jump to navigation

DOA : kemana kami mesti mengetuk pintu kala rindu buah hati… 6 Januari 2011

Posted by jihadsabili in anak, keluarga, munakahat, nasehat.
trackback

DOA : kemana kami mesti mengetuk pintu kala rindu buah hati…


Segala yang tampak tidak akan kekal keindahannya
Yang kekal hanyalah Allah, sementara harta dan anak akan binasa

Aku sudah menikah lebih dari tujuh tahun. Alhamdulillah segala yang aku dambakan -sesuai pandanganku- sudah aku dapatkan. Aku sudah mapan dalam pekerjaan, dan sudah mapan dalam perkawinanku… Yang kukeluhkan hanyalah rasa bosan. Aku dan istriku belum juga dianugerahkan seorang anak. Aku pun mulai diliputi kejemuan.

Aku sudah banyak mengunjungi dokter. Aku yakin, bahwa aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Aku pergi berobat di dalam dan di luar negeri. Ketika aku mendengar seorang dokter spesialis kemandulan baru datang, aku segera memesan waktu konsultasi…

Berbagai kiat banyak diberikan, sementara obat-obatan lebih banyak lagi. Namun tidak ada gunanya sama sekali…

Lebih sering kami berbicara tentang dokter Fulan dan Fulan, apa yang dia katakan dan apa yang akan kami alami…

Masa menunggu itu terus berlangsung hingga setahun atau dua tahun. Masa pengobatan itu lama sekali. Ada yang menyatakan bahwa kemandulan itu berasal dari diriku. Namun sebagian lain menyatakan bahwa itu berasal dari istriku. Pokoknya, hari-hari kami hanya diisi dengan pemeriksaan dan pemecahan problem tersebut.

Bayangan tentang anak begitu menguasai jiwa kami. Padahal aku sudah berusaha untuk tidak menyentuh perasaan istriku. Namun segala yang berlangsung tetap mengusik perasaannya.

Banyak pertanyaan yang muncul. Ada yang bertanya kepadanya: “Apa lagi yang kamu tunggu?” Seolah urusan itu berada di tangan istriku. Ada lagi yang menyarankan agar ia berobat kepada dokter Fulan di lokasi anu. Fulanah sudah mencoba ke sana, dan kini sudah melahirkan anak. Demikian juga si Fulanah. Begitulah, orang-orang di sekitar istriku memiliki banyak andil dalam melontarkan pertanyaan. Namun tak seorangpun yang berkata kepada kami: “Kenapa tidak menghadap kepada Allah dan berdoa kepada-Nya dengan penuh keikhlasan?”

Berlalulah sudah tujuh tahun, kami seolah menjulurkan lidah di belakang para dokter dan lupa berdoa. Kami lupa berserah diri kepada Allah…

Pada suatu sore, aku menyeberang jalan. Tiba-tiba kulihat seorang lelaki buta menyeberang jalan yang sama… Aku segera menuntunnya dan menyeberang separuh jalan bersamanya. Di tengah jalan, kami berhenti. Kami menunggu sampai bagian jalan di seberang menjadi agak sepi dari kendaraan. Lelaki itu menyempatkan untuk bertanya kepadaku, setelah sebelumnya mendoakan diriku agar sehat dan mendapatkan taufik. “Anda sudah menikah?” “Sudah.” jawabku. Ia bertanya lagi: “Sudah punya anak?” “Allah belum menakdirkannya.” jawabku kepadanya. “Sudah tujuh tahun kami menunggu kabar gembira itu.”

Kami pun menyeberang jalan. Ketika kami hendak berpisah, lelaki itu berkata: “Wahai anakku. Aku sudah pernah mengalami apa yang engkau alami. Namun dalam setiap shalat aku berdoa:

“Rabbi, janganlah Engkau meninggalkanku seorang diri sementara Engkau adalah sebaik-baiknya yang memberi warisan.” (Al-Anbiya’: 89)

Alhamdulillah kini aku sudah memiliki tujuh orang anak.” Lelaki tua itu menekan tanganku sambil berkata: “Jangan lupa berdoa.” Sebelumnya aku tidak mengharapkan nasihat seperti itu. Aku sudah mendapatkan sesuatu yang hilang.

Aku menceritakan kejadian itu kepada istriku. Kami pun tertarik memperbincangkannya. Kenapa selama ini kami tidak berdoa? Padahal segala sesuatu sudah kami cari dan sudah kami coba? Semua dokter sudah kami dengarkan ucapannya dan sudah pernah kami ketuk pintu rumahnya. Kenapa kami tidak mengetuk pintu Allah? Padahal itulah pintu terbesar dan terdekat? Istriku juga baru ingat bahwa ada wanita tua yang pernah menasihatinya dua tahun yang lalu: “Hendaknya engkau berdoa.”

Namun, sebagaimana dikisahkan istriku, kala itu kami sudah memiliki banyak jam konsultasi bersama banyak dokter. Sehingga kami sudah terbiasa mengkonsultasikan persoalan kami dengan para dokter tersebut. Tanpa rasa khawatir atau gelsah, hanya sebatas konsultasi saja. Kami hanya menyelidiki cara penyembuhan yang terbatas saja, sebagai salah satu ikhtiar.

Kami pun menghadap kepada Allah dengan sepenuh hati. Dalam shalat wajib dan juga dalam shalat di tengah malam. Kami berusaha mencari waktu-waktu di mana doa mudah terkabulkan. Persangkaan kami tidaklah sia-sia. Kami pun juga tidak ditolak. Bahkan Allah membuka pintu keterkabulan doa. Istriku hamil, dan akhirnya melahirkan seorang anak. Sungguh Maha Suci Allah, sebaik-baik Penbipta.

Kami tidak bisa menyembunyikan kegembiraan dan suka cita. Namun kini yang selalu kami baca berulang-ulang ialah:

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74)

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 50-53.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: