jump to navigation

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT? 9 April 2011

Posted by jihadsabili in cinta.
trackback

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT?

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia

yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam,

Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan

merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka

menikah sudah lebih 32 tahun Mereka dikarunia 4 orang anak

di sinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak

ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan

itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ketiga seluruh

tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang

lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran,

menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur.

Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV

supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya

tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu

jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk

menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang

memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib

dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apaapa

saja yang dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa

menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia

selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun,

dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan

ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah

dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah

orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah

anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masingmasing

dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg

merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yg sulung berkata “Pak

kami ingin sekali merawat ibu , semenjak kami kecil melihat

bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari

bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” .

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya”

sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah

lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak

menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami

sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat

ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2

mereka.

“Anak-anakku ……… Jikalau perkawinan dan hidup didunia ini

hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah……tapi

ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah

lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian…sejenak

kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir

didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat

menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah

dia menginginkan keadaanya seperti ini.

Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa

bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang,

kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan

dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih

sakit.”

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Merekapun

melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno..

dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun

TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun

mengajukan pertanyaan kepada Suyatno

kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg

sudah tidak bisa apa-apa.

disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di

studio. kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup

menahan haru

disitulah pak Suyatno bercerita;

***Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam

perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu,

tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan.

Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan

sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai

saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia

memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit

karena berkorban untuk cinta kita bersama…dan itu merupakan

ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk

mencintainya apa adanya, sehatpun belum tentu saya mencari

penggantinya apalagi dia sakit ***

 

============================================

Sumber artikel, dari buku:

Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 301-303. ISBN 978-6028-686-938.

 

 

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: