jump to navigation

Hukum Doa Berjamaah Setelah Shalat 29 Januari 2011

Posted by jihadsabili in fatwa, fiqih, shalat.
trackback

Dewasa ini masih kita jumpai banyak diantara masyarakat muslim masih sulit membedakan mana yang sunnah (yang dicontohkan Rasulullah) mana yang bid’ah (perkara yang dibuat-buat atau ditambah-tambah). Ada sekelompok orang yang menganggap semua amalan yang baik akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Padahal amalan tersebut belum tentu akan diterima malah sebaliknya mendapat dosa.

Salah satunya yang masih sering kita jumpai di mushallah-mushallah dan masjid-masjid, mereka membuat amalan yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah yaitu zikir dan doa bersama dengan suara yang keras.

Untuk memahami hukum hukum doa secara berjamaah setelah shalat, dibawah ini saya buat tulisan yang saya nukil dari pendapat Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan,

Adapun do’a imam bersama makmum setelah shalat lima waktu secara berjama’ah dengan mengeraskan suara atau boleh jadi suaranya tidak dikeraskan, maka ini bukanlah ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diperintahkan dan bukan ajaran yang dirutinkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sama sekali melakukan seperti itu. Sebagian ulama dari kalangan Syafi’iyah dan Hambali memang menganjurkan yang demikian, namun itu hanya di waktu shalat Shubuh dan Ashar karena setelah itu tidak ada lagi shalat.

[Al Majmu’atul ‘Aliyyah min Kutub wa Rosail wa Fatawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, Dar Ibnil Jauzi, hal. 134-135]

***

Demikian keterangan singkat beliau. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.”[1]

Imam Malik rahimahullah berkata,

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِىءُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوا فِي قَوْلِي فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوْا بِهِ وَمَا لَمْ يُوَافِقْ االكِتَابَ وَالسُّنَّةّ فَاتْرُكُوْهُ

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka tinggalkanlah.[2]

Wallahu waliyyut taufiq.

Riyadh-KSA, at night after ‘Isya, 9 Shafar 1432 H (13/01/2011)

http://www.rumaysho.com

Muhammad Abduh Tuasikal

[1] Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih

[2] I’lamul Muwaqi’in, 1/75

Komentar»

1. Zainuri Hamzah - 1 Februari 2011

Tidak selalu yang tidak ada di zaman nabi atau sahabat itu, tidak boleh dilakukan, termasuk doa bersama, boleh jadi hal itu dilakukan untuk pendidikan atau memberikan bimbingan kepada jamaah bagaimana berdoa setelah sholat fardhu dan sekaligus memfokuskan untuk segera berdzikir dan berdoa setelah sholat, khususnya bagi jamaah yg suka setelah salam dilakukan, wallahu ‘alam, syukron

derry febrian - 4 April 2011

tujuannya emang baik…
tapi apakah jalan yg ditempu itu syar’i??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: