jump to navigation

Metode Hafalan untuk BALITA 4 Juni 2011

Posted by jihadsabili in anak.
trackback

Metode Hafalan untuk BALITA

Sejarah Metode Isyarat

Metode pengajaran hafalan Al Quran untuk balita dengan menggunakan isyarat tangan diciptakan oleh Sayyid Muhammad Mahdi Tabatabai ketika mengajari anaknya, Sayyid Muhammad Husain Tabatabai yang saat itu baru berusia 2 tahun 4 bulan. Berikut ini penuturan M. Tabatabai mengenai sejarah penemuan metode isyarat itu (1).

***

Saya mulai mengajarkan hafalan Al Quran kepada Husain ketika dia berusia 2 tahun 4 bulan. Pada saat itu, Husain sudah menghafal juz ke-30 (juz’amma) secara otodidak, hasil dari rutinitasnya dalam mengikuti aktivitas ibunya yang menjadi penghafal dan pengajar Al Quran, serta aktivitas kakak-kakaknya dalam mengulang-ulang hafalan mereka.

Saya mulai dengan mengajarkan hafalan juz ke-29. Setelah Husain berhasil menghafal juz ke-29, saya mulai mengajarinya hafalan juz pertama. Awalnya, saya menggunakan metode biasa, yaitu dengan membacakan ayat-ayat yang harus dihafal, biasanya setengah halaman dalam sehari dan setiap pekan, jumlah hafalan pun ditingkatkan.

Namun, pada saat itulah saya menyadari bahwa metode seperti ini memiliki dua persoalan, yaitu sbb:

* Ketidakmampuan Husain untuk membaca Al Quran, membuatnya sangat tergantung kepada saya dalam usaha mengulang-ulang ayat-ayat yang sudah dihafal.
* Metode penghafalan Al Quran secara konvensional ini sangat kering dan tidak cocok bagi psikologis anak usia balita. Selain itu, betapapun saya berusaha memahamkan kepada Husain makna ayat-ayat itu, dia tidak bisa memahaminya dengan baik karena banyak konsep-konsep yang abstrak yang sulit dipahami anak balita.

Untuk menyelesaikan persoalan pertama, saya mulai mengajarinya membaca Al Quran, agar dia bisa mengecek sendiri hafalannya.

Untuk menyelesaikan persoalan kedua, saya terpikir untuk mengajarkan makna ayat-ayat Quran itu dengan isyarat tangan.

Makna suatu ayat secara keseluruhan saya jelaskan dengan bahasa sederhana kepada Husain, lalu ketika mengucapkan ayat itu, saya melakukan gerakan-gerakan tangan yang mengisyaratkan makna ayat itu.

Misal:

* Allah –> tangan menunjuk ke atas,
* yuhibbu (mencintai) –> tangan seperti memeluk sesuatu,
* sulh (berdamai) –> dua tangan saling berpegangan.

Metode isyarat ini ternyata semakin hari, semakin menarik perhatian Husain. Setelah beberapa waktu, saya sadari bahwa ketika saya membuat isyarat dengan tangan atas suatu ayat, Husain dengan cepat mengucapkan ayat yang saya maksudkan itu. Metode ini sedemikian berpengaruhnya pada kemajuan perkembangan Husain sehingga dengan mudah dia mampu menerjemahkan ayat-ayat itu (ke dalam bahasa
Persia, bahasa sehari-hari orang
Iran ) dan mampu menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.

**********
Catatan:

1. dikutip dari buku berjudul Hafezan-e Nur (Para Penyimpan Cahaya), karya Dawud Qasemi, thn 2003, Jamiatul Quranul Karim, Qom, Iran.

2. Metode isyarat ini kemudian diadaptasi dan disesuaikan dengan kultur
Indonesia oleh team Rumah Qurani yang berpusat di
Bandung. Mudah-mudahan suatu saat kelak bisa diterapkan di berbagai sekolah Al Quran di Indonesia.

taken from :learningathome.com

About these ads

Komentar»

1. ummu farah - 8 Juni 2011

mumtaz


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: