jump to navigation

Cara Membantu Mengelola Emosi Anak 28 Mei 2011

Posted by jihadsabili in anak, tips.
trackback

Cara Membantu Mengelola Emosi Anak

Pada diri seorang anak, emosi tak hanya bisa ditumpahkan dengan kemarahan. Emosi bisa juga ditumpahkan lewat berbagai hal yang membahayakan. Nah, bagaimana mengantisipasi hal ini?

Tanpa perasaan takut, Fitria alias Pipit, 10, duduk di salah satu sudut sebuah menara telekomunikasi setinggi 50 meter di Jalan Suka Damai Raya, Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.

Kontan saja, apa yang dilakukan Pipit membuat warga heboh. Orang-orang yang berkerumun di bawah tower was-was karena bocah perempuan itu bisa jatuh.Mereka pun berteriak menyuruh Pipit turun. Tapi apa yang terjadi? Pipit bukannya merasa ngeri. Dia malah berjoget ria di atas tower.

Sebenarnya, apa yang terjadi pada diri bocah ini? Dikatakan oleh pengamat anak, Dr Seto Mulyadi Spi Msi yang akrab disapa Kak Seto, apa yang dilakukan Pipit ini akibat kontrol emosi yang kurang baik.

“Kondisi Pipit ini, di antaranya karena kurangnya kontrol emosi baik yang dilakukan Pipit maupun orangtua yang membesarkannya,” ujar Kak Seto.

Menurut dia, emosi bukan hanya merupakan istilah yang dikaitkan dengan perasaan marah. Emosi merupakan perasaan seseorang yang ditujukan kepada orang lain atau terhadap sesuatu.

Jadi, bukan cuma marah yang bisa dikatakan sebagai emosi. Emosi juga dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, terkejut karena sesuatu, ataupun takut terhadap sesuatu. Sebagai orangtua, penting sekali untuk memerhatikan emosi anak karena yang perlu orang tua ketahui bahwa kecerdasan intelektual tanpa diimbangi emosional bisa sangat memengaruhi potensi dan masa depan anak-anak pada kemudian hari.

Kak Seto mengatakan, emosi anak ditunjukkan dengan cara yang berbeda. Itu sebabnya, orangtua harus tanggap pada emosi anak.

“Karena adakalanya si anak menunjukkan emosinya sehingga ketika orangtua cepat atau tanggap merespons emosi anak, orangtua bisa mempertimbangkan apa yang seharusnya disampaikan kepada buah hati dengan membaca beberapa respons terhadap emosi anak,” tutur psikolog lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Kak Seto menuturkan, tidak hanya orang dewasa yang memiliki emosi, semua orang termasuk anak-anak bahkan bayi memiliki emosi. Namun, yang sedikit membedakan, bayi atau anak belum mengerti perbedaan antara mengalami perasaan dan mengekspresikannya supaya bisa bertingkah laku untuk mengendalikan emosinya.

“Orangtua masih banyak yang tidak menyadari emosi pada anak, bahkan cenderung tidak peduli. Padahal, pada saat itu anak butuh perhatian,” ucap Kak Seto.

Menurut dia, saat ini tidak sedikit orang tua yang peduli pada emosi anak, baik emosi saat anak marah, bahagia, maupun sedih. Padahal yang harus orangtua ketahui, hal tersebut bisa menyebabkan anak tidak bisa mengelola emosinya dengan baik. Dengan begitu, bisa berdampak buruk pada perkembangan emosinya, termasuk berdampak pada pembentukan mental emosionalnya.

“Banyak orangtua menganggap emosi anak sebagai hal yang tidak penting,” kata dewan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ini.

Hal tersebut juga mengakibatkan si anak mengira bahwa perasaan yang mereka reaksikan keliru atau tidak tepat dan bisa dimungkinkan anak akan menghadapi kesulitan dalam mengatur emosi-emosi mereka. Jadi, yang harus orangtua lakukan adalah melakukan pendekatan untuk mengenal emosi anak. Dengan melakukan pendekatan, orangtua bisa memahami perasaan atau emosi anak.

Selain itu orangtua dapat membantu anak membuat keputusan dengan memberikan dukungan secara positif dan mengedepankan keinginan dan perasaan anak. Selain itu, pahami emosi negatif anak yang merupakan salah satu pola asuh yang wajib diperhatikan dan dilakukan oleh orang tua.Karena dengan memahami emosi negatif anak secara dini, akan mencerdaskan emosi anak.

Dikatakan psikolog anak dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI), Fabiola P Setiawan MPSi, bahwa selain karakteristik yang sudah terdapat dalam diri setiap anak, emosi anak juga dapat dipengaruhi pola pengasuhan orangtua, kondisi lingkungan sekitarnya, dan pengalaman yang telah diterimanya.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: