jump to navigation

Hukum Membaca Sholawat di antara 2 Khutbah Jum’at [bagi Muroqi] dan Bagaimana Sikap tangan Khatib ketika Berdoa di akhir Khutbah 9 Desember 2010

Posted by jihadsabili in fiqih, shalat.
trackback

Hukum Membaca Sholawat di antara 2 Khutbah Jum’at [bagi Muroqi] dan Bagaimana Sikap tangan Khatib ketika Berdoa di akhir Khutbah

Para Ulama Fiqh (Imam Yang Berempat, Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi) dan pendapat mereka dalam hal boleh tidaknya membaca shalawat atau disebut sebagai at-tarqiyyah (meninggikan suara) ketika Khatib sedang duduk di antara dua khotbah.

Pada prinsipnya berbicara atau meninggikan suara baik membaca do’a atau shalawat kepada Nabi ketika khutbah ke dua adalah tidak diperbolehkan karena dalil sharieh (Hadits Shahih) yang mengatakan:

إذا قلت لصاحبك والإمام يخطب
يوم الجمعة أنصت فقد لغوت

“Idza qulta lishaahibika wa al-Imaam yakhtibu
yaumal jum’ah : Anshit, faqad laghauta”. ( Hadits diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim
dalam Kitab Jum’ah).

Terjemahannya :
Apabila engkau berkata kepada teman engkau sedangkan Imam (maksudnya Khotib) sedang berkhotbah di hari Jum’at :Hai tenanglah kamu! maka kamu telah berbuat sia-sia.

Ulama Fiqh menyebutkan Bid’ah (mengada-ada) hukumnya sebagian manusia berbicara ketika Khatib berkhutbah di hari Jum’ah dengan pengertian berbicara dalam Masjid ketika Khatib berkhotbah adalah bid’ah, tercela dan makruh, tidak boleh (dilarang). Jama’ah shalat Jum’at wajib tenang/diam mendengarkan. Ini pendapat Imam Maliki (Malikiyah), sedang Imam Abu Hanifah (Hanafiyah) berpendapat at-tarqiyyah “makruh” yang mendekati “haram” (dilarang keras) baik itu hanya sekedar membaca do’a atau shalawat kepada Nabi, ataupun percakapan tentang urusan dunia dan dapat merusak ibadah Jum’at. Pendapat ini adalah yang terkuat. Boleh meng-amin-kan do’a Khatib tetapi dengan sier (tidak terdengar oleh orang lain). Adapun Imam Syafi’i berpendapat bahwa membaca do’a dan shalawat di Masjid sudah dikenal sejak lama (boleh/jaiz), tidak salah kalau berdo’a dan membaca shalawat kepada Nabi, tetapi tidak berlebihan dengan mengeraskan suara, tidak dengan suara keras (jahar), sebaiknya tidak terdengar bagi orang disampingnya (bacaan sier). Imam Syafi’i tidak menyebutnya sebagai sunnah, cuma diperbolehkan saja.

Memang banyak terdapat diberbagai Masjid ketika Khatib duduk antara dua khutbah, muazin membaca shalawat kepada Nabi, bahkan dengan suara keras, ini digolongkan kepada bid’ah. Tentang bid’ah Hadist Nabi mengatakan:

.” كل محدثة
بدعة وكل بدعة ضلالة وكل الضلالة فى النار

“Setiap yang baru (tidak ada perbutan itu dimasa Nabi) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, setiap yang sesat itu tempatnya neraka.

“Tidaklah seseorang mandi dan bersuci semampunya pada hari Jum’at, memakai minyak rambut atau memakai minyak wangi di rumahnya kemudian keluar lalu dia tidak memisahkan antara dua orang (dalam shaff) kemudian mengerjakan shalat dan selanjutnya dia diam (tidak berbicara) jika khatib berkhutbah, melainkan akan diberikan ampunan kepadanya (atas kesalahan yang terjadi) antara Jum’atnya itu dengan Jum’at yang berikut-nya.” (HR. Bukhari No. 883)

Cara Khatib Mengangkat Tangan Ketika Membaca Doa

Berdoa sambil mengangkat tangan merupakan sunnah Nabi . Telah diriwayatkan bahwa khatib apabila berdoa di mimbar pada khutbah kedua, hendaklah menggunakan jari telunjuknya dan bukannya mengangkat kedua tangan. Malah salah seorang sahabat (‘Umran ibn Ru’aibah) telah mengutuk seorang khatib (Bishr ibn Marwan) yang berdo’a sambil mengangkat tangan dan berkata:

قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ

“Semoga Allah memburukkan kedua-dua tangannya. Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melainkan tidak lebih dari ini dengan tangannya: dan dia mengisyaratkan dengan jari telunjuknya [dalam berdo'a]” (Hadith Riwayat Muslim, no. 874 dan Abu Daud, no. 1104)

Imam Al-Nawawi rahimahullah ketika mengulas hadits ini didalam Syarah Shahih Muslim menyatakan bahwa ini menunjukkan bukanlah menjadi sunnah mengangkat tangan bagi khatib ketika sedang membaca doa didalam khutbah jumaat.

Maksud amalan mengisyaratkan jari telunjuk itu adalah ditujukan kepada khatib yang sedang membaca do’a ketika menyampaikan khutbah; dimana khatib cuma perlu mengisyaratkan saja jarinya tanpa mengangkat kedua tangannya. Makmum tidak perlu melakukannya, sekadar meng’amin‘kan dengan suara perlahan.

_____________________________________________________________________
LBM MWC NU WIRADESA (Lembaga Bahtsul Masail Majelis Wilayah Cabang Nahdatul Ulama Pekalongan) INILAH BLOG MILIK LBM MWC NU WIRADESA PEKALONGAN JAWA TENGAH INDONESIA

Membaca Sholawat Diantara Dua Khutbah.

Deskripsi masalah :
Sebagaimang kita ketahui diantara dua khutbah adalah waktu mustajab untuk berdoa dimana kalau kita berdoa insya Allah akan dikabulkan oleh Allah SWT . Tetapi biasanya pada saat itu Muroqi membaca sholawat Nabi sehingga para jamaah harus menjawab sholawat Nabi tersebut.

Pertanyaan :
1. Sebetulnya adakah anjuran membaca sholawat Nabi pada waktu diantara dua khutbah ?
2. Manakah yang lebih utama membaca sholawat Nabi dan berdoa ? (PP.Asma’Chusna Kranji Kedungwuni)

Jawaban untuk pertanyaan nomor satu (Sebetulnya adakah anjuran membaca sholawat Nabi pada waktu diantara dua khutbah ?

Jawab :
Secara spesifik memang tidak ada , bahkan Nabi sendiri tidak berbicara ketika beliau duduk diantara dua khutbah (lihat SUNAN ABU DAWUD I/245 cet Darul fikri thn 1410 H , SUNAN NASAI III/191 cet Thoha Putera Semaramg tahun 1348 H , MUSHONNAF ‘ABDURROZZAAQ hadits roqm 5257/www.islamweb.net) , namun hal tersebut tidak menafikan untuk berdzikir ataupun berdoa pada waktu tersebut dengan suara lirih , sebagaimana diterangkan oleh Al Hafidh Ibnu Hajar al Asqolani dalam kitab “FATHUL BARI” II/576-577 cet Dar Mishr thn 1421 H ,

وعبارته : {باب القعدة بين الخطبتين يوم الجمعة ، حدثنا مسدد قال حدثنا بشر بن المفضل قال حدثنا عبيد الله عن نافع عن عبد الله قال : كان النبي صلي الله عليه وآله وسلم يخطب خطبتين يقعد بينهما } (قوله يخطب خطبتين يقعد بينهما ) … ورواه أبو داود بلفظ ” كان يخطب خطبتين كان يجلس إذا صعد المنبر حتي يفرغ المؤذن ثم يقوم فيخطب ثم يجلس فلا يتكلم ثم يقوم فيخطب ” واستفيد من هذا أن حال الجلوس بين الخطبتين لا كلام فيه لكن ليس فيه نفي أن يذكر الله أو يدعوه سرا … وقدرها من قال بوجوبها بقدر جلسة الإستراحة وبقدر ما يقرأ سورة الإخلاص . انتهي .

Wallahu a’lam

Silahkan dibaca juga link ini :
http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=116096178433566

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: