jump to navigation

“MUSIBAH” Sebagai Ujian ? Peringatan ? Atau Adzab [Bala] ? 9 Desember 2010

Posted by jihadsabili in aqidah, nasehat.
trackback

“MUSIBAH” Sebagai Ujian ? Peringatan ? Atau Adzab [Bala] ?

Sekedar Renungan Sejenak

Musibah adalah kata untuk suatu kejadian buruk yang menimpa manusia maupun apa saja yang ada di alam semesta. Musibah bagi manusia ada tiga macam, yaitu : Pertama, musibah sebagai ujian. Kedua, musibah sebagai peringatan. Ketiga, musibah sebagai adzab.

 

Manakala seorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah  terkena musibah, maka bisa dipastikan musibah tersebut sebagai ujian baginya. Dalam QS. 29. Al-‘Ankabut : 2, Allah  menegaskan bahwa orang beriman pasti akan diuji. Arti firman-Nya dalam ayat tersebut :

 

“Apakah manusia mengira akan dibiarkan mereka mengatakan kami beriman, kemudian mereka tidak diuji lagi ?”

 

Bahkan Rasulullah  mengingatkan bahwa semakin kuat iman seorang hamba semakin besar pula ujiannya, beliau menyatakan : “Sesungguhnya manusia yang paling berat ujiannya adalah Anbiya, lalu Auliya, lalu Ulama, kemudian yang sepertinya, lalu yang sepertinya.” Ujian untuk orang beriman adalah bukti cinta Allah  kepadanya, dan jika ia lulus ujian, maka derajatnya akan ditinggikan di sisi Allah.

 

Sekurang-kurangnyanya, orang beriman yang terkadang lalai, sehingga terkadang masih suka melakukan keburukan, maka musibah tersebut sebagai peringatan baginya, agar ia segera meningkatkan kebaikannya dan menghilangkan keburukannya. Ini pun sebagai bukti bahwa Allah  masih mencintainya, sehingga jika sang hamba segera memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah, maka peringatan tersebut akan menjadi penebus dosa dan pembersih diri.

 

Adapun bagi manusia yang tidak ada kebaikan dalam dirinya, selalu ingkar dan durhaka kepada Allah, melanggar semua kewajiban dan melakukan berbagai larangan, seperti orang-orang kafir dan munafiq, serta ahli maksiat yang fasiq, maka musibah yang menimpa mereka adalah adzab, sebagai bukti kemurkaan Allah terhadap kedurhakaan mereka.

 

Dalam QS. 29. Al-‘Ankabut : 40, Allah menegaskan tentang aneka siksa dunia bagi pendosa. Makna firman-Nya dalam ayat tersebut : “Maka setiap orang Kami siksa dengan sebab dosanya, maka daripada mereka ada yang Kami kirimkan kepadanya hujan batu, dan daripada mereka ada yang ditimpakan suara keras yang mengguntur, dan daripada mereka ada yang Kami benamkan ke dalam Bumi, dan daripada mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan tidaklah sekali-kali Allah menzhalimi mereka, akan tetapi mereka yang menzhalimi diri sendiri.” Karenanya, musibah bagi golongan ini adalah siksa dan bencana.

 

Maksiat dan Bencana

 

Orang yang beriman meyakini bahwa antara maksiat dan bencana mempunyai hubungan sebab akibat. Dalam QS.Al-A’raf : 96 s/d 99, dengan jelas menginformasikan tentang Sunnatullah bahwa Iman dan Taqwa penduduk suatu negeri adalah pembuka keberkahan bagi negeri tersebut, sebaliknya kedurhakaan dan pembangkangan terhadap Allah adalah penyebab kemurkaan-Nya dan pengundang bencana serta malapetaka. Hanya orang yang tak beriman yang tidak percaya adanya hubungan kausal sebab akibat antara maksiat dan bencana.

 

Suatu ketika Nabi  pernah mengabarkan ke salah seorang isterinya, Sayyidah Zainab, tentang bencana yang akan menimpa umatnya, lalu sang isteri bertanya :

 

“Apakah kita binasa, dengan di tengah kita banyak orang soleh ?”. Rasulullah  menjawab :“Ya, jika kebejatan sudah merajalela !”

 

Di lain kesempatan isteri beliau yang lain, Sayyidah ‘Aisyah, menyampaikan sebuah kisah dari Nabi  tentang suatu negeri yang dihancurkan oleh Allah, padahal di negeri tersebut ada tujuh puluh lima ribu orang soleh yang amalnya seperti amal para Nabi, karena maraknya kemunkaran dan kemaksiatan di negeri tersebut.

 

Khalifah Umar ibnu Al-Khaththab  saat terjadi gempa di zamannya, langsung mengumpulkan rakyat dan orang di sekitarnya, lalu beliau tidak bertanya tentang berapa besar harta benda yang musnah, bahkan tidak bertanya pula tentang berapa banyak korban manusia, tapi yang beliau tanyakan adalah maksiat apa yang dilakukan rakyat dan orang di sekitarnya sehingga bencana tersebut terjadi. Sungguh sikap luar biasa dari seorang Umar selaku Kepala Negara, beliau tidak menyibukkan diri untuk menghibur rakyat yang sedang terkena bencana, tapi beliau mengajak semua pihak untuk introspeksi diri. Sebab, kebanyakan menghibur diri akan menyebabkan lupa diri, sehingga tidak tahu kesalahan diri, akibatnya tidak termotivasi untuk memperbaiki diri. Namun, introspeksi diri akan mengungkap kesalahan diri, sehingga termotivasi untuk memperbaiki diri, agar ke depan bencana tidak terulang kembali.

 

Lain Umar, lain lagi pemimpin jaman sekarang. Saat bencana terjadi, bukan mengajak introspeksi diri, tapi menyuguhkan aneka hibur diri. Tentu saja, sangat bagus jika dihibur dengan hiburan rohani penenteram hati, seperti dzikir dan istighfar. Nekatnya, dihibur dengan hiburan tidak tahu diri. Lihat di Yogya misalnya, para pengungsi Merapi diajak berdendang dan bergoyang, serta joget senang-senang. Bahkan di pusat kota Yogya sepanjang Malioboro aneka maksiat masih dipertontonkan secara vulgar, di berbagai perempatan jalan sesajen kemusyrikan disajikan, di beberapa tempat pengungsian terjadi pelarangan ibadah terhadap umat Islam, bahkan ada upaya pemurtadan. Media mempropagandakan ‘awan Petruk’ untuk menggiring awam mengkultuskan Merapi dan menyembahnya.

 

Selain itu, ada eksekutif yang nyeleneh menyalahkan alam, dan ada legislatif yang menyalahkan bermukim di gunung, bahkan ada kolumnis yang menyalahkan Tuhan. Gilanya, ada yang mengeluarkan kebo keramat agar masyarakat berebut bulu dan kotorannya yang dianggap berkah untuk keselamatan dari bencana. Sementara itu, para politisi saling sibuk tebar pesona memanfaatkan situasi, menjual air mata dan mengumbar janji. Mau dibawa kemana negeri ini ?!



Wallahu a’lam

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: