jump to navigation

KETEGUHAN : namun aku terperanjat ketika ia bertanya, siapa imam masjidmu.. 30 Januari 2011

Posted by jihadsabili in nasehat.
trackback

KETEGUHAN : namun aku terperanjat ketika ia bertanya, siapa imam masjidmu..


Kesabaran yang terbaik begitu cepat memberi jalan kemenangan
Barangsiapa yang membenarkan Allah dalam segala hal, pasti mendapat keselamatan … Barangsiapa yang takut kepada Allah, tidak akan mendapat kesulitan
Dan barangsiapa yang berharap kepada Allah, akan mendapat sesuai apa yang diharapkan

Semenjak enam bulan, aku mulai bersiap-siap menikah..

Langkah pertama, aku akan mencari wanita yang paham agama. Aku tidak mendapatkan kesulitan untuk itu. Ada seorang wanita yang banyak mendapat pujian diceritakan kepadaku tentang kebaikannya. Aku pun maju melamar kepada orang tuanya. Seorang tua yang berwibawa, umurnya lebih dari enam puluh tahun. Aku tidak heran melihat caranya berbicara dan keterbukaannya terhadapku. Namun aku terperanjat ketika ia bertanya: “Siapa Imam masjidmu?”

Kemungkinan ia memulai pertanyaan tentang pengetahuanku terhadap siapa yang dalam masjid tersebut.

Aku meminta pilihan kepada Allah tentang urusan pernikahan ini. Aku melakukan shalat istikharah. Jiwaku pun menjadi demikian tentram.

Setelah segala urusannya sudah beres, dan aku sudah mengetahui persetujuannya, tinggal satu urusan lagi. Aku dahulukan satu langkah, baru yang lain. Tetapi bagaimana aku akan berterus-terang kepada orang tuanya itu..?

Akt tidak khawatir bila ia menolak, namun kejahilan sebagian orang terhadap hukum syariat terkadang menyulitkan anda.

Ternyata, ketika aku ajukan permintaan itu, orang tua itu berkata menimpali: “Itu adalah perintah yang dianjurkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

“Lihatlah wanita itu, karena itu lebih layak untuk membuat adanya keselarasan di antara kalian berdua.”

Yang terbaik dalam segalanya adalah, mencari jalan paling ringkas.

Mulai sekarang, segala urusannya sudah beres. Itu lebih baik, daripada menjadi masalah dikemudian hari. Urusan tidak terhenti di situ saja, bahkan telah datang bulan yang penuh dengan pekerjaan. Berbagai langkah berikut datang susul menyusul. Bulan persiapan perkakas rumah tangga, disusul dengan berbagai persiapan lain.

Tetapi aku tidak tahu, di mana ada pasar? Aku tidak tahu kemana harus pergi? Namun untuk meringkas waktuku, aku sengaja membeli keperluan dari tempat-tempat yang dekat saja, meskipun harganya lebih tinggi. Waktu bagiku lebih berharga daripada pengeluaran harta yang lebih banyak. Setiap kali aku lelah mencari keperluan, aku teringat, bahwa wanita yang kenal dengan agama itu akan memberi kesenangan kepada suami, maka aku pun tetap gembira dan rasa lelahku pun berkurang..

Pada suatu hari, aku pulang berkendaraan dengan membawa sesuatu, senyum menghias bibirku. Namun senyum itu sebentar saja hilang dikala aku menyalakan radio, apa yang kudengar? Banyak kaum muslimin yang terluka di mana-mana. Berita penyiksaan dan pembunuhan yang membuat miris hati, yang dengan segera menghilangkan senyuman dan menghentikan denyut jantung anda. Coba dengar, mereka disembelih layaknya seekor kambing. Semoga Allah memberikan rahmat atas masa yang telah berlalt. Aku mengecam diriku sendiri, “Bagaimana engkau masih tersenyum, sementara engkau melihat dan mendengar berita semacam itu?”

Aku arahkan pandangan menuju Islam di satu negeri
Kudapati ia laksana burung tak bersayap lagi..

Senyumanku dengan cepat menghilang, sebagaimana ia datang dengan cepat. Dan memang selayaknya demhkian..

Aku berfikir dan merenung terus tentang kenyataan ini. Aku adalah seorang dai. Sebagian besar waktuku di luar pekerjaan formalku kuhabiskan demi dakwah. Masih ada sedikit waktu yang tersisa, kugunakan untuk membaca..

Terkadang aku membutuhkan waktu yang lebih lama lagi di waktu siang untuk menyelesaikan pekerjaanku. Sebuah pertanyaan mencuat: “Bagaimana aku mengkompromikan antara yang ini dan itu…?

Namun aku teringat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau adalah Nabi umat ini, pengajar mereka sekaligus juga komandan mereka..

Meskipun berat tugas kerasulan yang beliau pikul, tetapi beliau tetap dapat memberikan segala sesuatu kepada orang yang berhak memilikinya.. Beliau adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus komandan. Beliau adalah pembina dan instruktur. Beliau juga seorang hakim dan pemutus perkara. Amalan-amalan yang tidak ada habis-habisnya..

Meski demikian, beliau adalah sebaik-baiknya seorang suami dan sebaik-baiknya seorang ayah..

Dalam melayani istrinya, beliau bercanda dengan istri-istri beliau sehingga menimbulkan kegembiraan dalam hati mereka. Menceritakan kepada mereka kisah-kisah, dan juga mendengarkan kisah-kisah mereka.

Bahkan beliau pernah berlomba dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha sekali Aisyah menang, dan di kali yang lain beliau yang menang…

Aku merasa kecil sendiri…

Aku teringat orang yang meremehkan hak-hak istrinya, lalu beralasan bahwa waktunya amat sempit dan banyak kesibukan… Aku juga teringat orang yang apabila masuk rumah, seolah-olah ia singa yang menerkam atau pedang yang terhunus. Keluarganya tak merasa tenang, sampai ia meninggalkan rumahnya… Berbagai pikiran melintas di kepalaku. Begitu cepatnya menjadi buyar kembali…

Sebuah ceramah ringan, dan beberapa perlombaan ilmiah untuk anak-anak kecil, diteruskan dengan pukulan rebana dan nasyid oleh anak-anak perempuan kecil bagi kaum wanita, lalu pembagian hadiah kepada setiap yang ikut menggembirakan acara tersebut, berupa buku dan kaset. Sungguh ia wanita yang baik sekali, berakhlak, beradab dan pandai membawa diri. Anda hanya bisa mendengar suaranya yang berbisik, atau tasbih di kala tidak ada yang dikerjakan. Bila aku mengajukan persoalan, ia lebih mengutamakan yang kusenangi dan kusukai. Setiap kali aku menanyakan satu urusan kepadanya, selalu ia berkata: “Bagaimana sunnahnya dalam hal itu?”

Tidak pernah terlintas dalam benakku, bahwa wanita yang demikian tenang dan kalem akan bisa bersikap berbeda..

Suatu hari, saraf-sarafku terasa lemah dan pikiran kacau. Aku ingin mendengar pendapatnya, karena ia adalah istriku, juga ibu dari anak-anakku..

Suara yang tenang… Itu adalah obrolan kami…

Setelah memberi mukadimah yang panjang, aku melanjutkan: “Bukankah engkau tahu bahwa medan dakwah itu adalah jalan yang panjang, sulit dan terpagari oleh hal-hal yang tidak kita sukai. Bisa jadi aku banyak mengambil waktumu dan teledor dalam memenuhi hakmu.. bahkan mungkin, mungkin..” Ia tidak membiarkanku meneruskan ucapanku. Bagaikan gunung yang tegar, kuat dan kokoh ia berkata: “Adapun waktuku, bila untuk kepentingan dakwah, telah kuberikan kepadamu. Apakah engkau berpendapat ada dakwah tanpa hal-hal yang tidak mengenakkan dan tanpa kesulitan? Di mana yang engkau baca selama ini dari buku-buku sejarah dan biografi para ulama? Siapa yang memberi kita makan dan pakaian? Apakah engkau? “Setiap binatang melata di muka bumi ini, pasti rizkinya sudah ada di sisi Allah..”

Bagaikan anak panah mengenai sasaran. Aku bagaikan anak kecil yang mendengar lantunan prosa sastra. Aku memperhatikan kilatan kedua matanya, sementara ia mendoakanku agar mendapatkan taufik. Ketika ia mengucapkan kalimat terakhirnya, aku mengucapkan kepadanya dengan keras: “Engkau adalah wanita dengan seribu wanita…”

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 116-121.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: