jump to navigation

Memaknai Kebersamaan dengan Anak 15 Januari 2011

Posted by jihadsabili in anak, keluarga.
trackback

Apakah tugas untuk menjadi sahabat anak hanya dibebankan pada ibu semata? Tentu saja tidak! Ingatlah bahwa seorang bapak juga memiliki peran yang tidak kecil, khususnya dalam pembentukan kepribadian anak (John Gottman).

 

Mungkin kita sudah terbiasa melihat di film-film atau di sinetron-sinetron di mana tugas seorang bapak adalah mencari uang dan ibu sebagai pengurus rumah dan anak-anak. Bukan tidak mungkin hal tersebut juga berlaku di dalam kehidupan sehari-hari. Sepulang dari kantor, membaca Koran sambil menonton televisi atau menikamati kopi panas di ruang keluarga, tanpa ada satu anak pun yang berani mendekat, adalah gambaran sosok bapak selama ini.

 

Sekali lagi adalah bagaimana kita sebagai orang tua, bias memanfaatkan waktu kita untuk menjalin kebersamaan dengan anak-anak kita. Bagaimanapun anak-anak adalah bagian dari hidup kita yang membutuhkan sapaan dan senyuman kita. Kadang kita menyadari bahwa kita memiliki mereka ketika kita hampir kehilangan mereka. Alangkah baiknya, jika kita tidak menunggu sampai mereka hampir hilang, baru kita menyadari bahwa mereka membutuhkan kita.

 

 

“Jangan ganggu Bapak, Bapak sudah lelah seharian mencari uang!” demikian nasihat seorang ibu kepada anaknya. Nasihat ini mungkin telah diucapkan oleh beribu-ribu atau bahkan berjuta-juta ibu di dunia. Benarkah demikian adanya? Benarkah sudah tidak ada waktu lain selain mencari uang bagi seorang bapak? Tidak adakah waktu sedikit pun bagi seorang bapak untuk bisa menyapa dan bercanda dengan anaknya? Barangkali sharing dari seorang Bapak (sebut saja Bapak Chandra), berikut ini bisa menjadi masukan.

 

Saya adalah seorang Bapak dengan satu putri. Usia putri kami baru enam tahun. Istri saya adalah seorang perempuan yang sabar dan murni berperan sebagai seorang ibu rumah tangga. Memang, dulu istri saya bekerja, ketika kami belum memiliki Intan, putri kami. Saya memintanya untuk berhenti bekerja mengingat hampir seluruh hari yang saya miliki, telah habis di ruang kerja saya di kantor. Apa jadinya jika Intan ditinggalkan sendirian dengan pembantu sementara tidak ada satu pun di antara kami yang bias mengawasinya di rumah?

 

Saya memiliki waktu libur pada hari Sabtu dan Minggu. Itulah hari yang menyenangakan untuk kami sekeluarga, karena kami akan menghabiskan waktu bersama-sama. Saya merasa harus menebus semua waktu yang hanya saya habiskan bersama dengan pekerjaan saya, dengan istri dan anak saya sejak Senin sampai dengan Jumat.

 

Pada awalnya dulu, ketika kami baru menikah, Sabtu dan Minggu adalah hari yang membosankan karena saya toh masih terus memikirkan pekerjaan saya, kolega-kolega saya juga tetap menghubungi saya mengemukakan segala permasalahan tentang pekerjaan. Kebiasaan ini mungkin saya bawa dari kebiasaan saya ketika saya masih bujangan dulu.

 

Melihat ritme hidup saya yang demikian, istri saya marah dan protes. Dia merasa tidak mendapatkan porsi sedikit pun di dalam hidup saya.

 

“Kamu menikahi saya hanya sebagai obat nyamuk dan selimut ya?” tanya istri saya suatu hari. Terus terang saya cukup kaget dengan ungkapan istri saya tersebut. Ketika saya memintanya untuk menjelaskan kata-katanya tersebut, sambil menangis istri saya mengatakan bahwa hidup dengan saya membosankan karena saban hari hanya berhadapan dengan seonggok daging yang tidak komunikatif dan hanya bisa memanfaatkannya saja.

 

Saya mencintai istri saya, ini kuncinya yang membuat saya kemudian mau membuka diri untuk masukan-masukan yang dia berikan. Semenjak itu kami berdua telah sepakat, waktu libur kami harus melepaskan semua atribut kami sebagai pekerja. Seluruh waktu, pikiran, dan tenaga, kami curahkan untuk menjalin hubungan di antara kami. Memang tidak mudah, apalagi sudah sekian tahun saya terbiasa dengan ritme hidup yang berbeda.

 

Saya banyak belajar dari istri saya. Dia memang pernah bercerita bagaimana dia dulu memanfaatkan waktu liburnya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk mengembangkan dirinya, dengan refreshing dan rekreasi. Mungkin itu yang menyebabkan istri saya selalu tampak optimis dan tampak selalu cerah dan ceria, bahkan kelihatan lebih muda dari usia yang sebenarnya. Saya kemudian bertanya dalam hati saya sendiri, mengapa saya tidak dari dulu mencontoh cara istri saya dalam mengatur dirinya, padahal cerita semacam itu sudah lama saya dengar, sejak kami berpacaran dulu.

 

Perlahan namun pasti, usaha istri saya dalam menularkan gaya hidupnya, mulai saya rasakan. Ketika istri saya mengandung putri kami, Intan, dia sudah memberi rambu-rambu pada saya.

 

“Sebentar lagi kita punya anak, saya tidak mau kalau Papa lantas tidak mau ikut terlibat dalam pengasuhan anak kita nantinya. Saya juga tidak mau kalau Papa hanya ingin terus saya layani, sementara Papa tidak mau membantu mengurus anak kita. Saya juga tidak mau kalau Papa jadi kekanak-kanakan dengan memandang bahwa anak kita adalah saingan Papa. Saya berharap Papa tidak demikian ya Pa?”

 

Ketika anak kami lahir, dibuatlah pembagian tugas bagi kami berdua. Meskipun istri saya sudah tidak lagi bekerja, bukan lantas saya boleh lepas tangan. Saya tetap harus terlibat di dalam mengurus anak saya.

 

Ketika anak kami lahir, dibuatlah pembagian tugas bagi kami berdua. Meskipun istri saya sudah tidak lagi bekerja, bukan lantas saya boleh lepas tangan. Saya tetap harus terlibat di dalam mengurus anak saya.

 

“Saya ingin sejak Intan menghirup udara dunia, dia mengenal Papa-nya. Bukan hanya mengenal namanya saja, tetapi juga mengenal sentuhannya!” demikian pesan istri saya.

 

Ternyata memang berat untuk bisa meluluskan semua harapan istri saya, terlebih dengan setumpuk pekerjaan di kantor. Akhirnya, terjadilah pertengkaran demi pertengkaran yang permasalahannya selalu sama, yaitu masalah anak. Bahkan, mungkin saking kecewanya istri saya terhadap sikap saya, dia menuduh saya tidak menginginkan kelahiran putri kami tersebut.

 

“Ini kan anak kita Pa, mengapa hanya saya saja yang mengurus. Ok, Papa cari uang untuk kami, tetapi bukankah saya juga sudah mengurus semua urusan rumah tangga kita. Bukan karena saya merasa keberatan mengurus putri kita Pa, tetapi saya hanya ingin putri kita tumbuh seimbang, tidak timpang. Saya ingin putri kita dekat dengan kita berdua, buakn hanya dengan saya saja. Saya ingin putri kita memiliki kedekatan emosi dengan Papanya juga!” begitulah istri saya pada puncak kejengkelannya terhadap saya.

 

Terus terang, kondisi keluarga kami hampir berantakan karena saban hari kami hampir selalu bertengkar dengan permasalahan yang itu-itu saja. Suatu ketika saya pernah mengeluh dengan rekan sejawat saya. Sambil tertawa dia berkata kepada saya:

 

“Nikmati saja!”

 

Saya tidak mengerti maksud perkataannya. Lalu dia menambahkan.

 

“Kamu kan selama ini selalu menghayati pekerjaan kamu. Itulah yang menyebabkan karirmu menjadi bagus di perusahaan ini. Coba saja cara yang sama kamu terapkan di rumah. Coba saja kamu hayati kebersamaanmu dengan anakmu. Gimana caranya saya juga tidak tahu,” rekan saya berkata demikian masih sambil tertawa seolah-olah menertawakan kebodohan saya.

 

Perkataan rekan saya tersebut ternyata mengusik hati saya. Setiap kali saya pulang kantor, saya muali belajar untuk menyempatkan diri menengok putri saya yang tidur pulas di boks-nya. Istri saya hanya memandang dengan sudut matanya, mungkin dia heran dengan perubahan sikap saya. Saya amati wajahnya yang lucu dan mulus. Saya kemudian tersenyum sendiri.

 

Semenjak sering bertengkar masalah anak, istri saya menjadi dingin di tempat tidur, bahkan tidak jarang membokongi saya ketika sedang tidur. Malam itu saya berusaha untuk mengucapkan sesuatu untuk istri saya, tetapi sulit untuk mengeluarkannya dari mulut saya. Setelah hampir tengah malam barulah saya berani untuk mengatakan kepada istri saya.

 

“Ma, terima kasih ya, Mama sudah mengandung, melahirkan, dan sekarang mengurus Intan dengan sangat baik,” saya tidak melihat respon apapun dari wajah istri saya.

 

“Ma, bisakah Mama mengajari saya bagaimana cara Mama mengurus Intan? Saya ingin belajar dari Mama, boleh?” saya mengajukan diri untuk minta diajari. Saya melihat istri saya sejenak tertegun memandangi saya. Sepertinya istri saya kurang percaya denagn niat saya. Tiba-tiba terdengar suara tangis Intan dari dalam boks. Istri saya beranjak mendekati boks dan membuka tirainya. Kemudian dia meraba pantat Intan.

 

“Dia pipis, Papa mau belajar kan? Ayo Papa bias ganti seprainya dan saya akan ganti popoknya Intan!” istri saya memandang saya penuh harap.

 

Saya merasa senang sekali, karena istri saya sudah membuka peluang bagi saya untuk belajar bagaimana mengurus Intan. Istri saya memang tidak mau ketika saya anjurkan agar Intan diberi pampers saja kalau malam supaya tidak mengganggu tidurnya. Istri saya berpendapat pampers bisa membuat anak malas dan suka mengompol kalau sudah besar. Memang terbukti, sejak usia tiga bulan, Intan sudah tidak mengompol, karena setiap mau pipis dia terbangun kemudian istri saya akan membawanya ke WC.

 

Ketika saya mengganti sprei dan kemudian mengamati bagaimana istri saya mengganti popok Intan sambil berceloteh seolah Intan sudah bisa memahami celotehannya, saat itu saya seperti melihat sebuah keajaiban yang selama ini luput dari pandangan saya. Betapa istri saya demikian menikmati kebersamaannya dengan Intan. Itu sebabnya istri saya tidak pernah merasa lelah meskipun harus terbangun tengah malam untuk menyusui atau membawa Intan ke WC untuk pipis. Istri saya melakukannya dengan suka cita. Jika istri saya bisa demikian, mengapa saya tidak? Demikian kata hati saya.

 

“Lepaskan semua pikiran tentang pekerjaan, begitu Papa masuk ke rumah!” begitu nasihat istri saya.

 

Suatu ketika, saya diminta oleh istri saya untuk menjaga Intan karena istri saya harus bertandang ke salah seorang tetangga untuk ikutan arisan RT. Waktu itu Intan sudah mulai bisa duduk. Istri saya sudah menempatkan Intan di sebuah karpet tebal di lantai dengan berbagai mainan dan bantal di sekitarnya.

 

Saya kemudian menempatkan diri sebagaimana istri saya. Tingkah istri saya di hadapan Intan menjadi sumber inspirasi bagi saya untuk menjalin relasi yang lebih bersahabat dengan Intan. Waktu satu jam ternyata tidak terasa karena saya benar-benar menikmati kebersamaan dengan Intan. Saya merasa terhibur setiap kali bisa membuat Intan tertawa, saya benar-benar merasa bahwa kami saling menghibur satu sama lain.

 

Akhirnya, saya menemukan bahwa waktu tidak menjadi halangan bagi saya dan Intan untuk saling memperhatikan. Meski kadang ketika saya pulang Intan sudah tertidur di kamarnya, saya tetap akan meluangkan waktu untuk menciumnya dan memberikan ucapan selamat tidur. Kadang kalau Intan belum tidur, saya sempatkan untuk membopongnya ke tempat tidur dan kemudian menciumnya.Ternyata aktivitas-aktivitas sederhana yang tidak membutuhkan waktu yang banyak bisa memberikan sentuhan indah baik bagi saya, Intan, dan terlebih Mamanya. Semenjak merasakan dan melihat saya benar-benar mau berusaha dekat denagn Intan dalam waktu saya yang sangat sempit, istri saya menjadi lebih memperhatikan dan lebih mesra dengan saya.

 

Ternyata tidak sulit untuk memperoleh perhatian dari istri dan anak saya, yaitu menikmati waktu yang ada, sesedikit mungkin untuk menjalin relasi yang benar-benar dinikmati.

Komentar»

1. Ipoel - 20 Mei 2011

Gmn kalo istrinya mwnya jauh dari suami dgn anggapan keluarganya dan dia akan sanggup tanpa kebutuhan anak terhadap bapaknya atu bapak terhadap anaknya,…..
Sekarang posisi saya jauh bekerja dari rumah tinggal,saya bekerja di tempat saya lahir dan tinggal di rumah orang tua,…
Any advice,
Makasih sebelumnya

jihadsabili - 20 Mei 2011

Cobalah untuk mulai berbicara dengan kata-kata yang lembut. Bisa langsung dengan lisan maupun tulisan. Jika pasangan kita memang ada kekeliruan maka hal itu bisa mengingatkannya dan bahkan bisa membuatnya berubah lebih baik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: