jump to navigation

“Ayah, Aku ingin Membeli Waktumu” kata seorang anak 26 Desember 2010

Posted by jihadsabili in anak.
trackback

“Ayah, Aku ingin Membeli Waktumu” kata seorang anak

Seperti biasa (sebut saja) Rudi kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imran putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu ayahnya cukup lama.

 

Kok belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya Imran memang sudah lelap ketika ia pulang, dan baru bangun ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

 

Sambil mengikuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imran menjawab, “Aku nunggu ayah pulang. Soalnya aku mau tanya berapa sih gaji ayah?”

 

Lho tumben kok nanya gaji ayah? Mau minta uang lagi ya?” jawab Rudi.

 

Ah enggak, cuma pingin tau aja,” kata Imran.

 

Oke. Kamu boleh hitung sendiri, setiap hari ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi gaji ayah dalam satu bulan berapa hayoo?”

 

Imran berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk ganti pakaian, Imran berlari mengikutinya.

 

Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” kata Imran.

 

Wah pinter kamu. Sudah sekarang cuci kaki terus tidur,” perintah Rudi.

 

Tapi Imran tidak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya ganti pakaian, dia kembali bertanya, “Ayah aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”

 

Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek, ayah mau mandi dulu, kamu tidur dulu sana.” Jawab Rudi.

 

Tapi ayah ……”,  timpal Imran.

 

Kesabaran Rudi pun habis, “Ayah bilang tidur!”, perkataan itu mengejutkan Imran. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali perkataannya tadi. Ia pun menengok Imran di kamarnya. Anak kesayangannya itu didapatinya sedang bicara pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.

 

Sambil berbaring dan mengelus kepala si bocah kecil itu, Rudi berkata, “Maafkan ayah ya nak. Ayah sayang sama Imran. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan besok kan bisa. Jangankan Rp 5.000,-, lebih dari itu pun ayah kasih.

 

Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau aku sudah menabung lagi dari uang jajanku selama minggu ini.” Jawab Imran.

 

Iya iya, tapi buat apa?” tanya Rudi dengan lembut.

 

Aku menuggu ayah dari jam 8. Aku mau ajak ayah main . Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu ayah itu sangat berharga. Jadi aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku ada Rp 15.000,-. Tapi karena ayah bilang satu jam ayah dibayar Rp 40.000,-, jadi kalau setengah jam Rp 20.000,-. Uang tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari ayah.” Kata Imran dengan polos. Rudi pun terdiam, ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: