jump to navigation

♥●•٠·˙ Ketika Cinta Telah Mendua: Salam Hormat Untuk Teh Ninih, Saudariku, Cinta˙·٠•●♥ 8 Maret 2011

Posted by jihadsabili in cinta.
trackback

♥●•٠·˙ Ketika Cinta Telah Mendua: Salam Hormat Untuk Teh Ninih, Saudariku, Cinta˙·٠•●♥

Oleh; Pipiet Senja

 

Prolog; ini nukilan novel saya berjudul Meretas Ungu.

Saya menulisnya saat hati merasa sangat dukalara, terzalimi.

Saya pernah menjualnya pada acara komunitas Muslimah di kampus UPI Bandung bareng Teh Ninih, 2006, awal-awal saudariku sedang menata hati untuk meraih tiket surga.

 

Proses kehidupan, terutama lakon kaumku perempuan. Di kampungku, di negeri ini kebanyakan mengalami dilema; kalau bukan wanita karier, ya, ibu rumah tangga. Parahnya, kalau bukan menjadi istri bahagia, ya, biasanya malah diduakan cintanya oleh suami. Kalau bukan memilih bertahan, ya, bubarlah.

 

Saya pernah mengalami hal semacam itu.

Sekarang ingin kubagi nukilan novel yang berangkat dari kisah nyata ini kepada kaumku perempuan.

 

Selamat menikmati dan mengambil hikmahnya, oya, saya harap tidak perlu menyediakan tissu. Airmatanya disimpan saja, karena kondisi saya sekarang sedang baik-baik saja dengan dua anak dan dua cucu dan seorang menantu.

 

Meretas Ungu # Episode Dua

 

Malam panjang kali ini berjingkat sangat perlahan, seakan-akan enggan meretas nuansa biru yang meruap dari kawasan Dago.

 

Sebuah kawasan ramai di kota kembang, terutama bila malam panjang tiba. Didatangi kawula muda, menghabiskan malam di kafe-kafe dan tempat hiburan yang tiap saat makin semarak disediakan.

 

“Ah, ini kan hanya perasaanku saja!” tepisnya membatin, tak mau suuzon kepada mereka yang berwenang.

“Yap, perasaan orang yang lagi sakit hati, kecewa, marah. Putus asa? Tidak! Aku tak sudi berputus asa!” ceracaunya pula, riuh perang sabil dalam hatinya.

 

Taksi yang dicarternya sejak petang, sesungguhnya telah berkeliling kota kembang tanpa arah dan tujuan. Ia telah membuktikan semua ucapan perempuan menor itu.

 

Dengan mata kepalanya sendiri, ia bisa melihat bagaimana Domu bergandengan mesra di lobi Hotel Preanger itu. Dan betapa sayang Domu kepada si Ucok, begitu Lience memanggilnya dalam nada sarat bangga.

Aduuuh, cukuplah, bukti nyata!

 

Air mata telah tertumpah ruah. Sebab serasa begitu dalam luka yang dihunjamkan lelaki itu terhadap dirinya. Domu dengan segala kemunafikannya…

Ya Tuhan!

 

Betapa tak tahu malunya lelaki itu, jeritnya membatin. Setiap ada kesempatan bercengkeram dengan keluarga, di hadapan anak-anak dia akan berpetatah-petitih tentang moral.

 

“Jangan pernah lupakan sholat lima waktu. Sholat itu sungguh senjata paling ampuh dalam mengantisipasi segala godaan…”

“Nadia, kenapa pulang bareng anak laki-laki itu?

“Amalia, awas, ya kalau pulang telat lagi!”

“Butet! Bah! Kau ini…, bikin kecewa saja! Mau jadi apa kau kalau bertingkah macam anak laki-laki begitu? Di dalam Al-Quran kan disebutkan…” Bla, bla, bla!

 

Seketika bintang-gemintang itu kembali menari-nari di tampuk mata Diah. Ia memejamkan matanya agak lama. Otaknya berpikir keras untuk mengambil langkah-langkah yang harus diambil dalam hitungan menit. Terutama manakala berhadapan dengan anak-anak, apa yang harus dikatakannya kepada mereka?

 

“Di sebelah mana, ya Bu?” sopir taksi mengusiknya.

“Eh, di mana nih?” Diah mengangkat kepalanya, mencoba mengenali jalanan di luar sana.

“Cihideung…”

“Oh, iya, sedikit lagi… Itu pekarangan yang banyak kembangnya!”

 

Taksi berhenti tepat di depan pintu gerbang yang telah terkunci. Diah harus mengedor-gedor dulu sebelum Bi Ikah dan Mang Umar beriringan membukakannya. Tanpa berkata-kata ia berlalu terus menuju ruang dalam, hampir tak tersisa gundah-gulana atau terkejut manakala disambut oleh ketiga putrinya… Seribu tanya!

 

“Jadi…, bener Papa sudah nikah lagi…” Butet memecah hening yang lumayan lama mengapung di sekitar mereka.

“Punya anak laki-laki…” Amalia menyambung.

“Sudah lima tahun berlangsung!” suara Nadia menegaskan, terdengar sarat amarah dan kebencian.

 

Wajah Diah terdongak. Sepasang matanya yang sembab mencari-cari bola mata si sulung. Taaap!

“Sini, Teteh, sini… dekat Mama,” diulurkannya tangannya, hingga Nadia bergerak dari tempatnya, pindah ke sisi kiri sang bunda. Gerakannya diikuti oleh Amalia, kebagian duduk di sisi kanan ibunya.

 

“Hmmm, nggak papa… di sini aja!” Butet menggeloso dekat kaki Diah.

Ketiganya menatap wajah wanita yang selalu menjadi idola mereka selama ini. Sosok sempurna dan nyaris tak ada cacat-celanya. Namun, detik ini mereka seperti dihentakkan pada kenyataan. Mama bukan sosok yang sempurna. Mama pun punya kelemahan. Sehingga kalah telak oleh Papa, dan itu telah berlangsung lima tahun!

 

“Mama bukan sosok yang sempurna, anak-anak,” kesahnya mengawali seperti bisa menebak pikiran ketiga buah hatinya. “Tentu banyak kelemahan Mama di hadapan Papa antara lain…”

“Bukan begitu!” tukas Nadia geram. “Papanya saja yang nggak pernah puas! Pengkhianat! Munaaafiiiik! Orang seperti itu sama sekali nggak pantas jadi ayah kami…, brengseeek!”

 

Untuk sesaat semua terperangah. Kapan pernah seorang Nadia bicara sesadis begini? Nadia yang mereka kenal memang si tomboy, tapi tak pernah bicara ngawur. Apalagi ditujukan kepada ayah kandungnya sendiri!

“Nadiaaa!” Diah ingin berseru, tapi malah terdengar mirip erangan. Ia begitu menyadari betapa terluka hati si sulung.

Nadia perlahan bergeser dan bangkit, tak berani menatap wajah ibunya.

 

“Jangan minta aku untuk memakluminya, Mama. Aku bukan anak kecil lagi! Aku sudah tahu siapa yang paling…, edan di rumah ini. Yaah, hanya lelaki ituuuu!” ditudingnya potret Domu yang tersenyum bijak di dinding ruang tengah.

Seketika ia bergerak ringkas. Semua masih belum paham.

“Huuuh! Dia nggak pantas ada di rumah ini lagi!”

 

Ooh, oouw… Tangannya seketika menyambar vas kembang kosong dan melemparnya ke potret diri berukuran besar itu dan… Praaang!

 

Kaca pigura potret kepala keluarga itu pecah berantakan, serpihannya berderai di lantai bagai repihan hati para penghuni rumah itu.

 

Semua tersentak kaget, tapi tak ada seorang pun yang bergeming dari tempatnya. Termasuk Bik Ikah, Mang Umar dan Imas yang diam-diam menguping. Inilah pertama kalinya suasana dramatis digelar dalam rumah majikan mereka. Sebelumnya hampir selalu adem-ayem, tenteram, paling banyak diwarnai canda dan tawa anak-anak.

 

“Aku benciiiii! Benciiii!” Nadia membalikkan tubuhnya, berlari sambil menahan tangisnya menaiki undakan tangga menuju kamarnya di loteng.

 

Butet dan Amalia serentak memandangi wajah Diah. 0h, Tuhan! Wajah itu tampak mulai mengelam dan…, seperti dingin membeku?

 

“Ya Allah.., Mama jangaan!” lirih Amalia, memegang tangan ibunya.

“Ingat anak-anak, Mama, ingat…,” pinta si bungsu memeluk kaki sang ibu erat-erat, mencoba mengalirkan semangat baru, harapan baru.

 

Diah menunduk, memejamkan matanya dan bibirnya bergerak-gerak perlahan. Diah berzikir, menyeru Sang Khaliknya. Memohon kekuatan-Nya.

 

“Iyaaa…, Mama nggak apa-apa kok. Kakakmu butuh waktu untuk merenungkan kejadian ini. Tapi kalian berdua, bagaimana?”

“Saya nggak apa-apa, Ma, insya Allah. Kan ada Mama,” bibir Amalia mengulas senyum lembut.

 

Meski siapapun bisa melihat bagaimana ia berjuang keras untuk menyembunyikan kepedihan hatinya. Air matanya telah tertumpah selama penantian sang bunda yang serasa berabad-abad. Ia harus berkali-kali pergi ke kamar mandi untuk membasuhnya dengan air wudu.

 

Sebab ia tak ingin Mama melihat matanya sembab. Hati Mama telah sangat luka. Jangan lagi ditambah luka anak-anaknya. Beban hati Mama niscaya takkan tertahankan. Pedihnya, lukanya sesungguhnya demi sang bunda tercinta.

Manakala tatapan Diah singgah di wajah oval milik si bungsu, gadis belia itu sempat melengos, menahankan gejolak perasaannya hingga menyemu kemerahan. Namun, dalam hitungan detik dia segera membalas tatapan ibunya dan mengangguk mantap.

 

“Apa, ayo, kok manggut-manggut?” Amalia menggoda, mencoba mengalihkan ketegangan.

“Nggak papa kan manggut-manggut? Emang burung celepuk aja yang boleh manggut? Mama, tenang aja, ya Ma! Butet nggak apa-apa, cuma mengkhawatirkan Mama…”

 

“Mama nggak apa-apa, Nak. Mmm, memang goncang sih, tapi itu wajar. Kalau kita saling menguatkan, insya Allah!” janji Diah.

“Kita pasti bisa bertahan dan…” Amalia mengerdip ke arah adiknya.

“Melawaaaann!”

 

Diah seketika merangkul kedua anak gadisnya erat-erat. Disembunyikannya wajahnya di antara kedua kepala itu. Ada air mata yang memburai, tapi kali ini tidak sampai di pipi melainkan hanya di ujung-ujung hatinya.

Dan itu sesungguhnya jauh-jauh-jauuuh…, lebih sakiiit!

***

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: