jump to navigation

Mapanlah Dulu, Baru Menikah Denganku 21 Maret 2011

Posted by jihadsabili in munakahat.
trackback
Mapanlah Dulu, Baru Menikah Denganku
Oleh Adi Sumaryadi
Mapanlah Dulu, Baru Menikah Denganku

Jujur, kata-kata itu masih teringat benar di ingatanku bagaimana seoarang wanita sangat mendambakan seorang laki-laki yang mapan yang dapat menjadi pendamping hidupnya. Mungkin hal inilah yang menyebabkan banyak lelaki yang tidak pede untuk melangkah ke arah pernikahan. Hal terparah yang mungkin terjadi adalah tidak menikah seumur-umur karena dianggap belum mapan dan lebih sangat parah jika dalam kesendiriannya itu menjadikan ia suka jajan hanya untuk merasakan apa yang orang berkeluarga biasa lakukan, naudzubillah.

Pengalaman dua kali gagal dalam melangkah membangun keluarga menjadikan diriku berfikir apa memang wanita seperti itu semuanya? sehingga diriku merasa takut untuk memulai kembali? tapi perasaan itu saya buang jauh-jauh dan menggangap semua itu hanya sebuah perjalanan hidup yang akan melengkapi khazanah diri ini, mungkin belum ketemu jodohnya kalau orang bijak mengingatkanku.

Mapan, kata itu masih mengganjal ditelingaku, apa sebeneranya definisinya? apa ada tolak ukurnya? mungkin pertanyaan itu bisa dijawab oleh orang yang mengataknnya..bisa jadi punya rumah sendiri, punya mobil sendiri, punya perusahaan sendiri atau mungkin mapan bisa digolongkan berdasarkan besarnya gajih yang diterima. Menebak-nebak saja…. kalimat itu akan terasa sangat menyesakan hati kembali bila diikuti dengan “emang bisa biayain hidup aku?” atau “aku mau dikasih makan batu?” ….heemmmm.

Mapan memang menjadi modal awal yang sangat baik dalam membangun sebuah keluarga namun ada hal yang kadang-kadang terlupakan adalah kriteria seorang imam yang mampu membimbing istri dalam mengarungi hidup. Banyak yang rumah tangga hancur akibat mengedepankan mapan dalam urutan kriteria seorang calon suami…ciaaa…sok bijak.. tapi setelah dipikir-pikir rasanya membangun sebuah keluarga dengan bersama-sama dari 0 rasanya menjadi kebanggaan tersendiri….

Pernah dicampakan keluarga calon akibat tidak dapat memenuhi persyaratan resepsi pernikahan menjadikan diriku sempat ngedrop dan berfikir…saya harus cari uang duluu yang banyak…baru cari calonnya….. akibatnya…uangnya tidak terkumpul-terkumpul dan calonnyapun tidak kunjung datang. Intropeksi diri? sebenarnya diriku nikah tujuannya apa sih?…..hemmmm…ya ya ya…mungkin ada yang salah dengan niat nikahku…saatnya kembali ke jalan yang lurus…ikhtiar menjadi mapan dan ikhtiar menjemput sang putri yang menjadi istri terbaik bagi diriku dan ibu terbaik bagi anak-anaku, menantu terbaik bagi orang tuaku…dan partner terbaik dalam menempuh hidup bahagia dan akhirat…. bismillah…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: