jump to navigation

Fitnah Kubur (Na’udzubillah) 9 April 2011

Posted by jihadsabili in kematian.
trackback

Fitnah Kubur (Na’udzubillah)

Bismillahirrahmanirrahim

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاء

Firman Allah, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang dia kehendaki.” (Ibrahim: 27)

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Barra’ Ibn Azib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda tentang ayat di atas:

يُثَبِّتُ اللهُ الذِيْنَ ءَامَنُوْا بِالقَوْلِ الثَّابِتِ. قَالَ : نَزَلَتْ فِي عَذَابِ القَبْرِ ، فَيُقَالُ لَهُ ، مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُوْلُ : رَبِّيَ اللهُ وَنَبِيِّ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ : يُثَبِّتُ اللهُ الذِيْنَ ءَامَنُوْا بِالقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الحَيَوةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ .

“Allah menenguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh,’ ayat ini turun menjelaskan tentang azab kubur, maka ditanyakan kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ Dia menjawab, ‘Rabb saya adalah Allah dan nabi saya adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka itulah (makna) firman Allah, ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat’.” (HR. Muslim).

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ قَدْ أُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُوْنَ فِى قُبُوْرِكُمْ مِثْلَ أَوْ قَرِيْبًا مِنْ فِتْنَةِ الرِّجَال .

“Sungguh telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian difitnah dalam kubur kalian seperti atau mirip fitnah Dajjal.”

“Termasuk iman kepada Hari Akhir adalah iman kepada segala apa yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terjadi setelah kematian. Ahlus Sunnah wal Jamaah beriman kepada fitnah kubur, azab dan nikmat kubur. Adapun fitnah kubur maka manusia difitnah dalam kubur mereka, seseorang ditanya, ‘Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?’ maka, ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Orang mukmin menjawab, ‘Tuhanku Allah, Islam agamaku dan Muhammad nabiku.’ Adapun orang yang bimbang maka dia berkata, ‘Hah, hah, aku tidak tahu aku mendengar orang-orang berkata maka aku mengatakannya.’ Maka dia dipukul dengan palu besi, dia pun berteriak dengan teriakan yang didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia, kalau manusia mendengarnya niscaya dia pingsan kemudian setelah fitnah ini adalah nikmat atau azab.” (Penjelasan Ibnu Taimiyah dalam al-Aqidah al-Wasithiyah)

Fitnah kubur adalah ujian di alam kubur berupa pertanyaan dua malaikat kepada mayit seperti yang telah dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam al-Aqidah al-Wasithiyah yang penulis nukil dalam pembahasan sebelumnya.

Dari al-Barra’ bin Azib berkata, kami sedang mengubur jenazah di Baqi’ Gharqad, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kapada kami, beliau duduk dan kami duduk di sekeliling beliau seolah-olah kepala kami dihinggapi burung, beliau bersabda,

“Aku berlindung kepada Allah dari azab kubur.” Tiga kali… Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maka ruhnya dikembalikan kepada jasadnya, lalu dia didatangi dua malaikat, keduanya bertanya kepadanya, ’Siapa Tuhanmu?’ Dia menjawab, ‘Tuhanku Allah’. Keduanya bertanya,’Apa agamamu?’ Dia menjawab, ‘Agamaku Islam’. Keduanya bertanya kepadanya, ‘Siapakah laki-laki ini yang diutus kapadamu?’ Dia menjawab, ‘Dia adalah Rasulullah’. Keduanya bertanya kepadanya, ‘Dari mana kamu tahu?. Dia menjawab, ‘Aku membaca kitab Allah maka aku beriman kepadanya dan membenarkannya’. Lalu seorang penyeru dari langit berseru, ‘HambaKu benar, maka bentangkanlah dari surga dan bukakanlah untuknya sebuah pintu ke surga’. Dia berkata, ‘Maka datanglah kepadanya kenikmatan dan keharumannya dan dilapangkan untuknya di kuburnya seluas pendangannya.’ Dia berkata, ‘Dia didatangi oleh seorang laki-laki berwajah tampan, berpakaian bagus dan beraroma wangi, laki-laki itu berkata, ‘Aku sampaikan kepadamu berita gembira yang menggembirakanmu, inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu.’ Dia bertanya, ‘Kamu ini siapa? Wajahmu adalah wajah yang hadir membawa kebaikan.’ Dia menjawab, ‘Aku adalah amal shalihmu’. Dia berkata, ‘Ya Rabbi, datangkanlah Kiamat sehingga aku pulang kepada keluarga dan hartaku’.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lalu ruhnya dikembalikan ke jasadnya, dia didatangi dua malaikat lalu mendudukkannya, dua malaikat itu bertanya kepadanya, ‘Siapa Tuhanmu?’ Dia menjawab, ‘Ha..ha. Aku tidak tahu.’ Kedua malaikat itu kembali bertanya, ‘Siapa laki-laki yang diutus kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Ha ha, aku tidak tahu.’ Lalu seorang penyeru dari langit berseru, ‘HambaKu berdusta, maka bentangkanlah dari neraka dan bukakanlah untuknya satu pintu neraka.’ Lalu panas dan aromanya datang kepadanya, kuburnya disempitkan atasnya sehingga tulang-tulang rusuknya bergeser dari tempatnya. Dia didatangi oleh seorang laki-laki berwajah buruk, berpakaian buruk dan berbau busuk, laki-laki itu berkata, ‘Aku sampaikan kepadamu berita yang menyedihkanmu, inilah hari yang pernah dijanjikan kepadamu.’ Dia bertanya, ‘Kamu siapa? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan keburukan.’ Laki-laki itu menjawab, ‘Aku adalah amalmu yang jahat.’ Dia berkata, ‘Ya Rabbi jangan datangkan Kiamat.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki dan Syuaib al-Arnauth).

Setelah fitnah kubur adalah nikmat atau azab kubur, nikmat dan azab ini atas ruh dan jasad mengikuti sebagaimana nikmat dan azab dunia atas jasad dan ruh mengikuti.

Nikmat dan azab kubur di samping ditetapkan oleh hadits di atas ia juga ditetapkan oleh dalil-dalil yang lain di antaranya adalah firman Allah,

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras’.” (Al-Mukmin: 46).

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawamu,’ di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.”
(Al-An’am: 93).

Adapun dalil nikmat dan azab kubur dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia mutawatir, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيْرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى : أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَسْعَى بِالنَّمِيْمَةِ ، وَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ قَالَ ثُمَّ أَخَذَ عُوْدًا رَطْبًا فَكَسَرَهُ بِإِثْنَتَيْنِ ثُمَّ غَرَزَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى قَبْرٍ ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَالَمْ بَيْبَسَا .

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melewati dua kuburan, maka beliau berkata, ‘Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah mereka disiksa karena perkara besar,’ kemudian beliau bersabda, ‘Benar, adapun yang satu maka ia telah melakukan adu domba, adapun yang lainnya karena dia dia tidak beristitar dari kencingnya.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Kemudian beliau mengambil batang kayu segar dan dibelah menjadi dua, kemudian menancapkan masing-masing di atas kuburan tadi kemudian bersabda, ‘Mudah-mudahan keduanya diringankan (azabnya) selama (dua batang kayu tadi) tidak kering’.”.” (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas).

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ المَسِيْحِ الدَّجَّالِ .

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari azab kubur, dari azab neraka, dari fitnah kehidupan dan kematian serta fitnah Dajjal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Peryanyaan :

Apakah fitnah kubur berlaku untuk semua manusia tanpa kecuali ?

Ibnu Utsaimin di Syarh al-Wasithiyah menjawab, ada beberapa orang yang bebas dari fitnah kubur.

Pertama : Para nabi. Mereka tidak ditanya karena dua alasan:

1. Para nabi lebih tinggi daripada para syuhada dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa syahid dilindungi dari fitnah kubur. Sabda beliau,

كَفَى بِبَارِقَةِ السُيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَة .

“Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah.” (HR. an-Nasa`i).

2. Salah satu pertanyaan yang ditujukan kepada mayit adalah siapa nabimu? Pertanyaan ini hanya untuk pengikut Nabi, ia tidak mungkin ditujukan kepada nabi. Masa nabi ditanya siapa nabimu?

Kedua : Para shiddiqin karena dua alasan:

1. Karena derajat shiddiqin lebih tinggi daripada derajat syuhada, maka mereka lebih layak untuk selamat dari fitnah kubur.
2. Karena Shiddiq telah diketahui shidquhu (kebenaran / kejujurannya), jadi tidak perlu diuji, ujian hanya untuk orang yang diragukan apakah dia shadiq atau kadzib?

Ketiga : Para syuhada karena kebenaran iman mereka telah terbukti dengan jihad dan mereka gugur di dalamnya. Nabi bersabda, “Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagia fitnah.” Di samping itu jika murabith (orang yang bersiap-siaga / berjaga-jaga) di jalan Allah mati dalam keadaan tersebut dijamin aman dari fitnah kubur maka syahid lebih layak.

Ke empat : Murabith

Di Shahih Muslim Rasulullah bersabda,

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٍ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ ، وَأُمِنَ الفُتَان .

“Berjaga-jaga dua puluh empat jam lebih baik daripada puasa dan qiyam lail satu bulan, jika dia mati amal yang dulu dia lakukan tetap mengalir kepadanya, rizkinya dialirkan kepadanya dan diberi rasa aman dari fitnah kubur (Mungkar dan Nakir).”

Ke liman : Anak-anak kecil dan orang-orang gila karena mereka bukan mukallaf.

(Rujukan: al-Aqidah Wasithiyah dengan Syarahnya Ibnu Utsamin, al-Aqidah ath-Thahawiyah dengan syarahnya Ibnu Abil Iz al-Hanafi, Kitab Tauhid 2 oleh Tim ahli tauhid).

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: