jump to navigation

Kesalahan-kesalahan setelah sholat 27 Oktober 2011

Posted by jihadsabili in fiqih, shalat.
add a comment

Di posting kali ini kita masih membahas tentang masalah shalat, karena shalat itu sangat penting bagi umat islam. Shalat itu membedakan antara Muslim dan Kafir. Jadi kita harus benar dalam menjalankan ibadah shalat menurut Al-Qir’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salauf Shaleh.

Beberapa hal yang biasa dilakukan oleh banyak orang setelah shalat fardhu (wajib) yang lima waktu, tetapi tidak ada contoh dan dalil dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para Sahabat رضي الله عنهم.

Diantara Kesalahan dan Bid’ah tersebut ialah :

1. Mengusap muka setelah salam.231

2. Berdo’a dan berdzikir secara berjama’ah yang dipimpin oleh imam shalat.232

3. Berdzikir dengan bacaan yang tidak ada nash/dalilnya, baik secara lafazh maupun bilangannya, atau berdzikir dengan dasar yang dha’if(lemah) atau maudhu'(palsu).
Contohnya :

– Sesudah shalat membaca “Alhamdulillah”
-Membaca Surat Al-Fatihah setelah salam
-Membaca beberapa ayat terakhir surat Al-Hasyr dan lainnya.

4. Menghitung Dzikir dengan memakai biji-bijian tasbih atau yang serupa dengannya. Tidak ada satu pun hadits yang shahih tentang menghitung dzikir dengan biji-bijian tasbih, bahkan sebagian maudhu'(palsu).233 Syaikh Al-Albani رحمه الله mengatakan: ” Berdzikir dengan biji-bijian tasbih adalah bid’ah.”234

Syaikh Bakr Abi Zaid mengatakan bahwa Berdzikir dengan menggunakan biji-bijian tasbih menyerupai orang-orang Yahudi, Nasrani, Bhudha, dan perbuatan ini adalah bid’ah dhalaalah.235

Yang disunnahkan dalam berdzikir adalah dengna menggunakan jari-jari tangan :
Dari Abullah bin ‘Amr رضي الله عنه, ia berkata: ” Aku melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghitung bacaan tasbih (dengan jari-jari) tangan kanannya.”236

Bahkan, Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan para sahabat wanita menghitung : Subhanallah,alhamdulillah, dan mensucikan Allah dengan jari-jari, karena jari-jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara (pada hari kiamat).237

5. Berdzikir dengan suara keras dan beramai-ramai (dengna koor/berjama’ah)

Allah عزوجل memerintahkan kita berdzikir dengan suara yang tidak keras (Qs. Al-A’raaf ayat 55 dan 205, lihat Tafsiir Ibni Katsir tentang ayat ini).

Nabi صلى الله عليه وسلم melarang berdzikir dengan suara keras sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-bukhari, Muslim dan lain-lain.

Imam asy-Syafi’i menganjurkan agar imam atau makmum tidak mengeraskan bacaan dzikir.238

6. Membiasakan/merutinkan berdo’a setelah shalat fardhu (wajib) dan mengangkat tangan pada do’a tersebut (perbuatan ini) tidak ada contohnya dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم
239

7. Saling berjabat tangan sesudah shalat fardhu (bersalam-salaman). tidak ada seorang pun dari sahabat atau Salafus Shaleh رضي الله عنهم yang berjabat tangan (bersalam-salaman) kepada orang yang disebelah kanan atau kiri, depan atau belakangnya apabila mereka selesai melaksanakan shalat. Jika seandainya perbuatan itu baik, maka akan sampai (kabar) kepada kita, dan ulama akan menukil serta menyampaikannya kepada kita (riwayat yang shahih).240

Para ulama mengatakan: “Perbuatan tersebut adalah bid’ah.”241

Berjabat tangan dianjurkan, akan tetapi menetapkannya setiap selesai shalat fardhu tidak ada contohnya, atau setelah shalat shubuh dan ‘Ashar, maka perbuatan ini adalah bid’ah.242
Wallaahu a’lam bish Shawaab.

_____________________________________
231 LIhat, Silsilah al-Ahadiits adh-dha’iifah wam Maudhuu’ah no. 660 oleh Imam Al-Albani.
232 Al-I’tishaam Imam asy-Syathibi hal. 455-456 tahqiq Syaikh salim al-halabi, Fataawa Al-Lajnah Ad-Daimah VII/188-189, as-Sunan wal Mub-tada’aat hal. 70 perbuatan bid’ah, (al-Qaulul Mubiin fii akhthaa-il Mushalliin hal. 304-305)
233 Lihat, Silsilah al-Ahadiits adh-dha’iifah wam Maudhuu’ah no. 83 dan 1002.
234 Silsilah al-Ahadiits adh-dha’iifah I/185.
235 As-Subhah Taariikhubawa Hukmuha, hal. 101 cet. I Daarul ‘Ashimah 1419 H – Syaikh Bakar bin ‘Abudillah Abu Zaid.
236 Hadits shahih, riwayat Abu Dawud no. 1502, dan at-Tirmidzi no. 3486. shahihh at-Tirmidzi III/146 no. 2714, shahih Abu Dawud I/280 no. 1330, al-Hakim I/547, al-Baihaqi II/253.
237 Hadits hasan, riwayat Abu Dawud no. 1501 dan at-Tirmidzi no. 3486 dan al-Hakim I/157. Dhisankan oleh Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani.
238 Fat-hul Baari II/326 dan al-Qaulul Mubiin hal. 305.
239 Lihat Zaadul Ma’aad I/257 tahqiq al-Arna’ut. Majmuu’ Fataawa Syaikh bin Bazz XI/167, dan Majmuu’ Fataawa Rasaa-il ‘Utsaimin XIII/253-259.
240 Tamaamul Kalaam fi Bid’iyyatil Mushaafahah ba’das salaam – Dt. Muhammad Musa Alu Nashr.
241 Al-Qaulul Mubiin fii Akhbhaa-il Mushaliin hal.293-294 Syaikh Masyhur Hasan Slaman
242 Al-Qaulul Mubiin fii Akhbhaa-il Mushaliin hal. 294-295 dan Silsilah al-Ahaadiits Ash-sgahiihah I/53.

sumber Refrensi

Do’a & Wirid – Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

INILAH MAKSUD SYAITAN DIRANTAI/DIBELENGGU DI BULAN RAMADHAN : Jika Setan dikerangkeng Kenapa kok Kejahatan Masih Ada di Bulan Puasa? 1 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in fiqih, puasa.
add a comment

INILAH MAKSUD SYAITAN DIRANTAI/DIBELENGGU DI BULAN RAMADHAN : Jika Setan dikerangkeng Kenapa kok Kejahatan Masih Ada di Bulan Puasa?

Setan-setan dan Jin Durhaka Dikerangkeng; Pintu Surga Dibuka, dan Pintu Neraka Ditutup

Saking mulia dan sucinya bulan Romadhon, Allah mengikat para setan, dan jin yang durhaka; pintu-pintu surga dibuka, dan neraka ditutup.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِيْ مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Jika malam pertama Romadhon datang, maka setan-setan, dan jin-jin durhaka dibelenggu; pintu-pintu neraka ditutup. Maka tak ada satu pintu(nya) pun yang terbuka; pintu-pintu surga dibuka. Maka tak ada suatu pintu pun yang ditutup; Seorang pemanggil memanggil,”Wahai pencari kebaikan, menghadaplah; wahai pencari kejelekan, berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang dimerdekakan dari neraka. Demikian itu pada setiap malam”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (682), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (1642). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (1960) ]

Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr Al-Andalusiy-rahimahullah- berkata dalam At-Tamhid (7/310), “Makna hadits ini menurut saya –Cuma Allah yang lebih tahu-: Allah melindungi di dalamnya kaum muslimin, atau dominannya dari maksiat-maksiat. Jadi, setan tidak akan bebas datang kepada mereka sebagaimana mereka bebas datang di sepanjang tahun”.

Ingat !! Namun kalian jangan menyangka bahwa setan ketika itu tak akan menggoda dirimu. Ketahuilah, ia akan tetap menggodamu, walaupun tidak segencar di bulan lain. Isilah hari-harimu dengan ketaatan, jangan mendekati jalan-jalan kemaksiatan sehingga engkau akan selamat darinya. Didiklah dirimu di bulan ini menjadi hamba yang taat, bukan hamba yang durhaka. Jika tidak, maka engkau akan menjadi bahan bakar Jahannam. Na’udzu billah minannar.

Sumber : Ramadhan Yang Kurindukan, Buletin Jum’at Al-Atsariyyah  http://www.darussalaf.or.id/myprint.php?id=877


Dibelenggunya Syaithan, Ditutupnya Pintu-Pintu Neraka dan Dibukanya Pintu-Pintu Surga

Pada bulan ini kejelekan menjadi sedikit, karena dibelenggu dan diikatnya jin-jin jahat dengan salasil (rantai), belenggu dan ashfad. Mereka tidak bisa bebas merusak manusia sebagaimana bebasnya di bulan yang lain, karena kaum muslimin sibuk dengan puasa hingga hancurlah syahwat, dan juga karena bacaan Al-Qur’an serta seluruh ibadah yang mengatur dan membersihkan jiwa.

Allah berfirman (yang artinya) : “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” [Al-Baqarah : 183]

Maka dari itu ditutupnya pintu-pintu jahannam dan dibukanya pintu-pintu surga, (disebabkan) karena (pada bulan itu) amal-amal shaleh banyak dilakukan dan ucapan-ucapan yang baik berlimpah ruah (yakni ucapan-ucapan yang mengandung kebaikan banyak dilafadzkan oleh kaum mukminin-ed).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Jika datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga [dalam riwayat Muslim : ‘Dibukalah pintu-pintu rahmat”] dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu syetan” [Hadits Riwayat Bukhari 4/97 dan Muslim 1079]

Semuanya itu sempurna di awal bulan Ramadhan yang diberkahi, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya) : “Jika datang awal malam bulan Ramadhan, diikatlah para syetan dan jin-jin yang jahat, ditutup pintu-pintu neraka, tidak ada satu pintu-pintu yang dibuka, dan dibukalah pintu-pintu surga, tidak ada satu pintu-pun yang tertutup, berseru seorang penyeru ; “Wahai orang yang ingin kebaikan lakukanlah, wahai orang yang ingin kejelekan kurangilah. Dan bagi Allah mempunyai orang-orang yang dibebaskan dari neraka, itu terjadi pada setiap malam” [Diriwayatkan oleh Tirmidzi 682 dan Ibnu Khuzaimah 3/188 dari jalan Abi Bakar bin Ayyasy dari Al-A’masy dari Abu Hurairah. Dan sanad hadits ini Hasan]

Sumber :  Keutamaan Bulan Suci Ramadhan, Penulis Syaikh Salim Bin ‘Ied Al-Hilaly, http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=300[1

Introspeksi Diri Di Bulan Ramadhan

Penulis : Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

Shahabat yang mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

“Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.”

Hadits di atas dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya kitab Ash-Shaum, bab Hal Yuqalu Ramadhan au Syahru Ramadhan no. 1898, 1899. Dikeluarkan pula dalam kitab Bad‘ul Khalqi, bab Shifatu Iblis wa Junuduhu no. 3277. Adapun Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya membawakannya dalam kitab Ash-Shaum, dan diberikan judul babnya oleh Al-Imam An-Nawawi, Fadhlu Syahri Ramadhan no. 2492.

Pintu Kebaikan Terbuka, Pintu Kejelekan Tertutup
Kedatangan Ramadhan akan disambut dengan penuh kegembiraan oleh insan beriman yang selalu merindukan kehadirannya dan menghitung-hitung hari kedatangannya. Banyak keutamaan yang dijanjikan untuk diraih dan didapatkan di bulan mulia ini, di antaranya seperti tersebut dalam hadits yang menjadi pembahasan kita dalam rubrik ‘Hadits’ kali ini. Dan keutamaan yang tersebut dalam hadits di atas didapatkan sejak awal malam Ramadhan yang mubarak sebagaimana tersebut dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِرَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ. وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَ ذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu pintupun yang ditutup. Dan seorang penyeru menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.’ Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 682 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya no. 1682, dihasankan Asy-Syaikh Albani rahimahullahu dalam Al-Misykat no. 1960)

Pada bulan yang penuh barakah ini, kejahatan di muka bumi lebih sedikit, karena jin-jin yang jahat dibelenggu dan diikat, sehingga mereka tidak bebas untuk menyebarkan kerusakan di tengah manusia sebagaimana hal ini dapat mereka lakukan di luar bulan Ramadhan. Di hari-hari itu kaum muslimin tersibukkan dengan ibadah puasa yang dengannya akan mematahkan syahwat. Juga mereka tersibukkan dengan membaca Al-Qur`an dan ibadah-ibadah lainnya. (Al-Mirqah, Asy-Syaikh Mulla ‘Ali Al-Qari pada ta’liq Al-Misykat 1/783, hadits no. 1961)

Ibadah-ibadah ini akan melatih jiwa, membersihkan dan mensucikannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Karena amal shalih banyak dilakukan, demikian pula ucapan-ucapan yang baik berlimpah ruah, ditutuplah pintu-pintu jahannam dan dibuka pintu-pintu surga. (Shifatu Shaumin Nabiyyi Shallallahu `alaihi wasallam fi Ramadhan, hal. 18-19)

Makna ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ adalah setan itu dibelenggu. Dan yang dimaksudkan dengan setan di sini adalah مَرَدَةُ الْجِنِّ sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Kata مَرَدَةٌ adalah bentuk jamak (lebih dari dua) dari kata الْمَارِدُ yaitu الْعَاتِي الشَّدِيْدُ , maknanya yang sangat angkuh, durhaka, bertindak sewenang-wenang lagi melampaui batas (lihat An-Nihayah fi Gharibil Hadits). Sehingga yang dibelenggu hanyalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat, adapun setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran.

Kita perlu nyatakan hal ini, kata Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i rahimahullahu, agar jangan sampai engkau mengatakan: “Kami mendapatkan beberapa perselisihan dan fitnah di bulan Ramadhan (lalu bagaimana dikatakan setan-setan itu dibelenggu sementara kejahatan tetap ada? -pent.).” Kita jawab bahwa yang dibelenggu adalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat. Sedangkan setan-setan yang kecil dan setan-setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran tidak dibelenggu. Demikian pula jiwa yang memerintahkan kepada kejelekan, teman-teman duduk yang jelek dan tabiat yang memang senang dengan fitnah dan pertikaian. Semua ini tetap ada di tengah manusia, tidak terbelenggu kecuali jin-jin yang sangat jahat. (Ijabatus Sa`il ‘ala Ahammil Masa`il, hal. 163)

Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullahu berkata dalam Shahih-nya (3/188): “Bab penyebutan keterangan bahwa hanyalah yang diinginkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ hanyalah jin-jin yang jahat, bukan semua setan. Karena nama setan terkadang diberikan kepada sebagian mereka (tidak dimaukan seluruhnya).”

Di bulan yang mubarak ini ada malaikat yang menyeru kepada kebaikan dan menyeru untuk mengurangi kejelekan sebagaimana dalam lafadz hadits:

وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ

“Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.”

Hadits-hadits tentang Keutamaan Ramadhan
Selain hadits di atas, banyak lagi hadits lain yang berbicara tentang keutamaan Ramadhan. Di antaranya akan kita sebutkan berikut ini:

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 1778)
2. Dari ‘Imran bin Murrah Al-Juhani radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Seseorang datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله، وَأَنَّكَ رَسُوْلَ اللهِ، وَصَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ، وَأَدَّيْتُ الزَّكاةَ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، فَمِمَّنْ أَنَا؟ قَالَ: مِنَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ

“Wahai Rasulullah, apa pendapat anda bila aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah saja dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah, aku mengerjakan shalat lima waktu, menunaikan zakat dan puasa di bulan Ramadhan, maka termasuk dalam golongan manakah aku?” Rasulullah menjawab: “Engkau termasuk golongan shiddiqin dan syuhada.” (HR. Al-Bazzar, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya, dan lafadz yang disebutkan adalah lafadz Ibnu Hibban. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 989)

3. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ، لِلَّهِ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang pada kalian Ramadhan bulan yang diberkahi. Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan atas kalian untuk puasa di bulan ini. Pada bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka serta dibelenggu setan-setan yang sangat jahat. Pada bulan ini Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang diharamkan untuk mendapatkan kebaikan malam itu maka sungguh ia telah diharamkan.” (HR. Ahmad, 2/385, An-Nasa`i no. 2106, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa`i. Lihat Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 985, Al-Misykat no. 1962)

4. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةَ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ، إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at berikutnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, apabila dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 549)

Cukuplah kiranya keutamaan bagi Ramadhan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya di antara bulan-bulan yang ada untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kitab-Nya yang mulia di bulan berkah tersebut, di malam yang penuh kemuliaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتِ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dengan yang batil.” (Al-Baqarah: 185)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur`an itu pada malam Qadar (malam kemuliaan).” (Al-Qadar: 1)

Puasa Semestinya Membuahkan Takwa
Hikmah disyariatkannya puasa dinyatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullahu berkata: “Perkara takwa yang dikandung puasa di antaranya:

  • Orang yang puasa meninggalkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan kepadanya berupa makan, minum, jima’ dan semisalnya, sementara jiwa itu condong kepada perkara yang harus ditinggalkan tersebut. Semua itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengharapkan pahala-Nya. Ini termasuk takwa.
  • Orang yang puasa melatih jiwanya untuk merasakan pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala (muraqabatullah), maka ia meninggalkan apa yang diinginkan jiwanya padahal ia mampu melakukannya, karena ia mengetahui pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadapnya.
  • Puasa itu menyempitkan jalan setan, karena setan itu berjalan pada anak Adam seperti peredaran/aliran darah. Dan puasa akan melemahkan jalannya sehingga mengecilkan perbuatan maksiat.
  • Orang yang puasa umumnya memperbanyak amalan ketaatan sementara amalan ketaatan termasuk perangai takwa.
  • Orang yang kaya jika merasakan tidak enaknya lapar maka mestinya ia akan memberikan kelapangan/memberi derma kepada orang-orang fakir yang tidak berpunya. Ini pun termasuk perangai takwa. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 86)

Dengan demikian sungguh tidaklah berlebihan bila kita katakan bahwa seharusnya momentum Ramadhan dijadikan langkah awal untuk memperbaiki iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, untuk kemudian iman dan takwa itu terus dipupuk dan dirawat di bulan-bulan selanjutnya. Dan jangan dibiarkan terpisah dari jiwa dan raga hingga datang jemputan dari utusan Ar-Rahman (malaikat maut). Khususnya kita –penduduk negeri ini– seharusnya berkaca diri berkaitan dengan segala petaka yang menimpa negeri kita, demikian pula musibah yang datang terus menerus, lagi susul menyusul. Tidaklah semua ini menimpa kita kecuali karena dosa-dosa kita dan jauhnya kita dari iman serta takwa kepada Al-Khaliq.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan/ulah manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Ar-Rum: 41)

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيْرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (Asy-Syura: 30)

Musibah yang menimpa negeri ini berupa gempa, tsunami, meletusnya gunung berapi, tanah longsor, semburan lumpur panas, dan sebagainya bukanlah karena kesialan penguasa/pemerintah sebagaimana tuduhan orang-orang dungu atau pura-pura dungu. Namun justru karena dosa-dosa yang ada di negeri ini. Terlepas apakah bencana ini karena rekayasa asing yang ingin menjatuhkan dan menghancurkan negeri ini sebagaimana analisa sebagian orang, atau murni musibah tanpa rekayasa, toh semuanya ditimpakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai teguran bagi kita agar kembali kepada-Nya. Bangkit dari lumpur hitam dosa dan maksiat, untuk kemudian bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya.

Yang sangat disesalkan, di antara penduduk negeri ini banyak yang tidak sadar dari maksiat mereka dengan musibah yang menimpa. Mereka malah melakukan praktik-praktik kesyirikan, membuat sesajen penolak bala yang dipersembahkan kepada roh-roh penguasa laut, penguasa gunung, penguasa darat, dan sebagainya. Na’udzubillah min dzalik!!!

Sehubungan dengan momentum Ramadhan sebagai bulan untuk menambah iman dan takwa, serta terkait dengan banyaknya musibah yang menimpa negeri ini, bagus sekali untuk kita nukilkan nasihat dari Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkenaan dengan musibah yang menimpa anak Adam, khususnya gempa bumi1. Mudah-mudahan nasehat ini bisa menjadi renungan bagi anak negeri ini.
Beliau rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Memiliki hikmah Maha Mengetahui terhadap apa yang Dia putuskan dan tetapkan, sebagaimana Dia Maha Memiliki Hikmah lagi Maha Mengetahui dalam apa yang Dia syariatkan dan perintahkan. Dia menciptakan apa yang diinginkan-Nya berupa tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dia tetapkan hal itu untuk menakut-nakuti hamba-Nya dan mengingatkan mereka tentang hak-Nya dan memperingatkan mereka dari kesyirikan, penyelisihan terhadap perintah-Nya dan melakukan larangan-Nya.”

Selanjutnya beliau menyatakan: “Tidaklah diragukan bahwa gempa yang terjadi pada hari-hari ini di banyak tempat/negeri merupakan sejumlah tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Seluruh musibah gempa yang terjadi dan perkara lainnya yang membuat kemudharatan para hamba dan menyebabkan gangguan bagi mereka, adalah disebabkan kesyirikan dan maksiat.”

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Tidaklah satu kebaikan menimpamu melainkan itu dari Allah dan tidaklah satu kejelekan menimpamu melainkan karena ulah dirimu sendiri.” (An-Nisa`: 79)

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata: “Yang wajib dilakukan oleh seluruh muslimin adalah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, istiqamah di atas agamanya dan berhati-hati dari seluruh perkara yang dilarang berupa syirik dan maksiat. Sehingga mereka memperoleh pengampunan, kelapangan, keselamatan di dunia dan di akhirat dari seluruh kejelekan, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menolak dari mereka seluruh musibah, lalu menganugerahkan kepada mereka setiap kebaikan. Sebagaimana Ia berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُوْنَ

“Seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa niscaya Kami bukakan bagi mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka malah mendustakan maka Kami pun menyiksa mereka disebabkan apa yang dulunya mereka upayakan.” (Al-A’raf: 96)

Kemudian Syaikh menukilkan ucapan Al-’Allamah Ibnul Qayyim rahimahullahu: “Di sebagian waktu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan bumi untuk bernapas panjang. Ketika itu terjadilah gempa/goncangan yang besar, sehingga menimbulkan ketakutan pada hamba-hamba-Nya, lalu mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mencabut diri dari maksiat, tunduk patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyesali diri, sebagaimana ucapan sebagian salaf ketika terjadi gempa bumi: ‘Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian.’ Ketika terjadi gempa di kota Madinah, ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu berkhutbah dan memberi nasehat kepada penduduk Madinah dan beliau berkata: ‘Kalau gempa ini terjadi lagi, aku tidak akan tinggal bersama kalian di Madinah ini.’

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menasehatkan: “Ketika terjadi gempa bumi dan tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala lainnya, gerhana, angin kencang dan banjir, yang wajib dilakukan adalah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tunduk menghinakan diri kepada-Nya dan memohon maaf/kelapangan-Nya serta memperbanyak mengingat-Nya dan istighfar pada-Nya. Sebagaimana ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika terjadi gerhana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Apabila kalian melihat gerhana maka berlindunglah kalian dengan zikir/mengingat Allah, berdoa kepada-Nya dan istighfar.”

Disenangi pula untuk memberikan kasih sayang kepada fakir miskin dan bersedekah kepada mereka dengan dalil sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمنُ، اِرْحَمُوْا مَنْ فِي اْلأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang menyayangi (memiliki sifat rahmah) akan dirahmati oleh Ar-Rahman. Sayangilah orang yang ada di bumi niscaya Yang di langit akan merahmati kalian.”2

مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

“Siapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi/dirahmati.”3

Diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu bahwa beliau mengirim surat kepada gubernur-gubernurnya ketika terjadi gempa agar mereka bersedekah.

Termasuk sebab kelapangan dan keselamatan dari semua kejelekan adalah agar pemerintah bersegera mengambil tangan rakyatnya dan mengharuskan mereka untuk berpegang dengan kebenaran dan menjalankan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala pada mereka serta amar ma’ruf nahi mungkar. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللهُ

“Kaum mukminin dan mukminat sebagian mereka adalah wali/kekasih bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat dan mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah yang akan dirahmati Allah.” (At-Taubah: 71)

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى معْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ. وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ. وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

“Siapa yang melepaskan seorang mukmin dari satu bencana/kesulitan dunia niscaya Allah akan melepaskannya dari satu bencana di hari kiamat. Siapa yang memberi kemudahan bagi orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutup kejelekan/cacat seorang muslim, Allah pun akan menutup cacatnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”4

Demikian nasehat dari Asy-Syaikh Ibnu Baz –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas dan melapangkan beliau di kuburnya, amin–. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati penduduk negeri ini dan menghilangkan musibah dari mereka serta memberi taufik kepada mereka agar bertaubat dan kembali kepada agama-Nya yang benar. Semoga penduduk negeri ini mengambil pelajaran yang berharga di bulan mubarak ini, bulan Ramadhan nan penuh keberkahan, menambah iman dan takwa mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga mereka menjadi , orang-orang yang dibebaskan dari api neraka. Allahumma amin.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan kaki:

1 Dinukil secara ringkas dari kitab Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 9/148-152.
2 HR. At-Tirmidzi no. 1924, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, no. 922
3 HR. Al-Bukhari no. 7376
4 HR. Muslim no. 6793

Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=374

BENARKAH SALAFY WAHABY MEMBATASI JUMLAH ROKAAT TARAWIH HANYA 8 RAKA’AT SAJA? Adakah riwayat dari Ibnu Abbas yang menunjukkan bahwa Nabi sendiri pernah sholat pada bulan Ramadlan 20 rokaat tambah witir? 1 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in fiqih, puasa, shalat.
1 comment so far

BENARKAH SALAFY WAHABY MEMBATASI JUMLAH ROKAAT TARAWIH HANYA 8 RAKA’AT SAJA? Adakah riwayat dari Ibnu Abbas yang menunjukkan bahwa Nabi sendiri pernah sholat pada bulan Ramadlan 20 rokaat tambah witir?

 

MENYINGKAP SYUBHAT SEPUTAR TARAWIH

Penulis Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman

Muqoddimah

Alhamdulillah, segenap puji hanya untuk Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang menjadikan Ramadlan sebagai bulan penuh keberkahan, ampunan, rahmat, dan kebaikan. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada teladan mulya, Rasulullah Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam yang telah mensunnahkan Qiyaamu Ramadlan dan amalan-amalan ibadah lain yang sarat dengan maslahat dan keberkahan.

Saudaraku kaum muslimin, semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmatNya kepada kita semua…

Salah satu upaya penentang dakwah Ahlussunnah untuk menjauhkan umat dari dakwah yang mulya ini adalah dengan menjauhkan mereka dari para Ulama’ yang sesungguhnya. Penentang dakwah Ahlussunnah tersebut menyematkan gelar-gelar dan penamaan yang aneh dan buruk terhadap orang-orang yang berpegang teguh dengan Sunnah, kokoh di dalam meniti jejak Salafus Sholeh (Salafy).

Penyebutan ‘wahaby’ misalnya, adalah penyebutan yang salah dari sisi bahasa maupun makna. Gelar wahaby disematkan pada orang-orang yang selama ini kokoh di atas Sunnah Nabi untuk mengesankan bahwa mereka adalah orang-orang yang hanya fanatik dan taqlid buta terhadap Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. (untuk mengetahui lebih jauh tentang penisbatan nama Wahaby dan tujuan di baliknya, silakan disimak lebih lanjut artikel yang ditulis al-Ustadz Ruwaifi’ berjudul: ‘Siapakah Wahhabi?’ di http://darussalaf.or.id/stories.php?id=130)

Para Ulama’ Ahlussunnah semisal Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin, Syaikh Sholih al-Fauzan, dan para Ulama’ lain yang semanhaj dengan mereka dianggap sebagai Wahaby. InsyaAllah pada tulisan yang lain akan dijelaskan sisi-sisi lain kesalahan penisbatan nama  Wahaby tersebut kepada Ahlussunnah.

Terdapat suatu tulisan pada blog penentang dakwah Ahlussunnah yang berjudul: Fitnah dan Bid’ah Wahaby (Salafy Palsu) di Bulan Ramadhan(1). Tulisan itu menyoroti jumlah rokaat tarawih dan menganggap bahwa Ulama’Ahlussunnah (yang mereka sebut sebagai Wahaby) telah mengada-ada dan membatasi jumlah rokaat tarawih hanyalah 8. Pada tulisan ini insyaAllah akan disingkap kedustaan tuduhan tersebut serta syubhat-syubhat yang terkait dengan sholat tarawih. Hanya kepada Allahlah seharusnya kita bertawakkal, tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Syubhat ke-1: Wahaby Membatasi Jumlah Rokaat Tarawih Hanya 8

Disebutkan dalam blog penentang dakwah Ahlussunnah:

“Diantara Fitnah wahhaby dibulan Ramadhan :

1.    Wahaby mensyariatkan Shalat Sunnah Tarawih 8 rekaat, padahal tidak ada satupun Imam Madzab Sunni yang mensyariatkan “

Bantahan:

Jika yang dimaksud dengan istilah Wahaby (padahal istilah tersebut salah secara nama, makna, dan penisbatan) oleh mereka adalah para Ulama’ Ahlussunnah seperti yang terhimpun dalam al-Lajnah adDaimah Saudi Arabia (yang pada saat itu dipimpin oleh Syaikh bin Baaz), atau Ulama’ Ahlussunnah lain semisal Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin, maka itu adalah justru tuduhan tanpa dasar.

Para Ulama’ Ahlussunnah tersebut tidaklah memberikan batasan jumlah rokaat pada sholat tarawih dan witir yang biasa dilakukan pada bulan Ramadlan.

Kita bisa menyimak Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah:

صلاة التراويح إحدى عشرة أو ثلاث عشرة ركعة، يسلم من كل ثنتين ويوتر بواحدة أفضل، تأسيا بالنبي صلى الله عليه وسلم، ومن صلاها عشرين أو أكثر فلا بأس، لقول النبي صلى الله عليه وسلم « صلاة الليل مثنى مثنى فإذا خشي أحدكم الصبح صلى ركعة واحدة توتر له ما قد صلى » متفق عليه فلم يحدد صلاة الله وسلامه عليه ركعات محدودة ولأن عمر رضي الله عنه والصحابة رضي الله عنهم صلوها في بعض الليالي عشرين سوى الوتر، وهم أعلم الناس بالسنة

“Sholat tarawih (ditambah witir) sebelas atau tiga belas rokaat, salam pada tiap dua rokaat dan witir dengan satu rokaat adalah paling utama, sebagai bentuk mencontoh Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam. Barangsiapa yang sholat 20 rokaat atau lebih, maka tidak mengapa, berdasarkan sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam: “Sholat malam itu dua-dua rokaat, jika salah seorang dari kalian khawatir masuk Subuh, maka hendaknya ia sholat 1 rokaat yang merupakan witir terhadap sholat-sholat sebelumnya” (Muttafaqun ‘alaih).

Maka Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah membatasi jumlah rokaat (tarawih dan witir) dengan batasan tertentu. Dan karena Umar –semoga Allah meridlainya- dan para Sahabat –semoga Allah meridlai mereka- sholat pada sebagian malam 20 rokaat selain witir, padahal mereka adalah manusia yang paling mengetahui tentang Sunnah” (Fatwa yang merupakan jawaban dari pertanyaan nomor 6148).

Nash-nash AlQur’an ataupun as-Sunnah tidak ada yang menyebutkan istilah tarawih secara khusus. Dalam hadits hanya disebutkan sebagai istilah: ‘qiyaamu Ramadlan’ atau qiyaamul lail pada bulan Ramadlan.

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang qiyaamul lail pada bulan Ramadlan dengan iman dan ikhlas, maka diampunilah dosanya yang telah lalu (Muttafaqun ‘alaih).

Istilah tarawih adalah istilah dari para Ulama’ untuk mengisyaratkan sholat malam yang biasa dilakukan berjamaah pada bulan Ramadlan. Disebut sebagai tarawih karena biasanya dilakukan dalam waktu yang cukup lama, sehingga membutuhkan waktu beristirahat sejenak (تَرْوِيْحَة ( pada setiap 2 kali salam (Lihat Lisaanul ‘Arab (2/462), Fathul Baari (4/294), dan Syarh Shahih Muslim linNawawi (6/39)).

Dalam hal jumlah rokaat tarawih dan witir ini ada 2 kelompok yang keliru. Kelompok pertama, membatasi hanya 11 rokaat dan membid’ahkan kaum muslimin yang sholat lebih dari 11 rokaat. Sebaliknya, kelompok ke-2 adalah yang mengingkari kaum muslimin yang sholat hanya dengan 11 rokaat, dan mengatakan bahwa mereka telah menyelisihi ijma’.

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin menyatakan:

“Dalam hal ini kita katakan: Tidak boleh bagi kita bersikap ghuluw (melampaui batas) dan meremehkan. Sebagian manusia berlebihan dalam hal berpegang teguh dengan as-Sunnah dalam hal jumlah rokaat. Ia berkata: Tidak boleh menambah jumlah (rokaat) yang telah tersebut dalam As-Sunnah. Dan ia mengingkari dengan pengingkaran yang keras orang-orang yang menambahi jumlah rokaat tersebut dan berkata: sesungguhnya itu adalah dosa dan maksiat.

Yang demikian ini, tidak diragukan lagi adalah salah. Bagaimana bisa dikatakan berdosa dan bermaksiat? Padahal Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang sholat malam, beliau bersabda: “ Dua rokaat-dua rokaat, dan beliau tidaklah membatasi jumlah. Telah dimaklumi bahwa orang yang bertanya kepada beliau tentang sholat malam tidaklah mengetahui jumlah rokaatnya. Karena seseorang yang tidak mengetahui tentang tata caranya, maka tentu lebih tidak tahu tentang jumlah rokaatnya. Penanya tersebut juga bukan pembantu Nabi sehingga kita katakan: ‘sesungguhnya ia tahu apa yang terjadi di rumah beliau’. Maka jika Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepadanya tentang tata cara sholat tanpa membatasi jumlah rokaat tertentu, berarti bisa diketahui bahwa dalam masalah ini terdapat keleluasaan. Tidak mengapa bagi seseorang untuk sholat 100 rokaat dan witir dengan 1 rokaat.

Adapun sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam : “Sholatlah sebagaimana kalian melihat aku sholat”. Ini bukanlah pada keumumannya, sekalipun terhadap mereka. Karena itu mereka tidak mewajibkan manusia untuk witir sesekali dengan 5 rokaat, sesekali dengan 7 rokaat, sesekali 9 rokaat. Kalau kita mengambil keumuman tersebut niscaya kita akan berkata: Wajib berwitir dengan 5 rokaat sesekali, 7 rokaat sesekali, 9 rokaat sesekali secara langsung. Sesungguhnya yang dimaksud adalah: Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat dalam tata cara (kaifiat). Adapun dalam hal jumlah rokaat tidak, kecuali ada nash yang menunjukkan batasannya.

Intinya, semestinya seseorang tidak bersikap keras pada manusia dalam hal yang ada keleluasaan. Sampai-sampai kita melihat sebagian saudara kita yang bersikap keras dalam masalah ini dan membid’ahkan para Imam yang menambah dari 11 rokaat, sehingga mereka keluar dari masjid, dan luputlah dari mereka pahala yang besar, yang disabdakan Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang shalat bersama Imam sampai Imam tersebut berpaling, maka tercatat ia melakukan qiyamul lail satu malam penuh” (riwayat atTirmidzi). Kadang-kadang mereka duduk jika telah sholat 10 rokaat, sehingga mengakibatkan terputusnya shof dengan duduk mereka. Kadang-kadang mereka berbincang-bincang satu sama lain, sehingga mengganggu orang yang sholat.

“ dan kita tidak meragukan bahwa mereka menginginkan kebaikan, dan mereka berijtihad, akan tetapi  tidak setiap orang yang berijtihad benar.

Kelompok ke-2: kebalikan dari itu. Mereka mengingkari orang-orang yang hanya sholat 11 rokaat dengan pengingkaran yang besar.

Mereka berkata: ‘orang-orang itu telah keluar dari ijma’, padahal Allah berfirman (yang artinya): Barangsiapa yang menyelisihi Rasul, setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti selain jalan orang beriman, kami akan palingkan ia ke arah dia berpaling dan kami akan masukkan ia ke Jahannam, dan Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali”. Semua orang sebelummu tidak mengetahui (jumlah rakaat tarawih) kecuali 20 rokaat, kemudian bersikap keras dalam masalah ini. Dan ini juga salah. (Syarhul Mumti’ (4/73-75).

Syubhat ke-2: Nabi Sholat Berjamaah Tarawih 8 Rokaat Kemudian Para Sahabat Menyempurnakan (Tambahan) di Rumah-rumah Mereka


Blog penentang dakwah Ahlussunnah tersebut menyebutkan hadits :

أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم خَرَجَ مِن جَوْفِ اللَّيلِ لَيَالِي مِن رَمَضَانَ وَهِيَ ثَلاَثُ مُتَفَرِّقَةٌ: لَيْلَةُ الثَّالِثِ وَالْخَامِسِ وَالسَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ، وَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ، وَصَلَّى النَّاسُ بِصَلاَتِهِ فِيهَا، وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ، وَيُكَمِّلُونَ بَاقِيهَا فِي بُيُوتِهمْ

“Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم keluar untuk sholat malam di bulan Ramadhan sebanyak tiga tahap: malam ketiga, kelima dan kedua puluh tujuh untuk sholat bersama umat di masjid. Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم sholat bersama mereka sebanyak delapan rakaat, dan kemudian mereka menyempurnakan baki sholatnya di rumah masing-masing.

Bantahan:

Dalam nukilan hadits yang ditulis dalam blog penentang dakwah Ahlussunnah tersebut terdapat kalimat:

وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ، وَيُكَمِّلُونَ بَاقِيهَا فِي بُيُوتِهمْ

“ Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam sholat bersama mereka 8 rokaat, kemudian mereka menyempurnakan sisanya di rumah mereka”.

Pada catatan kaki (nomor 8), dikatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Padahal, jika kita simak dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, tidak ada lafadz semacam itu. Ini adalah kesalahan yang menunjukkan kelemahan mereka dalam ilmu hadits.

Semestinya, dalam riwayat alBukhari dan Muslim disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

Dari ‘Aisyah : Sesungguhnya Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam sholat di masjid pada suatu malam, kemudian sholatlah bersama beliau sekelompok manusia. Kemudian sholat pada malam selanjutnya, sehingga banyaklah manusia. Kemudian pada malam ke-3 dan ke-4 manusia berkumpul, tetapi Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam tidak keluar menuju mereka. Ketika pagi hari beliau bersabda: Aku telah melihat apa yang kalian lakukan. ‘Tidaklah ada yang mencegahku untuk keluar menuju kalian kecuali aku khawatir (sholat malam) diwajibkan bagi kalian’. (Perawi berkata): Yang demikian itu terjadi pada bulan Ramadlan (riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hal perbuatan, riwayat yang menunjukkan jumlah rokaat sholat malam Nabi adalah 11 rokaat, dan ada juga riwayat yang menyatakan 13 rokaat.

Riwayat yang menunjukkan 11 rokaat adalah keadaan yang paling sering beliau lakukan.

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

Dari Abu Salamah bin Abdirrahman yang mengkhabarkan bahwa ia bertanya kepada ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha tentang bagaimana sholat Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam pada bulan Ramadlan. ‘Aisyah berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah menambah pada bulan Ramadlan maupun pada bulan lainnya lebih dari 11 rokaat “ (Muttafaqun ‘alaih).

Riwayat yang menunjukkan 13 rokaat:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ يُصَلِّي إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha beliau berkata: “Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam sholat malam 13 rokaat, kemudian sholat dua rokaat ringan setelah mendengar adzan Subuh” (riwayat al-Bukhari).

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany menyatakan bahwa kedua riwayat itu tidak bertentangan karena bisa jadi (pada yang 13 rokaat) adalah termasuk sholat Sunnah ba’da isya’, atau bisa juga yang dimaksud adalah tambahan 2 rokaat yang ringan dilakukan (Lihat Fathul Baari juz 4 halaman 123).

Sedangkan dalam hal ucapan, beliau hanya menyatakan bahwa sholat malam itu 2 rokaat-2 rokaat tanpa membatasi jumlah rokaat tertentu sebagaimana hadits Mutafaqun ‘alaih.

Syubhat ke-3: Ada riwayat khusus dari Ibnu Abbas yang menunjukkan bahwa Nabi sendiri pernah sholat pada bulan Ramadlan 20 rokaat tambah witir

Dalil yang digunakan adalah hadits:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ جَمَاعَةٍ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرِ

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam sholat pada bulan Ramadlan dengan tidak berjamaah 20 rokaat dan witir

Bantahan:

Hadits itu lemah karena adanya perawi yang bernama Abu Syaibah Ibrohim bin ‘Utsman, demikian dinyatakan oleh al-Baihaqy (Lihat Talkhiisul Habiir karya Ibnu Hajar al-‘Asqolaany juz 2 halaman 21 dan Nailul Authar karya AsySyaukaany juz 3 halaman 64).

SUMBER :

BANTAHAN TERHADAP SITUS DAN BLOG PENENTANG MANHAJ SALAFY AHLUSSUNNAH

(BAGIAN IX)

BENARKAH SHOLAT TARAWIH DAN WITIR 23 ROKA’AT LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN 11 ROKA’AT KARENA LEBIH BANYAK JUMLAH ROKA’ATNYA..? Apakah Sholat tarawih dan witir memang disunnahkan dilakukan dalam keadaan cepat, lebih cepat dari sholat fardlu ? 1 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in fiqih, puasa, shalat.
add a comment

BENARKAH SHOLAT TARAWIH DAN WITIR 23 ROKA’AT LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN 11 ROKA’AT KARENA LEBIH BANYAK JUMLAH ROKA’ATNYA..? Apakah Sholat tarawih dan witir memang disunnahkan dilakukan dalam keadaan cepat, lebih cepat dari sholat fardlu ?

MENYINGKAP SYUBHAT SEPUTAR TARAWIH

Penulis Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman

Syubhat ke-4: Jumlah rokaat 11 berdasarkan hadits ‘Aisyah tidak bisa diamalkan karena menyelisihi perintah Umar. Sedangkan Umar lebih tahu dari ‘Aisyah.

Disebutkan dalam blog penentang Ahlussunnah:

“Dalam perbahasan Sholat Tarawih ini, jika benar hadith Sayyidatuna ‘Aisyah di atas tentang Sholat Tarawih, ia tetap tidak boleh dijadikan dalil untuk menolak pendapt Sayyiduna Umar dan para sahabat lain yang mereka ijma’ (sepakat) melaksanakannya dengan 20 rakaat. Dalam perkara ini, Sayyidatuna ‘Aisyah melihat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang 11 rakaat, sedangkan Sayyiduna Umar dan para sahabat lain yang utama juga melihat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang dengan 23 rakaat. Maka, mengikut kaedah ini, orang yang banyak ilmunya didahulukan dari orang yang kurang ilmu pengetahuannya”

Bantahan:

Dalam masalah jumlah rokaat sholat yang dilakukan Nabi, ‘Aisyah lebih tahu dibandingkan yang selain beliau. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany:

وَأَمَّا مَا رَوَاهُ اِبْنُ أَبِي شَيْبَةَ مِنْ حَدِيث اِبْن عَبَّاسٍ ” كَانَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي رَمَضَان عِشْرِينَ رَكْعَة وَالْوِتْرَ ” فَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ ، وَقَدْ عَارَضَهُ حَدِيثُ عَائِشَة هَذَا الَّذِي فِي الصَّحِيحَيْنِ مَعَ كَوْنِهَا أَعْلَمَ بِحَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلًا مِنْ غَيْرِهَا

“Adapun apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu Abbas : Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sholat pada bulan Ramadlan 20 rokaat dan witir, sanadnya lemah. Hal ini bertentangan dengan hadits ‘Aisyah ini dalam Shahihain, bersamaan dengan keadaan beliau (‘Aisyah) yang lebih mengetahui keadaan Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam pada waktu malam dibandingkan selainnya” (Lihat Fathul Baari juz 6 halaman 295).

Syubhat ke-5: Umar hanya memerintahkan 20 rokaat sholat tarawih.

Bantahan:

Terdapat beberapa riwayat yang shahih tentang jumlah rokaat tarawih dan witir yang diperintahkan Umar bin al-Khottob, yaitu 11, 13 dan 23 rokaat. Riwayat yang menunjukkan 11 rokaat:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّهُ قَالَ أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْرِ

Dari Muhammad bin Yusuf dari as-Saa-ib bin Yaziid bahwa dia berkata: Umar bin al-Khottob memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamiim ad-Daari untuk mengimami manusia dengan 11 rokaat. Imam pada waktu itu membaca 200 ayat sampai kami bersandar pada tongkat karena demikian lamanya berdiri. Dan tidaklah kami berpaling kecuali menjelang fajar (diriwayatkan oleh Malik dalam alMuwattho’).

Sanad riwayat ini shahih, karena para perawi dalam riwayat ini adalah rijaal (perawi) dalam Shahih alBukhari dan Muslim. Malik meriwayatkan dari Muhammad bin Yusuf dari as-Saaib bin Yaziid.

Dalam riwayat lain dinyatakan bahwa di masa Umar dilakukan sholat 13 rokaat:

عن السائب بن يزيد قال كنا نصلي في زمن عمر رضي الله عنه  في رمضان ثلاث عشرة ركعة

Dari as-Saa-ib bin Yaziid beliau berkata: ‘Kami sholat di zaman Umar radliyallaahu ‘anhu pada Ramadlan 13 rokaat (diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr alMaruuzi dari jalur Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Yusuf dari as-Saa-ib bin Yaziid).

Sedangkan riwayat 23 rokaat, ada yang dalam bentuk penyebutan 20 rokaat selain witir seperti yang diriwayatkan oleh Malik dari Yaziid bin Khosiifah dari as-Saa-ib bin Yaziid. Bisa juga dalam bentuk penyebutan langsung 23 rokaat:

عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً

Dari Yazid bin Ruumaan bahwasanya dia berkata: Manusia melakukan sholat malam di zaman Umar bin al-Khottob pada Ramadlan sebanyak 23 rokaat (diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwattho’).

Muhammad bin Nashr juga meriwayatkan dari jalur ‘Atho’ jumlah 23 rokaat di masa Umar.

AlHafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany menyatakan:

وَالْجَمْعُ بَيْن هَذِهِ الرِّوَايَات مُمْكِنٌ بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَال ، وَيَحْتَمِل أَنَّ ذَلِكَ الِاخْتِلَافَ بِحَسَبِ تَطْوِيلِ الْقِرَاءَة وَتَخْفِيفِهَا فَحَيْثُ يُطِيلُ الْقِرَاءَة تَقِلُّ الرَّكَعَات وَبِالْعَكْسِ وَبِذَلِكَ جَزَمَ الدَّاوُدِيُّ وَغَيْره ، وَالْعَدَد الْأَوَّل مُوَافِق لِحَدِيثِ عَائِشَة الْمَذْكُور بَعْد هَذَا الْحَدِيث فِي الْبَاب ، وَالثَّانِي قَرِيب مِنْهُ ، وَالِاخْتِلَاف فِيمَا زَادَ عَنْ الْعِشْرِينَ رَاجِعٌ إِلَى الِاخْتِلَاف فِي الْوِتْر وَكَأَنَّهُ كَانَ تَارَة يُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ وَتَارَة بِثَلَاثٍ

“Penggabungan riwayat-riwayat ini mungkin dilakukan karena adanya perbedaan keadaan. Bisa juga yang demikian itu disebabkan perbedaan (kadangkala) bacaan yang panjang dan (kadangkala) pendek. Maka jika bacaannya panjang, jumlah rokaatnya sedikit. Demikian sebaliknya. Ini adalah pendapat ad-Daawudi dan selainnya. Jumlah (rokaat) yang pertama (11) sesuai dengan hadits ‘Aisyah yang akan disebutkan setelah hadits ini pada bab yang sama, sedangkan jumlah rokaat yang kedua (13) dekat dengannya. Perbedaan riwayat untuk jumlah rokaat yang lebih dari 20 dikembalikan pada perbedaan witir. Kadangkala witir dengan 1 rokaat, kadangkala 3 rokaat (Lihat Fathul Baari juz 6 halaman 292).

Dari penjelasan tersebut jelaslah bahwa pada masa Umar bin al-Khottob sendiri jumlah rokaat tarawih dan witirnya tidak hanya dilakukan 23 rokaat saja, namun juga pernah 11 rokaat dan 13 rokaat.

Syubhat ke-6: Sholat tarawih dan witir 23 rokaat lebih utama dibandingkan 11 rokaat karena lebih banyak jumlah rokaatnya

Disebutkan dalam blog penentang dakwah Ahlussunnah:

Oleh itu, dari segi bilangan sahaja umpamanya, tentulah 20 rakaat Sholat Tarawih lebih baik dari 8 rakaat dan pahalanya tentu sekali lebih banyak. Ini tidak termasuk pahala berapa kali qiyam, ruku’, sujud…., bacaan Surah Al-Fatihah, bacaan surah dan bacaan-bacaan lain ketika sembahyang, pahala mendengar orang membaca Al-Quran di dalam sembahyang, pahala sabar ketika qiyam yang mungkin agak lama dan panjang…jika dilakukan sebanyak 20 rakaat itu. Bolehlah diqiyaskan kepada perlakuan dan pembacaan yang lain yang ada kaitan dengan Sholat Tarawih ini”

Bantahan:

Perlu dipahami bahwa tidak selalu jumlah rokaat yang lebih banyak akan lebih utama dibandingkan dengan jumlah rokaat yang lebih sedikit. Hal itu tergantung juga dengan banyaknya jumlah ayat yang dibaca, kehusyukannya, benar dan tepatnya lafadz bacaan yang dibaca, dan banyak parameter yang lain.

Al-Imam Asy-Syafi’i sendiri lebih cenderung menyukai sholat sunnah yang lebih lama berdirinya dan jumlah sujudnya sedikit dibandingkan berdirinya sebentar dan jumlah sujudnya banyak. Beliau menyatakan:

فإن أطالوا القيام وأقلوا السجود فحسن ، وهو أحب إلي ، وإن أكثروا الركوع والسجود فحسن

“ Jika mereka memanjangkan (masa) berdiri dan sedikit jumlah sujud maka itu baik, dan yang demikian ini lebih aku sukai. Jika mereka memperbanyak ruku’ dan sujud maka itu juga baik” (dinukil oleh Abu Nashr al-Maruuzi dalam Qiyaamu Ramadlan juz 1 halaman 21).

Telah disebutkan penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany ketika menggabungkan perbedaan riwayat jumlah rokaat di masa Umar (11,13, dan 23 rokaat). Bahwa jika jumlah ayat yang dibaca banyak, jumlah rokaatnya sedikit, sebaliknya jika jumlah ayat yang dibaca sedikit, jumlah rokaat banyak. Meskipun 2 keadaan itu sama-sama baik, namun al-Imam Asy-Syafi’i lebih menyukai yang lama berdirinya (karena ayat yang dibaca banyak/panjang) meski jumlah sujudnya sedikit.

Sebelas rokaat atau 23 rokaat dua-duanya adalah baik. Namun yang terbaik adalah yang paling mendekati perbuatan Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam. Beliau melakukan 11 rokaat atau 13 rokaat dengan memanjangkan bacaan dalam ayat. ‘Jangan kalian tanya bagusnya’, kata ‘Aisyah radliyallahu anha dalam mensifatkan sholat sunnah Nabi. Hudzaifah bin al-Yaman juga mengisahkan bahwa beliau shollallaahu ‘alaihi wasallam membaca AlBaqoroh, AnNisaa’, dan Ali Imran dalam satu rakaat. Luar biasa lama masa berdirinya. Bahkan, setiap sampai ayat tentang tasbih, beliau bertasbih, jika sampai pada ayat tentang permintaan, beliau meminta kepada Allah, dan ketika membaca ayat tentang adzab beliau mohon perlindungan kepadaNya. Tidak mengherankan jika kondisi lama berdiri menyebabkan kaki beliau bengkak dan pecah-pecah. Hal itu sebagai perwujudan keinginan beliau menjadi hamba yang bersyukur.

Namun, keadaan jumlah ayat yang dibaca maupun lama berdiri dalam sholat harus disesuaikan dengan keadaan makmum. Jika makmum suka dan tidak menyusahkan mereka jika itu dilakukan, maka panjangnya bacaan yang menyebabkan lamanya berdiri dalam sholat adalah yang terbaik dilakukan.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ قَالَ طُولُ الْقُنُوتِ

Dari Jabir beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang sholat manakah yang lebih utama? Beliau menjawab: ‘yang panjang (lama) masa berdirinya’ (H.R Muslim).

Apalagi, yang mayoritas terjadi adalah banyaknya jumlah rokaat pada sholat tarawih di bulan Ramadlan menyebabkan pelaksanaan sholat dilakukan secara cepat, bahkan sangat cepat. Tidaklah mengherankan jika suatu masjid yang melakukan sholat 23 rokaat masa berakhirnya justru mendahului masjid lain yang sholat 11 rokaat. Kita tidak mengingkari jumlah rokaatnya, namun yang kita ingkari adalah demikian cepatnya sholat dilakukan sampai-sampai makmum bahkan imam sendiri sulit mendapatkan kekhusyukan dengan bacaan yang cepat dan kondisi tergesa-gesa semacam itu. Ketika sujud yang dilakukan bagaikan ayam yang mematuk makanan, belum selesai sang makmum menyempurnakan kadar bacaan wajib dalam ruku’ ataupun sujudnya, imam sudah berpindah pada posisi gerakan yang lain. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala memberikan hidayahNya kepada segenap kaum muslimin…

Syubhat ke-7: Sholat tarawih dan witir memang disunnahkan dilakukan dalam keadaan cepat, lebih cepat dari sholat fardlu

Syubhat semacam ini bisa ditemui pada sebagian situs. Pada sebuah situs terdapat tanya jawab sebagai berikut (dinukil inti pertanyaan dan jawabannya):

Bagaimana jika kita tarawih imannya membaca Al Fatihah atau surah sesudahnya (surah pendek) dalam satu nafas…sedang kita membaca Fatihah sesudah imam sehingga kita tidak bisa menyelesaikan fatihah kita tetapi menyebabkan kita tertinggal rukun … Apa kita tertinggal rukun walau tidak sampai 2 rukun panjang, atau membaca Al Fatihah bersama dengan imam saja?……Atau ikut mazhab lain yang menyatakan Fatihah sudah ditanggung imam?…bagaimana ya bib? atau ada cara yang lebih baik?

Jawaban dari situs tersebut:

mengenai shalat tarawih cepat, hal itu merupakan pengenalan sunnah pula, karena Rasul saw pernah melakukan shalat sunnah yg sangat cepat sebagaimana riwayat shahih Bukhari dan shahih Muslim, bahwa sedemikian cepatnya seakan beliau itu tidak shalat, namun beliau menyempurnakan tumaninahnya

Pada bagian lain di situs tersebut terdapat topik berjudul: Sholat Tarawih dengan cepat-kilat.

Terdapat pertanyaan sebagai berikut:

Bagaimana hukum sholat tarawih dengan Imam membaca surat2 dengan cepatnya dan gerakan2 sholat yang kilat? padahal disitu ada jamaah orang2 tua yang kewalahan mengikuti gerakan imam…?

terimakasih…

Jawaban dari situs tersebut:

mengenai pelaksanaan Tarawih dg cepat adalah fatwa Madzhab Syafii, karena mesti dibuat lebih ringan dan cepat daripada shalat fardhu, karena tarawih adalah shalat sunnah yg dilakukan secara berjamaah, maka tidak boleh disamakan dengan shalat fardhu, Ihtiraaman wa ta’dhiiman lishalatilfardh (demi memuliakan shalat fardhu) diatas shalat sunnah.

melakukan shalat sunnah dg cepat adalah diperbolehkan bahkan pernah dilakukan oleh Rasul saw, dalilnya adalah bahwa riwayat Aisyah ra bahwa Rasul saw pernah melakukan shalat sunnah sedemikian cepatnya seakan beliau tidak shalat dari cepatnya. (Shahih Bukhari).

riwayat lainnya bahwa Rasul saw melakukan shalat sedemikian cepatnya seakan beliau saw tak membaca fatihah, akan tetapi beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya (Shahih Bukhari)

demikian riwayat riwayat diatas memberikan kefahaman bagi kita bahwa shalat sunnah boleh cepat, dan pada madzhab Syafii bahwa shalat Tarawih berjamaah hendaknya dipercepat agar tak disamakan dengan shalat fardhu, juga sekaligus mengenalkan kembali sunnah Nabi saw, bahwa Nabi saw pun sering melakukan shalat sunnah dg cepat,

pengingkaran dimasa kini adalah karena muslimin sudah tidak lagi mengetahui bahwa shalat sunnah dg cepat itu adalah sunnah Nabi saw, maka perlu dihidupkan dan dimakmurkan agar muslimin tidak alergi dan kontra terhadap sunnah Nabinya saw.

mengenai orang tua yg tak mampu mengikuti cepatnya gerakan Imam sebaiknya duduk, shalatnya tetap sah karena shalat sunnah boleh dilakukan sambil duduk walaupun tidak udzur sekalipun, berbeda dg shalat fardhu yg tak boleh dilakukan sambil duduk kecuali ada udzur,

Bantahan:

Tidak benar bahwa sholat tarawih disunnahkan dilakukan lebih cepat dari sholat fardlu. Bahkan sholat sunnah qiyamul lail (sebagaimana tarawih dan witir yang merupakan qiyaamul lail di bulan Ramadlan) lebih diutamakan jika jumlah ayat yang dibaca banyak dan dibaca tartil (tidak tergesa-gesa).

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ

“Barangsiapa yang qiyaamul lail dengan membaca 10 ayat dia tidak tercatat sebagai orang yang lalai, barangsiapa yang qiyamul lail dengan membaca 100 ayat tercatat sebagai orang yang taat, barangsiapa yang qiyaamul lail dengan 1000 ayat tercatat sebagai orang yang mendapat pahala berlimpah” (H.R Abu Dawud)

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan (tartil)”(Q.S alMuzzammil:1-4).

Pada masa Nabi sholat tarawih berjamaah bersama Sahabat Nabi, cukup lama sholat itu didirikan, sampai para Sahabat khawatir tidak bisa makan sahur.

Dikatakan oleh Sahabat Nabi Abu Dzar:

…فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ

…”maka Nabi melakukan qiyaamul lail (di bulan Ramadlan) bersama kami sampai-sampai kami khawatir akan terluput dari makan sahur”(H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaa-i, Ibnu Majah).

Sunnah ini dilanjutkan di masa Umar bin al-Khottob pada saat beliau memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamiim adDaari menjadi imam sholat, begitu lamanya sholat dilakukan sampai-sampai para Sahabat bersandar pada tongkat karena lama berdirinya.

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّهُ قَالَ أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْرِ

Dari Muhammad bin Yusuf dari as-Saa-ib bin Yaziid bahwa dia berkata: Umar bin al-Khottob memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamiim ad-Daari untuk mengimami manusia dengan 11 rokaat. Imam pada waktu itu membaca 200 ayat sampai kami bersandar pada tongkat karena demikian lamanya berdiri. Dan tidaklah kami berpaling kecuali menjelang fajar (diriwayatkan oleh Malik dalam alMuwattho’).

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam beberapa kali sholat malam bersama sebagian Sahabat. Beliau pernah sholat malam bersama Abdullah bin Mas’ud:

عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَطَالَ حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سَوْءٍ قَالَ قِيلَ وَمَا هَمَمْتَ بِهِ قَالَ هَمَمْتُ أَنْ أَجْلِسَ وَأَدَعَهُ

Dari Abu Waa-il beliau berkata: Abdullah (bin Mas’ud) berkata: ‘Aku pernah sholat bersama Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, beliau memanjangkan (masa berdiri) sampai aku berkehendak untuk melakukan perkara jelek. Ditanyakan kepada Ibnu Mas’ud: apa perkara jelek tersebut? Ibnu Mas’ud berkata: ‘aku berkeinginan untuk duduk dan meninggalkan beliau (sholat)(H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai Muslim).

Dalam riwayat Muslim pula Nabi pernah sholat malam bersama Hudzaifah bin alYaman. Dalam satu rokaat beliau membaca AlBaqoroh, AnNisaa’, dan Ali Imraan. Bagaimana bisa dikatakan bahwa sholat sunnah seharusnya lebih cepat dari sholat wajib sebagai bentuk penghormatan terhadap sholat wajib? Bukankah dalam sholat wajib Nabi tidak pernah menyelesaikan bacaan alBaqoroh saja dalam satu rokaat?

Pada situs itu juga dinyatakan sebagai berikut:

melakukan shalat sunnah dg cepat adalah diperbolehkan bahkan pernah dilakukan oleh Rasul saw, dalilnya adalah bahwa riwayat Aisyah ra bahwa Rasul saw pernah melakukan shalat sunnah sedemikian cepatnya seakan beliau tidak shalat dari cepatnya. (Shahih Bukhari).

riwayat lainnya bahwa Rasul saw melakukan shalat sedemikian cepatnya seakan beliau saw tak membaca fatihah, akan tetapi beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya (Shahih Bukhari)

Sesungguhnya yang dimaksudkan tersebut adalah sholat sunnah yang dilakukan Nabi berupa 2 rokaat sebelum sholat Subuh.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى إِنِّي لَأَقُولُ هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha beliau berkata: Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam meringankan sholat 2 rokaat sebelum sholat Subuh sampai aku berkata: Apakah beliau membaca alFatihah? (H.R alBukhari).

Untuk memahami makna hadits tersebut kita perlu menyimak penjelasan Imam al-Qurthuby:

وَإِنَّمَا مَعْنَاهُ أَنَّهُ كَانَ يُطِيل فِي النَّوَافِل ، فَلَمَّا خَفَّفَ فِي قِرَاءَة رَكْعَتَيْ الْفَجْر صَارَ كَأَنَّهُ لَمْ يَقْرَأ بِالنِّسْبَةِ إِلَى غَيْرهَا مِنْ الصَّلَوَات

“Sesungguhnya maknanya adalah : bahwa Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam biasa memanjangkan bacaan pada sholat Sunnah. Maka ketika beliau meringankan bacaan pada 2 rokaat (sebelum) Subuh, jadilah seakan-akan beliau tidak membaca (AlFatihah) jika dibandingkan dengan sholat-sholat beliau yang lain” (dinukil oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany dalam Fathul Baari juz 4 halaman 161).

Sehingga hadits tersebut tidak bisa dijadikan sebagai patokan atau kaidah umum bahwa sholat Sunnah semestinya lebih cepat dari sholat wajib, karena menurut alQurthuby yang sering/biasa beliau lakukan adalah memanjangkan bacaan pada sholat sunnah. Hanya pada kondisi tertentu atau keadaan yang jarang, seperti sholat Sunnah sebelum Subuh, kadang beliau meringankannya. Penisbatan kaidah tersebut kepada madzhab Asy-Syafi’i juga perlu ditinjau ulang, karena justru al-Imam Asy-Syafi’i lebih menyukai masa berdiri yang lama meski jumlah sujudnya sedikit (silakan dilihat penjelasan bantahan terhadap syubhat ke-6 di atas).

Selain itu, ketika pada situs tersebut ditanyakan bagaimana jika imam membaca al-Fatihah dan bacaan surat dalam satu nafas, sehingga menyebabkan makmum ketinggalan rukun, bukannya pengasuh situs tersebut memberikan nasehat kepada imam agar lebih thuma’ninah dan memperhatikan keadaan makmum, namun justru mendukung perbuatan imam tersebut dan menganggapnya sesuai dengan Sunnah. Bukannya menganjurkan agar imam memperhatikan keadaan makmum karena adanya orang – orang yang lemah dan memiliki kebutuhan, tapi justru yang dianjurkan adalah makmum yang tua menyesuaikan ‘kecepatan’ imam dengan sebaiknya sholat duduk saja. Wallaahul musta’aan. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan hidayahNya kepada kita semua…

Nasehat untuk saudaraku para imam masjid, hendaknya bertaqwa kepada Allah. Bagaimana mungkin anda bermunajat kepada Allah dalam keadaan mempercepat bacaan, bahkan alfatihah dalam satu nafas. Penuhi pula hak makmum. Mereka perlu mendapatkan hidangan bacaan Qur’an untuk disimak. Karena jika mereka menyimak bacaan imam dengan baik maka insyaAllah mereka akan mendapatkan rahmat dari Allah.

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“ dan jika dibacakan alQur’an, maka simaklah dan diam agar kalian mendapatkan rahmat” (Q.S al-A’raaf:204)

Bertaqwalah kepada Allah, janganlah sholat dengan tergesa-gesa sehingga meninggalkan thuma’ninah yang merupakan rukun sholat. (Untuk mengetahui lebih lanjut nasehat tentang masalah ini, silakan menyimak artikel berjudul: “SAUDARAKU, JANGAN CEPAT-CEPAT SHOLATNYA!”).

Kesimpulan

1.    Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam melakukan sholat malam, baik di dalam maupun di luar Ramadlan sebanyak 11 atau 13 rokaat berdasarkan riwayat yang shahih. Tidak ada riwayat shahih yang menunjukkan secara tegas beliau melakukan sholat malam lebih dari jumlah rokaat itu.

2.    Secara ucapan, beliau tidak membatasi jumlah rokaat sholat malam. Ketika ditanya tentang sholat malam, beliau hanya menyatakan bahwa sholat malam dilakukan dua rokaat-dua rokaat. Sehingga, tidak mengapa bagi kaum muslimin untuk melakukan qiyaamul lail di dalam atau di luar Ramadlan dengan jumlah rokaat lebih dari 13.

3.    Bukan jumlah rokaatnya yang kita ingkari, namun tata cara pelaksanaan sholatnya. Jika sholat tidak dilakukan dengan thuma’ninah, bisa menyebabkan batalnya sholat tersebut.


SUMBER : BANTAHAN TERHADAP SITUS DAN BLOG PENENTANG MANHAJ SALAFY AHLUSSUNNAH

(BAGIAN IX)

Apakah hukum orang yang tidur sepanjang siang hari dibulan Ramadhan, ia tidak bangun kecuali ketika saat berbuka ? 1 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in fatwa, fiqih, puasa.
2 comments

Apakah hukum orang yang tidur sepanjang siang hari dibulan Ramadhan, ia tidak bangun kecuali ketika saat berbuka ?

 

Hukum Tidur Sepanjang Siang Hari Di Bulan Ramadhan

Penulis: Al-’Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah

Soal : “ Apakah hukum orang yang tidur sepanjang siang hari dibulan Ramadhan, ia tidak bangun kecuali ketika saat berbuka ?”

Jawab : Orang yang tidur sepanjang siang hari dibulan Ramadhan, puasanya tetap sah jika memang sebelum terbit fajar dia telah berniat puasa. Akan tetapi, haram atasnya meninggalkan shalat-shalat (disepanjang siang itu) dan meninggalkan shalat berjamaah jika dia termasuk golongan yang wajib shalat berjama’ah di masjid.

(Jika dia melakukan itu), berarti dia telah meninggalkan dua kewajiban (yakni kewajiban puasa dan shalat), dia sangat berdosa karena meninggalkan keduanya. Kecuali jika perbuatan seperti itu bukan kebiasaannya, artinya sangat jarang dia melakukannya, dan dia pun tetap berniat mengerjakan shalat.

Berkaitan dengan itu pula, sungguh sangat di sayangkan bahwa banyak orang yang membiasakan diri begadang sepanjang malam di bulan Ramadhan, lalu ketika telah dekat waktu terbit fajar, mereka segera makan sahur kemudian tidur sepanjang siangnya. (Dengan keadaan seperti itu), mereka meninggalkan sholat-sholat di waktu siang, padahal sholat lebih di tekankan dan lebih di wajibkan daripada puasa, bahkan tidak sah puasa orang yang tidak shalat ! Perkara ini sangat berbahaya sekali.

Begadang (di waktu malam) yang menyebabkan pelakunya tertidur sehingga tidak mengerjakan sholat (di waktu siang) adalah begadang yang haram. Kemudian jika begadang itu hanya untuk main-main atau untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang di haramkan, maka perkaranya jadi lebih berbahaya lagi.

Perbuatan-perbuatan maksiat dosanya lebih besar dan bahanya lebih kuat (jika dikerjakan) pada bulan Ramadhan. Begitu pula pada saat-saat dan tempat-tempat yang (pandang) mulia (dalam ajaran agama), lebih kuat daripada selainnya. Wallahu a’lam.

Maroji’ : Al-Muntaqo min Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan (3/243).

Sumber : Buletin Dakwah At-Tashfiyyah, Surabaya Edisi : 20 / Sya’ban / 1425 H, dinukil dari http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=339

* * *

Soal 2 : Apa hukum bagi seorang yang menjalankan puasa Romadlon akan tetapi dia tidur di sepanjang siang ? Seseorang yang tidur dan bangun hanya untuk menjalankan perkara yang difardlukan kemudian tidur kembali ?

Jawab : Ada dua keadaan dalam soal ini :

1.Seseorang yang tidur di sepanjang siang pada bulan Romadlon dalam keadaan dia berpuasa, yang demikian tidak diragukan lagi bahwa dia telah berbuat kejahatan pada dirinya sendiri dan berbuat maksiat kepada Alloh dengan meninggalkan sholat tepat pada waktunya. Apabila dia termasuk ahlul jamaah (orang yang diwajibkan untuk menjalankan sholat berjamaah dimasjid) maka dirinya telah meninggalkan jamaah dan itu adalah haram. Wajib baginya bertaubat kepada Alloh dan menjalankan sholat lima waktu tepat pada waktunya dengan berjamaah di masjid.

2.Seseorang yang tidur pada bulan Romadlon dan bangun hanya untuk menjalankan sholat yang difardlukan tepat pada waktunya dengan berjamaah, yang demikian tidak berdosa akan tetapi dia telah terluput dari amal kebaikan yang banyak. Seyogyanya orang yang berpuasa menyibukkan dirinya dengan sholat, dzikir, doa dan membaca Al-Quran sehingga terkumpul dalam puasanya ibadah-ibadah yang lainnya. Sesungguhnya orang yang berpuasa apabila dia mengembalikan dirinya untuk mengerjakan dan memelihara amalan ibadah maka amal-amal ibadah tersebut akan mudah dia jalankan. Sebaliknya apabila dia mengembalikan dirinya dalam kemalasan, kelemahan dan keadaan yang sulit maka akan mendapatkan dirinya dalam keadaan sulit dan malas untuk menjalankan amalan ibadah. Saya nasehatkan agar memelihara amalan ibadah pada bulan Romadlon, pasti Alloh akan memudahkan amalan kita. (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).

(Di terjemahkan oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dari Kitab Fatawa As Shiyam Syaikh bin Baz dan Syaikh Utasimin, Syarhul Mumthi’ Ibnu Utsaimin, Ijabatus Sail Syaikh Muqbil bin Hadi )

Sumber : Buletin Da’wah Al-Atsary, Semarang. Edisi 17 / 1427 H, Dikirim via email oleh Al-Akh Dadik, Dikutip dari http://darussalaf.or.id/stories.php?id=370

Hukum Menggunakan Kateter Arteri dan Urin, Tablet Vaginal & Suppositoria (Obat/Pencahar) : Apakah Membatalkan Puasa ? 1 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in fatwa, fiqih, puasa.
add a comment

Hukum Menggunakan Kateter Arteri dan Urin, Tablet Vaginal & Suppositoria (Obat/Pencahar) : Apakah Membatalkan Puasa ?

 

PEMBATAL KEDUA BELAS : Arteri kateterisasi

As-Syaikh Kholid bin Ali al-Musyaiqih


Yaitu suatu tabung (pipa) halus yang masuk melalui arteri dengan tujuan untuk pengobatan atau pengambilan gambar.

Majma’ al-Fiqhi al-Islami berpendapat bahwa hal ini tidak membatalkan puasa, karena bukan makanan atau minuman, dan bukan pula sesuatu yang semakna dengan keduanya, juga karena ia tidak masuk ke dalam perut.

PEMBATAL KEEMPAT BELAS :  Supositoria (obat dari zat semi padat) yang digunakan melalui kemaluan wanita

Misalnya: Vagina lotion.

Apakah membatalkan puasa ataukah tidak?

Para ulama terdahulu dan sekarang telah berbicara tentangnya:

Menurut kalangan madzhab Malikiyah dan Hanabilah, bahwa jika seorang wanita meneteskan suatu cairan pada kemaluannya, maka dia tidak batal puasanya.

Mereka beralasan, karena tidak ada hubungan antara kemaluan wanita dengan perut.

Pendapat kedua adalah pendapatnya madzhab Hanafiyah dan Syafi’iyah, bahwa wanita itu berbuka karena sebab itu.

Alasan mereka, karena ada hubungan antara kemaluan wanita dan perut.

Kedokteran modern menjelaskan, bahwa tidak ada jalan (saluran) antara alat reproduksi wanita dengan perut wanita. Berdasarkan hal ini, maka dia tidak berbuka dengan sebab hal ini.

PEMBATAL KELIMA BELAS : Supositoria (obat dari zat semi padat) yang digunakan melalui dubur

Digunakan untuk berbagai tujuan medis; (seperti) untuk meringankan panas dan meringankan sakit wasir.

Misalnya adalah enema (prosedur pemasukan cairan ke dalam kolon melalui anus)

Pertama: Enema (Pencahar)

Para ulama terdahulu telah berbicara tentangnya:

Para imam yang empat berpendapat bahwa hal ini membatalkan puasa, karena adanya saluran hubungan dengan perut.

Pendapat kedua adalah pendapat Zhahiriyah dan pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Bahwa hal ini tidak membatalkan puasa, karena hal ini sama sekali tidak memberikan nutrisi makanan, akan tetapi bahkan mengosongkan apa yang ada pada badan, sebagaimana seseorang yang mencium sesuatu pencahar.

Juga karena cairan ini tidak sampai ke perut.

Adapun para ulama kontemporer, mereka membangun perselisihan pendapat ini di atas perselisihan pendapat yang telah lalu.

Lalu, apakah di sana ada hubungan antara anus dan perut?!

Ulama yang berpendapat membatalkan puasa, mengatakan adanya hubungan. Lubang dubur memiliki hubungan dengan rektum. Dan rektum terhubung dengan kolon (usus besar). Sedangkan penyerapan makanan terjadi pada usus kecil. Dan mungkin terjadi penyerapan sebagian unsur garam dan gula pada usus besar.

Adapun jika yang diserap bukan zat-zat makanan, seperti obat-obatan, maka tidak membatalkan puasa. Hal itu karena tidak mengandung nutrisi makanan ataupun air.

Perincian ini lebih dekat kepada kebenaran.


Kedua: supositori yang melalui jalan dubur, ada dua pendapat.

Tidak membatalkan puasa. Inilah pendapat Ibnu Utsaimin – rohimahulloh – karena hanya mengandung unsur-unsur obat, dan tidak mengandung cairan nutrisi. Maka hal ini bukanlah makanan atau minuman, dan bukan pula yang semakna dengan keduanya.

Inilah pendapat yang benar.

PEMBATAL KEENAM BELAS :  Anoscope (Alat untuk melihat bagian dalam dubur)

Seorang dokter terkadang memasukkan anoscope ke dalam lubang anus untuk mengetahui keadaan usus. Penjelasan tentang ini sama dengan penjelasan tentang endoscopy.

PEMBATAL KETUJUH BELAS : Sesuatu yang dimasukkan melalui saluran kemaluan laki-laki berupa alat untuk melihat, lotion ataupun obat

Apakah hal ini membatalkan puasa?!

Pada zaman lalu para ulama telah membicarakannya:

Pendapat pertama, pendapat kalangan madzhab Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah:

Penyulingan dalam uretra tidak membatalkan puasa, meskipun sampai pada kandung kemih.

Mereka berdalil, bahwa tidak ada jalan penghubung antara bagian dalam kemaluan laki-laki dengan perut.

Pendapat kedua, pendapat yang dianggap benar menurut kalangan Syafi’iyah:

Bahwa hal itu membatalkan puasa, karena adanya jalan penghubung antara kandung kemih dan perut.

Dan dalam dunia kedokteran modern: Tidak ada hubungan sama sekali antara saluran kemih dan sistem pencernaan. Berdasarkan hal ini, maka tidak membatalkan puasa.

Sumber :  http://www.direktori-islam.com/2009/09/pembatal-puasa-era-modern/

BATALKAH PUASA ORANG YANG : Bekam, Cuci Darah (Dialisis), Donor Darah & Pengambilan Darah untuk Cek Laboratorium..? 1 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in fiqih, kesehatan, puasa.
add a comment

BATALKAH PUASA ORANG YANG : Bekam, Cuci Darah (Dialisis), Donor Darah & Pengambilan Darah untuk Cek Laboratorium..?

 

Bolehkah Dibekam Ketika Puasa ?

Al-Ustadz Dzulqarnain Bin Muhammad Sunusi Al-Atsary

Berbekam (mengeluarkan darah kotor dari kepala dan anggota tubuh lainnya) adalah makruh karena bisa mengakibatkan tubuh menjadi lemas dan menyeret orang berbekam untuk berbuka. Demikian pula halnya yang semakna dengan ini adalah memberikan donor darah.

Hukum ini merupakan bentuk kompromi dari dua hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, yaitu antara hadits mutawatir yang di dalamnya beliau menyatakan :

أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُوْمُ

“Telah berbuka orang yang berbekam dan orang yang membekamnya.”

Dan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary :

احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ صَائِمٌ

“Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berbekam dan beliau dalam keadaan berpuasa.”

Sumber :  http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1782

Hukum bekam ketika berpuasa

Para ulama berbeda pendapat tentang pembekaman, termasuk membatalkan puasa ataukah tidak.

Pendapat pertama. Mereka mengatakan bahwa bekam membatalkan puasa. Ini adalah madzhab Hambali, Ishaq, Ibnul Mundzir, dan mayoritas fuqaha (ahli fikih) [44], dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, dan juga Ibnu Utsaimin dalam fatwanya.

Dalil mereka:

  • Menurut mereka bekam adalah salah satu hal yang dapat membatalkan puasa.

عَنْ رَافِعِ بْنِ خَادِجٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ : أَفْطَرَ الحَاجِمُ وَ المَحْجُوْمُ

Dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Berbuka (batal puasa) orang yang membekam dan dibekam.” (HR. Tirmidzi: 774, Ahmad 3/465, Ibnu Khuzaimah: 1964, Ibnu Hibban: 3535; hadits ini telah dishahihkan oleh imam Ahmad, imam Bukhari, Ibnul Madini (lihat al Istidzkar 10/122). Demikian juga al Albani menshahihkannya dalam Irwa’ul Ghalil: 931, Misykatul Mashabih: 2012, dan Shahih Ibnu Khuzaimah: 1983).

Pendapat kedua. Menurut pendapat kedua, bekam tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama secara umum, baik dari kalangan ulama salaf (terdahulu), maupun khalaf (ulama masa kini) [45].

Dalil mereka:

  • Menurut mereka ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam sedangkan beliau sedang dalam keadaan puasa, sebagaimana dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata:

احْتَجَمَ رَسُوْلُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ وَ هُوَ صَائِمٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam sedangkan beliau berpuasa.” (HR. Bukhari:1838,1939, Muslim: 1202).

Pendapat yang kuat. Pendapat yang kuat adalah pendapat kedua, yaitu berbekam tidak membatalkan puasa, dengan alasan dalil yang tersebut di atas; dan dikuatkan oleh beberapa hal di antaranya:

  • Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan puasa adalah me-nasakh (menghapus) hadits yang mengatakan batalnya puasa seorang yang berbekam dan yang dibekam. Hal ini dibuktikan bahwa Abu Sa’id al Khudri radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

رَخَّصَ رَسُوْلُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ لِاصَّائِمِ فِي الحِجَامَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi rukhshah (keringanan) bagi orang yang berpuasa untuk berbekam.” (HR. Nasa-I 3/432, Daruquthni 2/182, Baihaqi 4/264; Daruquthni mengatakan seluruh perawinya terpercaya, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Shahih Ibnu Khuzaimah: 1969)

Berkata Ibnu Hazm rahimahullah: “Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘memberi rukhshah’ tidak lain menunjukkan arti larangan sebelum datangnya rukhshah (sehingga asalnya dilarang, lalu diizinkan). Oleh karenanya, benarlah perkataan/pendapat bahwa ini (hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma) me-nasakh hadits yang pertama.” (al Mushalla 6/204)

  • Pendapat ini diperkuat dengan adanya hadits-hadits lain yang mengisyaratkan bahwa hadits Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu dihapus, seperti:

عَنْ ثَابِتٍ البُنَّانِي قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ بْنُ مَالِكِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كُنْتُمْ تَكْرَهُوْنَ الحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ عَلَي عَهْدِ رَسُوْلِ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلََّمْ؟ قَالَ لاَ إِلَّا مِنْ أَجْلِ الضَّعْفِ

“Dari Tsabit al Bunani beliau berkata: Telah ditanya Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: “Apakah kalian (para sahabat) di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci bekam bagi orang yang berpuasa?” Beliau menjawab: “Tidak (kami tidak membencinya), kecuali kalau menjadi lemah (karena bekam).” (HR. Bukhari 4/174; lihat Fathul Bari dalam penjelasan hadits ini, dan juga perkataan al Albani rahimahullah yang menguatkan masalah ini dalah Misykatul Mashabih: 2016)

Dari penjelasan di atas, menjadi jelas bahwa donor darah tidak membatalkan puasa, karena di-qiyas-kan kepada masalah bekam menurut pendapat yang kuat adalah tidak membatalkan puasa.

Sumber :  http://ummushofiyya.wordpress.com/2010/08/09/pembatal-puasa-di-zaman-modern-2/#more-333

PEMBATAL KETIGA BELAS :  Dialisis (Cuci Darah)

As-Syaikh Kholid bin Ali al-Musyaiqih

Ini ada dua cara:

Pertama:

Dengan perantaraan alat yang disebut mesin dialiser (yang berfungsi sebagai ginjal buatan –pent), dimana darah dipompa menuju alat ini yang kemudian alat ini mencuci darah itu dari berbagai zat berbahaya, kemudian kembali ke dalam tubuh melalui pembuluh vena.

Dan dalam perjalanan proses ini, mungkin perlu diberikan makanan cair melalui pembuluh darah.

Kedua:

Melalui membran peritoneum (selaput rongga perut) di perut.

Yaitu dengan memasukkan pipa kecil ke dalam dinding perut di atas pusar, kemudian biasanya dimasukkan dua liter cairan yang mengandung gula glukosa berkadar tinggi ke dalam perut, dan dibiarkan di dalam perut selama beberapa waktu, kemudian ditarik kembali dan diulangi proses ini beberapa kali dalam satu hari.

Para ulama kontemporer berselisih pendapat tentangnya, apakah membatalkan puasa atukah tidak?

Pendapat pertama:

Membatalkan puasa. Ini pendapat Ibnu Baz – rohimahulloh – dan al-Lajnah ad-Daimah.

Dalil mereka, bahwa dialisis akan menggantikan darah dengan darah yang segar, dan juga akan memberikan zat makanan lain. Sehingga terkumpullah dua pembatal puasa.

Pendapat kedua:

Tidak membatalkan puasa.

Mereka berdalil bahwa hal ini bukan perkara yang telah di-nash-kan dan bukan pula yang semakna dengan perkara yang telah ada nashnya.

Pendapat yang lebih dekat (kepada kebenaran) adalah yang menyatakan bahwa hal itu membatalkan puasa.

Permasalahan: jika telah terjadi pencucian darah saja, maka tidak membatalkan puasa. Akan tetapi yang terjadi pada dialisis adalah adanya penambahan sebagian zat makanan, garam-garaman, dan selainnya.

PEMBATAL KEDELAPAN BELAS : Donor darah

Permasalahan ini dibangun di atas permasalahan hijamah (bekam).

Pendapat yang masyhur menurut madzhab (hambali), bahwa berbekam membatalkan puasa. Ini pendapat yang dipilih Ibnu Taimiyah – rohimahulloh.

Sedangkan jumhur ulama berpendapat tidak membatalkan puasa.

Dan pendapat yang lebih kuat, bahwa berbekam membatalkan puasa.

Berdasarkan hal ini, maka seseorang (yang berpuasa –pent) tidak boleh melakukan donor darah kecuali karena darurat.

PEMBATAL KESEMBILAN BELAS : Pengambilan sedikit darah untuk analisis lab

Ini tidak membatalkan puasa, karena tidak semakna dengan bekam. Karena bekam akan melemahkan badan.

Sumber :  http://www.direktori-islam.com/2009/09/pembatal-puasa-era-modern/

* * *

Hukum Donor Darah dalam Bulan Ramadhan

Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Tanya : Apakah mengambil sedikit darah (donor) dengan tujuan sebagai penghalalan atau bersedekah kepada seseorang di siang hari bulan Ramadhan dapat membatalkan puasa atau tidak ?

Jawab : Jika seseorang mengambil sedikit darahnya yang tidak memberikan efek kepada badannya seperti membuat dia lemah, maka ini tidak membatalkan puasanya baik diambil sebagai penghalalan, atau donor untuk seorang yang sakit, atau bersedekah kepada seseorang yang membutuhkan.

Adapun jika darahnya diambil dengan jumlah yang banyak, yang menjadikan badan lemas, maka dia berbuka dengannya (donor itu telah menjadi sebab sehingga dia berbuka/tidak berpuasa lagi-red). Dikiaskan seperti berbekam yang telah datang riwayatnya dari sunnah bahwa berbekam adalah termasuk salah satu dari pembatal-pembatal puasa.

Dengan demikian, maka tidak boleh bagi seseorang untuk menyedekahkan darahnya yang sagat banyak dalam keadaan dia sedang berpuasa wajib, seperti puasa pada bulan Ramadhan. Kecuali jika di sana ada keperluan yang darurat (mendesak), maka dalam keadaan seperti ini boleh baginya untuk menyedekahkan darahnya untuk menolak/mencegah darurat tadi. Dengan demikian dia berbuka dengan makan dan minum. Lalu dia harus mengganti puasanya yang dia tinggalkan/berbuka. (af)

Sumber :  http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/08/26/hukum-seputar-ramadhan-kumpulan-fatwa-ulama/

Apakah Endoscopy dan Anestesi (Pembiusan Lokal, Spinal, Akupuntur dan Bius Total) Membatalkan Puasa ? 1 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in fiqih, puasa.
add a comment

Apakah Endoscopy dan Anestesi (Pembiusan Lokal, Spinal, Akupuntur dan Bius Total) Membatalkan Puasa ?

 

PEMBATAL KETIGA : Endoscopy

Syaikh Kholid bin Ali al-Musyaiqih

Yaitu sebuah peralatan medis yang dimasukkan melalui mulut, kemudian ke faring, kerongkongan dan perut.

Fungsi peralatan ini, memotret keadaan lambung, apakah ada luka atau untuk mengambil sebagian dari bagian lambung untuk diperiksa, atau untuk kegunaan medis lainnya.

Para ulama terdahulu telah membicarakan permasalahan yang serupa dengan ini. Yaitu dalam permasalahan: jika masuk sesuatu ke dalam perut selain makanan; seperti kerikil, potongan besi atau semacamnya. Sedangkan endoscopy ini termasuk yang semacam itu. Apakah membatalkan puasa?

Mayoritas (jumhur) ulama berpendapat bahwa hal itu membatalkan puasa. Segala sesuatu yang masuk ke dalam perut membatalkan puasa. Kecuali kalangan madzhab Hanafiyah, mereka mensyaratkan menetapnya barang yang masuk ke dalam perut itu sehingga dihukumi membatalkan puasa. Namun ulama lain tidak mensyaratkan demikian.

Mereka berdalil, bahwa Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam ­­– memerintahkan untuk menghindari celak (bagi orang yang berpuasa –pent).

Dengan demikian, jumhur ulama berpendapat bahwa endoscopy membatalkan puasa, sedangkan menurut pendapat madzhab Hanafiyah, tidak membatalkan puasa, karena alat ini tidak menetap (dalam perut –pent).

Pendapat kedua, bahwa puasa tidak batal dengan sebab masuknya benda-benda yang tidak memberikan asupan makanan, seperti jika memasukkan besi atau kerikil. Ini adalah pendapat pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – rohimahulloh – dan juga pendapat sebagian kalangan madzhab Malikiyah dan al-Hasan ibnu Shalih.

Karena hal itu telah ditunjukkan oleh al-Kitab dan as-Sunnah, bahwa yang membatalkan puasa adalah yang berupa asupan makanan. Adapun hadits celak yang mana Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – memerintahkan agar dijauhi, adalah hadits yang lemah.

Oleh karena itu, secara dzahir  endoscopy tidak membatalkan puasa. Akan tetapi dikecualikan darinya, jika dokter meletakkan pada alat endoscopy ini zat lemak untuk memudahkan masuknya alat ini ke dalam perut, maka ini membatalkan puasa.

PEMBATAL KEENAM  : Anestesi (pembiusan)

Dan anestesi ini ada beberapa macam:

Pertama: Anestesi lokal melalui jalur hidung.

Yaitu, seorang pasien mencium suatu zat yang berupa gas, yang bisa mempengaruhi syarafnya, sehingga terjadilah anestesi. Maka ini tidak membatalkan puasa, karena masuknya benda gas melalui hidung bukan merupakan suatu pelanggaran, dan tidak pula membawa asupan makanan.

Kedua: Akupuntur Anestesi

Anestesi yang dinisbatkan ke negri Cina.

Yaitu, dengan memasukkan jarum kering ke pusat syaraf perasa yang ada di bawah kulit sehingga akan menghasilkan semacam kelenjar untuk melakukan sekresi terhadap morfin alami yang ada dalam tubuh. Dengan itu, si pasien akan kehilangan kemampuan untuk merasa.

Hal ini tidak mempengaruhi puasa selama anestesi ini terjadi pada tempat tertentu (anestesi lokal) bukan secara menyeluruh (total). Juga karena benda itu tidak masuk ke dalam perut.

Ketiga: Anastesi lokal dengan suntikan.

Yaitu dengan memberikan suntikan pada pembuluh darah dengan obat yang bereaksi cepat. Yang bisa menutupi pikiran pasien hanya dalam hitungan detik.

Maka selama ini adalah pembiusan lokal, bukan total, maka tidak membatalkan puasa. Selain itu, juga karena ia tidak masuk ke dalam perut.

Keempat: Anestesi Total

Para ulama telah berselisih tentang hal ini. Dan para ulama terdahulu telah membicarakan permasalahan orang yang pingsan (tidak sadar), apakah puasanya sah?

Dan hal ini tidak terlepas dari dua keadaan.

Pertama:

Seseorang yang pingsan sepanjang waktu siang, dia tidak sadar sedikitpun dari waktu siang. Maka jumhur ulama berpendapat tidak sahnya puasa orang tersebut.

Dalilnya, sabda Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – dalam Hadits Qudsi,

Dia meninggalkan makan dan minumnya karena Aku.”

Dia menyandarkan perbuatan menahan diri (dari makan dan minum itu) kepada orang yang berpuasa. Sedangkan orang yang pingsan tidak tepat dikatakan seperti itu.

Kedua:

Seorang yang pingsan tidak sepanjang waktu siang. Inilah yang diperselisihkan.

Dan yang benar, jika dia telah sadar pada sebagian dari waktu siang, maka puasanya sah. Inilah pendapat Ahmad dan asy-Syafi’i.Dan menurut Malik, puasanya tidak sah secara mutlak.Sedangkan menurut Abu Hanifah, jika dia siuman sebelum tergelincirnya matahari (sebelum zhuhur –pent), maka dia memperbarui niatnya dan sah puasanya.

Dan yang benar adalah pendapat Ahmad dan asy-Syafi‘i. Karena niat untuk menahan diri (puasa) terwujud meski dengan sebagian dari waktu siang. Dan tentang anestesi pun dikatakan demikian.

Sumber :

http://www.direktori-islam.com/2009/09/pembatal-puasa-era-modern/

TANYA JAWAB LENGKAP PUASA, TARAWIH, I’TIKAF DAN ZAKAT FITRAH : Hukum Puasa Wishal, Puasa untuk (Orangtua,Wanita Hamil,Menyusui dan Sakit), Hukum Sikat gigi, Suntikan, Minyak Wangi, Obat Tetes, Hukum Onani, Jimak, Berenang Saat Puasa, dll 1 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in fiqih, puasa.
add a comment

RISALAH RAMADHAN  :  Kumpulan 44 Fatwa Asy Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i Rahimahullah

Kapan waktu niat

Soal 1: Apakah wajib berniat shaum di bulan Ramadhan setiap harinya ataukah cukup satu kali niat saja untuk sebulan penuh? Dan kapan sempurnanya hal itu ?

Jawab: Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

Setiap amalan bergantung pada niat dan bagi setiap seseorang (akan mendapatkan) apa yang dia niatkan.”

Maka ini adalah dalil tentang keharusan niat dalam amalan-amalan. Dan yang jelas adalah seseorang harus berniat di setiap harinya. Dan bukan artinya ia harus mengatakan, “Nawaitu untuk berpuasa pada hari ini dan itu di bulan Ramadhan.” Akan tetapi niat adalah maksud atau tujuan, bangunmu untuk melaksanakan sahur dianggap sudah berniat demikian juga penjagaanmu dari makanan dan minuman adalah berarti sudah berniat. Dan adapun hadits,

Barangsiapa yang tidak bermalam dengan niat shaum maka tidak ada shaum baginya,”

Ini adalah hadits mudhtarib2. Walaupun sebagian ulama menghasankannya tapi yang benar adalah mudhtarib.

Apa yang harus dilakukan bila mengetahui waktu Ramadhan setelah terbit fajar

Soal 2: Apabila seseorang bangun dari tidurnya setelah terbit fajar pada hari pertama di bulan Ramadhan kemudian dia makan, sedang dia dalam keadaan tidak mengetahui kalau hari itu adalah awal bulan Ramadhan dan diberitahukan setelahnya. Apakah ia terus berpuasa atau berbuka ?

Jawab: Ya, ia berpuasa dan tidak ada mudharat baginya karena ia mengira masih ada sisa malam kemudian dia berpuasa dan puasanya benar.

Puasa sehari sebelum Ramadhan karena ragu

Soal 3: Apakah boleh bagi seorang yang ragu akan awal masuknya bulan Ramadhan untuk berpuasa sehari sebelumnya?

Jawab: Dari kalangan Al-Hanabilah (pengikut-nya madzhab Ahmad pent) ada yang berpendapat seperti itu akan tetapi yang benar adalah tidak dibolehkan puasa sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam:

Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan shaum sehari sebelumnya atau dua hari sebelumnya.”

Dan dari sahabat Ammar bin Yasir ,

Barangsiapa yang berpuasa pada hari syakk (ragu-ragu) maka telah bermaksiat kepada Abul Qasim.” Maka yang shahih sekali lagi adalah tidak boleh berpuasa dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

Berpuasalah kalian dengan melihat ru’yah dan berbukalah dengan melihat ru’yah. Jika tertutupi awan maka sempurnakanlah hitungan Sya’ban 30 hari.”

Maka tidak ada lagi hal yang tersisa setelah keterangan ini.

Shoum wishol (puasa lagi setelah berbuka)

Soal 4: Apabila seseorang tertidur dan belum berbuka dan ia tidak bangun dari tidurnya kecuali pagi-pagi pada hari yang kedua apakah baginya untuk melanjutkan shaumnya atau berbuka ?

Jawab: Baginya untuk meneruskan shaumnya. Yang demikian itu pernah terjadi pada Qois bin Sormah, ia pergi bekerja dan waktu itu tepat permulaan diwajibkannya shaum. Apabila ia tertidur sebelum makan maka ia tidak membolehkan dirinya untuk makan, kemudian ia pulang ke istrinya dan bertanya, “Apakah ada makanan?” Istrinya menjawab, “Tidak. Tetapi aku akan pergi dan memintakan makanan untukmu.” Setelah kembali ternyata didapatinya ia sudah tidur lalu istrinya berkata, “Engkau telah rugi,” atau yang semakna dengan ucapan ini. Kemudian ia pergi kerja lagi sampai pertengahan hari dan tertidur lagi, kemudian Allah menurunkan ayat,

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, … sampai firman-Nya….

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”

Yang harus dilakukan saat sahur ketika terdengar adzan Subuh

Soal 5 : Apabila seseorang sedang makan sahur kemudian muadzin mengumandangkan adzan apakah wajib baginya untuk membuang/ mengeluarkan apa-apa yang ada di mulutnya

ataukah memakannya ?

Jawab : Adapun yang ada di mulutnya maka tidak boleh untuk mengeluarkannya akan tetapi tidak boleh memakan sesuatu apapun setelahnya kecuali air berdasarkan hadits sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah  bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

Apabila muadzin telah mengumandangkan adzan, sedangkan bejana masih dalam tangan seseorang, maka hendaklah dia mengambil keperluan darinya.

Maka dengan hadits ini tidak mengapa seseorang untuk meminum apabila telah dikumandangkan adzan oleh muadzin dengan syarat air tersebut masih dipegang oleh tangannya.

Adakah keutamaan meninggal di bulan Ramadhan

Soal 6: Apakah terdapat keutamaan bagi seseorang yang meninggal pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan pada kebaikan si mayyit ?

Jawab: Memang ada, tetapi tidak ada hadits yang menunjukkan tentang hal ini.

Yang harus dilakukan wanita hamil atau menyusui bila berbuka

Soal 7: Apa hukumnya seorang perempuan yang hamil jika ia berbuka di bulan Ramadhan karena takut akan janinnya, dan apapula hukumnya bagi seorang wanita yang menyusui berbuka di bulan Ramadhan karena takut akan susuannya ?

Jawab: Para ulama berselisih, dari kalangan mereka ada yang mengatakan wajib baginya untuk

mengqadha, sebagian yang lain mengatakan menqadha dan membayar kafarah, dan sebagiannya lagi mengatakan tidak ada kewajiban baginya untuk menqadha tetapi wajib baginya membayar kafarah, serta sebagiannya lagi mengatakan tidak ada kewajiban baginya baik qadha maupun membayar kafarah. Dan berdalil dengan hadits Anas bin Malik Al-Ka’bi  bahwasanya beliau datang kepada Nabi, kemudian Nabi mengatakan kepadanya, “Makanlah!” Kemudian Anas bin Malik berkata, “Aku dalam keadaan shaum.” Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata,

Apakah engkau tahu bahwasanya Allah ta’ala menggugurkan setengah sholat atas orang yang musafir (boleh menqashar) dan menggugurkan shaum bagi yang hamil atau menyusui.”

Maka mereka berdalil dengan ini, bahwa-sanya tidak ada kewajiban apa-apa baginya. Dan yang nampak bagiku adalah wajib baginya untuk menqadha saja dan tidak diharuskan baginya untuk membayar kafarah dan tidak sah pembayaran kafarahnya, maka dia dituntut untuk menqadha saja. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِیْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةُمِنْ أَیَّامٍ أُخَر

Barangsiapa di antara kalian sakit atau mengadakan suatu perjalanan maka diganti dengan hari-hari yang lainnya.”

Datang haidh sebelum Maghrib

Soal 8: Apa hukumnya bagi seorang wanita yang haidh, sedang ia dalam keadaan shaum yang haidhnya itu dengan jarak yang sedikit sebelum berbuka ?

Jawab: Wajib baginya untuk menqadha hari itu jika muadzinnya itu mengumandangkan adzan tepat pada waktunya. Adapun apabila telah terbenam matahari kemudian datang haidh tersebut sedangkan muadzin tidak mengumandangkan adzannya kecuali seperti adzannya Syi’ah yaitu ketika langit sudah mulai gelap, maka shaumnya dianggap sah dan tidak wajib baginya untuk menqadha.

Berbuka bagi wanita hamil atau melahirkan

Soal 9: Apa hukumnya seorang wanita yang hamil apabila ia berbuka di bulan Ramadhan karena melahirkan?

Jawab: Wajib baginya untuk menqadha.

Berbuka karena keluar darah sebelum melahirkan

Soal 10: Dan apapula hukumnya bagi wanita jika ia berbuka sehari atau dua hari sebelum melahirkan disebabkan karena keluarnya sebagian darah ?

Jawab: Jika keluar sebagian darah, maka ini dianggap sebagai darah nifas dan wajib untuknya menqadha.

Berbuka karena sakit bertahun-tahun

Soal 11: Apa hukumnya orang yang berbuka disebabkan karena sakit yang terus menerus sampai beberapa tahun ?

Jawab: Apabila ditetapkan oleh medis bahwasa-nya dia tidak diharapkan lagi kesembuhan-nya sedangkan Allah Maha Penyembuh dan berapa banyak orang yang sakit yang telah ditetapkan oleh para dokter bahwasanya tidak diharapkan lagi kesembuhannya kemudian Allah Ta’ala menyembuhkannya. Apabila mereka menetapkan tidak diharap-kan sebaikannya, maka tidak mengapa dia berbuka dan memberikan makanan setiap harinya kepada orang miskin. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

{وَعَلَىالَّذِیْنَ یُطِیْقُوْ نَهُ فِدْیَةٌ طَعَامُ مِسْكِیْنَ}

Dan bagi orang-orang yang tidak mampu hendaknya membayar fidyah dengan memberikan makanan kepada orang miskin.”

Demikian pula Anas bin Malik  ketika beliau tidak mampu untuk melaksanakan shaum maka beliau memberikan makanan setiap harinya kepada orang miskin.

Memakai siwak dan sikat gigi/pasta gigi

Soal 12: Apa hukumnya menggunakan hal-hal di bawah ini di siang hari di bulan Ramadhan, diantaranya memakai siwak dan sikat gigi/odol ?

Jawab: Adapun memakai siwak dari batangnya maka ini tidak mengapa, walaupun warna-nya hijau. Adapun odol atau sikat gigi maka kami menasehatkan untuk meninggalkannya di bulan Ramadhan. Dan kami tidak memiliki dalil bahwa itu akan membatalkan shaum, akan tetapi wajib untuk berhati-hati sehingga tidak sampai mengalir atau masuk sesuatau ke dalam perutnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

وبالِغُ فَي الأِستِنشاقإِلاَّ َأنْ تكُونَ صائِما

Dan sempurnakanlah pada waktu istinsyaq kecuali dalam keadaan shaum.”

Karena sesungguhnya apabila dia dalam keadaan shaum maka ditakutkan akan mengalir atau masuk airnya ke dalam perutnya.

Memakai wangi-wangian dan Cologne

Soal 13: Dan demikian pula hukum memakai wangiwangian dengan segala macam bentuknya seperti al-bukhur, al-’uud, dan wangi-wangian masa kini yang semerbak ?

Jawab: Adapun wangi-wangian dan bukhur maka tidak mengapa, insya Allah. Dan seyogyanya seseorang untuk menjauhi wangi-wangian yang mengandung alkohol di bulan Ramadhan dan selain bulan Ramadhan lebih khusus lagi adalah dari jenis kolonia (cologne), maka sesungguhnya ini telah diketahui mengandung alkohol.

Memakai tetes mata, tetes telinga, dan tetes hidung

Soal 14: Demikian juga apa hukumnya memakai obatobatan yang berupa tetes mata atau tetes telinga atau untuk hidung ?

Jawab: Saya katakan sesungguhnya keluar dari perkara ini adalah dengan cara berbuka dan sungguh dia sudah diperbolehkan untuk berbuka sesuai dengan firman Allah Ta’ala,

{فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِیْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةُ مِنْ أَیَّامٍ أُخَر}

Barangsiapa yang di antara kalian dalam keadaan sakit atau bepergian, maka hendaknya diganti dengan hari-hari yang lainnya.”

Maka apabila dia terbukti sakit sedang dia membutuhkan kepada pengobatan maka kami nasehatkan supaya berbuka dan menqadha. Dan apabila telah dinyatakan oleh para dokter satu obat di siang hari di bulan Ramadhan, maka jika dia tidak berbuka tidak membatalkannya kecuali apa-apa yang sampai pada tenggorokannya. Dan kebanyakannya orang yang diobati matanya dengan obat tetes kadang-kadang mendapat-kan rasanya pada tenggorokannya, maka kami nasehatkan untuk menjauhi akan hal ini.

Memakai suntikan

Soal 15: Dan begitu pula apa hukumnya memakai suntikan apakah didapatkan perincian tentang masalah ini?

Jawab: Dari kalangan ahlul ilmi ada yang mengatakan bahwa apabila suntikannya ini terbukti memberikan tenaga atau mengan-dung bahan makanan, maka tidak boleh untuk memakainya. Dan apabila tidak mengandung unsur makanan maka boleh untuk memakainya. Dan telah lalu nasehat kita kepada orang yang sakit supaya berbuka sehingga tidak terdapat syubhat dalam shaumnya kemudian setelah itu dia menqadhanya.

Mencabut gigi

Soal 16: Hukum mencabut gigi yang kadang-kadang menyebabkan pada air liurnya terdapat darah ?

Jawab: Air liur yang mengandung darah dari dirinya sendiri maka tidak membatalkan. Jika sekiranya ditunda mencabut giginya hingga waktu berbuka maka ini lebih baik karena kadang-kadang ditakutkan akan membahayakan dirinya jika dia mencabut gigi sedang dia dalam keadaan shaum. Jika tidak demikian, sekiranya dia akhirkan lagi sampai malam maka ini adalah lebih baik lagi.

Orang pingsan dan muntah

Soal 17:  Demikian pula apa hukumnya orang yang pingsan dan yang muntah ?

Jawab: Adapun orang yang pingsan maka dia tidak dikategorikan membatalkan shaumnya demikian

halnya dengan orang yang muntah. Adapun hadits yang menyatakan,

من قَاءَ فَلاَ قَضاءَ علَيهِ ومن اِستقَاءَ فَعلَيهِ ْالقَضاءَ

Barangsiapa yang muntah maka tidak ada qadha baginya dan barangsiapa yang sengaja muntah maka hendaknya ia menqadha.” Ini adalah hadits yang lemah.

Berenang di darat dan di laut

Soal 18: Dan apa hukumnya berenang dengan cara menyelam ?

Jawab: Yang penting adalah tidak sampai ada yang masuk ke tenggorokannya sesuatu apapun. Akan tetapi adapun berenang di lautan maka ini berbeda keadaannya, karena apabila airnya itu mengandung asin maka sangat memungkinkan sekali akan masuk ke tenggorokan. Karena kami pernah berenang di lautan, dan seseorang tidak merasakan kecuali tiba-tiba sudah terasa di dalam tenggorokannya maka kami menasehatkan untuk menjauhi hal ini. Dan adapun kalau airnya tidak mengandung asin maka tidak akan sampai rasanya ke tenggorokan dan kadang-kadang juga masuk ke tenggorokan.

Mencicipi masakan

Soal 19:  Apa hukumnya seorang perempuan merasakan masakannya ketika ia memasak makanan dengan ujung lidahnya supaya mengetahui apa yang kurang dari bumbu-bumbu masakan tersebut ?

Jawab: Tidak mengapa tentang hal itu, insya Allah. Dan jangan sampai ada yang masuk ke tenggorokannya sesuatu apapun.

Menggunakan peralatan oksigen bagi seseorang yang menderita penyakit sesak nafas

Soal 20: Apa pula hukum menggunakan peralatan oksigen bagi seseorang yang menderita penyakit sesak nafas ?

Jawab: Yang jelas ia bukanlah termasuk makanan atau minuman. Maka aku tidak melihatnya hal ini membatalkan shaum.

Kafarat atas suami yang berjima’

Soal 21: Apa yang diwajibkan dari kafarat atas seorang laki-laki yang dia menjima’i istrinya di siang hari bulan Ramadhan ?

Jawab: Telah datang dua hadits yaitu dari Aisyah dan Abu Hurairah  dan keduanya dalam Shahih. Bahwasanya salah seorang laki-laki dating menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan berkata, “Wahai Rasulullah aku telah binasa.” Kemudian kata Rasul, “Apa yang membuatmu binasa?” Kemudian ia menjawab, “Aku telah menjima’I istriku siang hari di bulan Ramadhan.” Dan dalam hadits Abu Hurairah, berkata seorang laki-laki, “Ya, Rasulullah aku telah binasa.” Beliau berkata, “Apa yang telah membuat engkau binasa?” Kemudian dia menjawab, “Aku telah menjima’I istriku di siang hari bulan Ramadhan.” Beliau berkata, “Apakah engkau punya budak untuk kemudian engkau merdekakan?” Dia menjawab, “Tidak.” Kata Rasul, “Apakah engkau mampu untuk shaum dua bulan terus menerus?” Kemudian dia menjawab, “Tidak.” Kemudian kata Rasul, “Apakah engkau mampu untuk memberi makan 60 orang miskin?” Dia menjawab, “Tidak.” Kemudian dia duduk.

Kemudian Rasul mendatanginya denganmembawa satu karung tamr (kurma) kemudian berkata, “Ambillah ini dan engkau bershodaqoh dengan ini!”. Kemudian laki-laki menjawab, “Ya Rasulullah, tidak ada yang lebih faqir dari aku demi Allah– di antara dua kota Madinah ini.” Kemudian Rasulullah tersenyum dan berkata, “Ambillah ini, dan beri makanlah keluargamu!” Atau dengan makna yang seperti ini.

Maka apabila didapatkan seorang budak maka hendaklah dia memerdekakannya, jika tidak memiliki budak maka berpindah pada shaum dan tidak boleh berpindah kepada memberikan makanan jika dia mampu untuk melakukan shaum. Karena sesungguhnya memberikan makanan ini sangat mudah bagi orang-orang kaya sedangkan shaum dua bulan berturut-turut terdapat di dalamnya masyaqqah (kesulitan/ keberatan).

Kafarat bagi istri yang berjima’

Soal 22: Dan apa pula hukumnya atas seseorang perempuan apabila ia jima’ tersebut dengan keridhaan darinya dan dia tidak mencegah akan hal itu ?

Jawab: Apabila hal ini timbul dari keridhaannya maka si wanita tersebut berdosa. Adapun keharusan untuk membayar kafarah maka sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tidak menyu-ruhnya akan hal itu. Kecuali Rasul mengatakan kepada seorang laki-laki,

Perintahlah istrimu jika dia ridha untuk mengerjakan hal itu (yaitu membayar kafarah).”

Akan tetapi apabila si perempuan itu yang menyebabkan suaminya mencumbuinya sehingga terjadilah apa yang terjadi maka si perempuan itu berdosa, jika ternyata dia terpaksa maka dosa dikembalikan kepada suaminya.

Berjima’ dalam keadaan lupa

Soal 23: Apa hukumnya orang yang terjadi padanya hal itu (jima’) sedang dia dalam keadaan lupa bahwa saat itu siang hari dalam bulan Ramadhan?

Jawab: Wallahu a’lam. Apakah ada yang melakukan jima’ dalam keadaan dia lupa bahwasanya dia berada di bulan Ramadhan atau tidak ada.

Apabila memang didapatkan orang yang lupa maka hukumnya sama seperti hukum orang yang lupa yaitu tidak menqadha. Akan tetapi aku tidak mengira bahwa di sana ada yang melakukan jima’ karena lupa bahwa ia berada di siang hari di bulan Ramadhan kecuali terjadi di awal bulan Ramadhan, dan apabila dia lupa maka apakah istrinya juga lupa. Adapun mem-bayar kafarah maka diharuskan padanya.

Berjima’ karena bodoh tentang hukum

Soal 24 : Dan apa yang harus dilakukan oleh orang yang terjadi padanya hal ini (jima’) sedangkan dia bodoh tentang hukum ?

Jawab : Dia tetap harus membayar kafarah yang telah aku sebutkan sebelumnya karena sesungguhnya hadits tentang ini adalah mutlak.

Mencumbui istri

Soal 25: Apa hukumnya orang yang memeluk istrinya dan menciumnya tanpa berjima’?

Jawab: Aisyah  berkata, “Bahwasanya Nabi memeluknya di bulan Ramadhan.” Kemudian Aisyah mengatakan, “Siapa di antara kalian yang paling dapat menahan kebutuhannya?” Dan Ummu Salamah mengatakan bahwa-sanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam menciumnya, demikian pula Aisyah mengatakan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam menciumnya. Dan Aisyah mengatakan bahwasanya Nabi adalah orang yang paling dapat menahan kebutuhannya.

Apakah Ummul Mu’minin ini termasuk seseorang yang paling dapat menahan kebutuhannya ataukah tidak. Maka yang jelas bahwasanya hal itu tidak mengapa. Akan tetapi apabila ditakutkan menyebabkan jima’ maka wajib baginya untuk meninggalkan hal itu.

Ihtilam (mimpi) basah di siang hari

Soal 26: Apa hukumnya seseorang apabila dia bermimpi di siang hari di bulan Ramadhan ?

Jawab: Tidak ada apa-apa baginya. Dan dia hendaknya melanjutkan shaumnya.

Shalat dan shoum setelah ihtilam

Soal 27: Aku bermimpi pada bulan Ramadhan dan aku tidak tahu apakah aku bermimpi pada hari pertama ataukah hari kedua dan aku juga tidak mengetahui hal ini kecuali setelah aku mengganti celana dalam, maka apa hukum shalat dan shaumnya ?

Jawab: Adapun shalat maka dia shahih, insya Allah dan shaumnya pun shahih. Dan hendaknya engkau pergi kemudian mandi. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

إِنَّ الله تجاوزعن ُأمتِي الخَطَاءَ والنِسيانَ وما ْاستكْرِ هوا علَيهِ

Sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan keringanan atas umatku dari kesalahan dan kelupaan dan apa-apa yang ia terpaksa atasnya.”

Maka engkau adalah sebagai orang yang lupa maka dalam hal ini tidak ada sesuatu apapun bagimu, insya Allah, dan engkau tidak diharuskan untuk menqadha baik itu shaum maupun shalat karena sesungguhnya qadha dalam hal shaum itu sudah diketahui yaitu apabila sakit atau dalam keadaan perjalanan, demikian pula yang haidh.

Adapun shalat maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

Barangsiapa yang tertidur dari melaksanakan sholat atau ia lupa darinya maka waktunya adalah ketika ia mengingatnya.”

Berbuka di rumah bagi orang yang akan bepergian

Soal 28: Apakah dibolehkan bagi seorang yang bepergian di bulan Ramadhan untuk berbuka terlebih dulu di rumahnya ataukah harus melewati beberapa cara ?

Jawab: Diperbolehkan bagi orang yang punya azzam (niat) untuk bepergian untuk makan terlebih dahulu di rumahnya sebelum ia keluar. Dan dalil yang menunjukkan akan hal ini adalah dari shahabat Anas bin Malik, bahwasanya ketika beliau hendak bepergian maka kemudian dihadapkan kepadanya makanan, kemudian dia mengatakan tentang hal itu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam telah mengerjakannya, atau yang semakna dengan ini. Dan telah lewat bersama kita yang menunjukkan hal itu di dalam kitab Shahih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shahihain. Dan Syaikh Al-Albani telah menuliskan satu risalah tentang hal ini.

Dan adapun perbedaan antara shaum dengan shalat bahwa sesungguhnya orang yang shaum diperbolehkan baginya untuk berbuka sejak di rumahnya apabila dia hendak bersiap-siap untuk bersafar, berbeda dengan orang yang shalat yang tidak diperbolehkan baginya untuk menqashar sehingga dia keluar dari kampungnya.

Berdasarkan apa-apa yang telah datang riwayat dari Anas bin Malik , bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam shalat Dhuhur di masjidnya empat raka’at kemudian beliau shalat di Dzil Khulaifah dua raka’at, maka ini menunjuk-kan antara perbedaan shaum dengan shalat.

Waktu, tempat, dan raka’at sholat tarawih sesuai sunnah

Soal 29: Di tempat kami sangat banyak sekali masjid, sebagiannya melaksanakan shalat dengan 8 rakaat dan sebagiannya 20 rakaat, sebagiannya lagi memanjangkan shalatnya dan sebagian lagi memendekkan. Maka masjid manakah yang benar yang sesuai dengan perbuatan Nabi ?

Jawab : Jika kalian mampu maka hendaknya kalian melaksanakan shalat di masjid pada pertengahan malam atau sepertiga malam terakhir dengan sebelas raka’at atau tiga belas raka’at sebagaimana dalam hadits Aisyah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tidak menambah raka’at pada bulan Ramadhan atau selainnya dari sebelas raka’at. Dan telah datang pula riwayat yang mengatakan tiga belas raka’at. Dan saya nasehatkan untuk mengakhirkan shalat tarawih pada pertengahan malam atau sepertiga malam terakhir. Karena sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

Barangsiapa yang takut akan tertidur padaakhir malam maka hendaknya dia witir pada awalnya, dan barangsiapa yang menginginkan untuk bangun di akhir malam maka hendaknya witir pada akhirnya karena sesungguhnya shalat pada akhir malam adalah disaksikan.” (HR.Muslim)

Dan ketika Umar  keluar, beliau mendapati Ubay bin Ka’ab  sedang melaksanakan shalat bersama mereka (orang-orang). Kemudian ia berkata,

Alangkah nikmatnya satu hal yang baru ini dan orang-orang yang tertidur darinya juga tidak mengapa.”

Maka apabila mereka mampu untuk pergi ke masjid kemudian menegakkan sunnah di sana (di dalamnya) dan melaksanakan shalat pada pertengahan malam atau setelahnya dengan sebelas raka’at dan mereka memanjangkannya sesuai dengan kemampuannya. Karena sesungguhnya shalat malam adalah nafilah dan bukan termasuk ke dalam shalat yang fardhu.

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

Sesungguhnya aku akan masuk (atau barumulai) dalam shalat maka aku menginginkan untuk memanjangkannya akan tetapi aku tidak meneruskannya karena/ketika aku mendengar suara tangisan seorang bayi karena kasihan pada ibunya.”

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam mengatakan kepada Muadz bin Jabal , “Apakah engkau telah membuat fitnah, wahai Muadz?” Yaitu disebabkan karena beliau memanjangkannya di dalam shalat. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam mengatakan juga,

إِذَاصلَّىأَحدكُم لِنفْسِهِ فَلْي َ طولْ ماشاءَ وإِذَا صلَّى

بِالناسِ فَلْيخفِّف َفإِنَّ فِيهِم الضعِيف والمَرِيض وذَا

ْالحَاجةَ

Apabila salah seorang di antara kalian shalat sendiri, maka hendaknya memanjangkan sekehendaknya dan apabila ia shalat bersama orang orang atau bersama manusia maka hendaklah ia meringankannya karena di antara mereka ada yang lemah, ada yang sakit dan ada yang memiliki kebutuhan.”

Maka ini semua adalah di dalam shalat yang fardhu, adapun di dalam shalat nafilah maka tidak wajib, bahkan seseorang boleh melaksanakan shalat sekehendaknya dan boleh bagi dia untuk beristirahat dari satu raka’at menuju kepada rakaat yang lainnya atau dia pergi dulu ke rumahnya. Dan jika dia mampu untuk melaksanakan shalat di rumahnya, maka ini juga afdhal. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda ketika beliau shalat bersama manusia atau orang-orang dua malam atau tiga malam di bulan Ramadhan, beliau mengatakan,

Shalat yang paling afdhal bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat yang wajib atau fardhu.”

Bahwa yang paling afdhal shalat bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat yang wajib. Walaupun sebagian orang mengatakan bahwa engkau telah menepati sunnah yang muakkadah dikarenakan menyelisihi syi’ah, karena sesungguhnya mereka melihat bahwa shalat tarawih itu adalah bid’ah. Maka kita tidak menyepakati mereka akan tetapi kita menginginkan untuk menyepakati atau sesuai dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan apabila ditakutkan tertidur ataupun disibukkan di dalam rumahnya dari anak-anaknya atau yang lainnya maka kami nasehatkan untuk keluar menuju ke masjid.

Sholat di belakang imam tarawih 20 raka’at

Soal ke-30 : Apabila aku shalat di masjid kemudian imam di dalamnya shalat dengan dua puluh rakaat maka apakah aku ikut menyempurnakan bersamanya dalam rangka mengikuti imam ataukah aku shalat delapan raka’at lalu aku witir sendirian kemudian keluar ?

Jawab : Saya nasehatkan hendaknya engkau shalat delapan raka’at saja dan kemudian engkau shalat witir sendirian. Maka sesungguhnya mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam adalah lebih utama, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam mengatakan,

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melaksanakan sholat.”

Bolehkah sholat tarawih di rumah

Soal ke-31: Apakah dibolehkan bagi seseorang untuk melaksanakan shalat bersama keluarganya di rumah, yaitu shalat tarawih ?

Jawab : Tidak mengapa akan hal itu dan hal itu adalah afdhal sebagaimana yang telah lewat.

Wanita keluar sholat tarawih dengan wangiwangian

Soal ke-32 : Apa hukumnya keluarnya seorang wanita dalam keadaan berdandan dan memakai wangiwangian untuk melaksanakan shalat tarawih berdasarkan keyakinan bahwa ini adalah sebagai realisasi dari firman Allah Ta’ala,”

خُذُوا زِیْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ ”

Ambillah (pakailah) perhiasan-perhiasanmu pada setiap masjid

Jawab : Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam memberikan rukhshah kepada parawanita untuk keluar menuju ke masjid pada shalat Isya’ dengan syarat mereka keluar dengan memakai (atau menutupi) pakaiannya (dengan syarat mereka keluar tertutup) yaitu dengan memakai pakaian yang tidak kelihatan pandangan dan tidak pula memakai wangi-wangian. Dan Abu Hurairah  berkata bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

Perempuan mana saja yang keluar dalam keadaan memakai wangi-wangian dengan tujuan supaya orang-orang mendapatkan baunya, maka ia telah berzina.”

Mematikan lampu pada waktu shalat supaya menambah kekhusyu’an

Soal ke-33 : Mematikan lampu pada waktu shalat supaya menambah kekhusyuan sebagaimana yang terjadi pada diri kami dalam bulan Ramadhan. Maka apa pendapatmu tentang hal ini dan apakah hal ini sampai kepada perkara yang bid’ah ?

Jawab : Tidak, hal ini tidak sampai kepada batasan bid’ah dan bukan pula merupakan suatu yang sunnah. Maka apabila seseorang merasa menambah kekhusyu’an apabila ia memejamkan kedua matanya dan memati-kan lampu, bahkan akan menjadikannya lebih jauh dari sifat riya’ maka hal ini tidak mengapa. Walaupun memang bahwasanya manusia berbeda dalam hal ini, maka tidak sepatutnya untuk mewajibkan atau menarik/ menekan seseorang kepada pendapat-nya dan mematikan lampu. Sebagian orang tidak menyukai akan hal itu.

Tentang hadits, “Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid”

Soal ke-34 : Apa pendapatmu tentang hadits, “Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid” ?

Jawab : Sebagian di antara mereka (ahli ilmu) ada yang menganggap bahwa hadits tersebut adalah mauquf kepada Hudzaifah  dan sebagian yang lain ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya Hudzaifah berkata kepada Abdullah bin Mas’ud , “Bahwa sesungguhnya orang-orang itu mereka melaksanakan shalat antara engkau dan antara ini dan itu.” Dan tampaknya mereka semuanya berada di Kufah. Maka berkata Abdullah ibn Mas’ud, “Barangkali mereka-lah yang benar sedang engkau yang salah.” Mereka (sebagian ahli ilmu) mengatakan, jika sekiranya hadits ini marfu’ maka tidak mungkin Abdullah ibn Mas’ud berani untuk mengatakan kepada Hudzaifah, “Barangkali mereka yang benar dan engkau yang salah.

Dan jika sekiranya hadits ini benar (shahih) maka tafsirannya menjadi bahwa tidak ada i’tikaf yang lebih afdhal. Oleh karena itu, maka ini menjadi dalil keutamaan atau keafdhaliyahan i’tikaf di tiga masjid ini seperti yang telah terdapat dalil-dalil yang menyebutkan tentang keutamaan shalat di tiga masjid. Dan kalau tidak demikian maka ayat juga datang secara mutlak yaitu,

وَلاَ تُبَاشِرُوْهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِي الْمَسَاجِدِ

Dan janganlah kalian menggauli istri-istrimu sedang kalian beri’tikaf di masjid.”

Dan tidak terdapat keterikatan (pengkhususannya) dengan tiga masjid, lagi pula hadits ini adalah idhthirab, terdapat di dalamnya kadangkadang Hudzaifah meriwayatkannya mauquf dan pada riwayat lain meriwayatkannya dengan marfu’, maka jauhlah dari amalan-amalan kaum muslimin. Dan aku juga mengetahui bahwa ada sebagian saudara-saudara yang telah menuliskan risalah tentang hal ini. Akan tetapi tidak semestinya untuk menyempit-kan manusia (kaum muslimin) dengan se-suatu apapun yang Allah Ta’ala telah berikan keluasan atas mereka.

Lansia yang sudah pikun, bagaimana tentang shoumnya

Soal ke-35 : Seorang perempuan yang sudah lanjut usianya dan sudah berubah akalnya dengan sebagian perubahan-perubahan, kemudian ia meninggal dan ia punya hutang shaum dua kali bulan Ramadhan, sedangkan ia tidak mengetahui Ramadhan dari selainnya disebabkan karena terjadi hilang ingatan/akalnya (atau terjadi perubahan akalnya). Apakah bagi anaknya untuk memberikan makanan untuk menggantikan shaumnya ataukah ia mesti shaum ?

Jawab : Keadaan dia adalah termasuk orang-orang yang diangkat atau diberikan rukhshah

kepadanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

رفَع ْالقَلَم عن َثلاََثةٍ عنِ ْالمَجنونِ حتى يفِيق وعنِ الصغِيرِ حتى يبلُغَ و عنِ النائِمِ حتى يستيقِظَ

Diangkat pena dari tiga orang, dari orang yang gila sehingga ia sadar, dari anak kecil sehingga di baligh dan dari orang yang tertidur sehingga ia bangun kembali.”

Maka tidak ada keharusan apa-apa untuknya.

Onani di bulan Ramadhan

Soal ke-36 : Apa hukumnya seseorang yang melakukan onani di bulan Ramadhan, apakah ia diharuskan seperti orang yang menjima’i istrinya ?

Jawab : Ia menjadi berdosa. Adapun memberikan kafarah maka ia tidak dituntut sedangkan tentang dosanya dikarenakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda yang meriwayatkannya dari Rabb-nya,

“…meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena aku.”

Dan tidak ada pula atasnya kewajiban untuk mengqadha karena sesungguhnya mengqadha itu tidak ada kecuali dengan dalil. Sedangkan dalil terdapat pada orang-orang yang musafir dan yang sakit apabila berbuka. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

{فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِیْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةُ مِنْ أَیَّامٍ آُخَرَ}

Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan maka hendaknya menggantinya pada hari yang lainnya.”

Demikian pula dengan wanita yang haidh, dia hendaknya mengqadha shaum dikarenakan hadits Aisyah  dalam Shahihain. Dan juga orang yang menyusui dan yang hamil apabila ia berbuka diwajibkan untuk mengqadha dikarena-kan hadits Anas bin Malik Al-Ka’bi . Dan perkara qadha ini juga adalah dikarenakan ayat yang telah lewat, wallahu a’lam.

Tahlil, takbir, tahmid setelah bacaan surat Adh- Dhuha imam tarawih

Soal ke-37 : Apakah hukumya orang yang shalat tarawih pada bulan Ramadhan kemudian ketika ia membaca surat Adh-Dhuha ia memerintahkan kepada makmum yang ada di belakangnya untuk mengangkat suara-suaranya atau untuk mengucapkan kalimat ‘laa ilaha illallahu wallahu akbar wa lillahilhamd’. Dan ia mengira bahwasanya itu adalah perkara sunnah karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika tidak dating kepadanya wahyu kemudian turun wahyu kepadanya maka ia bertakbir dan memerintahkan para sahabatnya untuk bertakbir. Dan apakah akan diterima shalat dengan memberikan tambahan di dalamnya dari jenisnya ?

Jawab : Adapun ucapan ‘laa ilaha illallahu wallahu akbar’ sesudah membaca surat Adh-Dhuha, maka terdapat satu hadits yang dhaif yang telah disebutkan oleh Al-Hafiz Adz-Dzahaby di dalam kitab ‘Thabaqatul Qura Al-Kibar’ dan ia mengatakan di dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Ibnu Abi Barzah. Dan ia bukan yang dimaksud adalah Qasim bin Abi Barzah, karena Qasim bin Abi Barzah adalah tsiqah. Akan tetapi yang dimaksudkan adalah Ahmad bin Muhammad. Maka tidak terdapat hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam tentang perintah untuk hal itu atau untuk mengatakan hal itu akan tetapi justru ucapan itu adalah dikategorikan sebagai bid’ah.

Adapun membuat tambahan-tambahan di dalam shalat dengan sesuatu hal yang termasuk dari jenisnya maka tidak boleh, karena kita sesungguhya bukanlah orang yang membuat keributan di dalam agama Allah. Dan telah terdapat di dalam Shahih dari Nabi , bahwa beliau berkata kepada Malik bin Huwairits  dan sahabat-sahabatnya,

Shalatlah kalian seperti halnya kalian melihat aku melaksanakan shalat.”

Kecuali jika tambahan itu dalam hal doa-doa qunut atau sujud atau tasyahud sebagaimana yang telah kami terangkan di dalam kitab ‘Riyadhul Jannah fii Raddi ala A’daai As-Sunnah’.

Shoum sunnah sebelum lunas mengqadha shoum wajib

Soal ke-38 : Apakah boleh mendahulukan shaum yang tathawwu atas shaum yang wajib. Contohnya seorang laki-laki masih mempunyai hutang shaum di bulan Ramadhan kemudian ia hendak melaksanakan shaum satu hari, maka apakah ia mendahulukan yang wajib dulu ataukah yang tathawwu ?

Jawab : Apabila ditakutkan tertinggal hari itu atau hari-hari itu (yaitu hari-hari shaum tathawwu pent) maka tidak mengapa akan hal ini. Karena sesungguhnya waktu mengqadha itu adalah waktu yang panjang/waktu yang luas. Aisyah  berkata, “Kami tidak mengqadha kecuali di bulan Sya’ban,” karena beliau disibukkan dengan Rasul . Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, yang meriwayatkan dari Rabb-nya :

Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang Aku cintai dari perkara-perkara yang Aku wajibkan atasnya dan masih saja ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan yang nafilah sehingga Aku mencintainya…” sampai akhir hadits.

Maka yang paling afdhal adalah mendahulukan apa-apa yang telah Allah Ta’ala wajibkan atasnya. Akan tetapi jika di sana ada hari yang utama dan ia takut meninggalkannya atau tertinggal, sedangkan waktu mengqadha adalah waktu yang luas maka tidak mengapa, insya Allah. Seperti enam hari di bulan Syawal (setelah puasa wajib di bulan Ramadhan pent) atau seperti tiga hari di setiap bulan dan seperti shaum Senin-Kamis dan juga shaum hari Arafah dan hari Asyura.

Shoum bagi musafir yang berniat tinggal dalam waktu lama

Soal ke-39 : Apa hukumnya shaum bagi orang yang musafir yang dia berniat untuk tinggal dalam waktu yang ditentukan, seperti sebulan misalnya ?

Jawab : Apabila ia berniat melebihi 20 hari maka hendaklah ia shaum dan tidak dianggap sebagai musafir. Dan barangsiapa yang mengatakan bahwa ia dianggap sebagai musafir maka telah menyelisihi keumuman manusia dan makna secara bahasa dari makna kata ‘safar’. Sedangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam , beliau tinggal di Tabuk selama 19 hari dan berkata Ibnu Abbas ,

Apabila kami menetap setelah itu maka kami menyempurnakan shalat.”

Yang berarti bahwa kami tidak lagi sebagai musafir dan ini adalah pendapat(ijtihadnya) Ibnu Abbas . Akan tetapi ini yang lebih dekat, insya Allah Ta’ala.

Keluar mani setelah bercumbu

Soal ke-40 : Seorang laki-laki mencumbui istrinya disiang hari di bulan Ramadhan kemudian ia keluar maninya sedangkan ia tidak mengetahui apakah hal itu haram ataukah tidak haram. Maka apakah diwajibkan atasnya sesuatu ?

Jawab: Apabila ia mencumbui istrinya dengan tujuan untuk memenuhi syahwatnya dengan mengeluarkan maninya di luar daripada farji (kemaluan) istrinya maka ia dianggap ber-dosa. Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda dari apa-apa yang meriwayatkan-nya dari Rabb-nya,

“…meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku.”

Dan apabila ia mencumbui istrinya dalam keadaan tidak mengetahui atau bodoh akan hukumnya maka hendaknya ia bertaubat kepada Allah dan apabila ia mengetahui maka hendaknya ia bertaubat kepada Allah jika ia mengetahui hal itu. Dan apabila ia mencumbui istrinya sedangkan ia dalam keadaan mengetahui bahwa mencumbui ini adalah hal yang diperbolehkan baginya

kemudian ia memeluknya dan ia beranggapan bahwa hal ini tidak haram atasnya kecuali jima’ kemudian setelah itu ia mengeluarkan mani dan ia tidak bermaksud untuk mengeluarkan mani, maka tidak apa-apa baginya. Dan walau bagaimanapun maka tidak diwajibkan atasnya untuk memberikan kafarah jima’ pada setiap keadaan, dan ini adalah ucapan (pendapat) Abu Muhammad bin Hazm rahimahullah ta’ala dan ini adalah shahih.

Zakat fitrah kepada pemerintah atau dalam bentuk uang

Soal ke-41 : Apa pendapatmu tentang zakat yang diberikan kepada pemerintah di bulan Ramadhan, apakah ia sah ataukah tidak sah? Mohon terangkan kepada kami.

Jawab : Zakat yang diserahkannya yang dimaksudkan adalah zakat fitrah maka pemerintah biasanya mengambilnya dalam bentuk uang. Sedangkan zakat fitrah itu ialah seperti apa yang telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dari hadits Abdullah bin Umar dan hadits Abu Said Al- Khudri  yaitu satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum atau satu sha’ dari anggur yang dikeringkan atau satu sha’ dari akid (keju). Maka jika ia mendapatkan kemudahan dari salah satu dari empat macam tersebut maka silakan untuk mengeluarkannya dan jika tidak memudahkannya dari hal tersebut maka hendaknya dari pokok hasil bumi.

Adapun menggantinya atau menghargakannya dengan uang maka yang shahih dalam hal ini adalah tidak sah. Akan tetapi apabila pemerintahan mengharuskannya dengan hal ini dan tidak menguatkannya dengan dalil-dalil, maka jika seseorang mampu maka hendaklah ia mengeluarkan dari biji-bijian atau dari empat macam tadi. Kemudian ia memberikan harganya atau uangnya kemudian ia memberikan atas apa yang diinginkan atau diharuskan oleh pemerintahan sehingga ia selamat dari kejahatannya. Dan jika ia tidak mampu untuk mengeluarkan zakat dua kali maka sah untuknya mengeluarkan dari macam yang pertama. Maka sah baginya untuk mengeluarkan salah satunya dan dosanya kembali kepada pemerintah.

Wanita tidak shoum karena hamil dan melahirkan

Soal ke-42 : Ada seseorang yang bertanya tentang perempuan yang tidak mampu untuk melaksanakan shaum Ramadhan dikarenakan melahirkan atau kehamilan.

Jawab : Maka hendaknya ia meng-qadha, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’anul Karim,

{فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِیْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةُ مِنْ أَیَّامٍ أُخَر}

Maka barangsiapa di antara kalian sakit atau bepergian maka hendaknya mengganti pada hari yang lainnya.”

Maka hendaknya ia mengqadha pada waktu yang ia mampui, baik itu setelah setahun atau dua tahun atau bahkan tiga tahun. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.

Dan telah terdapat di dalam Sunan (dalam salah satu kitab sunan pent) dari hadits Anas bin Malik Al- Ka’bi . Ia berkata, “Aku menemui Rasulullah, kemudian Rasulullah berkata, ‘Kemarilah kepada makanan’, kemudian aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang dalam keadaan shaum (yakni dia sedang dalam keadaan musafir).’ Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata,

إِنَّ الله وضع عنِ الْم سافِرِ شطْر الصلاَةِ ووضع عنِ

الْم سافِرِ والْحامِلِ وْالمُرضِعِ الصيام

Sesungguhnya Allah menggugurkan atas orang yang musafir setengah sholat (atau keringanan) shalat dan menggugurkan bagi yang musafir dan bagi yang hamil dan orang yang menyusui dari shaum (keringanan shaum),” atau yang semakna dengan ini.

Dan yang dimaksud dengan meletakkan di sini adalah meletakkan sementara, berdasarkan ayat yang kalian telah mendengarnya yaitu,

{فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِیْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةُ مِنْ أَیَّامٍ أُخَر}

Barangsiapa di antara kalian yang sakit atau bepergian maka hendaknya mengganti pada hari yang lainnya.”

Sebagian kalangan ahlil ilmi ada yang mengatakan bahwa jika sudah lewat satu tahun sedang ia belum mengqadha Ramadhan yang pertama maka diharuskan baginya untuk membayar kafarah bersamaan dengan qadha. Atau mengatakan bahwa wajib atas seseorang, siapa saja baik itu dalam keadaan sakit atau keadaan musafir, kemudian lewat satu tahun maka wajib baginya untuk membayar kafarah disertai dengan membayar qadha (menggantinya). Akan tetapi tidak ada dalil di sana baik dari Kitabullah atau Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam , hanya dari sebagian perkataan salafush shalih saja. Dan kita mengambil dengan dhahir ayat bahwasanya Allah Ta’ala tidak mengatakan,

Barangsiapa di antara kalian yang sakit atau bepergian maka hendaklah ia menggantinya pada hari-hari yang lain. Dan apabila melewati satu tahun sedang ia belum mengqadha maka sedekahlah diamembayar kafarah.”

Dan tidaklah Rabb-mu ini memiliki sifat pelupa“.

Maka tidak ada baginya kecuali mengqadha saja jika ia mampu walaupun ia lewat tiga kali Ramadhan atau bahkan lebih. Kemudian setelah itu jika ia mampu untuk mengqadha maka mengqadhalah, wallahul musta’an. Dan mengqadha ini tidak mesti berurut-urutan sehingga tidak memberatkan kepadanya. Jika sekiranya dia shaum tiga hari kemudian berbuka pada satu hari sesuai dengan kekuatan dan kemampuan, maka lakukanlah. Maka Aisyah  mengatakan bahwasanya tersisa padanya sesuatu (shaum) Ramadhan, yaitu disebabkan karena haidh kemudian beliau tidak mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban. Dan yang dimaksudkan oleh Aisyah  bahwa sesungguhnya qadha ini tidak mesti segera, wallahul musta’an.

Wanita haidh dan nifas menyentuh dan membaca Al-Qur’an

Soal ke-43 : Apakah diperbolehkan bagi seorang perempuan yang sedang haidh atau nifas untuk menyentuh mushaf Al-Quran dan membacanya, terlebih khusus di bulan Ramadhan yang penuh berkah, dimana orang-orang mengkhususkannya untuk meng-khatam-kan Al-Quran ?

Jawab : Aku tidak mengetahui di sana ada larangan tentang hal itu, sedangkan hadits, “ Tidak boleh seseorang menyentuh Al-Quran kecuali yang thahir (suci).“

Maka sebagian mereka (ahlil ilmi pent) ada yang berpendapat bahwa hadits itu adalah mursal. Dan jika sekiranya hadits tersebut dengan berbagai banyak jalannya adalah menjadi shalih (shahih) untuk dipakai sebagai hujjah, maka ia diambil kepada apa yang dikatakan oleh Imam Asy-Syaukani di dalam kitabnya, yaitu Nailul Authar. Beliau mengatakan,

Tidak boleh disentuh Al-Quran kecuali oleh yang thahir, yakni adalah maksudnya yang muslim. Maka tidak boleh orang kafir menyentuhnya karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam melarang untuk membawa safar Al-Quran ke negeri musuh.”

Dan adapun firman Allah Ta’ala,

لاَیمََسُّهُ إِلاَّ اْلمُطَهَّرُوْنَ

“ Tidak ada yang menyentuhnya kecuali almuthaharuun “,

Maka yang dimaksud dengan mereka adalah almalaaikat, seperti halnya perkataan Imam Malik di dalam Muwaththa-nya berkata, “Bahwa ayatini ditafsirkan dengan firman Allah Ta’ala,

كَلاَّ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ, فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ, فِي صُحُفُ مُكَرَّمَةٍ, مَرْفُوْعَةٍ مُطَهَّرَةٍ, بِأَیْدِي سَفَرَةٍ, كِرَامٍ بَرَرَةٍ,

Jangan demikian, sesungguhnya dia (petunjuk di dalam Al-Qur’an) adalah suatu peringatan, Maka barangsiapa yang menghendaki niscaya dia mengingatkannya, Dalam lembaran-lembaran (kitab-kitab) yang dimuliakan, Yang ditinggikan lagi disucikan, Di tangan para utusan, Yang mulia lagi (pula) takwa” (QS.’Abasa : 11–16), yakni yang dimaksudkan adalah para malaikat.

Seperti halnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَا تَنَزَلَتْ بِهِ الشَّیَاطِیْنُ. وَمَا یَنْبَغِيْ لهَمُ وَمَایَسْتَطِیْعُوْنَ إِنَّهُمْ عَن السَّمْعِ لَمَعْزُوْلُوْنَ

Dan Al-Qur’an itu bukanlah dibawa turun oleh syaithan-syaithan. Dan tidaklah patut mereka membawa Al-Qur’an itu dan merekapun tidak kuasa.

Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengarkan Al-Qur’an itu. (Qs. Asy- Syu’aro 26 : 210-212)

Wanita haidh dan nifas menghadiri majlis-majlis ilmu di masjid

Soal ke-44 : Apakah dibolehkan baginya untuk menghadiri majlis-majlis ilmu dan durus-durus di masjid ?

Jawab : Tidak mengapa, insya Allah. Sedangkan hadits yang menyatakan,

إِني لاَ ُأحِلُّ ْالمَسجِد لحَائِضٍ ولاَ جنبٍ

Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi yang haidh ataupun yang junub“, ini adalah hadits yang dhaif.

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam mengatakan kepada Aisyah ,

إِنِّ حيضتكِ َليست فِي يدِكِ ويقُولُ َلهَا َأيضا

Sesungguhnya haidhmu bukanlah pada tanganmu.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam juga mengatakan kepada Aisyah ,

إِفْعلِى مايفْعلُ ْالحَاج غَير َأنْ لاَ تطُوفِي بِاْلبيتِ

Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang orang yang haji kecuali tidak boleh untukmu berthawaf di Baitul Haram.”

فَلاَ بأْس َأنْ تح ضر د روس ْالعلم فِي ْالمَسجِدِ

Maka tidak mengapa baginya untuk menghadiri durus-durus ilmu di masjid.

Walhamdulillahi rabbil alamin.

م نْ ص ام رم ض انَ إی م انًا و اح تِس اب ا غَفِر له م اتَقَد م مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari-Muslim)

Telah berlalu dalam hidup kita belasan bahkan puluhan bulan Ramadhan. Apakah amaliyah Ramadhan kita telah

menjadikan kita hamba Alloh yang beruntung dan meraih janji-janjinya?

Akankah kita biarkan Ramadhan yang akan datang kita alani dengan kebodohan dan sekedar menggugurkan kewajiban semata?

Segeralah raih janji-janji Alloh dengan amal yang erdasarkan ilmu. Buku ini akan menjawab tuntas keraguan an kerancuan amaliyah Ramadhan kita selama ini

Catatan:

1 Pemula dalam tholabul ilmi

2 Hadits mudhtorrib adalah hadits yang datang dari banyak jalan dan berbeda-beda lafazhnya sehingga tidak bisa untuk dirajihkan, dan hadits mudhtarib ini termasuk dalam kerangka hadits-hadits dhaif.

SUMBER :

Judul Asli : Bulugh Al Maram min Fatawa Ash Shiyam As-ilah Ajaba ‘alaiha Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’I, Peringkas : Abu Malik Al Maqthory, Abu Tholhah Ad Duba’I, Penerbit : Al Maktabah As Salafiyyah Ad Da’wiyyah, – Masjid Jamal Ad Din – Al Bab Al Kabir, – Al Yaman – Ta’iz

Edisi Indonesia :

RISALAH RAMADHAN, Untuk Saudaraku, Kumpulan 44 Fatwa Muqbil bin Hadi al-Wadi’I, Penerjemah Ibnu Abi Yusuf, Editor Ustadz Abu Hamzah, Setting & Lay Out Afaf Abu Rafif, Penerbit Pustaka Ats-TsiQaatPress, Jl. Kota Baru III No 12, Telp 022 5205831, Cetakan Ke-I Sya’ban 1423 H

Sumber: dikutip dari pfd http://assunnah.cjb.net, Oleh: Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hadi Al-Wadi’I, Penerjemah: Al Ustadz Abu Hamzah Bandung, Fatwa-fatwa Syaikh Muqbil Seputar Puasa

ASAL USUL & HUKUM MENGUCAPKAN : “Taqabbalallahu Minna wa Minkum” & & Hukum saling mengunjungi dan berjabat tangan ketika berjumpa di hari raya 1 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in fatwa, fiqih, perayaan, puasa.
add a comment

ASAL USUL & HUKUM MENGUCAPKAN : “Taqabbalallahu Minna wa Minkum” & & Hukum saling mengunjungi dan berjabat tangan ketika berjumpa di hari raya

 

Hukum Ucapan: Taqabbalallahu Minna wa Minkum

Ummu Abdillah bintu Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullahu

 

Tradisi salam-salaman alias berjabat tangan di negeri kita saat hari raya masih terus berlangsung, walaupun sebenarnya untuk saling berjabat tangan dan meminta maaf tidak perlu menunggu hari raya. Kapan kita memiliki kesalahan maka segera meminta maaf, dan kapan kita bertemu dengan saudara kita maka kita mengucapkan salam dan berjabat tangan. Demikian pula tahni’ah, ucapan selamat seorang muslim ketika bertemu dengan saudaranya dengan mengatakan, “taqabbalallahu minna wa minkum”.

Ucapan selamat pada hari Id ini pernah ditanyakan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu sebagaimana dalam Majmu’ Al-Fatawa (24/253). Beliau menjawab, “Tidak ada asalnya dalam syariat. Telah diriwayatkan dari sekelompok shahabat bahwa mereka melakukannya. Sebagian imam memberi rukhshah untuk melakukannya seperti Al-Imam Ahmad rahimahullahu dan selainnya. Akan tetapi Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata, ‘Aku tidak memulai mengucapkannya kepada seseorang. Namun bila ada yang lebih dahulu mengucapkannya kepadaku, aku pun menjawabnya karena menjawab tahiyyah itu wajib.’ Adapun memulai mengucapkan tahni`ah bukanlah sunnah yang diperintahkan dan juga tidak dilarang. Siapa yang melakukannya maka ia punya contoh dan siapa yang meninggalkannya maka ia punya contoh.”

Yang dimaksudkan tahiyyah oleh Imam Ahmad rahimahullahu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ‏‎ ‎فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ‏‎ ‎رُدُّوْهَا

“Dan apabila kalian diberi ucapan salam penghormatan maka jawablah dengan yang lebih baik darinya atau balaslah dengan yang semisalnya.” (An-Nisa`: 86)

Adapun saling mengunjungi saat hari raya dan berjabat tangan ketika berjumpa di hari raya, demikian pula saling mengucapkan selamat, bukanlah perkara yang disyariatkan bagi pria maupun wanita. Namun demikian, hukumnya tidak sampai bid’ah. Terkecuali bila pelakunya menganggap hal itu sebagai taqarrub (ibadah yang dapat mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, barulah sampai pada bid’ah karena hal itu tidak pernah dilakukan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Nashihati lin Nisa`, Ummu Abdillah bintu Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullahu, hal. 124)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Faedah ini diambil dari http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=585.