jump to navigation

Mengatasi AnaK Sulit Makan 5 Maret 2011

Posted by jihadsabili in anak, tips.
trackback

Mengatasi AnaK Sulit Makan

Masalah klasik tapi menjadi Trend yang sering melanda di kalangan bayi dan anak adalah sulit makan. Prosesnya pun bisa tak terduga. Kadang anak secara bertahap menunjukkan gejala sampai benar-benar perilaku sulit/tidak mau makan.Kadang juga terjadi secara tiba-tiba. Memberi makan pada anak, khususnya bayi dan balita tidaklah semudah mengucapkan atau membayangkannya.

Perkembangan keterampilan makan yang berlangsung sejak lahir sampai dengan usia 3 tahun merupakan sesuatu yang memerlukan pelatihan dan pembinaan baik untuk ibu dan anak. Usia 6 – 9 bulan merupakan periode kritis dalam pembinaan keterampilan makan. Apabila periode ini tidak dimanfaatkan secara optimal dapat timbul masalah makan pada anak.

Pertama yang perlu disikapi oleh ibu adalah tetap tenang, jangan panik.

Kepanikan akan memicu terjadinya ketidakrasionalan atau tindakan kepasrahan ( misalnya memberikan suplemen perangsang nafsu makan dll). Di samping itu anak yang tidak mengalami gangguan mental akan membiarkan dirinya dalam keadaan kelaparan.

Kedua, segeralah cari penyebab anak sulit makan.

Dengan diketahuinya faktor penyebab, maka langkah ketiga tidak akan menemui kesulitan untuk mengatasi dan memecahkan masalahnya.

Penyebab anak sulit makan

Menurut Dr. Sylvia Retnosari, Sp.A, dari RS Mitra Internasional, tiga faktor penyebab sulit makan :

1. Faktor organik, antara lain penyakit (infeksi lambung/ tenggorokan/ keadaan sakit lainnya),

Kelainan bawaan (misal bibir sumbing). gangguan dalam gigi dan rongga mulut ( sariawan, gigi bolong/karies, termasuk dalam hal ini tumbuh gigi dll).

2, Faktor psikologis

Hubungan emosional antara ibu bayi atau anak juga sangat penting.Tiga faktor utama yang berperan dalam sulit makan, yaitu aturan makan yang ketat atau berlebihan, sifat ibu yang obsesif dan memaksa akibat overproteksi, serta respons infantil, kekanak-kanakan, terhadap sikap ibu. Salah satu sifat yang menonjol pada masa balita yaitu rasa ingin tahu sekitarnya dan mulai timbul rasa ke=aku-an, sehingga perhatian terhadap makanan berkurang dan seringkali menolak diberi makan.

3. Faktor nutrisi

antara lain anak tidak menyukai makanannya. Bisa karena bosan/ tidak variatif atau yang lainnya.
Pengetahuan ibu atau pengasuh dalam menentukan jenis , jumlah makanan yang diberikan kepada anak sesuai perkembangan usianya.

Illingworth (1991), seorang ahli kesehatan anak, menambahkan beberapa hal-hal yang menurut pengamatannya dapat menjadi penyebab anak tidak mau makan:

– Memakan kudapan di antara jam makan, akibatnya tubuh masih berkecukupan dengan nutrisi yang berasal dari kudapan tersebut, sehingga anak tidak merasa lapar.

– Perkembangan ego sang anak; anak menolak makan sebagai manifestasi dari perkembangan sikap mandiri.

Anak merasa sebagai individu yang terpisah dari orangtua, sehingga menolak bentuk dominasi orangtua

– Anak ingin mencoba kemampuan yang baru dimilikinya yaitu mencoba makan sendiri tetapi orangtua melarangnya melakukan hal tersebut

– Anak sedang merasa tidak bahagia, sedih, depressi atau merasa tidak aman/nyaman

Bentuk penolakan yang dilakukan anak dapat berupa:

*Memuntahkan makanan

*Makan berlama-lama dan memainkan makanan.

Pada tahapan usia 9 bulan-2,5 tahun memang masih merupakan suatu hal yang wajar jika anak makan berlama-lama karena ia belum mengenal konsep waktu. Namun jika anak telah berumur lebih dari usia tersebut, tetapi masih makan berlama-lama dan memainkan makanannya maka hal tersebut tidak lagi dapat disebut wajar/normal tetapi merupakan suatu cara anak untuk menarik perhatian dan menentang dominasi orangtua.

* Sama sekali tidak mau makan

* Menumpahkan makanan

* Menepis suapan dari orangtua

Tindakan Keliru yang Seringkali Dilakukan Orangtua

Beberapa tindakan yang sebenarnya keliru yang seringkali dilakukan orangtua dalam menghadapi situasi diatas misalnya:

* Membujuk.

Misalnya dengan kata-kata: “makan sayur bayamnya ya, biar kuat seperti popeye”, “kalau makannya habis nanti mama bilang sama papa kalau anak mama dan papa pintar loh”, dll.

* Mengalihkan perhatian, misalnya: anak disuapi makan sambil menonton film atau sambil bermain-main

* Memberi janji, misalnya: “kalau makannya habis, nanti mama belikan ice cream”

* Mengancam, misalnya: kalau makannya tidak habis, nanti kalau ke dokter disuntik loh”

* Memaksa, misalnya anak dipaksa membuka mulut lalu dijejali makanan.

Para ahli psikologi anak sama sekali tidak menyarankan anak dipaksa untuk makan apapun penyebabnya, karena semakin dipaksa anak akan semakin memberontak.

Sikap suka memaksakan makanan menyebabkan bayi/ anak merasakan proses makan sebagai saat yang tidak menyenangkan , berakibat timbulnya rasa anti terhadap makanan.

* Menghukum, misalnya anak yang tidak mau makan langsung dipukul atau diperintahkan masuk kamar.

* Membolehkan anak untuk memilih menu makanan yang diingininya.

Dalam hal ini orangtua biasanya akan langsung mengganti menu jika anak mengatakan bahwa ia tidak menyukai menu yang dihidangkan.

Mengapa kesulitan makan tidak terjadi pada semua anak ?

Penyebab kesulitan makan pada anak banyak faktornya, namun akan timbul bila ada faktor-faktor:

1. Predisposisi:

* genetic

* jenis kepribadian anak (labil, emosional)

2. Pencetus :

* masalah dalam keluarga seperti perceraian, ibu yang bekerja

* masalah di sekolah misalnya anak tidak siap untuk bersekolah, atau anak yang terlalu padat kegiatannya sehingga tidak ada waktu untuk makan

* saat akil balik dimana terjadi perubahan hormonal yang mempengaruhi emosi.

3. Prepetuate: masalah yang sebenarnya bisa cepat diselesaikan bisa menjadi berkepanjangan tergantung sikap orang tua dalam mengatasi masalah

* tanggapan pd keadaan misalnya kesesuaian bentuk makanan, keinginan anak ditemani makan, disiplin waktu makan

* tanggapan terhadap gangguan fisik: gangguan menelan atau muntah

* tanggapan terhadap kelakuan: marah atau pendekatan

Beberapa saran yang dapat dilakukan jika menghadapi anak yang sulit makan:

1. Kurangi kudapan atau tidak memberikan kudapan sama sekali di antara jam makan.

Termasuk di sini adalah pemberian susu kepada anak. Bagi anak yang memiliki nafsu makan sangat baik, pemberian kudapan maupun susu diantara jam makan masih diperbolehkan, tetapi harus dilakukan dengan jadwal tetap dan dosistepat sehingga tidak terjadi obesitas.

2. Menghidangkan menu yang bervariasi.

Sama seperti orang dewasa, jika hampir setiap hari diberikan menu yang sama, maka anak akan bosan (meskipun menu yang diberikan merupakan menu favorit anak tersebut). Oleh karena itu, orangtua harus jeli dan pintar untuk memberikan menu yang bervariasi kepada anak. Misalnya: jika anak sudah sering diberi ikan cobalah mengganti ikan dengan ayam atau daging atau dapat pula diganti cara memasaknya.

Dan satu hal juga sering dilupakan bahwa Makan tidaklah harus dengan NASI. atau belum disebut makan kalau belum makan nasi. Ini adalah salah.

3. Mempercantik tampilan makanan.

Contohnya, menghidangkan nasi goreng dengan diberi gambar wajah, mata yang terbuat dari tomat, bibir dari sosis, dan hidung dari ketimun.

Penampilan nasi goreng yang seperti ini akan lebih menarik perhatian bagi anak daripada nasi goreng yang terhidang begitu saja di piring tanpa hiasan.

4. Saat anak sedang merasa sedih, cobalah untuk terlebih dahulu membuat perasaan anak lebih baik dengan menunjukkan kasih sayang dan mencoba mengatasi/mengerti penyebab mengapa anak merasa sedih.

5. Biarkan anak makan sendiri.

Jangan takut dengan kekotoran yang disebabkan anak makan sendiri, karena yang penting di sini adalah anak merasa mampu, dipercaya oleh orangtua, semakin mandiri dan kemampuan motoriknya juga akan terlatih dan berkembang baik.

6. Jangan memburu-buru anak agar makan dengan cepat.

Anak yang makannya berlama-lama, tidak perlu diburu-buru. Jika semua sudah selesai makan, meja sudah dibersihkan dan anak masih bermain dengan makanannya, maka sebaiknya makanannya disingkirkan. Anak mungkin akan merasa marah, jika hal ini terjadi orangtua tidak perlu berdebat ataupun memarahi anak, berikan perpanjangan waktu yang cukup, jika perpanjangan waktu sudah selesai maka makanan benar-benar ditarik dan tidak diberikan perpanjangan waktu lagi. Dengan demikian anak akan mengerti ada waktu untuk makan.

7. Tidak perlu setiap kali mengikuti keinginan anak dengan mengganti menu sesuai keinginanya, karena mungkin saja ketidaksukaannya disebabkan keinginan menentang dominasi orangtua.

Sebaiknya tanamkan kesadaran pada anak bahwa makan adalah tugasnya, dengan tidak memuji jika makanan dihabiskan, dan juga tidak memarahi, mengancam, membujuk, menghukum, atau memberi label anak sebagai anak nakal jika makanannya tidak dihabiskan/tidak mau makan.

8. Jika anak tidak mau makan dan si anak berada dalam keadaan sehat, tidak apa-apa, singkirkan saja makanan dari meja makan, dan anak tidak perlu diberikan kudapan apapun di antara waktu makan utamanya.

Dengan demikian, ketika tiba waktu makan selanjutnya anak akan merasa lapar (bukan kelaparan) dan ia pasti akan makan apapun yang dihidangkan.

9. Beri porsi yang cukup.

Tidak perlu memberikan porsi yang banyak kepada anak, sehingga sulit dihabiskan. Lebih baik memberikan porsi yang sedang, jika anak merasa kurang, ia boleh minta tambah.

10. Berikan makanan secara bertahap sesuai jenis dan kandungan gizi satu persatu, mulai dari yang mengandung banyak zat besi dan protein (misalnya daging), sampai terakhir jenis yang kurang penting (misalnya puding sebagai penutup mulut).

Jika anak merasa sudah kenyang sebelum sampai pada makanan tahap berikutnya, orangtua tidak perlu lagi memaksa anak untuk makan

11. Mengatur dengan baik jadwal pemberian makan dan kudapan.

Biasakan makan teratur dan beri makanan pada anak sewaktu merasa lapar.
Jika anak memerlukan kudapan di antara jam makan, hendaklah orang tua tepat memilih jenis dan kapan waktu sebaiknya makan/ kudapan/ minuman/ susu itu diberikan.

12. Merangsang anak untuk senantiasa aktif bergerak.

Anak yang aktif bergerak akan mudah lapar dan mempunyai efek baik terhadap kesehatannya.

13. Menyiasati menu makan anak.

Selain variatif, ada yang penting yang kadang terlupakan. temukan penyebab anak mempunyai suatu favorit makanan. Apakah karena rasa, atau tampilan atau yang lain.

Misalnya anak mempunyai favorit pisang. Jika karena :

– rasanya : tidak ada salahnya mencampurkan sedikit pisang ke dalam menu makannya. sehingga ada “rasa pisang” pada makanan yang disantapnya.

– bentuk / warna pisang: maka usahakan penampilan makanan yg dihidangkan menyerupai pisang. misalnya nasi dibungkus telur dadar yang digoreng kuning dst

– anak suka melihat pisang. Tidak ada salahnya pula suasana makan anak dipercantik dengan gambar pisang yang di pasang di dinding.

14. Ciptakan suasana yang menyenangkan dan buatlah acara makan menjadi saat yang menggembirakan buat anak.

15. Berikanlah makanan anak sesuai dengan usia dan perkembangannya. Contoh mudah, jangan berikan makanan kasar untuk bayi yang baru saja belajar MPASI (makanan pendamping ASI ), lakukan evaluasi tekstur dsb.

Pengetahuan ibu sangat dibutuhkan dalam hal ini. Menguasai ilmu mengenai teknik maupun tahapan pemberian makan pada bayi.

16. Perkenalkan suatu makanan baru pada waktu dan dalam porsi sedikit terlebih dahulu. Secara bertahap.

Jangan bosan pula untuk menawarkan. Boleh jadi waktu makanan baru itu ditolak ,bukan karena tidak suka, tapi karena faktor lain.

17. Makan bersama keluarga.

Jika ayah dan ibu sama-sama sibuk, tetap agendakan 1 di antara 3 kali waktu makan agar bisa makan bersama. Manfaatnya anak dapat sekaligus belajar tata tertib di meja makan. Kalaupun jam makannya tidak cocok, tetaplah jadwalkan waktu tersebut untuk makan kue atau makanan ringan lainnya. Yang penting, tetap dapat makan bersama

18. .Sesekali biarkan anak makan bersama teman-temannya.

Suasana kebersamaan seperti ini mampu menggugah selera makannya.

19. Sesekali ajak anak menyiapkan makanannya.

Keterlibatan dan ketertarikan pada proses ini mampu membangkitkan selera makannya. Bisa dimulai dari hal yang kecil, misalnya ikut mengupas jeruk dsb.

20. Gangguan makan yang patologis harus dikenali sejak dini.
Kunjungan/ konsultasikan dengan ahlinya / dokter bilamana amat sangat diperlukan dan ditemukan gejala-gejala kelainan/gangguan faktor organik.

Namun hendaklah orang tua juga “smart” dalam menyikapi hal ini. Janganlah gegabah untuk menerima saran dokter (maaf- bukan penulis anti terhadap profesi yang satu ini) jika menyarankan pemberian obat-obatan/penambah nafsu makan/ terapi enzim dan sejenisnya TANPA pemeriksaan/ sesuai tatalaksana penyakit yang benar. Mungkin juga perlu diketahui atas saran dokter/ drg tentang diet anak yang tepat. misalnya anak yang sedang sariawan/ tumbuh gigi/ kena penyakit infeksi.

Mencegah anak sulit makan

1. Ajari anak untuk makan sendiri sejak dini.

Saat anak bisa duduk dengan baik merupakan saat yang tepat untuk memulai makan di meja makan bersama-sama dalam keluarga. Makan sendiri dengan menggunakan alat makannya sendiri memicu kepandaian dan keinginan makan anak.

2. Berilah makanan dengan bentuk dan takaran yang sesuai kemampuannya.

Tingkatkan perlahan-lahan hingga anak mencapai 1 tahun. Lidah anak sangat peka, jangan beri bumbu yang berlebihan. Tapi memberi makan dengan cara mencampur semua bahan juga mengurangi kemampuan anak mengembangkan selera makan yang baik (bubur saring yang dicampur)

3. Hormatilah cita rasa anak.

Mengenalkan jenis makanan satu persatu akan meningkatkan apresiasi anak terhadap makanan. Misalnya ingin memberikan sayur dan daging pada satu kali makan, berilah bubur dengan sayur bening (saring) diseling bubur dengan semur daging cincang. Cara ini lebih menimbulkan selera bagi anak.

Anak adalah peniru yang baik.

Orang tua yang sering memilih makanan dan tidak menyukai makanan tertentu (sayur) akan ditiru oleh anak. Beri contoh pada anak makan beragam dan ajarkan anak mencobanya tanpa memaksa. Penolakan anak bukan merupakan kata akhir. Anak harus diperkenalkan hingga 10 kali untuk menerima makanan baru.

Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran dan tanggungjawab secara internal. Jika reaksi orangtua menguatkan perilaku sulit makan, maka yang terjadi kemudian adalah anak menjadi sulit makan. sebaliknya jika reaksi orangtua menguatkan perilaku mudah makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku anak secara tepat.

Jangan pernah putus asa dan jangan lupakan satu hal penting ini yaitu “berdoa”. Bedoa , berusaha dengan cara yang baik dan benar ,dan bertawakkal.

Insya Allah semua akan membuahkan hasil walau kadang tidak sesingkat dan seperti yang kita harapkan. Semua hal perlu proses.Makan tidak hanya suatu proses memasukkan sesuatu ke dalam mulut, tapi lebih dari itu juga merupakan suatu media pembelajaran anak.

Kurus belum berarti kurang gizi, gemuk belum tentu sehat.
Beruntung lah ibu/orang tua yang tidak mengalami fase sulitnya mengahdapi anak yang tidak/susah makan. Akan tetapi lebih beruntung lagi bagi ibu/orang tua yang mengalaminya, karena ibu/ orang tua akan mendapatkan ilmu dan suatu pengalaman berharga.

Source : Dari berbagai sumber.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: