jump to navigation

Ikhwan! Janganlah menjad lemah atas istrimu! 15 Januari 2011

Posted by jihadsabili in nasehat.
trackback

Kawan mari aku ajak kau duduk sebentar di sini sambil kita bicara sebentar dengan situasi malam ini yang demikian tenang berselimut mendung menutup rembulan…

Dengarkan ceritaku ini tentang ‘Kau’ yang bukan engkau kawanku…ini tentang ‘dia’ yang aku sebut ‘kau’

…Kawan, begini ceritanya…

Kau …enam tahun yang lalu mulai bekerja di sebuah instansi pendidikan yang cukup jauh dari kampung halamanmu, setelah sebelumnya kau sempat menjadi seorang pekerja di sebuah BMT ‘Islami’, mengajar di sekolah yang gajinya luar biasa kecil, sampai kau berpindah ke sekolah lain dengan gaji yang cukup besar, rumah dinas, dan jabatan kepala sekolah… namun sayang di tempat itu begitu banyak hasad sehingga kau harus pergi darinya

Lalu, kita kembali ke enam tahun lalu…, ada seorang akhwat yang meminta mu menikahinya, tapi sebentar kawan, kau tidak seberuntung itu. Orangtua akhwat, yakni ibundanya tidak semudah itu melepaskannya untukmu karena ia anggap kau atau keluargamu tidak sederajad dengan keluarganya yang lebih super…sedangkan ayahnya setuju dengan hal ini meskipun dalam ketakutan terhadap istrinya.

Setelahnya, kalian menikah secara sir dengan ijin ayah akhwat itu melalui sepucuk surat.

Kau pun pulang ke ibunda dan ayahandamu dan mulai bercerita tentang hal yang sudah pasti menyambar perhatian mereka. ‘’Ayahanda, sekarang aku sungguh memohon kepadamu agar ayahanda datang kepada keluarga istriku agar mereka bersedia menikahkan kami secara resmi di KUA.” Begitu rengekmu.

Beliau pun datang kepada keluarganya bahkan dengan wajah yang masih memerah karena memendam amarah atas beberapa kali komunikasi pedas lewat telepon dengan keluarga istrimu.

Dan! Semua berjalan…kau menikahinya secara sah di KUA dengan saksi kakak dan adik iparmu.

Dan hingga suatu hari ibundamu jatuh sakit, katakanlah serangan stroke, …yang ketiga, setelah ia begitu mengkhawatirkan kesehatanmu.

‘Oke..aku akan pulang dan menetap bersama ibunda jika aku sudah menjadi seorang pegawai negeri.’

Katamu satu atau dua tahun lalu. Hmm…tapi nyatanya tidak semudah itu berbakti, kenyataanya saat kau pulang ke ibundamu yang saat itu sudah menjadi setengah pikun, suka menjerit seperti anak kecil di atas pembaringannya, memekakkan telinga siapapun agar ia diantar ke luar kamarnya di atas kursi roda, kau malah jarang sekali menyapanya bahkan lebih sering keluar pergi entah kemana bersama ibu dari 2 anak mu.

Sehari sekali, sepekan sekali, sebulan sekali pun tidak pasti datang telepon darimu untuk sekedar mengatakan ‘bagaimana keadaanmu ibuku?” setelah kepulanganmu ke tempat kerjamu yang sekarang, yang tidak begitu jauh, hanya beda kabupaten saja.

Tapi, mari sekarang kita buat situasi lebih esktrim….anakmu sekarang sudah 2 dan kau pun saat ini dalam status pengajar di salah satu pondok yang sedang membangunkan rumah dinas untukmu. Dan mungkin memang sudah menjadi sifatmu yang, sedikit pengecut…kau tidak berterus terang kepada pemimpin pondok tentang langkahmu melamar sebagai PNS yang pastinya kau juga sudah tahu beliau amat tidak suka jika ditelikung semacam ini.

Dan Allahpun mengabulkan perkataanmu, mungkin waktu itu doamu diaminkan oleh saudari-saudarimu yang amat menyayangimu dan mungkin juga para malaikatNya

Dan lebih Alhamdulillaah lagi, Dia takdirkan kau ditugaskan di sebuah sekolah MTS di tengah sawah yang sangat-sangat dekat dengan rumah ibundamu, hanya 10 menit saudaraku. Tiap hari kini –dalam bayanganku— kau bisa meraih pahala dengan mendorong kursi roda dan membawa ibundamu berkeliling kampong, membeli sarapan bubur atau ketan kesukaannya…dan sorenya pun kau ajak dia bercanda di teras sambil memberikannya harapan-harapan besar tentang kesehatan dan kesembuhannya.

Ah, saudaraku tapi aku sungguh heran…kenapa kau memilih tetap tinggal di sana yang jaraknya 1,5 jam perjalanan dari ibundamu.? Aku heran kenapa kau lebih memilih bermalam jauh dari kamar ibundamu? Aku heran kenapa kau lebih memilih ibundamu dirawat orang yang tidak lebih berhak darimu? Aku heran, …bukankah kau ini sudah bertahun-tahun mengenal kajian tentang birrul walidainnya salafunas sholih ahlussunnah wal jama’ah?

Aku heran dan hanya heran …dan kini aku sampaikan kisah ini kepada kawan-kawanku di sini bukan untuk menamparmu atau apapun hanya ingin mengambil pelajaran dari kisah ini…karena mereka tidak tahu siapa ‘kau’ dan merekapun tidak pernah tahu, apakah ini tentang ‘aku’ atau orang lain yang ku ‘aku’ kan dalam kisah ini.

………………..

Kalian saudaraku di fb, anggap saja cerita di atas hanyalah angin lalu….tapi jika memang ada kesamaan karakter dan cerita dari yang pernah antum dengar atau lihat, maka perhatikanlah! Itulah sebagian buruknya akhlak anak kepada orangtuanya.

Aku wasiatkan carilah ISTRI YANG MENDORONGMU UNTUK TERUS DAN TERUS DAN TERUS BERBAKTI KEPADA IBUMU, IBUMU, IBUMU bagaimanapun ia itu IBU MU

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: