jump to navigation

BILA PRIA TERJERAT ASMARA 12 Maret 2011

Posted by jihadsabili in cinta.
trackback

BILA PRIA TERJERAT ASMARA

Bila Pria Terjerat Asmara

 

Jatuh cinta pernah dialami oleh setiap anak manusia. Rasanya jika api asmara telah melanda dalam hati yang terdalam maka kata-kata cinta sulit untuk di ungkapkan. Betapa hebatnya jerat-jerat tali cinta tersebut. Tapi ada kalanya cinta itu  membahagiakan, tapi tak jarang pula dapat menyakitkan. Oleh karena itu Syaikhul Islam Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah membagi cinta terhadap wanita ini kedalam tiga bentuk. 

1. <span>Mencintai wanita dengan maksud ketaatan dan taqarrub kepada Allah. 

</span>Ini merupakan bentuk cinta yang bernmanfaat dan dapat mengantarkan kepada tujuan yang disyari’atkan Allah dalam pernikahan. dapat menahan pandangan mata dan juga hati untuk melirik wanita selain isterinya. Orang yang mempunyai cinta seperti ini dipuji disisi Allah Ta’ala dan di tengah manusia. 

2. <span>Cinta yang dibenci Allah Ta’ala dan menjauhkan dari rahmat-Nya. 

</span>Yaitu cinta yang hanya memperturutkan hawa nafsunya. Demi cinta ini, seseorang hamba mau melanggar syariat Allah Ta’ala. Cinta ini merupakan yang paling berbahaya bagi hamba, yang dapat mengancam agama dan dunianya. Siapa yang memiliki cinta ini, dia akan hina di hadapan Allah Ta’ala, dan orang yang hatinya paling jauh dari Allah Ta’ala, begitu pula cinta ini adalah tabir penghalang antara dirinya dengan Allah, untuk mengobatinya adalah dengan memohon pertolongan Allah Ta’ala yang membolak-balikan hati para hamba-Nya, bersungguh-sungguh untuk kembali kepada-Nya dengan menyibukkan diri untuk mengingat_Nya dan mengganti cinta tersebut dengan cinta hanya kepada-Nya. memikirkan derita dan sengsara yang akan dialami lantaran cinta itu, dan menggambarkan keindahan sebenarnya dengan melupakan cinta tersebut. 

3. <span>Cinta yang mubah. 

</span>Cinta yang datangnya dengan tiba-tiba, seperti mencintai wanita cantik yang sifatnya dikatakan kepadanya, atau dilihat dengan tidak segaja, lalu hatipun merasa tertambat kepadanya, tetapi cinta ini tak samapi menjerumuskan dirinya hingga melakukan perbuatan maksiat dan kedurhakaan. Cinta ini tak menimbulkan siksaan, tapi yang paling bermanfaat adalah membuangnya jauh-jauh cinta ini dengan menyibukkan diri kedalam hal-hal yang lebih bermanfaat dan juga harus dapat menyembunyikan perasaannya, menjaga kehormatan dirinya, juga sabar dalam menghadapi ujian cinta ini. Sehingga dengannya Allah Ta’ala memberikan pahala. yang mesti dilakukan adalah mengganti cintanya itu dengan lebih mementingkan keridhaan Allah Ta’ala dengan apa yang ada disisi-Nya. 

 

Dari ketiga bentuk cinta diatas  dapat dipahami bahwa seandainya bara api cinta itu ( yang lahir karena keindahan melihat wajah seorang wanita ) mampu untuk dipendam atau bahkan diredam, dan tidak melanjutkannya pada tahapan yang melanggar syari’at, kemudian ia bersabar dan memohon ketabahan kepada Allah Ta’ala, dengan memilih keridhaan-Nya walau harus bertarung dengan perasaan sendiri, maka ini yang diperbolehkan. Dan satu hal yang tidak boleh untuk dilupakan bagi seorang muslim bahwa Allah Ta’ala tidak mungkin menyia-nyiakan hamba-Nya yang lebih memilih cinta dan kasih sayang-Nya. 

Mungkin dengan ujian cinta dan sikap untuk lebih memilih keridhaan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala ingin kita menjadi hamba pilihan yang kelak akan merasakan indahnya bersanding dengan bidadari nan menawan di Jannah-Nya. 

 

Andaikan memilih bentuk yang kedua, maka ini yang disebutkan Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah, bahwa permulaannya suatu yang ringan dan manis, pertengahannya kekhawatiran, kesibukkan hati dan siksaan. Dan kesudahannya adalah kebinasaan dan kematiaan. 

Adapun bentuk cinta yang ketiga, maka obatnya hanya ada 2 cara. pertama. berpuasa dan menyibukkan diri pada hal yang mampu menjauhkan pikiran ke arah “sana ” dan jika puasa tidak bisa untuk meredam gejolak cinta itu, maka tidak ada jalan lain lagi selain dengan menikah. 

“Menikah dengan mwanita yang dicintai merupakan obat cinta yang paling mujarab, yang dijadikan Allah Ta’ala sebagai penawar yang sejalan dengan syari’at.” demikian Ibnul Qayyim Rahimahullah menyakinkan. 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallama bersabda, ” Ada tiga perkara apabila terdapat pada dir seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman. Ia menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang hanya karena Allah Ta’ala, ia sangat benci kembali pada kekufuran sebagaimana ia benci dicampakan ke dalam api.” ( Riwayat Al-Bukhari dan Muslim ). 

Oleh karena itu, jika kita mencintai seseorang, maka usahakan jangan sampai melebihi cinta kita pada Allah Ta’ala dan juga Rasul-Nya, agar cinta kita tidak menggelincirkan diri kita kedalam jurang kekufuran. 

Wallahu a”lam 

 

sumber : Lembar keluarga sakinah.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: