jump to navigation

CINTA SEJATI DAN PERNIKAHAN 27 Februari 2011

Posted by jihadsabili in cinta, munakahat.
trackback

CINTA SEJATI DAN PERNIKAHAN

Cinta itu misteri, tidak ada kata-kata yang bisa mewakili kedalamnya. Cinta adalah sebuah samudera yang kedalamannya tak terukur….

SUBHANALLAAH…

 

Ibnul Qayim mengungkapkan dalam Madarij As-Salikin beberapa definisi cinta, antara lain sebagai berikut :

(1) Kecenderungan seluruh hati yang terus-menerus (kepada yang dicintai).

(2) Kesediaan hati menerima segala keinginan yang dicintainya.

(3) Kecenderungan sepenuh hati untuk lebih mengutamakan yang dicintai daripada diri dan harta sendiri, seia sekata dengannya, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, kemudian merasa bahwa kecintaan tersebut masih kurang.

(4) Pengembaraan hati karena mencari yang dicintai, sementara lisan senantiasa menyebut-nyebut namanya.

(5) Menyibukkan diri untuk mengenang yang dicintainya dan menghinakan diri kepadanya.

 

Cinta adalah pengorbanan

Cinta adalah tanggungjawab

Cinta adalah keindahan

Cinta adalah perjuangan

 

Cinta memiliki dua klasifikasi berdasarkan sumber kemunculannya.

 

Pertama : cinta yang bersifat fithri jibili (cinta bawaan) yang sudah Allah ciptakan secara alami pada jiwa manusia. Cinta ini tidak menyebabkan seorang hamba dicela karenanya. Sebab, Allah memang telah menciptakannya seperti itu sebagai fitrah pada dirinya. Seperti cinta seseorang pada anak, suami terhadap istri ataupun sebaliknya, cinta pada jenis makanan tertentu, cinta kepada tanah air, rekan atau handaitaulan .

 

Kedua : cinta yang bersifat sababi kasbi, yakni cinta yang muncul karena diusahakan, karena dimunculkan melalui proses yang dilakukan oleh manusia yang mengindap cinta tersebut. Ia adalah cinta yang muncul karena adanya kehendak dari orang yang memiliki cinta tersebut. Sehingga Allah akan menghisap manusia tersebut, kalau gara-gara cinta itu ia berpaling dari hal-hal yang diridhai oleh Allah.

 

Kekuatan cinta :

Mampu membuat seorang yang lamban dan malas menjadi lincah dan terampil.

Mampu mengubah si kikir menjadi dermawan, mengubah si pemarah dan kaku menjadi penyabar dan penuh toleransi. Menghaluskan jiwa, menyingkirkan rasa malas dan memperlembut kondisi rohani, menyucikan perasaan, mengutuhkan sasaran hidup dan konsentrasi, serta menghilangkan segala bentuk kebingungan. Melepaskan manusia dari egoism dan cinta diri. Cinta mampu memompa semangat seorang ayah untuk mencari penghasilan sebanyak-banyaknya untuk kebahagiaan anak dan istrinya.

 

Cinta dalam arti rasa suka dan sayang, memegang peranan sangat penting untuk kelanggengan sebuah rumah tangga.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau seorang lelaki berkesempatan untuk melihat pada diri wanita itu sesuatu yang mendorongnya untuk mau menikahinya, hendaknya ia melakukannya.” (diriwayatkan oleh Abu Dawud II:228, oleh Ahmad III:334 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak I:179)

 

Ibnu Hajar menjelaskan,”mayoritas ulama berpendapat bahwa seorang muslim dianjurkan melihat wanita yang hendak dipinangnya.”(Fath Al-Bari IX:181)

 

Imam Al-Mubarakfuri memberikan penjelasan,”Arti ‘yang mendorong untuk menikahinya’, adalah dengan melihatnya, akan lebih baik, lebih pantas dan memungkinkan terjadinya persesuaian antara keduanya. (Tuhfah Al-Ahwadzi IV:175)

Sangatlah keliru, seorang muslim yang berpendapat bahwa rasa cinta itu tidak diperlukan dalam sebuah pernikahan. Hadist di atas menunjukkan kebalikannya. Rasa cinta adalah obor utama yang mendorong seseorang untuk menikahi pasangannya.

 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya “Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqqin menyatakan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan tumbuhnya perasaan cinta, yaitu :

–       Sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang yang membuatnya dicintai oleh kekasihnya.

–       Perhatian sang kekasih terhadap sifat-sifat tersebut.

–       Pertautan antara seseorang yang sedang jatuh cinta dengan orang yang dicintainya.

 

Hal ini diakui oleh Islam dan oleh semua orang yang menentang Islam bahawa tali cinta akan melemah jika terdapat kekurangan dari ketiga faktor tersebut.

Islam membedakan antara cinta dan seks sebagai nafsu. Cinta adalah mawadah wa rahmah, sedangkan nafsu seks sebagai naluri adalah nafsu syahwat. Keduanya hanya bisA bersatu dalam perkawinan, karena berseminya cinta yang terjadi sesudah pernikahan adalah cinta yang dijamin oleh Allah Ta’ala, sebagai tercantum dalam surat ArRum ayat 21:  “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan -Nya ialah Dia menciptakan untukmuisteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram

kepadanya, dan dijadikan -Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi

kaum yang berfikir”.

 

Ibnu Qayyim berkata,”Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta, malah cinta diantara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan permusuhan, karena bila keduanya telah merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak bias tidak akan timbul keinginan lain yang belum diperolehnya.” Cinta sejati akan ditemui dalam pernikahan yang dilandasi oleh cinta kepada-Nya.

 

Persoalannya, bagaimana bila rasa cinta itu muncul jauh-jauh hari sebelum terbersit rencana pernikahan? Seorang pemuda yang jatuh cinta terhadap gadis tetangganya? Atau seorang pelajar atau siswa yang tertarik dan menaruh hati pada teman sekolahnya?

 

Bila ketertarikan itu muncul secara wajar, bukanlah persoalan. Yang menjadi persoalan adalah apabila cinta itu dilampiaskan dengan cara yang haram. Satu-satunya cara yang halal untuk melampiaskan cinta tersebut hanyalah menikah. Kalau belum mampu menikah, tidak ada satu carapun yang bias menyelesaikan kasus penyakit cinta tersebut. Ia justru harus memeranginya, bukan karena haramnya cintakasih, namun karena haramnya cinta itu dilampiaskan diluar syariat.

Sebagai analoginya, mungkin bisa kita cermati makanan dan minuman. Betapa lezatnya suatu makanan , dan betapa laparpun kita meski makanan itu halal, namun saat kita sedang berpuasa wajib di bulan Ramadhan, kita harus menahan diri dan gejolak nafsu dalam jiwakita hingga tiba saatnya berbuka. Kalau khawatir kesegaran makanan tersebut berkurang, berikan saja kepada orang yang sedang tidak berpuasa. Artinya, bila tiba saat berbuka dan Allah menakdirkan kita tetap bisa menyantap makanan itu, alhamdulillah…. Namun bila tidak, ya tidak apa-apa.

 

Bila rasa cinta itu masih menggeliat di hati seseorang, sementara ia belum mampu menikahinya, maka rasa cinta itu tidak boleh dipupuk. Karena melampiaskan cinta kasih dengan mengobrol, berbual-bual, saling melihat dan bepergian bersama-sama adalah haram. Dan sebenarnya cinta yang seperti itu lebih layak disebut nafsu asmara, bukan cinta sejati. Balutannya adalah nafsu, bukan iman. Karena orang yang ingin menyantap makanan yang bukan miliknya, atau yang haram hukumnya bila dimakan, atau menggauli wanita yang bukan istrinya, mencabut tanaman yang bukan kepunyaannya, berarti telah memiliki nafsu untuk berbuat kezhaliman, berbuat haram dan melakukan pelanggaran terhadap aturan Allah.

 

Cobalah simak hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Jangan melihat lawan jenis lebih dari satu kali. Karena melihat yang pertama (tanpa sengaja) adalah mubah, tapi yang kedua sudah haram.” Juga sabda beliau kepada Ali,”Palingkan pandanganmu dari wanita itu.”

 

Maka, jelas seorang muslim atau muslimah dilarang saling melihat lawan jenisnya untuk mengobrol berlama-lama, apalagi bila di hati mereka sudah tertanam rasa saling suka menyukai yang menyebabkan pandangan bukan hanya berulang dua kali, tapi puluhan atau bahkan ratusan kali, nah, berapa banyak dosa yang dia tumpuk selama mengobrol dengannya?

Nafsu asmara seperti itu disebut panah iblis. Cara mengatasinya adalah dengan banyak berzikir dan beribadah, serta menjauhi pergaulan dengannya dan dengan teman-teman dekatnya, agar seorang muslim atau muslimah tidak terjerumus ke dalam keharam demi keharaman.

 

Amat disayangkan, bahwa pelbagai acara sinetron dan juga film layar lebar mengajarkan kalangan muda untuk memandang nafsu asmara haram itu sebagai ‘pengalaman yang harus dicoba’. Pengalamn itu, tentu saja bukan pengalaman yang didapat dalam sebuah mahligai pernikahan, tetapi melalui berbagai cara haram pula, seperti perkenalan melalui telepon, di pasar(mall), atau supermarkat, terkadang juga di sekolah-sekolah yang masih mencampurbaurkan pria dan wanita dan melalui cara lainnya. Seperti disebutkan dalam sebuah syair Arab jahiliyyah : “ cinta wanita itu mendatangiku sebelum aku mengenal cinta, ternyata cinta itu masuk ke dalam hati yang hambar sehingga mengakar di sana.”

 

Cinta tak terlampiaskan adalah cinta terhadap lawan jenis yang tidak diselesaikan dengan pernikahan. Cinta ini akan berkembang menjadi magma nafsu yang bergolak, lalu mengucur deras seperti lahar panas mengguyur alam kehidupan seorang muslim yang sebelumnya teduh dengan iman. Berbagai akibat buruk juga datang silih berganti. Sehingga terjerumuslah ia dalam lembah syahwat yang akan segera membukakan kepadanya pintu-pintu maksiat kepada Allah secara bertubi-tubi…Nau’zubillah….

 

Diantaranya:

  1. Berkurangnya rasa cinta kepada Allah. Sementara cintanya terhadap sesama makhluk jelas tidak akan pernah memberikan manfaat atau mudharat apapun dengan sendirinya.

 

  1. Mendahulukan apa yang menjadi kesukaan kekasihnya, daripada kesukaan Allah. Ibnul Qayyim menjelaskan,”Kalau orang yang sedang dilanda asmara itu disuruh memilih antara kesukaan pujaannya itu dengan kesukaan Allah, pasti ia akan memilih yang pertama. Iapun lebih merindukan perjumpaan dengan kekasihnya itu, ketimbang pertemuan dengan Allah yang mahaKuasa. Lebih dari itu, angan-angannya untuk selalu dekat dengan sang kekasih lebih dari keinginannya untuk dekat dengan Allah”.

 

  1. Cinta buta. Artinya, cinta asmara itu membuat orang buta. Semua orang mengakui adanya realitas itu. Tapi sayang, sedikit di antara mereka yang enggan menjadi orang buta. Kebanyakannya justru menikmati kebutaan itu. Cinta itu pula, yang membuat seorang pecinta rela meniru habis-habisan. Meniru cara berpakaian, cara berbicara, bahkan hingga mimik wajah dan yang lainnya.

 

  1. Keganjilan. Asmara dapat menimbulkan berbagai hal yang aneh pada diri orang yang kasmaran. Karena asmara, dapat membuat orang menjadi linglung, menjadi mampu bertindak gila-gilaan atau bahkan membikin orang gila beneran.

 

Orang yang jatuh cinta akan rela mengorbankan apa saja demi yang ia cintai. Cinta menjadikan segalanya indah, meski harus dilalui dengan penderitaan. Cinta melahirkan pengorbanan dan prioritas.

 

Cinta asmara dengan berbagai akibatnya tersebut tentu harus dilenyapkan atau diberi pengikat yang mampu menjinakkannya dan mengubahnya menjadi ‘percintaan’ di jalan Allah.

 

Saat cinta menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan ini, maka cinta sejati harus pula berujung pada kehidupan, bukan kematian, cinta sejati adalah cinta yang menggiring setiap pecinta menuju kehidupan abadi.

Segala wujud cinta yang menghiasi kehidupan sebahagian manusia yang hanya mengantarkan para pecintanya kepada kebersatuan sehidup semati yang semu, yang bukan berada di atas rel ajaran Allah yang suci. Semua bentuk cinta seperti itu bukanlah cinta sejati, karena cinta itu akan dan hanya berproses saat hidup, untuk kemudian berakhir di titik nafas terakhir. Cinta adalah kehidupan, maka sempurnakanlah cinta itu dengan keabadian.

 

Cinta memang tak kenal warna. Cinta dalam sudut pandang picik tak kenal baik-buruk. Cinta tak kenal rupa dan pertalian darah. Memang begitulah adanya. Karena yang mampu mengenal warna dan baik-buruk adalah pelaku-pelaku cinta yang menggunakan akal pikirannya. Cinta mereka itulah CINTA SEJATI. Cinta yang mampu melahirkan pribadi-pribadi yang mengagumkan. Pribadi yang tak takut kehilangan suatu apapun, walau ia amat mencintai sesuatu itu. Namun, karena cinta yang hadir dipenuhi dengan nuansa keimanan, maka mereka rela mengorbankan apa saja yang amat mereka cintai demi memperoleh keridhaan Dzat Pemberi cinta – Allah Subhana wa Ta’ala.

Jiwa mereka tidak pernah merasa gundah gulana hanya karena kehilangan cinta duniawi, demi keridhaan Allah sebagai Dzat pemberi ketentraman. Pribadi-pribadi taat ini amat menyadari bahwa cinta hanyalah sebagai sarana mencapai tujuan. Mereka yakin bahwa kenikmatan cinta tak ada artinya tanpa ada keridhaan Allah sebagai pemberi cinta. Maka, yang mereka cari adalah ridha dan cinta kasih Allah, bukan cinta yang bersifat sementara….

Dengan cinta kita dapat memahami tempat yang dituju setelah mati, SURGA atau NERAKA….

Pentingnya Membangun Rumah Tangga Dan Keterikatan Hati Didalamnya

Sesungguhnya pengaruh yang paling besar dalam hal tersebut bagi pribadi maupun masyarakat adalah membangun rumah tangga dan konsekuensi dalam menjalankan segala haq dalam urusan rumah tangga, dengan hikmah Allah Subhana wa Ta’ala

menjadikan keluarga sebagai tempat kembali yang mulia, yang didalamnya kehidupan manusia baik laki-laki maupun perempuan diatur, menetap, dan merasa senang di dalamnya.

Allah Subhana wa Ta’ala Yang Maha Suci nama-nama -Nya, berfirman di dalam Al-

Qur’an sebagai penguat bagi hamba-hamba -Nya:

<span>وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ</span>أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْمَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍيَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan -Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteramkepadanya, dan dijadikan -Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagikaum yang berfikir.”(Ar Ruum:21)

 

Ya, ‘supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya”, bukan “supaya tinggal bersamanya”, ungkapan tersebut sebagai penguat makna istiqror (tinggal) dalam hal perilaku, perasaan tenang, terwujudnya kedamaian dan ketenangan, dan hal-hal yang semakna dengannya. Sehingga setiap pasangan akan saling menemukan ketenangan dari pasangannya ketika merasa gundah, dan muka yang manis ketika merasa sempit.

Sesungguhnya pondasi dari keterikatan suami istri adalah kebersamaan dan saling mendampingi dalam kebersamaan mewujudkan kasih sayang, perasaan senang dan saling mengasihi. Dan keterikatan seperti inilah yang merupakan keterikatan yang sangat kokoh tanpa batas waktu, seperti hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Allah Subhana wa Ta’ala menjelaskan kepada kita di dalam kitabnya:

<span>أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</span>

<span>Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.</span>(al-Baqarah: 187)

 

“…mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka....”

 

Lebih dari itu, ikatan ini merupakan persiapan untuk pendidikan putra putri dan mengurusi pertumbuhan mereka yang tidak akan mengkin terwujud melainkan dibawah asuhan ibu yang penuh kasih sayang dan ayah yang bersungguh-sungguh dalam berkerja. Keadaan manakah yang lebih suci lagi mulia dari suasana keluarga yang

mulia seperti ini?

 

Sesunggunhya Allah telah memberikan ni’mat kepada hamba-hamba-Nya dengan disyari’atkannya perkawinan, karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak dan dampak yang baik.

Allah _ berfirman:

Dan diantara tanda-tanda kekuasaannya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benarbenar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

(QS. Ar-rum: 21).

 

Perkawinan merupakan batu-bata (bahan bangunan) yang baik untuk membangun keluarga yang shaleh dalam masyarakat. Islam telah mengatur kehidupan suami-isteri dengan suatu sistem yang indah dari Rabb yang Maha bijaksana dan Maha  mengetahui. Islam telah memberikan penjelasan tentang ukuran-ukuran kehidupan suami-isteri yang bahagia yang menghantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Para suami isteri yang muslim –semoga Alah memberi taufiq kepada anda berdua untuk setiap kebaikan- hendaknya mengetahui, bahwa mewujudkan kebahagiaan ini merupakan sesuatu yang mudah bagi yang dimudahkan oleh Allah.

Allah _. berfirman:

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-thalaq: 4).

 

Mereka hanya dituntut untuk bertakwa kepada Allah dengan seluruh makna yang terkandung dalam kata takwa tersebut, karena takwa kepada Allah merupakan dasar untuk setiap kebaikan. Allah _. berfirman:

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama

dengan dia ke dalam neraka jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (QS. At-Taubah : 109).

 

Para suami-isteri hendaknya menjalankan kewajiban-kewajiban yang seharusnya bagi mereka, dan memperhatikan untuk melakukan pergaulan yang ma’ruf antara keduanya. Pada saat itu akan tercipta kebahagiaan suami isteri dengan pertolongan Allah. Keduanya akan memetik buahnya yang indah, dan anak-anak akan terdidik bersama dua orang shaleh dan bahagia. Dengan demikian akan tumbuh suatu keluarga yang baik, sebagaimana akan tumbuh suatu masyarakat muslim yang bahagia. Segala puji bagi Allah atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita berupa hukum-hukum syari’at yang tinggi yang menghantarkan kita kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sebagai penutup, saya berikan kepada pasangan suami-isteri suatu hadiah yang diambil dari Kitabullah dan sunnah Rasulullah _ Semoga hadiah ini –dengan pertolongan Allah dan taufiqNya- akan menjadi cahaya yang menyinari mereka berdua.

Allah _ berfirman tentang beberapa sifat para hamba-Nya:

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

 

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

bersabda: “Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap para isterinya.” (HR. Turmizi, ia berkata: hadits hasan shahih).

 

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Amir adalah pemimpin, dan orang laki-laki adalah pemimpin keluarganya. Orang perempuan adalah pemimpin rumah dan anak-anak suaminya. Maka setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya.” (Muttafaq alaih).

 

Saya memohon kepada Allah agar memberi taufiq kepada setiap suami-isteri yang muslim menuju setiap hal yang dicintai dan diridhai-Nya, menjadikan keduanya bahagia di dunia dan akhirat, dan memberikan kepada mereka keturunan yang baik, serta menjadikan keturunan tersebut berbakti dan sedap di pandang oleh kedua orang tua mereka.

Sesungguhnya Rabbku Maha dekat, Maha mengabulkan dan Maha mendengarkan do’a.

 

Wallahu’alam…

 

Diringkas dari :

NASEHAT UNTUK KELUARGA MUSLIM, YUSUF BIN ABDULLAH AT TURKI

SUTRA ASMARA, ABU UMAR BASYIR

RUMAH TANGGA BAHAGIA DAN PROBLEMATIKANYA, DR. SHALIH BIN ABDULLAH BIN HUMAID

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: