jump to navigation

Jaga Lisan ! 28 Desember 2010

Posted by jihadsabili in adaB.
trackback

Jaga Lisan !

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sahabat, catatan ini adalah sebuah “warning”, terlebih-lebih bagi saya sebagai insan yang tidak pernah luput dari khilaf dan dosa. Semoga mampu mendatangkan manfaat, menjadi bahan pembelajaran, dan perubahan diri kita ke arah kebaikan. Aamiin.

Karena lidah memang tidak bertulang ! Maka hendak lah kita harus lebih ekstra menjaganya. Termasuk penguasaan diri dan hati atas apa yang pernah kita tulis dalam persaudaraan di dunia maya. Memang bukan lidah kita yang secara langsung mengucapkannya. Namun apa yang di tulis dan dikomentari adalah perwakilan dari lisan kita yang sumbernya bisa berasal dari keinginan hati atau nafsu.

Benarkah lisan sangat berperan penting terhadap harga diri seseorang ? Apa yang keluar dari lisan seorang muslim adalah cermin diri yang paling mewakili siapa dan bagaimana pribadinya. Orang yang sembarangan mengumbar lisannya adalah “orang sembarangan”, sedangkan orang yang tidak sembarangan dalam berkata-kata atau orang yang benar-benar bisa menjaga lisannya untuk amar ma’ruf nahi munkar adalah “bukan orang sembarangan” pula.

Karena itu, untuk menjaga muru’ah kita, ada beberapa perkara yang harus di jaga dan perhatikan ketika hendak berbicara :

– Hanya berbicara tentang yang baik, atau jika tidak lebih baik diam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Muttafaq ‘alaihi)

– Menjauhkan diri dari pembicaraan yang bercampur dengan kebatilan.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Kesalahan manusia yang paling besar pada hari kiamat nanti adalah yang paling banyak campur baurnya kebatilan.”

– Jangan suka berdebat ! Meski diri dalam posisi benar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Saya menjamin sebuah rumah di dalam surga bagi yang meninggalkan pertentangan walaupun dalam kondisi benar.” (HR Abu Dawud)

Jika sudah paham akan hal ini, tentu semakin berkurang perdebatan serta perang status dan komentar dalam pergaulan, baik dalam keakraban di dunia nyata atau pun maya yang ujung-ujungnya sering membawa pada perpecahan umat muslim.
Gunakan kalimat nasihat yang baik dan jangan menjatuhkan dan merendahkan orang lain yang mungkin belum tahu akan suatu ilmu daripada kita.

– Tidak baik berlebih-lebihan dalam berbicara.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari kiamat adalah para penceloteh, orang yang banyak bicara tanpa teliti, dan orang yang berbicara dengan sombong.” (HR at-Turmudzi)

Jadi, jangan bangga dulu jika diri kita mendapat gelar “si tukang heboh” atau “si petasan cabe rawit” dari teman-teman dan lingkungan. Instrospeksi dari sekarang, apakah ucapan yang kita lafaskan sudah penuh makna dan membawa kebaikan bagi diri dan orang lain atau hanya celoteh kosong yang bermaksud agar menjadi pusat perhatian ?

– Belajar menjadi pendengar yang baik tatkala ada orang berbicara serta tidak gampang memotong pembicaraan orang lain, tidak meremehkan dan tidak memalingkan pandangan dari orang tersebut.

– Dilarang keras ghibah (menggunjing) !
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman ! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS al-Hujurat : 12)

Jangan senang dulu bila merasa leluasa menggunjing atau membongkar aib teman kita kepada yang lain (karena merasa aman dari ketidaktahuan “si korban gunjingan”). Ingat, kejahatan meskipun seberat zarrah tetap akan dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya.
Semoga pintu taubat dari Allah Ta’ala terbuka untuk kita atas kesalahan dan kekhilafan yang sengaja atau tidak karena telah menggunjing dan membongkar perkara yang dapat mempermalukan saudara seiman. Aamiin.

– Jauhi sifat namimah, yaitu suka menyebarkan perkataan diantara manusia dengan tujuan merusak silaturrahim.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Tidak akan masuk surga para penyebar fitnah.” (HR Muslim)

Sahabat, mari kita sama-sama berusaha memperbaiki diri ke arah yang lebih baik sesuai perintah Allah Ta’ala. Serta meneladani Rasul-Nya dan para sahabat beliau. Jangan ditunda-tunda ! Sebab tujuan akhir bagi kita bukanlah dunia melainkan akhirat. Yang muda atau tua, laki-laki dan perempuan, yang berkuasa atau tengah tertindas, semua akan merasakan kematian. Mulailah perbaikan itu dari menjaga lisan kita dalam bersaudara. Karena lisan bisa menjadi perkara yang memuliakan atau jatuh menghinakan diri kita, baik dihadapan manusia dan dihadapan Allah Ta’ala kelak.

Wallahu a’lam bisshawab.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: