jump to navigation

Di Balik Sebuah Sembelihan 15 Maret 2011

Posted by jihadsabili in makanan.
trackback

 

Di Balik Sebuah Sembelihan


Katakanlah, “Sesungguhnya salatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan penguasa alam, tiada sekutu bagi-Nya; demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri (kepada-Nya).” (Al-An’am:162-163)

Menyembelih  hewan ternak tentunya sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita. Hal ini biasanya dilakukan ketika ada acara tertentu misalnya pernikahan, nadzar atau memang ingin makan daging sembelihan. Sekilas tidak ada suatu hal yang dirisaukan dari penyembelihan ini. Namun, sebenarnya banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan dari salah satu bentuk ibadah ini, yang dapat menyeret pelakunya ke dalam dosa yang tidak diampuni Allah sebelum dia bertobat. Mengapa demikian besar akibatnya?

Hukum Penyembelihan

Menyembelih artinya menghilangkan nyawa (hewan ternak) dengan cara mengalirkan darah dengan tujuan tertentu, hal ini dapat berarti macam-macam:

Pertama, merupakan bentuk ibadah jika dilakukan dengan tujuan mengagungkan, memuliakan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Penyembelihan seperti ini tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah, tentunya dengan mengikuti cara yang telah ditentukan dalam syari’at.

Kedua, sembelihan yang diperuntukkan untuk memuliakan tamu, walimah atau yang semisalnya. Hal ini sangat dianjurkan, dan bisa berhukum wajib atau sunnah berdasarkan sabda Rasulullah, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tamu dan sabda beliau kepada Abdurrahman bin Auf, “Adakanlah walimah (perkawinan) walaupun dengan seekor kambing.”

Ketiga, sembelihan yang diniatkan untuk menikmati makanan, untuk diperdagangkan atau semisalnya. Ini tergolong mubah, karena hukum asal bagi makanan adalah mubah berdasarkan Al-Qur’an surat Yasin ayat 71, “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasai?”. Namun sembelihan jenis ini bisa juga dianjurkan atau dilarang sesuai dengan tujuan.

Tumbal = Sembelihan Haram

Tak jarang ditemui di masyarakat kita, penyembelihan yang menyimpang dari agama. Tidak hanya di Jawa, di semua daerah di Indonesia atau di dunia sekalipun pasti ada. Dengan bentuk yang sama tetapi namanya berbeda. Dengan cara yang sama namun objek yang berbeda. Bisa juga disebut tumbal, tolak bala, sedekah, dan lain-lainnya. Umumnya, mereka melakukan penyembelihan tersebut karena takut kepada jin atau “penunggu tempat” tertentu. Sering kita dengar bahwa agar aman dari gangguan “Si Penunggu” sungai, diperlukan tumbal atau sembelihan untuk membangun jembatan. Misalnya menyembelih ayam hitam atau menanamkan kepala kerbau di pondasi jembatan tersebut. Contoh lain adalah menanam kepala sapi atau babi di pekarangan rumah agar rumah aman  dari gangguan jin. Hal ini tidak boleh dilakukan karena barangsiapa memalingkan penyembelihan yang dimaksudkan kepada selain Allah maka ia telah melakukan perbuatan syirik besar berdasarkan firman Allah. Katakanlah, “Sesungguhnya salatku, penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Penguasa alam, tiada sekutu bagi-Nya; demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri (kepada-Nya).” (Al-An’am:162-163)

Sembelihan Untuk Nadzar

Nadzar memang wajib dipenuhi selama bertujuan mentaati Allah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi, “Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah maka hendaklah ia memenuhinya (nadzarnya)”(HR. Bukhari)

Sedangkan nadzar yang berupa maksiat kepada Allah atau yang tidak ada tuntunannya maka hal itu tidak wajib dilakukan, bahkan haram hukumnya. Namun tidak jarang didapati seorang muslim yang menunaikan nadzar yang menyimpang, karena tidak mengetahui hukum nadzar. Banyak diantaranya yang menyembelih  hewan di tempat-tempat yang dikeramatkan atau kuburan para wali. Mereka melakukannya karena merasa hal ini merupakan suatu ibadah yang berpahala. Apalagi janji adalah hutang yang wajib dilunasi, pikirnya.

Seorang muslim wajib tahu bahwa suatu ibadah yang tidak mempunyai dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak akan diterima oleh Allah dan bahkan akan mendapat dosa. “Ada seseorang yang bernadzar akan menyembelih seekor unta di Buwanah (nama tempat di kota Mekkah), lalu bertanyalah orang itu kepada Nabi. Nabipun bertanya, “Apakah tempat itu pernah ada salah satu berhala-berhala jahiliyah yang disembah? Para sahabat menjawab, ‘Tidak’. Beliau bertanya lagi, “Dan apakah di tempat itu pernah dilaksanakan salah satu perayaan hari raya mereka? Mereka menjawab, ‘Tidak’. Maka Rasulullah bersabda, ‘Penuhilah nadzarmu itu. Akan tetapi, tidak boleh dipenuhi suatu nadzar yang menyalahi hukum Allah dan nadzar perkara yang diluar hak milik seseorang.” (HR. Abu Dawud, dan Isnadnya menurut persyaratan Bukhari dan Muslim)

Anggapan Yang Keliru

Penyembelihan hewan di tempat-tempat keramat seperti di gunung, laut, pesanggrahan maupun gua-gua adalah sesuatu yang sudah jelas keharamannya. Namun bagaimana kalau seseorang melaksanakan nadzarnya untuk menyembelih hewan di makam-makam para wali atau orang shalih? Sebagian besar mungkin akan menjawab boleh, karena menurut mereka hal itu tidak melanggar syariat. Bahkan akan bermanfaat, karena doa para wali atau orang shalih tersebut lebih diterima dibandingkan orang biasa. Inilah yang disebut tawassul dalam istilah Islam.

Tawassul (mengambil perantara) ada yang haram dan yang halal. Berkaitan dengan masalah tersebut, maka hal itu merupakan bentuk tawassul yang haram, karena si pelaku berkeyakinan bahwa orang yang meninggal tersebut memiliki suatu kekuatan luar biasa, sehingga (secara tidak langsung) ia memberikan kepadanya sebagian sifat Rububiyah (ketuhanan).

Allah berfirman : “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada illah (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (An-Naml:62)

Meminta pertolongan pada orang yang telah meninggal, tidak ada tuntunannya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, walaupun orang yang meninggal tersebut Rasulullah atau orang shalih lainnya. Oleh karena itu, kita harus hati-hatidalam melakukan amal ibadah yang dalam hal ini adalah penyembelihan. Betapa banyak suatu hal yang dianggap ibadah namun ternyata menodai aqidah. Penyembelihan adalah suatu bentuk ibadah yang tentunya akan berpahala. Namun dapat juga menjadi dosa bila pelakunya tidak mengetahui hukum dan cara-caranya.

Rujukan:

  1. Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi, Akidah Mukmin, 2002. Pustaka Al-Kautsar
  2. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin. Penjelasan Kitab Tiga Landasan Utama. 2000, Darul Haq
  3. Syaikh Muhammad At-Tamimi, Kitab Tauhid, 1995. Yayasan Al-Sofwa
  4. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tawassul, 1991. Pustaka Al-Kautsar

Sumber : Majalah Nikah edisi 05/II/2003

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: