jump to navigation

6 Rahasia dan Keutamaan Shalat Dhuha 1 November 2011

Posted by jihadsabili in shalat.
1 comment so far

Rahasia dan Keutamaan Shalat Dhuha – Shalat duha merupakan salah satu diantara shalat-shalat sunah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Banyak sekali penjelasan hadits yang telah menyebutkan berbagai keutamaan dan keistimewaan shalat Dhuha bagi siapa saja yang melaksanakannya. Berikut ini adalah beberapa hadits Rasulullah Muhammad saw yang menceritakan tentang keutamaan shalat Dhuha, di antaranya:

1. Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia

Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda:

“Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala” (HR Muslim).

2. Ghanimah (keuntungan) yang besar

Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata:

Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang.
Nabi saw berkata: “Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!”.

Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya).

Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya?”

Mereka menjawab; “Ya!

Rasul saw berkata lagi:
“Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya.” (Shahih al-Targhib: 666)

3. Sebuah rumah di surga

Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw:

“Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga.” (Shahih al-Jami`: 634)

4. Memeroleh ganjaran di sore hari

Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata:

Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339).

Dalam sebuah riwayat juga disebutkan: “Innallaa `azza wa jalla yaqulu: Yabna adama akfnini awwala al-nahar bi’arba`i raka`at ukfika bihinna akhira yaumika”

(Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berkata: “Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka aku akan mencukupimu di sore harimu”).

5. Pahala Umrah

Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah…” (Shahih al-Targhib: 673).

Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda:

“Barang siapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna..” (Shahih al-Jami`: 6346).

6. Ampunan Dosa

“Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi).

Semoga sedikit kutipan mengenai Rahasia dan Keutamaan Shalat Dhuha ini bisa membuat kita lebih giat lagi dalam menjalankan shalat dhuha, dan bagi yang belum melaksanakannya bisa memulai untuk menjalankannya… Aamiin…

Sumber: http://anfaku.biz/rahasia-dan-keutamaan-shalat-dhuha

Kesalahan-kesalahan setelah sholat 27 Oktober 2011

Posted by jihadsabili in fiqih, shalat.
add a comment

Di posting kali ini kita masih membahas tentang masalah shalat, karena shalat itu sangat penting bagi umat islam. Shalat itu membedakan antara Muslim dan Kafir. Jadi kita harus benar dalam menjalankan ibadah shalat menurut Al-Qir’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salauf Shaleh.

Beberapa hal yang biasa dilakukan oleh banyak orang setelah shalat fardhu (wajib) yang lima waktu, tetapi tidak ada contoh dan dalil dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para Sahabat رضي الله عنهم.

Diantara Kesalahan dan Bid’ah tersebut ialah :

1. Mengusap muka setelah salam.231

2. Berdo’a dan berdzikir secara berjama’ah yang dipimpin oleh imam shalat.232

3. Berdzikir dengan bacaan yang tidak ada nash/dalilnya, baik secara lafazh maupun bilangannya, atau berdzikir dengan dasar yang dha’if(lemah) atau maudhu’(palsu).
Contohnya :

- Sesudah shalat membaca “Alhamdulillah”
-Membaca Surat Al-Fatihah setelah salam
-Membaca beberapa ayat terakhir surat Al-Hasyr dan lainnya.

4. Menghitung Dzikir dengan memakai biji-bijian tasbih atau yang serupa dengannya. Tidak ada satu pun hadits yang shahih tentang menghitung dzikir dengan biji-bijian tasbih, bahkan sebagian maudhu’(palsu).233 Syaikh Al-Albani رحمه الله mengatakan: ” Berdzikir dengan biji-bijian tasbih adalah bid’ah.”234

Syaikh Bakr Abi Zaid mengatakan bahwa Berdzikir dengan menggunakan biji-bijian tasbih menyerupai orang-orang Yahudi, Nasrani, Bhudha, dan perbuatan ini adalah bid’ah dhalaalah.235

Yang disunnahkan dalam berdzikir adalah dengna menggunakan jari-jari tangan :
Dari Abullah bin ‘Amr رضي الله عنه, ia berkata: ” Aku melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم menghitung bacaan tasbih (dengan jari-jari) tangan kanannya.”236

Bahkan, Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan para sahabat wanita menghitung : Subhanallah,alhamdulillah, dan mensucikan Allah dengan jari-jari, karena jari-jari akan ditanya dan diminta untuk berbicara (pada hari kiamat).237

5. Berdzikir dengan suara keras dan beramai-ramai (dengna koor/berjama’ah)

Allah عزوجل memerintahkan kita berdzikir dengan suara yang tidak keras (Qs. Al-A’raaf ayat 55 dan 205, lihat Tafsiir Ibni Katsir tentang ayat ini).

Nabi صلى الله عليه وسلم melarang berdzikir dengan suara keras sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-bukhari, Muslim dan lain-lain.

Imam asy-Syafi’i menganjurkan agar imam atau makmum tidak mengeraskan bacaan dzikir.238

6. Membiasakan/merutinkan berdo’a setelah shalat fardhu (wajib) dan mengangkat tangan pada do’a tersebut (perbuatan ini) tidak ada contohnya dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم
239

7. Saling berjabat tangan sesudah shalat fardhu (bersalam-salaman). tidak ada seorang pun dari sahabat atau Salafus Shaleh رضي الله عنهم yang berjabat tangan (bersalam-salaman) kepada orang yang disebelah kanan atau kiri, depan atau belakangnya apabila mereka selesai melaksanakan shalat. Jika seandainya perbuatan itu baik, maka akan sampai (kabar) kepada kita, dan ulama akan menukil serta menyampaikannya kepada kita (riwayat yang shahih).240

Para ulama mengatakan: “Perbuatan tersebut adalah bid’ah.”241

Berjabat tangan dianjurkan, akan tetapi menetapkannya setiap selesai shalat fardhu tidak ada contohnya, atau setelah shalat shubuh dan ‘Ashar, maka perbuatan ini adalah bid’ah.242
Wallaahu a’lam bish Shawaab.

_____________________________________
231 LIhat, Silsilah al-Ahadiits adh-dha’iifah wam Maudhuu’ah no. 660 oleh Imam Al-Albani.
232 Al-I’tishaam Imam asy-Syathibi hal. 455-456 tahqiq Syaikh salim al-halabi, Fataawa Al-Lajnah Ad-Daimah VII/188-189, as-Sunan wal Mub-tada’aat hal. 70 perbuatan bid’ah, (al-Qaulul Mubiin fii akhthaa-il Mushalliin hal. 304-305)
233 Lihat, Silsilah al-Ahadiits adh-dha’iifah wam Maudhuu’ah no. 83 dan 1002.
234 Silsilah al-Ahadiits adh-dha’iifah I/185.
235 As-Subhah Taariikhubawa Hukmuha, hal. 101 cet. I Daarul ‘Ashimah 1419 H – Syaikh Bakar bin ‘Abudillah Abu Zaid.
236 Hadits shahih, riwayat Abu Dawud no. 1502, dan at-Tirmidzi no. 3486. shahihh at-Tirmidzi III/146 no. 2714, shahih Abu Dawud I/280 no. 1330, al-Hakim I/547, al-Baihaqi II/253.
237 Hadits hasan, riwayat Abu Dawud no. 1501 dan at-Tirmidzi no. 3486 dan al-Hakim I/157. Dhisankan oleh Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani.
238 Fat-hul Baari II/326 dan al-Qaulul Mubiin hal. 305.
239 Lihat Zaadul Ma’aad I/257 tahqiq al-Arna’ut. Majmuu’ Fataawa Syaikh bin Bazz XI/167, dan Majmuu’ Fataawa Rasaa-il ‘Utsaimin XIII/253-259.
240 Tamaamul Kalaam fi Bid’iyyatil Mushaafahah ba’das salaam – Dt. Muhammad Musa Alu Nashr.
241 Al-Qaulul Mubiin fii Akhbhaa-il Mushaliin hal.293-294 Syaikh Masyhur Hasan Slaman
242 Al-Qaulul Mubiin fii Akhbhaa-il Mushaliin hal. 294-295 dan Silsilah al-Ahaadiits Ash-sgahiihah I/53.

sumber Refrensi

Do’a & Wirid – Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Hukum Shalat Tahajud Setelah Shalat Witir Setelah Shalat Tarawih 13 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in puasa, shalat.
add a comment

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh…
Bismillahirrahmaanirrahiim…

Hukum Shalat Tahajud Setelah Shalat Witir Setelah Shalat Tarawih

Hukum Shalat Tahajud Setelah Shalat Witir Setelah Shalat Tarawih - Tahajjud juga disebut dengan qiyamullail, sebagaimana firman Allah swt :

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Artinya : ”Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.” (QS. Al Israa ” 79)

Juga firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ﴿١﴾
قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا ﴿٢﴾
نِصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا ﴿٣﴾

Artinya : ”Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya) (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.” (QS Al Muzammil : 1 -3)

Namun demikian ada juga yang mengatakan bahwa tahajjud dikerjakan pada pertengahan atau akhir malam dan dilakukan setelah orang itu bangun dari tidur. Sedangkan qiyamullail bisa dilakukan di awal, pertengahan atau akhir malam dan tidak mesti setelah bangun dari tidur.

Adapun shalat tarawih maka para ulama juga menyebutnya dengan qiyamullail di bulan ramadhan yang dilakukan setelah menunaikan shalat isya dengan memanjangkan berdirinya. Ia bisa juga disebut dengan tahajjud. Dinamakan tarawih dikarenakan terdapat istirahat setelah dua kali salam. Shalat tarawih ini merupakan sunnah muakkadah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang melakukan qiyamullail (tarawih) dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka dihapuskan dosa-dosanya yang lalu.”

Tentang witir sendiri hukumnya adalah sama baik pada bulan ramadhan maupun diluar bulan ramadhan, yaitu tidak ada dua witir dalam satu malam sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam yang lima kecuali Ibnu Majah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Tidak ada dua witir dalam satu malam.” juga hadits yang diriwayatkan oleh jama’ah kecuali Ibnu Majah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari adalah witir.”

Maka bagi siapa yang telah melakukan shalat tarawih dan witir bersama imam lalu dirinya ingin melakukan kembali shalat malamnya maka hendaklah dia melakukan shalat qiyamullailnya saja (genap) tanpa melakukan witir lagi berdasarkan hadits-hadits diatas, demikian menurut para ulama Hanafi, Maliki, Hambali dan pendapat yang masyhur dari para ulama Syafi’i. Dalil lainnya yang dipakai mereka adalah apa yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw melakukan shalat dua rakaat setelah witir.” Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini juga diriwayatkan dari Abu Umamah, Aisyah dan sahabat lainnya dari Rasulullah saw.

Ada juga cara kedua yang merupakan pendapat para ulama Syafi’i kitab ”al Mausu’ah al Fiqhiyah (2/9827)” yaitu hendaklah orang itu mengawalinya dengan melakukan shalat sunnahnya satu rakaat untuk menggenapkan witir yang telah dilakukan sebelumnya kemudian melakukan shalatnya yang genap sekehendaknya kamudian ditutup dengan witir. Hal ini diriwayatkan dari Utsman, Ali, Usamah, Sa’ad, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas sebagaimana ditegaskan oleh Imam Nawawi dan Ibnu Qudamah. Dan dalil yang bisa jadi digunakan mereka adalah hadits,”Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari adalah witir.”[]eramuslim.com

Shalat Tarawih, Jumlah Rakaat dan Tata Cara Pelaksanaannya 13 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in puasa, shalat.
add a comment
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh….
Bismillahirrahmaanirrahiim….
1. Shalat Tarawih

Pendapat yang populer dalam jumlah rakaat shalat malam yang dilakukan Rasulullah adalah sebagai berikut:

1. 11 rakaat terdiri dari 4 rakaat x 2 + 3 rakaat witir. Ini sesuai dengan hadist A’isyah yang diriwayatkan Bukhari.
2. 11 rakaat terdiri dari 4 rakaat x 2 + 2 rakaat witir + 1 witir. Ini sesuai dengan hadist Ai’syah riwayat Muslim.
3. 11 rakaat terdiri dari 2 rakaat x 4 & 2 rakaat witir + 1 witir. Ini juga diriwayatkan oleh Muslim.
4. Ada juga riwayat Ibnu Hibban yang mengatakan 8 rakaat + witir.
5. Ada juga riwayat yang mengatakan 13 rakaat termasuk witir.

Itu adalah diantara riwayat-riwayat yang sahih shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah.

Khusus untuk Bulan Ramadhan Rasulullah.SAW pernah shalat berjamaah bersama sahabat, kemudian hari berikutnya beliau tidak lagi melakukan hal yang sama, ketika ditanya alasannya, beliau menjawab karena khawatir diwajibkan. Kemudian pada masa Umar bin Khattab, karena orang berbeda-beda, sebagian ada yang shalat dan ada yang tidak shalat, maka Umar ingin agar umat Islam nampak seragam, lalu disuruhlah agar umat Islam berjamaah di masjid dengan shalat berjamah dengan imam Ubay bin Ka’b. Itulah yang kemudian populer dengan sebutan shalat tarawih, artinya istirahat, karena mereka melakukan istirahat setiap selasai melakukan shalat 4 rakaat.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan perbedaan riwayat mengenai jumlah rakaat yang dilakukan pada saat itu : ada yang mengatakan 13 rakaat, ada yang mengatakan 21 rakaat, ada yang mengatakan 23 rakaat.

Khusus rakaat shalat tarawih, ada juga yang mengatakan 36 rakaat plus 3 witir, ini diriwayatkan pada masa Umar bin Abdul Aziz. Ada juga yang meriwayatkan 41 rakaat. Bahkan ada yang meriwayatkan 40 rakaat plus 7 rakaat witir. Riwayat dari imam Malik beliau melaksanakan 36 rakaat plus 3 rakaat witir.

Kebanyakan masyarakat Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat atau 11 rakaat, termasuk witir. Kedua cara ini sama-sama mempunyai landasan dalil yang kuat.

Shalat tarawih bisa juga disebut shalat qiyamullail, yaitu shalat yang tujuannya menghidupkan malam bulan Ramadhan. Penamaan shalat tarawih tersebut belum muncul pada zaman Rasulullah Saw.

2. Shalat Tahajud

Salat tahajud itu artinya salat malam setelah tidur sejenak. Tahajud berasal dari bahasa Arab “tahajjud”, dari kata dasar “hajada” yang berarti “tidur” dan juga berarti “salat di malam hari”. Orang yang melakukan salat malam disebut “haajid”. Jadi bertahajud artinya melakukan salat sunat di malam hari, setelah tidur. Semua salat sunat yang dikerjakan di malam hari setelah tidur, dengan demikian, disebut salat tahajud atau salat malam (shalatullail).

Shalat tahjud hukumnya sunnah muakkadah bagi umat Islam. Bagi Rasulullah hukumnya sunnah. Dalam riwayat Muslim dikatakan “Sebaik-baik shalat setelah shalat fardlu, adalah shalat pada malam hari”. Jenisnya macam-macam, bisa salat hajat, salat witir, salat tasbih, dan sunat mutlak, atau mungkin juga shalat tarawih.

Dalam melakukan tahajud disunatkan memulainya dengan salat sunat dua rekaat yang ringan (tidak panjang). Kata Nabi saw: “Jika salah satu di antara kalian melakukan salat malam, hendaknya memulainya dengan dua rekaat yang ringan”.[Riwayat Muslim, Abu Daud, dan Ahmad].

Setelah itu silahkan melakukan salat sepuasnya, sekuatnya. Boleh berupa salat hajat (salat hajat ini boleh juga dilakukan di siang hari), salat tasbih, atau salat sunat mutlak (sunat mutlak ini maksudnya asal salat saja dua rekaat, niatnya salat sunat). Semua salat dilakukan dua rekaat-dua rekaat. Kecuali salat witir yang boleh disambung menjadi 3 rekaat, disertai tahiyat awal pada rekaat kedua (sebelum berdiri menuju rekaat ketiga).

Salat tahajud hendaknya diakhiri dengan salat witir. Jadi urutannya, witir dilaksanakan paling akhir, sekiranya setelah itu tidak melakukan salat lagi.

3. Shalat Witir

Diantara madzhab-madzhab fikih, hanya Abu Hanifah yang berpendapat wajibnya shalat witir. Sementara yang lain hanya menganggapnya sebagai sunnat muakkad [kesunaatan yang benar-benar dianjurkan]. Bahkan kedua murid Abu Hanifah sebagai pemegang otoritas utama madzhab Hanafiyah juga beranggapan sama, yakni hanya sunnat muakkad.

Shalat witir adalah “shalat ganjil”, yang didasarkan pada hadits Nabi Muhammad: “Sesungguhnya Allah adalah witr [ganjil] dan mincintai witr [HR. Abu Daud]. Shalat ini dimaksudkan sebagai pemungkas waktu malam untuk “mengganjili” shalat-shalat yang genap. Karena itu, dianjurkan untuk menjadikannya akhir shalat malam. Apabila seseorang berkehendak untuk shalat tahajjud pada malam hari, maka sebaiknya ia tidak menunaikan salat witir menjelang tidur, tapi melaksanakannya setelah shalat tahajjud. Namun jika ia tidak bermaksud demikian, maka sebelum tidur, ia dianjurkan untuk menunaikannya. Walhasil, shalat witir adalah shalat yang dilaksanakan paling akhir diantara shalat-shalat malam.

Nabi Muhammad SAW mengatakan: “Jadikanlah witir akhir shalat kalian di waktu malam”. [HR. Bukhari]. “Barang siapa takut tidak bangun di akhir malam, maka witirlah pada awal malam, dan barang siapa berkeinginan untuk bangun di akhir malam, maka witirlah di akhir malam, karena sesungguhnya shalat pada akhir malam masyhudah (“disaksikan”) [HR. Muslim].

Adapun waktunya adalah setelah shalat ‘Isya hingga fajar. Kata Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya Allâh telah membantu kalian dengan shalat yang lebih baik daripada kekayaan rajakaya, yaitu shalat witir. Maka kemudian Allâh menjadikannya untuk kalian [agar dilaksanakan] mulai dari ‘Isya hingga terbit fajar”. [HR. lima sunan selain Annasâiy]

Sholat witir boleh dilaksanakan tiga rakaat langsung dengan sekali salam, atau dua rakaat salam kemudian dilanjutkan dengan satu rakaat.[]Pesantren Virtual

Qiyamullail – Antara Shalat Tarawih, Shalat Tahajud dan Shalat Witir 13 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in puasa, shalat.
add a comment
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh….
Bismillahirrahmaanirrahiim….
1. Shalat Tarawih

Pendapat yang populer dalam jumlah rakaat shalat malam yang dilakukan Rasulullah adalah sebagai berikut:

1. 11 rakaat terdiri dari 4 rakaat x 2 + 3 rakaat witir. Ini sesuai dengan hadist A’isyah yang diriwayatkan Bukhari.
2. 11 rakaat terdiri dari 4 rakaat x 2 + 2 rakaat witir + 1 witir. Ini sesuai dengan hadist Ai’syah riwayat Muslim.
3. 11 rakaat terdiri dari 2 rakaat x 4 & 2 rakaat witir + 1 witir. Ini juga diriwayatkan oleh Muslim.
4. Ada juga riwayat Ibnu Hibban yang mengatakan 8 rakaat + witir.
5. Ada juga riwayat yang mengatakan 13 rakaat termasuk witir.

Itu adalah diantara riwayat-riwayat yang sahih shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah.

Khusus untuk Bulan Ramadhan Rasulullah.SAW pernah shalat berjamaah bersama sahabat, kemudian hari berikutnya beliau tidak lagi melakukan hal yang sama, ketika ditanya alasannya, beliau menjawab karena khawatir diwajibkan. Kemudian pada masa Umar bin Khattab, karena orang berbeda-beda, sebagian ada yang shalat dan ada yang tidak shalat, maka Umar ingin agar umat Islam nampak seragam, lalu disuruhlah agar umat Islam berjamaah di masjid dengan shalat berjamah dengan imam Ubay bin Ka’b. Itulah yang kemudian populer dengan sebutan shalat tarawih, artinya istirahat, karena mereka melakukan istirahat setiap selasai melakukan shalat 4 rakaat.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan perbedaan riwayat mengenai jumlah rakaat yang dilakukan pada saat itu : ada yang mengatakan 13 rakaat, ada yang mengatakan 21 rakaat, ada yang mengatakan 23 rakaat.

Khusus rakaat shalat tarawih, ada juga yang mengatakan 36 rakaat plus 3 witir, ini diriwayatkan pada masa Umar bin Abdul Aziz. Ada juga yang meriwayatkan 41 rakaat. Bahkan ada yang meriwayatkan 40 rakaat plus 7 rakaat witir. Riwayat dari imam Malik beliau melaksanakan 36 rakaat plus 3 rakaat witir.

Kebanyakan masyarakat Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi’i melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat atau 11 rakaat, termasuk witir. Kedua cara ini sama-sama mempunyai landasan dalil yang kuat.

Shalat tarawih bisa juga disebut shalat qiyamullail, yaitu shalat yang tujuannya menghidupkan malam bulan Ramadhan. Penamaan shalat tarawih tersebut belum muncul pada zaman Rasulullah Saw.

2. Shalat Tahajud

Salat tahajud itu artinya salat malam setelah tidur sejenak. Tahajud berasal dari bahasa Arab “tahajjud”, dari kata dasar “hajada” yang berarti “tidur” dan juga berarti “salat di malam hari”. Orang yang melakukan salat malam disebut “haajid”. Jadi bertahajud artinya melakukan salat sunat di malam hari, setelah tidur. Semua salat sunat yang dikerjakan di malam hari setelah tidur, dengan demikian, disebut salat tahajud atau salat malam (shalatullail).

Shalat tahjud hukumnya sunnah muakkadah bagi umat Islam. Bagi Rasulullah hukumnya sunnah. Dalam riwayat Muslim dikatakan “Sebaik-baik shalat setelah shalat fardlu, adalah shalat pada malam hari”. Jenisnya macam-macam, bisa salat hajat, salat witir, salat tasbih, dan sunat mutlak, atau mungkin juga shalat tarawih.

Dalam melakukan tahajud disunatkan memulainya dengan salat sunat dua rekaat yang ringan (tidak panjang). Kata Nabi saw: “Jika salah satu di antara kalian melakukan salat malam, hendaknya memulainya dengan dua rekaat yang ringan”.[Riwayat Muslim, Abu Daud, dan Ahmad].

Setelah itu silahkan melakukan salat sepuasnya, sekuatnya. Boleh berupa salat hajat (salat hajat ini boleh juga dilakukan di siang hari), salat tasbih, atau salat sunat mutlak (sunat mutlak ini maksudnya asal salat saja dua rekaat, niatnya salat sunat). Semua salat dilakukan dua rekaat-dua rekaat. Kecuali salat witir yang boleh disambung menjadi 3 rekaat, disertai tahiyat awal pada rekaat kedua (sebelum berdiri menuju rekaat ketiga).

Salat tahajud hendaknya diakhiri dengan salat witir. Jadi urutannya, witir dilaksanakan paling akhir, sekiranya setelah itu tidak melakukan salat lagi.

3. Shalat Witir

Diantara madzhab-madzhab fikih, hanya Abu Hanifah yang berpendapat wajibnya shalat witir. Sementara yang lain hanya menganggapnya sebagai sunnat muakkad [kesunaatan yang benar-benar dianjurkan]. Bahkan kedua murid Abu Hanifah sebagai pemegang otoritas utama madzhab Hanafiyah juga beranggapan sama, yakni hanya sunnat muakkad.

Shalat witir adalah “shalat ganjil”, yang didasarkan pada hadits Nabi Muhammad: “Sesungguhnya Allah adalah witr [ganjil] dan mincintai witr [HR. Abu Daud]. Shalat ini dimaksudkan sebagai pemungkas waktu malam untuk “mengganjili” shalat-shalat yang genap. Karena itu, dianjurkan untuk menjadikannya akhir shalat malam. Apabila seseorang berkehendak untuk shalat tahajjud pada malam hari, maka sebaiknya ia tidak menunaikan salat witir menjelang tidur, tapi melaksanakannya setelah shalat tahajjud. Namun jika ia tidak bermaksud demikian, maka sebelum tidur, ia dianjurkan untuk menunaikannya. Walhasil, shalat witir adalah shalat yang dilaksanakan paling akhir diantara shalat-shalat malam.

Nabi Muhammad SAW mengatakan: “Jadikanlah witir akhir shalat kalian di waktu malam”. [HR. Bukhari]. “Barang siapa takut tidak bangun di akhir malam, maka witirlah pada awal malam, dan barang siapa berkeinginan untuk bangun di akhir malam, maka witirlah di akhir malam, karena sesungguhnya shalat pada akhir malam masyhudah (“disaksikan”) [HR. Muslim].

Adapun waktunya adalah setelah shalat ‘Isya hingga fajar. Kata Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya Allâh telah membantu kalian dengan shalat yang lebih baik daripada kekayaan rajakaya, yaitu shalat witir. Maka kemudian Allâh menjadikannya untuk kalian [agar dilaksanakan] mulai dari ‘Isya hingga terbit fajar”. [HR. lima sunan selain Annasâiy]

Sholat witir boleh dilaksanakan tiga rakaat langsung dengan sekali salam, atau dua rakaat salam kemudian dilanjutkan dengan satu rakaat.[]Pesantren Virtual

BENARKAH SALAFY WAHABY MEMBATASI JUMLAH ROKAAT TARAWIH HANYA 8 RAKA’AT SAJA? Adakah riwayat dari Ibnu Abbas yang menunjukkan bahwa Nabi sendiri pernah sholat pada bulan Ramadlan 20 rokaat tambah witir? 1 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in fiqih, puasa, shalat.
1 comment so far

BENARKAH SALAFY WAHABY MEMBATASI JUMLAH ROKAAT TARAWIH HANYA 8 RAKA’AT SAJA? Adakah riwayat dari Ibnu Abbas yang menunjukkan bahwa Nabi sendiri pernah sholat pada bulan Ramadlan 20 rokaat tambah witir?

 

MENYINGKAP SYUBHAT SEPUTAR TARAWIH

Penulis Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman

Muqoddimah

Alhamdulillah, segenap puji hanya untuk Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang menjadikan Ramadlan sebagai bulan penuh keberkahan, ampunan, rahmat, dan kebaikan. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada teladan mulya, Rasulullah Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam yang telah mensunnahkan Qiyaamu Ramadlan dan amalan-amalan ibadah lain yang sarat dengan maslahat dan keberkahan.

Saudaraku kaum muslimin, semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmatNya kepada kita semua…

Salah satu upaya penentang dakwah Ahlussunnah untuk menjauhkan umat dari dakwah yang mulya ini adalah dengan menjauhkan mereka dari para Ulama’ yang sesungguhnya. Penentang dakwah Ahlussunnah tersebut menyematkan gelar-gelar dan penamaan yang aneh dan buruk terhadap orang-orang yang berpegang teguh dengan Sunnah, kokoh di dalam meniti jejak Salafus Sholeh (Salafy).

Penyebutan ‘wahaby’ misalnya, adalah penyebutan yang salah dari sisi bahasa maupun makna. Gelar wahaby disematkan pada orang-orang yang selama ini kokoh di atas Sunnah Nabi untuk mengesankan bahwa mereka adalah orang-orang yang hanya fanatik dan taqlid buta terhadap Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. (untuk mengetahui lebih jauh tentang penisbatan nama Wahaby dan tujuan di baliknya, silakan disimak lebih lanjut artikel yang ditulis al-Ustadz Ruwaifi’ berjudul: ‘Siapakah Wahhabi?’ di http://darussalaf.or.id/stories.php?id=130)

Para Ulama’ Ahlussunnah semisal Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin, Syaikh Sholih al-Fauzan, dan para Ulama’ lain yang semanhaj dengan mereka dianggap sebagai Wahaby. InsyaAllah pada tulisan yang lain akan dijelaskan sisi-sisi lain kesalahan penisbatan nama  Wahaby tersebut kepada Ahlussunnah.

Terdapat suatu tulisan pada blog penentang dakwah Ahlussunnah yang berjudul: Fitnah dan Bid’ah Wahaby (Salafy Palsu) di Bulan Ramadhan(1). Tulisan itu menyoroti jumlah rokaat tarawih dan menganggap bahwa Ulama’Ahlussunnah (yang mereka sebut sebagai Wahaby) telah mengada-ada dan membatasi jumlah rokaat tarawih hanyalah 8. Pada tulisan ini insyaAllah akan disingkap kedustaan tuduhan tersebut serta syubhat-syubhat yang terkait dengan sholat tarawih. Hanya kepada Allahlah seharusnya kita bertawakkal, tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Syubhat ke-1: Wahaby Membatasi Jumlah Rokaat Tarawih Hanya 8

Disebutkan dalam blog penentang dakwah Ahlussunnah:

“Diantara Fitnah wahhaby dibulan Ramadhan :

1.    Wahaby mensyariatkan Shalat Sunnah Tarawih 8 rekaat, padahal tidak ada satupun Imam Madzab Sunni yang mensyariatkan “

Bantahan:

Jika yang dimaksud dengan istilah Wahaby (padahal istilah tersebut salah secara nama, makna, dan penisbatan) oleh mereka adalah para Ulama’ Ahlussunnah seperti yang terhimpun dalam al-Lajnah adDaimah Saudi Arabia (yang pada saat itu dipimpin oleh Syaikh bin Baaz), atau Ulama’ Ahlussunnah lain semisal Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin, maka itu adalah justru tuduhan tanpa dasar.

Para Ulama’ Ahlussunnah tersebut tidaklah memberikan batasan jumlah rokaat pada sholat tarawih dan witir yang biasa dilakukan pada bulan Ramadlan.

Kita bisa menyimak Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah:

صلاة التراويح إحدى عشرة أو ثلاث عشرة ركعة، يسلم من كل ثنتين ويوتر بواحدة أفضل، تأسيا بالنبي صلى الله عليه وسلم، ومن صلاها عشرين أو أكثر فلا بأس، لقول النبي صلى الله عليه وسلم « صلاة الليل مثنى مثنى فإذا خشي أحدكم الصبح صلى ركعة واحدة توتر له ما قد صلى » متفق عليه فلم يحدد صلاة الله وسلامه عليه ركعات محدودة ولأن عمر رضي الله عنه والصحابة رضي الله عنهم صلوها في بعض الليالي عشرين سوى الوتر، وهم أعلم الناس بالسنة

“Sholat tarawih (ditambah witir) sebelas atau tiga belas rokaat, salam pada tiap dua rokaat dan witir dengan satu rokaat adalah paling utama, sebagai bentuk mencontoh Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam. Barangsiapa yang sholat 20 rokaat atau lebih, maka tidak mengapa, berdasarkan sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam: “Sholat malam itu dua-dua rokaat, jika salah seorang dari kalian khawatir masuk Subuh, maka hendaknya ia sholat 1 rokaat yang merupakan witir terhadap sholat-sholat sebelumnya” (Muttafaqun ‘alaih).

Maka Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah membatasi jumlah rokaat (tarawih dan witir) dengan batasan tertentu. Dan karena Umar –semoga Allah meridlainya- dan para Sahabat –semoga Allah meridlai mereka- sholat pada sebagian malam 20 rokaat selain witir, padahal mereka adalah manusia yang paling mengetahui tentang Sunnah” (Fatwa yang merupakan jawaban dari pertanyaan nomor 6148).

Nash-nash AlQur’an ataupun as-Sunnah tidak ada yang menyebutkan istilah tarawih secara khusus. Dalam hadits hanya disebutkan sebagai istilah: ‘qiyaamu Ramadlan’ atau qiyaamul lail pada bulan Ramadlan.

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang qiyaamul lail pada bulan Ramadlan dengan iman dan ikhlas, maka diampunilah dosanya yang telah lalu (Muttafaqun ‘alaih).

Istilah tarawih adalah istilah dari para Ulama’ untuk mengisyaratkan sholat malam yang biasa dilakukan berjamaah pada bulan Ramadlan. Disebut sebagai tarawih karena biasanya dilakukan dalam waktu yang cukup lama, sehingga membutuhkan waktu beristirahat sejenak (تَرْوِيْحَة ( pada setiap 2 kali salam (Lihat Lisaanul ‘Arab (2/462), Fathul Baari (4/294), dan Syarh Shahih Muslim linNawawi (6/39)).

Dalam hal jumlah rokaat tarawih dan witir ini ada 2 kelompok yang keliru. Kelompok pertama, membatasi hanya 11 rokaat dan membid’ahkan kaum muslimin yang sholat lebih dari 11 rokaat. Sebaliknya, kelompok ke-2 adalah yang mengingkari kaum muslimin yang sholat hanya dengan 11 rokaat, dan mengatakan bahwa mereka telah menyelisihi ijma’.

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin menyatakan:

“Dalam hal ini kita katakan: Tidak boleh bagi kita bersikap ghuluw (melampaui batas) dan meremehkan. Sebagian manusia berlebihan dalam hal berpegang teguh dengan as-Sunnah dalam hal jumlah rokaat. Ia berkata: Tidak boleh menambah jumlah (rokaat) yang telah tersebut dalam As-Sunnah. Dan ia mengingkari dengan pengingkaran yang keras orang-orang yang menambahi jumlah rokaat tersebut dan berkata: sesungguhnya itu adalah dosa dan maksiat.

Yang demikian ini, tidak diragukan lagi adalah salah. Bagaimana bisa dikatakan berdosa dan bermaksiat? Padahal Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang sholat malam, beliau bersabda: “ Dua rokaat-dua rokaat, dan beliau tidaklah membatasi jumlah. Telah dimaklumi bahwa orang yang bertanya kepada beliau tentang sholat malam tidaklah mengetahui jumlah rokaatnya. Karena seseorang yang tidak mengetahui tentang tata caranya, maka tentu lebih tidak tahu tentang jumlah rokaatnya. Penanya tersebut juga bukan pembantu Nabi sehingga kita katakan: ‘sesungguhnya ia tahu apa yang terjadi di rumah beliau’. Maka jika Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepadanya tentang tata cara sholat tanpa membatasi jumlah rokaat tertentu, berarti bisa diketahui bahwa dalam masalah ini terdapat keleluasaan. Tidak mengapa bagi seseorang untuk sholat 100 rokaat dan witir dengan 1 rokaat.

Adapun sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam : “Sholatlah sebagaimana kalian melihat aku sholat”. Ini bukanlah pada keumumannya, sekalipun terhadap mereka. Karena itu mereka tidak mewajibkan manusia untuk witir sesekali dengan 5 rokaat, sesekali dengan 7 rokaat, sesekali 9 rokaat. Kalau kita mengambil keumuman tersebut niscaya kita akan berkata: Wajib berwitir dengan 5 rokaat sesekali, 7 rokaat sesekali, 9 rokaat sesekali secara langsung. Sesungguhnya yang dimaksud adalah: Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat dalam tata cara (kaifiat). Adapun dalam hal jumlah rokaat tidak, kecuali ada nash yang menunjukkan batasannya.

Intinya, semestinya seseorang tidak bersikap keras pada manusia dalam hal yang ada keleluasaan. Sampai-sampai kita melihat sebagian saudara kita yang bersikap keras dalam masalah ini dan membid’ahkan para Imam yang menambah dari 11 rokaat, sehingga mereka keluar dari masjid, dan luputlah dari mereka pahala yang besar, yang disabdakan Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang shalat bersama Imam sampai Imam tersebut berpaling, maka tercatat ia melakukan qiyamul lail satu malam penuh” (riwayat atTirmidzi). Kadang-kadang mereka duduk jika telah sholat 10 rokaat, sehingga mengakibatkan terputusnya shof dengan duduk mereka. Kadang-kadang mereka berbincang-bincang satu sama lain, sehingga mengganggu orang yang sholat.

“ dan kita tidak meragukan bahwa mereka menginginkan kebaikan, dan mereka berijtihad, akan tetapi  tidak setiap orang yang berijtihad benar.

Kelompok ke-2: kebalikan dari itu. Mereka mengingkari orang-orang yang hanya sholat 11 rokaat dengan pengingkaran yang besar.

Mereka berkata: ‘orang-orang itu telah keluar dari ijma’, padahal Allah berfirman (yang artinya): Barangsiapa yang menyelisihi Rasul, setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti selain jalan orang beriman, kami akan palingkan ia ke arah dia berpaling dan kami akan masukkan ia ke Jahannam, dan Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali”. Semua orang sebelummu tidak mengetahui (jumlah rakaat tarawih) kecuali 20 rokaat, kemudian bersikap keras dalam masalah ini. Dan ini juga salah. (Syarhul Mumti’ (4/73-75).

Syubhat ke-2: Nabi Sholat Berjamaah Tarawih 8 Rokaat Kemudian Para Sahabat Menyempurnakan (Tambahan) di Rumah-rumah Mereka


Blog penentang dakwah Ahlussunnah tersebut menyebutkan hadits :

أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم خَرَجَ مِن جَوْفِ اللَّيلِ لَيَالِي مِن رَمَضَانَ وَهِيَ ثَلاَثُ مُتَفَرِّقَةٌ: لَيْلَةُ الثَّالِثِ وَالْخَامِسِ وَالسَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ، وَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ، وَصَلَّى النَّاسُ بِصَلاَتِهِ فِيهَا، وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ، وَيُكَمِّلُونَ بَاقِيهَا فِي بُيُوتِهمْ

“Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم keluar untuk sholat malam di bulan Ramadhan sebanyak tiga tahap: malam ketiga, kelima dan kedua puluh tujuh untuk sholat bersama umat di masjid. Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم sholat bersama mereka sebanyak delapan rakaat, dan kemudian mereka menyempurnakan baki sholatnya di rumah masing-masing.

Bantahan:

Dalam nukilan hadits yang ditulis dalam blog penentang dakwah Ahlussunnah tersebut terdapat kalimat:

وَكَانَ يُصَلِّي بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ، وَيُكَمِّلُونَ بَاقِيهَا فِي بُيُوتِهمْ

“ Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam sholat bersama mereka 8 rokaat, kemudian mereka menyempurnakan sisanya di rumah mereka”.

Pada catatan kaki (nomor 8), dikatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Padahal, jika kita simak dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, tidak ada lafadz semacam itu. Ini adalah kesalahan yang menunjukkan kelemahan mereka dalam ilmu hadits.

Semestinya, dalam riwayat alBukhari dan Muslim disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

Dari ‘Aisyah : Sesungguhnya Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam sholat di masjid pada suatu malam, kemudian sholatlah bersama beliau sekelompok manusia. Kemudian sholat pada malam selanjutnya, sehingga banyaklah manusia. Kemudian pada malam ke-3 dan ke-4 manusia berkumpul, tetapi Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam tidak keluar menuju mereka. Ketika pagi hari beliau bersabda: Aku telah melihat apa yang kalian lakukan. ‘Tidaklah ada yang mencegahku untuk keluar menuju kalian kecuali aku khawatir (sholat malam) diwajibkan bagi kalian’. (Perawi berkata): Yang demikian itu terjadi pada bulan Ramadlan (riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hal perbuatan, riwayat yang menunjukkan jumlah rokaat sholat malam Nabi adalah 11 rokaat, dan ada juga riwayat yang menyatakan 13 rokaat.

Riwayat yang menunjukkan 11 rokaat adalah keadaan yang paling sering beliau lakukan.

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

Dari Abu Salamah bin Abdirrahman yang mengkhabarkan bahwa ia bertanya kepada ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha tentang bagaimana sholat Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam pada bulan Ramadlan. ‘Aisyah berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah menambah pada bulan Ramadlan maupun pada bulan lainnya lebih dari 11 rokaat “ (Muttafaqun ‘alaih).

Riwayat yang menunjukkan 13 rokaat:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ يُصَلِّي إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha beliau berkata: “Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam sholat malam 13 rokaat, kemudian sholat dua rokaat ringan setelah mendengar adzan Subuh” (riwayat al-Bukhari).

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany menyatakan bahwa kedua riwayat itu tidak bertentangan karena bisa jadi (pada yang 13 rokaat) adalah termasuk sholat Sunnah ba’da isya’, atau bisa juga yang dimaksud adalah tambahan 2 rokaat yang ringan dilakukan (Lihat Fathul Baari juz 4 halaman 123).

Sedangkan dalam hal ucapan, beliau hanya menyatakan bahwa sholat malam itu 2 rokaat-2 rokaat tanpa membatasi jumlah rokaat tertentu sebagaimana hadits Mutafaqun ‘alaih.

Syubhat ke-3: Ada riwayat khusus dari Ibnu Abbas yang menunjukkan bahwa Nabi sendiri pernah sholat pada bulan Ramadlan 20 rokaat tambah witir

Dalil yang digunakan adalah hadits:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ جَمَاعَةٍ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرِ

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam sholat pada bulan Ramadlan dengan tidak berjamaah 20 rokaat dan witir

Bantahan:

Hadits itu lemah karena adanya perawi yang bernama Abu Syaibah Ibrohim bin ‘Utsman, demikian dinyatakan oleh al-Baihaqy (Lihat Talkhiisul Habiir karya Ibnu Hajar al-‘Asqolaany juz 2 halaman 21 dan Nailul Authar karya AsySyaukaany juz 3 halaman 64).

SUMBER :

BANTAHAN TERHADAP SITUS DAN BLOG PENENTANG MANHAJ SALAFY AHLUSSUNNAH

(BAGIAN IX)

BENARKAH SHOLAT TARAWIH DAN WITIR 23 ROKA’AT LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN 11 ROKA’AT KARENA LEBIH BANYAK JUMLAH ROKA’ATNYA..? Apakah Sholat tarawih dan witir memang disunnahkan dilakukan dalam keadaan cepat, lebih cepat dari sholat fardlu ? 1 Agustus 2011

Posted by jihadsabili in fiqih, puasa, shalat.
add a comment

BENARKAH SHOLAT TARAWIH DAN WITIR 23 ROKA’AT LEBIH UTAMA DIBANDINGKAN 11 ROKA’AT KARENA LEBIH BANYAK JUMLAH ROKA’ATNYA..? Apakah Sholat tarawih dan witir memang disunnahkan dilakukan dalam keadaan cepat, lebih cepat dari sholat fardlu ?

MENYINGKAP SYUBHAT SEPUTAR TARAWIH

Penulis Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman

Syubhat ke-4: Jumlah rokaat 11 berdasarkan hadits ‘Aisyah tidak bisa diamalkan karena menyelisihi perintah Umar. Sedangkan Umar lebih tahu dari ‘Aisyah.

Disebutkan dalam blog penentang Ahlussunnah:

“Dalam perbahasan Sholat Tarawih ini, jika benar hadith Sayyidatuna ‘Aisyah di atas tentang Sholat Tarawih, ia tetap tidak boleh dijadikan dalil untuk menolak pendapt Sayyiduna Umar dan para sahabat lain yang mereka ijma’ (sepakat) melaksanakannya dengan 20 rakaat. Dalam perkara ini, Sayyidatuna ‘Aisyah melihat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang 11 rakaat, sedangkan Sayyiduna Umar dan para sahabat lain yang utama juga melihat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم bersembahyang dengan 23 rakaat. Maka, mengikut kaedah ini, orang yang banyak ilmunya didahulukan dari orang yang kurang ilmu pengetahuannya”

Bantahan:

Dalam masalah jumlah rokaat sholat yang dilakukan Nabi, ‘Aisyah lebih tahu dibandingkan yang selain beliau. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany:

وَأَمَّا مَا رَوَاهُ اِبْنُ أَبِي شَيْبَةَ مِنْ حَدِيث اِبْن عَبَّاسٍ ” كَانَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي رَمَضَان عِشْرِينَ رَكْعَة وَالْوِتْرَ ” فَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ ، وَقَدْ عَارَضَهُ حَدِيثُ عَائِشَة هَذَا الَّذِي فِي الصَّحِيحَيْنِ مَعَ كَوْنِهَا أَعْلَمَ بِحَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلًا مِنْ غَيْرِهَا

“Adapun apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu Abbas : Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sholat pada bulan Ramadlan 20 rokaat dan witir, sanadnya lemah. Hal ini bertentangan dengan hadits ‘Aisyah ini dalam Shahihain, bersamaan dengan keadaan beliau (‘Aisyah) yang lebih mengetahui keadaan Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam pada waktu malam dibandingkan selainnya” (Lihat Fathul Baari juz 6 halaman 295).

Syubhat ke-5: Umar hanya memerintahkan 20 rokaat sholat tarawih.

Bantahan:

Terdapat beberapa riwayat yang shahih tentang jumlah rokaat tarawih dan witir yang diperintahkan Umar bin al-Khottob, yaitu 11, 13 dan 23 rokaat. Riwayat yang menunjukkan 11 rokaat:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّهُ قَالَ أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْرِ

Dari Muhammad bin Yusuf dari as-Saa-ib bin Yaziid bahwa dia berkata: Umar bin al-Khottob memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamiim ad-Daari untuk mengimami manusia dengan 11 rokaat. Imam pada waktu itu membaca 200 ayat sampai kami bersandar pada tongkat karena demikian lamanya berdiri. Dan tidaklah kami berpaling kecuali menjelang fajar (diriwayatkan oleh Malik dalam alMuwattho’).

Sanad riwayat ini shahih, karena para perawi dalam riwayat ini adalah rijaal (perawi) dalam Shahih alBukhari dan Muslim. Malik meriwayatkan dari Muhammad bin Yusuf dari as-Saaib bin Yaziid.

Dalam riwayat lain dinyatakan bahwa di masa Umar dilakukan sholat 13 rokaat:

عن السائب بن يزيد قال كنا نصلي في زمن عمر رضي الله عنه  في رمضان ثلاث عشرة ركعة

Dari as-Saa-ib bin Yaziid beliau berkata: ‘Kami sholat di zaman Umar radliyallaahu ‘anhu pada Ramadlan 13 rokaat (diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr alMaruuzi dari jalur Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Yusuf dari as-Saa-ib bin Yaziid).

Sedangkan riwayat 23 rokaat, ada yang dalam bentuk penyebutan 20 rokaat selain witir seperti yang diriwayatkan oleh Malik dari Yaziid bin Khosiifah dari as-Saa-ib bin Yaziid. Bisa juga dalam bentuk penyebutan langsung 23 rokaat:

عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً

Dari Yazid bin Ruumaan bahwasanya dia berkata: Manusia melakukan sholat malam di zaman Umar bin al-Khottob pada Ramadlan sebanyak 23 rokaat (diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwattho’).

Muhammad bin Nashr juga meriwayatkan dari jalur ‘Atho’ jumlah 23 rokaat di masa Umar.

AlHafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany menyatakan:

وَالْجَمْعُ بَيْن هَذِهِ الرِّوَايَات مُمْكِنٌ بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَال ، وَيَحْتَمِل أَنَّ ذَلِكَ الِاخْتِلَافَ بِحَسَبِ تَطْوِيلِ الْقِرَاءَة وَتَخْفِيفِهَا فَحَيْثُ يُطِيلُ الْقِرَاءَة تَقِلُّ الرَّكَعَات وَبِالْعَكْسِ وَبِذَلِكَ جَزَمَ الدَّاوُدِيُّ وَغَيْره ، وَالْعَدَد الْأَوَّل مُوَافِق لِحَدِيثِ عَائِشَة الْمَذْكُور بَعْد هَذَا الْحَدِيث فِي الْبَاب ، وَالثَّانِي قَرِيب مِنْهُ ، وَالِاخْتِلَاف فِيمَا زَادَ عَنْ الْعِشْرِينَ رَاجِعٌ إِلَى الِاخْتِلَاف فِي الْوِتْر وَكَأَنَّهُ كَانَ تَارَة يُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ وَتَارَة بِثَلَاثٍ

“Penggabungan riwayat-riwayat ini mungkin dilakukan karena adanya perbedaan keadaan. Bisa juga yang demikian itu disebabkan perbedaan (kadangkala) bacaan yang panjang dan (kadangkala) pendek. Maka jika bacaannya panjang, jumlah rokaatnya sedikit. Demikian sebaliknya. Ini adalah pendapat ad-Daawudi dan selainnya. Jumlah (rokaat) yang pertama (11) sesuai dengan hadits ‘Aisyah yang akan disebutkan setelah hadits ini pada bab yang sama, sedangkan jumlah rokaat yang kedua (13) dekat dengannya. Perbedaan riwayat untuk jumlah rokaat yang lebih dari 20 dikembalikan pada perbedaan witir. Kadangkala witir dengan 1 rokaat, kadangkala 3 rokaat (Lihat Fathul Baari juz 6 halaman 292).

Dari penjelasan tersebut jelaslah bahwa pada masa Umar bin al-Khottob sendiri jumlah rokaat tarawih dan witirnya tidak hanya dilakukan 23 rokaat saja, namun juga pernah 11 rokaat dan 13 rokaat.

Syubhat ke-6: Sholat tarawih dan witir 23 rokaat lebih utama dibandingkan 11 rokaat karena lebih banyak jumlah rokaatnya

Disebutkan dalam blog penentang dakwah Ahlussunnah:

Oleh itu, dari segi bilangan sahaja umpamanya, tentulah 20 rakaat Sholat Tarawih lebih baik dari 8 rakaat dan pahalanya tentu sekali lebih banyak. Ini tidak termasuk pahala berapa kali qiyam, ruku’, sujud…., bacaan Surah Al-Fatihah, bacaan surah dan bacaan-bacaan lain ketika sembahyang, pahala mendengar orang membaca Al-Quran di dalam sembahyang, pahala sabar ketika qiyam yang mungkin agak lama dan panjang…jika dilakukan sebanyak 20 rakaat itu. Bolehlah diqiyaskan kepada perlakuan dan pembacaan yang lain yang ada kaitan dengan Sholat Tarawih ini”

Bantahan:

Perlu dipahami bahwa tidak selalu jumlah rokaat yang lebih banyak akan lebih utama dibandingkan dengan jumlah rokaat yang lebih sedikit. Hal itu tergantung juga dengan banyaknya jumlah ayat yang dibaca, kehusyukannya, benar dan tepatnya lafadz bacaan yang dibaca, dan banyak parameter yang lain.

Al-Imam Asy-Syafi’i sendiri lebih cenderung menyukai sholat sunnah yang lebih lama berdirinya dan jumlah sujudnya sedikit dibandingkan berdirinya sebentar dan jumlah sujudnya banyak. Beliau menyatakan:

فإن أطالوا القيام وأقلوا السجود فحسن ، وهو أحب إلي ، وإن أكثروا الركوع والسجود فحسن

“ Jika mereka memanjangkan (masa) berdiri dan sedikit jumlah sujud maka itu baik, dan yang demikian ini lebih aku sukai. Jika mereka memperbanyak ruku’ dan sujud maka itu juga baik” (dinukil oleh Abu Nashr al-Maruuzi dalam Qiyaamu Ramadlan juz 1 halaman 21).

Telah disebutkan penjelasan al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany ketika menggabungkan perbedaan riwayat jumlah rokaat di masa Umar (11,13, dan 23 rokaat). Bahwa jika jumlah ayat yang dibaca banyak, jumlah rokaatnya sedikit, sebaliknya jika jumlah ayat yang dibaca sedikit, jumlah rokaat banyak. Meskipun 2 keadaan itu sama-sama baik, namun al-Imam Asy-Syafi’i lebih menyukai yang lama berdirinya (karena ayat yang dibaca banyak/panjang) meski jumlah sujudnya sedikit.

Sebelas rokaat atau 23 rokaat dua-duanya adalah baik. Namun yang terbaik adalah yang paling mendekati perbuatan Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam. Beliau melakukan 11 rokaat atau 13 rokaat dengan memanjangkan bacaan dalam ayat. ‘Jangan kalian tanya bagusnya’, kata ‘Aisyah radliyallahu anha dalam mensifatkan sholat sunnah Nabi. Hudzaifah bin al-Yaman juga mengisahkan bahwa beliau shollallaahu ‘alaihi wasallam membaca AlBaqoroh, AnNisaa’, dan Ali Imran dalam satu rakaat. Luar biasa lama masa berdirinya. Bahkan, setiap sampai ayat tentang tasbih, beliau bertasbih, jika sampai pada ayat tentang permintaan, beliau meminta kepada Allah, dan ketika membaca ayat tentang adzab beliau mohon perlindungan kepadaNya. Tidak mengherankan jika kondisi lama berdiri menyebabkan kaki beliau bengkak dan pecah-pecah. Hal itu sebagai perwujudan keinginan beliau menjadi hamba yang bersyukur.

Namun, keadaan jumlah ayat yang dibaca maupun lama berdiri dalam sholat harus disesuaikan dengan keadaan makmum. Jika makmum suka dan tidak menyusahkan mereka jika itu dilakukan, maka panjangnya bacaan yang menyebabkan lamanya berdiri dalam sholat adalah yang terbaik dilakukan.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ قَالَ طُولُ الْقُنُوتِ

Dari Jabir beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang sholat manakah yang lebih utama? Beliau menjawab: ‘yang panjang (lama) masa berdirinya’ (H.R Muslim).

Apalagi, yang mayoritas terjadi adalah banyaknya jumlah rokaat pada sholat tarawih di bulan Ramadlan menyebabkan pelaksanaan sholat dilakukan secara cepat, bahkan sangat cepat. Tidaklah mengherankan jika suatu masjid yang melakukan sholat 23 rokaat masa berakhirnya justru mendahului masjid lain yang sholat 11 rokaat. Kita tidak mengingkari jumlah rokaatnya, namun yang kita ingkari adalah demikian cepatnya sholat dilakukan sampai-sampai makmum bahkan imam sendiri sulit mendapatkan kekhusyukan dengan bacaan yang cepat dan kondisi tergesa-gesa semacam itu. Ketika sujud yang dilakukan bagaikan ayam yang mematuk makanan, belum selesai sang makmum menyempurnakan kadar bacaan wajib dalam ruku’ ataupun sujudnya, imam sudah berpindah pada posisi gerakan yang lain. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala memberikan hidayahNya kepada segenap kaum muslimin…

Syubhat ke-7: Sholat tarawih dan witir memang disunnahkan dilakukan dalam keadaan cepat, lebih cepat dari sholat fardlu

Syubhat semacam ini bisa ditemui pada sebagian situs. Pada sebuah situs terdapat tanya jawab sebagai berikut (dinukil inti pertanyaan dan jawabannya):

Bagaimana jika kita tarawih imannya membaca Al Fatihah atau surah sesudahnya (surah pendek) dalam satu nafas…sedang kita membaca Fatihah sesudah imam sehingga kita tidak bisa menyelesaikan fatihah kita tetapi menyebabkan kita tertinggal rukun … Apa kita tertinggal rukun walau tidak sampai 2 rukun panjang, atau membaca Al Fatihah bersama dengan imam saja?……Atau ikut mazhab lain yang menyatakan Fatihah sudah ditanggung imam?…bagaimana ya bib? atau ada cara yang lebih baik?

Jawaban dari situs tersebut:

mengenai shalat tarawih cepat, hal itu merupakan pengenalan sunnah pula, karena Rasul saw pernah melakukan shalat sunnah yg sangat cepat sebagaimana riwayat shahih Bukhari dan shahih Muslim, bahwa sedemikian cepatnya seakan beliau itu tidak shalat, namun beliau menyempurnakan tumaninahnya

Pada bagian lain di situs tersebut terdapat topik berjudul: Sholat Tarawih dengan cepat-kilat.

Terdapat pertanyaan sebagai berikut:

Bagaimana hukum sholat tarawih dengan Imam membaca surat2 dengan cepatnya dan gerakan2 sholat yang kilat? padahal disitu ada jamaah orang2 tua yang kewalahan mengikuti gerakan imam…?

terimakasih…

Jawaban dari situs tersebut:

mengenai pelaksanaan Tarawih dg cepat adalah fatwa Madzhab Syafii, karena mesti dibuat lebih ringan dan cepat daripada shalat fardhu, karena tarawih adalah shalat sunnah yg dilakukan secara berjamaah, maka tidak boleh disamakan dengan shalat fardhu, Ihtiraaman wa ta’dhiiman lishalatilfardh (demi memuliakan shalat fardhu) diatas shalat sunnah.

melakukan shalat sunnah dg cepat adalah diperbolehkan bahkan pernah dilakukan oleh Rasul saw, dalilnya adalah bahwa riwayat Aisyah ra bahwa Rasul saw pernah melakukan shalat sunnah sedemikian cepatnya seakan beliau tidak shalat dari cepatnya. (Shahih Bukhari).

riwayat lainnya bahwa Rasul saw melakukan shalat sedemikian cepatnya seakan beliau saw tak membaca fatihah, akan tetapi beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya (Shahih Bukhari)

demikian riwayat riwayat diatas memberikan kefahaman bagi kita bahwa shalat sunnah boleh cepat, dan pada madzhab Syafii bahwa shalat Tarawih berjamaah hendaknya dipercepat agar tak disamakan dengan shalat fardhu, juga sekaligus mengenalkan kembali sunnah Nabi saw, bahwa Nabi saw pun sering melakukan shalat sunnah dg cepat,

pengingkaran dimasa kini adalah karena muslimin sudah tidak lagi mengetahui bahwa shalat sunnah dg cepat itu adalah sunnah Nabi saw, maka perlu dihidupkan dan dimakmurkan agar muslimin tidak alergi dan kontra terhadap sunnah Nabinya saw.

mengenai orang tua yg tak mampu mengikuti cepatnya gerakan Imam sebaiknya duduk, shalatnya tetap sah karena shalat sunnah boleh dilakukan sambil duduk walaupun tidak udzur sekalipun, berbeda dg shalat fardhu yg tak boleh dilakukan sambil duduk kecuali ada udzur,

Bantahan:

Tidak benar bahwa sholat tarawih disunnahkan dilakukan lebih cepat dari sholat fardlu. Bahkan sholat sunnah qiyamul lail (sebagaimana tarawih dan witir yang merupakan qiyaamul lail di bulan Ramadlan) lebih diutamakan jika jumlah ayat yang dibaca banyak dan dibaca tartil (tidak tergesa-gesa).

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ

“Barangsiapa yang qiyaamul lail dengan membaca 10 ayat dia tidak tercatat sebagai orang yang lalai, barangsiapa yang qiyamul lail dengan membaca 100 ayat tercatat sebagai orang yang taat, barangsiapa yang qiyaamul lail dengan 1000 ayat tercatat sebagai orang yang mendapat pahala berlimpah” (H.R Abu Dawud)

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan (tartil)”(Q.S alMuzzammil:1-4).

Pada masa Nabi sholat tarawih berjamaah bersama Sahabat Nabi, cukup lama sholat itu didirikan, sampai para Sahabat khawatir tidak bisa makan sahur.

Dikatakan oleh Sahabat Nabi Abu Dzar:

…فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ

…”maka Nabi melakukan qiyaamul lail (di bulan Ramadlan) bersama kami sampai-sampai kami khawatir akan terluput dari makan sahur”(H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaa-i, Ibnu Majah).

Sunnah ini dilanjutkan di masa Umar bin al-Khottob pada saat beliau memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamiim adDaari menjadi imam sholat, begitu lamanya sholat dilakukan sampai-sampai para Sahabat bersandar pada tongkat karena lama berdirinya.

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ أَنَّهُ قَالَ أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ وَمَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلَّا فِي فُرُوعِ الْفَجْرِ

Dari Muhammad bin Yusuf dari as-Saa-ib bin Yaziid bahwa dia berkata: Umar bin al-Khottob memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamiim ad-Daari untuk mengimami manusia dengan 11 rokaat. Imam pada waktu itu membaca 200 ayat sampai kami bersandar pada tongkat karena demikian lamanya berdiri. Dan tidaklah kami berpaling kecuali menjelang fajar (diriwayatkan oleh Malik dalam alMuwattho’).

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam beberapa kali sholat malam bersama sebagian Sahabat. Beliau pernah sholat malam bersama Abdullah bin Mas’ud:

عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَطَالَ حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سَوْءٍ قَالَ قِيلَ وَمَا هَمَمْتَ بِهِ قَالَ هَمَمْتُ أَنْ أَجْلِسَ وَأَدَعَهُ

Dari Abu Waa-il beliau berkata: Abdullah (bin Mas’ud) berkata: ‘Aku pernah sholat bersama Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, beliau memanjangkan (masa berdiri) sampai aku berkehendak untuk melakukan perkara jelek. Ditanyakan kepada Ibnu Mas’ud: apa perkara jelek tersebut? Ibnu Mas’ud berkata: ‘aku berkeinginan untuk duduk dan meninggalkan beliau (sholat)(H.R al-Bukhari dan Muslim, lafadz sesuai Muslim).

Dalam riwayat Muslim pula Nabi pernah sholat malam bersama Hudzaifah bin alYaman. Dalam satu rokaat beliau membaca AlBaqoroh, AnNisaa’, dan Ali Imraan. Bagaimana bisa dikatakan bahwa sholat sunnah seharusnya lebih cepat dari sholat wajib sebagai bentuk penghormatan terhadap sholat wajib? Bukankah dalam sholat wajib Nabi tidak pernah menyelesaikan bacaan alBaqoroh saja dalam satu rokaat?

Pada situs itu juga dinyatakan sebagai berikut:

melakukan shalat sunnah dg cepat adalah diperbolehkan bahkan pernah dilakukan oleh Rasul saw, dalilnya adalah bahwa riwayat Aisyah ra bahwa Rasul saw pernah melakukan shalat sunnah sedemikian cepatnya seakan beliau tidak shalat dari cepatnya. (Shahih Bukhari).

riwayat lainnya bahwa Rasul saw melakukan shalat sedemikian cepatnya seakan beliau saw tak membaca fatihah, akan tetapi beliau tetap menyempurnakan rukuk dan sujudnya (Shahih Bukhari)

Sesungguhnya yang dimaksudkan tersebut adalah sholat sunnah yang dilakukan Nabi berupa 2 rokaat sebelum sholat Subuh.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى إِنِّي لَأَقُولُ هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ

Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha beliau berkata: Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam meringankan sholat 2 rokaat sebelum sholat Subuh sampai aku berkata: Apakah beliau membaca alFatihah? (H.R alBukhari).

Untuk memahami makna hadits tersebut kita perlu menyimak penjelasan Imam al-Qurthuby:

وَإِنَّمَا مَعْنَاهُ أَنَّهُ كَانَ يُطِيل فِي النَّوَافِل ، فَلَمَّا خَفَّفَ فِي قِرَاءَة رَكْعَتَيْ الْفَجْر صَارَ كَأَنَّهُ لَمْ يَقْرَأ بِالنِّسْبَةِ إِلَى غَيْرهَا مِنْ الصَّلَوَات

“Sesungguhnya maknanya adalah : bahwa Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam biasa memanjangkan bacaan pada sholat Sunnah. Maka ketika beliau meringankan bacaan pada 2 rokaat (sebelum) Subuh, jadilah seakan-akan beliau tidak membaca (AlFatihah) jika dibandingkan dengan sholat-sholat beliau yang lain” (dinukil oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany dalam Fathul Baari juz 4 halaman 161).

Sehingga hadits tersebut tidak bisa dijadikan sebagai patokan atau kaidah umum bahwa sholat Sunnah semestinya lebih cepat dari sholat wajib, karena menurut alQurthuby yang sering/biasa beliau lakukan adalah memanjangkan bacaan pada sholat sunnah. Hanya pada kondisi tertentu atau keadaan yang jarang, seperti sholat Sunnah sebelum Subuh, kadang beliau meringankannya. Penisbatan kaidah tersebut kepada madzhab Asy-Syafi’i juga perlu ditinjau ulang, karena justru al-Imam Asy-Syafi’i lebih menyukai masa berdiri yang lama meski jumlah sujudnya sedikit (silakan dilihat penjelasan bantahan terhadap syubhat ke-6 di atas).

Selain itu, ketika pada situs tersebut ditanyakan bagaimana jika imam membaca al-Fatihah dan bacaan surat dalam satu nafas, sehingga menyebabkan makmum ketinggalan rukun, bukannya pengasuh situs tersebut memberikan nasehat kepada imam agar lebih thuma’ninah dan memperhatikan keadaan makmum, namun justru mendukung perbuatan imam tersebut dan menganggapnya sesuai dengan Sunnah. Bukannya menganjurkan agar imam memperhatikan keadaan makmum karena adanya orang – orang yang lemah dan memiliki kebutuhan, tapi justru yang dianjurkan adalah makmum yang tua menyesuaikan ‘kecepatan’ imam dengan sebaiknya sholat duduk saja. Wallaahul musta’aan. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan hidayahNya kepada kita semua…

Nasehat untuk saudaraku para imam masjid, hendaknya bertaqwa kepada Allah. Bagaimana mungkin anda bermunajat kepada Allah dalam keadaan mempercepat bacaan, bahkan alfatihah dalam satu nafas. Penuhi pula hak makmum. Mereka perlu mendapatkan hidangan bacaan Qur’an untuk disimak. Karena jika mereka menyimak bacaan imam dengan baik maka insyaAllah mereka akan mendapatkan rahmat dari Allah.

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“ dan jika dibacakan alQur’an, maka simaklah dan diam agar kalian mendapatkan rahmat” (Q.S al-A’raaf:204)

Bertaqwalah kepada Allah, janganlah sholat dengan tergesa-gesa sehingga meninggalkan thuma’ninah yang merupakan rukun sholat. (Untuk mengetahui lebih lanjut nasehat tentang masalah ini, silakan menyimak artikel berjudul: “SAUDARAKU, JANGAN CEPAT-CEPAT SHOLATNYA!”).

Kesimpulan

1.    Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam melakukan sholat malam, baik di dalam maupun di luar Ramadlan sebanyak 11 atau 13 rokaat berdasarkan riwayat yang shahih. Tidak ada riwayat shahih yang menunjukkan secara tegas beliau melakukan sholat malam lebih dari jumlah rokaat itu.

2.    Secara ucapan, beliau tidak membatasi jumlah rokaat sholat malam. Ketika ditanya tentang sholat malam, beliau hanya menyatakan bahwa sholat malam dilakukan dua rokaat-dua rokaat. Sehingga, tidak mengapa bagi kaum muslimin untuk melakukan qiyaamul lail di dalam atau di luar Ramadlan dengan jumlah rokaat lebih dari 13.

3.    Bukan jumlah rokaatnya yang kita ingkari, namun tata cara pelaksanaan sholatnya. Jika sholat tidak dilakukan dengan thuma’ninah, bisa menyebabkan batalnya sholat tersebut.


SUMBER : BANTAHAN TERHADAP SITUS DAN BLOG PENENTANG MANHAJ SALAFY AHLUSSUNNAH

(BAGIAN IX)

CARA SHOLAT KHUSYU 15 Juni 2011

Posted by jihadsabili in shalat.
add a comment

Praktek shalat khusuk

Berikut ini saya sampaikan beberapa cara dan langkah untuk mendapatkan shalat yang khusuk dan benar sehingga didapat shalat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan Al Qur’an.

  1. Siapkan hati dan fikiran untuk mengerjakan shalat, misalnya shalat Dhuhur, Asar atau Maghrib.
  2. Ambil wuduk untuk bersuci dari hadas kecil
  3. Persiapan segala sesuatu untuk melakukan shalat, ruangan, kondisi dan lain sebagainya.
  4. Berdiri tegak menghadap kiblat, kedua kaki agak diregangkan. Rasakan bahwa anda saat ini sedang berhadapan dengan Allah penguasa tertinggi dialam semesta. Bersikaplah tawadhu dihadapan Dia yang berkuasa penuh diseluruh jagat raya.
  5. Takbiratul ihram
    Ucapkan takbiratul Ihram sambil mengangkat kedua belah tangan sejajar telinga dan menarik nafas perlahan lahan hingga memenuhi ruang paru paru. Selanjutnya turunkan kedua belah tangan keatas dada sambil menghembuskan nafas perlahan lahan hingga paru paru kosong sempurna.. Letakan tangan kanan diatas tangan kiri diatas dada.
  6. Do’a Iftitah
    Selanjutnya tarik nafas kembali perlahan lahan hingga memenuhi ruang paru paru, hembuskan perlahan lahan sambil membaca do’a iftitah: ”Allahu Akbar kabiro, walhamdulilaahi katsiiro, wa subhanallahi bukhrataw wa ’ashiila . Allah maha besar yang maha sempurna kebesarannya, segala punji bagi Allah sebanyak banyaknya, dan maha suci Allah sepanjang pagi dan petang hari ” Inni wajjahtu wajhiya lilladzii fathorosshamaawaati wal ardho haniifan muslimaw wama ana minal musyrikiin. Sesungguhnya aku hadapkan hati dan fikiranku kepada yang menjadikan langit dan bumi , dengan lurus (ber-sungguh-sungguh) dan berserah diri , dan aku bukanlah termasuk orang yang mempersekutukanNya . Innas sholaati, wanusuki, wamahyaya, wama maati lillahi rabbil ’alamiin. Laa syariikalahuu wabidzaalika umirtu wa ana minal muslimin.Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya bagi Allah Tuhan sekalian alam, Tiada sekutu bagiNya, dengan demikianlah aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang berserah diri (muslim) .” 

    Jika nafas yang dihembuskan perlahan sudah habis sedang bacaan iftitah belum selesai, maka tarik kembali nafas hingga memenuhi paru paru, kemudian hembuskan perlahan sambil melanjutkan bacaan yang belum selesai,demikian seterusnya. Konsentrasikan hati dan fikiran pada bacaan berikut maknanya. Mulut membaca do’a iftitah, fikiran menyebut terjemahannya, hati merasakan maksud kalimat yang dibaca. Rasakan kalimat yang dibaca dengan segenap perasaan dan penuh kekhusukan. Usahakan hembusan nafas berakhir bersamaan dengan selesainya bacaan do’a iftitah tersebut.

  7. Bacaan Al-fatihah
    Selanjutnya tarik nafas perlahan lahan hingga memenuhi ruang paru paru, hembuskan perlahan lahan sambil membaca surat Al Fatihah. Konsentrasikan fikiran dan perasaan pada bacaan Al Fatihah tersebut. Ucapkan dengan lisan, terjemahkan dengan fikiran, pahami dengan hati. Rasakan setiap ayat yang dibaca, ikuti dengan visualisasi. Baca surat Al Fatihah tersebut dengan tartil dan perlahan lahan.Ketika membaca Bismillahirrohmanirahiim…bayangkan dan rasakan betapa rasa kasih sayang Allah pada kita semua. 

    Ketika membaca Alhamdulillahir robbil alamiin…. bayangkan betapa maha terpujinya Allah penguasa alam semesta.

    Ketika membaca Arohmaanirrohiim bayangkan sifat kasih sayang Allah yang meliputi alam semesta.

    Ketika membaca Maalikiyau middin ….bayangkan keadaan dihari berbangkit kelak , ketika kita dikumpulkan dipadang mahsyar yang kering dan tandus. Dihari yang tiada tempat bernaung selain naunganNya, dihari yang tidak ada tempat berlindung selain lindunganNya . Dialah penguasa tunggal dihari itu.

    Ketika membaca Iyya kana’budu wa iyyaka nasta’in tanamkan dalam hati bahwa hanya Dialah yang disembah, dan hanya kepadaNya tempat mohon pertolongan.

    Ketika membaca Ihdinas shiroothol mustaqiim bayangkan jalan yang lurus, jalan yang penuh rahmat dan berkahNya. Ketika membaca Shirothol ladziina an amta alaihim, ghoiril maghdu bi alaihim , waldhoolliin .bayangkan yang dimaksud jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh orang yang telah mendapat rahmat dan nikmat dariNya , bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang yang sesat.

    Usahakan hembusan nafas berakhir bersamaan dengan selesainya bacaan Alfatihah.

  8. Bacaan surat dan ayat pilihan setelah Alfatihah
    Setelah selesai membaca Alfatihah tarik nafas hingga memenuhi ruang paru paru. Hembuskan nafas perlahan lahan sambil membaca ayat atau surat pilihan. Untuk menambah kekhusuan ayat pilihan bisa disesuaikan dengan kondisi dan keadaan yang sedang mempengaruhi kita. Misalnya menghadapi musibah dan cobaan baca surat al Ankabut 1 s/d 5. Atau Al baqarah 153-157. Untuk membangkitkan semangat perjuangan dan mendapatkan karir yang lebih baik, baca surat Ali Imran 26-27, An Nur 55-56 atau Al Fath 1-4. Mengenang kehidupan akhirat baca surat al Waqi’ah, surat Al Zalzalah dan Al Qori’ah, Tentu saja ayat atau surat yang dibaca sudah dihafal berikut terjemahannya, demikian seterusnya. Usahakan hembusan nafas berakhir bersamaan dengan selesainya bacaan ayat pilihan tersebut.
  9. Rukuk
    Tarik nafas perlahan lahan sambil rukuk dan membaca takbir. Selama ruku baca kalimat tasbih ” subhanarabbiyal adzim ….Maha suci Allah yang maha besar ” . Selama ruku dan membaca tasbih nafas dihembuskan perlahan lahan . Punggung dan pinggang membentuk sudut 90 derajat, tangan bertumpu pada lutut. Rasakan suasana relaks dan nyaman selama rukuk. Hembusan nafas berakhir bersamaan dengan selesainya bacaan tasbih.
  10. I’tidal
    Tarik nafas perlahan lahan sambil berdiri dan mengucapkan kalimat ” Samiallahu liman hamidah. telah mendengar Allah akan orang yang memujiNya. ”. Kedua belah tangan diangkat sampai sejajar telinga. Selanjutnya turunkan kedua belah tangan kesamping kiri dan kanan sambil menghembuskan nafas perlahan-lahan. Berdiri tegak dengan kedua belah tangan disamping kiri dan kanan, tarik nafas perlahan lahan hingga memenuhi paru paru, kemudian hembuskan dengan perlahan lahan sambil membaca : ”Robbana lakal hamdu, milussamawaati wamil ul ardhi, wamil umaasyi’ta, min syai’in ba’du…..Wahai Tuhan kami segala puji bagiMu sepenuh langit dan bumi,dan sepenuh barang yang Engkau kehendaki sesudah itu”. Puji Allah dengan tulus dan ikhlas, rasakan suasana relaks dan nyaman. Hadapkan hati dan fikiran seluruhnya kepada Allah penguasa alam semesta dengan ikhlas dan tawadhu. Hembusan nafas berakhir bersamaan dengan berakhirnya bacaan do’a .
  11. Sujud pertama
    Tarik nafas perlahan lahan sambil turun untuk sujud dan mengucapkan kalimat takbir ”Allahu akbar”. Selama sujud hembuskan nafas perlahan lahan sambil membaca kalimat tasbih : ”Subhana rabbiyal a’la …..Mahasuci Allah yang maha tinggi ” sebanyak yang bisa dibaca. Hembusan nafas berakhir bersamaan dengan berakhirnya kalimat tasbih.Ucapkan kalimat tasbih dengan tulus dan ikhlas, rasakan suasana relaks dan pasrah kepadaNya. Hembusan nafas berakhir bersamaan dengan berakhirnya ucapan tasbih. Lama sujud tergantung kekuatan nafas dan jumlah kalimat tasbih yang dapat diucapkan. Rasakan suasana yang betul betul relaks dan pasrah padaNya.
  12. Duduk Iftirash
    Tarik nafas perlahan lahan sambil duduk dari sujud dengan mengucapkan kalimat takbir. Ketika duduk Iftirash hembuskan nafas perlahan lahan sambil membaca do’a :” Robighfirli, warhamni, wajburnii, warfa’nii, warzuqnii, wahdinii, wa’afinii, wa’fu’annii ….Ya Tuhanku , ampuni aku, rahmati aku, tutupi nkeburukanku, angkat derajatku, beri aku rezeki, beri aku petunjuk, sehatkan aku, ma’afkan aku…”. Ucapkan do’a dengan sungguh sunguh, ikuti dengan ikhlas dan penuh perasaan, jangan tergesa gesa. Nikmati kata demi kata dalam do’a ini, rasakan getaran dari setiap kalimat do’a yang diucapkan. Ini adalah do’a untuk kehidupan yang ideal. Jika Allah mengabulkan do”a ini anda tidak akan menderita, gelisah, tertekan, bingung, dan hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Anda akan mendapat ampunan, rahmat dan berkah, ditutupi keburukannya, diangkat derajatnya, mendapat bimbingan dalam menghadapi berbagai masalah, diberi badan yang sehat, dan ma’af dari Allah. Usahakan hembusan nafas berakhir bersamaan dengan berakhirnya bacaan do’a.
  13. Sujud kedua
    Tarik nafas perlahan lahan sambil sujud dan mengucapkan kalimat takbir. Selama sujud hembuskan nafas perlahan lahan sambil membaca kalimat tasbih : Subhana rabbiyal a’la..Maha suci Allah yang maha tinggi” . Lakukan seperti pada butir 11. Setelah selesai , lanjutkan ke rakaat kedua. Tarik nafas perlahan lahan sambil berdiri dan mengucapkan kalimat takbir untuk melanjutkan kerakaat kedua.
  14. Duduk tahiyyat
    Pada duduk tahiyat awal sambil menghembuskan nafas perlahan lahan baca do’a : Attahiyatul mubaarokatus shalawatut thoyyibatulillaah. Assalamu alaika ayyuhanabiyyu warahmatullahi wabarakatuhu, Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan, dan kebaikan bagi Allah, salam rahmat dan berkahNya kupanjatkan padamu wahai nabi Muhammad…….. assalamualaina wa ala ibadillahisshoolihiin , Asyhaduallaa ilaaha illallahu wa assyhadu anna muhammadarrasuulullah, Allahhumma sholli ala muhammad wa ala aali muhammad…..Salam kesalamatan semoga tetap bagi kami seluruh hamba hambaNya yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah , dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan juga kepada keluarga nabi Muhammad ” . Pada tahiyyat akhir ditambahkan kalimat :….kama sholaita ala ibrahiim wa ala aali ibraahim , wa barik ala aali Muhammad wa aala ali Muhammad, Kama barakta ala aali Ibrahiim wa ala aali Ibrahiim fil alamiina innaka hamiidun maajiid.Sebagaimana Engkau pernah memberi rahmat kepada keluarga nabi Ibrahim, Berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah nmemberi keberkahan kepada Nabi Ibrahiim dan keluarga nya. Diseluruh alam semesta Engkaulah yang maha terpuji dan maha mulia ” . Jika hembusan nafas berakhir sebelum bacaan do’a selesai, tarik lagi nafas baru dan lanjutkan bacaan do’a sambil menghembuskan nafas perlahan lahan. Setelah selesai ucapkan salam sambil menoleh ke kanan dan kiri nsebagai penutup seluruh kegioatan shalat.
    Seluruh kegiatan shalat dilakukan dengan tenang, relaks dan tidak tergesa gesa. Resapi dan hayati setiap kalimat yang diucapkan dalam shalat. Insya Allah anda akan merasakan kenikmatan langsung dalam shalat ini. Jika gerakan shalat dan pengaturan nafas anda lakukan dengan betul, anda akan merasakan hawa hangat dan nyaman diseluruh tubuh. Badan terasa lebih segar selama shalat dan sesudah melakukan shalat. Jika anda mengidap tekanan darah tinggi, insya Allah shalat seperti ini akan menurunkan tekanan darah anda.

Efek nyata shalat khusuk dalam kehidupan sehari hari
Shalat yang dilakukan dengan benar dan khusuk akan menimbulkan efek yang nyata dalam kehidupan sehari hari. Beberapa indikator yang dapat anda rasakan dalam kehidupan sehari hari sebagai hasil dari shalat yang benar dan khusuk antara lain :

  1. Badan terasa lebih segar dan relaks selama dan sesudah mengerjakan shalat
  2. Anda bisa merasakan suatu perasan nikmat dan asyik ketika mengerjakan shalat, hati dan fikiran terasa relaks dan focus pada kalimat yang dibaca. Adakalanya perasaan anda terbawa hanyut oleh ayat yang dibaca hingga badan bergetar dan kadang kala anda menangis karena merasakan kedahysatan Allah , kasih sayang dan azab -Nya..
  3. Hati dan fikiran selalu merasa bahagia, nyaman, tentram, optimis dalam menjalankan kehidupan jauh dari perasaan sedih, duka, cemas, takut , putus asa, tertekan dan stress berkepanjangan.
  4. Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap cobaan dan tekanan hidup. Berbagai musibah dan kesulitan yang menghadang tidak menyebabkan nya patah semangat dan berputus asa.
  5. Terpelihara dari melakukan perbuatan tercela dan perbuatan keji lainnya
  6. Memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi dalam menyelesaikan dan menghadapi berbagai masalah yang datang menghadang dalam kehidupan sehari hari.
  7. Tidak takut menghadapi ancaman dari manapun, ia hanya tunduk dan takut pada Allah Subhanahu wataala.Jika anda belum melaksanakan shalat dengan benar dan khusuk, anda akan mendapatkan efek yang berlawanan dari hal yang telah disebutkan diatas. Beberapa indikator yang bisa anda amati dan rasakan jika anda belum melakukan shalat dengan benar dan khusuk antara lain sebagai berikut.
  1. Shalat terasa sebagai beban dan dirasakan sebagai suatu kegiatan yang membosankan. Selama mengerjakan shalat fikiran melayang kemana mana . dan ada keinginan untuk segera selesai dari mengerjakan shalat
  2. Shalat tidak meninggalkan bekas yang nyata dalam kehidupan sehari hari. Hati dan fikiran sering dirongrong perasaan gelisah, sedih, cemas, kecewa, putus asa, tertekan dan stres berkepanjangan.
  3. Daya tahan terhadap cobaan dan tekanan hidup sangat lemah, mudah panik dan putus asa. Sehingga sering tergiur untuk mencari pertolongan alternatif seperti paranormal, dukun, ajimat dan perbuatan musyrik lainnya.
  4. Kecerdasan spiritual lemah sehingga mudah tergiur untuk melakukan perbuatan tercela dan keji lainnya demi mendapatkan apa yang diinginkan.
  5. Sangat takut terhadap acaman manusia dan lain sebagainya, rasa takut tersebut mengalahkan rasa takutnya pada Allah, hingga mudah tergelincir pada perbuatan tercela dan perbuatan musyrik lainnya.

Demikianlah, mari kita tingkatkan mutu shalat kita masing masing, dengan berusaha untuk mengerti dan memahami setiap ayat atau kalimat yang kita ucapkan dalam shalat kita sehari hari. Perhatikan perubahan yang terjadi setelah anda bisa melaksanakan shalat dengan benar dan khusuk.   fadhilza.com

Tips Khusyu’ dalam Shalat 4 Juni 2011

Posted by jihadsabili in fiqih, shalat.
add a comment

Seiring dengan banyaknya kesibukan duniawi, khusyu’ dalam shalat menjadi sesuatu yang amat sulit dicapai. Padahal shalat adalah induknya seluruh ibadah, yang bila ia baik maka baiklah ibadah-ibadah lainnya. Namun bila ia rusak karena tidak khusyu’ umpamanya, maka ibadah-ibadah lainnya akan terpengaruh. Berikut ini adalah tips sederhana yang insya Allah dapat membantu anda untuk khusyu’ dalam shalat… akan tetapi kuncinya ialah konsentrasi, konsentrasi, dan konsentrasi… Tips ini takkan berguna jika sedari awal anda tidak konsentrasi pada shalat.

Karenanya, usahakan agar sebelum shalat anda dalam kondisi tenang. Lebih baik jika Anda telah berada di mesjid atau mushalla anda sebelum adzan berkumandang, agar memiliki waktu luang untuk konsentrasi dan menenangkan pikiran, baru kemudian ikuti tips di bawah.

Tahukah Anda, bahwa setiap gerakan dan ucapan dalam shalat memiliki makna dan jawaban tertentu?

Tidak tahu…? Kalau begitu perhatikan tips berikut dengan baik…

Melepas alas kaki: lepaslah dunia beserta alas kaki anda.

Ucapan Allahu Akbar: Tidak ada yang lebih besar dari Allah, camkan itu!

Mengangkat kedua tangan: lemparkan segala urusan dunia ke belakang.

Berdiri: ketahuilah, bahwa Anda sedang berdiri menghadap Allah.

Tangan kanan di atas tangan kiri: Berlaku sopanlah di hadapan Allah.

Al Fatihah: Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah mengatakan: Aku membagi shalat untuk-Ku dan hamba-Ku dalam dua bagian, dan hamba-Ku akan mendapat apa yang dimintanya. Jika hamba-Ku mengucapkan: Alhamdulillahi rabbil ‘alamien (segala puji bagi Allah penguasa jagat raya), Ku-jawab: “hamidani ‘abdi” (hamba-Ku memuji-Ku).

Jika hamba-Ku megatakan: “Arrahmanirrahim” (Yang Maha pengasih lagi penyayang), Ku-jawab: “Atsna ‘alayya ‘abdi” (hamba-Ku memujiku lagi).

Jika hamba-Ku mengatakan: “Maaliki yaumiddien” (Penguasa di hari pembalasan), Ku-jawab: “Majjadani ‘abdi” (hamba-Ku menyanjung-Ku).

Jika hamba-Ku mengatakan: “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’ien” (hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong). Ku-jawab: Inilah batas antara Aku dan hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta…

Jika hamba-Ku mengatakan: “Ihdinassiraatal mustaqiem… dst” (tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Kau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat), Ku-jawab: Inilah bagian hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta (HR. Muslim).

Mulai sekarang, biasakan tiap kali membaca Al Fatihah bersikaplah seakan Anda mendengar jawaban Allah pada tiap ayatnya…

Ruku’: Bungkukkan punggung Anda untuk Allah saja, dan tundukkan hati Anda bersamanya.

Berdiri dari ruku’: Segala puji bagi Allah yang menjadikan punggung Anda tegak kembali.

Sujud: letakkan bagian tubuh Anda yang paling terhormat –yaitu wajah- pada tempat yang paling rendah di bumi –yaitu tanah-. Ingatlah bahwa Anda berasal darinya, dan Anda akan kembali ke sana. Lalu katakan “Subhaana Rabbiyal a’la” (Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi) 3x, agar makna tersebut semakin meresap dalam hati, lalu berdoalah sesuka Anda.

Duduk lalu sujud yang kedua: bersimpuhlah di hadapan Allah, dan sujudlah kembali, sebab sujud tidak cukup hanya sekali !

Tasyahhud: Attahiyyaatu lillaah wasshalawaatu wat thayyibaat (Salam sejahtera, shalawat, dan segala yang baik adalah milik Allah)… rasakan keagungan Allah ketika itu !

Assalaamu ‘alaika Ayyuhannabiyyu (salam sejahtera atasmu wahai Nabi)… ucapkan salam atas Nabi dan yakinlah bahwa Nabi membalas salam Anda. Nabi bersabda: (ما من عبد يصلى ويسلم علي إلا رد الله علي روحي فارد السلام) artinya: “Tidak ada seorang hamba pun yang mengucapkan salam dan shalawat atasku, melainkan Allah kembalikan ruhku agar aku membalas salamnya”.

‘Assalaamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibaadillaahisshaalihien (Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih)… sekarang kedudukanmu mulai terangkat, salamilah dirimu dan kau perlu bersahabat dengan orang-orang shalih.

‘Asyhadu allaa ilaaha illallaah’ (Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah)…yakinlah bahwa Allah ada meski engkau tak melihat-Nya.

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim (Ya Allah limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Kau limpahkan atas Ibrahim dan keluarga Ibrahim)…Teladanilah kedua Nabi yang mulia ini, karena keduanyalah suri teladan terbaik. Dan berterima kasihlah kepada mereka yang telah mengajarkan kebaikan untukmu, dengan mendoakan mereka dalam shalatmu.

Salam ke kanan: tujukan kepada malaikat pencatat kebaikan…

Salam ke kiri: ucapkan dalam hati “Hai Malaikat di sebelah kiri, aku telah bertaubat !”.

— Penutup Shalat —

Istighfar 3x: Aku mohon ampun atas segala kekurangan yang terjadi dalam shalatku.

Bacalah: ‘Allahumma antassalaam waminkassalaam tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam’ (Ya Allah, engkaulah As Salaam, dan dari-Mu lah keselamatan. Maha berkah Engkau wahai Yang memiliki segala kemuliaan)… ingatlah bahwa kalimat ini akan Anda ucapkan kepada Allah di Surga, tatkala Dia menyingkap tabir-Nya… Allah akan menyeru Anda dengan mengatakan: “Wahai Ahli Surga, Salaamun ‘alaikum”, maka mereka menjawab: “Allahumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikraam”.

Lalu bacalah: “Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik” (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu)…agar shalat anda yang berikutnya juga sempurna.

Cobalah tips di atas, dan buktikan kemanjurannya karena saya sendiri telah mencobanya ! Semoga bermanfaat…

sumber : http://basweidan.wordpress.com/

Batas Akhir Shalat Isya 21 Mei 2011

Posted by jihadsabili in fatwa, fiqih, shalat.
add a comment

Kepada Ustadz atau Ustadzah majalah Syariah semoga Allah selalu merahmati dan tetap istiqamah. Ana ada sedikit pertanyaan yang ana kurang mengerti dan pahami karena sedikitnya ilmu yang ana punyai.

Pertanyaannya, sebenarnya batas akhir shalat Isya itu kapan sih, karena sering ana lihat teman ana shalat Isya sampai jam 03.00 pagi bahkan sudah mendekati fajar?

Demikian pertanyaan dari ana. Jazakumullah khairan katsira
isty_01@…com

Dijawab oleh:
Al Ustadz Luqman Baabduh

Para ulama berbeda pendapat tentang batasan akhir shalat Isya’:
o Pendapat pertama, batas akhir waktu shalat Isya adalah sampai dengan seperempat malam yang pertama;
o Pendapat kedua, batas akhir waktu shalat Isya adalah sampai dengan sepertiga malam yang pertama;
o Pendapat ketiga, batas akhir waktu shalat Isya adalah sampai dengan pertengahan malam;
o Pendapat keempat, batas akhir waktu shalat Isya adalah sampai terbit fajar yang kedua.

Dari sekian pendapat ini, yang paling rajih (kuat) insya Allah adalah pendapat ketiga, yaitu pendapat yang menyatakan bahwa batas akhir waktu shalat Isya adalah hingga pertengahan malam. Hal ini didasarkan pada hadits Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, yang diriwayatkan Al Imam Muslim, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“… dan akhir dari waktu shalat Isya adalah sampai dengan pertengahan malam.” (HR. Muslim no.172)

Apa yang terkandung dalam hadits ini tidaklah bertentangan dengan hadits Ibnu ‘Abbas, sebagaimana yang diriwayatkan At Tirmidzi dan Abi Daawud, bahwa Rasulullah  bersabda :

“Dan akhir dari waktu shalat Isya adalah setelah mencapai sepertiga malam (yang pertama).” (HR Abu Tirmidzi dan Abu Dawud)

Hal ini dikarenakan sepertiga malam yang pertama, masih merupakan bagian dari setengah malam yang disebutkan dalam hadits Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, sebagaimana telah disebutkan oleh Al Imam As Syaukaani t dalam kitabnya Ad Daroori Al Mudhiiah, jilid I hal. 175-176.

Adapun tentang pendapat yang menyatakan bahwa batasan akhir waktu shalat Isya sampai terbitnya fajar kedua, maka telah berkata Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar t dalam Fathul Baari jilid II hal. 244: Aku tidak mendapatkan adanya satu hadits pun yang jelas dan shahih, yang menjelaskan bahwa waktu akhir shalat Isya adalah sampai terbitnya fajar kedua.

Begitu pula Al Imam Al Bukhari t telah menyebutkan dalam shahihnya; Baab Waqtil ‘Isyaa’i ilaa Nishfil Laili  yaitu bab yang menjelaskan tentang waktu akhir shalat Isya, bahwasanya waktu akhir shalat Isya adalah sampai pertengahan malam.

Untuk lebih lengkapnya mengenai bantahan atas pendapat yang menyatakan bahwa waktu Isya berlanjut hingga terbit fajar kedua, maka dapat dilihat dalam Kitab Tamaamul Minnah hal. 141-142 yang ditulis As Syaikh Al Albani.
Wallahu a’lamu bisshawaab.

Sumber : Asy Syari’ah

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.