jump to navigation

Ketika Orang Tua Tidak Merestui Calon Kita~ 11 Juni 2011

Posted by jihadsabili in cinta, jodoh, munakahat.
trackback

~Ketika Orang Tua Tidak Merestui Calon Kita~~ ♪♫•*¨*•.¸¸❤ﷲ❤¸¸.•*¨*•♫♪♪♫•*¨*•.¸¸❤ﷲ❤¸¸.•*¨*•♫♪♪ * *** Y_Y بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِارَّحْمَنِ ارَّحِيم لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ikhwah… Perlu kita ingat kembali bahwa hukum w…anita menjalin hubungan dengan laki-laki yang bukan mahram (pacaran) adalah haram, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama. Allah Ta ’ala berfirman: “Dan janganlah kalian mendekati zina, karena ia merupakan suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. ” (Qs. Al-Isra’: 32) Ayat ini melarang dan mengharamkan kita untuk mendekati zina, apapun bentuknya. Dan diantara bentuk perbuatan mendekati zina adalah pacaran. Ingat pula sabda Nabi – shallallahu ’alaihi wa sallam-: “Sesungguhnya Allah mentakdirkan untuk anak adam, bagian zina yang ia pasti akan melakukannya. Maka zinanya mata adalah melihat, zinanya lisan adalah dengan bertutur kata, dan hatinya berangan- angan dan menyenangi sesuatu. Sedang kemaluannya, bisa jadi ia menuruti semua itu, dan bisa juga ia tidak menurutinya. ” (HR. Bukhari no.6243, Muslim no.2657) “Andai saja kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan penusuk dari besi, itu lebih baik bagi dia, daripada memegang wanita yang tidak halal baginya. ” (HR. Thabarani, dan di- shahih-kan oleh Albani dalam Silsilah Shahihah, hadits no: 226) Dan Islam tidak melarang sesuatu, kecuali karena adanya banyak mafsadah di dalamnya, atau mafsadah-nya lebih besar dari pada manfaatnya. Baik mafsadah itu kita rasakan langsung atau tidak. Oleh karena itu, mohonlah ampun kepada Allah dan bertaubatlah, karena Rasul – shallallahu ’alaihi wa sallam- juga bersabda: “ Setiap anak adam itu banyak salahnya, dan sebaik-baik orang yang banyak salahnya itu mereka yang banyak taubatnya. ” (HR. Tirmidzi: 2499, dan di-hasan-kan oleh Al Albani) Kedua: Jangan kita lupakan pula, bahwa kita terlahir di dunia, -dari bayi yang tidak tahu apa-apa, hingga dewasa sehingga kaya ilmu-, adalah atas jasa orang tua kita. Oleh karena itulah Islam sangat menekankan masalah berbakti kepada orang tua, membahagiakan mereka, dan tidak durhaka pada mereka. Bahkan Nabi -shallallahu ’alaihi wa sallam- bersabda: ﺭﺿﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺭﺿﺎ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺳﺨﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺳﺨﻂ ﺍﻟﻮﺍﻟﺪﻳﻦ “Keridhaan Allah itu terletak pada keridhaan kedua orang tua, dan (sebaliknya) kemurkaaan Allah (juga) terletak pada kemurkaan kedua orang tua. “ Apalagi, kita juga nantinya akan menjadi orang tua bagi anak- anak kita, bukankah ketika itu, kita juga ingin agar anak kita berbakti pada kita, membahagiakan kita, dan tidak mendurhakai kita?! Jika kita nantinya ingin seperti ini, maka hendaklah sekarang kita melakukannya untuk orang tua kita, karena balasan sesuatu itu sesuai dengan amalan yang kita lakukan. (fal jaza’u min jinsil amal) Ketiga: Islam sangatlah menghormati wanita, dan melindunginya dari segala sesuatu yang merugikan dan membahayakannya. Oleh karena itulah, ia tidak boleh menikah kecuali dengan izin dari walinya, sebagaimana sabda Nabi -shallallahu ’alaihi wa sallam-: “Siapapun wanita yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batal (tidak sah). ” Dan jika bapak anti masih ada, beliaulah yang harus menjadi wali. Maka bagaimana anti akan menikah dengan sah, jika bapak anti tidak mengizinkannya?! Keempat: Keputusan menikah adalah keputusan yang sangat besar dalam perjalanan hidup anti, dan konsekuensinya akan anti rasakan seumur hidup. Oleh karena itu, hendaklah ekstra hati-hati dalam menghadapi masalah ini. Bertukar pendapatlah dengan orang yang paling berhak dijadikan rujukan, yakni orang tua kita. Biasanya mereka lebih jernih dalam melihat keadaan dari pada kita, karena mereka lebih pengalaman dalam mengarungi kehidupan, dan lebih matang pikirannya. Tentunya keputusan yang diambil dari kesepakatan antara kita dengan mereka, itu lebih baik dan lebih matang dari pada keputusan dari satu pihak saja. Ditambah lagi, jika kita menjalani suatu keputusan atas restu dari orang tua, tentunya mereka akan selalu mendoakan kebaikan bagi kita, dan tidak diragukan lagi, doa mereka akan sangat mustajab dan menjadikan hidup kita penuh berkah, tentram, dan bahagia dunia akhirat. Kelima: Cobalah membayangkan jika anti berada di posisi orang tua, mungkin anti juga akan mengambil langkah yang sama. Karena seringkali orang tua lebih menghargai anaknya, dari pada kita sendiri. Oleh karena itu, mungkin orang tua merasa tidak pantas anaknya mendapatkan orang yang kurang memenuhi standar dalam pandangannya. Disinilah pentingnya komunikasi, tukar pendapat, dan saling memberi informasi. Keenam: Ingat pula sabda Nabi -shallallahu ’ alaihi wa sallam- tentang pentingnya agama calon kita, tentunya orang yang agamanya kuat, lebih kita dahulukan dari pada orang yang agamanya lemah, karena orang yang agamanya kuat, akan lebih mengetahui hak dan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Ketujuh: Mungkin solusi berikut bisa menjadi pertimbangan anti: * Adakan komunikasi yang lebih baik dan lebih terbuka dengan orang tua. * Jelaskan alasan yang mendasari langkah anti, dan kelebihan yang ada pada pilihan anti. * Jelaskan kerugian yang timbul, jika anti meninggalkan pilihan anti. * Jika satu kesempatan tidak cukup, teruslah komunikasi dalam kesempatan-kesempatan lainnya. * Mungkin orang tua ada pandangan lain, cobalah untuk menjajakinya * Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah, terutama ketika sujud dalam sholat, dan ketika sepertiga malam terakhir, agar dimudahkan urusan anti, dan diberikan solusi terbaik. * Jangan lupa juga untuk sholat istikharah, dan memohon petunjuk Allah, apakah calon anti itu baik bagi masa depan anti di dunia dan akhirat, atau tidak? … Karena hanya Dia-lah yang maha mengetahui apa yang tersembunyi dari hambanya … Petunjuk dari sholat istikharah, tidak harus berupa mimpi, tapi bisa juga dengan perasaan hati, atau yang lainnya. Pesan terakhir, ingatlah selalu dan jangan sampai lupa, bahwa langkah untuk menikah adalah langkah besar dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, jangan sampai kita melangkah, kecuali semuanya sudah clear, serta orang tua setuju dan merestui langkah besar ini Wallahi Taufiq WalHidayah ..Semoga bermanfaat ..Amiin Ya Rabb Subhanaka Allahuma wabihmdika asyhadu ala ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik * Shared By Sohibati (Nasehat Untuk Diri dan Hati)

Komentar»

1. Perantau Ideologis - 12 Juni 2011

Shubhanalloh… terimakasih atas nasehatnya… banyak tulisan-tulisan yang sangat bermanfaat dalam blog ini…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: