jump to navigation

Selangit Nikmat Setetes Syukur 15 Maret 2011

Posted by jihadsabili in adaB, nasehat.
trackback

Selangit Nikmat Setetes Syukur


Sudah berapa lamakah kita hidup? Cobalah hitung, dalam sekian lama hidup kita ini, berapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita!

Sewaktu kita lahir, belum dapat beribadah sedikit pun kepada Allah, kita sudah merasakan nikmat oksigen yang dengannya kita bernafas. Bahkan kelahiran kita sendiri pun merupakan nikmat, rahmat dan kebijaksanaan Allah bagi kedua ibu bapak kita.

Jika setiap orang itu bernafas 1000 kali sejam, maka dalam sehari semalam ia telah diberi satu nikmat sebanyak 24.000 kali. Coba sekarang kalikan dengan 365, kemudian kalikan lagi dengan usia kita. Apabila nikmat terkecil sajam dalam sehari semalam bisa mencapai 24.000, lalu bagaimana kita bisa membayangkan nikmat yang lebih besar daripada itu? Sungguh benar firman Allah : “Dan jika engkau hendak menghitung nikmat Allah, maka tiada engkau akan mampu menghitungnya.” (Ibrahim : 34)

Karunia yang Selangit

Allah dengan segala kasih saying-Nya kepada kita, menciptakan apa yang ada di langit serta di bumi ini tunduk kepada kekhalifahan manusia. Allah memberi kecakapan dankeahlian kepada manusia untuk mengelolanya.

Lebih besar dari itu semua, Allah memberikan nikmat yang teragung kepada insan-insan yang ia pilih, yaitu nikmat mendapatkan hidayah taufik memeluk agama Islam ini. Kenikmatan ini telah Ia sempurnakan dan telah Ia ridhai bagi semua pemeluknya.

Seorang Yahudi pernah mendatangi Umar Ibnul Khathab, dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, kalian telah membaca ayat dalam kitabmu, yang seandainya ayat itu turun kepada kami, niscaya hari turunnya akan kami jadikan sebagai hari raya.” Umar bertanya, “Ayat apakah itu?” Yahudi itu pun menjawab: “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama kalian.”

Allah tidak menyia-nyiakan hamba-Nya yang telah mengikuti fitrah suci dan hidayah dari-Nya. Ia mengutus pada rasul sebagai pembimbing umat manusia. Ia telah menurunkan kitab-kitab sebagai pedoman meraih kebahagiaan hakiki dunia dan akhirat. Allah tentukan pahala bagi orang yang beramal baik dari sepuluh kali lipat kebaikan hingga tujuh ratus kali lipatnya, sedangkan untuk amal buruk, hanya satu balasan untuk satu amalan buruk.

Kalau hamba tersebut mau bertobat, maka Allah akan menghapuskan kesalahannya dan menggantikannya dengan kebajikan. Petunjuk untuk bertobat pun Allah-lah yang memberi, dan kemudian ia menerimanya, menghapus dosa hamba tersebut, serta memberinya pahala bertobat. Seandainya seorang hamba menemui Allah di hari akhir dengan dosa yang beratnya seisi bumi, kemudian ia menemui Allah dengan bertauhid, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, maka Allah akan mendatangkan ampunan seisi bumu pula baginya.

Jika seorang hamba sudah berpisah dengan dunia, maka jika hamba tersebut sempat memberi sebetik pelajaran kepada seseorang, maka pahala ilmu yang bermanfaat ini akanmengalir walaupun ia sudah berada di lubang kubur. Akan semakin banyak yang mengalir kepadanya, jika orang yang ia beri ilmu mengajarkannya kepada orang lain, dan orang lain tersebut mengajarkannya pula. Masih ada lagi, jika ia telah berhasil membesarkan anak yang shalih, maka anak tersebut akan mendoakannya walau ia sudah mati. Hamba yang telah terbujur kaku, masih mendapatkan pahala dari Allah Yang Maha Memberi.

Subhanallah! Seluruh karunia, nikmat, kasih saying, cinta, mulai dari awal hingga akhir, adalah berasal dari Allah. Dialah yang memberi semua mahluk di alam semesta ini dari awal hingga akhir.

Sudahkan Ada “Sekedar” Terima Kasih?

Lalu, coba hitung dalam sekian lama hidup kita ini, sudah berapa banyak kita bersimpuh untuk bersyukur kepada-Nya? Berapa kali kita dalam sehari semalam membaca mushaf Al-Qur’an? Adakah setiap kali kita melakukan aktifitas -makan, minum, tidur, memakai pakaian, dan lain-lain- kita mengingat-Nya dengan berdoa kepada-Nya?

Lihatlah Rasulullah yang telah diampuni dosanya yang telah lalu maupun yang akan dating. Suatu ketika sahabat melihat kaki beliau bengkak-bengkak karena banyak shalat malam, maka bertanyalah ia kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah engkau masih mengerjakan ibadah seperti ini? Padahal bukankah engkau telah diampuni dosa-dosanya?” Maka  Rasulullah menjawab, “Apakah tidak patut bila aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana dengan manusia hari ini? Adakah yang bersyukur dengan meneladani Rasulullah? Padahal Rasulullah yang sudah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan dating saja masih sedemikian banyak ibadahnya. Lalu bagaimana dengan kita yang tidak dijamin seperti itu?

Seharusnya kita malu kepada Allah dengan keadaan kita ini. (Bisa malu pun sudah merupakan karunia tersendiri dari Allah). Selanjutnya tidak ada jalan lain kecuali merasakan bahwa bersyukur itu adalah kebutuhan bagi kita, sehingga kita bisa menjalani hidup kita ini dengan ibadah sebagai ungkapan rasa syukur.

Bagaimana Kita Bersyukur?

Ibnu Qayyim membagi landasan-landasan dalam bersyukur menjadi lima bagian. Yang pertama, adalah tunduk kepada Yang Memberi Nikmat. Yang  kedua adalah senantiasa cinta kepada-Nya. Orang yang semakin mampu untuk mengamati nikmat dan karunia Allah, akan semakin kuat pula rasa cintanya kepada Allah. Allah menciptakan hati manusia cenderung untuk mencintai yang berbuat baik kepadanya, yang sempurna dalam sifat dan ahlaknya. Dan sudah disadari, bahwa tiada dzat yang lebih besar kebaikannya kepada manusia daripada Allah.

Landasan syukur yang ketiga adalah mempunyai kesadaran untuk menyatakan bahwa nikmat itu dating hanya dari Allah, sebagaimana firman-Nya : “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya) dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepadaNyalah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl : 53)

Yang keempat adalah senantiasa memuji Allah atas anugerah-Nya, sebagaimana diperintahkan Allah dalam firman-Nya : “Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.” (adh-Dhuhaa : 11)

Landasan terakhir adalah, hendaknya kita melakukan segala aktifitas hanya yang diridhai-Nya, dan janganlah engkau melakukan maksiat.

Dari kelima landasan tersebut, maka rukun syukur itu ada tiga yang kesemuanya harus ditegakkan, yaitu:

Syukur Qalbi, mengakaui nikmat-nikmat Allah dan mencintai-Nya.

Syukur Lisan, memuji kepada-Nya atas karunia yang diberikan-Nya, dan atas anugerah yang dilimpahkan-Nya.

Syukur Jawarih, menggunakan nikmat dalam rangka memperoleh keridhaan-Nya.

Syukur adalah juga meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan mempersembahkan kenikmatan yang dilimpahkan Allah dalam rangka untuk menaati-Nya dan memperoleh keridhaan-Nya. Seorang Salaf berkata, “Bersyukur artinya adalah meninggalkan kemaksiatan.” Yang lain lagi berkata, “Syukur adalah kamu tidak menggunakan sesuatu apa pun dari nikmat-nikmat Allah untuk keperluan bermaksiat kepada-Nya.”

Coba Bandingkan dan Sadari

Kalau mau membandingkan pun, sebenarnya tetap saja syukur kita tidak akan pernah sebanding dengan nikmat Allah yang telah Ia berikan. Nikmat bernafas telah Allah berikan sebelum kita dibebani kewajiban ibadah, bahkan sebelum kita dilahirkan. Lalu nikmat melihat, nikmat mendengar, nikmat sehat, serta nikmat-nikmat lain yang mustahil kita dapat menghitungnya. Jika mau membandingkan dengan syukur kita, maka kita telah berhutang sangat amat banyak sekali. Karena itu benarlah bahwa selautan syukur kita hanya berbanding dengan setetes nikmat-Nya kepada kita.

Maka seharusnyalah hamba Allah, para perambah jalan menuju cinta-Nya, menyadari hal tersebut, sehingga  mereka akan memaksimalkan ibadahnya, mengusahakan ikhlas dan ittiba’ dalam ibadah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah. Jika yang sedikit mungkin saja tidak diterima, maka hendaklah kita perbanyak, sehingga semakin banyaklah kemungkinan untuk diterima.

Ada lagi yang perlu dilakukan, dan ini juga tidak boleh ditinggalkan. Rasulullah pernah berkata kepada Mu’adz bin Jabl, “Wahai Mu’adz, pada setiap shalat, janganlah kamu tinggalkan berdoa. “Ya Rabbku, berikanlah aku kesanggupan untuk dapat mengingat-Mu, dan bersyukur kepada-Mu, serta dapat melakukan ibadah kepada Engkau dengan sebaik-baiknya.” (HR. An-Nasa’i, Shahih).

Karena itu, jangan lupa amalkan doa ini setiap shalat, dan jadilah hamba yang bersyukur!

Sumber : Majalah El-fata

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: