jump to navigation

Macam-macam cara duduk 21 Januari 2011

Posted by jihadsabili in adaB.
trackback

Macam-macam cara duduk

Duduk Iq’a

Pada edisi yang lalu secara selintas telahditerangkan cara duduk iq’a. Pada edisi kali ini dianggap perlu diterangkan secara lebih terperinci, mengingat duduk iq’a itu ada dua macam, duduk iq’a yang dilarang dan duduk iq’a yang dibolehkan dikarenakan sutu udzur.

Keterangan tentang duduk iq’a yang dilarang itu sebagai berikut :

dari Aisyah ia mengatakan “dalah Rasulullah saw membaca Attahiyyat pada tiap-tiap rakaat. Dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menancapkan kaki kanannya. Beliau melaranga seseorang duduk dua sikutnya seperti menghamparkan binatang buas. dan beliau menutupsalatnya dengan salam. H.R Ahmad , Muslim dan Abu Daud

Pada hadis ini cara duduk yang dilarang itu dengan kata-kata :

Beliau melarang seseorang duduk cara syaitan

Ynag dimaksud cara duduk syetan ini dijelaskan oleh Ibnu Ruslan di dalam kitab Syarhus Sunan dengan keterangannya sebagai berikut :

Dengan menghamparkan kedua kaki dan menduduki keduanya.

Adapun Abu Ubaid dan ulama lainnya menafsiri pengertian aqibisy syaithan itu dengan duduk iq’a yang terlarang. Adapun hadis tentang duduk iq’a itu sebagai berikut :

 

Dari Abu Hurairah ia berkata “rasulullah saw telah menyuruh aku terhadap tiga amalan dan melarang aku dari tiga amalan (di dalam salat). “beliau memerintahkan aku salat dua rakaat duha setiap hari, witir sebelum tidur, dan saum tiga hari pada setiap bulan. Dan melarang aku dari tiga amln (di dalam salat). Beliau melarang aku mematuk-matuk seperti mematuk-matuknya seekor ayam (tergesa-gesa), duduk iq’a seperti duduknya anjing dan menoleh-noleh seperti menoleh-nolehnya musang. H.R Ahmad

Hadis yang semkana tentang larangan duduk iq’a di riwayatkan pule oleh At-Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah dari sahabat Ali bin Abu Thalib yaitu dengan lafal :

Janganlah duduk iq’a pada duduk antara dua sujud

Cara duduk iq’a yang dilarang itu adalah dengan menempelkan kedua belah pantat (bokong) di atas bumi sambil menancapkan kedua betis dan menempatkan kedua tangannya di atas Bumi” seperti duduknya seekor anjing” lihat Nailul Authar, II:310

Adapun duduk iq’a yang diboehkan adalah karena ada udzur

Ibnu Umar pernah melakukan duduk iq’a di dalam salat, yaitu di dalam duduk antara dua sujud dan tasyahud awal, dan atha’ menerangkan :

Saya melihat Ibnu Umar melakukannya pada sujud pertama baik salat yang genap maupun ganjil, beliau menghamparkan kaki kirinya dan mendudukinya sedangkan kaki sebelah kanan tegak tertancap, akan tetapi setealah badannya menjadi sangat tua cara ini sangat berat untuk beliau lakukan. Maka jadilah beliau melakukan duduk iq’a yaitu dengan menghamparkan kedua kaki dan duduk di atas kdua tumitnya seraya enerangkan “janganlah kalian mengikuti cara dudukku, karena aku melakukan hal iini disebabkan aku telah sangat tua” Al-Muwatha :898

memang terdapat hadis lain yang menerangkan tentang bahwa cara duduk yang termasuk sunnah Rasul, antara lain diterangkan oleh Imam Thaus sebagai berikut :

Abuz Zubaer bahwasanya ia telah mendengar Thaus berkata ‘Aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang (duudk) iq’a atas kedua kaki?’ ia menjawab ‘itu merupakan sunnah’ kami tanyakan lagi, ‘hal demikian itu merepotkan manusia?’ ia menjawab lagi ‘tetapi itulah sunnah nabi kalian saw’ Abu Isa (At-Tirmidzi) mengatakan ‘hadis ini hasan sahih, dan sungguh sebagian ahli ilmu dari kalangan  sahabat Nabi saw. Terhadap hadis ini, menganggap tidak apa-apa melakukan duduk iq’a ini adalah pendapat sebagian para ulama makkah dari kalangan ahli fiqih dan ilmu. Namun ia melanjutkan ‘kebanyakan ahli ilmu tidak menyukai iq’a pada (duduk) antara dua sujud” Tuhfatul Ahwadzi, II:159-161

Oleh karena itu perlu dilakukan thariqatul jam’I, karena nampak bahwa status duduk iq’a antara di larang dan sunnah Rasul

Berdasarkan keterangan-keterangan ini jelaslah bahwa pada dasarnya duduk iq’a dengan cara duduk anjing itu dilarang, yaitu dengan menempelkan kedua belah pantat (bokong) di bumi. Kedua betis tancap didepan serta kedua tangan tertancap dibumi.

Adapun cara duduk iq’a dngan cara menghaparkan kedua kaki cara menghamparkan kedua kaki lalu mendudukinya, diperbolehkan apabila memang kondisi fisik telah menuntut situasi demikian. Dan itulah yang dilakukan oleh Ibnu Umar pada usia tuanya lagi gemuk badannya. Mudah-mudahan ini menjadi hasil yang cukup baik untuk Thariqatul jam’I antara larangan dengan keterangn duduk iq’a itu sunnah Rasul. Karena pada dialog Ibnu Abbas dengan thawus tidak dijelaskan cara duduk iq’a yang dinyatakan sunnah itu.

Macam-macam Cara Duduk 2

Pada edisi yang telah lalu telah diterangkan tentang duudk iq’a yang berkesimpulan bahwa duduk iq’a yang dilarang ialah duudk iq’a cara anjing, yaitu dengan menancapkan kedua betis di depan dan menancapkan kedua tangan di samping badan, adapun cara duduk iq’a yang diperbolehkan apabila memang sudah diperlukan karena uzur ialah dengan cara menghamparkan kaki kebelakang dan duudk di atas kedua kaki itu. Dan itulah duduk yang dilakukan oleh Ibnu Umar pada usia tuanya dan lagi badannya sudah semakin gemuk

Duduk tawaruk

Duduk tawaruk ialah cara duduk pada tasyahud akhir, yaitu dengan cara mengedepankan kaki sebelah kiri dan diletakkan di tengah-tengah betis kanan lalu menancapkab kaki kanan itu dan duudk di tempat duudk itu. Imam Malik, Imam Asy-Syafi’I serta kawan-kawan beliau menyatakan :

Bahwa yang sedang salat melakukan duduk tawaruk ketika duduk tasyahud akhir.

Adapun Al Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan :

Sesungguhnya susuk tawaruk dikhususkan pada salat yang mempunyai dua tasyahud

Pendapat mereka itu berdasarkan hadis-hadis sebagai berikut :

dari Abu Humaed bahwasanya Rasulullah saw duduk ,yakni untuk tasyahud, maka beliau menghamparkan kaki kirinya dan mengedepankan punggung kanannya ke arah kiblat. H.R At-Tirmidzi

Selanjutkan hadis Aisyah

dari Aisyah ia mengatakan “adalah Rasulullah saw mengucapkan At-Tahiyyat pada tiap dua rakaat dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menancapkan kaki kanannya. Beliau melarang seseorang duduk cara syetan. Dan beliau melarang seesorang menghamparkan dua sikutnya seperti menghamparkan binatang buas. Dan beliauy menutup salatnya dengan salam. H.R Ahmad, Muslim dan Abu Daud

Kedua hadis ini yang dijadikan dalil adanya tawaruk oleh Imam malik, Asy-Syafi’I dan kawan-kawan beliau Ahmad bin Hanbal seakan ingin memberikan tekanan bahwa duduk tawaruk itu hanya ada pada tasyahud akhir yang padanya terdapat tasyahud awal. Jika demikian dapat diartikan bahwa duduk tasyahud yang hanya terdiri dari dua rakaat saja duduknya tidak seperti ini melainkan dengan cara duduk tasyahud awal.

Jika hadis ini saja yang dijadikan sandaran keterangan mereka tentu saja dapat menimbulkan pemahaman lain, antara lain bahwa pada hadis-hadis di atas tidak disebutkan duduk apa yang dilakukan, dapat saja diartikan duduk tasyahud awal, karena pada hadis pertama hanya diterangkan dengan kata-kata

Bahwasanya Rasulullah saw duduk yakni untuk tasyahud

Dan apabil hadis kedua diterangkan dengan kata-kata :

Adalah Rasulullah saw mengucapkan Attahiyyat pada tiap rakat dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menancapkan kaki kanannya.

Keduanya tidak menyebutkan pada tasyahud akhir, tetapi dengan dibantu keterangan lain masih dari Abu Humaed yang dengan tegas menjelaskan kedua cara duduk, yakni duduk tasyahud awal lalu duudk tasyahud akhir yang padanya mengamalkan tawaruk. hadis tersebut adalah sebagai berikut :

dari Abu Humaed bahwa…saya melihat Nabi saw…dan apabila beliau sujud meletakan kedua tangannya idak menggenggam tidak pula terlalu dibuka, dan beliau menghadapkan jari-jari kakinya ke kiblat, dan apabil duduk pada dua rakaat ia duduk pada kaki kirinya dan menancapkan kaki kanannya, dan apabila duduk mengedepankan kaki kirinya dan menancapkan yang lain lalu duudk pada tempat duduknya. H.R  Al-Bukhari

Maka dengan hadis ini dpat ditegaskan bahwa tawaruk itu pada duduk tasyahud yang padanya ada salam, karena pada hadis ini lebih jelas dan lebih muqayyad, bahwa duduk tawaruk itu pada tasyahud akhir

Dengan kata lain kedua hadis yang diterangkan terdahulu masih mutlaq sedangkan hadis Abu Humaid yang tersebut terakhir sudah muqayyad dan

Menetapkan yang masih mutlaq kepada yang dsudah muqayyad hukumnya wajib.

Dengan demikian duduk tawaruk adalah duduk tasyahud akhir, adapun cara duduk tasyahud awal menggunakan cara lain Insya Allah pada edisi berikutnya

Macam-macam cara duduk (bagian akhir)

Duduk iftirasy

Iftirasy asalnya adalah menjadikan sesuatu tersimpan di atas hamparan, oleh karena itu di dalam bahasa kita dipermudah dengan siterjemahkan menghamparkan. Oleh karena itu duduk ini dinamakan duduk iftirasy.

Duduk iftirasy adalah duduk yang dikerjakan pada duduk pertama pada salat yang memiliki duduk lebih dari satu duduk dan pada duduk tasyahud. Tentang hal ini dijelaskan di dalam hadis berikut :

Dan Wail bin Hujr bahwa ia melihat Nabi saw sedang salat dan beliau sujud kemudian susuk dan menghamparkan kakinya yang sebelah kiri. H.R Ahmad Abu Daud dan An-Nasai. Sedangkan hadis di dalam riwayat Said bin Mansur ia mengatakan ‘Saya salat dibelakang Nabi saw tatkala ia duduk dan betasyahud ia menghamparkan kai kirinya dan beliau duduk di atasnya.

Di dalam riwayat lain diterangkan :

Dari Abu Humaid bahwa..saya melihat Nabi saw …apabila beliau sujud meletaklkan kedua tangannya tidak menggenggam dan tidak terlalu membukanya, dan beliau menhadapkan jari-jari kakinya kekiblat, lalu apabila duduk pada dua rakaat beliau duduk pada kaki kirinya dan menancapkan kaki kanannya, dan apabila beliau duduk pada rakaat akhir beliau mengedepankan kaki kirinya dan menancapkan yang lain lalu duduk pada tempat duduknya. H.R Al-Bukhari

Dengan demikian duduk iftirasy pada pokoknya ditunjukan pada duduk yang dihamparkan kaki kiri dan didudukinya, lalu kai kanan ditancapkan agar berdiri dengan jari-jari menghadap kekiblat.

Duduk istirahat

Duduk istirahat adalah terjemahan dari jalsatul istirahah. Jalsatul istirahah menurut syeikh sabiq adalah duduk yang (khafifah) ringan setelah selesai dari sujud pada rakaat yang genap. lihat fiqhus sunnah, I:143 sebenarnya dibahas pada edisi yang lalu.

Pada masalah ini secara selintas akan kembali dibahas karena duudk yang dikerjakan di dlaam salat. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah hal ini merupakan syareat slalat yang ta’abudi, atau dilakukan hanya karena diperlukan?

Jika jawabannya ta’abuddi dalam arti merupakan bagian dari sifat atau tata cara salat, tentu tata cara duduknya pun harus dengancara duudk pada salat.

Tetapi apabila duduk ini duduk yang bukan ta’abuddi artinya dilakukan untuk keperluan, disebabkan sauatu uzur sehingga mushalli (orang yang slaat) tidak dapat bangkit menuju rakaat kedua atau dari rakaat ketiga menuju rakaat keempat, tentu cara duduknya pun dipersilakan sesuai dengan keperluan yang dapat lebih memudahkan orang yang salat itu untuk bangkit menuju rakaat berikutnya.

Pada edisi yang lalu itu diterangkan dengan dalil sebagai berikut :

Dari Abu Qilabah ia mengatakan ‘telah mengabarkan kepda kami Malik bin Al-Huairis bahwa ia melihat Nabi saw salat maka apabila beliau pada bilangan ganjil tidak bengkit sehingga duduk terlebih dahulu dengan tegak. H.R Al-Bukhari

Dari Abu Qilabah ia mengatakan ‘telah dating kepada kami Malik bin Al-Huairis maka ia salat dimesjid kami ini, beliau mengatakan “Aku akan salat untuk kalian, Namun aku bukan hendak slaat, tetapi ingin aku pelihatkan bagaimana salat Rasulullah saw yang telah aku lihat’ Ayyub berkata ‘maka aku bertanya kepada Abu Qilabah ‘bagaimana salatnya itu? neliau menjawab ‘seperti salatnya syeikh kita ini yaitu Abu bin Salamah, Ayyub berkata lagi’ dan syeikh itu menyempurnakan takbir dan apabila bangkit dari sujud kedua, beliau duduk dan menekankan tnagannya kebumi, barulah berdiri. H.R Al-Bukhari ‘bab menekan ke bumi apabila bengkit dari sujud’

Dari Abu hurairah dan Ibnu Mas’ud bahwasanya Nabi saw bangkit dari sujudnya di atas pangkal kakinya. H.R Said bin Mansur

Dari Wail bin Hujrin, sesungguhnya Nabi saw tatkala beliau sujud terlebih dahulu kedua lututnya mengenai bumi sebelum kedua telapak tangannya. Dan tatkala sujud beliau letakkan kenignya di antara kedua tangan dan merenggenggangkan dari ketiaknya, dan apabila beliau bengkit, bangkit di atas kedua lututnya dan menekan diatas kedua paha. H.R Abu Daud

Dan Rasulullah saw bersabda ‘janganlah kalian terburu-buru bermakmum kepadaku di dalam berdiri dan dudukku, karena aku telah semakin gemuk.

Dengan keterangan-keterangan ini jelas sekali bahwa keberadaan jalsatul istirahah sama halnya dengan keduudkan bertekan tangan kebumi, keduanya ada keperluan yang pada dasarnya agar orang yang salat dapat bangkit menuju rakaat selanjutnya. Dengan demikian cara atau sifat duduk ini dipersilahkan untuk dicari kemudahannya dalam meringankan beban mushali

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: