jump to navigation

Istriku Boros ? 6 Januari 2011

Posted by jihadsabili in muslimah, nasehat.
trackback

Istriku Boros ?

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Apa pendapat sahabatku fillah saat membaca kalimat yang ditulis oleh John Barrymore bahwa “wanita itu satu-satunya makhluk yang tidak mengetahui apa yang harus dimilikinya, sebelum ia membelinya.”
Atau komentar pedas Alexandre Dumas yang mengatakan, “Pernikahan itu sama dengan perpindahan tabunganmu secara perlahan dari kantongmu ke kantong istrimu.”
Pastilah hati kita yang membacanya menjadi meradang dan tidak terima.

Boros (israf) adalah kata yang kebanyakan orang anti terhadapnya. Meskipun tanpa disadari seseorang sering terjebak di dalam jeratan virus israf, yaitu virus konsumerisme alias virus gila belanja. Boros memang identik dengan makna harta yang berlebih. Namun meski kondisi keuangan pas-pasan, seseorang bisa saja menjadi tidak mampu mengendalikan nafsu belanjanya, sehingga pada akhirnya membeli sesuatu yang tidak penting, padahal kebutuhan utama sebentar lagi akan memerlukan kucuran dana.

Islam secara tegas melarang kaum muslimin bersikap boros. Sikap boros merupakan perangkap setan untuk terus menghasung manusia memberi atau membelanjakan sesuatu secara berlebihan.

Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS al-Isra’ : 27)

Allah Ta’ala juga menegaskan,
“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
(QS al-An’am : 141)

As-Suddiy dalam menafsirkan firman Allah Ta’ala ini,
“Janganlah kalian memberikan harta kalian sampai habis, setelah itu kalian duduk dalam keadaan fakir.”
Imam Ibnu Katsir mengatakan,
“Jangan berlebih-lebihan dalam makanan karena di dalamnya terdapat mudharat terhadap akal dan fisik.”
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu juga menuturkan,
“Makanlah apa yang kamu inginkan dan pakailah apa yang kamu inginkan, selagi tidak menimpa kamu dua perkara, yaitu sikap berlebih-lebihan dan sombong.”
(tafsir Ibnu Katsir, 6/190)

Sahabatku fillah, islam membimbing kita untuk bersikap pertengahan, yaitu tidak boros dan tidak pula menjadi bakhil/kikir. Seperti dalam firman Allah Ta’ala,
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
(QS al-Furqan : 67)

Imam Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah Ta’ala di atas dengan maksud bahwa mereka tidak bersikap boros dalam membelanjakan harta mereka dalam bentuk membelanjakannya melebihi hajat, dan tidak juga mereka bakhil / kikir kepada keluarga mereka dalam bentuk mengurang-ngurangi hak keluarga atas mereka serta menahannya. Bahkan seharusnya bersikap adil karena sebaik-baik perkara adalah yang paling menengah, bukan ini (boros) dan bukan pula itu (kikir).
(10/322)

Boros memang bukan hanya virus yang menjangkiti kaum wanita, pria pun tidak luput dari kejarannya. Namun sebagai seseorang yang telah menjadi istri, kita hendaknya memanfaatkan kepercayaan yang diberikan suami kita dengan sebaik-baiknya, terutama dalam kemampuan mengolah keuangan. Jangan sampai para suami menjadi khawatir ketika menitipkan hartanya kepada istri. Takut-takut ia menjadi gelap mata menghabiskannya untuk perkara yang tidak penting atau memberikannya tanpa seizin suami terlebih dahulu.

Menjaga harta suami sebagaimana disebutkan dalam hadits, maknanya tidak sesederhana menjaga harta dari incaran pencuri atau kerusakan, tetapi lebih dari itu menjaga agar harta tersebut dapat berdaya guna dengan baik. Dan hal ini dapat terwujud dengan adanya proses pembelajaran yang maksimal dan berkesinambungan, InsyaAllah.

Perlu kita ingat, istri shalihah bukan hanya ia yang taat beribadah dan rajin melakukan perkara sunnah. Istri shalihah adalah istri yang harus pandai bersinergi dengan perkara yang menjadi prioritas di dalam rumah tangganya. Ia harus mampu mengatur waktu, kesibukan, karakter, dan keinginan-keinginannya sehingga tidak bertentangan dengan visi dan misi rumah tangga. Selain itu, sifat qana’ah terhadap rezeki yang diterima dari tangan suami adalah salah satu kunci menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur, sehingga dapat mendatangkan kelapangan hati dan keridhaan Allah Ta’ala ke dalam rumah tangganya.

Semoga kita menjadi hamba Allah Ta’ala yg qana’ah, tidak bersikap boros atau kikir, mampu menjaga amanah suami pada harta dan kehormatannya, serta tidak terlalu membebani suami dan orang tua dalam masalah hajat keduniaan. Allahumma Aamiin.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: