jump to navigation

Doa Penawar Rasa Pesimis dan Merasa Sial 16 Juni 2011

Posted by jihadsabili in Doa.
add a comment

Doa Penawar Rasa Pesimis dan Merasa Sial

اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Allaahumma Laa Khaira Illaa Khairuka, wa Laa Thaira Illaa Thairuka, wa Laa Ilaaha Ghairuka

“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu (yang telah Engkau tetapkan), dan tidak ada tuhan selain Engkau.” (Hadits shahih, riwayat Ahmad)

Dasar Hadits

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

Siapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Lalu para sahabat bertanya, “Apa tebusan bagi hal itu?” Beliau bersabda, “Hendaknya salah seorang mereka membaca,

اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu (yang telah Engkau tetapkan), dan tidak ada tuhan selain Engkau.” (HR. Ahmad: 2/220, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma. Dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Ta’liq Musnad Ahmad no. 7045)

Apa itu Thiyarah?

Istilah Thiyarah atau Tathayyur berasal dari kata thair (burung). Karena bangsa Arab dahulu terbiasa meramal keberuntungan dan kesialan melalui burung dengan cara melepas burung. Jika ia terbang ke kanan, maka mereka bersemangat melanjutkan perjalan dan optimis mendapatkan kebaikan. Sebaliknya, jika terbang ke kiri, mereka menganggap akan datang kesialan dan sehingga mengagalkan rencananya.

Thiyarah atau tathayyur adalah anggapan sial karena melihat atau mendengar sesuatu, ataupun karena sesuatu yang sudah maklum, seperti menikahkan pada bulan Suro akan mendatangkan kesialan dan semisalnya. Dalam pengertian istilah ini, tathayur tidak hanya dengan isyarat burung saja.

Thiyarah atau tathayyur adalah anggapan sial karena melihat atau mendengar sesuatu, ataupun karena sesuatu yang sudah maklum, seperti menikahkan pada bulan Suro akan mendatangkan kesialan. . .

Thiyarah termasuk adat jahiliyah. Mereka menyandarkan nasib baik dan buruk kepada burung, kijang atau objek tathayyur lainnya. Sehingga mereka memutus rasa tawakkalnya kepada Allah Ta’ala dan bersandar kepada selain-Nya. Ini merupakan kesyirikan yang mengurangi kesempurnaan tauhid. Kemudian syariat yang hanif ini membatalkannya. Syariat mengingkari semua bentuk tathayyur dan pengaruhnya dalam mendatangkan kebaikan dan keburukan bagi seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menegaskan berulang kali dalam hadits-haditsnya yang meniadakan pengaruh thiyarah, “Tidak ada thiyarah.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk jannah tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diobati dengan cara Kay, tidak meminta diruqyah, dan tidak bertathayyur. Sedangkan hanya kepada Allah-lah mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas)

Bahkan dalam hadits dari Ibnu Mas’ud secara marfu’, bahwa thiyarah bagian dari kesyirikan,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik –sebanyak tiga kali-.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 429)

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

Siapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad)

Fungsi dan Manfaat Doa

Dalam kehidupan kita banyak keyakinan-keyakinan batil yang tersebar di masyarakat. Misalnya, ketika seorang muslim merencanakan safar, lalu sebelum berangkat ada burung gagak yang terbang dan suaranya yang berkoar-koar. Kemudian dia merasa akan datang musibah dan kesialan, sehingga dia menggagalkan rencananya atau tetap menjalankan rencananya dengan penuh kekhawatiran.

Merasa sial karena mendengar suara burung gagak di atas disebut tathayur (merasa sial/pesimis). Dan ini berlaku terhadap semua benda atau suara yang dijadikan sebagai objek tathayyur, misalnya melihat seorang buta ketika akan berdagang yang lalu muncul anggapan akan merugi dan semisalnya.

Keyakinan semacam ini termasuk perbuatan syirik yang menghilangkan kesempurnaan tauhid. Karena seseorang yang bertathayur telah memutus rasa tawakkalnya kepada Allah dan bersandar kepada selainnya. Juga, orang yang bertathayyur bergantung kepada sesuatu yang tidak jelas, bahkan hanya angan-angan dan hayalan yang tidak memiliki kaitan antara sebab dan akibat, baik langsung atau tidak. Orang yang berkeyakinan seperti ini, telah menciderai tauhidnya, karena tauhid adalah ibadah dan isti’anah (meminta pertolongan) kepada Allah semata. Sedangkan orang yang bertathayur akan mengagalkan rencananya tadi karena thiyarah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

Siapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad)

Dikabarkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa perasaan thiyarah (merasa sial/pesimis karena melihat atau mendengar sesuatu) sering hadir pada diri kita, tak seorangpun dari kita yang kecuali pernah terbersit thatayyur dalam hatinya. Bagi orang yang lemah iman, maka dia akan menggagalkan rencana dan hajatnya tersebut. Atau yang lebih ringan, dia tetap menjalankan tapi dengan dihantui rasa takut, khawati, dan was-was.

TATHAYYUR termasuk perbuatan syirik yang menghilangkan kesempurnaan tauhid.

Karena seseorang yang bertathayur telah memutus rasa tawakkalnya kepada Allah dan bersandar kepada selainnya.

Sedangkan cara untuk mengatasi rasa pesimis dan merasa sial tadi adalah dengan bertawakkal kepada Allah dengan tetap menjalankan rencana baiknya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

Dan tidaklah salah seorang kita kecuali (terbersit thatayyur dalam hatinya) tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.” (HR. Abu Dawud dan lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 429)

Dan salah satu cara untuk menangkal thatayyur –sebagaimana yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah- dengan membaca doa di atas yang berisi tawakkal kepada Allah dan berharap kebaikan dari-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Lalu para sahabat bertanya, “Apa tebusan bagi hal itu?” Beliau bersabda, “Hendaknya salah seorang mereka membaca,

اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu (yang telah Engkau tetapkan), dan tidak ada tuhan selain Engkau.” (HR. Ahmad: 2/220, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma. Dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Ta’liq Musnad Ahmad no. 7045)

cara untuk mengatasi rasa pesimis dan merasa sial karen tathayyur  adalah dengan bertawakkal kepada Allah dengan tetap menjalankan rencana baiknya dan berdoa dengan doa di atas.

Kandungan Doa

1. Doa di atas mengajarkan agar hati senantiasa bergantung kepada Allah dalam meraih manfaat dan menolak keburukan. Dan inilah tauhid yang sebenarnya. Jika demikan, maka thiyarah yang terbersit dalam hati seorang hamba tidak membahayakannya. Hal itu karena dia tidak mempercayainya sehingga tetap melaksanakan rencana/niat baiknya sambil menguatkan tawakkalnya kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya, salah satunya dengan membaca doa di atas.

Sesunguhnya thiyarah bisa menyebabkan kerugian dan yang dikhawatirkan benar terjadi karena persangka buruknya. Hal itu diakibatkan karena tidak murni dan tidak benar tawakkalnya kepada Allah, dan karena menuruti bisikan-bisikan syetan.

2. Bahwa Allah semata yang mendatangkan kebaikan bagi hamba dengan iradah (keinginan) dan masyi’ah (kehendak)-Nya. Begitu juga Allah semata yang kuasa menangkal keburukan dan kesialan dari hamba dengan kuasa dan kebaikan-Nya. Karena tidak ada kebaikan kecuali itu berasal dari-Nya.

3.Jika ada keburukan yang menimpa hamba, maka hakikatnya keburukan itu berasal dari-Nya, hanya saja itu disebabkan oleh tingkah laku dan kemaksiatannya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. Al-Nisa’: 79)

4. Doa di atas mengajarkan bahwa semua kebaikan ada di tangan Allah sehingga hanya kepada-Nya kita meminta dan bertawakkal.

[PurWD/voa-islam.com]

Oleh: Badrul Tamam

Doa, Proposal Pengubah Jalan Hidup Manusia 28 Mei 2011

Posted by jihadsabili in Doa.
add a comment

Doa, Proposal Pengubah Jalan Hidup Manusia

Manusia hidup dalam keterbatasan. Hal inilah yang kemudian mengilhami mereka untuk menciptakan pernyataan bahwa “tidak ada manusia yang sempurna”. Dalam keterpurukan hidup dan kesempitan hati, sering kali mereka akhirnya sampai pada di titik nadir dan bernafas dalam pasrah.

Kesempatan inilah yang  kemudian mengilhami manusia untuk sekejap menengadahkan tangan memohon kepada yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Semua terukir indah dalam lantunan doa yang dipanjatkan, dengan harapan bahwa kesulitan dapat terangkat dan beban hidup dapat berkurang.

Disinilah pula terletak pembuktian nyata betapa Allah sangat mengasihi dan Maha Kuasa atas para hambanya. Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan pernah repot ataupun menolak segala keluh kesah mereka. Bahkan Allah Sang Maha Pengasih pun marah ketika manusia tidak meminta.

Doa yang kita panjatkan adalah bentuk nyata pengakuan dengan rendah hati bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Maha Penguasa Langit dan bumi. Permohonan yang kita sampaikan tersebut bukan lantas menjadikan kita manusia yang rendah. Yang terjadi justru sebaliknya, doa menghapus jarak hati manusia yang jauh dengan penciptanya.

…Doa yang kita panjatkan adalah bentuk nyata pengakuan dengan rendah hati bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Maha Penguasa Langit dan bumi…

Doa adalah pengakuan atas dosa yang sungguh-sungguh serta sebuah permohonan bagi pengampunan untuk diri yang berdosa. Lewat doa, bagi para manusia yang percaya,mereka akan kembali mendapatkan nafas hidupnya. Jelasnya, tanpa doa batin hidup manusia mungkin telah mengalami kematian.

Doa adalah pengakuan bahwa kita memerlukan pertolongan di luar batas kemampuan kita sendiri. Seseorang yang membentuk karakter dalam gaya hidup orang beriman, tentulah akan merajinkan dirinya untuk selalu lekat dalam permohonan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Doa juga merupakan jembatan pernyataan terima kasih dan syukur kita kepada Sang Maha Pencipta, atas apapun yang dianugrahkan kepada kita, baik kesenangan ataupun kesedihan.

…Doa ibarat sebuah proposal tentang beberapa perubahan jalan hidup kita selanjutnya. Tentunya menuju yang lebih indah. Karena itu doa menjadi tidak saja sekedar sebuah seremoni ritual, tetapi juga merupakan bentuk kesadaran manusia, bahwa manusia membutuhkan yang Maha sempurna untuk membantu mengubah hidup mereka menjadi lebih baik…

Benar adanya bila kita berpendapat bahwa memang tidak ada yang kebetulan dalam dunia ini.  Setiap detik atas kesenangan dan kesedihan sudah digariskan. Dan lewat doa, kita seperti mengajukan sebuah proposal tentang beberapa perubahan jalan takdir kita selanjutnya. Tentunya menuju yang lebih indah. Doa adalah ibarat sebuah proposal di mana kita membeberkan apa kebutuhan dan latar belakang kita mengajukan permohonan itu, lengkap dengan tujuan, sasaran apa yang kita inginkan, kapan kita ingin mencapainya, dan metodologi atau proses apa yang akan kita lakukan dalam merealisasikan semua itu.

Semuanya secara rinci kita “tuliskan” dalam proposal tersebut. Dan akhirnya … doa, tidak saja sekedar sebuah seremoni ritual, tetapi juga merupakan bentuk kesadaran kita sebagai manusia, bahwa ternyata dalam melakukan berbagai pekerjaan yang kita rencanakan, kita membutuhkan yang Maha sempurna untuk membantu kita.

Namun berdoa bukanlah sebuah bentuk pekerjaan pasif di mana kita menunggu dari Allah subhanahu Wata’ala tentang apa yang kita harapkan. Tetapi berdoa adalah perbuatan aktif di mana kita memberi laporan tentang diri kita kepada Nya.

Banyak orang lantas berpikir, mengapa saya sudah rajin meminta dan berdoa namun belum kunjung dikabulkan?

Pernahkah kita mengadakan kilas balik kualitas diri kita dalam berdoa?. Doa setiap hamba kepada Sang Khaliq akan selalu dikabulkan namun tergantung pada kualitas hambanya yang berdoa. Doa yang masih tertunda untuk terkabul mungkin adalah salah satu peringatan Allah kepada kita untuk memperbaiki kualitas diri dan ketaqwaanNya kepada Allah.

Pernahkah juga kita meneliti kembali ketaqwaan kita dalam berdoa?. Setiap orang yang berdoa agar doa dikabulkan hendaknya meningkatkan keimanan dan ketaqwaanNya, sehingga Allah memandang memang sepantasnya lah doa itu dikabulkan. Seperti seorang ibu yang mendoakan agar anaknya menjadi orang yang sholeh, namun si ibu tersebut menghabiskan waktu hidupnya untuk larut dalam pekerjaan duniawi saja, dan melupakan kewajibannya untuk mendidik anaknya tentang Islam. Maka agar mendapatkan anak yang sholeh, seperti permohonan dalam doa, dirinya wajib untuk meningkatkan kualitas ketaqwaannya.

…Yakinlah, ketika kita mencari Allah Subhanahu Wata’ala lewat khusuknya lantunan doa, kita pasti akan menemukanNya, kecuali jika kita tidak bersungguh- sungguh dalam menemukannya….

Pernahkah pula kita mengkaji ulang amal Kebaikan kita sebelum kita meminta hal itu dalam doa? Janji Allah Subhanahu Wata’ala untuk mengabulkan doa kita adalah nyata adanya, namun hal itu tentu saja berlaku jika kita memang telah pantas menerima nilai yang seharusnya kita terima. Lakukanlah dengan nyata kontribusi amal yang lebih besar daripada yang kita inginkan dalam doa. Amal kebaikan yang telah kita lakukan adalah salahsatu faktor penyebab dikabulkannya sebuah doa.

Berdoalah dengan sebenar- benarnya. Dan lupakanlah bahwa kita berdoa hanya untuk membuat telinga orang lain terkesan.  Sampaikan permohonan doa dengan tulus, dan ikhlas. Yakinlah, ketika kita mencari Allah lewat khusuknya doa, kita pasti akan menemukanNya, kecuali jika kita tidak bersungguh- sungguh dalam menemukannya….

mengusap tangan setelah berdoa 14 Mei 2011

Posted by jihadsabili in Doa, fatwa, fiqih.
add a comment

Tanya:

Bagaimana hukumnya mengusap muka setelah berdoa sehabis sholat fardhu? (081321401XXX)

Jawab:

Banyak orang yang mengusap muka mereka setelah melakukan sholat ataupun berdo’a. Namun benarkah amalan itu pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya?

Memang kita dapati banyak riwayat yang menjelaskan tentang mengusap muka dengan kedua telapak tangan setelah berdoa, namun riwayat-riwayat tersebut tidak ada satupun yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berikut ini beberapa riwayat tersebut:

Hadits Pertama:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

“Dari Umar bin Khattab Radliyallahu ’anhu ia berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mengangkat kedua tangannya untuk berdo’a, tidaklah menurunkannya kecuali beliau mengusapkannya terlebih dahulu ke mukanya.”
Hadits ini lemah.

Diriwayatkan oleh At Tirmidzi (2/244), Ibnu ‘Asakir (7/12/2). Dengan sanad Hammaad ibn ‘Isa al-Juhani dari Hanzalah ibn Abi Sufyaan al-Jamhi dari Salim ibn ‘Abdullah dari bapaknya dari ‘Umar ibn al-Khatthab.
At Tirmidzi berkata : “Hadits ini gharib, kami hanya mendapatkannya dari Hammad ibn ‘Isa Al Juhani. Dan dia menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini. Dia hanya mempunyai (meriwayatkan) beberapa hadits saja, tapi orang-orang meriwayatkan darinya.”
Al Hafidh Ibnu Hajar di dalam At Taqrib At Tahdzib, menjelaskan tentang riwayat hidupnya, menukil penilaian Ibnu Ma’in berkata: ‘Dia adalah Syaikh yang baik’, Abu Hatim berkata: ‘Lemah didalam (meriwayatkan) hadits’, Abu Dawud berkata: ‘Lemah, dia meriwayatkan hadits-hadits munkar’.
Hal senada dikatakan oleh Hakim, Naqash, Ad Daraquthni dan Ibnu Hibban. (Lihat Irwaul Ghalil 2/178)

Hadits Kedua:

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ

“Dari Said bin Yazid dari bapaknya bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berdo’a dan mengangkat kedua tangannya, maka beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya tersebut.”

Hadits ini Dha’if (lemah).

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1492) dari Ibnu Lahi’ah dari Hafsh bin Hisyam bin ‘Utbah bin Abi Waqqash dari Sa’ib bin Yazid dari ayahnya.
Ini adalah hadits dha’if berdasarkan pada Hafsh bin Hisyam karena dia tidak dikenal (majhul) dan lemahnya Ibnu Lahi’ah (Taqribut Tahdzib). (Lihat Irwaul Ghalil 2/179)

Hadits Ketiga

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ وَلَا تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ

“Dari Ibnu Abbas. Ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika engkau berdo’a kepada Allah, mohonlah dengan kedua telapakmu yang bagian dalam, janganlah engkau memohon dengan punggung kedua telapak tangan. Dan jika engkau sudah selesai (berdo’a) maka usapkan kedua (telapak tangan) tersebut kewajahmu”.

Hadits ini lemah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1181, 3866), Ibnu Nashr dalam Qiyaamul-Lail (hal. 137),Ath Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir (3/98/1) & Hakim (1/536), dari Shalih ibn Hassan dari Muhammad ibn Ka’b dari Ibnu ‘Abbas radiallaahu ‘anhu (marfu’). (Lihat Irwaul Ghahlil 2/179)

Hadits Keempat

سَلُوا اللَّهَ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلَا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا فَإِذَا فَرَغْتُمْ فَامْسَحُوا بِهَا وُجُوهَكُمْ

“Mohonlah kalian kepada Allah dengan kedua telapakmu yang bagian dalam, janganlah kalian memohon kepada-Nya dengan punggung kedua telapak tangan. Dan jika kalian sudah selesai (berdo’a) maka usapkan kedua (telapak tangan) tersebut kewajah kalian”.

Hadits ini Lemah.

Dilemahkan oleh Imam Nawawi (lihat Nazlul Abrar : 36), Al Baghawi dalam Syarah Sunnah 5/203, AL Bushiri dalam Az-Zawaid  (Misbahuz Zujajah) 1/141, Syeikh Albani dalam As-Shahihah 2/146 dan Syaikh Bakar Abu Zaid dalam Mashul Wajhi 9-21.

Inilah beberapa riwayat tentang mengusap wajah setelah berdoa, yang kesemuanya tidak shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh karenanya riwayat-riwayat tersebut tidak dapat dijadikan sebagai hujjah dalam masalah ini.

Justru kita dapatkan pengingkaran dari para ulama salaf tentang mengusap wajah setelah berdoa ini diantaranya:

  1. Imam Anas Bin Malik.

Imam AL Maruzi mengatakan dalam Kitabul Witri hal : 236 : “Imam Malik bin Anas Rahimahullah ditanya tentang seorang laki-laki yang mengusapkan kedua telapak tangannya kewajahnya setelah berdoa. Lalu beliau mengingkarinya seraya berkata: “Aku tidak tahu (sunnahnya).”

  1. Abdullah bin Mubarak.

Imam Baihaqi (2/212) meriwayatkan dari Al Basyani ia berkata: “Aku bertanya kepada Abdullah yakni Ibnu Mubarak tentang orang yang berdoa kemudian mengusap wajahnya, beliau menjawab : “Aku tidak mendapati pijakan (dalil) yang kuat tentang persoalan itu.”

  1. Imam Izz bin Abdussalam.

Imam Al Munawi dalam Faidhul Qadir 1/369 mengatakan: Imam Izz bin Abdussalam berkata: “Tidaklah mengusap wajahnya kecuali orang yang jahil.”

  1. Imam An Nawawi.

Dalam Kitab beliau al Majmu’ sebagaimana dinukil oleh Ibnu Allan dalam Syarah Al Adzkar2/311, beliau mengatakan: “Tidak disunnahkan mengusap (wajah) setelah berdoa diluar sholat.”

  1. Imam Ibnu Taimiyah.

Di dalam Majmu’ Fatawa (22/519) beliau mengatakan: “Banyak hadits-hadits yang shahih yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangan beliau dalam berdoa. Sedangkan tentang mengusap wajah dengan kedua tangan beliau (setelah berdoa) tidak banyak riwayat dari beliau kecuali satu atau dua riwayat saja, dan kedua riwayat itupun tidak bisa dijadikan sebagai hujjah (lantaran periwayatannya yang lemah). Wallahu A’lam.”

Oleh karenanya pendapat yang paling kuat adalah tidak disyari’atkannya mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa, baik itu dalam sholat seperti ketika membaca doa qunut maupun diluar sholat saat seseorang berdoa memohon kepada Allah Ta’ala. (Lihat kitab Juz Fi Mashil Wajhi Bil Yadaini ba’da Raf’ihima liddu’a, Syeikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid)

Waktu Mustajabah 11 Mei 2011

Posted by jihadsabili in Doa.
add a comment

Waktu Mustajabah

Abu Muawiah

06 Shafar

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
“Keadaan dimana seorang hamba menjadi paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, karenanya perbanyaklah doa (ketika sujud).” (HR. Muslim: 1/350)
Dari Anas bin Malik -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ
“Doa di antara azan dan iqamah tidak akan ditolak.” (HR. At-Tirmizi: 1/415 dan 5/577, Abu Daud: 1/144. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Irwa` Al-Ghalil: 1/261 no. 244, dan Shahih Al-Jami’: 3/150)
Dari Sahl bin Sa’ad -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
ثِنْتَانِ لَا تُرَدَّانِ أَوْ قَلَّمَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَعِنْدَ الْبَأْسِ حِينَ يُلْحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا
“Dua doa yang tidak akan ditolak atau jarang sekali ditolak: Doa ketika azan dan doa ketika terjadi peperangan tatkala mereka sudah saling menyerang.” (HR. Abu Daud: 3/21 dan Ad-Darimi: 1/217. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud: 2/483)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
“Rabb kita -Tabaraka wa Ta’ala- turun setiap malam ke langit dunia ketika sudah tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya, siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya.” (HR. Al-Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)
Dari Jabir -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku mendengar Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ
“Sesungguhnya di malam hari ada satu waktu, dimana tidak ada seorang muslimpun yang meminta kebaikan kepada Allah ada waktu itu -baik kebaikan dunia maupun akhirat-, kecuali Allah akan memenuhi permintaannya, dan satu waktu itu ada pada setiap malam.” (HR. Muslim: 1/521)

Penjelasan ringkas:
Pada dasarnya, kapanpun seorang berdoa kepada Allah -dengan memenuhi semua adab dan syaratnya serta tidak ada sesuatu yang menghalanginya-, maka pasti doanya akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Hanya saja ada beberapa waktu yang ditunjukkan oleh nash-nash syara’ bahwa berdoa pada waktu-waktu tersebut lebih berpotensi untuk dikabulkan dibandingkan selainnya.
Di antara waktu-waktu itu -sebagaimana yang tersebut dalam dalil-dalil di atas- adalah:
1.    Saat sujud, baik di dalam maupun di luar shalat, baik sujud tilawah, sujud sahwi, dan sujud apa saja yang dilakukan untuk Allah Ta’ala.
2.    Di antara azan dan iqamah pada semua shalat yang disyariatkan padanya azan dan iqamah. Baik dia azan pada waktunya maupun azannya terundur dari waktu masuknya shalat.
3.    Ketika pasukan kaum muslimin sudah berhadapan dengan pasukan musuh dalam jihad fii sabilillah.
4.    Setiap malam pada 1/3 malam terakhir.

Beberapa waktu lain yang belum tersebut di atas:
1.    Satu waktu di hari jum’at.
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- pernah menyebutkan tentang hari jum’at lalu beliau bersabda, “Padanya ada satu waktu dimana tidak ada seorang muslimpun yang sedang berdiri mengerjakan shalat pada waktu itu lalu dia meminta apapun kepada Allah Ta’ala kecuali Allah akan memenuhi permintaannya,” dan beliau berisyarat dengan tangannya untuk menunjukkan sangat sebentarnya waktu itu.” (HR. Al-Bukhari: 1/253 no. 935 dan Muslim: 2/583 no. 852)
Adapun waktu tepatnya maka dia adalah setelah ashar sampai maghrib. Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya pada hari jum’at betul-betul terdapat satu waktu dimana tidaklah seorang muslim meminta kebaikan kepada Allah pada waktu itu kecuali Dia akan memenuhi permintaannya, dan waktu itu setelah ashar.” (HR. Ahmad: 2/272 dan dia didukung oleh hadits setelahnya)
Dari Jabir -radhiallahu anhu- dari Nabi -shallallahu alaihi wasallam- beliau bersabda, “Hari jum’at itu ada 12 waktu, di antaranya ada waktu dimana tidaklah ada seorang muslim yang meminta kebaikan kepada Allah pada waktu itu kecuali Allah akan memenuhi permintaannya, maka carilah waktu itu di waktu terakhir setelah ashar.” (HR. Abu Daud: 1/275 no. 1048 dan An-Nasai: 3/99-100, dan sanadnya hasan)
Ibnu Al-Qayyim -rahimahullahu Ta’ala- dan ulama lainnya menguatkan bahwa waktu yang dimaksudkan pada hari jum’at adalah setelah ashar. (Lihat Zaad Al-Ma’ad: 2/388-397)

2.    Ketika meminum air zam-zam jika disertai dengan niat yang baik.
Dari Jabir -radhiallahu anhu- dari Nabi -shallallahu alaihi wasallam- beliau bersabda, “Air zam-zam itu untuk apa dia diminum.” (HR. Ibnu Majah: 2/1018 dan Ahmad: 3/357,372. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Irwa` Al-Ghalil: 4/320 no. 1123, dalam Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 83, dan selainnya)

3.    Setelah membaca shalawat untuk Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pada tasyahud terakhir.
Dari Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu anhu- dia berkata, “Aku sedang shalat sementara Nabi -shallallahu alaihi wasallam- sedang bersama Abu Bakar dan Umar. Tatkala aku sedang duduk (di dalam shalat), aku mulai memuji Allah kemudian bershalawatt kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian aku berdoa untuk diriku. Maka Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Mintalah maka permintaanmu akan dipenuhi, mintalah maka permintaanmu akan dipenuhi.” (HR. At-Tirmizi: 2/488, An-Nasai, dan Ahmad: 1/26,38. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmizi no. 2765 dan dalam Shahih An-Nasai no. 1217)
Dari Fudhalah -radhiallahu anhu- bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- mendengar seorang lelaki shalat lalu dia mengangungkan Allah dan memuji-Nya serta bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Maka Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Berdoalah kamu maka doamu akan dikabulkan, dan mintalah kamu maka permintaanmu akan dipenuhi.” (HR. An-Nasai: 33/44,45 dan At-Tirmizi: 5/516. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasai: 1/275)

4.    Ketika berdoa pada hari Arafah di padang Arafah bagi jamaah haji.
Dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Doa terbaik adalah yang diucapkan pada hari Arafah, dan ucapan terbaik yang saya dan para nabi sebelumku pernah ucapkan adalah, “Tidak ada sembahan yang hak selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya semua kekuasaan, hanya milik-Nya semua pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu.” (HR. At-Tirmizi dan Malik dalam Al-Muwaththa`: 1/422. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmizi: 3/184)

5.    Ketika ayam berkokok.
Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Jika kalian mendengar ayam berkokok maka mintalah keutamaan dari Allah karena sesungguhnya dia (ayam itu) melihat malaikat, dan jika kalian mendengar suara keledai maka berlindunglah kepada Allah dari setan karena sesungguhnya dia melihat setan.” (HR. Al-Bukhari: 4/89. Diriwayatkan juga oleh Muslim: 4/2092 dari hadits Abu Hurairah )

Pelajaran tambahan dari hadits-hadits di atas:
1. Disunnahkannya memperbanyak sujud, dan memperbanyak doa di dalamnya.
2. Penetapan sifat an-nuzul (turun ke langit dunia) bagi Allah Ta’ala, dengan sifat an-nuzul yang sesuai dengan keagungan-Nya, tidak serupa dengan sifat ‘turun’ makhluk dan tidak boleh membagaimanakannya.
Dan sifat turun di sini tidak bertentangan dengan sifat istiwa` (tinggi) di atas arsy, karena pendapat yang paling kuat di kalangan ulama -dan ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah- bahwa ketika Allah turun ke langit dunia maka arsy-Nya tidaklah kosong.
Jadi, sifat an-nuzul di sini adalah haqiqi, yakin Allah Ta’ala turun dengan Zat-Nya. Berbeda halnya dengan mazhab Al-Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan semacamnya yang menyatakan bahwa yang turun bukanlah Allah, akan tetapi yang turun adalah perintah atau rahmat-Nya. Ini jelas merupakan mazhab yang batil karena tahrif (memalingkan makna) kalam Allah dari maknanya yang haqiqi kepada makna yang tidak ditunjukkan oleh lafazh hadits.
Kami katakan: Bantahan kepada tahrif ini dari dua sisi:
1. Lanjutan haditsnya, “Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya, siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya.” Dan yang bisa mengucapkan ucapan seperti ini hanyalah Allah Ta’ala.
2. Kalau memang yang turun adalah rahmat/perintah Allah, lantas apa manfaatnya buat manusia kalau rahmat dan perintah Allah hanya turun sampai di langit pertama, dan tidak turun ke bumi?!

Sunnah-Sunnah yang Terlupakan (Bagian Pertama) 29 Maret 2011

Posted by jihadsabili in adaB, Doa.
add a comment

Sunnah-Sunnah yang Terlupakan (Bagian Pertama)

Buletin Dakwah Al Wala` Wal Bara’

Tidaklah Islam itu kecuali kumpulan dari sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika semua sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam baik aqidah, ibadah, akhlak, ucapan, perbuatan ataupun ketetapannya dikumpulkan (dilaksanakan) maka akan tergambarlah Islam yang sempurna. Sebaliknya ketika ummat Islam meninggalkan sunnah-sunnah beliau sedikit demi sedikit berarti Islam akan hilang sedikit demi sedikit. Sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah Ad-Dailamiy, “Sesungguhnya pertama kali hilangnya agama (Islam) adalah dengan ditinggalkannya sunnah. Agama ini akan hilang sesunnah demi sesunnah sebagaimana lepasnya tali seutas demi seutas.” (Al-Lalika`iy 1/93 no.127, Ad-Darimiy 1/58 no.97 dan Ibnu Wadhdhah di dalam Al-Bida’ wan Nahyu ‘anha:73, lihat Lammud Duril Mantsuur minal Qaulil Ma`tsuur hal.21)

Karena itulah selayaknya bagi kita ummat Islam menghidupkan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan Islam itu sendiri. Dalam rangka menjaga sunnah agar tetap dikenal dan diamalkan di tengah-tengah masyarakat, yang dengannya Islam tetap eksis.

Walaupun tidak mungkin bagi kita untuk mengamalkan seluruh sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh. Dikarenakan kelemahan yang ada pada diri kita. Akan tetapi yang diharapkan dan dituntut dari kita adalah kesemangatan dan upaya yang kuat untuk melaksanakannya. Meskipun amalan tersebut hukumnya mustahab/tidak wajib, tetap jangan sampai ditinggalkan. Semaksimal mungkin kita berusaha mengamalkannya dengan meminta pertolongan kepada Allah. Karena yang namanya mustahab itu bukan berarti untuk ditinggalkan akan tetapi dianjurkan untuk diamalkan.

Ada beberapa sunnah yang berupa do’a ataupun amalan yang mulai dilupakan oleh sebagian kaum muslimin. Atau terlupakan oleh mereka dikarenakan kesibukan yang terus-menerus membebani mereka. Seolah-olah mereka tidak ada waktu untuk mempelajari sunnah dan mengamalkannya.

Sebenarnya mereka mempunyai waktu untuk itu sebagaimana mereka punya waktu untuk dunia. Akan tetapi permasalahannya adalah kurangnya niat dan semangat mereka untuk mempelajari dan mengamalkan agamanya. Untuk itulah diperlukannya nasehat-menasehati antara yang satu dengan lainnya. Yang ingat mengingatkan kepada yang lalai. Dan yang mengetahui memberitahukan kepada yang tidak mengetahui. Sehingga terbentuklah masyarakat yang Islami.

Di antara sunnah-sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah adalah berdo’a. Di dalam berbagai kegiatan yang kita lakukan, disunnahkan bagi kita untuk membaca do’a/dzikir padanya. Di antaranya adalah:

1. Do’a Memakai Baju/Pakaian
Kaum muslimin, rahimakumullaah. Hendaklah setiap kali kita memakai baju, baik gamis, baju koko, jaket, kaos ataupun jenis baju lainnya, kita membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا (الثَّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ

“Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan kepadaku pakaian ini dan yang telah memberikan rizki pakaian ini kepadaku tanpa ada daya dan kekuatan dariku.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidziy dan Ibnu Majah, lihat Irwaa`ul Ghaliil 7/47)

2. Do’a Memakai Baju Baru
Ketika kita memakai baju/pakaian yang baru maka disunnahkan untuk membaca:

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

“Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu. Engkau telah memakaikan pakaian ini kepadaku. Aku meminta kepada-Mu akan kebaikannya dan kebaikan yang dibuat untuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang dibuat untuknya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidziy dan Al-Baghawiy, lihat Mukhtashar Syamaa`il At-Tirmidziy karya Asy-Syaikh Al-Albaniy hal.47)

Kita meminta kepada Allah kebaikan pakaian dikarenakan pakaian itu bisa digunakan sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya. Sebaliknya kita meminta perlindungan dari kejelekannya karena pakaian itu bisa menjadi sebab berbuat durhaka kepada-Nya seperti adanya perasaan ‘ujub, sombong dan sejenisnya.

3. Mendo’akan Orang yang Memakai Baju Baru
Apabila kita melihat orang lain, saudara ataupun teman kita memakai baju baru, maka disunnahkan bagi kita untuk mendo’akannya. Adapun do’anya adalah:

تُبْلِي وَيُخْلِفُ اللهُ تَعَالَى

“Semoga berumur panjang, dipakai sampai usang dan diganti dengan yang lebih baik oleh Allah Ta’ala.” (HR. Abu Dawud 4/41, lihat Shahih Abu Dawud 2/760)
Atau membaca:

اِلْبَسْ جَدِيْدًا، وَعِشْ حَمِيْدًا، وَمُتْ شَهِيْدًا

“Pakailah (pakaian) yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah sebagai orang yang syahid.” (HR. Ibnu Majah 2/1178 dan Al-Baghawiy 12/41, lihat Shahih Ibnu Majah 2/275)

4. Do’a ketika Melepas Baju
Apabila kita melepas baju/pakaian, hendaklah kita membaca:

بِسْمِ اللهِ

“Dengan nama Allah.” (HR. At-Tirmidziy 2/505 dan lainnya, lihat Irwaa`ul Ghaliil no.49 dan Shahiihul Jaami’ 3/203)

5. Do’a Masuk WC
Do’a masuk WC atau kamar mandi dan tempat-tempat sejenisnya dibaca sebelum masuk. Karena kita dilarang membaca Al-Qur`an, berdzikir, berdo’a atau membaca Asma`ul Husna di tempat yang kotor dan najis seperti WC.

Apabila kita akan masuk WC atau kamar mandi, maka ucapkanlah:

[بِسْمِ اللهِ] اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Dengan nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (gangguan) syaithan laki-laki dan syaithan perempuan.” (HR. Al-Bukhariy 1/45 dan Muslim 1/283, dan tambahan basmalah di awalnya, itu diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, lihat Fathul Baari 1/244)

6. Do’a Keluar dari WC
Apabila kita telah keluar dari WC atau kamar mandi, maka disunnahkan untuk membaca:

غُفْرَانَكَ

“(Aku memohon) ampunan-Mu.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidziy dan Ibnu Majah, An-Nasa`iy di dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, lihat takhrij Zaadul Ma’aad 2/387)

7. Dzikir Sebelum Wudhu`
Apabila kita mau berwudhu` maka bacalah:

بِسْمِ اللهِ

“Dengan nama Allah.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad, lihat Irwaa`ul Ghaliil 1/122)

8. Dzikir Setelah Selesai Wudhu`
Apabila selesai dari wudhu` maka disunnahkan bagi kita untuk membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satu-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” (HR. Muslim 1/209)

Atau ditambah dengan membaca:

اللَّّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang selalu bersuci.” (HR. At-Tirmidziy 1/78, lihat Shahih At-Tirmidziy 1/18)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaannya, “Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu` lalu menyempurnakan wudhu`nya kemudian mengucapkan, “Aku bersaksi … .” kecuali akan dibukakan untuknya delapan pintu surga, dia akan masuk dari pintu manapun yang dia sukai.” (HR. Muslim 1/209)

9. Dzikir Keluar dari Rumah
Apabila kita keluar dari rumah maka disunnahkan untuk membaca:

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

“Dengan nama Allah, aku hanya bertawakkal kepada Allah. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” (HR. Abu Dawud 4/325 dan At-Tirmidziy 5/490, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/151)

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيْهِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu (jangan sampai) aku tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, berbuat zhalim atau dizhalimi, berbuat kebodohan atau dibodohi.” (HR. Ash-haabus Sunan, lihat Shahih At-Tirmidziy 3/152 dan Shahih Ibnu Majah 2/336)

10. Dzikir Masuk Rumah
Berkata Al-Imam An-Nawawiy, “Disukai bagi seseorang apabila masuk ke rumahnya untuk mengucapkan bismillaah dan memperbanyak berdzikir kepada Allah serta mengucapkan salam. Sama saja, apakah di rumah ada orang ataupun tidak.”
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

“Maka apabila kalian memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini), hendaklah kalian memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada diri kalian sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik.” (An-Nuur:61)

Dan berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “Wahai anakku! Apabila kamu masuk ke keluargamu maka ucapkanlah salam! Yang akan menjadi berkah bagimu dan bagi keluargamu.” (HR. At-Tirmidziy no.2841, hadits hasan dengan syawahidnya, lihat Shahih Kitab Al-Adzkaar wa Dha’iifuh 1/101)

Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila seseorang masuk ke rumahnya, lalu berdzikir kepada Allah (menyebut nama Allah) ketika memasukinya dan ketika makan, maka berkatalah syaithan, “Tidak ada tempat menginap (bermalam) bagi kalian (yakni teman-temannya dari bangsa jin-pent.) dan tidak ada makan malam.” Dan apabila dia masuk (ke rumahnya) lalu tidak menyebut nama Allah ketika memasukinya, maka berkatalah syaithan, “Kalian mendapatkan tempat menginap.” Dan apabila dia tidak menyebut nama Allah ketika makan, maka berkatalah syaithan, “Kalian mendapatkan tempat menginap dan makan malam.” (HR. Muslim no.2018 dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu)

Adapun do’a masuk rumah dengan lafazh, “Bismillaahi Walajnaa wa Billaahi Kharajnaa, … .” maka ini adalah hadits dha’if sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dan Asy-Syaikh Salim. Lihat Shahih Kitab Al-Adzkaar wa Dha’iifuh 1/101-103.

11. Do’a Masuk Masjid
Apabila masuk masjid, maka kita disunnahkan untuk membaca shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta membaca do’a. Bacaannya sebagai berikut:

أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dan dengan Wajah-Nya Yang Maha Mulia serta dengan Kekuasaan-Nya Yang Abadi dari (gangguan) syaithan yang terkutuk.” (HR. Abu Dawud, lihat Shahiihul Jaami’ no.4591)

بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.” (HR. Ibnus Sunniy no.88, Abu Dawud 1/126 dan Muslim 1/494)

12. Do’a Keluar dari Masjid
Apabila keluar dari masjid hendaklah kita mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ، اللَّهُمَّ اعْصِمْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Dengan nama Allah, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu akan karunia-Mu. Ya Allah, peliharalah aku dari (gangguan) syaithan yang terkutuk.” (Lihat keterangan do’a no.11, lafazh do’a terakhir dikeluarkan oleh Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu Majah 1/129)

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu memberikan rahmat dan taufiq-Nya kepada kita semua sehingga bisa mengamalkan apa-apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Aamiin. Wallaahu A’lam.

Maraaji’: Lammud Duril Mantsuur minal Qaulil Ma`tsuur, Hishnul Muslim min Adzkaaril Kitaab was Sunnah karya Asy-Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaniy dan Shahih Kitab Al-Adzkaar wa Dha’iifuhu.

Sumber: Buletin Da’wah Al Wara’ wal Bara’ Edisi ke-8 Tahun ke-4 / 30 Desember 2005 M / 28 Dzul Qo’dah 1426 H. URL sumber: http://fdawj.atspace.org/awwb/th4/8.htm

Doa Pilihan dari Hadis 22 Maret 2011

Posted by jihadsabili in Doa.
add a comment

Doa Pilihan dari Hadis

Doa Mohon Ketetapan Hati Dalam Ketaatan

teks35

Allâhumma musharrifal qulûb(i), sharrif qulûbanâ `alâ thâ`atiK(a).

Ya Allâh, Zat yang membolak-balik hati. Kembalikan hati kami dalam ketaatan-Mu. (HR. Muslim)

 

teks36

Ya muqallibal qulûb(i), tsabbit qalbîy `alâ dîniK(a).

Wahai Zat yang membolak-balik hati. Tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu. (HR. Turmudzi dan Ahmad)

ú  Nabi r selalu memperbanyak doa ini (HR. Turmudzi dan Ahmad)

 

Doa Minta Perlindungan dari Syirik

teks37

Allâhumma ‘innâ na`ûdzu biKa min ‘an ‘isyriKa biKa sya’an na`lamuh(û), wa nastaghfiruka limâ lâ na`lam(u).

Ya Allâh, seseungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami minta ampunan-Mu dari apa yang tidak kami ketahui (HR. Ahmad).

 

Doa Mohon Hidayah dan Kekayaan

teks38

Allâhumma ‘innî ‘as’alukal hudâ wat-tuqâ wal `afâfa wal ghinâ.

Ya Allâh, sungguh aku meminta kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian dan kekayaan. (HR. Muslim)

 

Doa Mohon Banyak Berzikir, Bersyukur dan Taat

teks39

Allâhumma ‘a`innî `alâ dzikrika, wa syukrika, wa husni `ibâdatika

Ya Allâh, tolonglah kami untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.(

 

Doa Mohon Kekuatan Iman dan Menyertai Nabi di Surga

teks40

Allâhumma ‘innî ‘as’aluka ‘îmânan lâ yartadd(u), wa na`îman lâ yanfad(u), wa murâfaqata Muhammadin shallal Lâhu `alyhi wa sallam(a), fî ‘a`lâ jannatil khuld(i).

Ya Allâh, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu iman yang tidak akan lepas, nikmat yang tidak akan habis dan menyertai Nabi Muhammad r  di Surga yang paling tinggi selama-lamanya. (Mauqûf Ibnu Mas`ûd, riwayat Ibnu Hibban)

 

Doa Berlindung Dari Sifat Tercela dan Mohon Kebersihan Hati


Allâhumma ‘innî ‘a`ûdzu bika minal `ajz(i), wal kasal(i), wal jubn(i), wal bukhl(i), wal haram(i) wa `adzâbil qabr(i). Allâhumma ‘âti nafsî taqwâhâ, wa zakkihâ ‘Anta khayru man zakkâha, ‘Anta waliyyuhâ wa mawlâhâ. Allâhumma ‘innî ‘a`ûdzu bika min `ilmin lâ yanfa`, wa min qalbin lâ yakhsyâ`, wa min nafsin lâ tasyba`, wa min da`watin lâ yustajâbu lahâ.

teks41

Ya Allâh, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, kekikiran, pikun, dan azab kubur. Ya Allâh, karuniakanlah ketakwaan pada diriku, dan sucikanlah, Engkaulah sebaik-baik Zat yang menyucikannya, Engkau pelindung dan pemeliharanya. Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusu, nafsu yang tidak pernah puas dan doa yang tidak dikabulkan. (HR. Muslim)

 

Doa Mohon Karunia Ilmu yang Bermanfaat

teks42

Allâhumman fa`nî bimâ `allamtanî, wa `allimnî mâ yanfa`unî, wa zidnî ilmâ(n).

Ya Allâh, berikanlah manfaat kepadaku atas apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah kepadaku apa yang bermanfaat bagiku, serta tambahkanlah ilmu bagiku”(HR.Turmidzi)

 

Doa Mohon Rezeki Baik dan Amal Diterima

teks43

Allâhumma ‘innî ‘as’aluka `ilmân nafî`â(n), wa rizqan thayyibâ(n), wa `amalan mutaqabbalâ(n).

Ya Allâh, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfa’at, rezeki yang baik dan amal yang diterima. (HR. Ibnu Majah)

 

Doa Berlindung Dari Perbuatan Buruk

teks44

Allâhumma ‘innî ‘a`ûdzubika min syarri sam`î, wa min syarri basharî, wa min syarri lisânî, wa min syarri qalbî, wa min syarri maniyyî

Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, kejahatan penglihatanku, keburukan lidahku, keburukan hatiku dan keburukan air maniku. (HR. Abu Dawud danTurmudzi)

 

Doa Minta Dijauhkan dari Semua Sifat Tercela dan Segala Penyakit

teks45

Allâhumma janibnî munkarâtil ‘akhlâq(i), wal ‘ahwâ(i), wal ‘a`mâl(i), wal ‘adwâ(i)

Ya Allâh, jauhkanlah aku dari berbagai kemunkaran akhlak, hawa nafsu, amal perbuatan dan segala macam penyakit. (Hakim)

 

teks46

Allâhumma ‘innî ‘a`ûdzubika min syarri mâ `amiltu, wa min syarri mâ lam ‘a`mal

Ya Allâh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku kerjakan dan dari keburukan apa yang belum aku kerjakan” (HR.Muslim)

 

Doa Pergi Ke Masjid

teks47

Allâhummaj `al fî qalbî nûrâ(n), wa fî lisânî nûrâ(n), waj`al fî sam`î nûrâ(n), waj`al fî basharî nûrâ(n), waj`al min khalfî nûrâ(n), wamin ‘amâmî nûrâ(n), waj`al min fawqî nûrâ(n), wa min tahtî nûrâ(n). Allâhumma ‘a`thinî nûrâ(n).

Ya Allâh ciptakanlah cahaya di hatiku, cahaya di lidahku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya dari belakangku. cahaya dari hadapanku, cahaya dari atasku, dan cahaya dari bawahku. Ya Allâh, berikanlah aku cahaya. (HR. Muslim)

 

Di antara adab Masjid:

  • Saat berangkat ke Masjid dan menunggu shalat dilarang tasybîk (menggenggam kedua tangan dengan memasukkan jemari). Sebab orang yang tersebut dianggap sedang shalat (HR. Abu Dawud)
  • Orang yang berangkat ke Masjid setelah berwudu secara sempurna dan shalat berjamaah diampuni dosanya
  • Berangkat ke Masjid dianjurkan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa (HR. Muslim)
  • Masuk Masjid mendahulukan kaki kanan, dan keluar mendahulukan kaki kiri (HR. Hakim)
  • Shalat Tahiyat Masjid dua rakaat (HR. Bukhari-Muslim)
  • Dianjurkan mengutamakan saf (barisan shalat) pertama (HR. Bukhari-Muslim)
  • Tidak mengangkat suara di Masjid

 

Doa Masuk Masjid

teks48

Allâhummaf tahlî ‘abwâba rahmatiK(a).

Ya Allâh, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku (HR. Muslim)

 

Doa Keluar Dari Masjid

teks49

Allâhumma ‘innî ‘as’aluka min fadhliK(a).

Ya Allâh, aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu (HR. Muslim)

 

Doa Berlindung Dari Kekafiran dan Kemiskinan

teks50

“Ya Allâh, Selamatkan tubuhku (da-ri penyakit dan yang tidak aku inginkan). Ya Allâh, selamatkan pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan). Ya Allâh, selamatkan penglihatanku, tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Eng-kau. Ya Allâh, Sesungguhnya aku berlin-dung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur, tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Engkau.” (Dibaca tiga kali di waktu pagi dan sore).

