jump to navigation

Indahnya Rumah Tangga Salafy bag. 1 29 Januari 2011

Posted by jihadsabili in keluarga, munakahat, muslimah.
trackback

Bagian 1

Bahwasanya mengarungi bahtera rumah tangga adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu di dalam bentuk prosesi ibadah tersebut telah diatur di dalam Islam dari mulai awal memilih calon pasangan hidup.

Proses-proses menuju jenjang pernikahan:

Mencari pasangan hidup yang shalih atau shalihah

Agama telah mengatur sedemikian rupa dalam hal memilih pasangan dan proses pernikahan. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأََرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا. فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Demikian pula seorang wanita memilih pasangan hidup adalah laki-laki yang shalih, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَأَنْكِحُوا الأيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang shalih dari hamba-hamba di antara kalian.” (an Nuur: 32)

Ayat ini menjelaskan keutamaan seorang Muslimah untuk memilih laki-laki dari orang-orang yang shalih, yang baik, dan dikenal agamanya dalam hal aqidah, akhlak, manhaj. Sehingga dengan pilihan itu akan menentukan rumah tangga yang bak, diberkahi, dan bisa memberikan warna di masyarakat di sekitarnya.

Berkonsultasi dengan orang-orang yang bisa dimintai pendapat soal pernikahan

Agama juga mengajarkan ketika proses menuju pernikahan untuk berkonsultasi dengan orang-orang shalih atau orang-orang yang layak dimintakan pendapatnya sebagaimana kisah Fathimah bintu Qais. Fathimah mengabarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abul Jahm Radhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمَّا أَبُوْ الْجَهْمِ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ، وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوْكٌ لاَ مَالَ لَهُ، انْكِحِي أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ

“Adapun Abul Jahm, ia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya. Sedangkan Mu’awiyah seorang yang fakir tidak berharta, maka (jangan engkau menikah dengan salah satunya, tapi –pent.) menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (HR. Muslim no. 3681)

Makna “tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya” ditunjukkan dalam riwayat lain:

أَمَّا مُعَاوِيَةُ فَرَجُلٌ تَرِبٌ لاَ مَالَ لَهُ، وَأَمَّا أَبُوْ الْجَهْمِ فَرَجُلٌ ضَرَّابٌ لِلنِّسَاءِ

“Adapun Mu’awiyah, ia lelaki yang fakir tidak berharta. Sedangkan Abul Jahm adalah lelaki yang suka memukul para wanita….” (HR. Muslim no. 3696)

Dari hadits ini jelas Islam menganjurkan untuk mendatangi orang-orang yang sekiranya bisa dimintai pendapatnya atau bimbingannya untuk kemudian dia bisa menentukan pilihan terhadap calon pasangan hidupnya.

Melihat calon yang akan dinikahi (nazhar)

Ketika sudah menentukan pilihannya, maka Islam mengajarkan agar ia melihat calon yang akan dinikahinya. Dalam sebuah hadits disebutkan ketika al Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu meminang seorang wanita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah melihat wanita yang kau pinang tersebut?” “Belum,” jawab al Mughirah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْظُرْ إِلَيْهَا، فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

“Lihatlah wanita tersebut, karena dengan seperti itu akan lebih pantas untuk melanggengkan hubungan di antara kalian berdua (kelak).” (HR. an Nasa`i no. 3235, at Tirmidzi no.1087. Dishahihkan al Imam al Albani rahimahullahu dalam ash Shahihah no. 96)

Dan para ulama berpendapat yang rajih bahwa proses nazhar sebatas yang biasa ditampakkan kepada mahramnya, tidak lebih dari itu.

Khitbah (melamar)

Seorang lelaki yang telah berketetapan hati untuk menikahi seorang wanita, hendaknya meminang wanita tersebut kepada walinya.

Demikianlah proses menuju pernikahan, hendaknya proses ini disampaikan kepada keluarga dengan hikmah dan bijak agar keluarga paham bagaimana Islam mengatur proses pernkahan agar semuanya berjalan dengan lancar. Juga membahas skenario pernikahan kepada orang tua mempelai putri untuk tidak keluar dari syari’at, seperti tidak ada musik, dipisah tamu lelaki dan wanita, tidak membaca shigot ta’liq, dan semacamnya, semuanya harus dibahas antar keluarga.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: