jump to navigation

FOR HUSBAND ONLY 30 Desember 2010

Posted by jihadsabili in keluarga, munakahat, muslimah, nasehat.
trackback

FOR HUSBAND ONLY

 

oleh Afiyah Mahfudhah

 

Hehehe, ini judulnya aja ko’ yang begitu, selain suami juga boleh(bahkan seharusnya baca). Di note sebelumnya, saya  kan menulis soal poligami dari sisi istri. Padahal, poligami adalah fi’il (perbuatan) yang membutuhkan faa’il (pelaku) dan maf’uul (obyek). Dan istri (terutama istri pertama) posisinya adalah maf’ul (obyek), dengan pengertian bahwa istri sama sekali tidak mempunyai hak untuk melarang suami yang ingin menikah lagi,, apalagi sampai mengancam minta cerai, kecuali jika sebelum menikah sudah mensyaratkan agar tidak dipoligami seperti Anna Althafunnisa dalam KCB.

 

Maka saya merasa perlu menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan si faa’il yaitu suami, sebagai penyeimbang, agar kita bisa menyikapi persoalan poligami ini dengan proporsional.

 

1. Hukum asal poligami adalah BOLEH atau mubah atau halal. Artinya, jika dilakukan tidak berpahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa.  Artinya lagi, jika hukum menikah pertama kali hukum asalnya sunnah, dalam arti, bi mujarradi-n-nikaah (hanya dengan menikah) seorang laki-laki (juga wanita tentu saja) mendapatkan pahala, karena hukumnya sunnah, terlepas dari bagaimana kelanjutan cerita pernikahan mereka, maka pernikahan kedua tidak demikian. Seorang suami tidak mendapatkan pahala bimujarradi-n-nikah (hanya dengan menikah) lagi. Seorang suami baru akan mendapatkan pahala setelah pernikahannya itu, jika keadaannya menjadi baik, maka dapatlah pahala, tapi sebaliknya, jika justru keadaannya  menjadi buruk maka dosalah yang didapatnya.Maka note “ko’ mau sih di madu” itu sama sekali tidak mendorong suami untuk menikah lagi. Penekanan note itu hanya memberikan pemahaman kepada istri (juga yang lain) tentang status poligami sebagai salah satu ketetapan Allah yang harus diterima dengan ridlo sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah secara total.

 

2. Keridloan istri memang bukan syarat poligami, artinya, poligami tidak menjadi batal tanpa ridlo istri. Tapiiiii, adalah kewajiban suami untuk membimbing istri dan memahamkannya tentang hukum-hukum Allah, termasuk tentang poligami, sehingga istri benar-benar menjadi hamba Allah yang kaaffah (total) menerima segala ketetapan dariNya. Maka janganlah seorang suami mendahulukan sesuatu yang mubah yaitu poligami dengan mengabaikan sesuatu yang wajib yaitu membimbing istri dan keluarganya. Sehingga kebaikan yang ingin diraih dengan menikah lagi tidak menghancurkan kebaikan yang sudah dibangun bersama istri pertama. Di sinilah pentingnya memilih pasangan berdasarkan pemahaman agamanya, bukan berdasarkan kecantikan/ketampanan, keturunan atau hartanya.

 

3. Konsekwensi dari poligami adalah bersikap adil terhadap para istri. Maka jika para suami merasa tidak bisa bersikap adil, yang  bisa diketahui dari sikap nya memperlakukan istri selama ini, memperlakukan anak-anaknya atau dalam menyikapi persoalan-persoalan yang membutukan sikap adil, maka hendaklah dia meninggalkan poligami. Karena ayat selanjutnya dari ayat kebolehan poligami itu adalah fa in lam ta’diluu fa waahidatan, dzaalika adnaa an laa ta’uuluu. Jika kalian tidak bisa berbuat adil maka nikahilah satu wanita saja, yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat dzalim. Maukah kalian melaksanakan poligami yang mubah tapi karena kalian tidak bisa berbuat adil malah kalian dibangkitkan di akherat kelak dalam keadaan pincang? Na’uudzu bi-l-Llaah min  dzaalik.  3. Dalam keadaan apabila suami memutuskan akan menikah lagi, maka hendaknya memperhatikan calon istri selanjutnya. Sama seperti kreteria menikah pertama kali, maka pertimbangannya adalah agamanya. Kalaupun belum baik agamanya, minimal dia harus siap ‘diperbaiki’ agamanya. Karena konsekwensi dari menikah lagi adalah berbuat adil di antara para istri. Dan keadilan ini tidak akan terwujud jika dari pihak istri tidak mendukung ke arah itu. Cerita tentang para istri Rasulullah yang menuntut tambahan nafkah, dan cerita tanazul (ngalah) nya Ibunda Saudah dari jatah diinapi rasulullah dan diberikan kepada ibunda Aisyah adalah bukti bahwa para istri sangat berperan dalam terealisasinya keadilan dalam rumah tangga poligami.   Ingatlah, bahwa hukum poligami adalah boleh, sedang bersikap adil setelah poligami itu wajib. Janganlah sampai gara-gara melakukan sesuatu yang boleh padahal kalian tidak mampu berbuat adil menjadikan kalian melanggar kewajiban dan mendapatkan dosa yang besar.

 

4. Banyak yang mengatakan bahwa dengan menikah lagi seorang suami tidak setia. Nastaghfiru-l-Llaaha-l-‘adziim. Marilah kita mohon ampun kepada Allah. Apakah Rasulullah yang menikah lagi berarti tidak setia? Demi Allah, kesetiaan sesungguhnya adalah kesetiaan untuk berpegang teguh pada hukum-hukum Allah, dimanapun dan dalam kondisi apapun. Saat hukum itu menyenangkan atau tidak menyenangkan. Saat dirasa hukum itu menguntungkan atau merugikan. Saat hukum berkecocokan dengan keinginan kita atau bertolak belakang. Maka ketika suami menjalankan hukum-hukum Allah sebagaimana mestinya, saat itu dia sedang setia, meskipun tidak berada di sisi sitrinya. Dan sebaliknya, meskipun berada di sisi istrinya tapi dia bergelimang dosa dan melanggar hukum-hukum Allah sejatinya dia bukanlah orang yang setia.  Wa-l-Llaahu a’lam bi-s-shawaab.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: