jump to navigation

Siap Nikah atau hanya Ingin Nikah … ??? 23 Maret 2011

Posted by jihadsabili in jodoh, munakahat.
trackback
Siap Nikah atau hanya Ingin Nikah … ???
O

Banyak aktivis dakwah yang bercita-cita untuk NIKAH DINI, tetapi ternyata tidak sedikit yang memahami apakah NIKAH DINI itu sendiri. Ketika qta memutuskan untuk NIKAH DINI, apakah itu murni bentuk kesiapan diri untuk menyempurnakan dien atau hanya sekedar INGIN nikah di usia yang masih belia? Maka rabalah hati untuk mendapatkan jawabannya …

Tentu saja Menikah di usia yang muda tidak ada salahnya, tetapi NIKAH MUDA juga butuh adanya manajemen cinta yang baek, butuh sistem pemerintahan yang bagus agar nanti ‘negeri’ kecil yang hendak dibangun tidak mudah runtuh, entah itu karena krisis moneter, krisis sosial bahkan sampai krisis multidimensi (politik bangaat neh istilahnya, heeee).

Menikah adalah tujuan mulia yang disunahkan oleh Rosulullah tercinta, tetapi untuk mengarunginya tentu saja butuh adanya kematangan-kematangan:

KEMATANGAN EMOSIONAL : Hal ini dimaksudkan untuk melihat dan menilai seseorang apakah ia telah mampu untuk berlepas dari ketergantungan kepada orang-orang yang selama ini menjadi tumpuan dalam hidupnya. Banyak qta jumpai sebuah rumah tanga (yang masih baru) dimana suami dan istri belum bisa mengikat diri dengan kuat. Sang istri merasa lebih terikat dengan ortu, sehingga setiap persoalan RT selalu dilaporkan pada ortunya. Padahal semua itu belum diselesaikan bersama suaminya. Begitupun juga dengan sang suami yang belum bisa bertanggung jawab penuh terhadap istri dan anaknya, sehingga lagi-lagi orang tua yang menjadi tumpuan beban rumah tangga.

KEMATANGAN SOSIAL : Gambaran kematangan sosial dilihat dari mampu tidaknya seseorang hidup bermasyarakat dengan sehat dan memuaskan. Seseorang dikatakan telah matang sosialnya manakala ia mampu berjiwa besar, bersikap luwes dengan orang lain, baik kelebihannya maupun kekurangannya. Dengan demikian ia tidak menyulitkan dirinya dan orang lain tentunya. Buruknya komunikasi antara suami dan istri salah satunya adalah karena ketidakmatangan sosial ini, hingga timbul percekcokan hanya karena persoalan yang sepele.

KEMATANGAN (kemandirian) SIKAP DAN PRINSIP : Salah satu ciri khas dan karakter muslim wa muslimah yang memiliki kematangan iman adalah mempunyai kemandirian sikap dan prinsip. Diantara kematangan itu adalah dimana ia tidak akan plin-plan dalam menentukan sebuah keputusan, tidak menjadikan pernikahan sebagai ajang percobaan, lalu membuat kamus cerai bila dianggap jodoh tidak memuaskan. Namun kematangan sikap dan prinsip ini bukan berarti pula nekad atau maju terus pantang mundur tanpa adanya perhitungan yang bijak, sampai-sampai mengorbankan prinsip Islam (syariat) dalam mengambil sebuah keputusan. Yang jelas kematangan sikap dalam prinsip sangatlah tergantung dengan ketakwaan dan kedekatan seorang mukmin kepada Allah, karena buah dari taqwa itulah yang akan membimbingnya menjadi seorang yang berpendirian kuat.

KEMATANGAN (kemandirian) FINANSIAL : Meskipun tidak berorientasi kepada materialistik, namun qta juga harus realistis bahwa kebutuhan finansial dalam membangun sebuah rumah tangga juga menempati kedudukan yang urgen. Pendidikan anak, peningkatan kualitas keilmuan sebuah keluarga, kebutuhan gizi tidak mungkin bisa didapat dengan gratis. Semuanya butuh dukungan finansial yang memadai, karena jelas hal itu tidak mungkin qta raih hanya dengan modal ‘tawakal’ yang tidak proposional. (Bukankah tawakal adalah yang tidak membiarkan unta lepas begitu saja, melainkan harus diikat terlebih dahulu?). Jadi memang diperlukan suatu perhitungan dan perkiraan yang cermat serta matang namun realistis.

Islam sangat menekankan profesionalisme bagi setiap ummatnya, karena Allah menyediakan syurga hanya bagi hamba-hamba PilihanNYA. Medan pernikahan bukanlah semata menyuguhkan kenikmatan semata, ia merupakan medan JIHAD yang agung. Diperlukan pengorbanan dan perjuangan yang tidak sedikit. Diantara manusia yang berjuang didalamnya ada yang tidak kuat, yang akhirnya tidak mendapatkan cita-cita ‘syahid’ namun sebaliknya.

Setiap muslim dan muslimah manakah yang tidak menginginkan taman Firdaus dalam pernikahannya. Si akhwat menjadi ratu rumah tangga dan si ikhwan menjadi raja yang memerintah dengan bijaksana. Namun apa yang dibayangkan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Impian indah itu baru akan menjadi kenyataan manakala seluruh perangkat dan sarana ke arah pernikahan telah dirancang dan dipersiapkan sematang mungkin.

Rumah tangga adalah ibarat miniatur negara, dimana membentuk rumah tangga berarti menyusun sebuah pemerintahan yang mampu menjamin kelangsungan dan kelestarian dalam negeri kecil yang didambakan. Ibarat bangunan, tegaknya sebuah rumah perlu ditopang dengan pondasi yang kokoh, tiang-tiang yang berdiri tegak, dinding yang kuat serta atap yang teduh dan rapat.

Semoga Allah merahmati setiap azzam menuju sunnah Rosulullah, menggenapkan separuh agama agar tenteram hati menuju cinta-NYA.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: