jump to navigation

Dengan Empat Perkara Ini, Engkau Akan Terhindar dari Kerugian … 3 Maret 2011

Posted by jihadsabili in nasehat.
trackback

Dengan Empat Perkara Ini, Engkau Akan Terhindar dari Kerugian …

(Taushiyah khusus Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi bagi thullab baru Ma’had As-Salafy Jember tahun 1431 H)

Sebagaimana yang telah diprogramkan bahwa pada akhir bulan Muharram 1431 ini, Ma’had As-Salafy Jember membuka pendaftaran thullab baru untuk program i’dady. Dan alhamdulillah, thullab yang diterima sekarang sudah mulai menempuh pendidikan di ma’had ini dengan mengikuti durus (pelajaran-pelajaran) yang sesuai dengan program mereka, di antaranya pelajaran tajwid / qira’ah, bahasa Arab (Kitab Durusullughah Al-‘Arabiyyah), aqidah (Kitab Tsalatsatul Ushul), akhlak (Kitab Al-Arba’in An-Nawawiyyah), at-targhib wat-tarhib (Kitabul ‘Ilmi). Di samping durus tersebut, mereka juga diwajibkan untuk mengikuti dars (pelajaran) umum yang disampaikan oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh setiap ba’da maghrib, dan saat ini beliau sedang mengajarkan Kitab Syarhus Sunnah karya Al-Imam Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Ali Al-Barbahari rahimahullah. Sedangkan untuk muraja’ah durus yang mereka ikuti, dibuka juga halaqah-halaqah muraja’ah yang juga sangat bermanfaat untuk menunjang proses pendidikan ini.

Seperti biasa, setiap thullab baru yang datang di Ma’had As-Salafy Jember, diadakan taushiyah khusus untuk membuka dan memantapkan semangat mereka dalam belajar. Pada kesempatan kali ini, Al-Ustadz Ruwaifi’ yang memberikan taushiyah tersebut. Dan berikut ini catatan dari taushiyah beliau. Sengaja kami tampilkan di situs ini agar faidahnya bisa diambil dan dirasakan oleh salafiyin khususnya dan kaum muslimin pada umumnya.

 

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أما بعد،

فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

Alhamdulillah, Allah subhanahu wata’ala telah memberikan kekuatan kepada kita untuk hadir di masjid -tempat yang mulia ini- dalam rangka tawashi bil haq wa tawashi bish shabr (saling memberi wasiat dengan kebenaran dan saling memberi wasiat dengan kesabaran), karena sungguh bahagia ketika kehidupan ini senantiasa diiringi dengan sikap saling menasehati dan saling memberikan wasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Siapapun dari kita tidak ada yang sempurna, pasti banyak kekurangan dan kelemahan. Pasti dalam hidup ini selalu terjatuh ke dalam kesalahan. Maka ketika kesalahan-kesalahan, kekeliruan, dan kekurangan-kekurangan tersebut tidak ada yang membenahi, memperbaiki, dan meluruskan, maka tentu kita tidak akan menjadi baik.

Taushiyah dalam bahasa Arab maknanya adalah ‘nasehat yang ditekankan’. Pada kesempatan kali ini, saya akan memberikan taushiyah terkhusus bagi thullab i’dady yang baru masuk dan juga untuk semua thullab yang hadir di sini.

Kita hidup di dunia ini tidaklah hidup begitu saja. Kita semua diberikan kesempatan hidup oleh Allah subhanahu wata’ala dalam keadaan tidak tahu sampai kapan Allah subhanahu wata’ala memberikan kesempatan ini kepada kita. Kita semua sebagai umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagai hamba Allah subhanahu wata’ala dalam menjalani kehidupan ini hendaknya benar-benar mempunyai rambu-rambu atau target dan juga prinsip yang harus dijalani. Setiap muslim harus meyakini bahwa hidup ini adalah dalam rangka untuk beribadah dan bertaqarrub hanya kepada Allah subhanahu wata’ala. Dan ini adalah tujuan utama diciptakannya manusia, yaitu untuk beribadah dan bertaqarrub hanya kepada Allah subhanahu wata’ala.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah hanya kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Hidup kita ini bukanlah untuk sesuatu yang sia-sia belaka, bahkan untuk beribadah hanya kepada Allah subhanahu wata’ala. Ada 4 (empat) perkara yang jika diamalkan dengan sebaik-baiknya akan teraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Empat perkara tersebut adalah: (1) al-’ilmu, (2) al-’amal bihi, (3) ad-da’wah fil ‘ilmi, dan (4) ash-shabr (bersabar) atas gangguan yang ada di dalamnya.

Perkara Pertama: Al-’Ilmu.

Maksud ilmu di sini adalah ilmu syar’i yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. ilmu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para shahabatnya dan para shahabat beliau menyampaikan ilmu tersebut kepada generasi setelahnya, dan seterusnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله به طريقا إلى الجنة.

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya dengan menuntut ilmu tersebut jalan menuju jannah Allah.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dengan ilmu, seseorang akan dimudahkan oleh Allah ta’ala jalannya menuju Al-Jannah. Ilmu inilah yang Allah ‘azza wajalla jadikan sebagai tanda kebaikan bagi seseorang, di mana Allah subhanahu wata’ala jika berkehendak untuk memberikan kebaikan kepada seseorang, maka Dia akan memberikan kepahaman kepada orang tersebut tentang ilmu syari’at / agama ini, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan pahamkan dia terhadap agama ini.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma)

Oleh karena itu, sesungguhnya ilmu itu tidak bisa diremehkan atau dianggap ringan. Dengan ilmu pula, seseorang akan terbimbing dalam langkah kehidupannya, dan terarah tingkah lakunya karena dia senantiasa berupaya untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan apa yang diwariskan oleh Allah ‘azza wajalla.

Namun perlu diketahui bahwa ilmu itu tidak bisa didapat begitu saja. Ilmu itu didapat dengan ta’allum dan tafaqquh, yaitu berupaya untuk mempelajari dan memahaminya.

Kalau kita lihat sejarah para shahabat, maka sejarah mereka merupakan teladan terbaik bagi kita dalam menuntut ilmu. Seiring dengan kesibukan mereka berperang, mencari ma’isyah, dan lain-lain, mereka tetap bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan sebagian mereka juga menimba ilmu dari sebagian shahabat yang lain, terutama para shahabat ash-shighar (yang muda) menuntut ilmu kepada para shahabat al-kibar (yang senior) yang masih mereka jumpai. Kehidupan mereka diwarnai dengan ilmu, ta’allum, dan tafaqquh. Dari sinilah Allah subhanahu wata’ala berikan kepada mereka petunjuk di dalam meniti kehidupan mereka.

Ilmu harus diimbangi dengan kesabaran. Ada seseorang yang ketika datang masa rajinnya, dia belajar dan menghafal terus-menerus, namun ketika datang masa fatrah (malas), bisa jadi dia putus asa bahkan tidak lagi menuntut ilmu. Karena tidak diimbangi dengan kesabaran. Al-Imam Yahya bin Abi Katsir Al-Yamami rahimahullah berkata:

لا يستطاع العلم براحة الجسد.

“Ilmu itu tidak bisa diraih dengan santai-santai saja.”

Maka orang yang hendak meraih ilmu, dia harus mempersiapkan diri untuk bersungguh-sungguh dalam menuntutnya, serta bersabar di atas gangguan yang ada. Bersungguh-sungguh dalam menghafal, mencatat, menulis fawa`id (faidah-faidah ilmiah), dan memahami pelajaran. Orang yang bersungguh-sungguh saja terkadang tidak berhasil, apalagi yang tidak bersungguh-sungguh. Datang ke ma’had semata-mata ingin mendapatkan lingkungan yang baik, atau datang ke ma’had semata-mata ingin mendapat siraman qalbu. Tentu ini adalah sesuatu yang bagus, tetapi bukan hanya itu saja tujuan seseorang datang ke ma’had, dia harus berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendapatkan faidah ilmiah. Karena mungkin ada sebagian di antara kita yang datang ke ma’had dengan biaya orang tua yang terbatas, usia yang sudah lanjut, terburu ingin menikah, dan lain-lain. Oleh karena itu kesungguhan dalam menuntut ilmu itu harus dijadikan prinsip. Berapa banyak orang yang hadir di majelis ilmu tetapi tidak mendapatkan faidah karena tidak ada kesungguhan. Pikirannya tidak konsentrasi. Kalaupun Allah subhanahu wata’ala memberi dia kecerdasan sehingga mampu memahami, menerima, dan mendapatkan beberapa faidah ilmiah, namun barakatul ‘ilmi (barakah dari sebuah ilmu)-nya tidak didapatkannya. Barakah itu adalah kebaikan yang berkesinambungan.

Berbeda dengan orang yang bersungguh-sungguh, dia mendapatkan ilmu dan barakahnya di majelis ilmu tersebut sehingga ilmunya bermanfaat dan dia mendapatkan kebaikan yang terus berkesinambungan insya Allah.

Menuntut ilmu harus disertai dengan adab-adab di dalam menuntutnya agar ketika menuntut ilmu benar-benar di atas kemantapan. Seseorang harus merasa bahwa jalan yang dia tempuh ini merupakan jalan menuju kebahagiaan, sebuah jalan yang bisa mengantarkan dia kepada Jannatullah. Berbeda dengan orang yang kurang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, kurang memahami tentang pentingnya ilmu dan keutamaan ulama di sisi Allah subhanahu wata’ala dan makhluk-Nya, serta kurang memahami adab-adab dalam menuntut ilmu, maka akan mudah goyah pendiriannya, misalnya ketika muncul masalah seperti ketidakcocokan dengan temannya atau dengan pelajarannya, atau memiliki kecenderungan untuk tergesa-gesa dalam menuntut ilmu, maka dia akan pindah-pindah ma’had, akhirnya tidak mendapatkan ilmu yang kokoh.

Seseorang tidak akan bisa bahagia, atau beribadah dengan sebaik-baiknya, serta bermuamalah sesuai dengan syari’at jika tanpa berbekal dengan ilmu. Sehingga ilmu merupakan kebutuhan.

Perkara Kedua: Al-’Amalu Bihi

Yakni beramal dengan ilmu tersebut. Inilah di antara barakah dari sebuah ilmu yang dipelajari oleh seseorang. Kebaikan dari ilmu itu akan tampak dalam keseharian seseorang yang mempelajarinya, apakah dia bisa mengamalkannya ataukah tidak.

Dan mengamalkan ilmu itu tidak sebatas pada hal-hal yang sifatnya zhahir (tampak) saja. Seperti melakukan wudhu’, shalat, dan berpakaian, ini semua bisa diamalkan sesuai dengan sunnah menurut ilmu yang sudah dia pelajari, atau menjaga kondisi tubuh yang sesuai dengan sunnah, seperti memelihara jenggot dan sebagainya, ini juga bisa diamalkan sesuai dengan ilmu yang dia ketahui, dan yang lainnya dari bentuk pengamalan secara zhahir. Ini semuanya bagus dan merupakan bagian dari pengamalan ilmu.

Namun yang juga tidak bisa diremehkan adalah pengamalan ilmu pada hal-hal yang bersifat bathin (tidak tampak) atau yang berkaitan dengan qalbu (hati), maksudnya adalah apakah ilmu yang telah dipelajari itu bisa mewarnai qalbunya ataukah belum. Yang tadinya senantiasa mempunyai sifat hasad, apakah dengan ilmu yang dipelajarinya itu kemudian bisa mengubah diri dari sifat hasad tersebut ataukah tidak. Atau yang sebelumnya memiliki sifat kikir dan sombong -apakah dalam bentuk melecehkan manusia atau dengan bentuk menolak kebenaran ketika disampaikan kepadanya-, su’uzhzhan (mudah berburuk sangka), apakah ilmu yang sudah didapat itu bisa mengubah bathinnya dari penyakit-penyakit qalbunya tadi ataukah belum. Apakah ilmu yang telah dipelajarinya bisa menumbuhkan sikap al-khasyyah, al-khusyu’, at-tawadhu’, dan yang lainnya dari sifat-sifat mulia ataukah belum.

Terkadang seseorang itu ketika menuntut ilmu dan mengamalkannya, yang diperhatikan hanya sebatas hal-hal yang sifatnya zhahir saja. Ini belum cukup. Justru ada yang lebih penting dari itu, yaitu yang terkait dengan bathinnya dan yang tersimpan dalam qalbunya, yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب ألا وهي القلب ألا وهي القلب.

“Ketika qalbu itu baik maka seluruh anggota tubuhnya menjadi baik, namun ketika rusak qalbunya, maka menjadi rusak pula anggota tubuhnya. Ingatlah sesuatu itu adalah qalbu, ingatlah sesuatu itu adalah qalbu, ingatlah sesuatu itu adalah qalbu.” (Muttafaqun ‘Alaihi, dari shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu)

Terkadang kita dapati orang-orang yang secara ilmu sudah tinggi dan secara zhahir sudah tampak himmatus sunnah (semangat untuk berpegang dengan sunnah) pada dirinya, tetapi mengapa masih saja memiliki sifat rakus harta? Mengapa masih saja berkelit-kelit ketika diingatkan tentang suatu kebenaran? Atau lari dari al-haq? Dan merendahkan orang-orang yang mengingatkannya? Sebabnya di sini adalah pengamalan ilmu secara bathin belum dilakukan secara maksimal. Dan ini jarang sekali orang yang memperhatikannya.

Dan terkadang pula kita dapati yang lain, secara zhahir terlihat dia sudah belajar sekian tahun di ma’had, tetapi ternyata masih mudah untuk berburuk sangka, atau mudah membenci tanpa sebab tertentu. Ketika diperhatikan ternyata disebabkan karena hasad, atau sifat kibr (sombong) yang masih melekat pada dirinya. Ini berarti ketika masa-masa belajar, atau ketika masanya menuntut ilmu kurang memperhatikan sisi tazkiyatun nufus ini pada dirinya. Dan sesungguhnya ini merupakan sisi yang sangat penting bagi thalabatul ‘ilmi (para penuntut ilmu) yang diridhai Allah subhanahu wata’ala. Walaupun ilmunya setinggi langit, kalau jiwanya rusak maka dia akan menjadi seorang yang tidak bermanfaat bagi umat, walaupun telah lama belajar di ma’had atau bahkan belajar di hadapan masyayikh. Ini semua disebabkan dia tidak memperhatikan sisi amalan bathin yang sangat penting ini.

Beramal dengan ilmu, di samping secara zhahir dan bathin sebagaimana yang telah disebutkan di atas, juga yang harus diperhatikan adalah permasalahan lisan. Menggunakan lisan ini juga perlu diterapkan ilmu padanya, sehingga akan terbedakan antara seorang thalibul ‘ilmi dengan seorang yang bukan thalibul ‘ilmi, terbedakan lisan seorang da’i dengan lisan orang pasar. Tidak berbicara kecuali kata-katanya dipertimbangkan, tutur katanya sesuai dengan adab dan akhlak yang mulia. Ini semua membutuhkan mujahadah (kesungguhan) dari kita. Maka beramal dengan ilmu merupakan sesuatu yang penting dalam hidup ini dan sekali lagi, tidak sebatas pengamalan secara zhahir saja, akan tetapi juga tidak kalah pentingnya adalah pengamalan ilmu dalam hal bathin dan juga pengamalan ilmu terkait dengan lisan. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah oleh kalian kata-kata yang lurus / baik, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal kalian. Dan Allah akan ampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia akan mendapatkan kesuksesan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

Menjaga lisan adalah termasuk bentuk sikap menjaga ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam yang akan mengantarkan seseorang kepada kesuksesan yang besar. Penjagaan lisan yang merupakan bagian dari penerapan ilmu juga akan menjadikan seseorang terbimbing dalam hidupnya, terarahkan amal perbuatannya dan terampuni dosa-dosanya.

Beramal dengan ilmu, khususnya kita yang berada di ma’had ini, hendaknya yang paling penting dan paling utama adalah kita memperhatikan pribadi dan diri kita terlebih dahulu. Ketika kita mendapatkan ilmu, cobalah kita renungkan bagaimana kemudian upaya kita di dalam mengamalkannya, kita berusaha mengamalkan ilmu itu sebelum mengajak yang lainnya. Dan berikutnya, ketika kita merasa mampu atau bisa mengamalkan ilmu tersebut, jangan kemudian ada pada perasaan kita suatu penilaian buruk terhadap orang yang belum mampu, karena ini akan menimbulkan sifat bangga diri dan merasa bahwa dirinya yang sudah bisa sementara orang lain tidak bisa. Tidak sedikit orang yang jatuh ke dalam sikap seperti ini, merasa dirinya lebih dari yang lainnya.

Adapun ketika kawan kita belum mampu mengamalkannya dan masih kurang dalam penerapan ilmu tersebut, maka yang hendaknya ditempuh adalah saling memberi nasehat dan peringatan agar dia bangkit semangatnya untuk beramal. Jangan merasa bahwa ketika kita mampu mengamalkan ilmu dan menerapkannya, kemudian timbul pada diri kita sikap memvonis bahwa si fulan tidak bisa atau tidak mampu mengamalkan ilmunya. Ini adalah sikap yang berbahaya. Bisa merusak keikhlasan ibadah kita. Ketika mendapati kekurangan pada kawan kita, bukan vonis buruk yang kita voniskan pada dia, tetapi upaya nasehatlah yang penting untuk kita sampaikan kepadanya. Karena posisi kita adalah sama-sama thullab, tugasnya adalah saling menasehati satu terhadap yang lain, bukan tugasnya saling memvonis fulan begini dan begitu. Tugas kita adalah belajar, tugas kita adalah ketika ada kekurangan dan kekeliruan pada suadara kita, untuk at-tawashi bil haq wat tawashi bish shabr, at-tanashuh (saling memberikan nasehat) yang dibangun di atas al-hubbu fillah (kecintaan karena Allah) dan di atas al-ukhuwwah, bukan saling menjatuhkan.

Sikap seperti ini penting untuk diperhatikan, karena terkadang seperti ini menimpa pada orang-orang yang punya kerajinan dalam hal ibadah, rajin dalam belajarnya, dan mempunyai prestasi dalam pelajarannya, terkadang muncul pada dia sifat merendahkan dan memvonis bahwa saudaranya yang memiliki kekurangan tadi tidak mampu untuk mengamalkan ilmunya.

Perkara Ketiga: Ad-Da’wah Ilaihi.

Yakni berdakwah di jalan Allah. Masing-masing dari kita bisa berposisi sebagai da’i, mengajak kepada kebaikan, at-tanashuh, dan at-tawashi (saling memberikan wasiat satu sama lain). Apabila hal ini benar-benar dijaga di ma’had kita ini, maka Allah subhanahu wata’ala akan memberi kita barakah dalam keseharian kita, barakah kepada ilmu kita, dan barakah dalam mu’amalah kita, dan juga ma’had kita ini. Akan tetapi kalau tidak ada upaya at-tanashuh, dan tidak ada upaya al-amr bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar dengan cara yang baik, maka barakah itu akan dicabut oleh Allah subhanahu wata’ala.

Upaya saling memberikan wasiat dan nasehat ini bisa dalam banyak hal. Mulai terkait dengan pelajaran, sampai terkait dengan keseharian kita. Yang terkait dengan keseharian pun bermacam-macam, contohnya adalah saling menasehati untuk menjaga nikmat Allah subhanahu wata’ala yang berupa pakaian, karena ada hamba-hamba Allah ‘azza wajalla yang dipersempit rizkinya, sedikit dari pakaian yang mereka miliki. Sedangkan kita, Allah subhanahu wata’ala telah memberi kita rizki pakaian, tetapi terkadang kurang kita perhatikan. Pakaian berhamburan dan berserakan tanpa ada yang memperhatikannya. Si pemiliknya pun sudah tidak peduli dengan pakaiannya tadi, padahal pakaian itu masih bagus dan bisa dipakai. Ini adalah bentuk tabdzir terhadap nikmat Allah subhanahu wata’ala.

Kalau kita lihat bagaimana sejarah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagian mereka hanya memiliki satu pakaian. Jika pakaiannya sedang dicuci, tidak bisa keluar rumah, karena tidak ada pakaian lain yang bisa dipakai. Bahkan Al-Khalifah Ar-Rasyid ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika memberikan khuthbah kemenangan atas pasukan Nashara di Palestina, pada pakaiannya terdapat bekas sobek yang dijahit dengan tangan. Dan juga Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu yang saat itu sebagai khalifah, berjalan di pasar Dimasyq dalam keadaan memakai pakaian sobek yang dijahit dengan tangan. Mereka mendapatkan kemuliaan di sisi Allah subhanahu wata’ala karena mereka benar-benar menjaga nikmat Allah subhanahu wata’ala.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ.

“Jika kalian bersyukur, maka pasti Aku akan tambahkan nikmat-Ku kepada kalian.” (Ibrahim: 7).

Mereka bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala, maka nikmat-nikmat tersebut senantiasa ditambah oleh Allah ‘azza wajalla.

At-tawashi bil haq dan at-tawashi bish shabr adalah sesuatu yang sangat penting dan merupakan bagian dari dakwah di jalan Allah. Dan tentunya kaidah umum yang terkait dengannya adalah bahwa dakwah itu dibangun di atas ilmu dan bashirah, al-hikmah dan al-mau’izhah al-hasanah. Karena at-tawashi dan at-tanashuh tersebut merupakan bagian dari dakwah, maka tidak bisa dilepaskan dari kaidah-kaidah tadi.

Jika kita ingin memberikan wasiat, ingin menasehati dan meluruskan saudaranya, maka harus benar-benar dilakukan di atas bashirah tentang apa yang akan disampaikan dan juga ditunaikan di atas asas al-hikmah, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan juga dibangun di atas asas al-mau’izhah al-hasanah, yaitu memberikan bimbingan yang baik.

Seorang muslim bukanlah orang yang suka mencaci dan yang kotor lisannya. Kata ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma:

لَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah orang yang berbuat keji dan bukan pula orang yang suka berbuat keji.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Seorang muslim bukanlah jenis orang yang asal bicara tanpa dipikirkan. Kita berupaya menghidupkan at-tawashi bil haq dan at-tawashi bish shabr, al-amr bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar di ma’had ini dengan jangan melupakan prinsip-prinsip tadi, yaitu bimbingan yang baik kepada pihak yang salah serta pengarahan yang sesuai dengan porsi dan tempatnya. Yang tua menyayangi yang muda, memberikan nasehat-nasehat dan arahan-arahan yang dibangun di atas dasar kasih sayang, bukan untuk menjatuhkan. Dan adapun yang muda, ketika mengingatkan yang tua, dibangun atas dasar penghormatan, dengan akhlak, adab, dan sopan santun yang baik di dalam memberikan nasehat atau masukan-masukan tersebut. Tidak asal bicara, mengucapkan kata-kata kotor, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk dijaga, karena syaithan sangat bersemangat untuk memisahkan seorang mu`min dengan mu`min yang lainnya. Sangat bersemangat untuk mencerai-beraikan ukhuwwah antar kaum muslimin, terlebih lagi antar thullabul ‘ilmi.

Ketika di ma’had sudah berselisih satu dengan yang lainnya, dan tidak memahami pentingnya ishlah dan ukhuwwah, maka akibatnya terus berkelanjutan hingga setelah keluar ma’had dan menjadi da’i, masih tersimpan benih-benih perselisihan. Yang satu mempunyai mad’u dan yang lain juga mempunyai mad’u, yang akhirnya membangun prinsip al-wala` wal bara`nya tidak lagi di atas jalur yang benar, tetapi masih diiringi dengan permasalahan-permasalahan pribadi, maka hal ini sangat mengkhawatirkan karena akan merusak dakwah ahlus sunnah wal jama’ah. Sehingga hal ini perlu diperhatikan dengan sebaik-baiknya.

Perkara Keempat: Ash-Shabru ‘Alal Adzaa Fiihi

Yaitu bersabar ketika mendapatkan rintangan dan gangguan di dalam menjalankan ketiga perkara di atas. Tanpa kesabaran, tidak akan bisa seseorang mendapatkan ilmu dan tidak akan bisa seseorang menjadi ‘alim. Para ulama menjadi a’immah karena memang ketika belajar, mereka benar-benar bersungguh-sungguh dan bersabar, dan yakin bahwa jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang haq.

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يُوقِنُونَ.

“Dan Kami jadikan mereka-mereka itu para pemimpin dalam urusan agama ini, yang membimbing umat manusia dengan apa-apa yang berasal dari Kami, ketika mereka itu bersabar dan mereka termasuk orang-orang yang yakin terhadap ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24)

Maka sabar dalam menuntut ilmu ini sangat penting bagi kita. Banyak sekali ujian di dalam menuntut ilmu. Terkadang diuji dengan sakit, kekurangan harta, atau yang lainnya. Diuji dengan mempunyai kawan yang kurang baik, sehingga membuat dia tidak semangat dan malas di dalam belajar. Atau diuji dengan ketidakcocokan terhadap pelajaran, diuji dengan kondisi ustadznya pada pelajaran tertentu, dan setumpuk ujian yang lain. Maka yang bersabar, insya Allah dia yang akan berhasil serta mendapatkan ilmu dengan baik dan barakah.

Kemudian bersabar ketika mengamalkan ilmu. Mengamalkan ilmu itu berat, lebih gampang membaca, mempelajari, dan menghafalnya. Sehingga dibutuhkan kesabaran untuk mengamalkan ilmu tersebut, di samping kesabaran itu disertai dengan do`a. Seorang muslim, apalagi thalibul ‘ilmi, hendaknya menjadikan do`a sebagai salah satu dari senjata hidupnya. Permohonan-permohonan kepada Allah ‘azza wajalla untuk dimudahkan dari berbagai macam kesulitan, permohonan agar diberi barakah dengan ilmunya tersebut, dan sebagainya. Termasuk berdo`a kepada Allah subhanahu wata’ala agar dimudahkan dalam mengamalkan ilmu, dimudahkan dalam berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala, bersyukur, dan beribadah kepada-Nya.

اللهم أعني على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك.

“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dari shahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu)

Berikutnya adalah bersabar dalam mendakwahkan ilmu. Misalnya saat memberikan nasehat kapada saudaranya, kemudian tidak didengarkan nasehatnya itu, atau tidak tampak ada perubahan padanya, maka tugas kita adalah menyampaikan nasehat, dan hidayah itu di tangan Allah subhanahu wata’ala. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah subhanahu wata’ala hanya perkenankan bagi beliau hidayatul irsyad, yaitu bimbingan-bimbingan dan pengarahan kepada umat manusia. Adapun hidayatut taufiq, hidayah untuk menerima Islam dan menjalankannya, murni di tangan Allah subhanahu wata’ala. Beliau sebatas sebagai orang yang memberikan tadzkir (peringatan).

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ.

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (Al-Ghasyiyah: 21-22)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang mudzakkir, yaitu pemberi peringatan, bukan mushaithir, yaitu yang menguasai dan memberi hidayah. Maka terlebih kita, ketika menyampaikan nasehat dan arahan kepada kawan-kawan kita, kalau ternyata tidak diamalkan, maka hendaknya kita bersabar. Tugas kita adalah menyampaikan, dan insya Allah kita akan mendapat ajr (pahala) dengan amalan tersebut jika memang dibangun di atas keikhlasan karena Allah subhanahu wata’ala.

Inilah empat perkara yang harus benar-benar kita perhatikan dalam hidup ini, yaitu yang pertama adalah ilmu, dan yang terpenting dari ilmu ini adalah ma’rifatullah, ma’rifatu nabiyyihi, dan ma’rifatu diinil islaam bil adillah. Kemudian yang kedua adalah beramal dengan ilmu tersebut. Yang ketiga adalah berdakwah dengan ilmu tersebut. Dan yang keempat adalah bersabar ketika menuntut ilmu, mengamalkan ilmu dan berdakwah dengan ilmu. Keempat perkara ini merupakan kandungan dari surat Al-’Ashr yang barangsiapa menjalankannya, akan terlepas dari golongan orang-orang yang merugi dalam hidupnya di dunia dan akhirat.

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3)

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. والحمد لله رب العالمين.

Ditranskrip oleh tim redaksi assalafy.org dan ditampilkan setelah proses editing.

(sumber:http://www.assalafy.org)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: