jump to navigation

KO’ MAU SIH DIMADU 30 Desember 2010

Posted by jihadsabili in keluarga, munakahat, muslimah, nasehat.
trackback

KO’ MAU SIH DIMADU

Sejak belum menikah, saya sudah pro poligami disaat banyak dari kaum saya yang tidak setuju bahkan menentangnya. Maka sekarang saya akan coba menuliskan beberapa hal yang membuat saya pro poligami alias mau dimadu.

 

Bagi saya, poligami  hanyalah satu dari sekian banyak perkara yang ditetapkan Allah untuk manusia. Maka memandang poligami bagi saya adalah memandang sebuah hukum syara’ yang harus kita sikapi sebagaimana mestinya. Yang pertama adalah kita teliti dulu dalil-dalinya, jika sudah yakin dengan hukumnya maka selanjutnya adalah menerimanya dengan penuh keridloan.  Dan saya sudah yakin dengan dalil kebolehannya, maka tidak ada pilihan lagi bagi saya selain menerimanya. Bukankah Allah berfirman dalam Al-Quran surat al-Ahzab ayat 36, wa maa kaana limu-minin walaa mu-minatin idzaa qadlaa-l-Llahu wa rasuuluhu amran an yakuuna lahumu-l-khiyarotu min amrihim, wa man ya’shi-l-Llaaha wa rasuulahu faqad dlalla dlalaalan ba’iidaa. Tidaklah ada bagi seorang mukmin dan mukminah jika Allah dan RasulNya telah menetapkan sesuatu, kemudian dia mempunyai pilihan  dari perkaranya itu (selain menerimananya), dan barang siapa berma’siyat (tidak taat) kepada Allah dan RasulNya maka dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.

 

Sehingga, bagi saya persoalan poligami bukan hanya persoalan hukum syara’ tapi juga persoalan aqidah, keyakinann dan cara pandang kita dalam melihat persoalan. Di sini akan coba saya list hal-hal yang mungkin membuat banyak perempuan menolak poligami, dan kita akan bisa melihat kebenaran dari pernyataan saya bahwa masalah poligami bukan sekedar masalah hukum fiqih, tapi masalah keyakinan (aqiidah) dan cara cara berfikir (thariiqatu-t-tafkiir).

 

1. Ketergantungan (ta’alluq).

Yang saya maksud ketergantungan disini adalah ketergantungan ma’nawi. Sebagai istri, secara fisik kita memang tergantung pada suami, tapi hendaknya secara ma’nawi kita tetap tergantung kepada Allah. Karena suami kita bukanlah milik kita, begitu juga dengan semua hal yang ‘sepertinya’ milik kita. Semuanya adalah milik Allah. Rasa ketergantungan ma’nawi ini akan sangat mempengaruhi kesiapan kita ‘kehilangan’ suami dan apapun yang sepertinya milik kita. Kisah seorang shahabiyah wanita yang ditinggal mati oleh suaminya dengan beberapa anak yg masih kecil, dan ketika tak nampak sedikitpun aura kekhawatiran (kalau kesedihan tentu ada dan wajar) darinya lalu seseorang menanyakan hal tersebut, shahabiyah itu dengan penuh keyakinan menjawab ; ajiduhu akkaalaan wa laisa razzaaqan, fa-idza dzahaba-l-akkaalu baqiya-r-Razzaaqu, atau fa idzaa maata-l-akkaalu fa-r-Razzaaqu hayyun laa yamuutu. Aku mendapati suamiku adalah seorang pemakan bukan pemberi rizki, dan jika pemakan itu pergi maka masih ada sang pemberi rizki, atau jika si pemakan itu mati, maka pemberi rizki tidak akan mati. Kaitannya dengan poligami, para istri ga mau dimadu karena mereka takut ‘kehilangan’ suami.

 

2. Cara berfikir yang terbalik.

Kebanyakan suami istri, mereka sudah saling mencintai sebelum menikah. Menurut saya hal itu boleh-boleh saja.Yang tidak boleh adalah menganggap bahwa yang mengikat suami istri adalah rasa cinta itu. Yang tidak boleh adalah berfikir bahwa kita menikahi pasangan karena kita mencintai dia. Yang betul adalah sebaliknya, kita mencintai pasangan karena dialah pasangan halal kita. Kalau dia bukan pasangan halal kita atau sudah tidak jadi pasangan halal kita, seharusnya kita tidak mencintainya. Artinya, standar amal kita adalah aturan Allah, bukan perasaan kita. Meskipun perasaan kita begitu cinta pada sesorang, kalau dia tidak halal buat kita, kita tidak boleh menurutkan perasaan tersebut. Sebuah riwayat menceritakan tentang salah seorang sahabat yang mendatangi Umar bin Khatthab mengatakan bahwa dia mau menceraikan istrinya karena sudah tidak cinta. Umar menjawab : Jika pernikaha itu hanya cinta lalu dimana tanggung jawab dan komitmen?.Kaitannya dengan poligami, para istri ga mau dimadu karena sangat mencintai suami.

 

3. Cemburu.

Hampir semua istri yang menolak suami karena alasan cemburu. Saya katakan, bahwa standar kita adalah aturan Allah. Termasuk dalam hal cemburu. Cemburu adalah aktifitas hati, yang merupakan salah satu anggota tubuh kita sehingga kita bisa mengendalikannya, sebagaimana rasa cinta atau rasa-rasa yang lain. Maka rasa cemburu ini juga harus tunduk pada aturan Allah. Apakah boleh kita cemburu pada pasangan karena dia melakukan sholat, atau haji atau berjihad atau ibadah2 wajib yang lain? Tentu tidak kan?. Nah, ketika suami sudah memutuskan untuk menikah lagi, maka memberi nafkah kepada istrinya yang lain adalah kewajibanya, adalah ibadah baginya. Maka mencemburui suami yang sedang ibadah adalah perbuatan yang tidak sejalan dengan aturan Allah. Seharusnya kita cemburu ketika pasangan berbuat yang haram. Kita HARUS cemburu ketika dia korupsi, mencuri, berbohong, dll. Dan kita HARUS cemburu ketika dia berbuat selingkuh, berbuat khalwat (berdua-duaan), bermesra mesraan dengan yg tidak halal baginya. Saat itu kita cemburu bukan HANYA karena rasa cinta kita, tapi karena rasa cinta yang sudah sejalan dengan aturan Allah.

 

4.  Totalitas penghambaan.

Satu lagi faktor yang saya kira sangat berpengaruh adalah keadaan istri dalam menerima ketentuan Allah secara total, bukan dipilih-pilih sekehendak hatinya. Allah sudah menentukan bahwa laki-laki dan permepuan mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda terkait dengan model penciptaan  mereka yang memang berbeda. Secara kemanusiaan, laki-laki dan perempuan sama, tapi secara jenis laki-laki dan perempuan mereka berbeda, sehingga hukum-hukum yang mengenai mereka juga ada yang sama dan ada yng berbeda. Salah satu wasiat Nabi agar kita berhasil menjadi manusia bertaqwa adalah ridlo bimaa qassama-l-Laahu, merasa ridlo dengan pembagian Allah. Pembagian Allah ini bukan hanya pembagian rizki si kaya dan si miskin, si A dikasih anak dan si B dibuat mandul, si fulan dibuat cerdas sedang si fulana dibuat otak pas-pasan, tapi juga mencakup hak dan kewajiban. Kita ridlo laki-laki diwajibkan jihad, sholat jum’at, dan mencari nafkah. Tapi kenapa kita jadi tidak ridlo ketika aurot laki-laki lebih sedikit daripada perempuan, tidak ridlo ketika laki-laki ditetapkan sebagai qawwam bagi perempuan, menjadi tidak ridlo ketika laki-laki boleh menikahi 2-4  istri sedang perempuan hanya boleh menikahi 1 orang suami. Maka untuk bisa menerima hukum poligami, salah satunya adalah kita harus total menjadi hamba Allah, sehingga apapun hukum yang berasal dariNya, bisa kita terima dengan penuh keridloan.

 

5. Keadaan yang sudah berobah.

Banyak istri menolak poligami karena menganggap keadaan sekarang sudah lain dengan keadaan pada zaman Nabi, sehingga praktek poligami tidak bisa diterapkan sekarang. Saya katakan, kaedah ushul fiqh mengatakan, al-ahkaam laa tataghayyaru bitaghoyyuri-z-zaman wa-l-makaan. Hukum tidak berobah dengan perubahan waktu dan tempat. Apa yang di zaman Nabi wajib, sekarang pun tetap wajib, apa yang haram di zaman Nabi sekarang  pun tetap haram. Jilbab yang wajib di arab sana, wajib juga di indonesia. Berzina yang haram di arab di indonesia juga haram. Jadi, poligami yang dibolehkan di zama Nabi, di indonesia juga dibolehkan. Karena Allah yang disembah Nabi Muhammad di arab sana dan pada zaman itu adalah Allah yang kita sembah di indonesia ini dan di abad milineum ini ? Karena Allah yang menciptakan manusia di zaman dulu adalah Allah yang menciptakan manusia di zaman sekarang dan yang akan datang. Maka apapun yang tetapkan oleh Allah tidak akan berubah dengan berubahnya tempat atau waktu. Karena yang berubah dari masa dan waktu hanyalah bentuk dzahirnya, sedang unsur intinya tetap sama.

 

Nb : Saya pernah menulis “CARA MENGATASI CEMBURU” di sini

http://emprit.multiply.com/journal/item/8

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: