jump to navigation

Mengucapkan Ushally Sunnatan Hadiyatan pada SHALAT HADIAH Tidak Mengena Sasaran dan Tidak Diperkenankan 21 Desember 2010

Posted by jihadsabili in fatwa, fiqih, shalat.
trackback

Mengucapkan Ushally Sunnatan Hadiyatan pada SHALAT HADIAH Tidak Mengena Sasaran dan Tidak Diperkenankan

Kedengarannya aneh, kok ada “shalat hadiah”. Yang ada, ya shalat lima waktu, atau shalat-shalat sunnah seperti Dhuha, Tasbih, Witir, Hajat, Tahajjud, dan Istikharah. Istilah “shalat hadiah” ini dicari di kitab manapun tidak akan ditemui. Jadi, jika orang berniat : Ushally sunnatan hadiyatan, ini jelas tidak mengena  sasaran dan tidak diperkenankan. Sebab yang dimaksud adalah shalat yang pahalanya dihadiahkan kepada si mayit yang telah meninggal. Niatnya adalah melakukan shalat sunnah muthlak, yakni: Ushally sunnatan rak’ataini lillahi ta ‘ala.

 

Ada kebiasaan di sebuah kampung tertentu, bila acara pemakaman telah usai, di samping ada pengumuman Tahlil untuk setiap malamnya, ada juga pengumuman khusus bagi keluarga, yakni rembukan keluarga untuk bersama-sama mengerjakan shalat sunnah muthlak yang pahalanya dihadiahkan kepada si mayit yang telah meninggal. Jumlah rakaatnya tidak dibatasi. Yang mampu 2 rakaat  silakan 2 rakaat dan yang mampu 4 rakaat silakan 4. Hal ini berdasar kepada:

 

ولا تصح الصلوات بتلك النيات التي استحسنها الصوفية من غير أن يرد لها اصل فى السنة . نعم ان اطلق الصلاة ثم دعا بعدها بما يتضمن نحو استعاذة او استخارة مطلقة لم يكن بذالك بأس. اما حديث صلاة الهدية الذي ذكر فى الميهي فلا يعرف صحة رواية

 

Tidak sah shalat dengan niat seperti yang dianggap baik kalangan sufi tanpa dasar hadits sama sekali. Jika melakukan shalat muthlak dan berdoa sesudahnya dengan sesuatu yang mengandung semisal isti’adzah atau istikharah maka shalat tersebut sah-sah saja. Mengenai hadits tetang shalat hadiah seperti termaktub di dalam kitab al Mauhibah, hal itu tidak diketahui kesahihan perawinya. (lihat Tuhfat al-Muhtaj, Juz II, Bab Shalat Isyraq)

 

__________________________________________________________

Sumber:

Buku Tradisi Orang-Orang Nu, Penulis H. Munawir Abdul Fattah, Penerbit Pustaka Pesantren, halaman. 175-176.

 

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: