiku tercinta, adinda menerima dengan senang hati dan ikhlas atas pemberian mas kawin/mahar dari kanda tercinta ”

Prosesi seperti itu dilakukan sebagai hasil rekayasa buah pikiran yang diikuti oleh hawa nafsu yang mendapatkan bisikan dari syaitan, karena sebenarnya tidak ada dasarnya sama sekali yang bersifat syar’i. Prosesi penyerahan mahar/maskawin seperti yang disebutkan diatas pantasnya disebut sebagai bid’ah, karena hanya dibuat-buat dan dianggap baik menurut pikiran, bukan baik menurut syar’i. Seharusnya didalam segala hal yang berkaitan dengan agama dan ibadah yang termasuk pernikahan, berpedoman kepada ketentuan syar’, baik yang bersumber dari Al-Qur’an, Assunnah Rasul dan atsar para shahabat , sehingga dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya.

Pertukaran Cincin Kawin.

Termasuk pertukaran cincin kawin antara pasangan pengantian pria dan wanita setelah akad nikah adalah perkara baru dan diada-adakan. Prosesi ini tidak pernah ada sebelumnya karena memang tidak disyari’atkan dalam islam. Kecuali dalam beberapa tahun terakhir ini, para penghulu beriinisiatif dengan memerintahkan kepada pasangan pengantin pria dan pengantin wanitanya melakukan pertukaran cincin kawin, kemudian memerintahkan kepada si pengantin pria mencium pengantin wanitanya.

Didalam prosesi pertukaran cincin ini sebagai layaknya dalam adegan film dan sinetron telah terjadi beberapa kemunkaran yang tidak disadari, termasuk penghulu yang dianggap orang yang berilmu melakukannya dengan sengaja tanpa merasa berdosa.
Kemunkaran tersebut antara lain :
1. Pertukaran cincin termasuk perilaku tasyabbuh ( meniru-niru ) kepada kaum non muslim yang dilarang oleh Rasullullah shallalahi ‘alaihi wa sallam.
2. Penggunaan cincin emas oleh laki-laki yang diharamkan oleh agama.
3. Adegan mencium wanita oleh pria didepan umum, meskipun dilakukan oleh pasangan suami isteri yang sah, adalah perbuatan tercela.

Kebiasaan pertukaran cincin antara pengantin pria dengan pengantin wanita dilakukan oleh kaum Nasrani yang dilakukan di gereja di depan pendeta/pastur yang mengawinkan mereka. Adat lkebiasaan ini kemudian ditiru/ diikuti oleh kaum muslimin, agar nampak lebih b ergengsi dan dianggap lebih modern. Namun ternyata mereka telah melanggar larangan Allah Ajja Zawalla.

Ibnu Taimiyah berkata bahwa Abu Dawud telah meriwayatkan sebuah hadits hasan dari Ibnu ‘Umar.
ia berkata bahwa Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Barang siapa meniru-niru suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka “

Hadits diatas menetapkan haramnya meniru-niru mereka dan secara dhahir perbuatan itu menunjukkan bahwa perbuatan itu kufur sebagaimana tersebut pada firman Allah pada surah Al-Maidah aqyat 51 :

“ Barang siapa diantara kamu yang berteman dengan mereka ,maka sesungguhnya ia termasukgolongan mereka “

Hadits diatas biasa berarti bahwa meniru-niru perilaku mereka sepenuhnya menyebabkan kekafiran, sekaligus menetapkan b ahwa perbuatan semacam itu haram.

Hiburan Musik dan Nyanyi-Nyanyian.

Sudah menjadi suatu kelaziman dan tradisi yang tidak bisa lagi ditinggalkan oleh sebagian besar kaum muslimin di negeri ini di dalam setiap kesempatan mereka menyelenggarakan acara-acara pesta baik baik tasmiyah/pemberian nama dan aqiqah, khitanan dan terlebih-lebih lagi dalamacara pernikahan
, yang diselenggarakan di rumah atau di gedung- gedung tidak pernah ketinggalan menyediakan hiburan berupa music dan nyanyi-nyanyian. Ada anggapan bahwa acara-acara dengan mengundang banyak orang kurang afdol kalau tidak ada hiburannya,b aik berupa hiburan musik yang bersifat tradisional, band atau musik gambus ala Timur Tengah yang di klaim sebagai musik islami.
Selain musik tentunya tidak lengkap kalau tidak diiringi dengan nyanyian, kadang-kadang biar dianggap islami disajikan nyanyi-nyanyian berupa qasidah dan nasyid.

Sehubungan dengan musik dan nyanyi-nyanyian , oleh kalangan ulama disebutkan bahwa di dalam islam termasuk yang dilarang.
B erkenaan dengan musik dan nyanyian Bin Baz mengatakan : sesungguhnya mendengarkan nyanyian atau lagu hukumnya haram dan merupakan perbuatan munkar yang dapat menimbulkan penyakit, kekerasan hati dan dapat membuqat kita lalai dari mengingatAllah serta lalai melaksanakan sholat. Kebanyakan ulama menafsirkan kata lahwal hadits ( ucapan yang tidak berguna ) dalam firman Allah dengan nyanyian atau lagu.:

“ Dan diantara manusia ( ada ) yang mempergunakan ucapan yang tidak berguna “ ( QS.Luqman: 6 )

Abdullah bin Mas’ud radhyallahu anhu b ersumpah bahwa yang dimaksud dengan kata lahwul hadits adalah nyanyian atau lagu. Jika lagu itu diiringi musik rebab, kecapi, biola, serta gendang, maka kadar keharamannya semakin bertambah. Sebagian ulama bersepakat bahwa nyanyian yang diiringi oleh alat musik hukumnya adalah haram,maka wajib untuk dijauhi. Dalamsebuah hadits shahih, Rasullulah shallalahu ‘alaihi wa sallambersabda :

“ Sesungguhnya akan ada segolongan orang dari kaumku yang menghalalkan zinah, kain sutera, khamer dan alat musik “ ( HR. Bukhari ).

Syaikh Ibnu Utsaimin berfatwa bahwa menabuh gendang yang disebut rebana pada hari resepsi pernikahan itu boleh atau sunnah, jika hal itu dilakukan dalam rangka menyiarkan nikah, akan tetapi dengan syarat-syarat: pertama gendang yang digunakan adalah rebana, yaitu gendang yang hanya tertutup satu bagian saja, sedangkan bagian lainnya terbuka. Syarat kedua tidak dibarengi dengan sesuatu yang diharamkan seperti lagu murahan yang membangkitkan birahi. Lagu seperti ini dilarang, baik dialunkan dengan gendang maupun tidak, diwaktu pesta pernikahan atau lainnya. Ketiga , tidak menimbulkan fitnah ( kemaksiatan) , seperti suara merdu bagi laki-laki. Jika hal itu dapat mengundang fitnah maka haramhukumnya.Dan syarat yang keempat yaitu tidak menggangggu orang lain. Dan jika ternyata mengganggu orang lain maka dilarang, seperti lagunya dilantunkan dengan pengeras suara. Ini dapat menggangu tetangga dan orang lain yang merasa resah dengannya dan juga tidak lepas dari fitnah.

Dari fatwa tersebut diatas maka adanya hiburan berupa musik dan lagu-lagu di dalam acara pernikahan dilarang, karenanya keluarga yang menyelenggarakan acara pernikahan sebaiknya menjauhi perbuatan munkar tersebut.

Berkenaan dengan keharaman musik , maka para ulama dikalangan Nahdatul Ulama dalam hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdatul Ulama ke 1 di Surabaya pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1345 H/ 21 Oktober 1926 ,memutuskan bahwa segala macam alat-alat orkes ( musik ) seperti seruling dengan segala macam jenisnya dan alat-alat orkes ( musik ) lainnya kesemuanya haram.

K e s i m p u l a n .

Dari apa yang dikemukakan diatas , dapatlah disimpulkan bahwa di dalam penyelenggaraan acara pernikahan dilingkungan kaum muslimin di negeri ini , sudah banyak menyalahi aturan-aturan yang digariskan dalam syari’at islam, baik dalam bentuk dilakukannya beragam kemunkaran maupun ditambahinya hal-hal yang bersifat baru dalam prosesi akad nikah/ ijab qabul, yang lebih dikenal dengan sebutan perbuatan bid’ah.

Penyimpangan dari syari’at islam dalam penyelenggaraan acara pernikahan tidak saja dilakukan oleh pihak penyelenggara dalam hal ini keluarga mempelai, tetapi penyimpangan dari syari’at dilakukan pula oleh penghulu atau yang biasa disebut dengan imam P3NTR. Malah sepertinya ada sebagian para penghulu mencari trobosan baru di dalam melakukan prosesi akad nikah/ijab qabul dengan menambah-nambahkan sesuatu yang baru,yang menurut perkiraan mereka baik, tetapi malah sebaliknya menurut timbangan syari’at, karena mereka telah bertindak terlalu jauh dengan menetapkan aturan baru, yang pada hakekatnya sama dengan menganggap aturan syari’at masih belum sempurna .

Syari’at islam dalam mengatur tata cara pernikahan cukup sederhana, tidak bertele-tele dan tidak menyulitkan bagi umatnya, tetapi malah ada diantara umat ini yang membuat aturan yang menyulitkan diri merekqa sendiri, namun kondisi inilah yang dikembangkan menjadi trend di zaman yang penuh dengan b erbagai kemunkaran dan bid’ah. ( Wallaahu Ta’ala ‘alam )

Daftar pustaka :

1.Al-Qur’an dan terjemahan ( Departemen Agama R.I )
2. Shahih Bukhari oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Bani.
3. Shahih Muslim oleh Syaikh Muhammad Nashirudin al-Bani.
4. Shahih Sunan Abu Dawud oleh Syaikh Muhammad Nashirudinal- Bani.
5. Shahih Fiqih Sunnah oleh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim.
6. Kata Berjawab oleh A.Qadir Hasan
7. Fatwa-fatwa Terkini oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dkk.
8. Parasit Aqidah oleh A.D.EL.Marzdedeq
9. Tasyabbuh Yang Dilarang Dalam Fiqih Islam oleh Jamilbin Habib Al-Luwaihiq.
10. Masalah Keagamaan Hasil Muktamar dan MunasUlama Nahdatul Ulama oleh KH. A.Aiz Masyhuri.

Kiat-Kiat Menuju Pelaminan 13 Juli 2011

Posted by jihadsabili in munakahat.
add a comment

Kiat-Kiat Menuju Pelaminan

Sungguh indah ikatan suci antara dua orang insan yang pasrah untuk saling berjanji setia menemani mengayuh biduk mengarungi lautan kehidupan. Dari ikatan suci ini dibangun keluarga bahagia, yang dipimpin oleh seorang suami yang shalih dan dimotori oleh seorang istri yang shalihah. Mereka mengerti hak-hak dan kewajiban mereka terhadap pasangannya, dan mereka pun memahami hak dan kewajiban mereka kepada Allah Ta’ala. Kemudian lahir dari mereka berdua anak-anak yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Azza Wa Jalla. Cinta dan kasih sayang pun tumbuh subur di dalamnya. Rahmat dan berkah Allah pun terlimpah kepada mereka. Inilah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, samara kata orang. Inilah model keluarga yang diidamkan oleh setiap muslim tentunya.

Tidak diragukan lagi, bahwa untuk menggapai taraf keluarga yang demikian setiap orang harus melewati sebuah pintu, yaitu pernikahan. Dan usaha untuk meraih keluarga yang samara ini hendaknya sudah dimulai saat merencanakan pernikahan. Pada tulisan singkat ini akan sedikit dibahas beberapa kiat menuju pernikahan Islam yang diharapkan menjadi awal dari sebuah keluarga yang samara.

Berbenah Diri Untuk Mendapatkan Yang Terbaik

Penulis ingin membicarakan 2 jenis manusia ketika ditanya: “Anda ingin menikah dengan orang shalih/shalihah atau tidak?”. Manusia jenis pertama menjawab “Ya, tentu saja saya ingin”, dan inilah muslim yang masih bersih fitrahnya. Ia tentu mendambakan seorang suami atau istri yang taat kepada Allah, ia mendirikan shalat ia menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ia menginginkan sosok yang shalih atau shalihah. Maka, jika orang termasuk manusia pertama ini agar ia mendapatkan pasangan yang shalih atau shalihah, maka ia harus berusaha menjadi orang yang shalih atau shalihah pula. Allah Azza Wa Jalla berfirman yang artinya: “Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula” [QS. An Nur: 26]. Yaitu dengan berbenah diri, berusaha untuk bertaubat dan meninggalkan segala kemaksiatan yang dilakukannya kemudian menambah ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Sedangkan manusia jenis kedua menjawab: “Ah saya sih ndak mau yang alim-alim” atau semacam itu. Inilah seorang muslim yang telah keluar dari fitrahnya yang bersih, karena sudah terlalu dalam berkubang dalam kemaksiatan sehingga ia melupakan Allah Ta’ala, melupakan kepastian akan datangnya hari akhir, melupakan kerasnya siksa neraka. Yang ada di benaknya hanya kebahagiaan dunia semata dan enggan menggapai kebahagiaan akhirat. Kita khawatir orang-orang semacam inilah yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai orang yang enggan masuk surga. Lho, masuk surga koq tidak mau? Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Setiap ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya: ‘Siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah?’. Beliau bersabda: “Yang taat kepadaku akan masuk surga dan yang ingkar terhadapku maka ia enggan masuk surga” [HR. Bukhari]

Seorang istri atau suami adalah teman sejati dalam hidup dalam waktu yang sangat lama bahkan mungkin seumur hidupnya. Musibah apa yang lebih besar daripada seorang insan yang seumur hidup ditemani oleh orang yang gemar mendurhakai Allah dan Rasul-Nya? Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Keadaan agama seorang insan tergantung pada keadaan agama teman dekatnya. Maka sudah sepatutnya kalian memperhatikan dengan siapa kalian berteman dekat” [HR. Ahmad, Abu Dawud. Dihasankan oleh Al Albani]

Bekali Diri Dengan Ilmu

Ilmu adalah bekal penting bagi seseorang yang ingin sukses dalam pernikahannya dan ingin membangun keluarga Islami yang samara. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu agama tentunya. Secara umum, seseorang perlu membekali diri dengan ilmu-ilmu agama, minimal ilmu-ilmu agama yang wajib bagi setiap muslim. Seperti ilmu tentang aqidah yang benar, tentang tauhid, ilmu tentang syirik, tentang wudhu, tentang shalat, tentang puasa, dan ilmu yang lain, yang jika ilmu-ilmu wajib ini belum dikuasai maka seseorang dikatakan belum benar keislamannya. Lebih baik lagi jika membekali diri dengan ilmu agama lainnya seperti ilmu hadits, tafsir al Qur’an, Fiqih, Ushul Fiqh karena tidak diragukan lagi bahwa ilmu adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Renungkanlah firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” [QS. Al Mujadalah: 11]

Secara khusus, ilmu yang penting untuk menjadi bekal adalah ilmu tentang pernikahan. Tata cara pernikahan yang syar’I, syarat-syarat pernikahan, macam-macam mahram, sunnah-sunnah dalam pernikahan, hal-hal yang perlu dihindari, dan yang lainnya.

Siapkan Harta Dan Rencana

Tidak dapat dipungkiri bahwa pernikahan membutuhkan kemampuan harta. Minimal untuk dapat memenuhi beberapa kewajiban yang menyertainya, seperti mahar, mengadakan walimah dan kewajiban memberi nafkah kepada istri serta anak-anak. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” [HR. Ahmad, Abu Dawud].

Namun kebutuhan akan harta ini jangan sampai dijadikan pokok utama sampai-sampai membuat seseorang tertunda atau terhalang untuk menikah karena belum banyak harta. Harta yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan keluarganya itu sudah mencukupi. Karena Allah dan Rasul-Nya mengajarkan akhlak zuhud (sederhana) dan qana’ah (mensyukuri apa yang dikarunai Allah) serta mencela penghamba dan pengumpul harta. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah” [HR. Bukhari].

Disamping itu, terdapat larangan bermewah-mewah dalam mahar dan terdapat teladan menyederhanakan walimah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya” [HR. Ahmad]. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga, berdasarkan hadits Anas Bin Malik Radhiyallahu’anhu, ketika menikahi Zainab Bintu Jahsy mengadakan walimah hanya dengan menyembelih seekor kambing [HR. Bukhari-Muslim].

Selain itu rumah tangga bak sebuah organisasi, perlu manajemen yang baik agar dapat berjalan lancar. Maka hendaknya bagi seseorang yang hendak menikah untuk membuat perencanaan matang bagi rumah tangganya kelak. Misalnya berkaitan dengan tempat tinggal, pekerjaan, dll.

Pilihlah Dengan Baik

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius : nikah, cerai dan ruju’ ” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali Nasa’i). Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup insya Allah. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.

Kriteria yang paling utama adalah agama yang baik. Setiap muslim atau muslimah yang ingin beruntung dunia akhirat hendaknya mengidam-idamkan sosok suami atau istri yang baik agamanya, ia memahami aqidah Islam yang benar, ia menegakkan shalat, senantiasa mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan memilih istri yang baik agamanya “Wanita dikawini karena empat hal : ……. hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka”. [HR. Bukhari- Muslim]. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga mengancam orang yang menolak lamaran dari seorang lelaki shalih “Jika datang kepada kalian lelaki yang baik agamanya (untuk melamar), maka nikahkanlah ia. Jika kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi” [HR. Tirmidzi, Ibnu Majah].

Selain itu ada beberapa kriteria lainnya yang juga dapat menjadi pertimbangan untuk memilih calon istri atau suami:

  1. Sebaiknya ia berasal dari keluarga yang baik nasabnya (bukan keluarga pezina atau ahli maksiat)
  2. Sebaiknya ia sekufu. Sekufu maksudnya tidak jauh berbeda kondisi agama, nasab dan kemerdekaan dan kekayaannya
  3. Gadis lebih diutamakan dari pada janda
  4. Subur (mampu menghasilkan keturunan)
  5. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan jika engkau pandang…” [HR. Thabrani]
  6. Hendaknya calon istri memahami wajibnya taat kepada suami dalam perkara yang ma’ruf
  7. Hendaknya calon istri adalah wanita yang mengaja auratnya dan menjaga dirinya dari lelaki non-mahram.

Shalat Istikharah Agar Lebih Mantap

Pentingnya urusan memilih calon pasangan, membuat seseorang layak untuk bersungguh-sungguh dalam hal ini. Selain melakukan usaha, jangan lupa bahwa hasil akhir dari segala usaha ada di tangan Allah Azza Wa Jalla. Maka sepatutnya jangan meninggalkan doa kepada Allah Ta’ala agar dipilihkan calon pasangan yang baik. Dan salah satu doa yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan shalat Istikharah. Sebagaimana hadits dari Jabir Radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kami istikharah dalam segala perkara sebagaimana beliau mengajarkan Al Qur’an” [HR. Bukhari].

Datangi Si Dia Untuk Nazhor Dan Khitbah

Setelah pilihan telah dijatuhkan, maka langkah selanjutnya adalah Nazhor. Nazhor adalah memandang keadaan fisik wanita yang hendak dilamar, agar keadaan fisik tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk melanjutkan melamar wanita tersebut atau tidak. Terdapat banyak dalil bahwa Islam telah menetapkan adanya Nazhor bagi lelaki yang hendak menikahi seorang wanita. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian meminang wanita, maka jika dia bisa melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah” [HR. Abu Dawud].

Namun dalam nazhor disyaratkan beberapa hal yaitu, dilarang dilakukan dengan berduaan namun ditemani oleh mahrom dari sang wanita, kemudian dilarang melihat anggota tubuh yang diharamkan, namun hanya memandang sebatas yang dibolehkan seperti wajah, telapak tangan, atau tinggi badan.

Dalil-dalil tentang adanya nazhor dalam Islam juga mengisyaratkan tentang terlarangnya pacaran dalam. Karena jika calon pengantin sudah melakukan pacaran, tentu tidak ada manfaatnya melakukan Nazhor.

Setelah bulat keputusan maka hendaknya lelaki yang hendak menikah datang kepada wali dari sang wanita untuk melakukan khitbah atau melamar. Islam tidak mendefinisikan ritual atau acara khusus untuk melamar. Namun inti dari melamar adalah meminta persetujuan wali dari sang wanita untuk menikahkan kedua calon pasangan. Karena persetujuan wali dari calon wanita adalah kewajiban dan pernikahan tidak sah tanpanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan keberadaan wali” [HR. Tirmidzi]

Siapkan Mahar

Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah mahar, atau disebut juga mas kawin. Mahar adalah pemberian seorang suami kepada istri yang disebabkan pernikahan. Memberikan mahar dalam pernikahan adalah suatu kewajiban sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Maka berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban” [QS. An Nisa: 24]. Dan pada hakekatnya mahar adalah ‘hadiah’ untuk sang istri dan mahar merupakan hak istri yang tidak boleh diambil. Dan terdapat anjuran dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk tidak terlalu berlebihan dalam mahar, agar pernikahannya berkah. Sebagaimana telah dibahas di atas.

Setelah itu semua dijalani akhirnya sampailah di hari bahagia yang ditunggu-tunggu yaitu hari pernikahan. Dan tali cinta antara dua insan pun diikat.

Belum Sanggup Menikah?

Demikianlah uraian singkat mengenai kiat-kiat bagi seseorang yang hendak menapaki tangga pernikahan. Nah, lalu bagaimana kiat bagi yang sudah ingin menikah namun belum dimampukan oleh Allah Ta’ala? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Orang-orang yang belum mampu menikah hendaknya menjaga kesucian diri mereka sampai Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya” [QS. An Nur: 33]. As Sa’di menjelaskan ayat ini: “Yaitu menjaga diri dari yang haram dan menempuh segala sebab yang dapat menjauhkan diri keharaman, yaitu hal-hal yang dapat memalingkan gejolak hati terhadap hal yang haram berupa angan-angan yang dapat dikhawatirkan dapat menjerumuskan dalam keharaman” [Tafsir As Sa’di]. Intinya, Allah Ta’ala memerintahkan orang yang belum mampu untuk menikah untuk bersabar sampai ia mampu kelak. Dan karena dorongan untuk menikah sudah bergejolak mereka diperintahkan untuk menjaga diri agar gejolak tersebut tidak membawa mereka untuk melakukan hal-hal yang diharamkan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga menyarakan kepada orang yang belum mampu untuk menikah untuk banyak berpuasa, karena puasa dapat menjadi tameng dari godaan untuk bermaksiat [HR. Bukhari-Muslim]. Selama masih belum mampu untuk menikah hendaknya ia menyibukkan diri pada hal yang bermanfaat. Karena jika ia lengah sejenak saja dari hal yang bermanfaat, lubang kemaksiatan siap menjerumuskannya. Ibnul Qayyim Al Jauziyah memiliki ucapan emas: “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi Liman Sa’ala ‘An Ad Dawa Asy Syafi, hal. 109). Kemudian senantiasa berdoa agar Allah memberikan kemampuan untuk segera menikah.

Wallahul Musta’an.

Mengeluh dan Merasa Sempit dengan Kehidupan? 13 Juli 2011

Posted by jihadsabili in cinta, jodoh, munakahat.
add a comment

Sebagian istri ada yang mengeluhkan kehidupannya dan tidak bisa menerima penghasilan suaminya. Ia ingin hidup seperti Fulanah atau seperti salah seorang karib keluarganya.

Engkau lupa bahwa Allah tidaklah menciptakan manusia sama rata. Allah menciptakan orang kulit putih dan orang kulit hitam, orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan orang lemah.

Agar engkau dapat menenangkan dirimu hendaklah camkan hadits berikut ini

“Lihatlah orang yang dibawahmu dan jangan lihat orang yang diatasmu, hal itu lebih baik sehingga engkau tidak menyepelekan nikmat Allah.” (HR Muslim)

Ingatlah selalu bahwa kebahagiaan bukan hanya terletak pada harta semata. Berapa banyak wanita yang memiliki suami kaya hartanya namun bakhil perasaan dan cintanya. Sementara yang lain memiliki suami yang fakir hartanya namun kaya perasaannya dan cinta kepada istri dan rumahnya.

Hendaklah seorang istri selalu ridha menerima suaminya yang mencintai dirinya. Kebahagiaan itu bukan hanya terletak pada makanan dan minuman, bukan berhias dengan pakaian mahal, perabotan mewah, emas perak dan kendaraan yang banyak. Namun kekayaan itu letaknya dalam dada dan hati yang tenang, penuh dengan cinta dan keimanan.

***
Disalin dari buku Agar Suami Cemburu Padamu, karya Dr. Najla’ As Sayyid Nayil, Pustaka At Tibyan

Contoh-contoh Istri yang ta’at dan yang ingkar 13 Juli 2011

Posted by jihadsabili in jodoh, keluarga, munakahat, muslimah.
add a comment

Contoh-contoh Istri yang ta’at dan yang ingkar

Kita mungkin mengetahui bahwa dalam kehidupan nyata ini, kita bisa menemui hal-hal yang telah Allah gambarkan 14 abad yang lalu, sesungguhnya kisah-kisah yang di gambarkan oleh Allah dalam al Qurlan ini bisa di ambil pelajarannya.

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

Artinya : Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)“. (QS. At Tahrim : 10)

Allah menggambarkan tentang istri Nabi Nuh dan Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran. Dalam ayat tersebut diatas Allah meng-kisahkan bahwa istri-istri kedua Nabi tersebut adalah berkhianat kepada suaminya. Berkhianat disini bukanlah berkhiatanat dalam hal berzinah ataupun serong, melainkan berkhianat dalam hal agama dan tauhid.

Allah memberikan perumpamaan kepada orang-orang kafir, bahwa para istri Nabi tersebut hidup dalam lingkungan dan berbaur dengan orang-orang beriman dan shalih, akan tetapi bukan jaminan bagi orang-orang yang ingkar, orang-orang ingkar itu tidak dapat mengambil manfaat semua itu dari Allah bila tidak ada iman di dada-dada mereka.

Firman Allah {َخَانَتَاهُمَا}, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, yaitu berkhianat dalam keimanan. Yakni keduanya tidak mau berjalan bersama dalam keimanan dan tidak mempercayaan kerasulan keduanya. Kemudian bahwa kedua Nabi itu tdak bisa membantu istrinya sedikitpun dari siksa Allah lantaran kekufuran mereka berdua. Kemudian Allah berfirman “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)

Berkata Adh Dhahaq, dari Ibnu Abbas :

وَقَالَ الضَّحَّاك عَنْ اِبْن عَبَّاس{ مَا بَغَتْ اِمْرَأَة نَبِيّ قَطُّ إِنَّمَا كَانَتْ خِيَانَتهمَا فِي الدِّين} وَهَكَذَا قَالَ عِكْرِمَة وَسَعِيد بْن جُبَيْر

Artinya: “Istri Nabi tidak ada yang bermiain serong, pengkhianatan keduanya itu hanyalah dalam hal agama.”. Dan hal ini dikatakan pula oleh ‘Ikrimah dan Sa’id bin Jubair.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya : Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim“, (QS. At Tahrim : 11)

Ayat berikutnya dari surah Al Qashash ini adalah perumpamaan bagi orang beriman yang ayat sebelumnya membicarakan perumpamaan untuk orang-orang kafir.

Bahwa pergaulan orang-orang beriman dengan orang-orang kafir tidak akan mendatangkan mudharat apa-apa bagi mereka, bila memang membutuhkan mereka. Sebagaimana firman Allah : “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka (QS. Al Imran :28)”

قَالَ قَتَادَة كَانَ فِرْعَوْن أَعْتَى أَهْل الْأَرْض وَأَكْفَرهمْ فَوَاَللَّهِ مَا ضَرّ اِمْرَأَته كُفْر زَوْجهَا حِين أَطَاعَتْ رَبّهَا لِيَعْلَمُوا أَنَّ اللَّه تَعَالَى حَكَمٌ عَدْلٌ لَا يُؤَاخِذ أَحَدًا إِلَّا بِذَنْبِهِ

Berkata Qatadah “Bahwa Fir’aun telah bertindak sewenag-wenag kepada kaumnya dan mengkafirkan mereka. Maka demi Allah, kekufuran suaminya itu tidak menimbulakan mudharat bagi istrinyayang ta’at kepada Allah, agar mereka mengetahui bahwa Allah Ta’ala mempunyai hokum yang adil”

Istri Fir’aun yang shalihah ini bernama Asiah binti Muzahim ra, dia berdo’a “selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya” yaitu lepaskanlah diriku darinya, sebab aku berlepas diri dari semua perbuatannya demi Engkau. “dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim” yaitu orang-orang yang telah menzhalimi diri mereka sendiri dengan melakukan kekufuran terhadap Tuha langit dan bumi beserta isi dan yang ada pada keduanya, Tuhan segala sesuatu dan Zat yang layak di sembah.

Demikian pula terjadi kepada istri bendahara Fir’aun, ia telah beriman. Namun diketahui oleh putrid Fir’aun dan dilaporkan kepada ayahnya. Datanglah perintah untuk meyiksanya agar dia kembali kufur kepada Allah dan menjadikan Fir’aun sebagai Tuhan. Namun dia menolak dan mengatakan, Demi Tuhanku dan Tuhanmu dan Tuhan Segala Sesuatu, Allah saja, hanya kepada-Nya aku menyembah.

Lalu Fir’aun mengancam bahwa kedua anak istri bendahara Fir’aun titu akan disembelih pada mulutnya. Dia menantang, berbuatlah sesukamu. Maka Fir’aun menyembelih putranya satu persatu pada mulutnya.

Baik Istri Fir’aun maupun Istri bendahara Fir’aun menghadapi berbagai macam ancaman dan siksaan, namun keduanya tidak bergeming untuk kufur kepada Allah. Hingga siksaan demi siksaan membawa mereka dibunuh oleh kekejaman Fir’aun. Semoga Allah menyayangi Istri Fir’aun dan istri bendaharawannya, dan meridhoi keduanya.

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

Artinya :” dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.” (al – Qashash : 12)ditiupkannya

Ayat dari al Qhashash ayat 12 ini mengkisahkan Maryam putri Imran yang menjaga kehormatannya selama hidupnya hingga datang ketentuan Allah, yakni di tiupkannya ke dalam rahimnya ruh ciptaan Allah dan kemudian Maryam membenarkan takdir dan syari’at-Nya. Dan Maryam adalah termasuk orang-orang yang taat kepada Tuhan-Nya.

Imam At Thobary berkata

قَوْله تَعَالَى : { وَمَرْيَم ابْنَة عِمْرَان الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجهَا } يَقُول تَعَالَى ذِكْره : { وَضَرَبَ اللَّه مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا }{ مَرْيَم ابْنَة عِمْرَان الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجهَا }

Firman Allah : { dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya } Firman Allah ini seperti (perumpamaan) yang disebutkan sebelumnya yaitu “perumpamaan bagi orang-orang yang beriman” bahwa Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya.

Yang bisa di jadikan pelajaran adalah bahwa wanita yang ta’at adalah wanita yang bisa menjaga kehormatannya dan ridho kepada takdir dan syari’at-Nya yang telah ditetapkan kepadanya.

Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh) nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam. (QS al Anbiya : 91)

Berkata Imam Ahmad, dari Ibnu Abbas ra :

” خَطَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَرْض أَرْبَعَة خُطُوط وَقَالَ ” أَتَدْرُونَ مَا هَذَا ؟ ” قَالُوا اللَّه وَرَسُوله أَعْلَم فَقَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” أَفْضَل نِسَاء أَهْل الْجَنَّة خَدِيجَة بِنْت خُوَيْلِد وَفَاطِمَة بِنْت مُحَمَّد وَمَرْيَم اِبْنَة عِمْرَان وَآسِيَة بِنْت مُزَاحِم اِمْرَأَة فِرْعَوْن”

Artinya: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, pernah membuat empat garis diatas tanah dan bertanya Tahukah kalian apakah garis ini? Mereka berkata Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Waniata-wanita penduduk surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwalid, Fatimah Binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim istri Fir’aun “

Semoga dari kisah dalam al Qur’an ini bisa diambil manfaatnya, bagaimana sifat-sifat wanita baik yang ta’at maupun ingkar, meskipun mereka berbaur dengan orang-orang yang beriman dan zhalim.

Sesungguhnya dari kisah-kisah dalam Al Qur’an itu ada hal yang bisa diambil pelajarannya, bagi orang yang berfikir.