 

teks51

Allâhumma ‘innî ‘as’alukal `afwa wal `âfiyata fid dunyâ wal ‘âkhirat(i), Allâhumma ‘innî ‘as’alukal `afwa wal `âfiyata fî dînî wa dunyâya wa ‘ahlî wa mâlî, Allâhummah fazhnî min bayni yadayy(a), wa min khalfî, wa `an yamînî, wa `an syimâlî wa min fawqî, wa ‘a`ûdzu bi `azhamatika ‘an ‘ughtâla min tahtî.

Ya Allâh, sungguh aku memohon kepada-Mu kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allâh, sungguh aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allâh, tutupilah keaibanku dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allâh, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu dari bayaha yang datang dari bawahku. (Abu Dawud)

 

teks52

“Ya Allâh, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Rabb yang hak kecuali Engkau. Aku berlin-dung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya, dan aku (berlindung kepadaMu) dari berbuat ke-jelekan terhadap diriku atau menyeret-nya kepada seorang muslim.”

 

teks53

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).”

 

Doa Mohon Ilmu Bermanfaat , Rezeki yang Baik dan Amal yang Diterima

teks54

Allâhumma ‘innî ‘as’aluka `ilman nâfi`â(n), wa rizqan thayyibâ(n), wa `amalan mutaqabbalâ(n).

Ya Allâh, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang manfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.

  • Rasulullah r biasa membacanya seusai shalat Subuh. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).

 

Doa Berlindung dari Kebinasaan dan Kehancuran

teks55

Allâhumma ‘innî ‘a`ûdzubika minat taraddî, wal hadmi, wal gharaqi, wal harîqi , wa ‘a`ûdzubika an yatakhabbathaniyasy syaithânu ‘indal mawti, wa ‘a`ûdzubika ‘an amûta fî sabîlika mudbirâ(n), wa ‘a`ûdzubika ‘an ‘amûta ladîghâ(n).

Ya, Allâh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kebinasaan (jatuh), kehancuran (tertimpa), tenggelam, kebakaran, dan aku berlindung kepada-Mu dari rasukan setan pada saat mati, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan berpaling dari jalan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan tersengat.

 

teks56

Allahumma innii ‘abduka wab nu’abdika wab nu ammatika naashiyatii biyadika maadhin fii hukmuka ‘adlun fiyya qadhaauka as’aluka bukullismin huwa laka sammayta fiihi nafsaka, aw anjaltahu fii kitaabika aw ‘allamtahu ahadan min khalqika aw asta’tsarta bihi fii ‘ilmil ghaibi ‘indaka ‘an taj’alal qur’aana rabii’a qalbii wa nura shadrii wa jilaa’ahujnii wa zhahaaba hammii.

Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa). Ubun-ubunku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadha-Mu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, hendaknya Engkau jadikan Al-Quran sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.”

 

teks57

Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani wa a’uudzubika minal ‘ajzhi wal kasali, a’uudzubika minal jubni wal bukhli a’uudzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijaali.

Ya Allâh, aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan dukacita. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari jiwa pengecut dan rasa kikir. Dan aku berlindung kepada-Mu dari cengkeraman hutang dan penindasan manusia.”

 

teks58

Allâhumma ‘innî ‘a`ûdzu biKa min zawâli ni`matiK(a), wa tahawwuli ni`matiK(a), wa fujâ’ati niqmatiK(a), wa jamî`i sakhathiK(a).

Ya Allâh, sungguh aku kepada-Mu dari kehilangan nikmat-Mu, dari perubahan afiyat-Mu, dari marah-Mu yang tiba-tiba dan dari semua kemarahan-Mu,” (HR Muslim).

 

Doa Safar (Berpergian)

teks59

Allâhu ‘akbar(u), Allâhu ‘akbar(u), Allâhu ‘akbar(u).

Subhânal ladzî sakh-khara lanâ hadzâ wa mâ kunnâ lahû muqrinîn(a), wa ‘innâ ‘ilâ Rabbinâ la munqalibûn(a). (Al Zukhruf: 13-14)

Allâhumma ‘innâ nas’aluka fî safarinâ hadzâl birra wat taqwâ, wa minal `amali mâ tardhâ, Allâhumma hawwin `laynâ safarâ hadzâ, wathwi `annâ bu`dah, Allâhumma ‘antash shâhibu fis safar(i), wa ka’âbatil manzhar(i), wa sû’il munqalabi fil mâli wal ahl(i).

Allâh Mahabesar. Allâh Mahabesar. Allâh Mahabesar.

Mahasuci Allâh yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami. (Az Zukhruf: 13-14)

Ya Allâh, kami mohon kebaikan dan takwa dalam berpergian ini, kami minta perbuatan yang Engkau membuat-Mu rida. Ya Allâh, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan jadikanlah perjalanan yang jauh ini dekat. Ya Allâh, Engkau Teman dalam perjalanan, dan Pengganti bagi keluarga.

 

Doa Pulang dari Safar

Membaca doa di atas kemudian ditambahkan dengan:

teks60

‘Âyibûn(a), tâ’ibûn(a), `âbidûn(a), li Rabbinâ hâmidûn(a)

Kita kembali. Kita bertobat. Kita menyembah-Nya. Kita sujud untuk-Nya. Kita memuji Rabb kita.

 

teks61

Allâhu ‘akbar(u), Allâhu ‘akbar(u), Allâhu ‘akbar(u).

Lâ ‘ilâha ‘illal Lâh wahdahû lâ syarîkalah(u), lahul mulk(u), wa lahul hamd(u), wa huwa `alâ kulli syay’in qadîr, ‘âyibûn(u), tâ’ibûn(a), `abidûn(a), sâjidûn(a), lirabinâ hâmidûn(a), shadaqal Lâhu wa`dah(u), wa nashara `abdah(u), wa hazamal ‘ahzâba wahdah(u).

Allâh Mahabesar. Allâh Mahabesar. Allâh Mahabesar.

Tidak ada Rabb yang benar disembah kecuali Allâh. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan. Bagi-Nya segala pujian. Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Kita kembali. Kita bertobat. Kita menyembah-Nya. Kita sujud untuk-Nya. Kita memuji Rabb kita. Maha Benar Allâh dengan segala janji-Nya. Dia menolong hamba-Nya dan hanya Dia sendiri yang menghancurkan tentara-tentara musuh, (HR Bukhari dan Muslim).

Hukum Do’a Secara Berjamaah setelah shalat 18 Maret 2011

Posted by jihadsabili in Doa, shalat.
add a comment

Dzikir berjama’ah setelah shalat lima waktu, bagaimana hukum hal ini? Amalan semacam ini seringkali kita saksikan di beberapa masjid di daerah kita. Berikut keterangan bermanfaat dari Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan,

Adapun do’a imam bersama makmum setelah shalat lima waktu secara berjama’ah dengan mengeraskan suara atau boleh jadi suaranya tidak dikeraskan, maka ini bukanlah ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diperintahkan dan bukan ajaran yang dirutinkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sama sekali melakukan seperti itu. Sebagian ulama dari kalangan Syafi’iyah dan Hambali memang menganjurkan yang demikian, namun itu hanya di waktu shalat Shubuh dan Ashar karena setelah itu tidak ada lagi shalat.

[Al Majmu’atul ‘Aliyyah min Kutub wa Rosail wa Fatawa Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, Dar Ibnil Jauzi, hal. 134-135]

***

Demikian keterangan singkat beliau. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.”[1]

Imam Malik rahimahullah berkata,

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِىءُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوا فِي قَوْلِي فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوْا بِهِ وَمَا لَمْ يُوَافِقْ االكِتَابَ وَالسُّنَّةّ فَاتْرُكُوْهُ

Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak mencocoki Al Qur’an dan Hadits Nabawi, maka tinggalkanlah.[2]

Wallahu waliyyut taufiq.

Riyadh-KSA, at night after ‘Isya, 9 Shafar 1432 H (13/01/2011)

www.rumaysho.com

Muhammad Abduh Tuasikal


[1] Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih

[2] I’lamul Muwaqi’in, 1/75

Hukum Membaca Al-Quran untuk Arwah 13 Maret 2011

Posted by jihadsabili in Doa, fatwa, kematian.
add a comment

<!–| –>

Hukum Membaca Al-Quran untuk Arwah

Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya mengupah seseorang untuk membaca Al-Quran dan dihadiahkan kepada arwah orang yang mati?

Jawaban:

Hal ini merupakan perbuatan bid’ah, tidak berpahala, baik bagi yang membaca maupun orang yang mati tersebut. Hal ini karena orang yang membaca melakukan sekadar mencari dunia dan harta, sedangkan setiap amal shalih yang dilakukan untuk mencari dunia, bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidak mendapat pahala dari Allah. Dengan demikian, perbuatan seperti ini, yaitu mengupah seseorang untuk membaca Al-Quran guna dihadiahkan kepada arwah orang yang telah mati, adalah perbuatan sia-sia, sekadar menghamburkan uang dan menghabiskan harta yang menjadi hak ahli waris. Oleh karena itu, hendaklah pelakunya meninggalkan perbuatan ini sebab merupakan perbuatan bid’ah dan mungkar. (Syaikh Ibnu Utsaimin, Majmu’ Fatawa wa Rasail, juz 2, hal. 304)

Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, Media Hidayah, Cetakan 1, Tahun 2003.
(Dengan penataan bahasa oleh redaksi http://www.konsultasisyariah.com)

Doa Saat Keluar Dari Rumah 8 Maret 2011

Posted by jihadsabili in adaB, Doa.
add a comment

Doa Saat Keluar Dari Rumah

Oleh: Badrul Tamam

Dalam keseharian kita, aktifitas keluar rumah untuk bekerja, usaha, belajar, ibadah, dan lainnya menjadi rutinitas. Hampir setiap kita melakukannya. Banyak tujuan baik yang kita inginkan saat keluar dari rumah, namun tidak sedikti bahaya yang mengintai kita ketika berada di sana. Berikut ini kami tuliskan dzikir dan doa yang dibaca saat keluar rumah, supaya kegiatan di luar menjadi lebih barakah, mengahasilkan banyak kebaikan dan pahala serta terhindar dari berbagai keburukan.

 

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Bismillaahi Tawakkaltu ‘Alallaah Laa Haula wa Laa Quwwata Illaa Billaah

Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.

Dasar Dzikir

Dzikir/doa di atas diriwayatkan dari Anas bin Malik, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca,

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.

Beliau bersabda, Dikatakan pada saat itu, “Engkau telah diberi petunjuk, dicukupkan, dan dijaga. Maka Syetan menjauh darinya sehingga syetan yang lain berkata kepadanya, “Kaifa laka birajulin? (Apa yang bisa engkau lakukan terhadap seseorang) yang telah diberi petunjuk , telah dicukupkan, dan telah dijaga?” (HR. Abu Dawud no. 4431, al-Tirmidzi no. 3348, Ibnu Hibban no. 823, dan Ibnu Sunni dalam ‘Amal  al-yaum wa al-Lailah, no. 177. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Tirmidzi no. 3426, Al-Misykah no. 2443, juga dalam Al-Kalim al-Thayyib)

Manfaat dan Faidahnya

Dzikir ini penuh dengan kebaikan, keberkahan, dan manfaat yang diinginkan setiap muslim. Karenanya seorang muslim hendaknya senantiasa merutinkan dzikir ini ketika keluar rumah untuk memenuhi hajat duniawi atau ukhrawinya. Seperti pergi ke masjid, ke pasar, bersafar, ke tempat kerja, atau dalam melaksanakan ibadah haji.

Dengan senantiasa merutinkan dzikir ini dan juga dzikir-dzikir lainnya, seorang hamba akan memiliki hubungan yang baik dan erat dengan Rabbnya. Dengan membaca doa ini seorang hamba mengingatkan dirinya akan kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali dari-Nya dan dengan izin-Nya. Bahkan dia meyakini tidak ada kejadian di muka bumi ini kecuali dengan izin dan kehendak-Nya. Sehingga hamba tersebut akan merasa butuh dengan Rabb-nya untuk mendapatkan berbagai kebaikan bagi dirinya, sehingga dia akan selalu bertawakkal kepada-Nya.

Sebagai balasannya, seorang hamba yang membaca dzikir ini akan mendapat penjagaan, pertolongan, dan bimbingan dari Allah dalam menunaikan hajat dunia maupun agamanya. Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik penjaga, penolong dan pemberi petunjuk.

Manfaat lain yang akan diperoleh hamba, dia akan terjaga dari godaan dan gangguan syetan. Syetan akan menjauhinya. Bahkan syetan merasa berputus asa dari menggodanya, sehingga salah satu mereka akan berkata kepada yang lainnya, “(Apa yang bisa engkau lakukan terhadap seseorang) yang telah diberi petunjuk, telah dicukupkan, dan telah dijaga?”

Secara ringkas, bahwa doa ini memiliki manfaat sebagai berikut:

  1. Akan senantiasa mendapat petunjuk ke jalan yang benar. Orang yang bergantung kepada Allah melalui doa ini maka Allah akan senantiasa membimbingnya ke jalan yang benar. Dan barangsiapa yang dibimbing oleh Allah, tidak mungkin ada yang dapat menyesatkannya.
  2. Akan dibantu dalam menjalankan tugas dan hajatnya, baik yang bersifaf duniawi atau ukhrawi. Sehingga dia akan mendapatkan hasil yang baik dan berbarakah.
  3. Akan terlindung dari gangguan musuh dari kalangan jin ataupun menusia.
  4. Orang yang berdzikir dengan doa ini akan memiliki benteng dari syetan sehingga syetan akan menjauh darinya. Bahkan jika ada syetan lain yang ingin menimpakan kemudharatan kepadanya, maka syetan lainya akan mengingatkannya, “Apa yang bisa kamu lakukan terhadap orang yang sudah diberi petunjuk, diberi kecukupan, dan dilindungi.”

Adakah Dzikir Keluar Rumah Lainnya?

Masih ada dzikir lain yang disyariatkan untuk dibaca saat keluar rumah. Yaitu:

 

اللّهُـمَّ إِنِّـي أَعـوذُ بِكَ أَنْ أَضِـلَّ أَوْ أُضَـل ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَل ، أَوْ أَظْلِـمَ أَوْ أَُظْلَـم ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُـجْهَلَ عَلَـيّ

Allaahumma Innii A’udzubika an Adhilla au Udhalla, au Azilla au Uzalla, au Azlima Au Uzlama, au Ajhala au Yujhal ‘Alayya

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzhalimi diriku atau dizhalimi orang lain, dari berbuat bodoh atau dijahilin orang lain.”

Dasar riwayatnya

Dari Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha berkata, “Tidak pernah sekalipun Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumahku kecuali beliau mengangkat pandangannya ke langit, lalu beliau membaca:

اللّهُـمَّ إِنِّـي أَعـوذُ بِكَ أَنْ أَضِـلَّ أَوْ أُضَـل ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَل ، أَوْ أَظْلِـمَ أَوْ أَُظْلَـم ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُـجْهَلَ عَلَـيّ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzhalimi diriku atau dizhalimi orang lain, dari berbuat bodoh atau dijahilin orang lain.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Misykatul Mashabih no. 2442)

Kandungannya

Doa ini merupakan doa yang agung, senantiasa dibaca oleh Nabi kita yang mulia pada setiap beliau keluar rumah, sebagaimana yang dinyatakan Ummu Salamah dalam hadits di atas.

Beliau membaca doa ini sambil menghadapkan pandangannya ke langit menunjukkan akan keimanan terhadap sifat tinggi Allah Ta’ala dan keberadaan di atas makhluk-makhluk-Nya. Dia bersemayam di ‘Arsy-Nya. Senantiasa mengawasi hamba-hamba-Nya dan menyertai mereka dengan ilmu, pengawasan, dan pertolongan-Nya. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya, baik yang di bumi maupun di langit. Tidak ada perbuatan kecuali Dia menyaksikan. Dan tidak ada satu ucapan kecuali Dia mendengar-Nya. Karenanya seorang hamba hendaknya sadar akan ke-mahakuasaan Allah Ta’ala ini dengan merasa dilihat, didengar, dan diawasi oleh-Nya. Lalu diikuti dengan keyakinan bahwa Dia Maha mendengar panjatan doa, melihat keadaan hamba, dan Kuasa mengabulkan doa.

Karenanya seorang hamba hendaknya sadar akan ke-mahakuasaan Allah Ta’ala ini dengan merasa dilihat, didengar, dan diawasi oleh-Nya.

Lalu diikuti dengan keyakinan bahwa Dia Maha mendengar panjatan doa, melihat keadaan hamba, dan Kuasa mengabulkan doa.

Orang yang keluar rumah pasti dia akan bertemu dan berinteraksi dengan manusia. Sedangkan sifat manusia ada yang baik dan buruk. Karenanya mungkin sekali terjadi interaksi dan saling mempengaruhi dalam berbagai perkara dan penyimpangan yang harus dijauhi olehnya. Maka dalam doa ini, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengajarkan perlindungan yang komplit, yaitu berlindung dari kesesatan, ketergelinciran, kedzaliman, dan kejahilan. Keempat hal ini membahayakan dan menghancurkan bagi hamba apabila dia terjerumus kepadanya. Keempat keburukan tersebut bisa terjadi tertuju kepada orang lain atas tingkahnya. Dan juga bisa tertuju kepada dirinya atas tingkah orang lain. Dan doa perlindungan dari keempat keburukan ini tertuju pada dua sisi, baik karena perbuatannya sehingga menimpa kepada orang lain atau atas perbuatan orang lain sehingga menimpa pada dirinya.

Allahumma Innii A’uudzubika an Adhilla au Udhalla (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku dan disesatkan orang lain), adalah permohonan kepada Allah agar menjauhkannya dari kesesatan yang menjadi lawan hidayah (petunjuk). Kesesatan bisa dari dirinya sendiri yang terjerumus ke dalam perbuatan dosa, maksiat, dan berbagai penyimpangan atau dia menyesatkan hamba Allah yang lain. Sedangkan kata Udhalla (aku disesatkan), maksudnya: orang lain menyesatkanku.

Terkadang seseorang ketika keluar dari rumahnya dalam kondisi baik dan tentram. Dia tidak ada niatan ingin berbuat buruk dan menyimpang. Lalu di tengah jalan, dia bertemu dengan seseorang yang menyesatkannya dari jalan ketaatan, sehingga dia menyimpang. Dari sini, apabila keluar rumah disunnahkan berlindung kepada Allah dari kesesatan dirinya, atau menyesatkan orang lain, atau disesatkan oleh orang lain.

Au Azilla au Uzalla (tergelincir atau digelincirkan), zulal adalah terjatuh dan tersungkur tanpa disadari oleh seseorang. Maksudnya berlindung dari tergelincir adalah berlindung dari terjerumus ke dalam dosa, kesalahan, dan penyimpangan tanpa disadari. Sedangkan berlindung dari digelincirkan, berlindung agar orang tidak melakukan hal itu kepadaku dengan menjerumuskanku dalam penyimpangan dan kehancuran tanpa kusadari.

Maksudnya berlindung dari tergelincir adalah: berlindung dari terjerumus ke dalam dosa, kesalahan, dan penyimpangan tanpa disadari.

Azlima au Uzlama (menzalimi dan dizalimi), memohon kepada Allah agar menjaga dirinya supaya tidak menzalimi orang lain dalam harta, fisik, kehormatan, atau lainnya. Karena kezaliman akan menjadi kegelapan dan kesengsaraan pada hari kiamat.

Sedangkan berlindung dari dizalimi, adalah berdoa agar tidak menjadi korban kezaliman orang atas fisik, harta, dan kehormatan dirinya atau yang lainnya. Maka dia berdoa agar dijauhkan dari menzalimi orang lain dan dizalimi orang lain.

Sedangkan makna berlindung dari kejahilan diri dan dijahili orang lain, adalah berlindung dari berbuat perbuatan orang-orang bodoh dan berada di atas jalan orang-orang tolol, berupa mencela, mencaci, menghina, meremehkan, dan lainnya, atau seseorang melakukan hal itu kepada diriku. Maka doa ini berisi perlindungan kepada Allah dari melakukan perbuatan orang-orang bodoh atau menjadi korban pebuatan tersebut yang dilakukan orang.

Inilah petunjuk Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wasallam yang tidak ada satu kebaikan kecuali dia sampaikan dan perintahkan; dan tidak ada  keburukan kecuali sudah dia terangkan dan peringatkan agar tidak melakukannya.

Semoga Allah menjaga diri saya, Anda, dan sekalian kaum mukminin dari keempat keburukan di atas, melalui doa yang kita baca saat keluar rumah. Hadanallaah wa iyyaakum ajma’iin. [PurWD/voa-islam.com]

Doa Saat Ditimpa Kesulitan (Memohon Kemudahan) 8 Maret 2011

Posted by jihadsabili in Doa.
add a comment

Doa Saat Ditimpa Kesulitan (Memohon Kemudahan)

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

Dalam menjalani kehidupan ini, sering kita dihadapkan pada kesulitan. Terkadang kesulitan itu amat berat sehingga membuat kita hampir putus asa. Namun, keimanan akan kuasa Allah Ta’ala yang tidak terhingga, menjadikan kita tetap bersabar dan memiliki harapan.

Sesungguhnya alam semesta berada di bawah kuasa dan kendali Allah Ta’ala. Semuanya patuh kepada ketetapan dan kehendak-Nya. Tidak ada yang bisa bergerak atau bertingkah laku kecuali dengan daya, kekuatan, kehendak, dan izin-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi. Sebaliknya, yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi.

Allah Mahakuasa melakukan apa saja. Dia mampu menjadikan segala kemudahan menjadi sesuatu yang sulit, juga sesuatu yang sulit menjadi mudah. Tidak ada yang susah bagi-Nya, karena Dia Mahakuasa atas segala-galanya. Karenanya ketika menghadapi kesulitan dan berbagai cobaan hidup kita tidak boleh putus asa. Masih ada Allah yang bisa kita minta dan mohon pertolongan-Nya. Maka kita diperintahkan untuk berdoa saat mengalami kesulitan,

اَللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَ أَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Allaahumma Laa Sahla Illaa Maa Ja’altahu Sahlaa Wa Anta Taj’alul Hazna Idza Syi’ta Sahlaa

Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan.

Apakah Doa ini Berasal dari Hadits?

Syaikh Muhammad bin Shalih rahimahullaah dalam salah satu fatwanya menyebutkan, ”Doa ini, aku tidak mengetahui asalnya (sumbernya) dari Assunnah, tapi itu banyak diucapkan oleh orang.” Pernyataan beliau serupa juga didapatkan dalam Kaset “Nuur ‘ala al-Darb” kaset no. 344 menit ke 22. Namun yang benar bahwa doa di atas berasal dari warisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اَللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَ أَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 2427, Ibnu Sunni dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah no. 351, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashfahan: 2/305, Imam Al-Ashbahani dalam al-Targhib: 1/131. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam  Silsilah Shahihah 6/902, no. 2886 dan mengatakan, “Isnadnya shahih sesuai syarat Muslim.”)

Doa ini juga disebutkan oleh Pengarang Hisnul Muslim, DR. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani, pada hal. 90 dengan judul, “Doa bagi siapa yang mendapatkan kesulitan.” Beliau menyebutkan bahwa Syaikh al-Arnauth menshahihkannya dalam Takhrij al-Adzkar lil Nawawi, hal. 106.

Makna Doa

Makna dari doa di atas, bahwa Allah tidak menjadikan segala sesuatu mudah bagi manusia. Tidak ada kemudahan bagi mereka, kecuali apa yang Allah jadikan mudah. Dan sesungguhnya kemudahan adalah apa yang Allah jadikan mudah. Sebaliknya, kesulitan dan kesusahan jika Allah kehendaki bisa menjadi mudah dan ringan. Sebagaimana kemudahan dan perkara ringan bisa menjadi sulit dan berat, jika Allah menghendakinya.  Karena semua perkara berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka kandungan doa ini, seseorang memohon kepada Allah agar memudahkan segala urusannya yang sulit dan memuji Allah ‘Azza wa Jalla bahwa segala urusan ada di tangan-Nya, jika Dia berkehendak, kesulitan bisa menjadi mudah.

Sebagaimana yang sudah maklum, Allah ‘Azza wa Jalla mahakuasa melakukan apa saja. Dan Dia mampu menjadikan kemudahan menjadi sesuatu yang sulit, juga sesuatu yang sulit menjadi mudah. Tidak ada yang susah bagi-Nya, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Maka kandungan doa ini:

Seseorang memohon kepada Allah agar memudahkan segala urusannya yang sulit dan memuji Allah ‘Azza wa Jalla bahwa segala urusan ada di tangan-Nya, jika Dia berkehendak, kesulitan bisa menjadi mudah.

Di Samping Berdoa, Apa yang Bisa Dilakukan?

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa cara terbaik untuk meminta pertolongan Allah dalam menghadapi berbagai musibah (di antaranya kesulitan dalam hidup) adalah dengan bersabar dan shalat.

Dan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila dihadapkan pada suatu masalah maka beliau segera shalat. (HR. Abu Dawud dan Ahmad dari Hudzaifah bin Yaman)

Sedangkan sabar untuk dalam hal ayat ini ada dua macam, yaitu sabar dalam rangka meninggalkan berbagai perkara haram dan dosa; dan bersabar dalam menjalankan ketaatan dan ibadah. Dan bersabar bentuk yang kedua adalah lebih banyak pahalanya, dan itulah sabar yang lebih dekat maksudnya untuk mendapatkan kemudahan.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, “Sabar ada dua bentuk: bersabar untuk Allah dengan menjalankan apa yang Dia cintai walaupun berat bagi jiwa dan badan. Dan bersabar untuk Allah dari segala yang Dia benci walaupun keinginan nafsu menentangnya. Siapa yang kondisinya seperti ini maka dia termasuk dari golongan orang-orang yang sabar yang akan selamat, insya Allah.” (Dinukil dengan ringkas dari Tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir ayat di atas)

Sabar ada dua bentuk: bersabar untuk Allah dengan menjalankan apa yang Dia cintai walaupun berat bagi jiwa dan badan. Dan bersabar untuk Allah dari segala yang Dia benci walaupun keinginan nafsu menentangnya. (Abdurrahman bin Zaid bin Aslam)

Beberapa Doa Lain Untuk Mendapatkan Kemudahan:

  • Doa ketika ditimpa musibah dan kesusahan:

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

Wahai Yang Maha Hidup Kekal, Yang terus menerus mengurus ( mahluk-Nya ), hanya dengan rahmat-Mu saja, saya meminta pertolongan.”

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَرَبَهُ أَمْرٌ قَالَ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

Dari Anas bin Malik berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila menghadapi suatu masalah, beliau berdoa,”Wahai Yang Maha Hidup Kekal, Yang terus menerus mengurus ( mahluk-Nya ), hanya dengan rahmat-Mu saja, saya meminta pertolongan.” (HR. al-Tirmidzi no. 3524. Dihassankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 3182)

  • Doa Nabi Yunus saat berada di perut ikan:

أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya’: 87)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Doa Nabi Yunus taatkala ia berada di dalam perut ikan: Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Sesungguhnya tak seorang muslim yang berdoa kepada Rabb-nya dengan doa tersebut dalam kondisi apapun kecuali Allah akan mengabulkan untuknya.” (HR. al-Tirmidzi no. 3505 dan dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 1644)

Dan dalam Riwayat al-Hakim, Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Maukah aku beritahukan kepadamu sesuatu jika kamu ditimpa suatu masalah  atau ujian dalam urusan dunia ini, kemudian berdoa dengannya.” Yaitu doa Dzun Nun atau Nabi Yunus di atas.

  • Doa saat keluar dari rumah:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca,

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.” Beliau bersabda, Dikatakan pada saat itu, “Engkau telah diberi petunjuk, dicukupkan, dan dijaga. Maka Syetan menjauh darinya sehingga syetan yang lain berkata kepadanya, “Kaifa laka birajulin? (Apa yang bisa engkau lakukan terhadap seseorang) yang telah diberi petunjuk, telah dicukupkan, dan telah dijaga?” (HR. Abu Dawud no. 4431, al-Tirmidzi no. 3348, Ibnu Hibban no. 823, dan Ibnu Sunni dalam ‘Amal  al-yaum wa al-Lailah, no. 177. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Tirmidzi no. 3426, Al-Misykah no. 2443, juga dalam Al-Kalim al-Thayyib) dan masih ada beberapa doa lainnya.

Penutup

Sebaiknya seorang muslim membiasakan diri dengan doa yang diajarkan oleh sunnah dalam menghadapi kesulitan. Karena orang yang mengajarkannya, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah manusia paling tahu dengan doa yang pas dan paling bermanfaat. Dan hendaknya juga memilih doa-doa yang shahih saja, karena ada beberapa riwayat yang menyebutkan atau berisi permohonan kemudahan namun dhaif. Karenanya, penting bagi kita mencatat dan menghafal doa-doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam baik yang bersifat umum atau terikat dengan waktu dan tempat. Walaupun tidak ada larangan untuk berdoa dengan kalimat dan bahasa apapun, karena Allah Mahatahu terhadap apa yang disampaikan hamba-Nya. Wallahu Ta’ala a’lam. Wallahu Ta’ala a’lam . . .

[PurWD/voa-islam.com]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.