jump to navigation

Duri Tajam Minuman Bersoda 5 Maret 2011

Posted by jihadsabili in kesehatan.
trackback

Duri Tajam Minuman Bersoda

Minuman bersoda faktor risiko independen terjadinya obesitas.

Anak laki-laki dan mobil seperti sebuah ikatan. Di mana pun, bocah lelaki pasti menyukai kendaraan beroda empat, bahkan juga dua. Meski belum hafal semua huruf, bisa jadi seorang anak tahu merek-merek setiap mobil yang lewat di depannya. Tapi anak dan minuman bersoda tampaknya juga semakin lekat. Namun, cairan bersoda ini seperti mawar merah. Elok dilihat tapi, ketika hendak diambil, duri-duri kecilnya menancap begitu menyakitkan.

Tengok saja sejumlah peneliti dari Universitas British yang dengan tegas menyebutkan mengkonsumsi minuman bersoda dapat menyebabkan kerusakan sel yang serius. Tim peneliti ini menemukan bahwa sodium benzoat, yang biasa terdapat dalam minuman bersoda, memiliki kemampuan mengubah bagian penting dari DNA seseorang. Gangguan serupa ini biasanya terkait dengan proses penuaan dan penyalahgunaan alkohol. Bahkan penelitian terbaru menunjukkan bahwa meneguk minuman soda pun dapat menyebabkan terjadinya kanker hati dan timbulnya penyakit degeneratif, seperti parkinson.

Sodium benzoat, yang berasal dari benzoic acid, telah digunakan selama bertahun-tahun oleh industri minuman karbonat. Bahan kimia ini dipilih untuk mencegah pertumbuhan jamur dalam industri minuman ringan. Tapi, prakteknya, bahan tersebut dicampur dengan vitamin C, sehingga sodium benzoat pun berubah menjadi kandungan karsinogenik yang disebut benzene.

Profesor biologi molekul dan bioteknologi, Peter Piper, mengatakan bahan-bahan kimia tersebut memiliki kemampuan menimbulkan kerusakan pada DNA yang ada di mitokondria. “Zat kimia itu langsung membuatnya menjadi tidak aktif,” ujarnya.

Tim peneliti lain dari Universitas Harvard menemukan minuman bersoda dapat menimbulkan terjadinya obesitas pada anak-anak. Seperti dilaporkan dalam jurnal kesehatan Inggris, Lancet, tim ilmuwan yang dipimpin David Ludwig menemukan bocah berusia 12 tahun yang meneguk minuman ringan secara teratur akan mengalami kelebihan berat badan dibanding mereka yang tidak meneguk minuman bersoda. Para peneliti menambahkan setiap penambahan sajian minuman ringan dengan pemanis gula yang dikonsumsi selama hampir dua tahun masa penelitian menyebabkan risiko obesitas meningkat 1,6 kali. Bahkan, Ludwig menegaskan, soda terbukti menjadi faktor risiko independen yang bisa menyebabkan terjadinya obesitas.

Belum lagi minuman bersoda dapat merusak gigi. Sejumlah makanan yang mengandung gula, seperti jus buah, permen, dan buah kering, yang merujuk pada kehadiran karsiogenik ternyata menimbulkan kerusakan gigi. Pada anak-anak pun minuman bersoda juga dapat menimbulkan ketergantungan kafein. Hal ini diungkapkan oleh Kenneth S. Kendler, pakar psikiatri dan genetik dari Universitas Virginia Commonwealth, Richmond.

Menurut Kenneth, bila anak-anak menghentikan kebiasaan meneguk minuman bersoda, mereka akan mengalami gejala mirip dengan putus obat, seperti mual, sakit kepala, peningkatan tekanan darah, lekas marah, dan timbulnya masalah pada perut.

Tim peneliti juga menemukan mengkonsumsi soda dapat membuat kualitas otot menurun. Penelitian terhadap hewan menunjukkan bahwa phosphorus, yang biasanya terdapat dalam soda, dapat menguras kalsium tulang. Dua studi memperlihatkan bahwa remaja putri yang mengkonsumsi minuman bersoda dalam jumlah tinggi cenderung mengalami patah tulang.

Pertanyaannya sekarang, seberapa banyak minuman bersoda yang dapat membuat tulang melemah? Sayangnya, patokan itu hingga kini belum ditetapkan para pakar. Mereka hanya menyarankan agar Anda mengganti minuman bersoda dengan minuman yang lebih menyehatkan.

Trik Stop Soda

Perbarui pikiran. Ubah pikiran Anda sehingga bisa menghentikan kebiasaan meneguk minuman bersoda.

Ganti dengan soda diet. Secara perlahan-lahan beralihlah ke soda diet. Paul Rozin, PhD, dari Universitas Pennsylvania, menyebutkan pengurangan dalam jumlah sedikit cukup berarti. Misal, cukup satu minuman bersoda nondiet satu sehari.

Cari yang bebas kafein. Barry Popkin, PhD, dari Universitas North Carolina, percaya bahwa soda mengandung kafein. Karena itu, ia bersifat aditif. Carilah minuman ringan yang bebas kafein dan secara perlahan Anda harus menurunkan jumlah kafein yang dikonsumsi setiap hari. Jika Anda kecanduan kafein dalam soda, sebenarnya Anda melawan dua kebiasaan buruk, yakni mengkonsumsi soda dan kafein.

Sediakan minuman pengganti. Simpan sejumlah minuman nonsoda yang enak sebagai pengganti minuman bersoda, seperti susu kedelai, susu tanpa lemak, dan air mineral. Bagi mereka yang keranjingan minum soda, air mineral memang kurang menarik. Untuk menampilkan rasa lain, bisa divariasikan dengan mentol atau irisan dari lemon. Bisa juga membubuhi mentimun yang dihancurkan sehingga lebih segar. Mengganti soda dengan teh hijau atau jus murni buah-buahan pun tetap lebih baik.

sumber asal artikel dari www.korantempo.com

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: