jump to navigation

Kaidah Praktis Memahami Al-Qur’an 15 Maret 2011

Posted by jihadsabili in tips.
trackback

 

Kaidah Praktis Memahami Al-Qur’an


Salah memahami ucapan orang saja bisa jadi berabe, lalu bagaimana jadinya kalau salah memahami ucapan Allah? Wah bisa rusak nih agama! Makanya kita harus tahu bagimana kaidah yang benar  di dalam memahami Al-Qur’an. Tidak asal menafsiri dengan akal kita masing-masing.Bayangkan jika hal ini boleh dilakukan, bisa jadi nantinya ada pemahaman Al-Qur’an ala politikus, ala teknokrat, atau ala budaya Jawa, hingga memahami Al-Qur’an dengan ala kadarnya saja. Setiap kepala manusia bisa jadi berbeda dalam memahami satu ayat di dalam Al-Qur’an, makanya hal semacam ini dilarang di dalam agama, Nabi bersabda, “Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan akalnya, bila mana benar pun, tetap dianggap salah.” (HR. Al-Laalika-i)

Dalam hadist lain, “Barangsiapa yang menyebutkan penafsiran Al-Qur’an dengan akalnya, maka bersiaplah untuk masuk ke dalam neraka.” (HR. At-Tirmidzi)

Salah satu hikmah yang dapat diambil dari hadist diatas adalah, apabila umat Islam satu jalan dalam memahami Al-Qur’an, akan terwujudnya persatuan umat Islam yang didasari kepada kesatuan pemahaman.

Lalu bagaimana memahami Al-Qur’an yang benar itu?

Yang jelas Al-Qur’an harus dipahami sebagaimana pemahaman orang yang paling paham mengenai Al-Qur’an itu sendiri. Sedangkan orang yang paling tahu mengenai Al-Qur’an adalah Rasulullah. Inilah beberapa kaidah yang diajarkan oleh Rasullulah di dalam memahami Al-Qur’an:

Menafsirkan Ayat Al-Qur’an Dengan Ayat Al-Qur’an

Ini adalah martabat atau tingkat yang paling tinggi di dalam kaidah penafsiran Al-Qur’an. Bagaimana contohnya?Sebagaimana firman Allah dalam surat Ath-Thariq ayat 1-3 yang artinya:

“Demi langit dan thariq. Tahukah kamu apakah thariq itu?(yaitu) bintang yang cahayanya menembus.”

Menafsirkan Ayat Dengan Hadist Yang Shahih

Jika satu kata didalam sebuah ayat tidak ada penjelasannya di dalam ayat yang lain, maka perlu dicari penjelasan ayat tersebut dari hadist Rasulullah yang shahih, karena beliau adalah manusia yang paling tahu akan apa yang dimaksudkan Allah di dalam ayat-Nya.

Bagaimana contohnya? Dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Ketika turun ayat: ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukan keimanan mereka dengan kedzaliman, mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan…’(Al-An’am: 82), hal itu terasa berat bagi kaum muslimin. Para sahabat bertanya, ‘Siapakah diantara kami yang tidak menzhalimi dirinya? Rasulullah menjawab, ‘bukan itu yang dimaksud, tetapi yang dimaksud (dengan kezhaliman) adalah syirik.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menafsirkan Ayat Al-Qur’an Dengan Perkataan Para SahabatPara sahabat adalah orang-orang yang belajar Islam langsung dari Rasulullah. Jadi penafsiran mereka (seperti Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan yang lainnya) memiliki martabat yang perlu diperhitungkan, karena mereka selalu menemani Rasulullah serta banyak belajar dari beliau. Contohnya, Allah telah berfirman di dalam surat An-Nisa ayat 43 yang artinya:“……atau kamu telah menyentuh perempuan”

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu menjelaskan arti kata, “menyentuh” di dalam ayat tersebut bukan berarti menyentuh betulan, akan tetapi maknanya adalah jima’ (hubungan badan suami istri).

Menafsirkan Ayat Al-Qur’an Dengan Perkataan Para Tabi’in

Tabi’in itu adalah generasi setelah para sahabat. Mereka adalah orang-orang yang mengambil ilmu langsung dari para sahabat radhiyallahu’anhum, sehingga pendapat atau penafsiran mereka layak mendapatkan martabat yang tinggi. Salah satu contoh penafsiran ayat Al-Qur’an dengan perkataan para tabi’in adalah keterangan mengenai istawaa di dalam surat Al-Baqarah ayat 29 yang artinya, “Kemudian Allah beristawa’ menuju ke langit”, Mujahid berkata: “Arti Istawaa adalah alaa’ alal Arsy (tinggi siatas Arsy)”.

Menafsirkan Ayat Al-Qur’an Dengan Bahasa Arab

Bagaimana contoh penafsiran Al-Qur’an dengan bahasa Arab adalah kisah Nabi Ibrahim alaihi salam dalam Al-Qur’an:

“(Ingatlah) ketika Ibrahin berkata kepada bapaknya dan kaumnya:”At-Tamaatsil apakah yang kalian tekun beribadah kepadanya?”(Al-Anbiya:52)

Makna at-Tamaatsil di dalam pengertian umum artinya adalah menyerupai ayat di atas, namun yang sesuai dengan pengertian bahasa Arab artinya adalah patung atau berhala yang disembah oleh orang-orang musyrik.

Nah, itulah kaidah-kaidah singkat dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Intinya jangan sampai kita berani menjelaskan makna ayat Al-Qur’an dengan akal kita. Karena selain bisa membuat perselisihan atau perbedaan pendapat di antara kaum muslimin, ancamannya juga berat sebagaimana sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang menjelaskan Al-Qur’an dengan pendapat (akalnya) semata, persiapkanlah tempat duduknya dari api neraka.”(HR. At-Tirmidzi)

Wallahu a’laamu bishowab.

(Diambil dari buku “Bagaimana Kita Memahami Al-Qur’an” ditulis oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu)

Sumber : Majalah El-Fata edisi 03/I/2000, hal. 24-25

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: