jump to navigation

Tingkatan Manusia Disaat Musibah 13 Juni 2011

Posted by jihadsabili in nasehat.
trackback

Tingkatan Manusia Disaat Musibah

 

Para ulama menyebutkan bahwa saat musibah terjadi, manusia meiliki empat tingkatan, yaitu :

Tingkatan Pertama, yaitu sabar; Ini hukumnya wajib

Tingkata Kedua, yaitu reala; hukumnya sunnah menurut pendapat yang paling kuat. Bedanya sabar dan rela adalah bahwa seorang penyabar terbiasa merasakan pahitnya kesabaran, dan apa yang terjadi membuatnya menderita. Akan tetapi, ia tetap menahan dirinya untuk tidak mengaduh atau mengeluh. Adapun orang yang rela, sebuah musibah terasa dingin dalam hatinya dan ia tidak lagi merasakan pahitnya kesabaran. Seorang yang rela kondisinya lebih sempurna daripada seorang penyabar.

Tingkatan Ketiga, syukur; yaitu bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala atas musibah yang ditimpakan kepadanya. Jika ada orang yang bertanya, “Bagaimana seorang bersyukur atas musibah yang dideritanya ?”. Jawabnya, bersyukur atas musibah bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Pertama, membandingkan musibah itu dengan musibah lain yang lebih besar. Bila sesorang membandingkan musibah dunia dengan musibah agama, niscaya musibah dunia akan terasa lebih ringan baginya. Dengan demikian, ia akan bersyukur kepada Allah, sebab Allah tidak menimpakan musibah yang lebih berat kepadanya.

Kedua, menanti pahala atas musibah yang dialaminya. Setiap kali musibah itu semakin berat dimatanya, ia menganggap bahwa pahalanya akan semakin besar.

Para ulama suka menceritakan beberapa wanita ahli ibadah yang sering dilanda musibah. Diwajah mereka tidak tampak kepanikan atau keluhan sedikitpun. Ketika kepada mereka ditanyakan hal tersebut, mereka menjawab, “Manisnya pahala dari musibah ini membuatku melupakan pahitnya kesabaran dalam menghadapinya”.

Tingkatan Keempat, benci dan mengeluh. Ini adalah sikap yang diharamkan, bahkan termasuk dosa besar. Rasulullah Shalahu alaihi wasaalam. bersabda “Bukanlah termasuk golongan kita orang yang memukul-mukul pipinya, menyobek jubahnya dan tradisi Jahiliyah” (HR. Bukhari dalam bab “al-Jana’iz” tentang Laisa Minna Man Dharaba al-Khudud, no. 1297)

Source Referensi :

Al-Yamani, Abdullah.2009.Sabar, Penjelasan hukum, ada, faidah dan himah bersabar berikut penafsiran dalil-dalilnya dari al-Qur’an dan hadis, serta suri tauladan dari para nabi, sahabat, tabi’in, dan as-salaf ash-shalih dalam menempuh kehidupan dan menghadapi pelbagai ujian. Jakarta : Qisthi Press

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: