jump to navigation

Bank Syariah tidak syariah? 20 Maret 2011

Posted by jihadsabili in Uncategorized.
trackback

Bank Syariah tidak syariah?

Opini
EMIL W AULIA

Apa yang terbersit dalam pikiran Anda saat mendengar kata bank syariah? Gambaran umum yang muncul kiranya berupa lembaga perbankan yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip Islam yakni, kemaslahatan dan keadilan. Dalam praktiknya, prinsip tersebut diterjemahkan melalui transaksi bebas bunga (riba),  menolak transaksi spekulatif (masyir) dan tidak transparan (gharar). Melalui prinsip dan teknis keuangan itu pula, posisi bank syariah dan bank konvensional terbedakan.

Namun, gambaran ideal tentang bank syariah itu tidak muncul bila membaca buku Zaim Saidi terbaru ini. Alih-alih mendukung, mantan Direktur Tabung Wakaf Indonesia (TWI) itu justru mengkritik tajam konsep serta teknis operasional perbankan syariah.  Di mata praktisi perniagaan Islam itu, bank syariah tidak berbeda dengan bank konvensional: sama-sama melanggengkan riba!

Kritik Zaim sudah tampak sejak dari judul bukunya, Tidak Syar’inya Bank Syariah di Indonesia. Uraian terpenting tersusun dalam bab berjudul menohok: Keblingernya Bank Syariah (Bab V).   Keblinger, kata orang Jawa berarti keliru. Menurut Zaim, praktisi perbankan syariah telah keliru menerapkan hukum Islam di bidang keuangan. Kosakata Islami yang membungkus pelbagai transaksi di bank syariah, tidak membedakannya dengan praktik di bank konvensional.

Ambil contoh transaksi  murabahah.  Sesuai definisinya, akad ini berarti jual-beli barang pada harga asal dengan tambahan harga yang disepakati. Namun pada praktiknya, layanan murabahah di bank syariah persis jual-beli dengan cara kredit bunga fixed rate ala bank konvensional.  Contoh kasus saat bank syariah membelikan seseorang sebuah rumah. Harga rumah itu di pasaran Rp 100 juta. Dalam akad kemudian dinyatakan, harga dibayar Rp 200 juta. Klaimnya, nasabah tidak dipungut bunga meski membayar dengan cicilan. Formalnya, akad ini sah karena kedua pihak bersepakat atas tambahan harga jual-beli barang.
Tapi itu tak berarti akad tersebut bebas riba. Sebab, penetapan harga rumah menjadi Rp 200 juta yang dipatok bank syariah itu karena nasabah membayar dengan cara mencicil. Bank syariah menaikkan harga jual karena alasan waktu. Menurut Zaim, praktik itu persis perhitungan cost of money,  bunga tambahan yang dipungut bank biasa. Jadi, murabahah (jual-beli) ala bank syariah termasuk riba al-fadl, riba yang muncul karena pertambahan nilai yang dilarang.

Kritik lain terlihat pada akad mudharabah (bagi hasil) yang dikenalkan bank syariah.   Dalam tradisi Islam, mudharabah dicapai melalui kerjasama dua pihak: pemilik uang dan orang lain yang memiliki tenaga/keahlian. Sifatnya langsung dan individual. Namun, praktisi perbankan syariah menelikung definisi tersebut berikut teknisnya. Saat menghimpun dana publik, bank syariah menyatakan dirinya sebagai mudharib, tapi saat menyalurkan uang publik kepada nasabah lain, ia menyebut dirinya sahibul mal. Sebagai pihak ketiga, bank syariah mencampuradukkan pengertian pemilik uang dan penerima titipan uang. Zaim menyimpulkan, hal itu sama saja dengan apa yang diterapkan bank biasa: “memutar uang”. Pada akhirnya, perbankan syariah menyembunyikan pengertian bunga (interest) –uang beranak uang– yang haram menurut hukum Islam, ke dalam istilah bagi hasil.

Implikasi lain penelikungan status uang titipan menjadi uang pinjaman adalah timbulnya ketidakpastian atas bank sebagai lembaga. Bank syariah rentan rush  andai seluruh nasabahnya ramai-ramai mengambil uang yang mereka titipkan.  Hal serupa juga jamak pada  bank konvensional. Itu berarti, unsur gharar (ketidakpastian) yang seharusnya dapat dihindari dalam muamalah, justru tidak dapat dicegah oleh perbankan syariah.

Kritik berikutnya soal penggunaan uang kertas (fiat money) di bank syariah yang juga diterapkan oleh bank konvensional.  Zaim yang mendalami kajian muamalah di Dallas College Cape Town, Afrika Selatan itu menyatakan, penggunaan uang kertas termasuk riba. Penyataan itu bersandar pada pendapat sejumlah ulama yang dikutipnya. Uang kertas tidak dikenal dalam sejarah Islam dan produk yang ditolak oleh Islam hingga Kekhalifahan Usmani (1924). Maka, selama bank syariah masih menggunakan uang kertas, selama itu pula ia tak bisa membebaskan dirinya dari riba.

Puncaknya, buku ini tiba pada kesimpulan, umat Islam  tidak butuh perbankan syariah untuk keluar dari sisteim keuangan  ribawi. Lantas, apa solusinya? Zaim menyerukan umat kembali kepada praktik muamalah yang dicontohkan Rasulullah SAW. Bentuknya, pertama, penggunaan kembali koin dinar emas dan dirham perak sebagai alat tukar.  Dinar adalah koin emas 22 karat seberat 4,25 gram sementara dirham, koin perak murni 2,9 gram. Kedua, kembali pada aturan qirad (pinjaman usaha) dan syirkah (bagi hasil)  sebagaimana ditetapkan Rasululah SAW. Bukan hasil modifikasi pemikiran moderen ala perbankan syariah. Permodalan diperoleh tanpa pinjaman uang kertas dari bank, melainkan berupa koin dinar dan dirham yang diperoleh melalui kemitraan antara kumpulan individu yang saling mengenal.

Ketiga, terbentuknya pasar terbuka (suq). Pasar ini berbeda dengan pasar yang dikenal masyarakat moderen saat ini. Praktiknya, merujuk pasar yang dibangun Rasullulah di Madinah.  Siapa saja boleh berdagang, tanpa pungutan  pajak, retribusi  atau sewa. Tersedianya pasar jenis ini selanjutnya akan terbentuk pula kumpulan kafilah pedagang dan unit produksi mandiri (paguyuban).

Akhirnya, buku ini patut dibaca para praktisi perbankan syariah serta mereka yang menggantungkan harapan pada  bank syariah. Tujuannya, agar tidak  keblinger. Ekonom UGM Revrisond Baswir mengatakan,  “buku ini mengurai secara rinci manipulasi syariah yang dilakukan para pengusung bank syariah di Indonesia. Melalui manipulasi syariah itu, mereka tidak menyadari kalau sedang menyeret umat Islam ke dalam jebakan neo-kolonialisme.”

Penulis adalah al-Wakil Wakala Amal Madinah, Medan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: