jump to navigation

Permisalan Wanita yang Baik bagi Insan Beriman 22 April 2011

Posted by jihadsabili in muslimah, nasehat.
add a comment

Permisalan Wanita yang Baik bagi Insan Beriman

Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah

Al-Qur`an telah bertutur tentang dua wanita shalihah yang keimanannya telah menancap kokoh di relung kalbunya. Dialah Asiyah bintu Muzahim, istri Fir’aun, dan Maryam bintu ‘Imran. Dua wanita yang kisahnya terukir indah di dalam Al-Qur`an itu merupakan sosok yang perlu diteladani wanita muslimah saat ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:

وَضَرَبَ اللهُ مَثَلاً لِلَّذِيْنَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ. وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِيْنَ

Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika istri Fir’aun berkata: “Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim.” (Perumpamaan yang lain bagi orang-orang beriman adalah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. (At-Tahrim: 11-12)

Asiyah bintu Muzahim, istri Fir’aun, dan Maryam bintu ‘Imran adalah dua wanita kisahnya terukir indah dalam Al-Qur`an. Ayat-ayat Rabb Yang Maha Tinggi menuturkan keshalihan keduanya dan mempersaksikan keimanan yang berakar kokoh dalam relung kalbu keduanya. Sehingga pantas sekali kita katakan bahwa keduanya adalah wanita yang manis dalam sebutan dan indah dalam ingatan. Asiyah dan Maryam adalah dua dari sekian qudwah (teladan) bagi wanita-wanita yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan uswah hasanah bagi para istri kaum mukminin.

Al-Imam Ath-Thabari rahimahullahu berkata dalam kitab tafsirnya: “Allah yang Maha Tinggi berfirman bahwasanya Dia membuat permisalan bagi orang-orang yang membenarkan Allah dan mentauhidkan-Nya, dengan istri Fir’aun yang beriman kepada Allah, mentauhidkan-Nya, dan membenarkan Rasulullah Musa ‘alaihissalam. Sementara wanita ini di bawah penguasaan suami yang kafir, satu dari sekian musuh Allah. Namun kekafiran suaminya itu tidak memudharatkannya, karena ia tetap beriman kepada Allah. Sementara, termasuk ketetapan Allah kepada makhluk-Nya adalah seseorang tidaklah dibebani dosa orang lain (tapi masing-masing membawa dosanya sendiri, -pent.1), dan setiap jiwa mendapatkan apa yang ia usahakan.” (Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an/Tafsir Ath-Thabari, 12/162)

Pada diri Asiyah dan Maryam, ada permisalan yang indah bagi para istri yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir. Keduanya dijadikan contoh untuk mendorong kaum mukminin dan mukminat agar berpegang teguh dengan ketaatan dan kokoh di atas agama. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an/Tafsir Al-Qurthubi, 9/132)

Seorang istri yang shalihah, ia akan bersabar dengan kekurangan yang ada pada suaminya dan sabar dengan kesulitan hidup bersama suaminya. Tidaklah ia mudah berkeluh kesah di hadapan suaminya atau mengeluhkan suaminya kepada orang lain, apalagi mengghibah suami, menceritakan aib/cacat dan kekurangan sang suami. Bagaimana pun kekurangan suaminya dan kesempitan hidup bersamanya, ia tetap bersyukur di sela-sela kekurangan dan kesempitan tersebut, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihkan lelaki muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir sebagai pendamping hidupnya. Dan tidak memberinya suami seperti suami Asiyah bintu Muzahim yang sangat kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbuat aniaya terhadap istri karena ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tersebutlah, ketika sang durjana yang bergelar Fir’aun itu mengetahui keimanan Asiyah istrinya, ia keluar menemui kaumnya lalu bertanya: “Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah bintu Muzahim?” Merekapun memujinya. Fir’aun berkata: “Ia menyembah Tuhan selain aku.” Mereka berkata: “Kalau begitu, bunuhlah dia.” Maka Fir’aun membuat pasak-pasak untuk istrinya, kemudian mengikat kedua tangan dan kedua kaki istrinya, kemudian menyiksanya di bawah terik matahari. Jika Fir’aun berlalu darinya, para malaikat menaungi Asiyah dengan sayap-sayap mereka. Asiyah berdoa: “Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di dalam surga.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengabulkan doa Asiyah dengan membangunkan sebuah rumah di surga untuknya. Dan rumah itu diperlihatkan kepada Asiyah, maka ia pun tertawa. Bertepatan dengan itu Fir’aun datang. Melihat Asiyah tertawa, Fir’aun berkata keheranan: “Tidakkah kalian heran dengan kegilaan Asiyah? Kita siksa dia, malah tertawa.”

Menghadapi beratnya siksaan Fir’aun, hati Asiyah tidak lari untuk berharap kepada makhluk. Ia hanya berharap belas kasih dan pertolongan dari Penguasa makhluk, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia berdoa agar diselamatkan dari siksaan yang ditimpakan Fir’aun dan kaumnya serta tidak lupa memohon agar diselamatkan dari melakukan kekufuran sebagaimana yang diperbuat Fir’aun dan kaumnya.2

Akhir dari semua derita dunia itu, berujung dengan dicabutnya ruh Asiyah untuk menemui janji Allah Subhanahu wa Ta’ala.3

Istri yang shalihah akan menjaga dirinya dari perbuatan keji dan segala hal yang mengarah ke sana. Sehingga ia tidak keluar rumah kecuali karena darurat, dengan izin suaminya. Kalaupun keluar rumah, ia memperhatikan adab-adab syar‘i. Dia menjaga diri dari bercampur baur apalagi khalwat (bersepi-sepi/berdua-duaan) dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Ia tidak berbicara dengan lelaki ajnabi (non mahram) kecuali karena terpaksa dengan tidak melembut-lembutkan suara. Dan ia tidak melepas pandangannya dengan melihat apa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia ingat bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Maryam yang sangat menjaga kesucian diri, sehingga ketika dikabarkan oleh Jibril ‘alaihissalam bahwa dia akan mengandung seorang anak yang kelak menjadi rasul pilihan Allah, Maryam berkata dengan heran:

أَنَّى يَكُوْنُ لِي غُلاَمٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا

“Bagaimana aku bisa memiliki seorang anak laki-laki sedangkan aku tidak pernah disentuh oleh seorang manusia (laki-laki) pun dan aku bukan pula seorang wanita pezina.” (Maryam: 20)

Wanita shalihah akan mengingat bagaimana keimanan Maryam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bagaimana ketekunannya dalam beribadah, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya dan mengutamakannya di atas seluruh wanita.

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَامَرْيَمُ إِنَّ اللهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسآءِ الْعَالَمِيْنَ

Ingatlah ketika malaikat Jibril berkata: “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, mensucikan dan melebihkanmu di atas segenap wanita di alam ini (yang hidup di masa itu).” (Ali ‘Imran: 42)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ الْعَالَمِيْنَ: مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ وَخَدِيْجَةُ بِنْتَ خُوَيْلِدٍ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ

“Cukup bagimu dari segenap wanita di alam ini (empat wanita, yaitu:) Maryam putri Imran, Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad, dan Asiyah istri Fir’aun.”4

Yakni cukup bagimu untuk sampai kepada martabat orang-orang yang sempurna dengan mencontoh keempat wanita ini, menyebut kebaikan-kebaikan mereka, kezuhudan mereka terhadap kehidupan dunia, dan tertujunya hati mereka kepada kehidupan akhirat. Kata Ath-Thibi, cukup bagimu dengan mengetahui/mengenal keutamaan mereka dari mengenal seluruh wanita. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Al-Manaqib)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda memuji Asiyah dan Maryam5:

كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ آسِيَةُ امْرَأُةُ فِرْعَوْنَ وَمَرْيَمُ ابْتَةُ عِمْرَانَ، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلى سَائِرِ الطَّعَامِ

“Orang yang sempurna dari kalangan laki-laki itu banyak, namun tidak ada yang sempurna dari kalangan wanita kecuali Asiyah istri Fir’aun dan Maryam putri Imran. Sungguh keutamaan ‘Aisyah bila dibanding para wanita selainnya seperti kelebihan tsarid6 di atas seluruh makanan.”7

Di antara keutamaan Asiyah adalah ia memilih dibunuh daripada mendapatkan (kenikmatan berupa) kerajaan (karena suaminya seorang raja). Dan ia memilih azab/siksaan di dunia daripada mendapatkan kenikmatan yang tadinya ia reguk di istana sang suami yang dzalim. Ternyata firasatnya tentang Musa ‘alaihissalam benar adanya ketika ia berkata kepada Fir’aun saat mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Musa ‘alaihissalam sebagai anak angkatnya: قُرَةُ عَيْنٍ لِي (agar ia menjadi penyejuk mata bagiku).8 (Fathul Bari 6/544)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Ayat-ayat ini (surat At-Tahrim ayat 10-12) mengandung tiga permisalan, satu untuk orang-orang kafir dan dua permisalan lagi untuk kaum mukminin.”

Setelah beliau menyebutkan permisalan bagi orang kafir, selanjutnya beliau berkata: “Adapun dua permisalan bagi orang-orang beriman, salah satunya adalah istri Fir’aun. Sisi permisalannya: Hubungan seorang mukmin dengan seorang kafir tidaklah bermudharat bagi si mukmin sedikitpun, apabila si mukmin memisahkan diri dari orang kafir tersebut dalam kekafiran dan amalannya. Karena maksiat yang diperbuat orang lain sama sekali tidak akan berbahaya bagi seorang mukmin yang taat di akhiratnya kelak, walaupun mungkin ketika di dunia ia mendapatkan kemudharatan dengan sebab hukuman yang dihalalkan bagi penduduk bumi bila mereka menyia-nyiakan perintah Allah, lalu hukuman itu datang secara umum (sehingga orang yang baik pun terkena). Istri Fir’aun tidaklah mendapatkan mudharat karena hubungannya dengan Fir’aun, padahal Firaun itu adalah manusia paling kafir. Sebagaimana istri Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimassalam tidak mendapatkan kemanfaatan karena hubungan keduanya dengan dua utusan Rabb semesta alam.

Permisalan yang kedua bagi kaum mukminin adalah Maryam, seorang wanita yang tidak memiliki suami, baik dari kalangan orang mukmin ataupun dari orang kafir. Dengan demikian, dalam ayat ini Allah menyebutkan tiga macam wanita:

Pertama: wanita kafir yang bersuamikan lelaki yang shalih.9

Kedua: wanita shalihah yang bersuamikan lelaki yang kafir.

Ketiga: gadis perawan yang tidak punya suami dan tidak pernah berhubungan dengan seorang lelakipun.

Jenis yang pertama, ia tidak mendapatkan manfaat karena hubungannya dengan suami tersebut.

Jenis kedua, ia tidak mendapatkan mudharat karena hubungannya dengan suami yang kafir.

Jenis ketiga, ketiadaan suami tidak bermudharat sedikitpun baginya.

Kemudian, dalam permisalan-permisalan ini ada rahasia-rahasia indah yang sesuai dengan konteks surat ini. Karena surat ini diawali dengan menyebutkan istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan peringatan kepada mereka dari saling membantu menyusahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam10. Bila mereka (istri-istri Nabi) itu tidak mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta tidak menginginkan hari akhirat, niscaya tidak bermanfaat bagi mereka hubungan mereka dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana istri Nuh dan istri Luth tidak mendapatkan manfaat dari hubungan keduanya dengan suami mereka. Karena itulah di dalam surah ini dibuat permisalan dengan hubungan nikah11 bukan hubungan kekerabatan.

Yahya bin Salam berkata: “Allah membuat permisalan yang pertama untuk memperingatkan ‘Aisyah dan Hafshah radhiallahu ‘anhuma. Kemudian memberikan permisalan kedua bagi keduanya untuk menganjurkan keduanya agar berpegang teguh dengan ketaatan.

Adapula pelajaran lain yang bisa diambil dari permisalan yang dibuat untuk kaum mukminin dengan Maryam. Yaitu, Maryam tidak mendapatkan mudharat sedikit pun di sisi Allah dengan tuduhan keji yang dilemparkan Yahudi dan musuh-musuh Allah terhadapnya. Begitu pula sebutan jelek untuk putranya, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mensucikan keduanya dari tuduhan tersebut. Perlakuan jahat dan tuduhan keji itu ia dapatkan padahal ia adalah seorang ash-shiddiqah al-kubra (wanita yang sangat benar keimanannya, sempurna ilmu dan amalnya12), wanita pilihan di atas segenap wanita di alam ini. Lelaki yang shalih (yakni Isa putra Maryam ‘alaihissalam) pun tidak mendapatkan mudharat atas tuduhan orang-orang fajir dan fasik terhadapnya.

Dalam ayat ini juga ada hiburan bagi ‘Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anha (atas tuduhan keji yang ia terima dari orang-orang munafik), jika surat ini turun setelah peristiwa Ifk13. Dan sebagai persiapan bagi jiwanya untuk menghadapi apa yang dikatakan para pendusta, bila surat ini turun sebelum peristiwa Ifk.

Sebagaimana dalam permisalan dengan istri Nuh dan Luth ada peringatan bagi ‘Aisyah dan juga Hafshah dengan apa yang diperbuat keduanya terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (At-Tafsirul Qayyim, hal. 396-498)

Demikian, semoga menjadi teladan dan pelajaran berharga bagi para istri shalihah…

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Footnote:

1 Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Tanzil-Nya:

وَلاَ تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلاَّ عَلَيْهَا وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Dan tidaklah seseorang melakukan suatu dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri, dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (Al-An’am: 164)

2 Faedah: Al-’Allamah Al-Alusi rahimahullahu dalam tafsirnya mengatakan: “Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa beristi`adzah (minta perlindungan) kepada Allah dan mohon keselamatan dari-Nya ketika terjadi ujian/cobaan dan goncangan, merupakan kebiasaan yang dilakukan orang-orang shalih dan sunnah para nabi. Dan ini banyak disebutkan dalam Al-Qur`an.” (Ruhul Ma’ani fi Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim was Sab’il Matsani, 13/791)

3 Jami’ul Bayan fi Ta‘wilil Qur`an 12/162, Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an/Tafsir Al-Qurthubi 9/132, Ruhul Ma’ani 13/790, An-Nukat wal ‘Uyun Tafsir Al-Mawardi 6/47.

4 HR. At-Tirmidzi no. 3878, kitab Manaqib ‘an Rasulillah, bab Fadhlu Khadijah radhiallahu ‘anha, dari hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi dan Al-Misykat no. 6181.

5 Ada sebagian atsar yang menyebutkan bahwa Maryam dan Asiyah diperistri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga, sebagaimana riwayat Ath-Thabrani dari Sa’ad bin Junadah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ زَوَّجَنِي فِي الْجَنَّةِ مَرْيَمَ بِنْتَ عِمْرَانَ وَامْرَأَةَ فِرْعَوْنَ وَأُخْتَ مُوْسى عَلَيْهِ السَّلاَمِ

“Sesungguhnya Allah menikahkan aku di surga dengan Maryam bintu Imran, istri Fir’aun (Asiyah), dan dengan (Kultsum) saudara perempuannya Musa ‘alaihissalam.”

Namun hadits ini lemah, Asy-Syaikh Al-Albani dalam Adh-Dha’ifah (no. 812) mengatakan hadits ini mungkar.

Adapun pendapat yang mengatakan Maryam dan Asiyah adalah nabi dari kalangan wanita sebagaimana Hajar dan Sarah, tidaklah benar karena syarat nubuwwah (kenabian) adalah dari kalangan laki-laki, menurut pendapat yang shahih. (Ruhul Ma’ani, 13/793)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُوْحِي إِلَيْهِمْ

“Tidaklah Kami mengutus rasul sebelummu kecuali dari kalangan laki-laki yang Kami berikan wahyu kepada mereka.” (An-Nahl: 43)

6 Tsarid adalah makanan istimewa berupa daging dicampur roti yang dilumatkan.

7 HR. Al-Bukhari no. 3411, kitab Ahaditsul Anbiya, bab Qaulillahi Ta’ala: Wa Dharaballahu Matsalan lilladzina Amanu… . Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim no. 6222, kitab Fadha`il Ash-Shahabah.

8 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُوْنَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُوْدَهُمَا كَانُوْا خَاطِئِيْنَ. وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لاَ تَقْتُلُوْهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لاَ يَشْعُرُوْنَ

“Maka Musa dipungut oleh keluarga Fir’aun yang kemudian ia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah istri Fir’aun kepada suaminya: ‘Ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kalian membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak.’ Sedangkan mereka tiada menyadari.” (Al-Qashash: 8-9)

9 Yaitu istri Nabi Nuh ‘alaihissalam dan istri Nabi Luth ‘alaihissalam

10 Lihat surat At-Tahrim ayat 1 sampai 5.

11 Hubungan istri dengan suaminya; istri Nuh dengan suaminya, istri Luth dengan suaminya, dan Asiyah dengan suaminya Fir‘aun.

12 Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 875

13 Kisah Ifk ini (tuduhan zina terhadap ‘Aisyah) beserta pernyataan kesucian ‘Aisyah diabadikan dalam Al-Qur`an, surah An-Nur ayat 11-26. Sumber: http://www.asysyariah.com/

Iklan

Empat Racun Hati 22 April 2011

Posted by jihadsabili in cinta, nasehat.
add a comment

Empat Racun Hati

Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), keluarganya, para sahabat dan para pengikut yang setia sampai hari kiamat. Amma ba’du.

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya.”(Al-Isra’: 36)

Sesuatu yang paling mulia pada diri manusia ialah hatinya. Peran hati terhadap seluruh anggota badan, ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya dan tunduk kepadanya. Pada kemudian hari nanti, hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.

Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, yang artinya:

“Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah rådhiyallåhu ‘anhu berkata,

“Hati adalah raja anggota tubuh. Dan anggota tubuh adalah para prajuritnya. Apabila raja baik, maka baik pulalah para prajuritnya. Dan apabila raja busuk, maka busuk pulalah para prajuritnya.”

Hati adalah raja. Seluruh tubuh adalah pelaksana semua titahnya yang selalu siap untuk menerima arahannya. Aktivitasnya tidak dinilai benar, jika tidak diniatkan dan dimaksudkan oleh sang hati. Pada kemudian hari, hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggungjawab atas yang dipimpinnya.

Maka, memperhatikan dan meluruskan hati merupakan perkara yang paling utama untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah. Demikian pula, dengan mengkaji penyakit-penyakit hati dan metode mengobatinya, merupakan bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah.

Perumpamaan hati, ialah seperti sebuah benteng. Sedangkan syetan merupakan musuh yang hendak masuk ke dalam benteng tersebut, hendak menguasai dan merebutnya. Benteng tidak akan terlindungi, kecuali dengan menjaga pintu-pintunya. Orang yang tidak mengetahui pintu-pintu itu, tidak akan bisa menjaganya.

Jadi, seseorang tidak bisa mengusir syetan kecuali dengan mengetahui pintu-pintu masuk yang dilewati syetan. Pintu-pintu masuk itu adalah sifat-sifat manusia yang jumlahnya sangat banyak. Dan kami akan menyebutkan empat pintu masuk syetan yang paling banyak tersebar dan berbahaya.

Ketahuilah, hati dapat rusak sebagaimana halnya badan. Dan setiap kemaksiatan adalah racun hati. Ia menjadi penyebab sakit dan kehancurannya, memalingkan dari kebaikan dan menambah parah penyakitnya.

Hati adalah pusat ilmu dan ketaqwaan, cinta dan benci, keragu-raguan dan bencana. Dialah yang tahu tentang Allah, dan jalan menuju kepadaNya. Dan anggota tubuh ini tidak lain hanyalah mengikuti dan berkhidmat kepadanya.

Para salaf memperoleh kemenangan yang besar dan sangat unggul. Tidak lain karena kualitas mereka dalam ibadah-ibadah hati. Keistimewaan mereka dalam hal ini tidak ada tandingannya.

Abdullah bin Mubarak råhimahullåh bersyair,

“Kulihat dosa-dosa itu mematikan hati, Membinasakannya mengakibatkan kehinaan

Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati, Selalu menjauhinya adalah yang terbaik bagi anda.”

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman,

(yaitu) pada hari harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. (Asy Syu’ara: 88 – 89)

Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dan dari setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran.

Maka, barangsiapa menginginkan keselamatan dan kehidupan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun itu. Kemudian menjaganya, jangan sampai ada racun lain yang menggrogotinya.

Adapun jika tanpa sengaja ia mengambil salah satunya, ia mesti bersegera untuk membuangnya dan menghapus pengaruhnya dengan cara bertaubat, beristighfar dan mengerjakan amal shalih yang dapat menghapus kesalahan.

Yang dimaksud dengan empat racun hati yaitu:

1 Banyak bicara

2 Banyak memandang

3 Banyak makan dan minum

4 Banyak bergaul dengan sembarang orang

Keempat racun ini merupakan sumber yang paling banyak tersebar, dan paling berbahaya bagi kehidupan hati.

Hati yang sehat adalah hati yang selamat, yaitu hati yang terbebas dari setiap racun-racun yang membahayakannya. Siapa saja yang menginginkan keselamatan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun itu, emudian menjaganya. Apa saja racun-racun itu?

1. Banyak Bicara

Lidah mempunyai pengaruh yang sangat besar. Keimanan dan kekafiran bisa tampak melalui lihad (syahadat). Barangsiapa melepaskan tali kendali lidahnya, maka syetanpun akan memperdayanya dari segala penjuru, sehingga menggiringnya menuju tepian jurang, kemudian menjatuhkannya sampai ke dasar.

Dari Mu’adz rådhiyallåhu ‘anhu, dari Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda,

“Dan tiadalah yang menelungkupkan wajah atau batang hidung manusia ke dalam api neraka, melainkan karena ulah lidahnya.” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim, shahih)

Banyak ayat Al Qur’an dan sabda Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) serta ucapan salafush shalih yang memperingatkan kita dari bahaya dan kerusakan lidah.

Diantaranya firman Allah, yang artinya:

“Tiadalah suatu perkataan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf: 18).

Dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi rådhiyallåhu ‘anhu berkata,

“Aku bertanya, “Ya Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), apakah yang paling anda takutkan terhadap diri saya?” Beliau (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Ini.” sambil memegang lidahnya.” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Al Hakim dan Ad Darimi, shahih)

Dari Uqbah bin Amir rådhiyallåhu ‘anhu berkata,

“Ya Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam), apakah keselamatan itu?” Beliau (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, “Peliharalah lidahmu”.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Mubarak, shahih)

Beliau (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda pula,

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah rådhiyallåhu ‘anhu , bahwasanya ia mendengar Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda,

“Sesungguhnya, seorang hamba berbicara dengan sebuah pembicaraan yang jelas (ia anggap biasa); ternyata hal itu membuat ia tergelincir ke dalam api neraka lebih jauh dari pada jarak timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Mas’ud rådhiyallåhu ‘anhumaa, ia berkata,

“Demi Allah, tiada tuhan yang pantas disembah selain Dia. Tiada sesuatu pun yang lebih pantas untuk dipenjara lebih lama, (kecuali) dari lidahku.”

Beliau rådhiyallåhu ‘anhumaa juga berkata,

“Wahai lidah, berkatalah yang baik, kamu akan beruntung. Dan Diamlah dari yang buruk, (maka) kamu akan selamat, sebelum kamu menyesal.”

Dari Abu Darda’ rådhiyallåhu ‘anhu berkata,

“Berlakulah adil terhadap dua telinga dari lidah. Dijadikan untuk anda dua telinga dan satu lidah, supaya anda lebih banyak mendengar daripada berbicara. Bencana lidah yang paling ringan yaitu berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaidah.”

Simak racun hati berikutnya di antara empat racun hati yang sangat berbahaya yaitu banyak memandang. Bagaimana definisi “banyak memandang”? Bagaimana dalil-dalil serta peringatan dari Allah dan Rasul-Nya mengenai hal ini? Bagaimana penjelasan para ‘dokter’ penyakit hati?

2. Banyak Memandang

Yang dimaksud dengan banyak memandang, yaitu melepaskan pandangan kepada sesuatu dengan sepenuh mata, dan memandang kepada yang tidak halal untuk dipandang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”

Katakanlah kepada wanita yang beriman, ”

(1.) Hendaklah mereka menahan pandangan mereka,

(2.) dan memelihara kemaluan mereka,

(3.) dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.

(4.) dan hendaklah mereka menutup kain kudung kedada mereka,

(5.) dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada:

– suami mereka,

– atau ayah mereka,

– atau ayah suami mereka,

– atau putera-putera mereka,

– atau putera-putera suami mereka,

– atau saudara-saudara mereka,

– (atau) putera-putera saudara laki-laki mereka,

– atau putera-putera saudara perempuan mereka,

– atau wanita-wanita Islam,

– atau budak-budak yang mereka miliki

– atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)

– atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

(6.) Dan Janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.

Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.

(QS An-Nur: 30 – 31)

Dari Abu Hurairah rådhiyallåhu ‘anhu , dari Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, (yang artinya)

Telah ditetapkan kepada manusia bagiannya dari perzinahan, ia pasti melakukan hal itu. Kedua mata, zinanya ialah memandang. Kedua telinga, zinanya adalah mendengar. Lidah, zinanya adalah berbicara, Tangan, zinanya adalah memukul (meraba). Kaki, zinanya adalah melangkah. Hati, berkeinginan dan berangan-angan. Dan yang membenarkan atau menggagalkan semua itu, adalah kemaluan.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)

Dari Jarir rådhiyallåhu ‘anhu berkata, Aku bertanya kepada Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) tentang pandangan (haram) yang tiba-tiba (tidak sengaja). Beliau menjawab, (yang artinya), “Alihkan pandanganmu.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ad-Darimi dan Ahmad)

Berlebihan memandang dengan mata, menimbulkan anggapan indah terhadap apa yang dipandang dan mempertautkan hati yang memandang kepadanya. Selanjutnya, terlahirlah berbagai kerusakan dan bencana dalam hatinya, diantaranya:

Pandangan adalah anak panah beracun di antara anak panah Iblis

Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan memberikan kepadanya kenikmatan dan kedamaian dalam hatinya, yang ia rasakan sampai bertemu dengan-Nya.

Pandangan merupakan pintu masuk syetan

Sesungguhnya masuknya syetan lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara ke ruang hampa. Syetan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah, menjadikannya sebagai berhala tautan hati.

Kemudian mengobral janji dan angan-angan. Lalu syetan menyalakan api syahwat, dan ia lemparkan kayu bakar maksiat. Seseorang tidak mungkin melakukannya tanpa ada gambaran wujud yang dipandangnya.

Pandangan menyibukkan hati, menjadikannya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya, dan menjadi penghalang antara keduanya. Akhirnya urusannya pun menjadi kacau. Dia menjadi selalu lalai dan mengakui hawa nafsunya.

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan janganlah kamu taat kepada orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari dzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsunya serta urusannya kacau-balau. (QS. Al-Kahfi: 28)

Demikianlah, melepaskan pandangan secara bebas mengakibatkan tiga bencana ini.

Membiarkan pandangan lepas adalah maksiat kepada Allah dan dosa, sebagaimana firmanNya pada Al-Qur’an surat An-Nur ayat 30 dan 31 yang telah disebutkan.

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya:

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat, dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS Al-Mukmin: 19)

Membiarkan pandangan lepas menyebabkan hati menjadi gelap, sebagaimana menahan pandangan menyebabkan hati bercahaya.

Bila hati telah bersinar, maka seluruh kebaikan dari segala penjuru akan masuk ke dalamnya. Sebaliknya apabila hati telah gelap, maka berbagai keburukan dan bencana akan masuk ke dalamnya, dari segala penjuru.

Seorang yang shalih berkata,

“Barangsiapa mengisi lahirnya dengan mengikuti sunnah, mengisi batinnya dengan muraqabah (merasa diawasi Allah), menjaga pandangannya dari yang diharamkan, menjaga dirinya dari yang syubhat (belum jelas halal haramnya), dan hanya memakan yang halal, firasatnya tidak akan meleset.”

Mari kita lanjutkan ulasan selanjutnya mengenai empat racun hati yang sangat berbahaya bagi kehidupan hati kita. Dia adalah banyak makan dan minum. Hal ini telah menjadi perhatian Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) dan para ulama’. Banyak para ulama’ yang mengulas masalah ini dan memasukkannya ke dalam buku-buku mereka mengenai tazkiyatun nufus. Bagaimana hadits Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) dan penjelasan para sahabat dan para ulama’?

3. Banyak Makan dan Minum

Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Nafsu ini pula, yang menyebabkan Adam dikeluarkan dari Surga. Dari nafsu perut pula, muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda. Yang akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.

Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan, akan mengakibatkan sebaliknya.

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman,

Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raf: 31)

Dari Miqdam bin Ma’di Karib rådhiyallåhu ‘anhu berkata, Aku mendengar Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, (yang artinya):

“Janganlah manusia memenuhi sebuah tempat yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suapa (tiga sampai sembilan), untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, shahih)

Ibnu Abbas rådhiyallåhu ‘anhumaa berkata,

“Allah (subhanahu wa ta’ala) menghalalkan makan dan minum, selama tidak berlebih-lebihan dan tidak ada unsur kesombongan.”

Berlebihan dalam makan, dapat mengakibatkan banyak hal buruk. Ia menggerakkan anggota tubuh untuk melakukan maksiat, serta menjadikannya merasa berat untuk taat dan ibadah. Cukuplah dua hal ini sebagai suatu keburukan.

Dari Utsman bin Za’idah råhimahullåh berkata,

“Sufyan Ats-Tsauri (råhimahullåh) berkirim surat kepadaku: ‘Apabila engkau ingin badanmu sehat dan ringan tidurmu, maka sedikitkanlah makanmu’.”

Sebagian salaf berujar,

Sebagian pemuda Bani Israil berta’abud (berpuasa sambil berkhalwat). Bila telah datang masa berbuka, salah seorang dari mereka berkata, “Jangan makan banyak-banyak, sehingga minum kalianpun banyak. Lalu tidur kalian juga banyak, akhirnya kalian banyak merugi.”

‘Aisyah meriwayatkan, sejak masuk Madinah, keluarga Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) belum pernah merasa kenyang oleh roti gandum selama tiga hari berturut-turut, sampai beliau wafat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Amir bin Qais berkata,

“Berhati-hatilah engkau dari banyak makan. Karena hal itu menyebabkan kerasnya hati.”

Abu Sulaiman Ad-Darimi berkata, “Kunci dunia adalah kenyang, sedangkan kunci akhirat adalah lapar.”

Al-Harits bin Kaladah -salah seorang pakar kedokteran Arab pada masa lalu berkata,

“Menjaga diri dari makanan (melebihi yang diperlukan), merupakan pangkal penyakit.

Al-Harits berkata pula,

Yang membunuh manusia dan membinasakan binatang-binatang buas di dunia ini, ialah memasukkan makanan di atas makanan sebelum selesai pencernaan.

Ibrahim bin Adham berkata,

“Barangsiapa memelihara perutnya, akan terpeliharalah diennya (agamanya). Dan barangsiapa mampu menguasai rasa laparnya, akan memiliki akhlak yang terpuji. Sesungguhnya, kemaksiatan kepada Allah itu jauh dari seorang yang lapar dan dekat dengan seorang yang kenyang.”

4. Banyak Bergaul Dengan Sembarang Orang

Ini merupakan penyakit berbahaya yang mengakibatkan banyak keburukan. Ia dapat menghilangkan nikmat dan menebarkan permusuhan. Ia juga menanamkan kedengkian yang dahsyat, serta mengakibatkan kerugian dunia dan akhirat.

Dalam bergaul, hendaknya kita mengklasifikasikan (membagi) manusia menjadi dua kelompok, yang baik dan buruk. Ketidakmampuan kita membedakan dua kelompok ini, dapat membawa bencana.

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya,

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an, ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku.” Dan adalah syetan itu tidak mau menolong manusia. (Al-Furqan: 27 – 29)

Allåh subhanahu wa ta’ala berfirman pula, yang artinya:

Teman-teman akrab para hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa. (Az-Zukhruf: 67)

Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda,

Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk, adalah seperti penjual minyak wangi dan peniup api (pandai besi), adakalanya memberi anda (minyak wangi), atau anda membeli darinya, atau anda mendapat bau wangi darinya. Adapun peniup api (pandai besi), adakalanya membakar pakaian anda, atau anda mendapatkan bau yang kuran gsedap darinya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, yang artinya:

Seseorang itu mengikuti agama sahabatnya. Maka, hendaklah kalian memperhatikan siapa sahabat kalian. (Hadits hasan, diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi)

Råsulullåh (shållallåhu ‘alaihi wa sallam) bersabda, yang artinya:

Janganlah anda berteman melainkan dengan orang mukmin dan janganlah memakan makananmu, kecuali orang bertaqwa. (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud dengan sanad yang hasan)

Berkata Umar bin Khathab rådhiyallåhu ‘anhu,

“Janganlah anda berjalan bersama orang fajir (yang bergelimangan dalam dosa), karena dia akan mengajarkan kepada anda perbuatan dosanya.”

Berkata Muhammad bin Wasi’,

“Tiadalah tersisa dari kenikmatan dunia, selain shalat berjama’ah dan berjumpa dengan teman (yang shalih).”

Berkata Bilal bin Sa’ad,

“Saudaramu yang selalu mengingatkanmu akan kedudukanmu di sisi Allah adalah lebih baik bagimu, daripada saudaramu yang selalu memberimu dinar (harta benda).”

Berkata sebagian salaf,

“Orang yang paling lemah (tercela), yaitu orang yang tidak mau mencari teman (yang baik). Dan yang lebih lemah (tercela) daripadanya, ialah orang -yang apabila telah mendapatkan teman (yang baik)- ia menyiakannya.”

Alangkah bahagianya, apabila kita diberi rezki oleh Allah berupa teman yang shalih. Teman yang selalu mengingatkan dan menasihati kita untuk tetap istiqamah, sehingga kita selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga. Itulah teman yang baik dan bermanfaat di dunia dan akhirat.

Semoga Allah senantiasa menyelamatkan hati kita dari segala racun dan kotorannya, sehingga kita selalu bersih dan bersinah sampai berjumpa denganNya. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Maraji’ 1. Al-Misbahul Munir Fi Tahdzib Tafsir Ibn Katsir, Jama’ah Minal Ulama’, Isyraf Asy-Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakafuri, Daar As-Salam, Riyadh.

2. Tazkiyatun Nufus, Syaikh Ahmad Farid, Edisi revisi hanya memuat hadits-hadits shahih. Cetakan tahun 1419H / 1998M, Daar Al-Aqidah Litturats, Iskandariyah.

3. Tazkiyah An-Nafs, Syaikh Ahmad Farid, Edisi lama (belum direvisi), terjemahan Indonesia. Penterjemah Imtihan Asy-Syafi’i, Pustaka Arafah.

4. Jami’ Al-Ulum Wal Hikam, Ibnu Rajab, tahqiq Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis, Muassasah Ar-Risalah, Beirut.

5. Al-Mukhtar Lil Hadits Fi Syahri Ramadhan, Majmu’ah Thalabatil Ilmi, Rabithah Alam Islami.

Penulis: Al-Ustadz Abdullåh Al-Hadråmi

Dikutip dari majalah As-Sunnah 09/VII/1421H

JIMAT Gaya Baru 22 April 2011

Posted by jihadsabili in aqidah.
add a comment

JIMAT Gaya Baru

Orang yang mempercayai sebab dan pengaruh-pengaruhnya namun mereka tidak menetapkan sebagian dari sebab kecuali yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, baik itu merupakan sebab syar’iyah maupun kauniyah. merupakan orang yang memiliki iman yang hakiki, yang beriman kepada Allah, karena mereka mengaitkan sebab dengan akibat, mengaitkan alasan dengan pengaruhnya. Yang demikian ini termasuk kesempurnaan hikmah.
Contoh, Membaca Al-Fatihah merupakan sebab syar’i bagi penyembuhan, menelan obat merupakan sebab inderawi untuk menghilangkan sakit perut, yang berarti qadariyah, karena yang demikian itu sudah diketahui berdasarkan pengalaman.
Imran bin Hushain RA meriwayatkan bahwa Nabi Shallalahu alaihi wasallam melihat seseorang di tangannya terdapat  gelang dari kuningan 
beliau bertanya “(gelang) apakah ini?
Ia menjawab, “al-waahinah (gelang pencegah sakit).” Beliau bersabda “lepaskan gelang itu, karena ia tidak menambahmu kecuali kelemahan, Sekiranya kamu mati sementara gelang itu masih ada padamu, maka kamu tidak akan beruntung selamanya” (HR.Ibnu Majah dan Ahmad)
Dalam konteks kekinian, al-wahinah (gelang pencegah sakit), gelang kesehatan, gelang terapi penyakit, gelang keseimbangan dll. JIMAT yang dimiliki khasiat yang sama juga terkadang berupa kalung di leher. Begitupun bahan yang digunakan, bisa berupa akar bahar, logam hingga batu-batuan.
sejak berabad-abad berbagai batuan diharapkan memiliki kemampuan penyembuhan dan kekuatan mistik yang memiliki modus bermacam-macam hingga saat ini agar dipercaya keampuhannya.
KASUS I, Didunia perdukunan, sugesti itu dibangun dengan dongeng reakaan, bahwa gelang itu berisi bermacam-macam jin.
KASUS II, Manusia moderen tidak tertarik dengan hal dunia perjinan sehingga mereka beralih dengan istilah gelombang elektromagnetik, energi titik nol, efek placebo, BERFIKIR BERHARAP (wishful thinking) dan label ‘ilmiah” lainnya.
Gelang kesembuhan dari dukun, sudah jelas dimengerti kesyirikannya bagaimana dengan kasus yang kedua?
Jawab : Memang ada syariat untuk berobat kepada sesuatu yang bisa dibuktikan secara ilmiah, sebagaimana pengobatan secara medis, bekam, herbal dan semisalnya. dikasus kedua sulit untuk dimengerti oleh orang-orang yang tidak bergerak dibidang tersebut, walaupun mereka sudah membuktikannya secara ilmiah tapi tetap saja abstrak untuk dikomentari, dan bukan karena penjelasan itu mudah dipahami. CELAKAnya, celah ini ditangkap sebagai peluang bagi para produsen, dan orang-orangpun pasrah dengan klaim ilmiah itu.
Kasus yag masih Hangat, gelang Power Balance yang selama ini diklaim secara ilmiah memiliki khasiat ekstra tenaga, keseimbangan, dan fleksibilitas bagi penggunanya dinyatakan palsu oleh Badan Pengawas Konsumen Australia (ACCC) mereka juga sempat memerintahkan menarik semua produk itu karena para pemakai merasa jika memakai gelang penyakitnya sembuh tetapi jika gelang tersebut dilepas maka penyakitnya kembali sehingga timbul ketergantungan terhadap gelang tersebut.
Ringkasnya, ini memang wilayah abu-abu, Ada baiknya kita WASPADA, bukan karena takut tertipu dengan harga mahal, tapi takut jika keyakinan ternoda. Bukankah Nabi menyuruh menanggalkan gelang itu diklaim bisa mencegah penyakit ? woullohu allam
Jika orang yang mengenakan kalung jimat dan sejenisnya percaya bahwa kalung itu sendiri menimbulkan suatu pengaruh, berarti ia seorang yang musyrik dengan kemusyrikan yang besar dalam TAUHID RUBUBIYAH
–  Syarah Kitab Tauhid – Syaikh Muhammad Al-Utsaimin
–  Majalah Islam ar-Risalah (Edisi 116)

Agar dpt Menangis Karena Takut kpd Allah Subhanahu Wata’ala 22 April 2011

Posted by jihadsabili in nasehat.
add a comment

Sesungguhnya umur kalian semakin berkurang, amal
kalian telah dicatat, kematian didekat kalian, dan Neraka berada dihadapan kalian, maka bayangkanlah keputusan Allah SWT (yaitu kematian) yang mungkin terjadi pada siang dan malam hari, dan setiap orang harus melihat kembali apa yang telah ia berikan untuk dirinya.
Sehingga kita di anjurkan untuk menghisab dosa kita setiap saat, berikut ini beberapa cara dalam usaha agar kita bisa menangis karena AllahSubbahanahu Wata’ala

(1) Bertakwa dan Bersungguh-sungguh mentaati Allah Subbahanahu Wata’ala, serta mengikhlaskan ibadah hanya karena-Nya

(2) Mengingat kematian. Suatu ketika Rasulullah ditanya oleh orang Anshar “siapakah mukmin yang paling baik?
Rasulullah menjawab “yang paling baik akhlaknya diantara mereka. orang anshar itu kembali bertanya: siapakah orang Mukmin yang paling cerdas?”
Beliau menjawab: yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya untuk menghadapi semua yang akan terjadi setelahnya. Merekalah orang-orang yang paling cerdas (HR.Ibnu Majah)

(3) Merenungi perkara-perkara mengerikan yang terjadi setelah kematian, merenungi kematian secara otomatis akan membuat kita takut terhadap hal-hal mengerikan yang akan terjadi setelahnya.Diawali dengan peristiwa dahsyat di alam Barzakh.

Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa perkara ini jauh darimu. Rasulullah SAW sendiri telah memperingatkan kita melalui sabdanya: “surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandal (salah satu tali sandal yang berada dibagian atas) yang dipakainya, begitu pula halnya dengan Neraka. (HR.Bukhari.6488)

(4) Jadikan akhirat sebagai tujuan utamanya,Dari Abdurrahman bin utsman Rasulullah bersabda:Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya,maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran dihadapannya, dan dunia tidak datang kepadanya melainkan apa yang telah ditetapkan baginya. Namun, baranmg siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah akan menyatukan urusannya, menjadikan hatinya merasa berkecukupan dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk (HR.Ibnu Majah)

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda ” Allah SWT berfirman: wahai anak Adam! Gunakan waktumu hanya untuk beribadah kepada-ku, niscaya Aku akan menjadikan dadamu penuh dengan rasa kecukupan dan Aku akan menutupi kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu. (HR.At-Tirmidzi)

(5) Menghayati kandungan al-Qur-an, Allah SWT berfirman:”maka apakah mereka tidak memperhatikan al-qur-an ataukah hati mereka terkunci (QS.Muhammad:24)

Menghayati isi Kitabullah merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk dapat membuat seseorang menagis. Dan untuk meraih itu, engkau harus menghayati penafsiran ayat-ayatnya melalui bimbingan para ulama dan ahli tafsir

Bacalah Al-qur’an tersebut seolah-olah ia diturunkan kepadamu, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagaian ulama.

Ibnu ‘Uyainah meriwayatkan: ” Ketika Muhammad bin al-munkadir sedang menghadapi sakaratul maut, ia tampak merasa gelisah. lalu orang-orang memanggil Abu Hazim untuk menemuinya. Setelah Abu Hazim Tiba, Ibnul Munkadir berkata kepadanya: “Sesungguhnya Alolah telah berfirman: ….Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS.Az-Zumaar:47)

(6) Beristighfar dan intropeksi diri, Tiap kali seseorang jujur dalam istighfarnya, maka dirinya akan bertambah khusyu’ dan hatinya pun akan semakin lembut. seorang mukmin adalah pemimpin yang berkuasa atas dirinya.

Ia senantiasa mengoreksinya semata-mata karena Allah SWT. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan terasa ringan bagi mereka yang selalu mengoreksi dirinya di dunia, dan sesungguhnya hisab tersebut akan terasa berat pada hari kiamat bagi mereka yang menjalani hidup ini tanpa bersikap mawas diri (Diriwayatkan dari al-Hasan Rahimatullah, dan maknanya perkataan tersebut benar)

Rasulullah bersabda : ” Berhati-hatilah kalian dengan dosa-dosa yang dianggap remeh, karena sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa yang dianggap remeh adalah seperti satu kaum yang singgah di sebuah lembah. Salah seorang dari mereka membawa sebatang ranting, yang lainnya juga membawa sebatang ranting, sehingga akhirnya mereka dapat mengumpulkan sejumlah ranting yang dapat mematangkan roti mereka. sesungguh, apabila orang yang melakukan dosa-dosa yang dianggap remeh, dihukum karena dosa-dosa itu, niscaya hal tersebut akan membinasakannya (HR.Ahmad)

(7) Memaksa diri untuk menangis. Waloupun tingkatan mengagis dengan sendirinya lebih rendah daripada menagis yang lahir dengan sendirinya. akan tetapi dengan berusaha menangis seseorang berjuang untuk menundukan dirinya sendiri…. semoga Allah SWT merahmatimu.

Dari Anas RA, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ” Wahai sekalian manusia, menangislah! Jika kalian tidak bisa menangis maka pakasalah diri kalian untuk menagis, karena sesungguhnya para penghuni Neraka akan menangis di Neraka hingga air mata mereka mengalir di pipi-pipi mereka-seakan-akan air mata tersebut adalah anak-anak sungai-hingga air mata itu habis. Setelah itu mengalirlah darah yang melukai mata-mata mereka (Dihasankan oleh Syaikh-al-Albani)

Bila engkau tidak dapat menangis, tidak dapat memaksa dirimu untuk menangis, itu berarti imanmu lemah, dan dunia telah merenggut sesuatu dari dalam dirimu, dan engkau benar-benar dalam bahaya. Maka segeralah kembali ke Allah. Raihlah manfaat hidup ini sebelum datang kematian. Segeralah bertaubat nasuha, kembal;i kepada Allah dengan kejujuran dan kerjakanlah amal-amal shalih

(8) Mendengarkan nasehat. Dalam kitab lathaa-iful Ma’aarif (hlm. 51-52) dikatakan:
“Nasihat adalah cambuk yang melecut hati. Ia akan membekas dihati seperti halnya cambuk yang menyisakan bekas pada tubuh. Bekas dari sebuah pukulan (ketika pukulan itu masih berlangsung) tentu tidak sama dengan bekas yang ia tinggalkan setelah cambukan itu berlalu. Hanya saja, ia akan menyisakan rasa sakit, sesuai dengan kuat dan lemahnya cambukan tersebut. Semakin kuat sebuah cambukan, maka semakin lama pula rasa sakit yang ia tinggalkan.”

(9) Memperbanyak ibadah sunnah. dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah SWT berfirman: Barang siapa memusuhi wali Allah (orang yang dekat kepada Allah), sesungguh Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-ku mendekatkan dirinya kepada-ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada apa yang telah Aku wajib-kan atas dirinya. Dan hamba-Ku masih terus mendekati kan dirinya kepada-Ku masih terus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah telinganya yang ia gunakan untuk mendengar; matanya yang ia gunakan untuk melihat; tangannya yang ia gunakan untuk menggenggam; dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Apabila ia memohon sesuatu kepada-ku niscaya aku akan mengabulkannya; dan apabila ia memohon perlindungan kepada-ku, niscaya Aku akan melindunginya. Aku tidak pernah ragu untuk melakukan sesuatu seperti keraguan-Ku dalam mencabut nyawa seorang Mukmin yang membenci kematian sementara Aku tidak ingin menyusahkannya (HR.Al-Bukhari 6502)

(10) Bersahaja dan bersikap Zuhud dalam urusan dunia, Sesungguhnya cinta kepada dunia merupakan salah satu penyebab kerasnya hati dan rintangan di jalan Allah, sedangkan sikap zuhud terhadap kehidupan dunia adalah penyebab kelembutan dan kekhusyu’an hati, serta tangisan dan air mata.

Dari Abdullah bin umar RA, ia berkata: ” Suatu ketika, Rasullullah SAW pernah menepuk pundakku, kemudian beliaupun menasehatiku:”Jadilah engkau didunia ini seperti orang asing atau pengembara”

Ibnu umar RA berkata :”apabila engkau berada pada sore hari, maka janganlah engkau menunggu datangnya weaktu pagi; dan jika engkau berada pada pagi hari, maka janganlah engkau menunggu datangnya waktu sore. pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan pergunakan hidupmu sebelum datang kematianmu.

Hendaknya kita selalu memperhatikan untuk bisa sampai ke tempat kembali yang sesungguhnya. sehingga kita tidak pernah menunda nunda toubat dan upaya untuk kembali kepada Allah, atau dalam menunaikan salah satu kewajiban, ataupun dalam melaksanakan kebaikan.

Hendaknya kita beramal shalih seakan-akan kita melihat hari kiamat dengan mata kita sendiri. kita manfaatkan waktu sehat sebelum datang sakit. kita isi waktu sehat dengan ketaatan, dan kita manfaatkan hidup ini agar dapat selamat dari hal-hal menakutkan yang terjadi setelah kematian

(11) Khawatir apabila amal tidak diterima, Dari aisyah RA, ia berkata: “Aku pernah bertanya:”Wahai Rasulullah, Allah SWT telah berfirman: ” Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut……. (QS.Al-Mu’minuun:60)
Apakah ayat ini ditujukan untuk orang yang suka berzina, mencuri, dan minum minuman keras? Rasulullah SAW menjawab: Tidak, wahai putri Abu Bakar akan tetapi ia ditujukan kepada orang yang suka berpuasa, bersedekah, dan melaksanakan shalat, sedangkan dirinya takut apabila amalnya tersebut tidak diterima (HR.At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Hadist tersebut Hasan)

Manfaat Menangis Karena Takut Kepada Allah SWT 22 April 2011

Posted by jihadsabili in nasehat.
add a comment

Manfaat Menangis Karena Takut Kepada Allah SWT

Wahai anak Adam! Sesungguhnya engkau laksana bilangan hari-hari. Setiap kali hari-hari itu pergi, maka pergi pula sebagian dari dirimu

Sehingga menangis karena Takut kepada Allah SWT sangat banyak manfaatnya antara lain :

(1) Allah SWT akan menaungi mereka di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya

(2) Mereka tidak akan masuk neraka bahkan tidak disentuh olehnya

(3) Mendapat kemenangan dengan memperoleh kecintaan Allah SWT. Hal ini berdasarkan Sabda Nabi SAW : Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai oleh Allah SWT dari pada dua tetesan dan dua bekas: yaitu Tetesan air mata karena takut kepada Allah SWT dan tetesan darah yang ,mengalir di jalan Allah. Adapun dua bekas, yaitu bekas dari berjihad di jalan Allah dan bekas dari menunaikan salah satu kewajiban yang telah Allah SWT tetapkan (HR.Tirmidzi)

(4) Mendapat kabar gembira, yaitu kebahagian dan kemenangan berupa Surga dengan seluruh kenikmatan dan kesenangan yang ada didalamnya ( QS. Al-Insaan: 11 – 12 )

(5) Allah SWT akan memberikan kepada mereka jalan keluar dan menganugrahkan kepada mereka rizki yang baik dari sebab yang tidak mereka duga: (QS. Ath-Thalaaq)

(6) Bertambah keimanan dan hidayah pada dirinya serta memperoleh ketenangan dan ketentraman jiwa

(7) Tangisan karena rasa takut kepada Allah SWT didunia akan menghasilkan kesenangan di surga sesuai dengan firman Allah SWT yaitu:”Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata:Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada ditengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diadzab). Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab Neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.(QS.Ath-Thuur:25-28)

Hingga aku menutup mata, aku masih tetap dijalan ini 9 April 2011

Posted by jihadsabili in cinta.
add a comment

Hingga aku menutup mata, aku masih tetap dijalan ini

Jika saja jalan ini indah, pasti tak sedikit kan mengiringi..

Jika saja jalan ini mudah, lihatlah betapa banyak yang bertahan..

Jika saja jalan ini singkat, akan banyak yang setia menyertai..

Jika saja jalan ini menjanjikan nikmat dunia, maka akan banyak yang tergiur manisnya..

 

Namun jalan ini tak semulus itu..

Begitu banyak onak dan duri..

Penuh kerikil tajam menanti di hadapan..

Begitu sulit dan berkelok-kelok..

Bagitu panjang dan jauh membentang..

 

Perjuangan ini tak semanis dalam bayangan..

Iman di hati tak selamanya membumbung tingginya..

Akan ada lelah, perih, sakit, dan jenuh..

Dan seytan pun kan segera mengambil peran..

Menambah lelah, semakin lelah, menambah jenuh semakin jenuh..

 

Kawan, ingatkah dulu di awal kita berjumpa?

Ghiroh di dada begitu membuncah..

Bersama dengan lantang kita teriakkan kalimatullah..

Dengan tangguh dan setegar karang berada di shaff terdepan..

Tak rindukah dengan indahnya rasa itu..?

 

Kawan,  kau benar, estafet perjuangan akan selalu berganti..

Kita yang dulu pemegang kendali, akan terganti dengan generasi selanjutnya..

Namun, sudikah kita jika ruh dalam raga masih bersemayam,

Namun kita telah menjadi orang yang tergantikan..?

Benarkah nama kita telah terukir dalam tinta emas perjuangan..?

Atau terhapus karena giuran dunia yang memabukkan?

 

Kawan, Betapa dulu indahnya lelah dalam balutan iman..

Manisnya letih dan penat dalam bara dakwah yang membara..

Namun kini, ribuan detik terlewat demi mengejar dunia..

Ratusan jam berlalu demi segenggam harta..

Adakah dakwah masih menjadi nafas kita..?

Adakah jalan ini masih kita rindukan..?

 

Ketika gerakan tangan kita mengalirkan kesembuhan pada manusia..

Adakah bersamanya keikhlasan masih terjaga?

Ataukah sepenuhnya telah ditujukan untuk meraih indahnya dunia?

Ketika Setiap detiknya jiwa dan raga kita bergelut dalam roda kehidupan duniawi..

Lupakah kita..?

 

Dahulu diantara perihnya sakharatul maut, sesosok manusia mulia merintih dalam sakit yang luar biasa..

Bukan sakitnya yang dia takutkan.. bukan keluarganya..

Namun Ummatnya.. ummatnya.. kita..

Tahukah kenapa? Karena dia tahu, betapa dunia akan menyeret kita jauh darinya..

 

Maka…

andai engkau terjatuh,bangkitlah kembali…

andai terluka,sabarlah dan harapkanlah pahala berlipat tak terhingga…

andai lelah dan lemah,ingatlah gerbang Firdaus yg menanti dan saat perjumpaan dengan wajahNya…

tahukah engkau saudariku,mengapa perjuangan itu pahit??

Karena syurga itu manis..

 

Teriakkan dalam hati.. resapi dalam hingga ke jantung.. mengalir dalam setiap aliran darah kita..

“Islam.. Kami Masih di sini.. Dan akan tetap Di sini.. Hingga tubuh ku kaku, hingga jantung tak berdetak, hingga mata ini menutup dari dunia.. kami masih di sini..”

 

Chenk2..  Makassar.. 291210  22’00

 

http://nurani107.blogspot.com/2011/03/hingga-aku-menutup-mata-aku-masih-tetap.html

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT? 9 April 2011

Posted by jihadsabili in cinta.
add a comment

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT?

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia

yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam,

Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan

merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka

menikah sudah lebih 32 tahun Mereka dikarunia 4 orang anak

di sinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak

ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan

itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ketiga seluruh

tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang

lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran,

menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur.

Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV

supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya

tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu

jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk

menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang

memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib

dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apaapa

saja yang dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa

menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia

selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun,

dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan

ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah

dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah

orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah

anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masingmasing

dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg

merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yg sulung berkata “Pak

kami ingin sekali merawat ibu , semenjak kami kecil melihat

bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari

bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” .

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya”

sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah

lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak

menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami

sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat

ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2

mereka.

“Anak-anakku ……… Jikalau perkawinan dan hidup didunia ini

hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah……tapi

ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah

lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian…sejenak

kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir

didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat

menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah

dia menginginkan keadaanya seperti ini.

Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa

bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang,

kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan

dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih

sakit.”

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Merekapun

melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno..

dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun

TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun

mengajukan pertanyaan kepada Suyatno

kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg

sudah tidak bisa apa-apa.

disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di

studio. kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup

menahan haru

disitulah pak Suyatno bercerita;

***Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam

perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu,

tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan.

Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan

sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai

saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia

memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit

karena berkorban untuk cinta kita bersama…dan itu merupakan

ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk

mencintainya apa adanya, sehatpun belum tentu saya mencari

penggantinya apalagi dia sakit ***

 

============================================

Sumber artikel, dari buku:

Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 301-303. ISBN 978-6028-686-938.

 

 

Fitnah Kubur (Na’udzubillah) 9 April 2011

Posted by jihadsabili in kematian.
add a comment

Fitnah Kubur (Na’udzubillah)

Bismillahirrahmanirrahim

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاء

Firman Allah, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang dia kehendaki.” (Ibrahim: 27)

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Barra’ Ibn Azib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda tentang ayat di atas:

يُثَبِّتُ اللهُ الذِيْنَ ءَامَنُوْا بِالقَوْلِ الثَّابِتِ. قَالَ : نَزَلَتْ فِي عَذَابِ القَبْرِ ، فَيُقَالُ لَهُ ، مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُوْلُ : رَبِّيَ اللهُ وَنَبِيِّ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم ، فَذَلِكَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ : يُثَبِّتُ اللهُ الذِيْنَ ءَامَنُوْا بِالقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الحَيَوةِ الدُّنْيَا وَفِى الآخِرَةِ .

“Allah menenguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh,’ ayat ini turun menjelaskan tentang azab kubur, maka ditanyakan kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ Dia menjawab, ‘Rabb saya adalah Allah dan nabi saya adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka itulah (makna) firman Allah, ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat’.” (HR. Muslim).

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ قَدْ أُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُوْنَ فِى قُبُوْرِكُمْ مِثْلَ أَوْ قَرِيْبًا مِنْ فِتْنَةِ الرِّجَال .

“Sungguh telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian difitnah dalam kubur kalian seperti atau mirip fitnah Dajjal.”

“Termasuk iman kepada Hari Akhir adalah iman kepada segala apa yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terjadi setelah kematian. Ahlus Sunnah wal Jamaah beriman kepada fitnah kubur, azab dan nikmat kubur. Adapun fitnah kubur maka manusia difitnah dalam kubur mereka, seseorang ditanya, ‘Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?’ maka, ‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Orang mukmin menjawab, ‘Tuhanku Allah, Islam agamaku dan Muhammad nabiku.’ Adapun orang yang bimbang maka dia berkata, ‘Hah, hah, aku tidak tahu aku mendengar orang-orang berkata maka aku mengatakannya.’ Maka dia dipukul dengan palu besi, dia pun berteriak dengan teriakan yang didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia, kalau manusia mendengarnya niscaya dia pingsan kemudian setelah fitnah ini adalah nikmat atau azab.” (Penjelasan Ibnu Taimiyah dalam al-Aqidah al-Wasithiyah)

Fitnah kubur adalah ujian di alam kubur berupa pertanyaan dua malaikat kepada mayit seperti yang telah dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam al-Aqidah al-Wasithiyah yang penulis nukil dalam pembahasan sebelumnya.

Dari al-Barra’ bin Azib berkata, kami sedang mengubur jenazah di Baqi’ Gharqad, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kapada kami, beliau duduk dan kami duduk di sekeliling beliau seolah-olah kepala kami dihinggapi burung, beliau bersabda,

“Aku berlindung kepada Allah dari azab kubur.” Tiga kali… Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maka ruhnya dikembalikan kepada jasadnya, lalu dia didatangi dua malaikat, keduanya bertanya kepadanya, ’Siapa Tuhanmu?’ Dia menjawab, ‘Tuhanku Allah’. Keduanya bertanya,’Apa agamamu?’ Dia menjawab, ‘Agamaku Islam’. Keduanya bertanya kepadanya, ‘Siapakah laki-laki ini yang diutus kapadamu?’ Dia menjawab, ‘Dia adalah Rasulullah’. Keduanya bertanya kepadanya, ‘Dari mana kamu tahu?. Dia menjawab, ‘Aku membaca kitab Allah maka aku beriman kepadanya dan membenarkannya’. Lalu seorang penyeru dari langit berseru, ‘HambaKu benar, maka bentangkanlah dari surga dan bukakanlah untuknya sebuah pintu ke surga’. Dia berkata, ‘Maka datanglah kepadanya kenikmatan dan keharumannya dan dilapangkan untuknya di kuburnya seluas pendangannya.’ Dia berkata, ‘Dia didatangi oleh seorang laki-laki berwajah tampan, berpakaian bagus dan beraroma wangi, laki-laki itu berkata, ‘Aku sampaikan kepadamu berita gembira yang menggembirakanmu, inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu.’ Dia bertanya, ‘Kamu ini siapa? Wajahmu adalah wajah yang hadir membawa kebaikan.’ Dia menjawab, ‘Aku adalah amal shalihmu’. Dia berkata, ‘Ya Rabbi, datangkanlah Kiamat sehingga aku pulang kepada keluarga dan hartaku’.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lalu ruhnya dikembalikan ke jasadnya, dia didatangi dua malaikat lalu mendudukkannya, dua malaikat itu bertanya kepadanya, ‘Siapa Tuhanmu?’ Dia menjawab, ‘Ha..ha. Aku tidak tahu.’ Kedua malaikat itu kembali bertanya, ‘Siapa laki-laki yang diutus kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Ha ha, aku tidak tahu.’ Lalu seorang penyeru dari langit berseru, ‘HambaKu berdusta, maka bentangkanlah dari neraka dan bukakanlah untuknya satu pintu neraka.’ Lalu panas dan aromanya datang kepadanya, kuburnya disempitkan atasnya sehingga tulang-tulang rusuknya bergeser dari tempatnya. Dia didatangi oleh seorang laki-laki berwajah buruk, berpakaian buruk dan berbau busuk, laki-laki itu berkata, ‘Aku sampaikan kepadamu berita yang menyedihkanmu, inilah hari yang pernah dijanjikan kepadamu.’ Dia bertanya, ‘Kamu siapa? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan keburukan.’ Laki-laki itu menjawab, ‘Aku adalah amalmu yang jahat.’ Dia berkata, ‘Ya Rabbi jangan datangkan Kiamat.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki dan Syuaib al-Arnauth).

Setelah fitnah kubur adalah nikmat atau azab kubur, nikmat dan azab ini atas ruh dan jasad mengikuti sebagaimana nikmat dan azab dunia atas jasad dan ruh mengikuti.

Nikmat dan azab kubur di samping ditetapkan oleh hadits di atas ia juga ditetapkan oleh dalil-dalil yang lain di antaranya adalah firman Allah,

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras’.” (Al-Mukmin: 46).

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawamu,’ di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.”
(Al-An’am: 93).

Adapun dalil nikmat dan azab kubur dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia mutawatir, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَرَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيْرٍ ثُمَّ قَالَ بَلَى : أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَسْعَى بِالنَّمِيْمَةِ ، وَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ قَالَ ثُمَّ أَخَذَ عُوْدًا رَطْبًا فَكَسَرَهُ بِإِثْنَتَيْنِ ثُمَّ غَرَزَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى قَبْرٍ ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَالَمْ بَيْبَسَا .

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melewati dua kuburan, maka beliau berkata, ‘Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah mereka disiksa karena perkara besar,’ kemudian beliau bersabda, ‘Benar, adapun yang satu maka ia telah melakukan adu domba, adapun yang lainnya karena dia dia tidak beristitar dari kencingnya.’ Ibnu Abbas berkata, ‘Kemudian beliau mengambil batang kayu segar dan dibelah menjadi dua, kemudian menancapkan masing-masing di atas kuburan tadi kemudian bersabda, ‘Mudah-mudahan keduanya diringankan (azabnya) selama (dua batang kayu tadi) tidak kering’.”.” (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas).

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ المَسِيْحِ الدَّجَّالِ .

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari azab kubur, dari azab neraka, dari fitnah kehidupan dan kematian serta fitnah Dajjal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Peryanyaan :

Apakah fitnah kubur berlaku untuk semua manusia tanpa kecuali ?

Ibnu Utsaimin di Syarh al-Wasithiyah menjawab, ada beberapa orang yang bebas dari fitnah kubur.

Pertama : Para nabi. Mereka tidak ditanya karena dua alasan:

1. Para nabi lebih tinggi daripada para syuhada dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa syahid dilindungi dari fitnah kubur. Sabda beliau,

كَفَى بِبَارِقَةِ السُيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَة .

“Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah.” (HR. an-Nasa`i).

2. Salah satu pertanyaan yang ditujukan kepada mayit adalah siapa nabimu? Pertanyaan ini hanya untuk pengikut Nabi, ia tidak mungkin ditujukan kepada nabi. Masa nabi ditanya siapa nabimu?

Kedua : Para shiddiqin karena dua alasan:

1. Karena derajat shiddiqin lebih tinggi daripada derajat syuhada, maka mereka lebih layak untuk selamat dari fitnah kubur.
2. Karena Shiddiq telah diketahui shidquhu (kebenaran / kejujurannya), jadi tidak perlu diuji, ujian hanya untuk orang yang diragukan apakah dia shadiq atau kadzib?

Ketiga : Para syuhada karena kebenaran iman mereka telah terbukti dengan jihad dan mereka gugur di dalamnya. Nabi bersabda, “Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagia fitnah.” Di samping itu jika murabith (orang yang bersiap-siaga / berjaga-jaga) di jalan Allah mati dalam keadaan tersebut dijamin aman dari fitnah kubur maka syahid lebih layak.

Ke empat : Murabith

Di Shahih Muslim Rasulullah bersabda,

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٍ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ ، وَأُمِنَ الفُتَان .

“Berjaga-jaga dua puluh empat jam lebih baik daripada puasa dan qiyam lail satu bulan, jika dia mati amal yang dulu dia lakukan tetap mengalir kepadanya, rizkinya dialirkan kepadanya dan diberi rasa aman dari fitnah kubur (Mungkar dan Nakir).”

Ke liman : Anak-anak kecil dan orang-orang gila karena mereka bukan mukallaf.

(Rujukan: al-Aqidah Wasithiyah dengan Syarahnya Ibnu Utsamin, al-Aqidah ath-Thahawiyah dengan syarahnya Ibnu Abil Iz al-Hanafi, Kitab Tauhid 2 oleh Tim ahli tauhid).

Fitnah Istri 9 April 2011

Posted by jihadsabili in keluarga.
add a comment

Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-AtsariyyahSakinah, Mengayuh Biduk, 24 – Desember – 2006, 17:50:42

 

<span>Kecintaan kepada istri, tanpa disadari banyak menggiring suami ke bibir jurang petaka. Betapa banyak suami yang memusuhi orang tuanya demi membela istrinya. Betapa banyak suami yang berani menyeberangi batasan-batasan syariat karena terlalu menuruti keinginan istri. Malangnya, setelah hubungan kekerabatan berantakan, karir hancur, harta tak ada lagi yang tersisa, banyak suami yang belum juga menyadari kesalahannya.

 

Cinta kepada istri merupakan tabiat seorang insan dan merupakan anugerah Ilahi yang diberikan-Nya kepada sepasang insan yang menyatukan kata dan hati mereka dalam ikatan pernikahan.

 

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ

 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Rum: 21)Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling mulia dan sosok yang paling sempurna, dianugerahi rasa cinta kepada para istrinya, yang beliau nyatakan dalam sabdanya:

 

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيْبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصَّلاَةِ

 

“Dicintakan kepadaku dari dunia kalian,1 para wanita (istri) dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.”2Namun yang disayangkan, terkadang rasa cinta itu membawa seorang suami kepada perbuatan yang tercela. Karena menuruti istri tercinta, ia rela memutuskan hubungan dengan orang tuanya. Ia berani melakukan korupsi di tempat kerjanya. Ia enggan untuk turun berjihad fi sabilillah ketika ada seruan jihad dari penguasa. Ia bahkan siap menempuh segala cara demi membahagiakan istri tercinta walaupun harus melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika sudah seperti ini keadaannya, berarti cintanya itu membawa madharat baginya. Ia telah terfitnah dengan istrinya. Yang lebih berbahaya lagi bila cinta kepada istri lebih dia dahulukan dari segala hal. Bahkan lebih dia dahulukan daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasul-Nya dan agama-Nya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengancam dalam firman-Nya:

 

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيْلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ

 

“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24)Karena adanya dampak cinta yang berlebihan seperti inilah, Allah Subhanahu wa Ta’ala nyatakan bahwa di antara istri dan anak, ada yang menjadi musuh bagi seseorang dalam status dia sebagai suami atau sebagai ayah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ

 

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka.” (At-Taghabun: 14)Musuh di sini dalam arti si istri atau si anak dapat melalaikan sang suami atau sang ayah dari melakukan amal shalih. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ

 

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan jangan pula anak-anak kalian melalaikan kalian dari berdzikir/mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun: 9)Mujahid berkata tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ

 

“Sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka.” Yakni, cinta seorang lelaki/suami kepada istrinya membawanya untuk memutuskan silaturahim atau bermaksiat kepada Rabbnya. Si suami tidak mampu berbuat apa-apa karena cintanya kepada si istri kecuali sekedar menuruti istrinya.” (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 8/111)Beliau juga berkata: “Kecintaan kepada istri dan anak membawa mereka untuk mengambil penghasilan yang haram, lalu diberikan kepada orang-orang yang dicintai ini.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 18/94)Selain itu, istri dan anak dapat memalingkan mereka dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membuat mereka lamban untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur`an, 12/116)Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan: “Ayat ini umum, meliputi seluruh maksiat yang dilakukan seseorang karena istri dan anak.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 18/93-94)Setelah mengingatkan keberadaan mereka sebagai musuh, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan: فَاحْذَرُوْهُمْ (maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka). Berhati-hati di sini, kata Ibnu Zaid, adalah berhati-hati menjaga agama kalian. (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 8/111)Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan: “Berhati-hatinya kalian dalam menjaga diri kalian disebabkan dua hal. Bisa jadi karena mereka akan membuat kemudaratan/bahaya pada jasmani, bisa pula kemadharatan pada agama. Kemudaratan tubuh berkaitan dengan dunia, sedangkan kemudaratan pada agama berkaitan dengan akhirat.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 18/94)Lantas, bagaimana bisa seorang istri yang merupakan teman hidup yang selalu menemani dan mendampingi, dinyatakan sebagai musuh? Dalam hal ini, Al-Qadhi Abu Bakr ibnul ‘Arabi rahimahullah telah menerangkan: “Yang namanya musuh tidaklah mesti diri/individunya sebagai musuh. Namun dia menjadi musuh karena perbuatannya. Dengan demikian, apabila istri dan anak berperilaku seperti musuh, jadilah ia sebagai musuh. Dan tidak ada perbuatan yang lebih jelek daripada menghalangi seorang hamba dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Ahkamul Qur`an, 4/1818)Di dalam tafsirnya terhadap ayat di atas, Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Ini merupakan peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kaum mukminin agar tidak tertipu dan terpedaya oleh istri dan anak-anak, karena sebagian mereka merupakan musuh bagi kalian. Yang namanya musuh, ia menginginkan kejelekan bagimu. Dan tugasmu adalah berhati-hati dari orang yang bersifat demikian. Sementara jiwa itu memang tercipta untuk mencintai istri dan anak-anak. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menasehati hamba-hamba-Nya agar kecintaan itu tidak sampai membuat mereka terikat dengan tuntutan istri dan anak-anak, sementara tuntutan itu mengandung perkara yang dilarang secara syar’i. Allah Subhanahu wa Ta’ala menekankan mereka untuk berpegang dengan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya, dengan menjanjikan apa yang ada di sisi-Nya berupa pahala yang besar yang mencakup tuntutan yang tinggi dan cinta yang mahal. Juga agar mereka lebih mementingkan akhirat daripada dunia yang fana yang akan berakhir.Karena menaati istri dan anak-anak menimbulkan kemudaratan bagi seorang hamba dan adanya peringatan dari hal tersebut, bisa jadi memunculkan anggapan bahwa istri dan anak-anak hendaknya disikapi secara keras, serta harus diberikan hukuman kepada mereka. Namun ternyata, Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya memerintahkan untuk berhati-hati dari mereka, memaafkan mereka, tidak menghukum mereka. Karena dalam pemaaafan ada kemaslahatan/kebaikan yang tidak terbatas. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

 

“Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taghabun: 14) [Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 868]Demikianlah keberadaan seorang wanita, baik statusnya sebagai istri atau bukan, merupakan fitnah terbesar bagi lelaki. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahulukan penyebutan wanita ketika mengurutkan kecintaan kepada syahwat (kesenangan yang diinginkan dari dunia).

 

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

 

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang perkara yang dijadikan indah bagi manusia dalam kehidupan dunia ini berupa ragam kelezatan, dari wanita, anak-anak, dan selainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai penyebutan wanita karena fitnahnya yang paling besar. Sebagaimana dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

 

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang paling berbahaya bagi lelaki daripada fitnah wanita.”3 (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 1/15)Mungkin timbul pertanyaan, bila istri dapat menjadi musuh bagi suaminya, apakah juga berlaku sebaliknya, suami dapat menjadi musuh bagi istrinya?Al-Qadhi Ibnul ‘Arabi rahimahullah menjawab permasalahan ini: “Sebagaimana seorang lelaki/suami memiliki musuh dari kalangan anak dan istrinya, demikian pula wanita/istri. Suami dan anaknya dapat menjadi musuh baginya dengan makna yang sama. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: مِنْ أَزْوَاجِكُمْ (di antara istri-istri kalian atau pasangan hidup kalian) ini sifatnya umum, masuk di dalamnya lelaki (suami) dan wanita (istri) karena keduanya tercakup dalam seluruh ayat.” (Ahkamul Qur`an, 4/1818)Dengan demikian, janganlah kecintaan seorang suami kepada istrinya dan sebaliknya kecintaan istri kepada suaminya membawa keduanya untuk melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, berbuat maksiat, menghalalkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan atau sebaliknya, mengharamkan untuk dirinya apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan karena ingin mencari keridhaan pasangannya. Nabi kita yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditegur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika beliau sempat mengharamkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan karena ingin mencari keridhaan istri-istri beliau.4 Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan hal itu dalam Al-Qur`an:

 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

 

“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu5, karena engkau mencari keridhaan (kesenangan hati) istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Tahrim: 1)

 

Nasehat kepada IstriKarena engkau –wahai seorang istri– dapat menjadi fitnah bagi suamimu, maka bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan sampai engkau menjadi musuh dalam selimut baginya. Jangan engkau jerat dia atas nama cinta, hingga ia terjaring dan tak dapat lepas darinya. Akibatnya, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana mencari ridhamu, mengikuti kemauanmu, walaupun hal itu bertentangan dengan syariat.Bertakwalah engkau kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadilah istri yang shalihah dengan membantu suamimu agar selalu taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Semestinya engkau tidak suka bila ia melakukan perkara yang melanggar syar’i karena ingin menyenangkan hatimu. Keberadaanmu di sisinya, sebagai teman hidupnya, jangan menjadi penghalang baginya untuk menjadi hamba yang bertakwa dan menjadi anak yang shalih bagi kedua orang tuanya.Cintailah suamimu, syukurilah dengan cara engkau semakin taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menunaikan kewajibanmu dengan sebaik mungkin, dan mencurahkan segala kemampuanmu untuk memenuhi haknya sebagai suami.Zuhud terhadap dunia, jangan engkau abaikan. Sehingga engkau tidak menuntut suamimu agar memenuhi kenikmatan dunia yang engkau idamkan. Pautkan selalu hatimu dengan darul akhirat agar engkau tidak menghamba pada dunia yang tidak kekal.

 

Catatan AkhirAl-Imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunan-nya (no. 3317) membawakan asbabun nuzul (sebab turunnya) surah At-Taghabun ayat 14 di atas, dari riwayat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tatkala ada yang bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini, beliau menyatakan: “Mereka adalah orang-orang yang telah berislam dari penduduk Makkah dan mereka ingin mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun istri dan anak mereka enggan ditinggalkan mereka. Ketika mereka pada akhirnya mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka melihat orang-orang yang lebih dahulu berhijrah telah tafaqquh fid dien (mendalami agama), mereka pun berkeinginan untuk memberi hukuman kepada istri dan anak-anak mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu menurunkan ayat6:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَ أَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ

 

Namun riwayat asbabun nuzul ini dha’if (lemah) sebagaimana dinyatakan oleh Asy-Syaikh Al-’Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah, dalam karya beliau Ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul (hal. 249).Demikianlah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufik kepada kita untuk selalu mencari keridhaan-Nya. Amin.Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

1 Tiga perkara ini (wanita, minyak wangi, dan shalat) dinyatakan termasuk dari dunia, maknanya: ketiganya ada di dunia. Kesimpulannya, beliau menyatakan bahwa dicintakan kepada beliau di alam ini tiga perkara, dua yang awal (wanita dan minyak wangi) termasuk perkara tabiat duniawi sedangkan yang ketiga (shalat) termasuk perkara agama. (Catatan kaki Misykatul Mashabih, 4/1957, yang diringkas dari Al-Lam’at, Abdul Haq Ad-Dahlawi)2 HR. Ahmad (3/128, 199, 285), An-Nasa’i (no. 3939) kitab ‘Isyratun Nisa` bab Hubbun Nisa`. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, 1/82.3 HR. Al-Bukhari dan Muslim4 Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjaga dari terus berbuat dosa. Ketika beliau jatuh dalam kesalahan sebagaimana wajarnya seorang manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala segera menegur Nabi-Nya sebagai penjagaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau. Sehingga beliau pun bertaubat dari kesalahannya.5 Yakni Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat mengharamkan madu atau mengharamkan Mariyah budak beliau.6 Dan terhadap keinginan mereka untuk menghukum istri dan anak-anak mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan:

 

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

 

“Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taghabun: 14)Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka untuk memaafkan istri dan anak-anak mereka. (Ma‘alimut Tanzil, 4/324)

TATA CARA PERNIKAHAN DALAM ISLAM – Malam Pertama dan Adab Bersenggama (BAGUS) 9 April 2011

Posted by jihadsabili in munakahat.
add a comment

TATA CARA PERNIKAHAN DALAM ISLAM – Malam Pertama dan Adab Bersenggama (BAGUS)

Oleh – Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Saat pertama kali pengantin pria menemui isterinya setelah aqad nikah, dianjurkan melakukan beberapa hal, sebagai berikut:

Pertama: Pengantin pria hendaknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun isterinya seraya mendo’akan baginya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘basmalah’ serta do’akanlah dengan do’a berkah seraya mengucapkan: ‘Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.’” [1]

Kedua: Hendaknya ia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at bersama isterinya.

Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata: “Hal itu telah ada sandarannya dari ulama Salaf (Shahabat dan Tabi’in).

1. Hadits dari Abu Sa’id maula (budak yang telah dimerdekakan) Abu Usaid.
Ia berkata: “Aku menikah ketika aku masih seorang budak. Ketika itu aku mengundang beberapa orang Shahabat Nabi, di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr dan Hudzaifah radhiyallaahu ‘anhum. Lalu tibalah waktu shalat, Abu Dzarr bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka berkata: ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzarr) berkata: ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka shalat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku, ‘Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua shalat dua raka’at. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua…!’”[2]

2. Hadits dari Abu Waail.
Ia berkata, “Seseorang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, lalu ia berkata, ‘Aku menikah dengan seorang gadis, aku khawatir dia membenciku.’ ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Sesungguhnya cinta berasal dari Allah, sedangkan kebencian berasal dari syaitan, untuk membenci apa-apa yang dihalalkan Allah. Jika isterimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan shalat dua raka’at di belakangmu. Lalu ucapkanlah (berdo’alah):

“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rizki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rizki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.” [3]

Ketiga: Bercumbu rayu dengan penuh kelembutan dan kemesraan. Misalnya dengan memberinya segelas air minum atau yang lainnya.

Hal ini berdasarkan hadits Asma’ binti Yazid binti as-Sakan radhiyallaahu ‘anha, ia berkata: “Saya merias ‘Aisyah untuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau supaya menghadiahkan sesuatu kepada ‘Aisyah. Beliau pun datang lalu duduk di samping ‘Aisyah. Ketika itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam disodori segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada ‘Aisyah. Tetapi ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu.” ‘Asma binti Yazid berkata: “Aku menegur ‘Aisyah dan berkata kepadanya, ‘Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam!’ Akhirnya ‘Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit.” [4]

Keempat: Berdo’a sebelum jima’ (bersenggama), yaitu ketika seorang suami hendak menggauli isterinya, hendaklah ia membaca do’a:

“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka, apabila Allah menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan antara keduanya, niscaya syaitan tidak akan membahayakannya selama-lamanya.” [5]

Kelima: Suami boleh menggauli isterinya dengan cara bagaimana pun yang disukainya asalkan pada kemaluannya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Artinya : Isteri-Isterimu adalah ladang bagimu, maka datangi-lah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.” [Al-Baqarah : 223]

Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Pernah suatu ketika ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, celaka saya.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu celaka?’ ‘Umar menjawab, ‘Saya membalikkan pelana saya tadi malam.’ [6] Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan komentar apa pun, hingga turunlah ayat kepada beliau:

“Isteri-Isterimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai…” [Al-Baqarah : 223]

Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Setubuhilah isterimu dari arah depan atau dari arah belakang, tetapi hindarilah (jangan engkau menyetubuhinya) di dubur dan ketika sedang haidh”. [7]

Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Silahkan menggaulinya dari arah depan atau dari belakang asalkan pada kemaluannya”.[8]

Seorang Suami Dianjurkan Mencampuri Isterinya Kapan Waktu Saja
• Apabila suami telah melepaskan hajat biologisnya, janganlah ia tergesa-gesa bangkit hingga isterinya melepaskan hajatnya juga. Sebab dengan cara seperti itu terbukti dapat melanggengkan keharmonisan dan kasih sayang antara keduanya. Apabila suami mampu dan ingin mengulangi jima’ sekali lagi, maka hendaknya ia berwudhu’ terlebih dahulu.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika seseorang diantara kalian menggauli isterinya kemudian ingin mengulanginya lagi, maka hendaklah ia berwudhu’ terlebih dahulu.” [9]

• Yang afdhal (lebih utama) adalah mandi terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Rafi’ radhi-yallaahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menggilir isteri-isterinya dalam satu malam. Beliau mandi di rumah fulanah dan rumah fulanah. Abu Rafi’ berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa tidak dengan sekali mandi saja?” Beliau menjawab.

“Ini lebih bersih, lebih baik dan lebih suci.” [10]

• Seorang suami dibolehkan jima’ (mencampuri) isterinya kapan waktu saja yang ia kehendaki; pagi, siang, atau malam. Bahkan, apabila seorang suami melihat wanita yang mengagumkannya, hendaknya ia mendatangi isterinya. Hal ini berdasarkan riwayat bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat wanita yang mengagumkan beliau. Kemudian beliau mendatangi isterinya -yaitu Zainab radhiyallaahu ‘anha- yang sedang membuat adonan roti. Lalu beliau melakukan hajatnya (berjima’ dengan isterinya). Kemu-dian beliau bersabda,

“Sesungguhnya wanita itu menghadap dalam rupa syaitan dan membelakangi dalam rupa syaitan. [11] Maka, apabila seseorang dari kalian melihat seorang wanita (yang mengagumkan), hendaklah ia mendatangi isterinya. Karena yang demikian itu dapat menolak apa yang ada di dalam hatinya.” [12]

Imam an-Nawawi rahimahullaah berkata : “ Dianjurkan bagi siapa yang melihat wanita hingga syahwatnya tergerak agar segera mendatangi isterinya – atau budak perempuan yang dimilikinya -kemudian menggaulinya untuk meredakan syahwatnya juga agar jiwanya menjadi tenang.” [13]

Akan tetapi, ketahuilah saudara yang budiman, bahwasanya menahan pandangan itu wajib hukumnya, karena hadits tersebut berkenaan dan berlaku untuk pandangan secara tiba-tiba.

Allah Ta’ala berfirman:

““Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” .[An-Nuur : 30]

Dari Abu Buraidah, dari ayahnya radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ber-sabda kepada ‘Ali.

“Wahai ‘Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan pandangan lainnya karena yang pertama untukmu dan yang kedua bukan untukmu”. [14]

• Haram menyetubuhi isteri pada duburnya dan haram menyetubuhi isteri ketika ia sedang haidh/ nifas.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Artinya : Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haidh. Katakanlah, ‘Itu adalah sesuatu yang kotor.’ Karena itu jauhilah [15] isteri pada waktu haidh; dan janganlah kamu dekati sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertaubat dan mensucikan diri.” [Al-Baqarah : 222]

Juga sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa yang menggauli isterinya yang sedang haidh, atau menggaulinya pada duburnya, atau mendatangi dukun, maka ia telah kafir terhadap ajaran yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” [16]

Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Dilaknat orang yang menyetubuhi isterinya pada duburnya.” [17]

• Kaffarat bagi suami yang menggauli isterinya yang sedang haidh.
Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata, “Barangsiapa yang dikalahkan oleh hawa nafsunya lalu menyetubuhi isterinya yang sedang haidh sebelum suci dari haidhnya, maka ia harus bershadaqah dengan setengah pound emas Inggris, kurang lebihnya atau seperempatnya. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang menggauli isterinya yang sedang haidh. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Hendaklah ia bershadaqah dengan satu dinar atau setengah dinar.’”[18]

• Apabila seorang suami ingin bercumbu dengan isterinya yang sedang haidh, ia boleh bercumbu dengannya selain pada kemaluannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

“Lakukanlah apa saja kecuali nikah (jima’/ bersetubuh).” [19]

• Apabila suami atau isteri ingin makan atau tidur setelah jima’ (bercampur), hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu’ terlebih dahulu, serta mencuci kedua tangannya. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila beliau hendak tidur dalam keadaan junub, maka beliau berwudhu’ seperti wudhu’ untuk shalat. Dan apabila beliau hendak makan atau minum dalam keadaan junub, maka beliau mencuci kedua tangannya kemudian beliau makan dan minum.” [20]

Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, ia berkata,

“Apabila Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur dalam keadaan junub, beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu’ (seperti wudhu’) untuk shalat.” [21]

• Sebaiknya tidak bersenggama dalam keadaan sangat lapar atau dalam keadaan sangat kenyang, karena dapat membahayakan kesehatan.

• Suami isteri dibolehkan mandi bersama dalam satu tempat, dan suami isteri dibolehkan saling melihat aurat masing-masing.

Adapun riwayat dari ‘Aisyah yang mengatakan bahwa ‘Aisyah tidak pernah melihat aurat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah riwayat yang bathil, karena di dalam sanadnya ada seorang pendusta. [22]

• Haram hukumnya menyebarkan rahasia rumah tangga dan hubungan suami isteri.

Setiap suami maupun isteri dilarang menyebarkan rahasia rumah tangga dan rahasia ranjang mereka. Hal ini dilarang oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, orang yang menyebarkan rahasia hubungan suami isteri adalah orang yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya pada hari Kiamat adalah laki-laki yang bersenggama dengan isterinya dan wanita yang bersenggama dengan suaminya kemudian ia menyebarkan rahasia isterinya.” [23]

Dalam hadits lain yang shahih, disebutkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian lakukan (menceritakan hubungan suami isteri). Perumpamaannya seperti syaitan laki-laki yang berjumpa dengan syaitan perempuan di jalan lalu ia menyetubuhinya (di tengah jalan) dilihat oleh orang banyak…” [24]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullaah berkata, “Apa yang dilakukan sebagian wanita berupa membeberkan maslah rumah tangga dan kehidupan suami isteri kepada karib kerabat atau kawan adalah perkara yang diharamkan. Tidak halal seorang isteri menyebarkan rahasia rumah tangga atau keadaannya bersama suaminya kepada seseorang.
Allah Ta’ala berfirman:

“Artinya : “Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” [An-Nisaa’ : 34]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah laki-laki yang bersenggama dengan isterinya dan wanita yang bersenggama dengan suaminya, kemudian ia menyebarkan rahasia pasangannya”. [25]

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006]
__________
Foote Note
[1]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2160), Ibnu Majah (no. 1918), al-Hakim (II/185) dan ia menshahihkannya, juga al-Baihaqi (VII/148), dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 92-93)
[2]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (X/159, no. 30230 dan ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191-192). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 94-97), cet. Darus Salam, th. 1423 H.
[3]. Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191, no. 10460, 10461).
[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/438, 452, 453, 458). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 91-92), cet. Darus Salam, th. 1423 H.
[5]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 141, 3271, 3283, 5165), Muslim (no. 1434), Abu Dawud (no. 2161), at-Tirmidzi (no. 1092), ad-Darimi (II/145), Ibnu Majah (no. 1919), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 144, 145), Ahmad (I/216, 217, 220, 243, 283, 286) dan lainnya, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma.
[6]. Pelana adalah kata kiasan untuk isteri. Yang dimaksud ‘Umar bin al-Khaththab adalah menyetubuhi isteri pada kemaluannya tetapi dari arah belakang. Hal ini karena menurut kebiasaan, suami yang menyetubuhi isterinya berada di atas, yaitu menunggangi isterinya dari arah depan. Jadi, karena ‘Umar menunggangi isterinya dari arah belakang, maka dia menggunakan kiasan “membalik pelana”. (Lihat an-Nihayah fii Ghariibil Hadiits (II/209))
[7]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (I/297), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 91) dan dalam Tafsiir an-Nasa-i (I/256, no. 60), at-Tirmidzi (no. 2980), Ibnu Hibban (no. 1721-al-Mawarid) dan (no. 4190-Ta’liiqatul Hisaan ‘ala Shahiih Ibni Hibban), ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (no. 12317) dan al-Baihaqi (VII/198). At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.” Hadits ini dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fat-hul Baari (VIII/291).
[8]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Aatsaar (III/41) dan al-Baihaqi (VII/195). Asalnya hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 4528), Muslim (no. 1435) dan lainnya, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat al-Insyirah fii Adabin Nikah (hal. 48) oleh Abu Ishaq al-Huwaini.
[9]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (308 (27)) dan Ahmad (III/28), dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu.
[10]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 219), an-Nasa-i dalam Isyratun Nisaa’ (no. 149), dan yang lainnya. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (no. 216) dan Adabuz Zifaf (hal. 107-108).
[11]. Maksudnya isyarat dalam mengajak kepada hawa nafsu.
[12]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1403), at-Tirmidzi (no. 1158), Adu Dawud (no. 2151), al-Baihaqi (VII/90), Ahmad (III/330, 341, 348, 395) dan lafazh ini miliknya, dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (I/470-471).
[13]. Syarah Shahiih Muslim (IX/178).
[14]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2777) dan Abu Dawud (no. 2149).
[15]. Jangan bercampur dengan isteri pada waktu haidh.
[16]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3904), at-Tirmidzi (no. 135), Ibnu Majah (no. 639), ad-Darimi (I/259), Ahmad (II/408, 476), al-Baihaqi (VII/198), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 130, 131), dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.
[17]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Adi dari ‘Uqbah bin ‘Amr dan dikuatkan dengan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2162) dan Ahmad (II/444 dan 479). Lihat Adaabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 105).
[18]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 264), an-Nasa-i (I/153), at-Tirmidzi (no. 136), Ibnu Majah (no. 640), Ahmad (I/172), dishahihkan oleh al-Hakim (I/172) dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 122)
[19]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 302), Abu Dawud (no. 257), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 123).
[20]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 222, 223), an-Nasa-i (I/139), Ibnu Majah (no. 584, 593) dan Ahmad (VI/102-103, dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 390) dan Shahiihul Jaami’ (no. 4659).
[21]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 288), Muslim (no. 306 (25)), Abu Dawud (no. 221), an-Nasa-i (I/140). Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 4660).
[22]. Lihat Adabuz Zifaf hal. 109.
[23]. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no. 17732), Muslim (no. 1437), Abu Dawud (no. 4870), Ahmad (III/69) dan lainnya. Hadits ini ada kelemahannya karena dalam sanadnya ada seorang rawi yang lemah bernama ‘Umar bin Hamzah al-‘Amry. Rawi ini dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in dan an-Nasa-i. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Hadits-haditsnya munkar.” Lihat kitab Mizanul I’tidal (III/192), juga Adabuz Zifaf (hal. 142). Makna hadits ini semakna dengan hadits-hadits lain yang shahih yang melarang menceritakan rahasia hubungan suami isteri.
[24]. Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/456-457).
[25]. Fataawaa al-Islaamiyyah (III/211-212).