jump to navigation

Mewaspadai Syirik Dalam Nama 15 Maret 2011

Posted by jihadsabili in anak, aqidah.
trackback

 

Mewaspadai Syirik Dalam Nama


Penulis: Abu Yazid Muhammad Nurdin

Hampir setiap muslim memahami bahwa syirik merupakan dosa yang paling besar. Namun sayangnya, masih sedikit yang faham tentang hakikat dan perinciannya. Perlu pembaca ketahui, syirik tidaklah terbatas pada menyembah patung, pohon, batu atau kuburan belaka. Tetapi lebih luas lagi, syirik mencakup segala aktivitas yang seharusnya khusus ditujukan hanya kepada Alloh saja namun dipalingkan kepada selain-Nya. Kita memohon kepada Alloh semoga lembaran-lembaran ini bermanfaat untuk menambah ilmu kita agar kita tidak terjatuh ke dalam lubang gelap kesyirikan.

Semua Makhluk Adalah Hamba Alloh

Pembaca yang budiman, tidak ada seorang pun di antara makhluk Alloh melainkan dia adalah hamba Alloh. Ada dua jenis penghambaan. Hamba Alloh secara kauni yaitu hamba yang hanya tunduk kepada hukum-hukum kauni (takdir) dan hamba Alloh secara syar’i yaitu hamba yang tunduk kepada hukum-hukum syar’i (Islam) di samping tunduk secara kauni. Alloh berfirman yang artinya, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam: 93). Hamba dalam ayat tersebut maksudnya adalah hamba secara kauni. Adapun firman Alloh yang artinya, “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al Furqon: 63), maka yang dimaksud dengan hamba dalam ayat ini adalah hamba secara syar’i.

Penghambaan Kepada Selain Alloh Adalah Syirik

Karena penghambaan merupakan hak yang khusus diperuntukkan hanya bagi Alloh, maka setiap penghambaan kepada selain Alloh merupakan kesyirikan. Alloh berfirman yang artinya, “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) memohon kepada Alloh, Tuhannya, seraya berkata, ‘Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sholih, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur’. Tatkala Alloh memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Alloh terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Alloh dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al A’rof: 189-190). Syaikh ‘Abdurrohman As Sa’diy rohimahulloh berkata, “Sesungguhnya orang yang dianugerahi keturunan yang sehat jasmaninya bahkan agamanya oleh Alloh, wajib mensyukuri nikmat Alloh tersebut. Mereka tidak menamakan anak-anaknya dengan nama yang diperhambakan kepada selain Alloh. Mereka juga tidak menyandarkan nikmat tersebut kepada selain Alloh. Karena hal tersebut merupakan bentuk-bentuk kufur nikmat dan dapat membatalkan tauhid.” (Al Qoul As Sadid).

Penamaan Dengan Kata ‘Abdu dan Amatu

Tidak boleh (haram hukumnya) bagi seseorang menamakan diri atau anak-anaknya dengan nama yang mengandung unsur penghambaan kepada selain Alloh. Misalnya, ‘Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah), ‘Abdu Syams (hamba matahari), ‘Abdur Rosul (hamba Rosul), ‘Abdu Manaf (hamba Manaf), ‘Abdul Muttholib (hamba Muttholib), ‘Abdu Manat (hamba Manat), ‘Abdul ‘Uzza (hamba ‘Uzza), ‘Abdul Husain (hamba Husain), ‘Abdus Sayyid (hamba Sayyid Al Badawi), dan lain-lain. Adapun penamaan ‘Abdul Mutthalib, para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya. Yang mengatakan boleh, mereka berdalil dengan hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika perang Hunain, “Aku adalah cucu ‘Abdul Mutthalib.” (HR. Al Bukhari). Ini menunjukkan bolehnya penamaan seperti itu. Namun yang lebih rojih (benar/kuat) adalah penamaan itu tidak diperbolehkan. Sedangkan hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tersebut tidak menunjukkan sama sekali bolehnya hal itu karena konteks hadits adalah pernyataan semata, bukan perintah.

Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh berkata, “Para ulama sepakat bahwa menceritakan kekufuran tidaklah menyebabkan pelakunya menjadi kafir. Maksudnya ketika Rosululloh menyatakan dirinya “Aku adalah cucu ‘Abdul Muttholib” bukan berarti Rosululloh menganjurkan agar memberi nama dengan nama tersebut. Dan juga tidak ada sahabat yang menamakan diri mereka atau anak-anak mereka dengan nama ‘Abdul Muttholib.” (Al Qoul Al Mufid). Hal ini disebabkan mereka memahami tauhid dengan sempurna, yaitu bahwasannya menyambung nama ‘Abdu dengan nama selain nama-nama Alloh merupakan salah satu bentuk kesyirikan. Seharusnya seseorang menamakan dirinya atau anak-anaknya (jika yang diinginkan berupa makna penghambaan) dengan ‘Abdulloh, ‘Abdurrohman, ‘Abdul ‘Aziz, ‘Abdus Shomad, ‘Abdul Qodir, ‘Abdurrouf, ‘Abdul Malik, dan sebagainya. Atau jika dia wanita, maka Amatulloh, Amaturrohman, Amatul ‘Aziz, Amatul Ghofur, dan seterusnya, bisa menjadi alternatif.

Bentuk-Bentuk Kesyirikan Dalam Hal Anak

Benarlah firman Alloh yang artinya, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Alloh-lah pahala yang besar.” (QS. At Taghobun: 15). Betapa banyak orang sekarang yang terfitnah (diuji) dengan harta dan anak? Gara-gara anak ternyata orang tua bisa terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Di antara contohnya:

  1. Jika orang tua berkeyakinan bahwa yang menjadikan anaknya lahir ke dunia adalah Wali Fulan atau Kyai Fulan, maka ini termasuk syirik akbar (besar) karena telah menyandarkan penciptaan kepada selain Alloh. Contohnya: Seorang wanita yang sudah lama berumah tangga namun sang bayi dambaan tidak kunjung lahir. Lalu ia mendatangi kuburan wali tertentu yang dianggap (baca: belum tentu) wali Alloh, sambil meminta, “Wahai Wali Fulan, beri saya anak!” Inna lillah wa inna ilaihi roji’un.
  2. Jika orang tua menyandarkan keselamatan lahir anaknya kepada dokter, bidan atau dukun bayi, maka ini termasuk syirik asghor (kecil) karena telah menyandarkan nikmat kepada selain Alloh. Mereka hanya mengingat sebab (dokter/bidan), namun melupakan yang menciptakan sebab (Alloh ‘Azza wa Jalla).
  3. Jika orang tua lebih mencintai anaknya daripada mencintai Alloh dan Rosul-Nya, maka ini termasuk syirik dalam cinta. Sebagaimana Alloh mensifati orang-orang musyrik yang mencintai sesembahan-sesembahan mereka dengan firman-Nya yang artinya, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh.” (QS. Al Baqoroh: 165)

Pembaca yang budiman, itulah syirik yang terkadang luput dari perhatian kita. Ternyata, di samping sebagai dosa terbesar, syirik bisa menyerang seluruh sendi kehidupan manusia. Oleh karena itu, sangat mengherankan jika ada orang yang mengatakan, “Belajar tauhid tidak perlu banyak-banyak!!” atau “Kita tidak perlu membahas syirik pada zaman sekarang ini!!” Adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Wallohu a’lam.

www.muslim.or.id

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: