jump to navigation

Pohon Dalam Hati.. 31 Desember 2010

Posted by jihadsabili in nasehat.
add a comment

Pohon Dalam Hati..

Tahun bagaikan pohon, bulan bagaikan cabang-cabangnya, hari bagaikan ranting-rantingnya, jam bagaikan daun-daunnya dan nafas bagaikan buahnya.

 

Barangsiapa jiwanya senantiasa dalam ketaatan, maka buah pohon itu akan baik dan barangsiapa jiwanya dalam kemaksiatan, maka buahnya akan terasa pahit.

 

Panen buah akan terjadi pada hari kiamat, ketika buah itu telah matang, maka nyatalah buah itu manis atau pahit.

 

Keikhlasan hati dan tauhid bagaikan pohon di dalam hati, cabang-cabangnya bagaikan amal perbuatan, buahnya bagaikan kehidupan yang baik di dunia dan kenikmatan yang abadi di akhirat, sebagaimana buah-buahan di surga yang tidak pernah putus-putusnya, maka buah tauhid dan keikhlasan di dunia juga tidak ada putusnya.

 

Syirik, kedustaan dan riya’ bagaikan pohon dalam hati, buahnya di dunia adalah ketakutan, kegelisahan, kedukaan, kesempitan dan kezoliman hati, sedangkan buahnya di akhirat kelak adalah siksa neraka dan azab yang abadi.

 

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berkata :

 

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

 

“tidakkah engkau perhatikan bagaimana Alloh membuat permisalan kalimat yang toyyibah (laa ilaaha illalloh) seperti pohon yang toyyibah akarnya kuat dan cabang-cabangnya menjulang kelangit”.

 

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

 

“pohon itu berbuah setiap saat dengan izin Robbnya, dan Alloh membuat perumpamaan-perumpamaan untuk manusia agar mereka senantiasa ingat”.(QS. Ibrohim : 24-25).

 

 

wallohu a’lam bish showab

KO’ MAU SIH DIMADU 30 Desember 2010

Posted by jihadsabili in keluarga, munakahat, muslimah, nasehat.
add a comment

KO’ MAU SIH DIMADU

Sejak belum menikah, saya sudah pro poligami disaat banyak dari kaum saya yang tidak setuju bahkan menentangnya. Maka sekarang saya akan coba menuliskan beberapa hal yang membuat saya pro poligami alias mau dimadu.

 

Bagi saya, poligami  hanyalah satu dari sekian banyak perkara yang ditetapkan Allah untuk manusia. Maka memandang poligami bagi saya adalah memandang sebuah hukum syara’ yang harus kita sikapi sebagaimana mestinya. Yang pertama adalah kita teliti dulu dalil-dalinya, jika sudah yakin dengan hukumnya maka selanjutnya adalah menerimanya dengan penuh keridloan.  Dan saya sudah yakin dengan dalil kebolehannya, maka tidak ada pilihan lagi bagi saya selain menerimanya. Bukankah Allah berfirman dalam Al-Quran surat al-Ahzab ayat 36, wa maa kaana limu-minin walaa mu-minatin idzaa qadlaa-l-Llahu wa rasuuluhu amran an yakuuna lahumu-l-khiyarotu min amrihim, wa man ya’shi-l-Llaaha wa rasuulahu faqad dlalla dlalaalan ba’iidaa. Tidaklah ada bagi seorang mukmin dan mukminah jika Allah dan RasulNya telah menetapkan sesuatu, kemudian dia mempunyai pilihan  dari perkaranya itu (selain menerimananya), dan barang siapa berma’siyat (tidak taat) kepada Allah dan RasulNya maka dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.

 

Sehingga, bagi saya persoalan poligami bukan hanya persoalan hukum syara’ tapi juga persoalan aqidah, keyakinann dan cara pandang kita dalam melihat persoalan. Di sini akan coba saya list hal-hal yang mungkin membuat banyak perempuan menolak poligami, dan kita akan bisa melihat kebenaran dari pernyataan saya bahwa masalah poligami bukan sekedar masalah hukum fiqih, tapi masalah keyakinan (aqiidah) dan cara cara berfikir (thariiqatu-t-tafkiir).

 

1. Ketergantungan (ta’alluq).

Yang saya maksud ketergantungan disini adalah ketergantungan ma’nawi. Sebagai istri, secara fisik kita memang tergantung pada suami, tapi hendaknya secara ma’nawi kita tetap tergantung kepada Allah. Karena suami kita bukanlah milik kita, begitu juga dengan semua hal yang ‘sepertinya’ milik kita. Semuanya adalah milik Allah. Rasa ketergantungan ma’nawi ini akan sangat mempengaruhi kesiapan kita ‘kehilangan’ suami dan apapun yang sepertinya milik kita. Kisah seorang shahabiyah wanita yang ditinggal mati oleh suaminya dengan beberapa anak yg masih kecil, dan ketika tak nampak sedikitpun aura kekhawatiran (kalau kesedihan tentu ada dan wajar) darinya lalu seseorang menanyakan hal tersebut, shahabiyah itu dengan penuh keyakinan menjawab ; ajiduhu akkaalaan wa laisa razzaaqan, fa-idza dzahaba-l-akkaalu baqiya-r-Razzaaqu, atau fa idzaa maata-l-akkaalu fa-r-Razzaaqu hayyun laa yamuutu. Aku mendapati suamiku adalah seorang pemakan bukan pemberi rizki, dan jika pemakan itu pergi maka masih ada sang pemberi rizki, atau jika si pemakan itu mati, maka pemberi rizki tidak akan mati. Kaitannya dengan poligami, para istri ga mau dimadu karena mereka takut ‘kehilangan’ suami.

 

2. Cara berfikir yang terbalik.

Kebanyakan suami istri, mereka sudah saling mencintai sebelum menikah. Menurut saya hal itu boleh-boleh saja.Yang tidak boleh adalah menganggap bahwa yang mengikat suami istri adalah rasa cinta itu. Yang tidak boleh adalah berfikir bahwa kita menikahi pasangan karena kita mencintai dia. Yang betul adalah sebaliknya, kita mencintai pasangan karena dialah pasangan halal kita. Kalau dia bukan pasangan halal kita atau sudah tidak jadi pasangan halal kita, seharusnya kita tidak mencintainya. Artinya, standar amal kita adalah aturan Allah, bukan perasaan kita. Meskipun perasaan kita begitu cinta pada sesorang, kalau dia tidak halal buat kita, kita tidak boleh menurutkan perasaan tersebut. Sebuah riwayat menceritakan tentang salah seorang sahabat yang mendatangi Umar bin Khatthab mengatakan bahwa dia mau menceraikan istrinya karena sudah tidak cinta. Umar menjawab : Jika pernikaha itu hanya cinta lalu dimana tanggung jawab dan komitmen?.Kaitannya dengan poligami, para istri ga mau dimadu karena sangat mencintai suami.

 

3. Cemburu.

Hampir semua istri yang menolak suami karena alasan cemburu. Saya katakan, bahwa standar kita adalah aturan Allah. Termasuk dalam hal cemburu. Cemburu adalah aktifitas hati, yang merupakan salah satu anggota tubuh kita sehingga kita bisa mengendalikannya, sebagaimana rasa cinta atau rasa-rasa yang lain. Maka rasa cemburu ini juga harus tunduk pada aturan Allah. Apakah boleh kita cemburu pada pasangan karena dia melakukan sholat, atau haji atau berjihad atau ibadah2 wajib yang lain? Tentu tidak kan?. Nah, ketika suami sudah memutuskan untuk menikah lagi, maka memberi nafkah kepada istrinya yang lain adalah kewajibanya, adalah ibadah baginya. Maka mencemburui suami yang sedang ibadah adalah perbuatan yang tidak sejalan dengan aturan Allah. Seharusnya kita cemburu ketika pasangan berbuat yang haram. Kita HARUS cemburu ketika dia korupsi, mencuri, berbohong, dll. Dan kita HARUS cemburu ketika dia berbuat selingkuh, berbuat khalwat (berdua-duaan), bermesra mesraan dengan yg tidak halal baginya. Saat itu kita cemburu bukan HANYA karena rasa cinta kita, tapi karena rasa cinta yang sudah sejalan dengan aturan Allah.

 

4.  Totalitas penghambaan.

Satu lagi faktor yang saya kira sangat berpengaruh adalah keadaan istri dalam menerima ketentuan Allah secara total, bukan dipilih-pilih sekehendak hatinya. Allah sudah menentukan bahwa laki-laki dan permepuan mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda terkait dengan model penciptaan  mereka yang memang berbeda. Secara kemanusiaan, laki-laki dan perempuan sama, tapi secara jenis laki-laki dan perempuan mereka berbeda, sehingga hukum-hukum yang mengenai mereka juga ada yang sama dan ada yng berbeda. Salah satu wasiat Nabi agar kita berhasil menjadi manusia bertaqwa adalah ridlo bimaa qassama-l-Laahu, merasa ridlo dengan pembagian Allah. Pembagian Allah ini bukan hanya pembagian rizki si kaya dan si miskin, si A dikasih anak dan si B dibuat mandul, si fulan dibuat cerdas sedang si fulana dibuat otak pas-pasan, tapi juga mencakup hak dan kewajiban. Kita ridlo laki-laki diwajibkan jihad, sholat jum’at, dan mencari nafkah. Tapi kenapa kita jadi tidak ridlo ketika aurot laki-laki lebih sedikit daripada perempuan, tidak ridlo ketika laki-laki ditetapkan sebagai qawwam bagi perempuan, menjadi tidak ridlo ketika laki-laki boleh menikahi 2-4  istri sedang perempuan hanya boleh menikahi 1 orang suami. Maka untuk bisa menerima hukum poligami, salah satunya adalah kita harus total menjadi hamba Allah, sehingga apapun hukum yang berasal dariNya, bisa kita terima dengan penuh keridloan.

 

5. Keadaan yang sudah berobah.

Banyak istri menolak poligami karena menganggap keadaan sekarang sudah lain dengan keadaan pada zaman Nabi, sehingga praktek poligami tidak bisa diterapkan sekarang. Saya katakan, kaedah ushul fiqh mengatakan, al-ahkaam laa tataghayyaru bitaghoyyuri-z-zaman wa-l-makaan. Hukum tidak berobah dengan perubahan waktu dan tempat. Apa yang di zaman Nabi wajib, sekarang pun tetap wajib, apa yang haram di zaman Nabi sekarang  pun tetap haram. Jilbab yang wajib di arab sana, wajib juga di indonesia. Berzina yang haram di arab di indonesia juga haram. Jadi, poligami yang dibolehkan di zama Nabi, di indonesia juga dibolehkan. Karena Allah yang disembah Nabi Muhammad di arab sana dan pada zaman itu adalah Allah yang kita sembah di indonesia ini dan di abad milineum ini ? Karena Allah yang menciptakan manusia di zaman dulu adalah Allah yang menciptakan manusia di zaman sekarang dan yang akan datang. Maka apapun yang tetapkan oleh Allah tidak akan berubah dengan berubahnya tempat atau waktu. Karena yang berubah dari masa dan waktu hanyalah bentuk dzahirnya, sedang unsur intinya tetap sama.

 

Nb : Saya pernah menulis “CARA MENGATASI CEMBURU” di sini

http://emprit.multiply.com/journal/item/8

FOR HUSBAND ONLY 30 Desember 2010

Posted by jihadsabili in keluarga, munakahat, muslimah, nasehat.
add a comment

FOR HUSBAND ONLY

 

oleh Afiyah Mahfudhah

 

Hehehe, ini judulnya aja ko’ yang begitu, selain suami juga boleh(bahkan seharusnya baca). Di note sebelumnya, saya  kan menulis soal poligami dari sisi istri. Padahal, poligami adalah fi’il (perbuatan) yang membutuhkan faa’il (pelaku) dan maf’uul (obyek). Dan istri (terutama istri pertama) posisinya adalah maf’ul (obyek), dengan pengertian bahwa istri sama sekali tidak mempunyai hak untuk melarang suami yang ingin menikah lagi,, apalagi sampai mengancam minta cerai, kecuali jika sebelum menikah sudah mensyaratkan agar tidak dipoligami seperti Anna Althafunnisa dalam KCB.

 

Maka saya merasa perlu menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan si faa’il yaitu suami, sebagai penyeimbang, agar kita bisa menyikapi persoalan poligami ini dengan proporsional.

 

1. Hukum asal poligami adalah BOLEH atau mubah atau halal. Artinya, jika dilakukan tidak berpahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa.  Artinya lagi, jika hukum menikah pertama kali hukum asalnya sunnah, dalam arti, bi mujarradi-n-nikaah (hanya dengan menikah) seorang laki-laki (juga wanita tentu saja) mendapatkan pahala, karena hukumnya sunnah, terlepas dari bagaimana kelanjutan cerita pernikahan mereka, maka pernikahan kedua tidak demikian. Seorang suami tidak mendapatkan pahala bimujarradi-n-nikah (hanya dengan menikah) lagi. Seorang suami baru akan mendapatkan pahala setelah pernikahannya itu, jika keadaannya menjadi baik, maka dapatlah pahala, tapi sebaliknya, jika justru keadaannya  menjadi buruk maka dosalah yang didapatnya.Maka note “ko’ mau sih di madu” itu sama sekali tidak mendorong suami untuk menikah lagi. Penekanan note itu hanya memberikan pemahaman kepada istri (juga yang lain) tentang status poligami sebagai salah satu ketetapan Allah yang harus diterima dengan ridlo sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah secara total.

 

2. Keridloan istri memang bukan syarat poligami, artinya, poligami tidak menjadi batal tanpa ridlo istri. Tapiiiii, adalah kewajiban suami untuk membimbing istri dan memahamkannya tentang hukum-hukum Allah, termasuk tentang poligami, sehingga istri benar-benar menjadi hamba Allah yang kaaffah (total) menerima segala ketetapan dariNya. Maka janganlah seorang suami mendahulukan sesuatu yang mubah yaitu poligami dengan mengabaikan sesuatu yang wajib yaitu membimbing istri dan keluarganya. Sehingga kebaikan yang ingin diraih dengan menikah lagi tidak menghancurkan kebaikan yang sudah dibangun bersama istri pertama. Di sinilah pentingnya memilih pasangan berdasarkan pemahaman agamanya, bukan berdasarkan kecantikan/ketampanan, keturunan atau hartanya.

 

3. Konsekwensi dari poligami adalah bersikap adil terhadap para istri. Maka jika para suami merasa tidak bisa bersikap adil, yang  bisa diketahui dari sikap nya memperlakukan istri selama ini, memperlakukan anak-anaknya atau dalam menyikapi persoalan-persoalan yang membutukan sikap adil, maka hendaklah dia meninggalkan poligami. Karena ayat selanjutnya dari ayat kebolehan poligami itu adalah fa in lam ta’diluu fa waahidatan, dzaalika adnaa an laa ta’uuluu. Jika kalian tidak bisa berbuat adil maka nikahilah satu wanita saja, yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat dzalim. Maukah kalian melaksanakan poligami yang mubah tapi karena kalian tidak bisa berbuat adil malah kalian dibangkitkan di akherat kelak dalam keadaan pincang? Na’uudzu bi-l-Llaah min  dzaalik.  3. Dalam keadaan apabila suami memutuskan akan menikah lagi, maka hendaknya memperhatikan calon istri selanjutnya. Sama seperti kreteria menikah pertama kali, maka pertimbangannya adalah agamanya. Kalaupun belum baik agamanya, minimal dia harus siap ‘diperbaiki’ agamanya. Karena konsekwensi dari menikah lagi adalah berbuat adil di antara para istri. Dan keadilan ini tidak akan terwujud jika dari pihak istri tidak mendukung ke arah itu. Cerita tentang para istri Rasulullah yang menuntut tambahan nafkah, dan cerita tanazul (ngalah) nya Ibunda Saudah dari jatah diinapi rasulullah dan diberikan kepada ibunda Aisyah adalah bukti bahwa para istri sangat berperan dalam terealisasinya keadilan dalam rumah tangga poligami.   Ingatlah, bahwa hukum poligami adalah boleh, sedang bersikap adil setelah poligami itu wajib. Janganlah sampai gara-gara melakukan sesuatu yang boleh padahal kalian tidak mampu berbuat adil menjadikan kalian melanggar kewajiban dan mendapatkan dosa yang besar.

 

4. Banyak yang mengatakan bahwa dengan menikah lagi seorang suami tidak setia. Nastaghfiru-l-Llaaha-l-‘adziim. Marilah kita mohon ampun kepada Allah. Apakah Rasulullah yang menikah lagi berarti tidak setia? Demi Allah, kesetiaan sesungguhnya adalah kesetiaan untuk berpegang teguh pada hukum-hukum Allah, dimanapun dan dalam kondisi apapun. Saat hukum itu menyenangkan atau tidak menyenangkan. Saat dirasa hukum itu menguntungkan atau merugikan. Saat hukum berkecocokan dengan keinginan kita atau bertolak belakang. Maka ketika suami menjalankan hukum-hukum Allah sebagaimana mestinya, saat itu dia sedang setia, meskipun tidak berada di sisi sitrinya. Dan sebaliknya, meskipun berada di sisi istrinya tapi dia bergelimang dosa dan melanggar hukum-hukum Allah sejatinya dia bukanlah orang yang setia.  Wa-l-Llaahu a’lam bi-s-shawaab.

Kenapa Allah tidak Mengabulkan Doa Kami? 30 Desember 2010

Posted by jihadsabili in adaB, Doa, nasehat.
add a comment

Ibrahim bin Adham pernah ditanya, “Kami telah berdoa kepada Allah, tapi Allah tidak mengabulkan permintaan kami?”

 

Beliau menjawab,

 

Kalian telah berilmu tentang Allah, tapi kalian tidak taat pada-Nya

 

Kalian membaca Al Quran, tapi tidak mengamalkannya.

 

Kalian tahu kejahatan syaithan, tapi kalian menyepakatinya.

 

Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah, tapi kalian tinggalkan sunnahnya.

 

Kalian bilang kalian ingin masuk surga, tapi tidak berusaha memperolehnya.

 

Kalian mengklaim kalian takut kepada neraka, namun kalian tidak taat kepada Allah.

 

Kalian bilang kematian sungguh telah dekat, tapi kalian tidak mempersiapkannya.

 

Kalian sibuk dengan kesalahan orang lain, namun tidak merenungkan kesalahan kalian.

 

Kalian makan rezeki yang Allah anugerahkan, tapi kalian tidak bersyukur.

 

Kalian menguburkan jasad orang yang mati, tapi tidak pernah menjadikannya sebuah perenungan.

 

Sumber: Al-Khushoo’ fee As-Salaat oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali, dengan tahqiq Syaikh Ali Hasan.Diterjemahkan untuk http://ulamasunnah.wordpress.com/ dari:http://www.troid.org/news/brief-benefits/we-supplicate-to-allaah-but-he-does-not-respond-to-us-2.html

 

http://ulamasunnah.wordpress.com/

AGAR TERHIDANG MAKANAN HALAL DI RUMAH 30 Desember 2010

Posted by jihadsabili in keluarga, makanan, nasehat.
add a comment

AGAR TERHIDANG MAKANAN HALAL DI RUMAH

Meja makan di ruang makan rumah kita ternyata merupakan tempat yang memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi bila telah terhidang beraneka ragam makanan, minuman serta buah-buahan di atasnya. Siapa pun di antara anggota keluarga kita tentu akan selalu berhasrat untuk segera menyantapnya.

Ada hal yang penting dalam masalah santap-menyantap makanan dan mereguk minuman. Yaitu, apapun yang kita santap memiliki peranan yang sangat besar terhadap perkembangan fisik maupun kejiwaan. Ia juga sangat berpengaruh terhadap baik dan tidaknya hati seseorang yang otomatis akan berpengaruh terhadap seluruh jasadnya. Santapan yang halalan thoyyiban, halal dan baik, akan membentuk jiwa yang suci dan jasmani yang sehat. Sebaliknya santapan yang haram tentu hanya akan membentuk jiwa yang keji yang bersifat hewani.

 

Sebagian Pengaruh Buruk Santapan Haram

Tidak dipungkiri bahwa sebagian tabiat dan watak manusia dibentuk dari makanan yang ia konsumsi. Makanan akan diolah menjadi darah, dan darah akan membentuk daging, sedangkan daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram akan berbuah adzab. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

لاَ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ جَسَدٌ غُذِيَ بِالْحَرَامِ

“Tidak akan masuk surga (yaitu) tubuh yang diberikan makan dari sesuatu yang haram.” (HR. Abu Ya’la  1/29, Silsilah ash-Shohihah no. 2609)

Makanan yang haram menjadi sebab berpalingnya seseorang dari ketaatan menjalankan kewajiban agamanya. Makanan yang haram lagi jelek akan menghalangi terkabulnya do’a, sebagaimana dikisahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang seorang laki-laki yang sedang safar lalu mengangkat kedua tangannya seraya berdo’a:

 

يا رَبِّ يا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Ya Robb, Ya Robb, (Ya Alloh, Ya Alloh). Sementara yang ia makan, yang ia minum, yang ia kenakan berupa pakaian seluruhnya dari sesuatu yang haram. Bahkan ia dikenyangkan oleh sesuatu yang haram. Bagaimana kiranya doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim: 1015)

Dan telah dimaklumi bahwa kondisi safar termasuk salah satu sebab terkabulnya do’a, begitu juga mengangkat tangan. Namun karena makanannya dari yang haram, maka do’anya tidak dikabulkan oleh Alloh Ta’ala.

 

Peranan Penting Suami

Oleh karena itu, agar apa yang terhidang di atas meja makan rumah kita terpelihara dari yang haram lagi jelek, maka seorang suami harus perhatian dan selektif dalam mencari nafkah.

 

Dalam mencari nafkah hendaknya didasari dengan kaidah yang benar. Kaedah-kaedah tersebut antara lain:

  1. Yakinlah bahwa rezeki itu di tangan Alloh  azza wajalla.
  2. Kemudian raihlah rezeki dengan beribadah, bertakwa, berdo’a dan tawakkal serta berbaik sangka kepada-Nya  azza wajalla. Caranya, hendaknya rezeki itu diperoleh dengan cara yang Dia ridhoi.
  3. Ingatlah bahwa tujuan kita mencari rezeki adalah untuk beribadah kepada-Nya, sehingga jangan sampai saat menuntut rezeki justru lalai dari ibadah.
  4. Jangan tertipu oleh sistem kafir yang menghalalkan segala cara asalkan hasilnya banyak. Sistem ini hanyalah sistem hewani (QS. Muhammad : 12).
  5. Bila mendapatkan rezeki, ridholah dan qona’ahlah atas pemberian-Nya subhanahu wata’ala.

 

Apabila seorang suami memperhatikan kaidah-kaidah tersebut, insya Alloh ia akan bisa menghindari harta yang haram dan hanya mengambil yang halal dengan cara yang baik lagi halal. Dengan begitu ia hanya akan membawa ke rumah nafkah yang baik lagi halal semata. Namun apabila seorang suami tidak berpegang pada kaidah yang baik dalam mencari nafkah, maka ia akan terjatuh dan tertipu oleh harta haram dan akan mengenyangkan keluarganya dengan nafkah yang haram pula. Sehingga nafkah yang ia berikan hakikatnya hanya berbuah malapetaka semata. Naudzu billahi min dzalik.



Sumber:

http://alghoyami.wordpress.com/2010/12/12/agar-terhidang-makanan-halal-di-rumah/

Bahaya Minuman Soft Drink! 30 Desember 2010

Posted by jihadsabili in makanan, tips.
add a comment

Bahaya Minuman Soft Drink!

 

Oleh Saif Al Battar pada Jum’at 05 November 2010, 06:05 AM

 

 

Ada beberapa alasan kenapa Soft drink itu dapat merusak kesehatan kita. Ada beberapa point yang didapatkan dari beberapa sumber, seperti yang disebutkan di bawah ini:

 

1. Untuk membersihkan toilet :

 

Tuangkan sekaleng Coca-Cola ke dalam toilet.

Tunggu sejam, kemudian siram sampai bersih.

Asam sitric dalam Coca-Cola menghilangkan noda-noda dari keramik .

 

2. Untuk membersihkan radiator mobil :

 

Campur sekaleng Coca-Cola ke dalam karburator.

Panaskan mesin 15-30 menit.

Dinginkan mesin, setelah itu buang air karburator.

Anda akan melihat karat yang rontok bersama air tersebut.

 

3. Untuk menghilangkan titik-titik karat dari bumper /chrome mobil:

 

Gosok bumper dengan gumpalan alumunium foil yang direndam dalam Coca-Cola.

 

4. Untuk membersihkan korosi dari terminal aki mobil :

 

Tuangkan sekaleng Coca-Cola di atas terminal aki untuk membersihkan korosi.

 

5. Untuk melonggarkan baut yang berkarat :

 

Gosokkan kain yang direndam dalam Coca-Cola pada baut yang berkarat.

 

6. Untuk menghilangkan noda-noda lemak pada pakaian :

 

Tuangkan sekaleng Coca-Cola ke dalam tumpukan cucian yang bernoda lemak, tambahkan detergent, dan putar dengan putaran normal.

Coca-cola/Pepsi akan menolong menghilangkan noda lemak.

 

Untuk Perhatian Kita

 

PH rata-rata dari soft drink, 

a.l. Coca-Cola & Pepsi adalah 3.4..

 

Tingkat keasaman ini cukup kuat untuk melarutkan gigi dan tulang!

 

Tubuh kita berhenti menumbuhkan tulang pada usia sekitar 30th.

 

Setelah itu tulang akan larut setiap tahun melalui urine tergantung dari tingkat keasaman makanan yang masuk.

 

Semua Calcium yg larut berkumpul di dalam arteri,urat nadi, kulit, urat daging dan organ, yang mempengaruhi fungsi ginjal dalam membantu pembentukan batu ginjal.

 

Soft drinks tidak punya nilai gizi (dalam hal vitamin dan mineral).

 

Mereka punya kandungan gula lebih tinggi, lebih asam, dan banyak zat aditif seperti pengawet dan pewarna.

 

Sementara orang suka meminum soft drink dingin setelah makan, coba tebak apa akibatnya? Akibatnya?

 

Tubuh kita mempunyai suhu optimum 37 supaya enzim pencernaan berfungsi.

 

Suhu dari soft drink dingin jauh di bawah 37,terkadang mendekati 0.

 

Hal ini mengurangi keefektivan dari enzim dan memberi tekanan pada sistem pencernaan kita,mencerna lebih sedikit makanan.

 

Bahkan makanan tersebut difermentasi.

 

Makanan yang difermentasi menghasilkan bau, gas, sisa busuk dan racun,yang diserap oleh usus, diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh.

 

Penyebaran racun ini mengakibatkan pembentukan macam-macam penyakit.

 

Beberapa Contoh..

 

Beberapa bulan lalu, ada sebuah kompetisi di Universitas Delhi :

 

Siapa dapat minum Coca-Cola paling banyak??

 

Pemenangnya meminum 8 botol dan mati seketika karena kelebihan Karbondioksida dalam darah dan kekurangan oksigen..

 

Setelah itu, Rektor melarang semua soft drink di semua kantin universitas.

 

Seseorang menaruh gigi patah di dalam botol pepsi, dan dalam 10 hari gigi tersebut melarut!

 

Gigi dan tulang adalah satu-satunya organ manusia tetap utuh selama tahunan setelah manusia mati

 

Bayangkan apa yang dilakukan minuman tersebut pada usus dan lapisan perut kita yang halus! Ngeriiiiii! Masih mau mengkosumsinya? Your Choice!

 

 

Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9780/bahaya-minuman-soft-drink#ixzz18RhJ3o2M

Ya,ukhti…Janganlah Engkau Ceritakan Sifat Temanmu Kepada Suamimu 30 Desember 2010

Posted by jihadsabili in munakahat, muslimah.
add a comment

Ya,ukhti…Janganlah Engkau Ceritakan Sifat Temanmu Kepada Suamimu

Jangan sekali-kali engkau melakukannya!!.Bila engkau lupa maka mohonlah ampun kepada-Nya.Tahukah engkau saudariku, secara tidak langsung engkau telah menjerumuskan suamimu kepada zina hati.karena itulah islam sangat keras melarangnya. Yang sangat disayangkan banyak tidak disadari oleh saudari-saudari kita yang telah bersuami melupakan hal ini atau mungkin banyak diantara mereka yang tidak tahu tentang larangan ini.Mungkin sebenarnya engkau tidak berniat demikian,engkau hanya ingin mengabarkan apa saja yang telah engkau dapati bersama temanmu itu sebagai bahan obrolan ketika sedang bercengkerama bersama suamimu, tapi engkau lupa bahwa suamimu adalah manusia biasa yang memiliki hati dan syahwat.Sehingga hati akan mudah tergoda jadilah ia menghayalkan seakan-akan melihat temanmu itu.

 

Bila engkau membaca kisah tentang Aisyah dan keutamaannya maka akan engkau dapati bahwa beliau memang benar-benar sosok yang sangat cerdas dan pandai.Memiliki ketajaman akal yang luar biasa, akan engkau temui betapa takutnya ia terhadap hal ini.Sehingga ketika para shohabiyat mengunjunginya untuk bertanya atau menimba ilmu dari beliau maka sebelum mereka pulang, Aisyah radyillahu anha selalu menyisipkan nasehat ketelinga mereka agar jangan sekali-kali menceritakan tentang dirinya kepada suami-suami mereka (suami para shohabiyat). Karena beliau sangat takut dirinya akan terjatuh dalam fitnah.Semoga bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua.

 

Ya ukhti,…..yang terkadang kita sendiri jatuh ke dalam fitnah ini, setan begitu mudah menggelitik hati kita sehingga kita tidak merasa risi ketika teman kita bercerita kepada kita bahwa suaminya berkomentar bagus tentang diri kita.Bahkan terkadang telinga kita merasa senang mendengarnya..Astagfirullahi begitu jauhnya perbedaan kita dengan para wanita di zaman dahulu (generasi salafiyah).

 

Ya, bila memang engkau penasaran dan ingin mengetahui lebih dalam tentang hal ini maka sungguh telah datang hadits yang mulia dari sebaik-baik manusia diatas muka bumi ini, junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam telah bersabda:

 

Tidak diperbolehkan seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu menceritakannya kepada suaminya seakan-akan suaminya itu melihatnya”(Hadits Riwayat Bukhari, lihat Kitabun Nikah)

 

Kini engkau telah tahu larangannya semua mencakup teman dekatmu seperti sahabatmu, atau teman kuliahmu atau teman-teman pergaulanmu yang lainnya.Imam Ibnul Jauzi juga pernah berkata tentang hal ini:

Wanita dilarang melakukan itu karena seorang laki-laki mendengar sifat seorang wanita maka keinginannya akan tergerak, hatinyapun akan bergolak, dan jiwanya juga akan senantiasa merindukan wanita yang disifatinya itu “ (30 Larangan Wanita, hal:81-82)

Jadi kita telah tahu bahwa islam melarang hal ini karena akan menimbulkan dampak yang tidak baik pada suami kita.Misalnya akan membuat hatinya tidak tenang dan gelisah.Pikirannya akan sibuk membanding-bandingkan antara istrinya dan wanita lain.Sehingga dapat mengguncangkan dirinya akibat khayalannya dalam melakukan perbandingan tersebut.Karena itu, janganlah engkau menyalahkan suamimu bila kelak nanti ia mengeluh mengapa engkau tak sepandai fulanah, atau tak secantik fulanah atau tak serapi fulanah dan keluhan-keluhan lainnya.Jadi salahkanlah dirimu sendiri ya ukhti,…engkau yang mulai membakar api maka engkau pula yang akan menerima asapnya.Kecuali suami yang dirahmati Allah maka ia akan menasehati istrinya agar jangan melakukan yang demikian.

Sungguh engkau sangat mengharapkan rumah tangga yang sakinah (tenang) mawaddah (penuh cinta kasih) warrahmah (penuh rahmat) didalamnya.Karena itu camkanlah hal ini.Mungkin kisah nyata yang penulis lihat sendiri bisa menjadi ibrah bersama, bahwa memang apa yang Rasulullah sabdakan semua itu adalah untuk kebaikan dan kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.Teman penulis yang kini telah menjanda (semoga Allah memberi ganti yang lebih baik) mungkin engkau akan bertanya apa sebabnya.Sesal memang selalu saja tiba di belakang hari.Betapa terkejutnya ia ketika ia mendapatkan talak dari suaminya dan sang suaminya kini menikahi sahabatnya.Sahabat dekatnya yang rajin mengunjunginnya yang sangat ia percaya kini menjadi pendamping bekas suaminya.Tak terbayangkan betapa kecewa hatinya.Tentu engkau telah tahu sebabnya kini.Sehingga engkau akan lebih waspada dan hati-hati.Semoga Allah selalu menjaga kita dari hal-hal yang dimurkai-Nya dan menjadikan kita sebaik-baik wanita diatas muka bumi ini yaitu wanita shalihah yang menjadi dambaan para suami kita.

Wahai para suami,….sungguh kami tidaklah jauh berbeda denganmu sangat membutuhkan nasehat dan bimbinganmu karena itu bila engkau menemui hal ini maka berilah kami teguran secepatnya agar kami tidak ikut menjerumuskanmu dalam syahwat yang bergelora.Sesungguhnya nasehat itu sangatlah bermanfaat bagi kami, karena kelalaian dan kealpaan tidaklah pernah hilang dan lepas dari kami, para istri ….dan semoga Allah memberi pahala atas apa yang engkau lakukan kepada kami.amiin.Wallahu ‘alam bisshawwab.

sumber bacaan:

1.30 Larangan Wanita,Amr bin Abdul Mun’im,Pustaka Azzam

2.Jati Diri Wanita Muslimah,Dr.Muhammad Ali Al-Hasyimi,Pustaka Al-Kautsar.

BANYAK AMAL TETAPI BANYAK DOSA 30 Desember 2010

Posted by jihadsabili in adaB, nasehat.
1 comment so far

BANYAK AMAL TETAPI BANYAK DOSA

Sebagian manusia telah menganggap remeh atas dosa-dosa mereka, mereka menganggap bahwa kebaikan-kebaikan mereka sudah terlalu banyak sehingga akan menenggelamkan dosa-dosa yang mereka lakukan. Padahal jika seseorang meremehkan dosa-dosa, maka sungguh ia telah terpedaya oleh syaitan. Sebagian manusia itu menganggap bahwa amalan-amalan shalih mereka sudah begitu melimpah sehingga pahala yang mereka kumpulkanpun sudah begitu menggunung. Mereka menganggap bahwa shalat malamnya, puasa senin kamisnya, haji dan umrahnya, infaqnya dan seterusnya dari amalan-amalan shalih yang mereka kerjakan akan seperti lautan yang akan menenggelamkan dosa-dosa yang mereka lakukan. Jika seseorang menganggap remeh suatu dosa, ketahuilah bahwa sesungguhnya dia telah terpedaya oleh syaitan, walaupun mereka telah banyak beramal dengan amalan-amalan ketaatan. Wahai saudaraku yang semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu… Allah Ta’ala memberikan permisalan tentang orang yang telah mengumpulkan banyak kebaikan akan tetapi nanti di akhirat, amalan kebaikan yang diandalkannya tidak dapat banyak bermanfaat, Allah berfirman: أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ “Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah, Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.” (QS. Al-Baqarah: 266) Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma ketika menjelaskan ayat di atas, beliau mengilustrasikan dengan orang kaya yang beramal karena taat kepada Allah, kemudian Allah mengutus setan padanya, lalu orang itu melakukan banyak kemaksiatan sehingga amal-amalnya terhapus (Tafsir Ibnu Katsir). Wahai saudaraku yang semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu… Janganlah sekali-kali kita meremehkan dosa karena kita menganggap sudah mempunyai amal kebaikan yang banyak. Ketahuilah wahai saudaraku bahwa belum tentu amal kebaikan yang kita kerjakan dihitung sebagai amal shaleh di sisi Allah, apakah karena kita tidak ikhlas atau tidak sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, amal kebaikan juga akan dapat terhapus dengan kemaksiatan-kemaksiatan. Tsauban radhiaallahu’anhu meriwayatkan sebuah hadits yang dapat membuat orang-orang shalih susah tidur dan selalu mengkhawatirkan amal-amal mereka. Tsauban radhiaallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallambersabda: لأعلمن أقواما من أمتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة بيضا فيجعلها الله هباء منثورا . قال ثوبان : يا رسول الله صفهم لنا جلهم لنا أن لا نكون منهم و نحن لا نعلم ، قال : أما إنهم إخوانكم و من جلدتكم و يأخذون من الليل كما تأخذون و لكنهم أقوام إذا خلو بمحارم الله انتهكوها “Aku benar-benar melihat diantara umatku pada hari Kiamat nanti, ada yang datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung di Tihamah yang putih, lalu Allah menjadikannya seperti kapas berterbangan”, Tsauban bertanya, “Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami siapa mereka itu agar kami tidak seperti mereka sementara kami tidak mengetahui!”, Beliau bersabda, “Mereka adalah saudara-saudara kalian dan sebangsa dengan kalian, mereka juga bangun malam seperti kalian, akan tetapi apabila mendapat kesempatan untuk berbuat dosa, mereka melakukannya.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalamSilsilatul Ahaadits Shahihah no.505) Saudaraku, masihkah kita merasa bangga dengan amal-amal kita kemudian berbuat dosa dan menganggap bahwa dosa kita akan tenggelam dalam lautan amalan shalih kita. Maka wajib bagi kita untuk senantiasa bersabar, bersabar dan bersabar. Sabar dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menjauhi dosa-dosa. Semoga Allah merahmati Imam Ahmad yang mengatakan bahwa sabar adalah terus menerus sampai seseorang menapakkan kakinya di Surga kelak. Ketika seseorang bertanya kepada Abu Hurairah radhiallahu’anhu tentang makna takwa, Abu Hurairah kemudian bertanya kepada orang tersebut, “Apakah engkau pernah melewati jalan yang berduri?” Ia menjawab, “Ya pernah.” Abu Hurairah bertanya lagi, “Apa yang engkau lakukan,” Ia menjawab, “Jika aku melihat duri maka aku menghindar darinya, atau melangkahinya, atau mundur darinya,” Abu Hurairah berkata, “Seperti itulah takwa.” Maka bukanlah dikatakan takwa jika seseorang sengaja menerjang rambu-rambu syariat, mengerjakan apa-apa yang diharamkan oleh Allah atau meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Kemudian kita juga harus takut karena kita tidak tau kapan ajal akan menjemput! Kalau kita amati disekitar kita, maka kita dapati bahwa jumlah manula lebih sedikit daripada orang muda dan anak-anak, hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan manusia meninggal dalam usia muda, maka waspadalah! Wahai saudaraku yang semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu… Terakhir saudaraku, hendaknya kita senantiasa bertakwa dan tidak meremehkan dosa-dosa agar kita tidak seperti yang digambarkan dalam ayat dan hadits di atas, semoga Allah menjadikan kita nanti, termasuk yang diseru dalam firman-Nya: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ * ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً * فَادْخُلِي فِي عِبَادِي * وَادْخُلِي جَنَّتِي “Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, Maka masuklah ke dalam Surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30) Maraji’: 1. Tafsir Ibnu Katsir 2. Silsilatul Ahaadits Shahihah, Syaikh Al-Albany 3. Jami’ ulumul wal hikam, Ibnu Rajab Sumber: Perpustakaan Islam.Com Disunting dari: Catatan Kecil Suamiku

Bimbang Membatalkan Lamaran? 30 Desember 2010

Posted by jihadsabili in munakahat, muslimah.
add a comment

Bimbang Membatalkan Lamaran?

{mosimage}Ini dia yang banyak melanda dikalangan wanita muslimah, gelisah dan resah sebelum dilamar. Melirik dan mengaca setiap hari,�mengapa jodoh belum juga datang menghampiri?? Apa yang salah pada dirinya? Usia dan waktu seakan saling berlomba mendahuluinya. Tetapi, mengapa pasangan hidupnya seakan lambat mendatanginya?. Duhai Rabbi dimanakah dia berada?? Keluhan, harapan dan keinginan menari di dalam hati setiap wanita yang belum juga mendapatkan jodohnya. Akan tetapi ketika �sang arjuna� datang menghampiri, tiba-tiba ia merasa bimbang dan ragu. Dalam hati ia berkata :Benarkah ia jodoh untukku? Untuk dunia dan akhiratku?

 

 

Masalah menjadi bertambah keruh ketika saudari kita ini mengetahui dengan baik bahwa orang yang datang melamarnya adalah seorang laki-laki yang shalih. Dan, berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan yang penulis perhatikan selama ini, bila orang yang melamar ini menyukai/senang dengan fihak yang akan dinikahinya maka hadits terkenal dibawah ini sering dibawakan ari Abu Hurarirah radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:  �Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridha akan agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar di permukaan bumi�  (HR. Tirmidzi)

 

 

 

Maka jadilah si muslimah ini ragu dan takut menolak lamaran tersebut. Padahal hadits diatas khithabnya adalah ditujukan kepada si wali wanita (yang berhak menikahkan orang yang berada dalam perwaliannya) bukan kepada si pelamar. Sedangkan si wanita itu sendiri ia berhak membatalkan lamaran (khitbah) walaupun orang yang melamarnya adalah seorang laki-laki yang shalih (baik agamanya) namun ternyata ia tidak menyukainya. Berdasarkan hadits :

 

Seorang janda tidaklah dinikahkan sehingga dimintai pendapatnya. Tidak pula seorang gadis dinikahkan kecuali setelah diminta izinnya…” (HR. Bukhari, Muslim dan tirmidzi, hasan shahih, Al-jami� fi fiqhi an-Nisaa hal:400).

 

Dalam hadits lain dikatakan, ada seorang gadis menemui Rasulullah lalu bercerita tentang ayahnya yang menikahkannya dengan orang yang tidak ia sukai, maka Rasulullah memberi hak kepadanya untuk memilih…. [HR Ahmad, Abu Dawud, & Ibnu Majah, lihat Kitab Bulughul Maram hadits no 1016]

 

 

 

Saudariku muslimah,..bila memang hatimu tidak suka maka janganlah engkau merasa ragu dan bimbang. Apalagi segan atau takut untuk membatalkan lamaran itu. Jangan merasa tidak enak, nanti akan mengecewakan keluarga laki-laki dan mungkin fitnah yang timbul akibat pembatalan itu. Engkau yang akan menikah, engkau yang akan menjalani hidup bersamanya,bukan orangtuamu, bukan tetanggamu, atau masyarakat di sekitarmu. Hilangkan semua perasaan-perasaan tidak enak yang berkecamuk dalam dadamu. Yakinlah terhadap pilihanmu bila memang engkau tidak suka maka jangan ragu-ragu untuk menolaknya. Itu semua untuk kebaikan agamamu,  kebahagiaan dunia dan akhiratmu. Semoga Allah segera menghadirkan calon yang sesuai dengan idaman hatimu sebagaimana doa yang kau panjatkan kepada-Nya. Amin ya,..Mujibas Sailin. Wallahu a�lam bish-shawwab.

Ta’aruf Gagal Terus?? 30 Desember 2010

Posted by jihadsabili in jodoh, munakahat.
add a comment

Ta’aruf Gagal Terus??

{mosimage}Fenomena yang sering terjadi dikalangan muslim dan muslimah yang sedang mempersiapkan diri ke gerbang pernikahan biasanya akan melalui �fase ta�aruf�. Suatu usaha atau ikhtiar untuk mengetahui hakikat calon pasangan kita. Bagaimana sifat dan karakternya, keluarganya, gaya hidupnya, dan seabreg-abreg �rahasia si dia� yang ingin kita ketahui dengan detail dalam ta�aruf adalah di bolehkan dalam islam. Agar mantap sebelum terjadi pinangan/lamaran. Sayangnya, sering terjadi dari pihak wanita kurang jeli dalam memanfaatkan moment ini, banyak diantara mereka yang melihat beberapa nilai plus dari calonnya langsung mengatakan �iya�, terburu-buru menjatuhkan pilihan. Dengan alasan bahwa lamaran bisa di batalkan atau dengan kata lain mudah dibatalkan maka ketika ditengah perjalanan sering kita temui �korban-korban� berjatuhan, baik dari pihak wanita maupun laki-lakinya. Banyak di pihak lelaki kecewa atau juga mungkin dari pihak laki-laki yang menarik pinangannya sehingga pihak wanita juga kecewa.

Gagal dalam ta�aruf ? jangan terlalu bersedih dan kecewa. Tapi juga ingat dan sadari berapa banyak pilihan yang kita inginkan dari calon pasangan kita. Ingatlah,..bahwa sosok yang kita harapkan menjadi pendamping hidup kita tidak akan bisa sempurna total!!  bagi pihak wanita biasaya figure yang diharapkan adalah seperti Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan bagi pihak lelaki sudah sering penulis dengar menginginkan sosok yang cerdas seperti Aisyah  atau mungkin yang berhati mulia seperti Khadijah. Terlalu tinggi memasang target?? Iya,..karena itulah banyak yang mengharapkan calon pasangannya mampu begini dan begitu harus bisa ini dan itu dan sebagainya. Sehingga sebenarnya kegagalan dalam melewati fase ta�aruf adalah karena tingginya target yang di harapkan dari calon pasangannya.

 

 

Melihat dengan jujur apa yang ada dalam diri kita, mengaca dan menggali kembali kemampuan, kelebihan dan kekurangannya adalah sangat perlu di perhatikan bagi muslim dan muslimah yang berniat akan menikah. Sehingga apabila memang hatinya �khalisan lillah li wajhillah� benar-benar ingin menikah karena Allah, ikhlas karena Allah semata, karena mengharapkan wajah-Nya semata maka dia tidak akan memasang target atau impian yang terlalu tinggi dan muluk. Karena sesungguhnya Allah sendiri telah menjamin hal itu bagi hamba-hamba-Nya yang baik yang shalih akan mendapatkan pasangan yang shalihah juga sebagaimana firman-Nya: �Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula� (An-Nuur: 26).

 

 

Berfikir positif dan selalu berhusnudzan (berbaik sangka/ positive thinking- pen) kepada Allah harus selalu ada dalam pikiran kita ketika menghadapi kegagalan dalam ta�aruf.Boleh jadi ketika kita sangat menginginkan calon pasangan kita itu ternyata ia adalah bukan yang terbaik di sisi Allah Azza wa jalla, dan kemungkinan lain Allah akan menggantikannya dengan calon lain yang lebih baik. Cobalah renungkan pula firman-Nya berikut ini : � �boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahuinya� (Al-Baqarah :216)

 

Tetaplah berdoa dan berusaha  sesuai dengan kemampuan kita dan janganlah terlalu memasang target yang terlalu tinggi sebagaimana penulis ungkapkan diatas agar kita tidak selalu �gagal� dalam ta�aruf .

 

 

Buat saudariku muslimah yang masih �gagal� dalam ta�aruf perbanyaklah doa kepada-Nya. Mintalah yang terbaik bagi kehidupanmu di dunia dan akhirat nanti. Janganlah karena omongan kanan-kiri,  karena usiamu yang terus bertambah membuat engkau tak sabar. Ingatlah bahwa pernikahan bukanlah hanya untuk satu hari atau dua hari dan berapa banyak tanggung jawab yang akan engkau emban setelah engkau menikah tentu akan membuatmu berfikir dengan akalmu bukan dengan perasaanmu. Jangan menyerah,..wahai saudariku !! Usaha ta�aruf lagi sampai Allah pertemukan engkau dengan calon pasanganmu. Sesungguhnya IA tidak akan menyia-nyiakan amal usahamu dan juga doamu.Wallahu �alam bish-shawwab.