jump to navigation

PENGINGAT BAGI YANG LUPA 2 23 Februari 2011

Posted by jihadsabili in nasehat.
trackback

PENGINGAT BAGI YANG LUPA 2

Akhi…

 

Sekali lagi, kalau kau tersinggung dengan ucapanku. Mohon janganlah kau lihat siapa saya, kawanmu ini. Saya tidak ada apa-apanya. Namun, sekali lagi, kumohon lihatlah siapa orang yang perkataannya kuhadirkan padamu. Salaf memberi nasehat kepada kita dengan untaian katanya di bawah ini:

 

فتفهم يا أخي ما أوصيك به إنما بصرك نعمة من الله عليك فلا تعصه بنعمه وعامله بغضه عن الحرام تربح واحذر أن تكون العقوبة سلب تلك النعمة وكل زمن الجهاد في الغض لخطة فإن فعلت نلت الخير الجزيل وسلمت من الشر الطويل

 

“Pahamilah wahai saudaraku apa yang aku pesankan kepadamu…

 

Penglihatanmu tidak lain adalah nikmat dari Allah atasmu…

 

Janganlah mendurhakai-Nya dengan menggunakan nikmat-Nya….

 

Perlakukanlah penglihatan tersebut dengan menahannya dari yang haram,

 

Maka kamu beruntung.

 

Jangan sampai engkau mendapat sangsi berupa hilangnya kenikmatan itu.

 

Waktu berjihad untuk menahan pandangan adalah sejenak.

 

Jika kau melakukannya, kau ‘kan dapatkan kebaikan yang banyak,

 

dan selamat dari keburukan yang panjang.”

 

[lihat ذم الهوى , karya أبو الفرج عبد الرحمن بن أبي الحسن الجوزي, hal. 143 ]

 

Akhi…

 

Sekali lagi, demi Allah, saya tidak melarangmu untuk berdakwah, termasuk dakwah kepada wanita. Sudah kuterangkan di atas bahwa Nabi pun berdakwah kepada wanita.

 

Namun, wahai akhi…

 

Antum memiliki kewajiban yang besar sebelum antum berdakwah, yaitu ilmu! Sudahkah kita berdakwah dengan ilmu? Akhi ini kutujukan pula untuk diriku: Manakah waktu yang lebih banyak kita habiskan? Mendakwahi wanita itu, atau waktu kita dalam mengikuti majelis ilmu? Silakan kita jawab sendiri.

 

.

 

Akhi…

 

Laki-laki memang tidak dilarang bahkan bisa diwajibkan mendakwahi wanita, sebagaimana yang Nabi dan para shahabat lakukan…

 

Namun, mendakwahi mereka tidak harus lewat facebook kan? Antum bisa membuat blog/webiste yang dari situ antum bisa menulis risalah. Antum bahkan bisa berbicara di alam nyata jika diperlukan, selama tidak ada khalwat. Namun, tidakkah kita ingat bahwa para shahabat menimba ilmu dari istri Nabi tidak berhadapan langsung, tetapi di balik tabir?

 

Jika ingin berdakwah, antum bisa menukilkan artikel bermanfaat, lalau kau cantumkan di facebookmu.. Antum juga bisa membuat page, atau grup yang dengannya kau bisa kirimkan artikel kepada kaum muslimin atau muslimah sehingga bisa membaca nasehatmu. Itu saja! Lalu kau log-out dari FB. Selesai kan? TANPA KITA HARUS MELIHAT-LIHAT LAWAN JENIS dan berbincang-bincang dengannya.

 

Akhi… di saat antum akan mendakwahi wanita, di saat itu pula antum harus menjaga diri antum untuk jauh.. menjauh sejauh-jauhnya dari pintu fitnah!

 

Tidak ingatkah akhi bahwa para shahabat ketika ingin menimba ilmu kepada para istri nabi, mereka lakukan di balik tabir? Di balik tabir akhi…! Bukan melihat wajah-wajah wanita yang kau add di facebookmu itu!

 

.

 

Akhi…

 

Jangan kau anggap ini kaku. Kalau akhi tidak percaya. Silakan periksa sendiri. Demi Allah, silakan periksa sendiri para akhwat teman-teman lama antum ketika di SLTP / SMU dulu, termasuk di kampusmu yang kau add di FB-mu.

 

Berapa di antara mereka yang menerima nasehatmu dalam praktik yang nyata?

 

Hingga para akhwat tersebut memakai hijabnya…

 

Menutupi wajahnya dari pandanganmu…

 

Meninggalkan maksiat-maksiat karena menrima nasehatmu..

 

Atau akhwat-akhwat itu hanya katakan,

 

“Subhanallah akhi…,

 

bagus sekali nasehatnya….,

 

izin share ya….

 

Saya di-tag dong…

 

Kok ana tidak di-tag akhi…?

 

Makasih ya bang telah di-tag…

 

Jangan bosan-bosan nasehatin ana…”

 

Bah! Jangan terburu-buru kau biarkan hatimu berbunga-bunga dengan kata-kata di atas akhi, karena

 

و خلق الإنسان ضعيفا

 

“Manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah”

 

(Q.S. An-Nisa’: 28)

 

maka ingatlah bahwa jika akhwat itu bisa berkata-kata lembut kepadamu, padahal dia bukan istrimu, tentu dia pun akan bersikap demikian pada laki-laki lain, selain dirimu!

 

أفق يا فؤادي من غرامك واستمع … مقالة محزون عليك شفيق

 

علقت فتاة قلبها متعلق … بغيرك فاستوثقت غير وثيق

 

Sadarlah wahai hati dari kasmaranmu, dan dengarkan!

 

Ucapan kesedihan dan kasihan kepadamu…

 

Kamu terpikat dengan gadis yang hatinya terpikat dengan selainmu!

 

.

 

Akhi….

 

Sebelum kau terpukau dengan gaya bahasa para akhwat itu, ingatlah bahwa Nabi memberikan peringatan kepada kita

 

ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء

 

”Aku tidak meninggalkan sepeninggalku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki ketimbang wanita”

 

[ H.R Bukhari dan Muslim ]

 

.

 

Akhi…

 

Apakah kau tidak merasakan kesedihan sebagaimana yang kurasakan? Akhi… Bagaimana mata ini tidak mengalir di saat kita baca pesan istri Nabi, Aisyah, berkata,

 

لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء اليوم لنهاهن عن الخروج أو حرم عليهن الخروج

 

“Seandainya Rasulullah melihat apa yang diperbuat kaum wanita pada hari ini, niscaya beliau melarang mereka keluar rumah atau mengharamkan mereka keluar rumah”

 

[lihat beserta sanadnya di ذم الهوى , karya أبو الفرج عبد الرحمن بن أبي الحسن الجوزي, hal. 154][1]

 

Ya.. Allah, ‘afallahu ‘anhunna…

 

.

 

Akhi… Kapan Aisyah (radhiyallahu ‘anha) mengatakan demikian? Kapan…? Kapan…? Lebih dari seribu tahun yang lalu, akhi, di saat Islam masih di puncak kejayaannya, di saat para shahabat yang menerima langsung pengajaran nabi masih hidup.

 

.

 

Duhai Ibunda, Aisyah….

 

Kau katakan demikian…

 

di kala Nabi belum lama wafat meninggalkan dirimu…

 

di kala para shahabat terbaik masih hidup di antaramu..

 

Kau katakan demikian…

 

di kala para wanita masih tutupi dirinya dengan hijab kemuliaan

 

Aku tahu tak tahu apa yang ‘kan kau katakan…

 

Jika kau hidup di masa kami…

 

Di saat kami tenggelam dalam kotornya dunia…

 

Di saat manusia menghiasi dirinya dengan tipisnya rasa malu…

 

Di saat kaum wanita ceburkan dirinya dalam alam tabu…

 

.

 

Maka, demikian pula Engkau wahai saudariku muslimah! Jikalau tulisan ini sampai kepadamu, mengapa tidak kau katakan kepada kami, para laki-laki, suatu ucapan yang kami justru bangga mendengarnya jika kau ucapkan:

 

إليك عني! إليك عني! … فلست منك و لست مني

 

Menjauhlah kau dariku…! Menjauhlah kau dariku…!

 

Karna aku bukan milikmu…

 

Dan kau pun bukan bagian dari ku…

 

Ya ukhti…

 

Mengapa mau add, atau kau terima permintaan pertemanan facebook dengan para laki-laki, sementara ia bukan milikmu?

 

Belumkah kau ketahui tahu bahwa

 

إن الرجال الناظرين إلى النساء

 

مثل السباع تطوف باللحمان

 

إن لم تصن تلك اللحوم أسودها

 

أكلت بلا عوض و لا أثمان

 

Laki-laki ketika melihat wanita…

 

Seperti bintang buas ketika melihat daging…

 

Jika daging-daging itu tidak disimpan dengan rapi…

 

Ia ‘kan dibabat tanpa konpensasi apapun dan tanpa harga…

 

.

 

Ya ukhti…

 

Belumkah sampai kepadamu pesan Nabi kita?

 

يا معشر النساء تصدقن وأكثرن الاستغفار فإني رأيتكن أكثر أهل النار

 

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar! Sesungguhnya aku melihat kalian sebagai penghuni mayoritas di neraka.

 

(H.R. Muslim: 132)

 

Wahai ukhti…

 

Tidakkah kau ingat bahwa kau pun diperintah untuk menahan pandanganmu?

 

وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمرهن على جيوبهن

 

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka! Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka! Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka!”

 

(Q.S. An-Nuur: 31)

 

—bersambung—

 

Ahad, 14/11/1430 – 1 November 2009

 

Ba’da shuhuh yang cerah di Masjid Al-‘Ashri,

 

Menjelang dimulainya kajian kitab Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad

 

.

 

CATATAN KAKI:

 

[1] Terdapat riwayat dari Aisyah yang mirip dengan atsar di atas, yaitu dalam shahih Muslim (cetakan دار إحياء التراث العربي – بيروت Juz I, hal. 445, hadits nomor 144):

 

 

عن عمرة بنت عبدالرحمن أنها سمعت عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم تقول

 

: لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء لمنعهن المسجد كما منعت نساء بني إسرائيل قال فقلت لعمرة أنساء بني إسرائيل منعن المسجد ؟ قالت نعم

 

lihat pula lafadz ini dalam :

 

1. Musnad Ahmad bin Hambal (cetakan مؤسسة قرطبة – القاهرة ) Juz VI, hal. 193, hadits nomor 25.651

2. Musnad Ishaq bin Rahwiyah (cetakan مكتبة الإيمان – المدينة المنورة), Juz II, hal. 148, hadits nomor 639; dan Juz II, hal. 426, hadits nomor 897.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: