jump to navigation

Ucapan ‘Shadaqallohul ‘Azhiim’ (Maha Benar Alloh yang Maha Agung), Mencium Mushaf, dan Permasalahan Lainnya 24 Desember 2010

Posted by jihadsabili in Doa, fatwa.
trackback

Ucapan ‘Shadaqallohul ‘Azhiim’ (Maha Benar Alloh yang Maha Agung), Mencium Mushaf, dan Permasalahan Lainnya

Ucapan ‘Shadaqallohul ‘Azhiim’ (Maha Benar Alloh yang Maha Agung), Mencium Mushaf, dan Permasalahan Lainnya. (Fatawa Lajnah Da’imah Lil Buhuuts al- ‘Ilmiyyah, No. 3303)a

 

Ucapan ‘Shadaqallohul ‘Azhiim’ (Maha Benar Alloh yang Maha Agung) seusai setiap membaca Al- Qur’an merupakan perbuatan yang di-ada- adakan, karena perbuatan tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, maupun para al- Khulafa’ur Rasyidin, atau para Shahabat Radhialloohu ‘Anhum. Juga tidak pernah dilakukan oleh para Imam- imam Salaf padahal mereka sangat sering membaca Al- Qur’an, sangat memperhatikannya, dan mengerti tentangnya. Dengan demikian ucapan tersebut dan PENGHARUSAN BACAANNYA SETIAP KALI USAI MEMBACA AL- QUR’AN adalah perbuatan bid’ah yang diada- adakan.

 

Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwasanya beliau bersabda,

 

“Barangsiapa mengada- adakan dalam perkara kami ini (perkara agama) yang tidak berasal darinya, maka dia akan tertolak”. (HR. al- Bukhori dan Muslim. Diriwayatkan oleh al- Bukhori No. 2697 dalam al- Shulh, Bab ‘Idzaa Ishthalahu ‘ala Shulhin Juur Fash Shulh Mardud” dan Muslim No. 1718, jilid 18, dalam Kitab ‘al- Uqdhiyah’ Bab ‘Naqdhul Ahkamil Bathilah Wa Raddu Muhdatsatil Umur’ dari hadits ‘Aisyah Radhialloohu ‘Anha).

 

Dalam lafazh yang lain yang diriwayatkan oleh imam Muslim disebutkan,

 

“Barangsiapa melaksanakan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka amalan tersebut tertolak”.

Diriwayatkan oleh Muslim No. 1718, jilid 18, dalam Kitab ‘al- Uqdhiyah’ Bab ‘Naqdhul Ahkamil Bathilah Wa Raddu Muhdatsatil Umur’ dari hadits ‘Aisyah Radhialloohu ‘Anha.

 

ADAPUN APABILA UCAPAN TERSEBUT DILAFAZHKAN SESEORANG SESEKALI SAAT MENDENGARKAN SUATU AYAT ATAU MEMIKIRKANNYA KEMUDIAN IA MENDAPATKAN SUATU PENGARUH YANG NYATA DALAM DIRINYA, MAKA TIDAK MENGAPA BAGINYA UNTUK MENGUCAPKAN “SHODAQOLLOHUL ‘AZHIIM” Maha Benar Alloh Yang Maha Agung, telah begini dan begitu”. (Fatawa Lajnah Da’imah, No. 3303).

 

Alloh Ta’ala telah berfirman,

 

“Katakanlah ‘SHODAQOLLOH” -Benarlah (apa yang difirmankan) Alloh-, maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang- orang yang musyrik”. (QS. Ali Imran: 95).

 

“Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Alloh”. (QS. An- Nisa’ :87).

 

Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam telah bersabda,

 

“Sesungguhnya sebaik- baik perkataan adalah Kitabulloh”. (Diriwayatkan oleh Muslim, No. 867, 43 dalam Kitab Jum’ah, Bab ‘Memendekkan Sholat dan Khutbah’).

 

Maka boleh mengucapkan ucapan, “Shadaqolloh” dalam beberapa peristiwa yang menunjang ucapan tersebut, seperti bila melihat sesuatu yang terjadi, yang sebelumnya Alloh Ta’ala telah mengingatkannya. NAMUN APABILA KITA MENJADIKAN UCAPAN TERSEBUT SEAKAN- AKAN TERMASUK HUKUMAN BACAAN, maka perbuatan itu tidak ada dasarnya dan MENGHARUSKANNYA termasuk bid’ah. Yang ada dasarnya dalam hukum bacaan adalah memulai membaca dengan mengucapkan ISTI’ADZAH (do’a memohon perlindungan), sebagaimana difirmankan Alloh Ta’ala:

 

“Apabila kamu membaca Al- Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Alloh dari syaithan yang terkutuk”. (QS. An- Nahl: 98).

 

Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam mengucapkan do’a perlindungan dari syaithan saat memulai membaca Al- Qur’an dan MEMBACA BASMALAH SETIAP AWAL SURAT SELAIN SURAT AL- BARA’AH (At- Taubah). Adapun seusai membaca Al- Qur’an, tidak ada pengharusan untuk mengucapkan dzikir khusus atau ucapan “Shadaqolloh”, atau lainnya. (Fatawa Syaikh Shalih bin Fauzan al- Fauzan, Nur ‘Alad Darbi. Juz III. I’dad Fayis Musa Abu Syaikhah).

 

Mencium Mushaf Sebelum Membaca Atau Sesudahnya.

Tidak Kami ketahui sebuah dalil pun yang mensyari’atkan untuk mencium Al- Qur’anul Karim, karena Al- Qur’an diturunkan untuk dibaca, diperhatikan, diagungkan, dan diamalkan. (Fatawa Lajnah Da’imah, No. 8852).

 

Membasuh Tangan seusai membaca Al- Qur’an

Tidak disyari’atkan mencuci tangan seusai membaca Al- Qur’an, baik di kran maupun di kamar mandi. (Fatawa Lajnah Da’imah, No. 9410).

 

Sumber: “Bida’un Naas Fil Qur’an: Penyimpangan Terhadap Al- Qur’an. 93- 97. Abu Anas Ali Bin Husain Abu Luz. Pustaka Darul Haq. Jakarta.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: